
Arquebus Jawa atau bedil Jawa merujuk pada senjata api panjang dari kepulauan Nusantara, asalnya dapat dilacak kembali ke awal abad ke-16. Senjata itu digunakan oleh tentara lokal, meskipun dalam jumlah rendah dibandingkan dengan jumlah total pasukan,[1]:โ387โ sebelum kedatangan penjelajah Iberia (orang Portugis dan Spanyol) pada abad ke-16. Dalam catatan sejarah, senjata ini dapat digolongkan sebagai arquebus (senapan sundut) atau musket (senapan lontak).[Catatan 1]
Etimologi
suntingIstilah "arquebus Jawa" (arquebus adalah sinonim dari senapan sundut) adalah terjemahan dari kata bahasa China ็ชๅ้ (Zua Wa Chong)[2][3] atau ็ๅ้ (Gua Wa Chong).[4] Dalam bahasa lokal senjata itu dikenal dengan berbagai nama, bedil atau bedhil lebih umum digunakan. Namun, istilah ini memiliki arti luas โ mungkin merujuk pada berbagai jenis senjata api dan senjata bubuk mesiu, dari pistol kecil sampai meriam pengepungan yang besar. Istilah bedil berasal dari kata wedil (atau wediyal) dan wediluppu (atau wediyuppu) dari bahasa Tamil.[5] Dalam bentuk aslinya, kata-kata ini secara berurut merujuk pada ledakan mesiu dan niter (kalium nitrat). Tapi setelah terserap menjadi bedil pada bahasa Melayu, dan di sejumlah budaya lain di kepulauan Nusantara, kosakata Tamil itu digunakan untuk merujuk pada semua jenis senjata yang menggunakan bubuk mesiu. Pada bahasa Jawa dan Bali istilah bedil dan bedhil dikenal, pada bahasa Sunda istilahnya adalah bedil, di bahasa Batak sebagai bodil, di bahasa Makassar, badili, di bahasa Bugis, balili, di bahasa Dayak, badil, di bahasa Tagalog, baril, di bahasa Bisaya, bรกdil, di rumpun bahasa Bikol, badil, dan orang Melayu orang memanggilnya badel atau bedil.[5][6][7]
Sejarah
suntingPengetahuan membuat senjata berbasis serbuk mesiu di Nusantara sudah dikenal setelah serangan Mongol ke Jawa (1293 M).[8]:โ1โ2โ[9]:โ244โ245โ[10][11] Meriam galah (bedil tombak) dicatat digunakan oleh Jawa pada tahun 1413.[12][13]:โ245โ Namun pengetahuan membuat senjata api sejati datang jauh setelahnya, setelah pertengahan abad ke-15. Ia dibawa oleh negara-negara Islam di Asia Barat, kemungkinan besar oleh orang Arab. Tahun pengenalan yang tepat tidak diketahui, tetapi dapat dengan aman disimpulkan tidak lebih awal dari tahun 1460.[14]:โ23โ
Jawa
suntingKerajaan Majapahit memelopori penggunaan senjata berbasis mesiu di kepulauan Nusantara. Suatu catatan tentang penggunaan senjata api pada pertempuran melawan pasukan Giri pada sekitar tahun 1500โ1506 berbunyi:[15]
"... wadya Majapahit ambedili, dene wadya Giri pada pating jengkelang ora kelar nadhahi tibaning mimis ..."
"... pasukan Majapahit menembaki (bedil=senjata api), sedangkan pasukan Giri tampak jatuh berjumpalitan tidak mampu menerima peluru (mimis=peluru bulat)..."
