Kota Banjarbaru | |
|---|---|
| Transkripsiย bahasa daerah | |
| ย โขย Jawi Banjar | ุจูุฌุฑุจุงุฑู |
| Julukan:ย Kota Idaman, Kota Seribu Taman | |
| Motto:ย Gawi sabarataan (Banjar) Bekerja bersama-sama | |
![]() Peta | |
| Koordinat: 3ยฐ26โฒ20โณS 114ยฐ49โฒ51โณE๏ปฟ / ๏ปฟ3.43890306ยฐS 114.83088092ยฐE | |
| Negara | |
| Provinsi | Kalimantan Selatan |
| Tanggal berdiri | 20 April 1999 |
| Dasar hukum | UU No. 9 Tahun 1999 |
| Hari jadi | 20ย April 1999 |
| Jumlah satuan pemerintahan | Daftar
|
| Pemerintahan | |
| ย โขย Jenis | Wali kotaโdewan |
| ย โขย Badan | Pemerintah Kota Banjarbaru |
| ย โขย Wali Kota | Erna Lisa Halaby |
| ย โขย Wakil Wali Kota | Wartono |
| ย โขย Sekretaris Daerah | Sirajoni (Pj.) |
| ย โขย Ketua DPRD | Gusti Rizky Sukma Iskandar Putera |
| Luas | |
| ย โขย Total | 305,242ย km2 (117,855ย sqย mi) |
| Populasi ย (30 Juni 2025)[1] | |
| ย โขย Total | 289.351 |
| ย โขย Kepadatan | 950/km2 (2,500/sqย mi) |
| Demografi | |
| ย โขย Agama | |
| ย โขย IPM | ย sangat tinggiย [2] |
| Zona waktu | UTC+08:00 (WITA) |
| Kode BPS | |
| Kode area telepon | 0511 |
| Pelat kendaraan | DA xxxx |
| Kode Kemendagri | 63.72 |
| Kode SNI 7657:2023 | BJB |
| DAU | Rp 463.041.655.000,- (2020) |
| Flora resmi | Bakau |
| Fauna resmi | Bekantan |
| Situs web | www |
Kota Banjarbaru adalah salah satu kota dan menjadi ibu kota dari Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Status Banjarbaru sebagai ibu kota provinsi Kalimantan Selatan telah ditetapkan, menggantikan Kota Banjarmasin, berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2022.[3] Berjarak sekitar 33ย km dari Kota Banjarmasin, sebelumnya kota ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Banjar, dan sebagian besar wilayahnya merupakan Kawedanan di dalam Kabupaten Banjar, yang kemudian dimekarkan sebagai sebuah kota pada tahun 1999.[4]
Kota Banjarbaru berdiri pada tanggal 20 April 1999 dan memiliki luas wilayah 371,38ย kmยฒ. Seluruh wilayah Kota Banjarbaru merupakan bagian dari kawasan metropolitan Banjarbakula. Kota Banjarbaru terbagi atas 5 kecamatan dan 20 kelurahan, dengan jumlah penduduk pada akhir 2024 sebanyak 285.546 jiwa.[1] Indeks Pembangunan Manusia atau IPM tahun 2023 di Kota Banjarbaru merupakan yang tertinggi di provinsi Kalimantan Selatan, yakni 81,25.[2]
Sejarah
suntingGaya atau nada penulisan artikel ini tidak mengikuti gaya dan nada penulisan ensiklopedis yang diberlakukan di Wikipedia. |
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. |
Sejarah Kota Banjarbaru adalah sejarah terbentuknya Kota Banjarbaru sebagai suatu wilayah kota administratif di Indonesia. Wilayah ini, dulunya adalah perbukitan di pinggiran Martapura yang dikenal dengan nama Gunung Apam. Daerah Gunung Apam dikenal sebagai daerah peristirahatan buruh-buruh penambang intan selepas menambang di Cempaka. Daerah Cempaka itu sendiri merupakan kawasan pemukiman Suku Banjar yang tertua di Kota Banjarbaru.
Lini masa
suntingPada dekade 1950-an, Gubernur Kalimantan Dr. Murdjani dibantu seorang perencana D.A.W Van der Pijl merancang Banjarbaru sebagai Ibukota bagi Provinsi Kalimantan, sampai akhirnya Kalimantan dimekarkan menjadi 4 provinsi pada tahun 1957. Namun pada perjalanan selanjutnya, perencanaan ini terhenti sampai pada perubahan status Kota Banjarbaru menjadi Kota Administratif.
Kota Banjarbaru berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1999. Lahirnya undang-undang tersebut menandai berpisahnya Kota Banjarbaru dari Kabupaten Banjar yang selama ini merupakan daerah administrasi induk. Kota Banjarbaru yang sebelumnya berstatus sebagai Kota Administratif, sempat berpredikat sebagai Kota Administratif tertua di Indonesia.
Pelantikan Akhmad Fakhrulli sebagai pejabat Wali kota Kota Banjarbaru oleh Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid, di Jakarta, pada 27 April 1999, menandakan resminya alih status Kota Banjarbaru dari Kota Administratif menjadi Kotamadya (Kota). Perjuangan panjang berbagai pihak akhirnya sampai kepada โidaman antaraโ setelah Kota Banjarbaru dengan berbagai status administratif dipimpin oleh Baharuddin (1966), A.G. Hanafiah (1970-1975), Abdul Moeis (1975-1981), Abdurrahman (1981-1983), Eddy Rosasi (1983-1984), Zamawi M. Aini (1984-1986), Yuliansyah (1986-1990), Raymullan (1990-1993), Hamidhan B (1993-1998) dan Akhmad Fakhrulli (1998-1999) yang menjadi Wali kota administratif sekaligus pejabat Wali kota dan Rudy Resnawan (2000) sebagai Wali kota terpilih pertama.
Kota Banjarbaru memperoleh status kota setelah menyandang status kota administratif terlama di Indonesia, 23 tahun, merupakan momen bersejarah. Adalah DPRD Kota Banjarbaru melalui pemilihan Walikotanya, memilih Rudy Resnawan sebagai Wali kota pertama Kota Banjarbaru, menggantikan Fakhrulli sebagai Wali kota transisional.
Sekalipun gerak pembangunan dimulai ketika Rudy menjabat Wali kota, gagasannya sudah dicanangkan seiring dengan perkembangan Kota Banjarbaru. Dalam rekaman sejarah, pengembangan dan โperjuanganโ status Kota Banjarbaru sebenarnya bukanlah sekadar menjadikannya sebagai Kotamadya. Bukan hanya sebagai ibu kota Kalimantan Selatan, tetapi ibu kota Kalimantan sesuai dengan kondisi objektif tahun 1950-an ketika Kalimantan belum terbagi menjadi empat provinsi.
Gagasan
suntingAkibat kondisi alam apel pagi sering harus berpindah tempat, ditambah pula dengan pandangannya tentang Kota Banjarmasin yang berawa dan bernyamuk banyak, memunculkan gagasan memindahkan ibu kota Kalimantan ke tempat yang ideal. Sebagai ahli kesehatan masyarakat, Murdjani berkesimpulan Kota Banjarmasin kurang ideal sebagai pusat pemerintahan. Tanahnya yang berawa-rawa mengakibatkan air menggenang sepanjang musim yang memungkinkan timbulnya berbagai penyakit.
Kota Banjarmasin sebagai Kota Air, Kota Perdagangan dan Kota identitas historis Urang Banjar tetap dipertahankan. Membangun ibu kota Kalimantan di Kota Banjarbaru didasari pada pandangan pengembangan jauh ke depan.
Untuk merealisasikan gagasannya, mulailah dicari tempat yang ideal. Murdjani melakukan survei ke daerah-daerah di luar Kota Banjarmasin. Berbagai lokasi dikunjungi dan diamati, tetapi Murdjani kurang berkenan karena lokasinya masih berawa-rawa. Akhirnya, sampailah Ia di daerah bertanah padat, lokasi Kota Banjarbaru sekarang.
Pada pandangan pertama, hatinya telah tergadai pada Kota Banjarbaru. Melalui sidang staf dan pimpinan, dibentuklah tim kajian kelayakan dipimpin D.A.W. Van der Peijl. Tim Peijl melakukan kajian awal. Dalam perancangannya, planologi Kota Banjarbaru digarap bekerjasama dengan para pakar dari Institut Teknologi Bandung.
