Senapan matchlock abad ke-19 Indonesia, senjata ini lebih kecil dan lebih pendek dari arquebus Jawa.

Arquebus Jawa atau bedil Jawa merujuk pada senjata api panjang dari kepulauan Nusantara, asalnya dapat dilacak kembali ke awal abad ke-16. Senjata itu digunakan oleh tentara lokal, meskipun dalam jumlah rendah dibandingkan dengan jumlah total pasukan,[1]:โ€Š387โ€Š sebelum kedatangan penjelajah Iberia (orang Portugis dan Spanyol) pada abad ke-16. Dalam catatan sejarah, senjata ini dapat digolongkan sebagai arquebus (senapan sundut) atau musket (senapan lontak).[Catatan 1]

Etimologi

sunting

Istilah "arquebus Jawa" (arquebus adalah sinonim dari senapan sundut) adalah terjemahan dari kata bahasa China ็ˆชๅ“‡้Šƒ (Zua Wa Chong)[2][3] atau ็“œๅ“‡้Šƒ (Gua Wa Chong).[4] Dalam bahasa lokal senjata itu dikenal dengan berbagai nama, bedil atau bedhil lebih umum digunakan. Namun, istilah ini memiliki arti luas โ€” mungkin merujuk pada berbagai jenis senjata api dan senjata bubuk mesiu, dari pistol kecil sampai meriam pengepungan yang besar. Istilah bedil berasal dari kata wedil (atau wediyal) dan wediluppu (atau wediyuppu) dari bahasa Tamil.[5] Dalam bentuk aslinya, kata-kata ini secara berurut merujuk pada ledakan mesiu dan niter (kalium nitrat). Tapi setelah terserap menjadi bedil pada bahasa Melayu, dan di sejumlah budaya lain di kepulauan Nusantara, kosakata Tamil itu digunakan untuk merujuk pada semua jenis senjata yang menggunakan bubuk mesiu. Pada bahasa Jawa dan Bali istilah bedil dan bedhil dikenal, pada bahasa Sunda istilahnya adalah bedil, di bahasa Batak sebagai bodil, di bahasa Makassar, badili, di bahasa Bugis, balili, di bahasa Dayak, badil, di bahasa Tagalog, baril, di bahasa Bisaya, bรกdil, di rumpun bahasa Bikol, badil, dan orang Melayu orang memanggilnya badel atau bedil.[5][6][7]

Sejarah

sunting

Pengetahuan membuat senjata berbasis serbuk mesiu di Nusantara sudah dikenal setelah serangan Mongol ke Jawa (1293 M).[8]:โ€Š1โ€“2โ€Š[9]:โ€Š244โ€“245โ€Š[10][11] Meriam galah (bedil tombak) dicatat digunakan oleh Jawa pada tahun 1413.[12][13]:โ€Š245โ€Š Namun pengetahuan membuat senjata api sejati datang jauh setelahnya, setelah pertengahan abad ke-15. Ia dibawa oleh negara-negara Islam di Asia Barat, kemungkinan besar oleh orang Arab. Tahun pengenalan yang tepat tidak diketahui, tetapi dapat dengan aman disimpulkan tidak lebih awal dari tahun 1460.[14]:โ€Š23โ€Š

Jawa

sunting

Kerajaan Majapahit memelopori penggunaan senjata berbasis mesiu di kepulauan Nusantara. Suatu catatan tentang penggunaan senjata api pada pertempuran melawan pasukan Giri pada sekitar tahun 1500โ€“1506 berbunyi:[15]

"... wadya Majapahit ambedili, dene wadya Giri pada pating jengkelang ora kelar nadhahi tibaning mimis ..."

"... pasukan Majapahit menembaki (bedil=senjata api), sedangkan pasukan Giri tampak jatuh berjumpalitan tidak mampu menerima peluru (mimis=peluru bulat)..."

โ€” Serat Darmagandhul[16]:โ€Š67โ€“68โ€Š[17]:โ€Š26,โ€Š162โ€Š

Detail dari mekanisme pemicu.

Arquebus ini memiliki kemiripan dengan arquebus Vietnam pada abad ke-17. Senjata ini sangat panjang, dapat mencapai 2,2 m panjangnya.[2][18] Catatan Tome Pires tahun 1513 menyebutkan pasukan tentara Gusti Pati (Patih Udara), wakil raja Batara Vojyaya (mungkin Brawijaya atau Ranawijaya), berjumlah 200.000 orang, 2.000 diantaranya adalah prajurit berkuda dan 4.000 adalah musketir.[19]:โ€Š175โ€“176โ€Š Duarte Barbosa sekitar tahun 1514 mengatakan bahwa penduduk Jawa sangat ahli dalam membuat artileri dan merupakan penembak artileri yang baik. Mereka membuat banyak meriam 1 pon (cetbang atau rentaka), senapan lontak panjang, spingarde (arquebus), schioppi (meriam tangan), api Yunani, gun (bedil besar atau meriam), dan senjata api atau kembang api lainnya. Setiap tempat disana dianggap sangat baik dalam mencetak/mengecor artileri, dan juga dalam ilmu penggunaanya.[20]:โ€Š254โ€Š[21]:โ€Š198โ€Š[22]:โ€Š224โ€Š