โ Serat Darmagandhul[16]:โ67โ68โ[17]:โ26,โ162โ

Arquebus ini memiliki kemiripan dengan arquebus Vietnam pada abad ke-17. Senjata ini sangat panjang, dapat mencapai 2,2 m panjangnya.[2][18] Catatan Tome Pires tahun 1513 menyebutkan pasukan tentara Gusti Pati (Patih Udara), wakil raja Batara Vojyaya (mungkin Brawijaya atau Ranawijaya), berjumlah 200.000 orang, 2.000 diantaranya adalah prajurit berkuda dan 4.000 adalah musketir.[19]:โ175โ176โ Duarte Barbosa sekitar tahun 1514 mengatakan bahwa penduduk Jawa sangat ahli dalam membuat artileri dan merupakan penembak artileri yang baik. Mereka membuat banyak meriam 1 pon (cetbang atau rentaka), senapan lontak panjang, spingarde (arquebus), schioppi (meriam tangan), api Yunani, gun (bedil besar atau meriam), dan senjata api atau kembang api lainnya. Setiap tempat disana dianggap sangat baik dalam mencetak/mengecor artileri, dan juga dalam ilmu penggunaanya.[20]:โ254โ[21]:โ198โ[22]:โ224โ
Orang-orang Tiongkok memuji senjata api negara Selatan:
Liuxianting (ๅ็ปๅปท โ ahli geografi era Qing awal) dari Dinasti Ming dan Qing mengatakan: "Orang Selatan pandai dalam peperangan senjata api, dan senjata api Selatan adalah yang terbaik di bawah langit". Qu Dajun (ๅฑๅคงๅ) berkata: "Arquebus Selatan, khususnya arquebus Jawa (็ชๅ้) diibaratkan crossbow yang kuat. Mereka digantung di bahu mereka dengan tali, dan mereka akan dikirim bersama saat bertemu musuh. Mereka bisa menembus beberapa baju zirah berat".[23][24][25]
Dinasti Ming Cina mencatat ekspor produk Jawa yang diimpor ke Cina. Ini termasuk lada, dupa cendana, gading, kuda, meriam besi, budak hitam, balahu chuan (ๅญๅๅฌ่น โ perahu), zhaowa chong (็ชๅ้ โ bedil Jawa), dan belerang.[26] Bedil Jawa lebih disukai oleh tentara Ming karena fleksibilitas dan akurasinya yang tinggi โ dikatakan bahwa senjata tersebut dapat digunakan untuk menembak burung.[27] Guangdong Tongzhi (ๅนฟไธ้ๅฟ) yang disusun seawal tahun 1535 mencatat bahwa prajurit berbaju zirah Jawa dan senapan Jawa adalah yang terbaik di antara orang-orang timur.[28] Orang Jawa menggunakannya dengan sangat terampil dan dapat mengenai burung pipit dengan akurat. Orang Cina juga menggunakannya. Ia bisa mematahkan jari, telapak tangan, dan lengan jika tidak digunakan dengan hati-hati.[27]
Semenanjung Melayu
suntingPortugis menemukan berbagai senjata serbuk mesiu setelah penaklukan Malaka pada tahun 1511. Diketahui bahwa orang-orang Melayu mendapatkan senjata dari Jawa.[14]:โ21โ22โ Meskipun memiliki banyak artileri dan senjata api, senjata kesultanan Malaka umumnya dan sebagian besarnya dibeli dari orang Jawa dan Gujarat, di mana orang Jawa dan Gujarat bertugas sebagai operator senjata. Pada awal abad ke-16, sebelum kedatangan Portugis, orang Melayu kekurangan senjata bubuk mesiu. Sejarah Melayu menyebutkan bahwa pada tahun 1509 mereka tidak mengerti "mengapa peluru membunuh", menunjukkan ketidakbiasaan mereka menggunakan senjata api dalam pertempuran, jika tidak dalam upacara.[29]:โ3โ Buku Lendas da India karya Gaspar Correia dan Asia Portuguesa karya Manuel de Faria y Sousa mengkonfirmasi catatan Sejarah Melayu. Mereka mencatat kisah serupa, walaupun tidak se-spektakuler yang digambarkan dalam Sejarah Melayu.[30]:โ120โ121โ[31]:โ43โ
Wan Mohd Dasuki Wan Hasbullah menjelaskan beberapa fakta akan keadaan persenjataan bubuk mesiu di Melaka dan negara Melayu lainnya sebelum kedatangan bangsa Portugis:[32]:โ97โ98โ
- Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa bedil, meriam, dan bubuk mesiu dibuat di negara-negara Melayu.
- Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa bedil pernah digunakan oleh Kesultanan Melaka sebelum penjarahan Portugis, bahkan dari sumber-sumber Melayu sendiri.
- Berdasarkan laporan banyaknya meriam yang ditemukan dan ditangkap oleh Portugis, mereka masuk dalam kategori artileri kecil (meriam kecil), jenis inilah yang lebih banyak digunakan oleh orang Melayu.

Dalam The Commentaries of the Great Afonso Dalboquerque "senapan matchlock besar"[Catatan 2] sering disebutkan di buku itu. Dalam serangan pertama ke Malaka, orang-orang Portugis yang mendekat ditembak oleh orang-orang muslim di Malaka:[33]:โ103โ
"Dua jam sebelum fajar, Afonso Dalboquerque memerintahkan trompet ditiup, untuk membangunkan mereka, dan mereka segera berangkat dengan semua orang-orang bersenjata dan naik ke atas kapalnya, dan ketika sebuah pengakuan umum telah telah dibuat, semua berangkat bersama-sama dan datang ke mulut sungai tepat saat pagi hari, dan menyerang jembatan, masing-masing batalion dalam urutan yang telah ditugaskan untuk itu. Kemudian orang-orang Moor (muslim) mulai menembaki mereka dengan artileri mereka, yang dipasang di kubu-kubu, dan dengan senapan matchlock besar mereka melukai beberapa orang kami."
Mereka juga digunakan ketika orang Portugis mundur dalam serangan pertama:[33]:โ108โ
"Ketika orang-orang Moor merasa bahwa mereka (pasukan Portugis) sedang mundur, mereka mulai melepaskan tembakan dengan senapan matchlock besar, panah, dan sumpitan, dan melukai beberapa orang kami, tetapi dengan cepat Afonso Dalboquerque memerintahkan orang-orang itu untuk membawa lima puluh bombard besar[Catatan 3] yang telah ditangkap di kubu-kubu di jembatan"
Joao de Barros menggambarkan suatu kejadian saat penaklukan itu di buku Da Asia:[14]:โ22โ[34]
"Begitu jung itu melewati tepi pasir dan membuang jangkar, tidak jauh dari jembatan, artileri orang muslim melepaskan tembakan ke arahnya. Beberapa senjata melepaskan peluru timah pada jarak waktu tertentu, yang melewati kedua sisi kapal, melakukan banyak pembunuhan di antara para kru. Di tengah panasnya aksi itu Antonio d'Abreu, sang komandan, tertembak di pipi oleh sebuah fusil (espingardรฃo), yang membawa banyak giginya."
