Pemberontakan Jayakatwang
Bagian dari Kejatuhan Kerajaan Tumapel atau Singhasari

Raos Pecinan, Carat, Gempol, Pasuruan; merupakan tempat dimana Raden Wijaya dan 600 pasukannya yang tersisa bersembunyi dari pasukan Gelanggelang.
TanggalAprilโ€“Mei 1292 atau antara 18 Mei dan 15 Juni 1292.[1]
LokasiSinghasari, Jawa Timur
Hasil Kerajaan Tumapel runtuh, Jayakatwang lalu menghidupkan kembali dinasti kedua Kadiri
Perubahan
wilayah
Singhasari jatuh, wilayahnya dikuasai oleh Kadiri
Pihak terlibat
Tumapel Kadiri
Gegelang
Tokoh dan pemimpin
Kertanagaraย X
Mpu Raganataย โš”
Kebo Anengahย โš”
Apanji Angraganiย โš”
Mpu Wirakretiย โš”
Raden Wijaya (Panglima Singhasari)
Ardharaja (Membelot)
Jayakatwang
Arya Wiraraja
Kebo Mundarang (Senopati Kediri)
Jaran Guyangย โš” (?)
Kekuatan
Pasukan ibu kota Singhasari Pasukan Gegelang
Pasukan Kadiri
Korban
Kertanagara tewas, kerajaannya berakhir runtuh Tidak diketahui

Pemberontakan Jayakatwang merupakan pemberontakan yang terjadi diakibatkan ambisi menjadi raja oleh Jayakatwang dan dendam masa lalu di mana kekuasaan leluhurnya, yaitu Kertajaya dikalahkan oleh Ken Angrok leluhur dari Kertanagara. Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama menyebutkan Jayakatwang adalah raja bawahan di Kadiri yang memberontak terhadap kekuasaan Kertanagara di Singhasari.[2]

Latar belakang

sunting

Dalam prasasti Kudadu, Kitab Pararaton dan Kidung Harsawijaya menceritakan Jayakatwang yang menyimpan dendam karena leluhurnya Kertajaya dari Kadiri dikalahkan oleh Ken Arok pendiri dari Singhasari. Suatu hari ia menerima kedatangan dari Wirondaya putra Aria Wiraraja yang menyampaikan surat dari ayahnya sebagai balasan "formal" terhadap permintaan pertimbangan yang diajukan oleh Jayakatwang sebelumnya, mengingat Aria Wiraraja adalah dianggap sesepuh Jayakatwang. Dimana isi pertanyaan surat sebelumnya yaitu mungkinkah Jayakatwang bisa melakukan balas dendam terhadap Kertanegara akibat kekuasaan Kadiri yang merupakan leluhur Jayakatwang telah ditaklukkan Singhasari leluhur dari Kertanegara, Atas pertanyaan ini Aria Wiraraja menyarankan supaya Jayakatwang jika telah terpikirkan secara matang segera melakukan "penyerangan" karena saat itu Singhasari sedang dalam keadaan kosong, ditinggal sebagian besar pasukannya ke luar Jawa. Adapun Aria Wiraraja adalah mantan pejabat tinggi Singhasari yang dimutasi ke Sumenep karena dianggap sebagai penentang politik Kertanagara. Yang pada akhirnya di kemudian hari Aria Wiraraja menyayangkan dan sangat menyesali terhadap apa yang dilakukannya dengan Jayakatwang.

Pertempuran

sunting
Situs Raos Pacinan Desa Carat berasal dari nama yang dicantumkan dalam prasasti Kudadu, yaitu Rabut Carat, setelah mengalahkan pasukan pemberontak Gelang-gelang di Kedung Peluk dan Kapulungan, Raden Wijaya bergerak bersama Ardharaja ke arah utara. Namun, dari arah Hanyiru mereka diserang oleh armada Kediri. Ardharaja pun mengkhianati dan meninggalkan Raden Wijaya. Akhirnya Raden Wijaya bersama 600 orang sisa pasukannya melarikan diri dan bersembunyi di Rabut Carat.