Orang-orang Tiongkok memuji senjata api negara Selatan:

Liuxianting (ๅЉ็ปๅปท โ€” ahli geografi era Qing awal) dari Dinasti Ming dan Qing mengatakan: "Orang Selatan pandai dalam peperangan senjata api, dan senjata api Selatan adalah yang terbaik di bawah langit". Qu Dajun (ๅฑˆๅคงๅ‡) berkata: "Arquebus Selatan, khususnya arquebus Jawa (็ˆชๅ“‡้Šƒ) diibaratkan crossbow yang kuat. Mereka digantung di bahu mereka dengan tali, dan mereka akan dikirim bersama saat bertemu musuh. Mereka bisa menembus beberapa baju zirah berat".[23][24][25]

Dinasti Ming Cina mencatat ekspor produk Jawa yang diimpor ke Cina. Ini termasuk lada, dupa cendana, gading, kuda, meriam besi, budak hitam, balahu chuan (ๅญๅ–‡ๅ”ฌ่ˆน โ€” perahu), zhaowa chong (็ˆชๅ“‡้Šƒ โ€” bedil Jawa), dan belerang.[26] Bedil Jawa lebih disukai oleh tentara Ming karena fleksibilitas dan akurasinya yang tinggi โ€” dikatakan bahwa senjata tersebut dapat digunakan untuk menembak burung.[27] Guangdong Tongzhi (ๅนฟไธœ้€šๅฟ—) yang disusun seawal tahun 1535 mencatat bahwa prajurit berbaju zirah Jawa dan senapan Jawa adalah yang terbaik di antara orang-orang timur.[28] Orang Jawa menggunakannya dengan sangat terampil dan dapat mengenai burung pipit dengan akurat. Orang Cina juga menggunakannya. Ia bisa mematahkan jari, telapak tangan, dan lengan jika tidak digunakan dengan hati-hati.[27]

Semenanjung Melayu

sunting

Portugis menemukan berbagai senjata serbuk mesiu setelah penaklukan Malaka pada tahun 1511. Diketahui bahwa orang-orang Melayu mendapatkan senjata dari Jawa.[14]:โ€Š21โ€“22โ€Š Meskipun memiliki banyak artileri dan senjata api, senjata kesultanan Malaka umumnya dan sebagian besarnya dibeli dari orang Jawa dan Gujarat, di mana orang Jawa dan Gujarat bertugas sebagai operator senjata. Pada awal abad ke-16, sebelum kedatangan Portugis, orang Melayu kekurangan senjata bubuk mesiu. Sejarah Melayu menyebutkan bahwa pada tahun 1509 mereka tidak mengerti "mengapa peluru membunuh", menunjukkan ketidakbiasaan mereka menggunakan senjata api dalam pertempuran, jika tidak dalam upacara.[29]:โ€Š3โ€Š Buku Lendas da India karya Gaspar Correia dan Asia Portuguesa karya Manuel de Faria y Sousa mengkonfirmasi catatan Sejarah Melayu. Mereka mencatat kisah serupa, walaupun tidak se-spektakuler yang digambarkan dalam Sejarah Melayu.[30]:โ€Š120โ€“121โ€Š[31]:โ€Š43โ€Š

Wan Mohd Dasuki Wan Hasbullah menjelaskan beberapa fakta akan keadaan persenjataan bubuk mesiu di Melaka dan negara Melayu lainnya sebelum kedatangan bangsa Portugis:[32]:โ€Š97โ€“98โ€Š

  1. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa bedil, meriam, dan bubuk mesiu dibuat di negara-negara Melayu.
  2. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa bedil pernah digunakan oleh Kesultanan Melaka sebelum penjarahan Portugis, bahkan dari sumber-sumber Melayu sendiri.
  3. Berdasarkan laporan banyaknya meriam yang ditemukan dan ditangkap oleh Portugis, mereka masuk dalam kategori artileri kecil (meriam kecil), jenis inilah yang lebih banyak digunakan oleh orang Melayu.
Sebuah pertunjukan Baris Bedil (tarian senjata api) di Bali, Indonesia.

Dalam The Commentaries of the Great Afonso Dalboquerque "senapan matchlock besar"[Catatan 2] sering disebutkan di buku itu. Dalam serangan pertama ke Malaka, orang-orang Portugis yang mendekat ditembak oleh orang-orang muslim di Malaka:[33]:โ€Š103โ€Š

"Dua jam sebelum fajar, Afonso Dalboquerque memerintahkan trompet ditiup, untuk membangunkan mereka, dan mereka segera berangkat dengan semua orang-orang bersenjata dan naik ke atas kapalnya, dan ketika sebuah pengakuan umum telah telah dibuat, semua berangkat bersama-sama dan datang ke mulut sungai tepat saat pagi hari, dan menyerang jembatan, masing-masing batalion dalam urutan yang telah ditugaskan untuk itu. Kemudian orang-orang Moor (muslim) mulai menembaki mereka dengan artileri mereka, yang dipasang di kubu-kubu, dan dengan senapan matchlock besar mereka melukai beberapa orang kami."