Senapan-senapan matchlock yang menembak menembus melalui kedua sisi kapal mereka, memiliki laras yang sangat panjang dan kaliber 18ย mm.[35]
Sejarawan Fernรฃo Lopes de Castanheda menyebutkan senapan matchlock (espingardรฃo โ espingarda / arquebus besar), dia mengatakan bahwa mereka menembak mimis (peluru bulat), beberapa terbuat dari batu, dan sebagian dari besi tertutup timah.[14]:โ22โ[36] Putra Afonso de Albuquerque menyebutkan persenjataan Malaka: Ada senapan matchlock besar, sumpitan beracun, busur, panah, baju berlapis besi (laudeis de laminas), tombak Jawa, dan jenis senjata lainnya.[33]:โ127โ[37] Setelah Malaka dikuasai Portugis, mereka menangkap 3000 dari 5000 senapan yang telah diberi Jawa.[38]:โ96โ
Afonso de Albuquerque menganggap pembuat senjata api dan meriam di Melaka berada di level yang sama dengan Jerman. Namun, dia tidak menyebutkan etnis apa yang membuat senjata api dan meriam Melaka.[33]:โ128โ[39]:โ221โ[29]:โ4โ Duarte Barbosa menyatakan bahwa pembuat arquebus di Melaka adalah orang Jawa.[40]:โ69โ Orang Jawa juga membuat meriam secara mandiri di Melaka.[41] Anthony Reid berpendapat bahwa orang Jawa menangani banyak pekerjaan produktif di Melaka sebelum tahun 1511 dan di Pattani pada abad ke-17.[40]:โ69โ
Indochina
sunting
ฤแบกi Viแปt dianggap oleh dinasti Ming China telah menghasilkan senapan matchlock yang sangat maju selama abad 16โ17, bahkan melampaui senjata api Ottoman, Jepang, dan Eropa. Pengamat Eropa dari perang LรชโMแบกc dan perang TrแปnhโNguyแป n juga mencatat kemampuan pembuatan matchlock oleh orang Vietnam. Senapan matchlock Vietnam dikatakan mampu menembus beberapa lapis baju besi, membunuh dua hingga lima orang dalam satu tembakan, tetapi juga menembak dengan sunyi untuk senjata sekalibernya. Orang China menyebut senjata ini sebagai Jiao Chong (ไบค้, berarti arquebus Jiaozhi), dan mencatat kesamaannya dengan Zhua Wa Chong / arquebus Jawa.[2][3][18][23][Catatan 4]
Catatan
sunting- ^ Musket awalnya mengacu pada varian arquebus yang lebih berat, yang mampu menembus baju besi yang berat (lihat Arnold, 2001, The Renaissance at War, hal. 75โ78). Arquebus Jawa lebih besar dari arquebus biasa dan memiliki kemampuan penetrasi yang baik.
- ^ Ditulis sebagai espingardรตes (jamak) atau espingardรฃo (tunggal).
- ^ Bombard adalah jenis meriam kaliber besar dan berlaras pendek. Orang Melayu di Malaka memiliki bombard yang melemparkan peluru timah sebesar espera โ sejenis artileri tua yang besar. Lihat Birch 1875, hlm.ย 121.
- ^ Perlu dicatat bahwa arquebus Vietnam (Jiaozhi) dapat merujuk pada beberapa jenis senjata matchlock: Arquebus bermodel istinggar, arquebus dengan bipod di bawah laras, arquebus dengan tripod dan dudukan putar, dan arquebus bergaya jinjal. Lihat arquebus Vietnam.
Lihat juga
suntingReferensi
sunting- ^ Tarling, Nicholas, ed. (1992). The Cambridge History of Southeast Asia: Volume One, From Early Times to c. 1800. Cambridge University Press. ISBNย 0521355052.
- ^ a b c Tiaoyuan, Li (1969). ๅ่ถ็ญ่จ (South Vietnamese Notes). Guangju Book Office. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b ่ฐๅ (Tiaoyuan), ๆ (Li) (1777). ๅ่ถ็ฌ่ฎฐ (South Vietnamese Notes). hlm.ย 268โ269 โ via Chinese Text Project.
- ^ Fan, Zhang (1979). ๆฑ่ฅฟๆด่: 12ๅท, Volume 164. ๅฐ็ฃๅๅๅฐๆธ้คจ (Taiwan Commercial Press).
- ^ a b Kern, H. (January 1902). "Oorsprong van het Maleisch Woord Bedil". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia. 54: 311โ312.
- ^ Syahri, Aswandi (6 August 2018). "Kitab Ilmu Bedil Melayu". Jantung Melayu. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-02-15. Diakses tanggal 10 February 2020.
- ^ Rahmawati, Siska (2016). "Peristilahan Persenjataan Tradisional Masyarakat Melayu di Kabupaten Sambas". Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa. 5.
- ^ Schlegel, Gustaaf (1902). "On the Invention and Use of Fire-Arms and Gunpowder in China, Prior to the Arrival of European". T'oung Pao. 3: 1โ11.