Peijl, Kepala Pekerjaan Umum Bagian Bangunan Kalimantan, merancang Kota Banjarbaru bersamaan dengan kota Palangka Raya. Kota Palangka Raya kini menjadi kota modern tertata apik. Kota Banjarbaru, setelah 23 tahun berstatus Kota Administratif, baru mendapatkan status Kotamadya.
Legenda
suntingPada waktu dicanangkan pertama kali, Banjarbaru sebagai ibu kota Kalimantan โbelum apa-apaโ. Menurut cerita tetuha, cikal-bakalnya Banjarbaru bermula dari Gunung Apam. Gunung Apam adalah โpuncakโ perbukitan di lintasan jalan Banjarmasin-Martapura, kira-kira di lokasi Bank BRI Banjarbaru sekarang. Di daerah itu belum ada permukiman. Di samping lintasan jalan darat, juga lintasan pencari (pendulang) intan tradisional di belakang Unlam Banjarbaru saat ini.
Lokasi strategis tersebut mengundang minat seorang penduduk membuka warung. Pewarung, yang tidak diketahui nama dan asalnya itu, membuka warung kecil-kecilan, menjual minuman teh dan kopi. Wadai (kue) pendampingnya adalah apam (serabi). Tak dinyana, wadai apam tersebut kemudian diperuntukkan menjadi nama daerah tersebut.
Konon, apam tersebut sangat lezatnya hingga digemari banyak orang. Pertama-tama konsumennya para pendulang intan dan sopir truk. Mereka melepas lelah sambil kongko-kongko. Kemudian penduduk dari Martapura dan daerah sekitarnya tidak ketinggalan memarakkan apam lezat tersebut.
Bersamaan dengan populernya โWarung Gaulโ Gunung Apam, beberapa orang penduduk mengikuti jejak Si Pewarung Perintis. Lama-kelamaan banyak orang yang mendirikan rumah di sekitarnya. Sejak itu, terbentuklah perkampungan penduduk yang populer disebut Gunung Apam. Secara administratif, Gunung Apam termasuk wilayah anak Kampung Guntung Payung, Kampung Jawa, Kecamatan Martapura.
Pada perkembangannya, perkampungan itu makin ramai.
Sejarah
suntingSemasa Murdjani menjadi Gubernur Kalimantan (1950-1953), yang terobsesi memindahkan ibu kota Kalimantan ke daerah yang lebih ideal, memilih daerah di sekitar Gunung Apam. Kajian planologi segera dilakukan. Sampai akhir masa jabatannya (1953), walaupun secara administratif dan fisik baru pada tahap perancangan, pembangunan perkantoran dan perumahan pegawai Pemda Kalimantan dimulai.
Gagas Murdjani dapat disimak dari suatu pidato visionernya yang dapat dikatakan sebagai obsesinya:
Kira-kira lima ratus tahun yang lalu negeri Amerika Serikat, seperti kita kenal sekarang, hanya suatu impian yang indah. Akan tetapi berkat usaha orang-orang yang dapat melihat dalam jarak panjang, maka impian itu, telah menjadi kenyataan. Dan saya yakin, bahwa Indonesia pun akan dapat mewujudkan cita-cita pembukaan dan pembangunan Kalimantan.
Yang hendak dikatakannya adalah, membangun Banjarbaru dari awal bukanlah hal yang mustahil walaupun pada saat ini lebih terkesan sebagai โmimpiโ. Yang diperlukan usaha bersama mewujudkannya. Tepatnya, Murdjani menyampaikan pesan, pembangunan itu, apalagi Banjarbaru yang dimulai dari awal harus direncanakan sebaik mungkin, dibangun bertahap dan berkelanjutan hingga terwujud suatu ibu kota yang ideal dan dapat dibanggakan karena tatanannya yang bagus dan menjadi kota modern.
Ketika R.T.A Milono menggantikan Murdjani, usaha pembangunan dilanjutkan. Secara resmi, dengan surat bernomor: Des-19930-41 tanggal 9 Juli 1954 diusulkan kepada Pemerintah Pusat agar Banjarbaru ditetapkan menjadi ibu kota Kalimantan. Sekalipun usaha pembangunan Banjarbaru dimulai dari awal menjadi sebuah kota ideal, dan kemudian Kalimantan dipecah menjadi empat (4) provinsi, sejarah tampaknya kurang berpihak.
Tuntutan berbagai pihak (masyarakat, eksekutif, dan legislatif) yang susulhmenyusul menghasilkan status Banjarbaru pada 11 November 1975 sebagai kota administratif.
Perjuangan Menjadi Ibu Kota
suntingUsaha menjadikan Banjarbaru menjadi ibu kota Kalimantan Selatan (sebelumnya ibu kota Kalimantan), yang digagas oleh dr. Murdjani, tidak pernah berhenti.
Lambang
suntingPada Hari Jadi ke 22, 11 November 1997, digagaslah lambang Banjarbaru. Pembuatan lambang berkaitan erat dengan semakin dekatnya perubahan status dari kota administratif menjadi kotamadia. Direktorat Jenderal Pemerintah Umum dan Otonomi Daerah Departemen Dalam Negeri telah melakukan pengamatan lapangan dan instansi terkait yang tergabung dalam Tim Tekhnis Sekretariat Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah pada tanggal 10 April 1997 dengan kesimpulan, Kota Administratif Banjarbaru layak mendapatkan status kotamadia.
Melalui Surat Keputusan Nomor 04 Tahun 1997 tanggal 20 Agustus 1997 Wali Kota Administratif Banjarbaru membentuk panitia sayembara pembuatan lambang kota Banjarbaru. Sebagaimana dikatakan Drs. H. Hamidhan B, Wali Kota Administratif Banjarbaru, dalam buku Pembuatan Lambang Kota Banjarbaru: Proses pembuatan Lambang Kota Banjarbaru disusun secara sederhana, berisi sejarah berdirinya Kota Administratif Banjarbaru dan perkembangannya pada masa akan datang.
Arti dan Makna Lambang
sunting- Bentuk bingkai seperti perisai menggambarkan sebagai alat pelindung dalam mencapai cita-cita luhur Bangsa Indonesia (Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia) dan Pembangunan Nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 45.
- Bintang bersudut lima adalah Pancasila sebagai Dasar Falsafah dan Pandangan Hidup Bangsa Indonesia.
- Tulisan BANJARBARU adalah nama Kota Administratif Banjarbaru (kini Kota Banjarbaru, Pen.).
- Petak/Kotak yang terdapat pada pilar kiri dan kanan masing-masing berjumlah 11 buah. Pilar dan petak menggambarkan tanggal dan bulan serta tahun berdirinya Kota Administratif Banjarbaru, yaitu tanggal 11 dan bulan November. Sedangkan jumlah petak pada pilar kiri dan kanan adalah 22 menggambarkan tahun berdirinya Kota Adminitratif Banjarbaru, yaitu 1975 (1+9+7+5=22).
- Pilar kiri dan kanan juga menggambarkan Banjarbaru sebagai jalur masuk (transportasi) ke Kalimantan Selatan. Sebagaimana terdapatnya Bandar Udara Syamsuddin Noor di Kecamatan Landasan Ulin Kota Administratif Banjarbaru.
- Alat linggangan adalah menggambarkan pendulangan Intan Tradisional Cempaka yang terdapat di Kecamatan Cempaka dan merupakan objek wisata budaya, dan sejarah di Kota Administratif Banjarbaru.
- Museum Negeri Provinsi Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat (sebagai objek wisata, sejarah, dan budaya) yang diapit rumah menggambarkan Kota Administratif Banjarbaru sebagai Pusat Pemerintahan dan Pusat Permukiman.
- Buku adalah menggambarkan Banjarbaru sebagai Kota Pelajar dan Pusat Pendidikan, karena terdapatnya prasarana dan sarana penunjang pendidikan yang memadai dari berbagai disiplin ilmu.
- Roda (gir) menggambarkan roda industri dan perdagangan, karena di Kota Administratif Banjarbaru sangat potensial menjadi Daerah Industri dan Perdagangan.