Mereka juga digunakan ketika orang Portugis mundur dalam serangan pertama:[33]:โ€Š108โ€Š

"Ketika orang-orang Moor merasa bahwa mereka (pasukan Portugis) sedang mundur, mereka mulai melepaskan tembakan dengan senapan matchlock besar, panah, dan sumpitan, dan melukai beberapa orang kami, tetapi dengan cepat Afonso Dalboquerque memerintahkan orang-orang itu untuk membawa lima puluh bombard besar[Catatan 3] yang telah ditangkap di kubu-kubu di jembatan"

Joao de Barros menggambarkan suatu kejadian saat penaklukan itu di buku Da Asia:[14]:โ€Š22โ€Š[34]

"Begitu jung itu melewati tepi pasir dan membuang jangkar, tidak jauh dari jembatan, artileri orang muslim melepaskan tembakan ke arahnya. Beberapa senjata melepaskan peluru timah pada jarak waktu tertentu, yang melewati kedua sisi kapal, melakukan banyak pembunuhan di antara para kru. Di tengah panasnya aksi itu Antonio d'Abreu, sang komandan, tertembak di pipi oleh sebuah fusil (espingardรฃo), yang membawa banyak giginya."

Senapan-senapan matchlock yang menembak menembus melalui kedua sisi kapal mereka, memiliki laras yang sangat panjang dan kaliber 18ย mm.[35]

Sejarawan Fernรฃo Lopes de Castanheda menyebutkan senapan matchlock (espingardรฃo โ€” espingarda / arquebus besar), dia mengatakan bahwa mereka menembak mimis (peluru bulat), beberapa terbuat dari batu, dan sebagian dari besi tertutup timah.[14]:โ€Š22โ€Š[36] Putra Afonso de Albuquerque menyebutkan persenjataan Malaka: Ada senapan matchlock besar, sumpitan beracun, busur, panah, baju berlapis besi (laudeis de laminas), tombak Jawa, dan jenis senjata lainnya.[33]:โ€Š127โ€Š[37] Setelah Malaka dikuasai Portugis, mereka menangkap 3000 dari 5000 senapan yang telah diberi Jawa.[38]:โ€Š96โ€Š

Afonso de Albuquerque menganggap pembuat senjata api dan meriam di Melaka berada di level yang sama dengan Jerman. Namun, dia tidak menyebutkan etnis apa yang membuat senjata api dan meriam Melaka.[33]:โ€Š128โ€Š[39]:โ€Š221โ€Š[29]:โ€Š4โ€Š Duarte Barbosa menyatakan bahwa pembuat arquebus di Melaka adalah orang Jawa.[40]:โ€Š69โ€Š Orang Jawa juga membuat meriam secara mandiri di Melaka.[41] Anthony Reid berpendapat bahwa orang Jawa menangani banyak pekerjaan produktif di Melaka sebelum tahun 1511 dan di Pattani pada abad ke-17.[40]:โ€Š69โ€Š

Indochina

sunting
Arquebus Jiaozhi dari tahun 1739. Perhatikan mekanisme sederhananya.

ฤแบกi Viแป‡t dianggap oleh dinasti Ming China telah menghasilkan senapan matchlock yang sangat maju selama abad 16โ€“17, bahkan melampaui senjata api Ottoman, Jepang, dan Eropa. Pengamat Eropa dari perang Lรชโ€“Mแบกc dan perang Trแป‹nhโ€“Nguyแป…n juga mencatat kemampuan pembuatan matchlock oleh orang Vietnam. Senapan matchlock Vietnam dikatakan mampu menembus beberapa lapis baju besi, membunuh dua hingga lima orang dalam satu tembakan, tetapi juga menembak dengan sunyi untuk senjata sekalibernya. Orang China menyebut senjata ini sebagai Jiao Chong (ไบค้Šƒ, berarti arquebus Jiaozhi), dan mencatat kesamaannya dengan Zhua Wa Chong / arquebus Jawa.[2][3][18][23][Catatan 4]

Catatan

sunting
  1. ^ Musket awalnya mengacu pada varian arquebus yang lebih berat, yang mampu menembus baju besi yang berat (lihat Arnold, 2001, The Renaissance at War, hal. 75โ€“78). Arquebus Jawa lebih besar dari arquebus biasa dan memiliki kemampuan penetrasi yang baik.
  2. ^ Ditulis sebagai espingardรตes (jamak) atau espingardรฃo (tunggal).
  3. ^ Bombard adalah jenis meriam kaliber besar dan berlaras pendek. Orang Melayu di Malaka memiliki bombard yang melemparkan peluru timah sebesar espera โ€” sejenis artileri tua yang besar. Lihat Birch 1875, hlm.ย 121.
  4. ^ Perlu dicatat bahwa arquebus Vietnam (Jiaozhi) dapat merujuk pada beberapa jenis senjata matchlock: Arquebus bermodel istinggar, arquebus dengan bipod di bawah laras, arquebus dengan tripod dan dudukan putar, dan arquebus bergaya jinjal. Lihat arquebus Vietnam.