- ^ Partington, J. R. (1999). A History of Greek Fire and Gunpowder (dalam bahasa Inggris). JHU Press. ISBNย 978-0-8018-5954-0.
- ^ Lombard, Denys (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian 2: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 208.
- ^ Reid, Anthony (2011). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid II: Jaringan Perdagangan Global. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal. 255.
- ^ Mayers (1876). "Chinese explorations of the Indian Ocean during the fifteenth century". The China Review. IV: p. 178.
- ^ Manguin, Pierre-Yves (1976). "L'Artillerie legere nousantarienne: A propos de six canons conserves dans des collections portugaises". Arts Asiatiques. 32: 233โ268.
- ^ a b c d Crawfurd, John (1856). A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Bradbury and Evans. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ De Graaf, Hermanus Johannes (1985). Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Jakarta: Temprint. hlm.ย 180. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Kalamwadi, Ki (1990). Serat Darmogandhul. Dahara Prize.
- ^ Huda, Nurul (2005). Darmo Gandhul. Pura Pustaka.
- ^ a b ๆฑๆดๅญธ ็ก็ฉถๆ (Institute of Oriental Studies) (1999). ๆผข้ๅคง่พญๅ
ธ (Chinese-Korean Dictionary). ๆชๅๅคงๅญธๆๅบ็้จ (Dankook University Department of Education and Publication). hlm.ย 45. ISBNย 9788970922430.
ๆผข,่ถๆใๅณ่ถๆฅ็ง,็ไฝฟๅ ฌๅญๅ ๅณใไปฅๅบ็ๅ,่ฒซ็ฒ้่./ๆธ ,ๆ่ชฟๅ ใๅ่ถ็ญ่จ,็ฒตไบบๅ้ณฅๆงใๅ ถๆฐ็ชๅ้่ ,ๅฝขๅฆๅผบๅผฉ,ไปฅ็นฉๆธ็ตก่ไธ,้ๆต่ฌ้้ฝ็ผ,่ฒซ็ฒๆธ้. .ใๆๆธ,ๆๆญๅณใๅฃซๆฅญ่,ๅผๅ ต้,็ฒ้ๆ้ผ,ๅฃซๆฅญ่ฆช่ฒซ็ฒๅ ็ป,ๅคงๆไน.
Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ^ Cortesรฃo, Armando (1944). The Suma oriental of Tomรฉ Piresย : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515ย ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515 volume I. London: The Hakluyt Society. ISBNย 9784000085052. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
- ^ Jones, John Winter (1863). The travels of Ludovico di Varthema in Egypt, Syria, Arabia Deserta and Arabia Felix, in Persia, India, and Ethiopia, A.D. 1503 to 1508. Hakluyt Society.
- ^ Stanley, Henry Edward John (1866). A Description of the Coasts of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century by Duarte Barbosa. The Hakluyt Society. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Partington, J. R. (1999). A History of Greek Fire and Gunpowder (dalam bahasa Inggris). JHU Press. ISBNย 978-0-8018-5954-0.
- ^ a b Bozhong, Li (2017). ็ซๆง่ๅธณ็ฐฟ๏ผๆฉๆ็ถๆฟๅ
จ็ๅๆไปฃ็ไธญๅ่ๆฑไบไธ็ (The Gun and the Ledger: China and the East Asian World in the Age of Early Economic Globalization). Beijing: ไธ ่ฏ่ฏๆธๆธๅบๅบ (Sanlian Bookstore). hlm.ย 141. ISBNย 978-7-108-05674-0.