- Pita berwarna hijau yang bertuliskan motto Kota Administratif Banjarbaru sebagai Pusat Pemerintahan, Pusat Pendidikan, Pusat Industri, dan Pusat Permukiman, merupakan daerah/wilayah yang Indah, Aman, dan Nyaman untuk mencapai kesejahteraan.
- Warna yang digunakan, terdiri dari 5 (lima) warna utama:
- Warna kuning : Keluhuran, keagungan
- Warna putih : Kesucian
- Warna coklat : Keilmuan, keulamaan, keteguhan dan ketangguhan
- Warna hijau : Kesuburan, kehijauan, kerezekian
- Warna hitam : Kerohanian, keimanan, keteguhan hati.
Moto
suntingMoto Gawi Sabarataan memiliki makna, ditinjau dari:
- Aspek kerukunan dan persatuan, menggambarkan suatu kegiatan yang dilaksanakan secara bersama-sama (Pemerintah dan masyarakat) dengan setiap unsur menyadari tugas dan tanggung jawabnya.
- Aspek masa depan, secara operasional dapat memacu motivasi mencapai masa depan yang lebih baik.
- Ditinjau dari etos kerja, menjadi inspirasi masyarakat Banjarbaru untuk bekerja/berkarya sesuai dengan tugas pokok dan peran masing-masing.
- Pernyataan tekad dan semangat seluruh lapisan masyarakat beserta pemerintah untuk membangun dengan potensi yang ada dalam rangka mewujudkan kehidupan adil, makmur, dan sejahtera di bawah lindungan dan rida Tuhan Yang Maha Esa.
- Segi ajaran agama manusia adalah pemegang amanat Tuhan sebagai penguasa yang harus memakmurkan bumi dan menjaga kelestariannya sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing.
Perjuangan menjadi Kotamadya
suntingPerjuangan dan persiapan menjadikan Banjarbaru sebagai kotamadia, seolah telah menjadi bagian terlekad setiap Wali Kota Administratif Banjarbaru. Berdasarkan apa-apa yang telah dilakukan wali kota terdahulu.
Persiapan fisik dan nonfisik dilakukan bersamaan dengan tugas rutin pemerintahan dalam usaha dan upaya meraih status kotamadia. Persiapan dan โpembenahanโ aparat pemerintahan dilakukan serempak dengan upaya โmeyakinkanโ Pemerintah Atas (Pemda Banjar, Kalsel dan Pemerintah Pusat). Penggalian dan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), juga dilakukan lobi-lobi ke Pusat (Jakarta).
Dirjen PUOD Depdagri pun melakukan pengamatan dengan hasil rekomendasi Banjarbaru patut menjadi kotamadia. Hasil kunjungan anggota DPR RI pun berkesimpulan menguatkan hasil pengamatan Dirjen PUOD.
Sampai Hamidhan B. mengakhiri jabatannya sebagai Wali Kota Administratif Banjarbaru, Banjarbaru masih berstatus kota administratif.
Ketika Akhmad Fakhrulli dilantik menggantikan Hamidhan B., sebagai Wali Kota Administratif Banjarbaru, 26 Desember 1998, Gubernur Hasan Aman mengamanatkan, agar status kotamadia segera terwujud. Tentu saja hal tersebut merupakan tantangan yang cukup berat bagi Akhmad Fakhrulli. Fakhrulli memfokuskan perhatiannya terhadap perjuangan itu. Pada akhirnya Fakhrulli berhasil.
Sebagai Kepala Perwakilan Pemda Kalsel di Jakarta, Fakhrulli selalu memonitor perkembangan Banjarbaru. Ketika tanpa diduga dipercaya (menurut pengakuannya) sebagai wali kota, bekalnya dirasa cukup. (Sebagai catatan: Akhmad Fakhrulli, sesuai โberitaโ yang beredar di masyarakat, tidak disebut-sebut sebagai calon wali kota).
Jaringan persahabatannya semasa bertugas di Jakarta, dimanfaatkan maksimal. Ia melakukan lobi-lobi intensif. Kantor Depdagri sampai Gedung DPR, menjadi sasarannya dalam memperjuangkan status Banjarbaru.
Alhasil, 11 anggota Komisi II DPR RI pada tanggal 27 Februari 1999, melakukan kunjungan kerja meninjau kesiapan Banjarbaru dalam rangka menyahuti usulan peningkatan status Banjarbaru, dalam rangkaian proses pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pembentukan Kotamadia Banjarbaru.
Undang-undang tentang Banjarbaru menjadi Daerah Tingkat II, UU RI nomor 9 Tahun 1999,
Seluruh komponen masyarakat penuntut kotamadia Banjarbaru, dipadukan dalam rangkaian renungan dan bersyukur ria, . Di mesjid, surau, dan musholla se-antero Banjarbaru dilakukan salat syukur. Dalam pertemuan seusai salat syukur di kediaman wali kota, Fakhrulli berujar:
Berhasilnya Banjarbaru sebagai kotamadia bukanlah karena saya. Tetapi, karena pian-pian. Inilah hasil perjuangan panjang kita semua. Inilah hadiah buat pian-pian (para tokoh penuntut kotamadia Banjarbaru. Pen.).
Fakhrulli mengatakan:
Pembangunan Banjarbaru ke depan adalah: dari, oleh, dan untuk masyarakat yang dalam pelaksanaannya bahu-membahu dengan Pemerintah Kota Banjarbaru. Orientasi masyarakat itulah yang menjadi visi pembangunan Banjarbaru.
Banjarbaru: Nama Sementara yang Melekat
suntingSebagaimana telah diintroduksi, Gubernur Kalimantan dr. Murdjani menggagas pembangunan ibu kota Kalimantan di daerah yang kini kita kenal sebagai Banjarbaru. Pada tahun 1953 di daerah โkosongโ tersebut mulai dibangun kantor-kantor pemerintahan untuk dinas-dinas, jawatan-jawatan tingkat provinsi, dan perumahan pegawai pemerintah.
Pembangunan dilakukan tanpa anggaran khusus seba- gaimana layaknya persiapan sebuah ibu kota provinsi. Oleh karena itu, pembangunannya dilakukan sedikit demi sedikit. โModal dasarโ pembangunan hanya beleid dan kebulatan tekad Gubernur Kalimantan. Bahkan saat itu apa nama kota โcalonโ ibu kota Kalimantan itu pun belum terpikirkan. Dari penelusuran heuristic, tidak didapat secara pasti tentang oleh siapa dan kapan dicetuskan pertama kali nama Banjarbaru. Dan, nama Banjarbaru โdipakaiโ dalam kondisi emerjensial-konteksual.
Konon, pada saat persiapan perancangan kota, D.A.W Van Der Peijl kebingungan tentang nama yang harus ditulisnya pada peta kota. Secara naluriah ditulisnya Bandjar Baru. Nama itu pulalah yang dikatakannya ketika ditanya Pemerintah Pusat perihal dimana dan apa nama ibu kota Kalimantan yang baru.
Harap diingat sekalipun Peijl adalah turunan Belanda, setelah lama tinggal di Kalimantan (baca: Banjar), ia melarutkan diri sebagai Urang Banjar. Dedikasi dan kontribusinya terhadap pembangunan Kalimantan tidak perlu diragukan lagi. Bahkan ada yang mengatakan, Peijl adalah pemangku budaya Banjar yang konsern, komitmennya sangat besar.
Karena itu, penulisan spontannya tentang nama Banjarbaru bagi calon ibu kota Kalimantan, dikaitkan dengan gagasan kota baru bagi Urang Banjar, yaitu Bandjar Baru. Banjarmasin sebagai Kota Historis Urang Banjar tidak diganggu-gugat. Banjarbaru adalah perwujudan obsesi ke depan kota modern Urang Banjar.
Jadi, Peijl dan timnya sangat sadar, bahwa Banjarmasin adalah kota yang sarat dengan muatan historis dan merupakan salah satu identitas historis Urang Banjar. Banjarbaru adalah kota yang dirancang untuk menjawab tuntutan masa depan. Sebuah pandangan yang sangat visioner.