Lihat juga

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Tarling, Nicholas, ed. (1992). The Cambridge History of Southeast Asia: Volume One, From Early Times to c. 1800. Cambridge University Press. ISBNย 0521355052.
  2. ^ a b c Tiaoyuan, Li (1969). ๅ—่ถŠ็ญ†่จ˜ (South Vietnamese Notes). Guangju Book Office. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b ่ฐƒๅ…ƒ (Tiaoyuan), ๆŽ (Li) (1777). ๅ—่ถŠ็ฌ”่ฎฐ (South Vietnamese Notes). hlm.ย 268โ€“269 โ€“ via Chinese Text Project.
  4. ^ Fan, Zhang (1979). ๆฑ่ฅฟๆด‹่€ƒ: 12ๅท, Volume 164. ๅฐ็ฃๅ•†ๅ‹™ๅฐๆ›ธ้คจ (Taiwan Commercial Press).
  5. ^ a b Kern, H. (January 1902). "Oorsprong van het Maleisch Woord Bedil". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia. 54: 311โ€“312.
  6. ^ Syahri, Aswandi (6 August 2018). "Kitab Ilmu Bedil Melayu". Jantung Melayu. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-02-15. Diakses tanggal 10 February 2020.
  7. ^ Rahmawati, Siska (2016). "Peristilahan Persenjataan Tradisional Masyarakat Melayu di Kabupaten Sambas". Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa. 5.
  8. ^ Schlegel, Gustaaf (1902). "On the Invention and Use of Fire-Arms and Gunpowder in China, Prior to the Arrival of European". T'oung Pao. 3: 1โ€“11.
  9. ^ Partington, J. R. (1999). A History of Greek Fire and Gunpowder (dalam bahasa Inggris). JHU Press. ISBNย 978-0-8018-5954-0.
  10. ^ Lombard, Denys (2005). Nusa Jawa: Silang Budaya, Bagian 2: Jaringan Asia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal. 208.
  11. ^ Reid, Anthony (2011). Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid II: Jaringan Perdagangan Global. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Hal. 255.
  12. ^ Mayers (1876). "Chinese explorations of the Indian Ocean during the fifteenth century". The China Review. IV: p. 178.
  13. ^ Manguin, Pierre-Yves (1976). "L'Artillerie legere nousantarienne: A propos de six canons conserves dans des collections portugaises". Arts Asiatiques. 32: 233โ€“268.
  14. ^ a b c d Crawfurd, John (1856). A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Bradbury and Evans. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  15. ^ De Graaf, Hermanus Johannes (1985). Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Jakarta: Temprint. hlm.ย 180. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  16. ^ Kalamwadi, Ki (1990). Serat Darmogandhul. Dahara Prize.
  17. ^ Huda, Nurul (2005). Darmo Gandhul. Pura Pustaka.