Jayakatwang melaksanakan saran Aria Wiraraja. Ia mengirim pasukan kecil yang dipimpin oleh Jaran Guyang untuk menyerbu Singhasari dari arah utara. Mendengar hal itu, Kertanagara segera mengirim pasukan untuk menghadapinya yang dipimpin oleh menantunya, yang bernama Sanggramawijaya dan Ardharaja. Pasukan Jaran Guyang berhasil dikalahkan. Namun sesungguhnya pasukan kecil ini hanya bersifat pancingan supaya pertahanan kotaraja Singhasari kosong.[3]

... Batara Siwa Buddha senantiasa minum minuman keras, diberi tahu bahwa diserang dari Daha, ia tidak percaya, selalu mengucapkan kata: "Bagaimana dapat raja Jaya Katong demikian terhadap saya, bukanlah ia telah baik dengan saya." Setelah orang membawa yang menderita luka, barulah ia percaya. Sekarang Raden Wijaya ditunjuk untuk berperang melawan tentara yang datang dari sebelah utara Tumapel, disertai oleh para arya terkemuka: Banyak Kapuk, Rangga Lawe, Pedang, Lembu Sora, Dangdi, Gajah Pagon, anak Wiraraja yang bernama Nambi, Peteng dan Wirot, semua prajurit baik, melawan tentara Daha di bagian utara itu, dikejar diburu oleh Raden Wijaya. ...
โ€”(Lontar Pararaton).

Pada bait kalimat dalam prasasti Kudadu lempeng IV sisi belakang atau verso, ditemukan penyebutan pataka "merah-putih" untuk pertama kali sebagai panji-panji yang digunakan oleh pihak tentara Daha atau pasukan dari Jayakatwang.[4]

"... ring samangkana, hana ta tunggulning รงatru layลซ-layลซ katon wetani haรฑiru, bang lawan putih warnnanya ..."

Terjemahan inskripsi: (pada saat itu, ada bendera milik musuh berlari-lari terlihat di timurnya Hanyiru, merah dan putih warnanya)

Pasukan kedua Jayakatwang menyerang Singhasari dari arah selatan (Blitar) dipimpin oleh senapati Mahisa Mundarang. Dalam serangan tak terduga ini, raja Kertanagara beserta Mpu Raganata, patih Kebo Anengah, Panji Angragani dan Wirakreti berhasil dibunuh di dalam istana.[5]

" saking pinggir Aksa anuju in Lawor... anjugjugringย Singhasariย pisan "

(dari tepi Aksa (sungai Lekso, Blitar) menuju Lawor... langsung menujuย Singhasari)

Jayakatwang merebut takhta dan berhasil membunuh Kertanegara bersama dengan patih dan pejabat lainnya selama upacara suci Tantra sambil minum tuak, sehingga mengakhiri Kerajaan Singhasari.[6] Jayakatwang kemudian mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa Jawa dan raja Kediri yang dipulihkan.[7]:โ€Š199โ€Š Kematian Kertanegara dan jatuhnya Singhasari dicatat dalam prasasti Gajah Mada pada bulan Jyesta tahun 1214 Saka, yang ditafsirkan sebagai Aprilโ€“Mei 1292 atau antara 18 Mei dan 15 Juni 1292.[1]

Menurut prasasti Kudadu, Ardharaja ialah putra Jayakatwang yang tinggal di Singhasari dengan istrinya, ia ikut serta dalam pasukan Raden Wijaya. Ia tentu berada dalam posisi sulit karena harus menghadapi pasukan ayahnya sendiri. Ketika mengetahui kekalahan Singhasari, Ardharaja kemudian berbalik meninggalkan Raden Wijaya dan memilih bergabung dengan pasukan Gelang-Gelang.

Akibat

sunting

Peristiwa kehancuran Singhasari terjadi tahun 1292. Jayakatwang lalu menjadi raja, dengan Kadiri sebagai pusat pemerintahannya. Atas saran Aria Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya yang datang menyerahkan diri. Raden Wijaya kemudian diberi alas Trik (Hutan Tarik, Sidoarjo) untuk dibuka menjadi kawasan wisata perburuan.