Nama kota Banjarbaru pada awalnya bukanlah nama permanen. Penamaan Banjarbaru didorong atas desakan situasional dalam pencantuman nama pada peta awal Banjarbaru dan kemudahan dalam surat-menyurat aktivitas pemerintahan. Nama โpermanenโ belum terpikirkan.
Dengan kata lain, penamaan โBanjarbaruโ hanyalah nama sementara, sangat tentatif, tetapi ternyata hingga saat ini tetap melekat. Tidak satupun keberatan diajukan oleh siapa pun. Banjarbaru kini telah menjadi nama permanen.
Banjarbaru: Cobaan Sejak Dini
suntingSetelah nama Banjarbaru ditorehkan oleh Peijl, tidak ada gagasan atau usaha yang berarti untuk mengubahnya. Tidak ada yang menyadari bahwa nama Banjarbaru pada awalnya bersifat tentatif. Artinya, kalau ada nama yang dianggap lebih tepat oleh masyarakat, terbuka peluang untuk mengubahnya. Atau, memang nama Banjarbaru itu sejatinya sudah sangat tepat?. Wallahualam bissawab.
Yang pasti, secara resmi, Gubernur Murdjani melalui surat tertanggal 9 Juli 1954 No. Des-1930-4-1, jelas-jelas mengusulkan kepada Mendagri, agar menyetujui pemindahan ibu kota Kalimantan dari Banjarmasin ke Banjarbaru. Dengan demikian, secara formal nama Banjarbaru โtelah resmiโ dan โbakuโ. Masyarakat pun tidak mempersoalkan. Hal tersebut ditandai dengan alamat yang dipakai, Banjarbaru, baik untuk sekadar menjawab pertanyaan: di mana tinggal?, dan atau alamat yang ditulis dalam surat-menyurat.
Ketetapan tekad memindahkan ibu kota Kalimantan ke Banjarbaru tampaknya sejak awal sudah memberi tanda akan berlama-lama. Restu Pemerintah Pusat belum dimiliki, situasi di Kalimantan mengalami perubahan-perubahan yang cepat. Tekad pemindahan itu masih memerlukan berbagai negosiasi yang tidak pernah berakhir.
Ketika Murdjani mengakhiri jabatannya tahun 1953 dan digantikan RTA Milono, provinsi Kalimantan dimekarkan menjadi empat provinsi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Hal ini merupakan jawaban Pemerintah Pusat atas aspirasi masyarakat di Kalimantan Barat, Timur, dan Tengah yang menuntut daerahnya sebagai provinsi tersendiri. Kalimantan terbelah dalam kerangka demi akselerasi pembangunan.
Tuntutan tersebut, sangat beralasan. Luasnya wilayah dan potensi yang dimiliki dipahami sangat mendukung sebagai provinsi sendiri. Apalagi pada masa itu, hubungan komunikasi dan transportasi, sangat minim. Hubungan antara Pontianak, Samarinda, dan Palangkaraya dengan Banjarmasin sangat sulit.
Akibatnya, roda pemerintahan โkurang lancarโ yang berdampak kurang efektifnya pelaksanaan pemerintahan. Harap maklum, luas Kalimantan 52 kali pulau Jawa. Pemekaran tersebut, bagaimanapun, berdampak terhadap rencana membangun ibu kota Kalimantan yang baru di Banjarbaru. Pemekaran wilayah memerlukan biaya cukup besar. Anggaran belanja provinsi Kalimantan harus dibagi-bagi ke provinsi-provinsi baru, dan pembangunan Banjarbaru tidak mungkin diprioritaskan.
Meskipun demikian, cita-cita menjadikan Banjarbaru sebagai pusat pemerintahan (Kalimantan Selatan) tidak surut. Hal ini terbukti, DPRD Tingkat I Kalsel, melalui resolusi 10 Desember 1958, No. 26a/DPRD-58, mendesak Pemerintah Pusat supaya dalam waktu singkat segera menetapkan Kota Banjarbaru sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan.
Rupanya Pemerintah Pusat belum โtergugahโ. Sampai Milono digantikan Syarkawi, dan H. Maksid kemudian Aberani Sulaiman menjadi Gubernur Kalimantan Selatan, perjuangan tidak sunyi-sunyinya. Pada masa Aberani Sulaiman terdapat kemajuan, Banjarbaru mendapatkan status Kota Administratif (Kotatif) dan diresmikan 17 Agustus 1968. Kemajuan itu tampaknya mangalami involusi beberapa dasawarsa.
Pembentukan Kota Administratif
suntingBerkenaan dengan usul Gubernur dr. Murdjani dan Resolusi DPRD Tingkat I Kalimantan Selatan kepada Pemerintah Pusat untuk pemindahan ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan dari Banjarmasin ke Banjarbaru belum mendapat perhatian, Gubernur Kalimantan Selatan memandang perlu untuk menetapkan status kecamatan bagi Banjarbaru dengan kampung-kampung yang berada di sekitarnya.
Berdasarkan SK Gubernur KDH Provinsi Kalimantan Selatan tanggal 29 Mei No. 10/Pem-570-3-3 dibentuklah kecamatan Banjarbaru yang meliputi 7 desa:
- Desa Landasan Ulin
- Desa Guntung Payung
- Desa Lok Tabat
- Desa Banjarbaru
- Desa Sei Ulin/Sei Besar
- Desa Cempaka
- Desa Bangkal
Pada saat itu, jumlah penduduk tujuh desa tersebut kurang lebih 25.000 jiwa. Itu dapat dikatakan, Banjarbaru yang โdicalonkanโ sebagai ibu kota Kalimantan Selatan (setelah gagal jadi ibu kota Kalimantan), betul-betul dimulai dari awal.
Pada tahun 1964, DPRD-GR Tingkat I Kalimantan Selatan dalam suatu sidangnya memutuskan untuk memberi wewenang kepada Gubernur Kalimantan Selatan membentuk panitia yang bertugas mengumpul data-data yang sesuai untuk meningkatkan Kecamatan Banjarbaru menjadi daerah tingkat II Kotapraja (sekarang kotamadia).
Resolusi DPRD-GR Kalimantan Selatan tertanggal 27 Juli 1964 No. 18a/DPRD-GR/KPT/1964, mendesak Pemerintah Pusat agar segera merealisasikan Banjarbaru sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan. Resolusi DPR-GR Kalimantan Selatan tentu saja mendapat respon berbagai pihak, terutama masyarakat Banjarbaru.
Dengan segara masyarakat Banjarbaru membentuk Panitia Penuntut terbentuknya Kotamadia Banjarbaru yang didukung oleh seluruh unsur dan organisasi kemasyarakatan. Panitia Penuntut tersebut adalah:
PIMPINAN
- Ketua I : A.M. Abd. Gais (Perseorangan)
- Ketua II : Abubakar Ali (G.P. Anshor)
- Ketua III : M. Hasfiany Shasby (Muhammadijah)
- Penulis I : A. Fadhilah (PNI)
- Penulis II : Djarโie (IPNU)
- Bendahara : Abd. Ganie (KAMI)
PEMBANTU PARPOL
- Sukardi Djapari (PNI)
- H.S.M Ismail (NU)
- A. Kadir Munsji (Madjelis Wk. NU)
PEMBANTU ORMAS
- A.O. Pudjosanyoto (Angkatan 45)
- Ubangi (Veteran)
- Tarsan Noor (Djamus)
- H. Basri (Madjelis Ulama)
- Hasan Budin (Muhammadijah)
- Soedarsan (Maarif NU)
- Jantje Umboh (PPPKI)
- Hanafiah Abdullah (Pemuda Muhammadijah)
- Saaludin (PII)
- Djunaidi (IPBB)
- A. Sabran (Sarbumi)
- Ibu Sabariah Joenoes (DPW GW Marhaen)
- Ibu Soelaiman (GE Marhaen)
- Ibu Bastian (Muslimat NU)
- Ibu Sitanggang (Perwari)
- Ibu Mindarso (Persit)
- Gt. Zamrud Jasin (Aisjiah)
- Ibu Sitompul (Bhajangkari)
- Ibu Saleh (Persatuan Wanita Pertanian)
- Ibu Mastaniah (Fatajat NU)
- Gt. Mundji (Pertani)
- Thamrin B.Sc. (Pertanu)
- H.S.M. Ismail (Lesbumi)
- R.M. Herusupadi (L.K.N.)