  18. ^ a b ๆฑๆด‹ๅญธ ็ก็ฉถๆ‰€ (Institute of Oriental Studies) (1999). ๆผข้Ÿ“ๅคง่พญๅ…ธ (Chinese-Korean Dictionary). ๆช€ๅœ‹ๅคงๅญธๆ•™ๅ‡บ็‰ˆ้ƒจ (Dankook University Department of Education and Publication). hlm.ย 45. ISBNย 9788970922430. ๆผข,่ถ™ๆ›„ใ€Šๅณ่ถŠๆ˜ฅ็ง‹,็Ž‹ไฝฟๅ…ฌๅญๅ…‰ๅ‚ณใ€‹ไปฅๅˆบ็Ž‹ๅƒš,่ฒซ็”ฒ้”่ƒŒ./ๆธ…,ๆŽ่ชฟๅ…ƒใ€Šๅ—่ถŠ็ญ†่จ˜,็ฒตไบบๅ–„้ณฅๆงใ€‹ๅ…ถๆ›ฐ็ˆชๅ“‡้Šƒ่€…,ๅฝขๅฆ‚ๅผบๅผฉ,ไปฅ็นฉๆ‡ธ็ตก่‡‚ไธŠ,้‡ๆ•ต่ฌ้Šƒ้ฝŠ็™ผ,่ฒซ็”ฒๆ•ธ้‡. .ใ€Šๆ™‰ๆ›ธ,ๆŽๆญ†ๅ‚ณใ€‹ๅฃซๆฅญ่ž,ๅผ•ๅ…ต้‚„,็ˆฒ้œๆ‰€้€ผ,ๅฃซๆฅญ่ฆช่ฒซ็”ฒๅ…ˆ็™ป,ๅคงๆ•—ไน‹. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  19. ^ Cortesรฃo, Armando (1944). The Suma oriental of Tomรฉ Piresย : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515ย ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515 volume I. London: The Hakluyt Society. ISBNย 9784000085052. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  20. ^ Jones, John Winter (1863). The travels of Ludovico di Varthema in Egypt, Syria, Arabia Deserta and Arabia Felix, in Persia, India, and Ethiopia, A.D. 1503 to 1508. Hakluyt Society.
  21. ^ Stanley, Henry Edward John (1866). A Description of the Coasts of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century by Duarte Barbosa. The Hakluyt Society. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  22. ^ Partington, J. R. (1999). A History of Greek Fire and Gunpowder (dalam bahasa Inggris). JHU Press. ISBNย 978-0-8018-5954-0.
  23. ^ a b Bozhong, Li (2017). ็ซๆง่ˆ‡ๅธณ็ฐฟ๏ผšๆ—ฉๆœŸ็ถ“ๆฟŸๅ…จ็ƒๅŒ–ๆ™‚ไปฃ็š„ไธญๅœ‹่ˆ‡ๆฑไบžไธ–็•Œ (The Gun and the Ledger: China and the East Asian World in the Age of Early Economic Globalization). Beijing: ไธ‰ ่ฏ่ฏๆ›ธๆ›ธๅบ—ๅบ— (Sanlian Bookstore). hlm.ย 141. ISBNย 978-7-108-05674-0. ๅœจๆ˜Žๆœซ,ๅฎ‰ๅ—ไบบ้–‹็™ผๅ‡บไบ†ไธ€็จฎๆ€ง่ƒฝๅ„ช่‰ฏ็š„็ซ็นฉๆง,ไธญๅœ‹ไบบ็จฑไน‹็‚บใ€Œไบค้Šƒใ€(ๆ„ๅณไบค่ถพ็ซ้Šƒ)ใ€‚ๆœ‰ไบบ่ช็‚บ้€™็จฎไบค้ŠƒๅœจๅจๅŠ›ๅŠๆ€ง่ƒฝ็ญ‰ๆ–น้ข้ƒฝๅ„ช่ถŠๆ–ผ่ฅฟๆ–นๅ’Œๆ—ฅๆœฌ็š„ใ€Œ้ณฅ้Šƒใ€ๅŠใ€Œ้ญฏๅฏ†้Šƒใ€ใ€‚ๆ˜Žๆธ…ไน‹้š›ไบบๅЉ็ปๅปท่ชช:ใ€Œไบค่ถพ......ๅ–„็ซๆ”ป,ไบคๆง็‚บๅคฉไธ‹ๆœ€ใ€‚ใ€ๅฑˆๅคงๅ‡ๅ‰‡่ชช:ใ€Œๆœ‰ไบคๆง่€…,ๅ…ถๆ›ฐ็ˆชๅ“‡้Šƒ่€…,ๅฝขๅฆ‚ๅผทๅผฉ,ไปฅ็นฉๆ‡ธ็ตก่‚ฉไธŠ,้‡ๆ•ต่ฌ้Šƒ้ฝŠ็™ผ,่ฒซ็”ฒๆ•ธ้‡ใ€‚ใ€ Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  24. ^ Lรฝ Bรก Trแปng (2019). ็ซๆง่ˆ‡ๅธณ็ฐฟ๏ผšๆ—ฉๆœŸ็ถ“ๆฟŸๅ…จ็ƒๅŒ–ๆ™‚ไปฃ็š„ไธญๅœ‹่ˆ‡ๆฑไบžไธ–็•Œ (Guns and Account Books: China and the East Asian World in the Era of Early Economic Globalization) (dalam bahasa Chinese (Taiwan)). ่ฏ็ถ“ๅ‡บ็‰ˆไบ‹ๆฅญๅ…ฌๅธ (Lianjing Publishing Company). hlm.ย 142. ISBNย 978-957-08-5393-3. Diakses tanggal 2020-07-12. ๆ˜Žๆธ…ไน‹้š›ไบบๅЉ็ปๅปท่ชช๏ผšใ€Œไบคๅ–„็ซๆ”ป๏ผŒไบคๆง็‚บๅคฉไธ‹ๆœ€ใ€‚ใ€ๅฑˆๅคงๅ‡ๅ‰‡่ชช๏ผšใ€Œๆœ‰ไบคๆง่€…๏ผŒๅ…ถๆ—ฅ็ˆชๅ“‡้Šƒ่€…๏ผŒๅฝขๅฆ‚ๅผทๅผฉ๏ผŒไปฅ็นฉๆ‡ธ็ตก่‚ฉไธŠ๏ผŒ้‡ๆ•ต่ฌ็ตฑ้ฝŠ็™ผ๏ผŒ่ฒซ็”ฒๆ•ธ้‡ใ€‚ใ€