ๅจๆๆซ,ๅฎๅไบบ้็ผๅบไบไธ็จฎๆง่ฝๅช่ฏ็็ซ็นฉๆง,ไธญๅไบบ็จฑไน็บใไบค้ใ(ๆๅณไบค่ถพ็ซ้)ใๆไบบ่ช็บ้็จฎไบค้ๅจๅจๅๅๆง่ฝ็ญๆน้ข้ฝๅช่ถๆผ่ฅฟๆนๅๆฅๆฌ็ใ้ณฅ้ใๅใ้ญฏๅฏ้ใใๆๆธ ไน้ไบบๅ็ปๅปท่ชช:ใไบค่ถพ......ๅ็ซๆป,ไบคๆง็บๅคฉไธๆใใๅฑๅคงๅๅ่ชช:ใๆไบคๆง่ ,ๅ ถๆฐ็ชๅ้่ ,ๅฝขๅฆๅผทๅผฉ,ไปฅ็นฉๆธ็ตก่ฉไธ,้ๆต่ฌ้้ฝ็ผ,่ฒซ็ฒๆธ้ใใ
Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ^ Lรฝ Bรก Trแปng (2019). ็ซๆง่ๅธณ็ฐฟ๏ผๆฉๆ็ถๆฟๅ
จ็ๅๆไปฃ็ไธญๅ่ๆฑไบไธ็ (Guns and Account Books: China and the East Asian World in the Era of Early Economic Globalization) (dalam bahasa Chinese (Taiwan)). ่ฏ็ถๅบ็ไบๆฅญๅ
ฌๅธ (Lianjing Publishing Company). hlm.ย 142. ISBNย 978-957-08-5393-3. Diakses tanggal 2020-07-12.
ๆๆธ ไน้ไบบๅ็ปๅปท่ชช๏ผใไบคๅ็ซๆป๏ผไบคๆง็บๅคฉไธๆใใๅฑๅคงๅๅ่ชช๏ผใๆไบคๆง่ ๏ผๅ ถๆฅ็ชๅ้่ ๏ผๅฝขๅฆๅผทๅผฉ๏ผไปฅ็นฉๆธ็ตก่ฉไธ๏ผ้ๆต่ฌ็ตฑ้ฝ็ผ๏ผ่ฒซ็ฒๆธ้ใใ
- ^ Kesheng, Zheng (2021). ๆๆธ
ๆฟไบไธไบบ็ฉๆขๅฎ (Political Controversy and Characters in Ming and Qing Dynasties). Beijing Book Co. Inc. ISBNย 9787101151480.
ๅใ้ธๆชใ่ฐ" (่ถพ)ๆช","ๅ ถๆฐ็ชๅ้ณ่ ,ๅฝขๅฆ,็ปณๆฌ็ปไธ,้ๆไธ้ณ้ฝๅ,่ดฏ็ฒ้"ใๅใใ่ฐ"ๆด่ ไธบไธ,ๅ ถ่้่,ไบบๅพ็ป,็ถๅค่ไธๅ,ๅ่ ไฝ็ปๆ็บน,ๆดๅฝไบบ็ป"ใไธไบใ็ปตๅธใ่ฏด"ไธ็ปตๅธ,่ฆไธไธ......ๆ ไธไบบๆฎๆญป่ ไธบ้ข,ๆฏๆฐๆดๅธ,ๆฅ่ช็ช่ ไธบ"ใ(47)
- ^ Shu, Yuan, ed. (2017). ไธญๅฝไธๅๆตทๅจ่พนๅ
ณ็ณปๅฒ (History of China's Relations with the South China Sea). Beijing Book Co. Inc. ISBNย 9787226051870.