- Ir. Tuhadji (I.S.R.I.)
- Djailani (I.P.P.K.U.)
- Hasjimi Shasby (Ikatan Pemuda Muhammadijah)
- Esmet Enono (G.M.N.I)
- M. Joenoes (Senat Fakultas Pertanian)
- Achmad Djailani (Senat Fakultas Perikanan)
- Riwong Tumon (Senat Fakultas Kehutanan)
- Fadlansjah (Senat Fakultas Tehnik)
- Murhadji (I.M.M)
- S. Almir (Gasbiindo)
- Muljadi Joesoep (KAMI)
- Kasnariansyah (KAPPI)
- Ibu Tatung (PGRI)
- Addimaswardi (SKDN)
- Ibu Agus Ibrahim (GOW)
- M. Hamdi Hamdan (SKDN)
- A. Manap Chandra (SKDN)
- Linda Buniran (Natsjiatul Aisjiah)
- Lasmiati Saleh (IPPNU)
- Bachdar Djohan (PMII)
- M. Jusran M. (KB Marhaen)
- Rahmadi HT (HMI)
Begitu Panitia Penuntut Kotamadia Banjarbaru terbentuk, tanggal 6 Oktober 1965, panitia mendesak agar pemerintah:
- Meningkatkan status Banjarbaru menjadi daerah tingkat II/kotapraja (sekarang kotamadia).
- Mendesak direalisasinya kota Banjarbaru menjadi ibu kota provinsi Kalimantan Selatan.
Menyahuti tuntutan masyarakat yang makin kencang agar terealisasinya Banjarbaru sebagai kotamadia sekaligus ibu kota Kalimantan Selatan, DPRD-GR Tingkat II Banjar di Martapura merespon dengan mengajukan sebuah resolusi tertanggal 12 Oktober 1965 No. 58./DPRD-GR/Res/1965, mendesak Pemerintah Pusat segera memindahkan ibu kota Kalsel ke Banjarbaru.
Untuk merespon berbagai tuntutan masyarakat, Mendagri Dr. Sumarno pada tanggal 20 Juni 1965 mengadakan kunjungan kerja ke Banjarbaru. Sebagai โPejabat Pusatโ, Soemarno melakukan peninjauan โmenyeluruhโ terhadap kondisi objektif Kota Banjarbaru dan daerah sekitarnya. Kesimpulannya, Kota Banjarbaru layak dan pada prinsipnya menyetujui peningkatkan statusnya dari Kecamatan Banjarbaru menjadi Kotamadia Banjarbaru.
Ketikan Aberani Sulaiman menjadi Gubernur Kalimantan Selatan, setelah menelaah laporan panitia pengumpul data-data untuk pembentukan Kotapraja Banjarbaru tanggal 7 November 1964, dan memperhatikan dan mempelajari resolusi-resolusi yang telah diajukan Gubernur Kalimantan terdahulu, pada tanggal 16 Februari 1966 berdasarkan Surat Keputusan No. 58/I-1-101-110 menetapkan membentuk Kantor Persiapan Kotamadia Banjarbaru. Pada tanggal 21 Mei 1966 Kantor Persiapan Kotamadia Banjarbaru diresmikan Gubernur Aberani Sulaiman dan menetapkan Baharuddin sebagai Kepala Kantor Persiapan yang juga merangkap sebagai Camat Kecamatan Banjarbaru.
Bersamaan dengan itu, masyarakat Banjarbaru mengeluarkan Pernjataan Bersama Masyarakat Bandjarbaru: Dengan mengutjapkan syukur ke hadirat Tuhan Jang Maha Esa atas karunia-Nya jang dilimpahkan kepada kita bersama dengan memberikan wudjud ke arah realisasi tuntutan hati nurani masjarakat Bandjarbaru untuk menjadikan Bandjarbaru ini mendjadi suatu Kotamadya, maka kami sebagai potensi riil jang hidup di daerah ini mejakinkan kepada diri kami sendiri dan dengan kebulatan hati kami menjatakan pendirian sebagai berikut:
- Menjatakan kesediaan kami untuk bekerdja, berusaha dan melaksanakan sesuatu untuk perwudjudan pembangunan Kotamadya Bandjarbaru, dalam bentuk dan ini jang sebenarnja.
- Menjatakan kesediaan pembaktian kami atas dasar kegotong-royongan membina kesatuan dan persatuan di dalam daerah ini, demi segera terlaksananja Kotamadya Bandjarbaru jang kami tjita2-kan.
- Sesuai dengan tekad kami tersebut di atas, sekali lagi kami mengharap perhatian dan kesungguhan dari Pemerintah, agar dalam waktu jang segera mungkin dapat menetapkan Bandjarbaru ini men-djadi Kotamadya
Bandjarbaru, 21 Mei 1966 Atas nama masjarakat Bandjarbaru
- Baharuddin, B.A (Kepala Kantor Persiapan)
- S.D. Hadiwaloejo (Tjatur Tunggal Ketjamatan)
- S. Hasyim B.A (Panitya Penuntut Kotamadya Bandjarbaru)
- H. Syahmudar Uchtary (Partai N.U. beserta ormas2nya)
- Basuni Moctar (Partai PNI/Front Marhaenis beserta ormas2nya)
- M. Hasfiany Shasby (Muhammadijah beserta ormas2nya)
- Nj. Agoes Iberahim (G.O.W Tjab. Bandjarbaru)
- Sipawarto (P.G.R.I Tjabang Bandjarbaru)
- Ubangi (Legiun Veteran Bandjarbaru)
- H.A. Sjasruni (Atas nama Pamong Desa)
- Drs. Sugianto (S.K.D.N.Tjabang Bandjarbaru)
Atas permintaan dan desakan dari panitia penuntut kotamadia Banjarbaru, disertai understanding dari Bupati dan DPRD Kabupaten Banjar, pada sidang DPRD Kabupaten Banjar tanggal 1 Desember 1966 telah dibuat suatu resolusi No. 19/Res/794-3/66 yang memutuskan:
- Menyetujui dan mendukung sepenuhnya agar Kecamatan Banjarbaru ditingkatkan menjadi Kotamadia.
- Mendesak agar ibu kota Prop Kalsel segera dipindahkan dari Banjarmasin ke Banjarbaru.
Setelah kantor persiapan kotamadia Banjarbaru berumur hampir 2 tahun disertai persiapan segala usaha kearah terbentuknya kotamadia, disadari bahwa salah satu syarat pokok berotonomi belum dapat dipenuhi yaitu penghasilan keuangan daerah.
Sesuai dengan status kotamadia yang ingin dicapai, kemampuan keuangan ini baru bisa diatasi kalau Kota Banjarbaru sudah mulai berkembang, baik di bidang perdagangan, industri dan lain-lain. Setelah Panitia Penuntut Kotamadia melakukan musyawarah, diambil keputusan untuk memperjuangkan Banjarbaru pada tarap pertama status Kotamadia Adminstratif.
Dengan status Kota Administratif, maka Banjarbaru langsung menjadi eselon pemerintah dengan Provinsi Kalimantan Selatan dan pembiayaan Kota Banjarbaru langsung pula ditanggulangi oleh Pemerintah Tingkat I Kalimantan Selatan.
Keputusan tersebut disampaikan Panitia Penuntut dengan sebuah pernyataan pada Hari Ultah ke-2 Kantor Persiapan Kotamadia Banjarbaru, 21 Mei 1968 kepada Gubernur Kalimantan Selatan. Oleh Kepala Kantor Persiapan Kotamadia Banjarbaru diajukan pada Rapat Kerja Daerah Kabupaten Banjar pada tanggal 16-18 Maret 1968 dimana Rakerda menyetujui dan membuat pernyataan agar daerah Banjarbaru pada tahun 1968 ini juga menjadi Kota Administratif.
Bupati Kabupaten Banjar dengan suratnya tanggal 12 Juni 1968 No. I-A-1-1/3-68 kepada Gubernur Kalimantan Selatan mendukung tuntutan Panitia Penuntut tentang status Kotamadia Administratif Banjarbaru.