  25. ^ Kesheng, Zheng (2021). ๆ˜Žๆธ…ๆ”ฟไบ‰ไธŽไบบ็‰ฉๆŽขๅฎž (Political Controversy and Characters in Ming and Qing Dynasties). Beijing Book Co. Inc. ISBNย 9787101151480. ๅŒใ€Š้ธŸๆžชใ€‹่ฐˆ" (่ถพ)ๆžช","ๅ…ถๆ›ฐ็ˆชๅ“‡้“ณ่€…,ๅฝขๅฆ‚,็ปณๆ‚ฌ็ปœไธŠ,้‡ๆ•Œไธ‡้“ณ้ฝๅ‘,่ดฏ็”ฒ้‡"ใ€‚ๅŒใ€Šใ€‹่ฐˆ"ๆด‹่€…ไธบไธŠ,ๅ…ถ่‰้š่€Œ,ไบบๅพ—็ป‡,็„ถๅค่€Œไธๅ•,ๅ•่€…ไฝœ็ป†ๆ–œ็บน,ๆด‹ๅ›ฝไบบ็ป‡"ใ€‚ไธ€ไบ”ใ€Š็ปตๅธƒใ€‹่ฏด"ไธœ็ปตๅธƒ,่‹ฆไธไธ€......ๆ•…ไธœไบบๆฎ“ๆญป่€…ไธบ้ข,ๆ˜ฏๆ›ฐๆด‹ๅธƒ,ๆฅ่‡ช็•ช่€…ไธบ"ใ€‚(47)
  26. ^ Shu, Yuan, ed. (2017). ไธญๅ›ฝไธŽๅ—ๆตทๅ‘จ่พนๅ…ณ็ณปๅฒ (History of China's Relations with the South China Sea). Beijing Book Co. Inc. ISBNย 9787226051870. ไธ€ใ€่ฏๆ:่ƒกๆค’ใ€็ฉบ้’ใ€่œๆ‹จใ€็•ชๆœจ้ณ–ๅญใ€่Šฆ่Ÿใ€้—ท่™ซ่ฏใ€ๆฒก่ฏใ€่œๆพ„่Œ„ใ€่ก€็ซญใ€่‹ๆœจใ€ๅคงๆžซๅญใ€ไนŒ็ˆนๆณฅใ€้‡‘ๅˆšๅญใ€็•ช็บขๅœŸใ€่‚‰่ฑ†่”ปใ€็™ฝ่ฑ†่”ปใ€่—ค็ซญใ€็ข—็Ÿณใ€้ป„่œกใ€้˜ฟ้ญใ€‚ไบŒใ€้ฆ™ๆ–™:้™้ฆ™ใ€ๅฅ‡ๅ—้ฆ™ใ€ๆช€้ฆ™ใ€้บปๆป•้ฆ™ใ€้€Ÿ้ฆ™ใ€้พ™่„‘้ฆ™ใ€ๆœจ้ฆ™ใ€ไนณ้ฆ™ใ€่”ท่–‡้œฒใ€้ป„็†Ÿ้ฆ™ใ€ๅฎ‰ๆฏ้ฆ™ใ€ไนŒ้ฆ™ใ€ไธ็šฎ(้ฆ™)ใ€‚ไธ‰ใ€็ๅฎ๏ผš้ป„้‡‘ใ€ๅฎ็Ÿณใ€็Š€่ง’ใ€็็ ใ€็Š็‘™ใ€่ฑก็‰™ใ€้พŸ็ญ’ใ€ ๅญ”้›€ๅฐพใ€็ฟ ๆฏ›ใ€็Š็‘šใ€‚ๅ››ใ€ๅŠจ็‰ฉ๏ผš้ฉฌใ€่ฅฟ้ฉฌใ€็บข้นฆ้น‰ใ€็™ฝ้นฆ้น‰ใ€็ปฟ้นฆ้น‰ใ€็ซ้ธกใ€็™ฝ ้นฟใ€็™ฝ้นคใ€่ฑกใ€็™ฝ็Œดใ€็Š€ใ€็ฅž้นฟ๏ผˆๆ‘ธ๏ผ‰ใ€้นค้กถ๏ผˆ้ธŸ๏ผ‰ใ€ไบ”่‰ฒ้นฆ้น‰ใ€ๅฅฅ้‡Œ็พ”ๅ…ฝใ€‚ไบ”ใ€้‡‘ ๅฑžๅˆถๅ“๏ผš่ฅฟๆด‹้“ใ€้“ๆžชใ€้”กใ€ๆŠ˜้“ๅˆ€ใ€้“œ้ผ“ใ€‚ๅ…ญใ€ๅธƒๅŒน๏ผšๅธƒใ€ๆฒน็บขๅธƒใ€็ปžๅธƒใ€‚[4]ๆญค ๅค–๏ผŒ็ˆชๅ“‡่ฟ˜ๅ‘ๆ˜Žๆœ่พ“ๅ…ฅ้ป‘ๅฅดใ€ๅญๅ–‡ๅ”ฌ่ˆนใ€็ˆชๅ“‡้“ฃใ€็กซ้ป„ใ€็“ท้‡‰้ขœๆ–™็ญ‰ใ€‚็ˆชๅ“‡ๆœ่ดก่ดธๆ˜“ ่พ“ไบบ็‰ฉ่ต„ไธไป…็ง็ฑปๅคš๏ผŒ่€Œไธ”ๆ•ฐ่™ฝๅฏ่ง‚๏ผŒๅฆ‚ๆดชๆญฆๅไบ”ๅนด๏ผˆ1382ๅนด๏ผ‰ไธ€ๆฌก่ฟ›่ดก็š„่ƒกๆค’ๅฐฑ่พพ ไธƒไธ‡ไบ”ๅƒๆ–คใ€‚[5]่€Œๆฐ‘้—ด่ดธๆ˜“ๆ˜พๆ›ดๅคง๏ผŒๆฎ่‘กๅ•†Francisco de Sa่ฎฐ่ฝฝ๏ผš"ไธ‡ไธนใ€้›…ๅŠ ่พพ็ญ‰ๆธฏ ๅฃๆฏๅนด่‡ชๆผณๅทžๆœ‰ๅธ†่ˆน20่‰˜้ฉถๆฅ่ฃ…่ฝฝ3ไธ‡ๅฅŽๅก”ๅฐ”๏ผˆquiutai๏ผ‰็š„่ƒกๆค’ใ€‚"1ๅฅŽๅก”ๅฐ”็บฆๅˆ59 ๅ…ฌๆ–คๅˆ™ๅฝ“ๅนดไปŽ็ˆชๅ“‡่พ“ๅ…ฅไธญๅ›ฝ่ƒกๆค’่พพ177ไธ‡ๅ…ฌๆ–คใ€‚
  27. ^ a b Wenbin, Yan, ed. (2019). ๅ—ๆตทๆ–‡ๆ˜Žๅœ–่ญœ๏ผšๅพฉๅŽŸๅ—ๆตท็š„ๆญทๅฒๅŸบๅ› โ—†็น้ซ”ไธญๆ–‡็‰ˆ (Map of South China Sea Civilization: Restoring the Historical Gene of the South China Sea. Traditional Chinese Version). Rรบshรฌ wรฉnhuร . hlm.ย 70. ISBNย 9789578784987. ้™คไบ†่ฃๅ‚™ๅญๅ–‡ๅ”ฌ่ˆนไปฅๅค–,ๆ˜Žๆœ่ป้šŠ้‚„่ฃๅ‚™ไบ†็ˆชๅ“‡็”ข็š„็ซๅ™จ,็จฑ็‚บ็ˆชๅ“‡้Šƒใ€‚้€™็จฎ็ซ้Šƒ่ˆ‡็ˆชๅ“‡่ˆนไธ€ๆจฃ,ไนŸไปฅๅฐๅทง้ˆๆดป่‘—ๅ,ๅฐ„ๆ“Š็ฒพๅบฆ้ซ˜,ๅฏ็”จๆ–ผๆ‰“้ณฅใ€‚็•ถๆ™‚ไธญๅœ‹้€ฒๅฃไธฆ่ฃๅ‚™่ป้šŠ็š„ๅค–ๅœ‹้Šƒไธๅƒ…ไพ†่‡ช็ˆชๅ“‡,้‚„ๆœ‰ไฝ›้ƒŽๆฉŸ,ๅณ่ฅฟ็ญ็‰™ๅ’Œ่‘ก่„็‰™ใ€‚็›ธๆฏ”ไน‹ไธ‹,ใ€Œไฝ›้ƒŽๆฉŸ้Šƒๅคงใ€็ˆชๅ“‡้Šƒๅฐใ€,ไฝ†ๅ‰่€…็ฒพๆบ–ๅบฆไธๅฆ‚ๅพŒ่€…ใ€‚ใ€Šๆตทๅœ‹ๅปฃ่จ˜ใ€‹่จ˜่ผ‰,็ˆชๅ“‡ใ€Œ็”ฒๅ…ต็ซ้Šƒ็‚บๆฑๆด‹่ซธ่•ƒไน‹ๅ† ใ€ใ€‚ใ€Šๅปฃๆฑ้€šๅฟ—ใ€‹ๆ็นช๏ผšใ€Œ็ˆชๅ“‡็ตฑๅฐ๏ผŒ๏ผˆ็ˆชๅ“‡๏ผ‰ๅœ‹ไบบ็”จไน‹็”š็ฒพ๏ผŒๅฐ่€…ๅฏๆ“Š้›€ใ€‚ไธญๅœ‹ไบบ็”จไน‹๏ผŒ็ฉไธๆˆ’ ๅ‰‡ๆ“ŠๅŽปๆ•ธๆŒ‡๏ผŒๆˆ–ๆ–ท , ๆŽŒ, ่‡‚ใ€‚ Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  28. ^ Yuan, Wei (2011). ้ญๆบๅ…จ้›†(ไบ”) [The Complete Works of Wei Yuan (5)]. Beijing Book Co. Inc. ISBNย 9787999009627. ใ€Šๅนฟไธœ้€šๅฟ—ใ€‹:็“œๅ“‡ๅ›ฝ,ๅค่ฏƒ้™ตไนŸใ€‚ไธ€ๆ›ฐ้˜‡ๅฉ†,ๅˆๅ่ކๅฎถ้พ™,ๅœจ็œŸ่…Šไน‹ๅ—ๆตทไธญๆดฒไธŠใ€‚ไธœไธŽๅฉ†ๅˆฉ,่ฅฟไธŽ(ๆƒฐ)ใ€”ๅ •ใ€•ๅฉ†็™ป,ๅŒ—ๆŽฅ็œŸ่…Šๅ›ฝ,ๅ—ไธดๅคงๆตทใ€‚่‡ชๅ ๅŸŽ่ตท็จ‹,้กบ้ฃŽไบŒๅๆ˜ผๅคœๅฏ่‡ณๅ…ถๅ›ฝใ€‚ๅœฐๅนฟไบบ็จ ,็”ฒๅ…ต่ฏ้“ณไธบไธœๆด‹่ฏธ็•ชไน‹้›„ใ€‚ๅ…ถๆธฏๅฃๅ…ฅๅŽป้ฉฌๅคดๆ›ฐๆ–ฐๆ‘ใ€‚ๅฑ‹ๅบ—่ฟž่กŒไธบๅธ‚,ไนฐๅ–ๅ•†ๆ—…ๆœ€ไผ—ใ€‚
  29. ^ a b Charney, Michael (2012). Iberians and Southeast Asians at War: the Violent First Encounter at Melaka in 1511 and After. Dalam Waffen Wissen Wandel: Anpassung und Lernen in transkulturellen Erstkonflikten. Hamburger Edition.
  30. ^ Koek, E. (1886). "Portuguese History of Malacca". Journal of the Straits Branch of the Royal Asiatic Society. 17: 117โ€“149.
  31. ^ Pintado, M.J. (1993). Portuguese Documents on Malacca: 1509โ€“1511. National Archives of Malaysia. ISBNย 9789679120257.
  32. ^ Hasbullah, Wan Mohd Dasuki Wan (2020). Senjata Api Alam Melayu. Dewan Bahasa dan Pustaka.
  33. ^ a b c d Birch, Walter de Gray (1875). The Commentaries of the Great Afonso Dalboquerque, Second Viceroy of India, translated from the Portuguese edition of 1774 volume 3. London: The Hakluyt Society. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  34. ^ De Barros, Joรฃo (1552). Primeira decada da Asia. Lisboa.
  35. ^ "Fine Malay matchlock musket | Mandarin Mansion". www.mandarinmansion.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-02-10.
  36. ^ De Castanheda, Fernรฃo Lopes (1552). Histรณria do descobrimento & conquista da India pelos portugueses. Coimbra.
  37. ^ The son of Afonso de Albuquerque (1774). Commentรกrios do Grande Afonso Dalbuquerque parte III. Lisboa: Na Regia Officina Typografica. hlm.ย 144.
  38. ^ Egerton, W. (1880). An Illustrated Handbook of Indian Arms. W.H. Allen.
  39. ^ Reid, Anthony (1993). Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680. Volume Two: Expansion and Crisis. New Haven and London: Yale University Press.
  40. ^ a b Reid, Anthony (1989). The Organization of Production in the Pre-Colonial Southeast Asian Port City. In Broeze, Frank (Ed.), Brides of the Sea: Asian Port Cities in the Colonial Era (pp. 54โ€“74). University of Hawaii Press.
  41. ^ Furnivall, J. S. (2010). Netherlands India: A Study of Plural Economy. Cambridge University Press. Halaman 9: "when Portuguese first came to Malacca they noticed a large colony of Javanese merchants under its own headman; the Javanese even founded their own cannon, which then, and for long after, were as necessary to merchant ships as sails."