Sesungguhnya Aria Wiraraja telah berbalik melawan Jayakatwang. Saat itu Wiraraja ganti membantu Raden Wijaya untuk merebut kembali takhta peninggalan mertuanya. Pada tahun 1293 pasukan Kekaisaran Mongol dari daratan Cina yang dipimpin oleh Ike Mese datang ke Jawa dalam misi untuk menghukum raja Kertanegara yang telah berani menyakiti utusan kaisar Kubilai Khan pada tahun 1289. Pasukan Mongol tersebut diterima Raden Wijaya di desanya yang bernama Majapahit. Raden Wijaya yang mengaku sebagai ahli waris dari raja Kertanagara bersedia menyerahkan diri ke Mongol dan berjanji akan tunduk kepada kaisar Kubilai Khan asalkan terlebih dahulu dibantu untuk mengalahkan Jayakatwang.

Berita Tiongkok naskah Yuan-shi menyebutkan perang terjadi pada tanggal 20 Maret 1293. Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit menggempur kota Kadiri sejak pagi hari. Sekitar 5000 orang Kadiri tewas menjadi korban. Akhirnya pada sore harinya, Jayakatwang menyerah dan ditawan di atas kapal Mongol.

Dikisahkan kemudian pasukan Mongol ganti diserang balik oleh pihak Majapahit untuk diusir keluar dari tanah Jawa. Sebelum meninggalkan Jawa, pihak Mongol sempat menghukum mati Jayakatwang dan Ardharaja di atas kapal mereka.

Menurut Kitab Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama Jayakatwang yang telah menyerah lalu ditawan di benteng pertahanan Mongol di Hujung Galuh. Menurut Pararaton dan Kidung Harsawijaya, ia meninggal di dalam tahanan penjara Hujung Galuh setelah menyelesaikan sebuah karya sastra berjudul Kidung Wukir Polaman.[8]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b Bade 2013, hlm.ย 44, 130, 186.
  2. ^ https://repositori.kemdikbud.go.id/3435/1/Berita%20Penelitian%20Arkeologi%20No.44..pdf
  3. ^ http://majapahitprana.blogspot.com/p/kitab-pararaton-terjemahan.html
  4. ^ Windoe, Kandi (2-05-2015). "Melihat Kibar Bendera Merah Putih dan Nusantara Sebelum Indonesia". Diarsipkan dari asli tanggal 14-09-2020. Diakses tanggal 12-03-2018.
  5. ^ http://repositori.kemdikbud.go.id/26211/1/Serat%20Ranggalawe%201979.pdf
  6. ^ Bade 2013, hlm.ย 250โ€“251, 254.
  7. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Coedes
  8. ^ https://museum.kemdikbud.go.id/storage//assets/images/museums/505/kajian/bvJSCRZoEbhQmJxUgF2OYsyEC.pdf

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Deforestasi

Bibcode:2012COES....4..597H. doi:10.1016/j.cosust.2012.06.006. ISSNย 1877-3435. Tinker, P. Bernard; Ingram, John S. I.; Struwe, Sten (1996-06-01). "Effects

Ikan badut

Conservation: Marine and Freshwater Ecosystems. 31 (1): 15โ€“27. doi:10.1002/aqc.3435. Howell, J.; Goulet, T. L.; Goulet, D. (2016). "Anemonefish musical chairs

Rantai transpor elektron

bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. hlm.ย 139. ISBNย 978-90-481-3435-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Anraku, Yasuhiro (1988-06-01). "Bacterial

Seriawan

(Edisi 3rd). Philadelphia: W.B. Saunders. hlm.ย 331โ€“336. ISBNย 978-1-4160-3435-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Preeti L, Magesh KT

Daftar perwakilan diplomatik di Jakarta

Medan Merdeka Selatan Nomor 3โ€“5 Gambir, Jakarta Pusat 10110 Phone: (62)(21) 3435-9000 Fax: (62)(21) 385-7189 ย Uruguay Jl. DR. Ide Anak Agung Gde Agung No

Mentuhotep II

Egypt: History,Archaeology and Society, Duckworth, London 2006 ISBN 0-7156-3435-6, 18-23 Labib Habachi: King Nebhepetre Menthuhotep: his monuments, place

Senusret I

Egypt: History, Archaeology and Society, Duckworth, London 2006 ISBN 0-7156-3435-6, p.36 Peter Clayton, Chronicle of the Pharaohs, Thames & Hudson Ltd, (1994)

Penglihatan mesin

Advanced Manufacturing Technology (dalam bahasa Inggris). 111 (11โ€“12): 3421โ€“3435. doi:10.1007/s00170-020-06226-5. ISSNย 0268-3768. ElMasry, Gamal; Cubero,