Gubernur Kalimantan Selatan, setelah menanggapi segala pernyataan dan perkembangan Persiapan Kotamadia Banjarbaru, dengan suratnya tanggal 26 Juli 1968 No. I-1-205-445 meminta pendapat serta pertimbangan dari DPRD Kalimantan Selatan tentang peningkatan Banjarbaru menjadi Kota Administratif.
DPRD Kalimantan Selatan menyetujui peningkatan status Banjarbaru sebagai Kota Administratif dengan Surat Keputusan tanggal 29 Juli 1968 No. 12/DPRD/KPT VII/1968. Berdasarkan persetujuan DPRD Kalimantan Selatan tersebut, Gubernur Kalimantan Selatan mengeluarkan Surat Keputusan tanggal 12 Agustus 1968 No. 57/I-1-205-612 tentang ditingkatkan Banjarbaru menjadi Kota Administratif.
Pada tanggal 17 Agustus 1968 bertempat di Banjarbaru oleh Bupati Kabupaten Banjar, diserahkan wewenang urusan pemda dan pemerintahan umum daerah Banjarbaru kepada Gubernur Kalimantan Selatan. Dengan demikian Kota Administratif Banjarbaru langsung diurus oleh Pemda Kalimantan Selatan. Tujuannya, agar mempermudah dan mempercepat pembinaan Kota Banjarbaru sebagai ibu kota Kalimantan Selatan. Masalah kenyataannya, setelah โditanganiโ sekian Gubernur, sekian Bupati, dan 11 Wali Kota Administratif, barulah 23 tahun kemudian Banjarbaru baru berubah status menjadi kotamadia dengan โmimpiโ sebagai ibu kota Kalimantan Selatan, itu tentu soal lain. Yang pasti, itulah kenyataan sejarah. Dan, hampir dapat dipastikan, bahwa setiap pejabat pasti merasakan dia sudah berbuat yang โterbaikโ. Ini lelucon Abad Lalu.
Sebenarnya, Aberani Sulaiman dengan pidato berapi-api pernah menjanjikan: Selambat-lambatnya pada akhir tahun 1973, ibu kota provinsi Kalsel akan berpindah tempat dari Banjarmasin ke Banjarbaru.
Terlepas dari buaian semangat, untuk memimpin pelaksanaan pemerintahan Kota Administratif Banjarbaru, Gubernur Kalimantan Selatan menetapkan Baharuddin sebagai Kepala Kantor Persiapan Kotamadia Banjarbaru menjadi Pd. Wali Kota yang dapat bertindak atas nama Gubernur Kalimantan Selatan.
Sebagai Pembantu Wali Kota, a.n. Gubernur Kalimantan Selatan, tanggal 30 April 1969, berdasarkan SK No. I-1-1210, dibentuk Badan Penasihat Wali Kota yang terdiri dari:
- A. Fadhillah, dari PNI sebagai anggota bidang Pemerintahan-Politik
- M. Thamrin, B.Sc dari Partai NU sebagai anggota bidang Ekonomi-Pembangunan
- R. Soeratman S. dari Partai Muslimin Indonesia sebagai anggota bidang Keuangan
- A.M. Abdul Gais, dari Panitia Penuntut Kotamadia Banjarbaru sebagai anggota bidang Kesejahteraan Rakyat.
- Kapt. A. Radiany, dari Sekber Golkar sebagai anggota bidang Pertahanan-Keamanan.
Pada tanggal 5 September 1968, Aberani Sulaiman mengakhiri jabatannya sebagai Gubernur Kalimantan Selatan yang kemudian oleh pemerintah pusat ditunjuk M. Jamani sebagai Pejabat Gubernur Kalimantan Selatan. Pada masa Jamani, untuk melengkapi dan mendorong kegiatan para pemuda dibangun gedung Pemuda Kalimantan Selatan yang dibangun di Banjarbaru.[butuh rujukan]
Kota Administratif Banjarbaru akhirnya diresmikan dengan pembentukan tiga kantor penghubung yaitu:[5]
- Di Landasan Ulin, meliputi Landasan Ulin dan Desa Guntung Payung.
- Di Banjarbaru,meliputi Desa Loktabat, Banjarbaru Kota dan Desa Sungai Ulin/Sei Besar.
- Di Cempaka, meliputi Desa Cempaka/Sungai Tiung dan Desa Bangkal.
Rujukan
sunting- Banjarbaru; Ersis Warmansyah Abbas, 2002
Referensi
sunting- ^ a b c d "Data Agregrat Kependudukan Provinsi Kalimantan Selatan Semester 1 Tahun 2025" (pdf). www.disdukcapil.kalselprov.go.id. hlm.ย 1โ4. Diakses tanggal 8 Januari 2026.
- ^ a b "[Metode Baru] Indeks Pembangunan Manusia menurut Kabupaten/Kota (Umur Harapan Hidup Hasil Long Form SP2020), 2021-2023". www.kalsel.bps.go.id. Diakses tanggal 13 Maret 2024.
- ^ Rizal, Ulul Maskuriah/Yose (2022-02-18). Susilo, Tunggul (ed.). "Banjarbaru resmi menjadi ibu kota baru Provinsi Kalsel". ANTARA News. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-02-18. Diakses tanggal 2022-02-18.
- ^ kalselpos, winda (2022-09-29). "Gugatan Judicial Review dicabut Wali Kota Banjarmasin, Ibukota Kalsel resmi pindah ke Banjarbaru". kalselpos. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-05-21. Diakses tanggal 2023-05-21.
- ^ Saputera, Rizki (2022-03-22). "Banjarbaru Historia: Kota Banjarbaru Jadi Tren Eropa Sejak 1953". Teras7.com. Diakses tanggal 2026-03-18.
Geografi
suntingKota Banjarbaru terletak pada koordinat 03ยฐ27' - 03ยฐ29' LS dan 114ยฐ45' - 114ยฐ48' BT. Posisi geografis Kota Banjarbaru terhadap Kota Banjarmasin adalah 35ย km sebelah tenggara Kota Banjarmasin. Selain itu, Kota Banjarbaru merupakan kota penghasil intan yang terdapat di Kecamatan Cempaka yang merupakan pusat pemukiman atau perkampungan tertua Suku Banjar yang ada di kota ini.
Topografi
suntingKota Banjarbaru secara topografis berada di wilayah dataran rendah selatan Pulau Kalimantan dengan ketinggian berada di ยฑ20 meter di atas permukaan laut. Hampir 88% wilayah kota ini memiliki tingkat kelerengan lahan di bawah 2% yang dapat diartikan bahwa hampir seluruh lahannya berupa hamparan tanah datar.[1]
Batas wilayah
suntingWilayah Kota Banjarbaru berbatasan dengan beberapa kabupaten lainnya di Kalimantan Selatan, yaitu:[1]
| Utara | Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar |
| Timur | Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar |
| Selatan | Kabupaten Tanah Laut |
| Barat | Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar |
Iklim
suntingSeperti kota-kota lainnya di wilayah Kalimantan, Kota Banjarbaru memiliki iklim tropis dengan curah hujan yang tinggi di akhir dan awal tahun dan curah hujan yang cukup rendah di pertengahan tahun. Kelembapan nisbi berkisar antara 75% hingga 90% dan suhu udara berkisar antara 23ย ยฐC hingga 35ย ยฐC.