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Arquebus Jiaozhi

awal dari musket adalah "arquebus berat". Istilah arquebus Jiaozhi berasal dari kata Cina Jiao Chong (ไบค้Šƒ, artinya 'Arquebus Jiaozhi'), sebuah generalisasi

Majapahit

menampilkan zirah sisik. Arquebus Jiaozhi ini mirip dengan arquebus Jawa. Patung dewa memegang sebuah kuiras, dari Nganjuk, Jawa Timur, pada masa sebelumnya

Mesiu

Tenggara, penduduk asli sudah memiliki senjata api primitif, yaitu arquebus Jawa. Pengaruh Portugis terhadap persenjataan lokal, khususnya setelah penaklukan

Suku Jawa

meriam 1 pon (cetbang atau rentaka), senapan lontak panjang, spingarde (arquebus), schioppi (meriam tangan), api Yunani, gun (bedil besar atau meriam),

Istinggar

Nusantara sudah ada senapan awal berlaras panjang yang disebut bedil, atau Arquebus Jawa sebagaimana disebut orang China. Sebagian besar spesimen di semenanjung

Bedil

masing-masing. Ini diurutkan berdasarkan abjad. Arquebus Jawa adalah senjata api kancing sumbu panjang awal dari Jawa, digunakan sebelum kedatangan penjelajah

Senapan Tanegashima

untuk kegiatan festival atau budaya yang mengenang zaman klasik Jepang. Arquebus Jawa Istinggar Senapan sundut Senapan lontak Tanegashima: the arrival of

Perebutan Melaka (1511)

pembuat arquebus di Melaka adalah orang Jawa. Orang Jawa juga membuat meriam secara mandiri di Melaka. Anthony Reid berpendapat bahwa orang Jawa menangani