ไธใ่ฏๆ:่กๆคใ็ฉบ้ใ่ๆจใ็ชๆจ้ณๅญใ่ฆ่ใ้ท่ซ่ฏใๆฒก่ฏใ่ๆพ่ใ่ก็ซญใ่ๆจใๅคงๆซๅญใไน็นๆณฅใ้ๅๅญใ็ช็บขๅใ่่ฑ่ปใ็ฝ่ฑ่ปใ่ค็ซญใ็ข็ณใ้ป่กใ้ฟ้ญใไบใ้ฆๆ:้้ฆใๅฅๅ้ฆใๆช้ฆใ้บปๆป้ฆใ้้ฆใ้พ่้ฆใๆจ้ฆใไนณ้ฆใ่ท่้ฒใ้ป็้ฆใๅฎๆฏ้ฆใไน้ฆใไธ็ฎ(้ฆ)ใไธใ็ๅฎ๏ผ้ป้ใๅฎ็ณใ็่งใ็็ ใ็็ใ่ฑก็ใ้พ็ญใ ๅญ้ๅฐพใ็ฟ ๆฏใ็็ใๅใๅจ็ฉ๏ผ้ฉฌใ่ฅฟ้ฉฌใ็บข้นฆ้นใ็ฝ้นฆ้นใ็ปฟ้นฆ้นใ็ซ้ธกใ็ฝ ้นฟใ็ฝ้นคใ่ฑกใ็ฝ็ดใ็ใ็ฅ้นฟ๏ผๆธ๏ผใ้นค้กถ๏ผ้ธ๏ผใไบ่ฒ้นฆ้นใๅฅฅ้็พๅ ฝใไบใ้ ๅฑๅถๅ๏ผ่ฅฟๆด้ใ้ๆชใ้กใๆ้ๅใ้้ผใๅ ญใๅธๅน๏ผๅธใๆฒน็บขๅธใ็ปๅธใ[4]ๆญค ๅค๏ผ็ชๅ่ฟๅๆๆ่พๅ ฅ้ปๅฅดใๅญๅๅฌ่นใ็ชๅ้ฃใ็กซ้ปใ็ท้้ขๆ็ญใ็ชๅๆ่ดก่ดธๆ ่พไบบ็ฉ่ตไธไป ็ง็ฑปๅค๏ผ่ไธๆฐ่ฝๅฏ่ง๏ผๅฆๆดชๆญฆๅไบๅนด๏ผ1382ๅนด๏ผไธๆฌก่ฟ่ดก็่กๆคๅฐฑ่พพ ไธไธไบๅๆคใ[5]่ๆฐ้ด่ดธๆๆพๆดๅคง๏ผๆฎ่กๅFrancisco de Sa่ฎฐ่ฝฝ๏ผ"ไธไธนใ้ ๅ ่พพ็ญๆธฏ ๅฃๆฏๅนด่ชๆผณๅทๆๅธ่น20่้ฉถๆฅ่ฃ ่ฝฝ3ไธๅฅๅกๅฐ๏ผquiutai๏ผ็่กๆคใ"1ๅฅๅกๅฐ็บฆๅ59 ๅ ฌๆคๅๅฝๅนดไป็ชๅ่พๅ ฅไธญๅฝ่กๆค่พพ177ไธๅ ฌๆคใ
- ^ a b Wenbin, Yan, ed. (2019). ๅๆตทๆๆๅ่ญ๏ผๅพฉๅๅๆตท็ๆญทๅฒๅบๅ โ็น้ซไธญๆ็ (Map of South China Sea Civilization: Restoring the Historical Gene of the South China Sea. Traditional Chinese Version). Rรบshรฌ wรฉnhuร . hlm.ย 70. ISBNย 9789578784987.
้คไบ่ฃๅๅญๅๅฌ่นไปฅๅค,ๆๆ่ป้้่ฃๅไบ็ชๅ็ข็็ซๅจ,็จฑ็บ็ชๅ้ใ้็จฎ็ซ้่็ชๅ่นไธๆจฃ,ไนไปฅๅฐๅทง้ๆดป่ๅ,ๅฐๆ็ฒพๅบฆ้ซ,ๅฏ็จๆผๆ้ณฅใ็ถๆไธญๅ้ฒๅฃไธฆ่ฃๅ่ป้็ๅคๅ้ไธๅ ไพ่ช็ชๅ,้ๆไฝ้ๆฉ,ๅณ่ฅฟ็ญ็ๅ่ก่็ใ็ธๆฏไนไธ,ใไฝ้ๆฉ้ๅคงใ็ชๅ้ๅฐใ,ไฝๅ่ ็ฒพๆบๅบฆไธๅฆๅพ่ ใใๆตทๅๅปฃ่จใ่จ่ผ,็ชๅใ็ฒๅ ต็ซ้็บๆฑๆด่ซธ่ไนๅ ใใใๅปฃๆฑ้ๅฟใๆ็นช๏ผใ็ชๅ็ตฑๅฐ๏ผ๏ผ็ชๅ๏ผๅไบบ็จไน็็ฒพ๏ผๅฐ่ ๅฏๆ้ใไธญๅไบบ็จไน๏ผ็ฉไธๆ ๅๆๅปๆธๆ๏ผๆๆท , ๆ, ่ใ
Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ^ Yuan, Wei (2011). ้ญๆบๅ
จ้(ไบ) [The Complete Works of Wei Yuan (5)]. Beijing Book Co. Inc. ISBNย 9787999009627.