| Data iklim Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bulan | Jan | Feb | Mar | Apr | Mei | Jun | Jul | Agt | Sep | Okt | Nov | Des | Tahun |
| Rata-rata tertinggi ยฐC (ยฐF) | 31.3 (88.3) |
31.6 (88.9) |
31.8 (89.2) |
32 (90) |
32.3 (90.1) |
31.8 (89.2) |
31.8 (89.2) |
33 (91) |
34 (93) |
33.9 (93) |
32.4 (90.3) |
31.2 (88.2) |
32.26 (90.03) |
| Rata-rata harian ยฐC (ยฐF) | 27.7 (81.9) |
27.9 (82.2) |
28 (82) |
28.2 (82.8) |
28.4 (83.1) |
28 (82) |
27.8 (82) |
28.5 (83.3) |
29.1 (84.4) |
29.1 (84.4) |
28.3 (82.9) |
27.7 (81.9) |
28.23 (82.74) |
| Rata-rata terendah ยฐC (ยฐF) | 23.4 (74.1) |
23.4 (74.1) |
23.5 (74.3) |
23.7 (74.7) |
23.7 (74.7) |
23.2 (73.8) |
22.7 (72.9) |
22.8 (73) |
23.2 (73.8) |
23.5 (74.3) |
23.7 (74.7) |
23.5 (74.3) |
23.36 (74.06) |
| Curah hujan mm (inci) | 358 (14.09) |
291 (11.46) |
290 (11.42) |
247 (9.72) |
173 (6.81) |
146 (5.75) |
100 (3.94) |
65 (2.56) |
69 (2.72) |
132 (5.2) |
247 (9.72) |
376 (14.8) |
2.494 (98,19) |
| Rata-rata hari hujan | 18 | 15 | 15 | 14 | 11 | 10 | 8 | 5 | 5 | 9 | 14 | 19 | 143 |
| % kelembapan | 89 | 88 | 87 | 86 | 83 | 80 | 78 | 74 | 72 | 77 | 86 | 89 | 82.4 |
| Rata-rata sinar matahari harian | 6.4 | 7.1 | 7.4 | 7.8 | 8.4 | 8.5 | 8.6 | 8.7 | 9.1 | 8.8 | 7.7 | 6.6 | 7.93 |
| Sumber #1: Climate-Data.org[2] | |||||||||||||
| Sumber #2: BMKG[3] | |||||||||||||
Pemerintahan
suntingKepala daerah
suntingWali kota adalah pemimpin tertinggi di lingkungan pemerintah Kota Banjarbaru. Wali kota Banjarbaru bertanggungjawab atas wilayah Kota Banjarbaru kepada gubernur provinsi Kalimantan Selatan. Saat ini, Wali kota atau kepala daerah yang menjabat di Kota Banjabaru ialah Erna Lisa Halaby, dengan Wakil Wali kota Wartono. Mereka menang pada Pilwalkot Banjarbaru 2024, dan dilantik pada 21 Juni 2025, untuk masa jabatan 2025-2030.[4]
| Wali Kota | Mulai jabatan | Akhir jabatan | Prd. | Wakil Wali Kota | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Erna Lisa Halaby | 21 Juni 2025 | Petahana | 15 (2024) |
Wartono | ||
Dewan Perwakilan
suntingBerikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kota Banjarbaru dalam enam periode terakhir.
| Partai politik | Jumlah kursi dalam periode | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1999โ2004 | 2004โ2009 | 2009โ2014 | 2014โ2019[5] | 2019โ2024[6] | 2024โ2029 | ||
| PKB | 2 | ||||||
| Gerindra | (baru) 2 | ||||||
| PDI-P | 7 | ||||||
| Golkar | 6 | ||||||
| NasDem | (baru) 3 | ||||||
| PKS | 0 | ||||||
| Hanura | (baru) 0 | ||||||
| PAN | 2 | ||||||
| PBB | 1 | ||||||
| Demokrat | (baru) 2 | ||||||
| PPP | 3 | ||||||
| ABRI | 3 | ||||||
| PPNU | 1 | ||||||
| PBR | 2 | ||||||
| Jumlah anggota | 25 | ||||||
| Jumlah partai | 8 | ||||||
Kecamatan
suntingKota Banjarbaru terdiri dari 5 kecamatan dan 20 kelurahan. Pada tahun 2021, jumlah penduduknya mencapai 258.753 jiwa dengan luas wilayah 305,242 kmยฒ dan sebaran penduduk 848 jiwa/kmยฒ.[7][8]
Daftar kecamatan dan kelurahan di Kota Banjarbaru, adalah sebagai berikut:
| Kode Kemendagri |
Kecamatan | Jumlah kelurahan |
Daftar kelurahan |
|---|---|---|---|
| 63.72.05 | Banjarbaru Selatan | 4 | |
| 63.72.04 | Banjarbaru Utara | 4 | |
| 63.72.03 | Cempaka | 4 | |
| 63.72.02 | Landasan Ulin | 4 | |
| 63.72.06 | Liang Anggang | 4 | |
| Total | 20 | ||
Demografi
suntingSuku bangsa
suntingDibandingkan wilayah Kalimantan Selatan pada umumnya, penduduk Kota Banjarbaru lebih heterogen, walau tetap didominasi Suku Banjar (56,17%) yang berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan. Penduduk asli yang mendiami Banjarbaru adalah orang Banjar Kuala yang tinggal di wilayah Cempaka, yang terkenal sebagai tempat pendulangan intan tradisional. Di Kota Banjarbaru juga banyak orang Banjar dari daerah-daerah lain di Kalimantan Selatan, baik dari kota Banjarmasin dan Martapura maupun orang Banjar Hulu dari Banua Anam yang umumnya tinggal di pusat perkotaan. Di kecamatan Cempaka, suku Banjar masih penduduk mayoritas, tetapi di kecamatan lainnya berpenduduk lebih heterogen.
Suku terbesar kedua di Banjarbaru yaitu suku Jawa (32,78%). Di kecamatan Landasan Ulin suku Jawa merupakan suku terbesar melebihi jumlah suku Banjar. Suku-suku lainnya yang terdapat di Banjarbaru yaitu suku Sunda, Madura, Batak, Dayak, Bugis dan lain-lain.[9]
Komposisi Suku bangsa di kota Banjarbaru tahun 2010 antara lain:[9]
| Nomor | Suku bangsa | Jumlah | Persentase |
|---|---|---|---|
| 1 | Banjar | 112.135 | 56,17% |
| 2 | Jawa | 65.429 | 32,78% |
| 3 | Sunda | 3.419 | 1,71% |
| 4 | Madura | 2.718 | 1,36% |
| 5 | Batak | 2.527 | 1,27% |
| 6 | Dayak | 2.292 | 1,15% |
| 7 | Bugis | 1.675 | 0,84% |
| 9 | Suku-suku lainnya | 9.432 | 4,72% |
| Jumlah | 199.627 | 100% |
Agama
suntingBerdasarkan data Kementerian Dalam Negeri pada akhir tahun 2024, jumlah penduduk Kota Banjarbaru sebanyak 285.546 jiwa, dengan kepadatan 940 jiwa/kmยฒ. Berdasarkan agama yang dianut, mayoritas pendududk Kota Banjarbaru bergama Islam. Adapun persentasi penduduk Kota Banjarbaru berdasarkan agama yang dianut yakni memeluk Islam sebesar 95,83%, kemudian Kristen sebanyak 3,94% dengan rincian Protestan sebanyak 3,01% dan Katolik sebanyak 0,93%. Penduduk yang beragama Hindu 0,14% dan Buddha sebanyak 0,09%.[10] Sarana rumah ibadah, terdapat 107 masjid, 243 mushala, 8 gereja Protestan, 2 gereja Katolik, dan 1 pura.
Pendidikan
sunting
Beberapa Perguruan Tinggi yang ada di Kota Banjarbaru, yakni:
- Universitas Lambung Mangkurat
- Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari
- Universitas Islam Negeri Antasari
- Universitas Achmad Yani
- Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Borneo (STIKES Husada Borneo)
- Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing Dinamik (STIBA Dinamik)
- Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIE Indonesia)
- Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Banjarbaru (STMIK Banjarbaru)
- Politeknik Kesehatan Banjarmasin
- Akademi Analis Kesehatan Borneo Lestari (AAK Borneo Lestari)
- Akademi Kebidanan Banjarbaru (AKBID Banjarbaru)
- Akademi Kebidanan Banua Bina Husada (AKBID Banua Bina Husada)
- Akademi Kebidanan YAPKESBI Banjarbaru (AKBID YAPKESBI Banjarbaru)
- Akademi Teknik Pembangunan Nasional (ATP Nasional)
Kesehatan
sunting
Beberapa pusat kesehatan yang di Kota Banajrbaru, termasuk Rumah Sakit dan Puskesmas:
- RSUD Idaman Banjarbaru
- RS TNI-AU Syamsudin Noor
- RS Almansyur Medika
- RS Guntung Payung
- RSU Syifa Medika Banjarbaru
- RSU Mawar Banjarbaru
- RSU Permata Husada
- RSI Sultan Agung Banjarbaru
- Puskesmas Banjarbaru Utara
- Puskesmas Banjarbaru Selatan
- Puskesmas Liang Anggang
- Puskesmas Landasan Ulin
- Puskesmas Guntung Payung
- Puskesmas Guntung Manggis
- Puskesmas Cempaka
- Puskesmas Sungai Besar
- Puskesmas Sei Ulin
Transportasi
sunting

Sarana transportasi utama yang tersedia di Kota Banjarbaru yakni sarana transportasi darat dan transportasi udara. Transportasi darat Kota Banjarbaru terhubung dengan BRT Banjarbakula,[11] yakni sistem bus rapid transit (BRT) yang melayani wilayah metropolitan Banjarmasin dan sekitarnya, meliputi Banjarmasin, Banjarbaru, dan sebagian wilayah di Kabupaten Banjar.[12] Transportasi umum ini mulai resmi beroperasi sejak 14 Agustus 2019, yang diresmikan tepat perayaan ulang tahun Provinsi Kalimantan Selatan yang ke-69.[13]
Sementara untuk transportasi melalui udara, Kota Banjarbaru memiliki bandar udara, yakni Bandar Udara Internasional Syamsuddin Noor. Bandara ini sudah mulai beroperasi pada tahun 1936 dengan nama Lapangan Terbang Ulin. Pada tahun 1975 bandara ini resmi ditetapkan sebagai bandara sipil dan diubah namanya menjadi bandara Syamsudin Noor. Pada 18 Desember 2019, Bandara Syamsudin Noor mempunyai terminal baru yang diresmikan oleh presiden Indonesia, Joko Widodo, dan bandara ini menjadi bandara bertaraf internasional.[14] Bandara ini mampu menampung pesawat berukuran sedang yaitu Boeing 737-400 dan juga pesawat Airbus A330-300, Boeing 747-400, dan Boeing 787 Dreamliner.
Budaya dan Hiburan
sunting


Hanya ada satu pusat perbelanjaan di kota ini, yaitu QMall yang terletak di kawasan Banjarbaru Utara, berdiri di atas lahan seluas 40 hektar.[15] Mall ini sudah terintegrasi dengan satu hotel yaitu Grand Dafam Q Hotel yang masih 1 gedung dengan mall.[16] Beberapa tempat hiburan dan taman ada di kota ini, seperti Amanah Borneo Park, Banua Labyrinth Park, Aquatica Waterpark, dan QMall Waterboom.[17] Kota ini juga memiliki kolam renang umum milik pemerintah kota yang diberi nama Kolam Renang Idaman.[18]
Hutan kota seluas 1.000 kilometer persegi, sering disebut sebagai Hutan Pinus Mentaos, yang terletak di wilayah Banjarbaru Utara, juga menjadi destinasi wisata populer yang terletak di wilayah Banjarbaru Utara.[19]"Kampung Pelangi" telah menjadi tempat wisata utama di kota. Letaknya di tepi sungai Kemuning, kecamatan Banjarbaru Selatan.
Sebelumnya merupakan perkampungan kumuh, kini telah direvitalisasi menjadi kampung tepi sungai, kompleks perumahan yang lebih baik dengan taman, area pejalan kaki, dan akses WiFi.[20] Di Kota Banjarbaru terdapat satu museum yaitu Museum Lambung Mangkurat.[21] Museum ini memiliki beberapa koleksi sejarah dari masa Kesultanan Banjar hingga Revolusi Nasional.[22]
Referensi
sunting- ^ a b "Banjarbaru dalam Angka Tahun 2024". Februari 2024. Diakses tanggal 24 Oktober 2024.
- ^ "Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 24 Oktober 2024.
- ^ "Buku Peta Rata-Rata Curah Hujan Dan Hari Hujan Periode 1991-2020 Indonesia" (PDF). BMKG. hlm.ย 82 & 147. Diakses tanggal 24 Oktober 2024.
- ^ "Wabup Banjar Hadiri Pelantikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarbaru". home.banjarkab.go.id. 21 Juni 2025. Diakses tanggal 8 Januari 2026.
- ^ Perolehan Kursi DPRD Kota Banjarbaru 2014-2019
- ^ Perolehan Kursi DPRD Kota Banjarbaru 2019-2024
- ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019.
- ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020.
- ^ a b Profil dan Analisis Hasil Sensus Penduduk 2010 Kota Banjarbaru. BPS Kota Banjarbaru. 28 Mei 2012. hlm.ย 30โ32. ISBNย 979-466-996-2. Diarsipkan dari asli (pdf) tanggal 2022-03-01. Diakses tanggal 1 Maret 2022. ;
- ^ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaDUKCAPIL - ^ Rohayanti, Isti. "Dikenal Sebagai Tayo, BRT Dishub Kalsel Mulai Operational untuk Umum Hari ini, Gratis!". Tribunnews.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-04-25. Diakses tanggal 2021-03-29.
- ^ "BRT Banjarbakula". BPTD XV KALSEL (dalam bahasa American English). 2021-01-19. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-04-18. Diakses tanggal 2021-03-29.
- ^ Admin (2019-08-14). "Launching BRT Banjarbakula di Hari Jadi Ke-69 Provinsi Kalsel". Bingkai Banua (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2021-04-13. Diakses tanggal 2021-03-29.
- ^ "Syamsudin Noor Jadi Bandara Internasional Sejarah Baru Hadir di Bumi Lambung Mangkurat". www.niaga.asia. 18 Desember 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-03-01. Diakses tanggal 1 Maret 2022.
- ^ "Pemilik Mal di Banjarbaru, Dulu Cita-citanya Jadi Guru - Bisnis Tempo.co". web.archive.org. 2023-01-19. Diakses tanggal 2025-02-22.
- ^ "Profile Q Mall Banjarbaru". web.archive.org. 2021-04-16. Diakses tanggal 2025-02-22.
- ^ "KalselPedia - Puas Main Air di Banjarbaru, Ini Lima Lokasi Kolam Renang Paling Hits Kota Idaman - Banjarmasin Post". web.archive.org. 2021-04-16. Diakses tanggal 2025-02-22.
- ^ "KalselPedia - Kolam Renang di Kota Banjarbaru - Banjarmasin Post". web.archive.org. 2021-04-16. Diakses tanggal 2025-02-22.
- ^ "Wisata Hutan Pinus Mentaos Banjarbaru, Banyak Spot Foto Unik dan Menarik - Banjarmasin Post". web.archive.org. 2021-04-16. Diakses tanggal 2025-02-22.
- ^ "Wisata Kampung Pelangi Banjarbaru Banyak Fasilitas yang Bikin Betah - Banjarmasin Post". web.archive.org. 2021-04-16. Diakses tanggal 2025-02-22.
- ^ "Situs Museum Lambung Mangkurat". Meratus Geopark. 2023. Diakses tanggal 3 Juni 2025.
- ^ "Belajar Sejarah ke Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru - Borneo ID". web.archive.org. 2021-04-16. Diakses tanggal 2025-02-22.
Lihat pula
suntingPranala luar
sunting- Situs Resmi Pemerintah Kota Banjarbaru
- Mengenal Lebih Dekat Sosok Van Der Pijl
- Situs Resmi KPU Kota Banjarbaru Diarsipkan 2014-10-30 di Wayback Machine.
- BKN Kantor Regional VIII Banjarmasin di Banjarbaru Diarsipkan 2011-07-23 di Wayback Machine.
- Balai Bahasa Banjarmasin di Banjarbaru
- Mengenang Van Der Pijl, Sang Maestro Banjarbaru
- Analisis Citra Satelit IR di Banjarbaru KalSel dengan melihat Suhu Puncak Awan
- Balai Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (BP-PNFI) Regional VI Banjarbaru Diarsipkan 2011-08-19 di Wayback Machine.
- Kanwil 12 DJKN Banjarmasin di Banjarbaru Diarsipkan 2009-01-14 di Wayback Machine.
- Kanwil DJP Kalselteng Diarsipkan 2011-10-10 di Wayback Machine.