ใๅนฟไธ้ๅฟใ:็ๅๅฝ,ๅค่ฏ้ตไนใไธๆฐ้ๅฉ,ๅๅ่ๅฎถ้พ,ๅจ็่ ไนๅๆตทไธญๆดฒไธใไธไธๅฉๅฉ,่ฅฟไธ(ๆฐ)ใๅ ใๅฉ็ป,ๅๆฅ็่ ๅฝ,ๅไธดๅคงๆตทใ่ชๅ ๅ่ตท็จ,้กบ้ฃไบๅๆผๅคๅฏ่ณๅ ถๅฝใๅฐๅนฟไบบ็จ ,็ฒๅ ต่ฏ้ณไธบไธๆด่ฏธ็ชไน้ใๅ ถๆธฏๅฃๅ ฅๅป้ฉฌๅคดๆฐๆฐๆใๅฑๅบ่ฟ่กไธบๅธ,ไนฐๅๅๆ ๆไผใ
- ^ a b Charney, Michael (2012). Iberians and Southeast Asians at War: the Violent First Encounter at Melaka in 1511 and After. Dalam Waffen Wissen Wandel: Anpassung und Lernen in transkulturellen Erstkonflikten. Hamburger Edition.
- ^ Koek, E. (1886). "Portuguese History of Malacca". Journal of the Straits Branch of the Royal Asiatic Society. 17: 117โ149.
- ^ Pintado, M.J. (1993). Portuguese Documents on Malacca: 1509โ1511. National Archives of Malaysia. ISBNย 9789679120257.
- ^ Hasbullah, Wan Mohd Dasuki Wan (2020). Senjata Api Alam Melayu. Dewan Bahasa dan Pustaka.
- ^ a b c d Birch, Walter de Gray (1875). The Commentaries of the Great Afonso Dalboquerque, Second Viceroy of India, translated from the Portuguese edition of 1774 volume 3. London: The Hakluyt Society. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ De Barros, Joรฃo (1552). Primeira decada da Asia. Lisboa.
- ^ "Fine Malay matchlock musket | Mandarin Mansion". www.mandarinmansion.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-10.
- ^ De Castanheda, Fernรฃo Lopes (1552). Histรณria do descobrimento & conquista da India pelos portugueses. Coimbra.
- ^ The son of Afonso de Albuquerque (1774). Commentรกrios do Grande Afonso Dalbuquerque parte III. Lisboa: Na Regia Officina Typografica. hlm.ย 144.
- ^ Egerton, W. (1880). An Illustrated Handbook of Indian Arms. W.H. Allen.
- ^ Reid, Anthony (1993). Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680. Volume Two: Expansion and Crisis. New Haven and London: Yale University Press.
- ^ a b Reid, Anthony (1989). The Organization of Production in the Pre-Colonial Southeast Asian Port City. In Broeze, Frank (Ed.), Brides of the Sea: Asian Port Cities in the Colonial Era (pp. 54โ74). University of Hawaii Press.
- ^ Furnivall, J. S. (2010). Netherlands India: A Study of Plural Economy. Cambridge University Press. Halaman 9: "when Portuguese first came to Malacca they noticed a large colony of Javanese merchants under its own headman; the Javanese even founded their own cannon, which then, and for long after, were as necessary to merchant ships as sails."








