Kegiatan Barzanji

Berzanji atau Barzanji ialah suatu doa-doa, pujian-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran (akikah), khitanan, pernikahan dan maulid Nabi Muhammad saw. Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad SAW, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.

Sejarah

sunting

Nama "Berzanji" diambil dari nama pengarangnya yaitu Syekh Ja'far al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim.[1] Ia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tersebut sebenarnya berjudul 'Iqd al-Jawahir (Bahasa Arab, artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, meskipun kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Pada mulanya, pembacaan berzanji dikhususkan untuk memperingati kelahiran Muhammad SAW dalam kegiatan yang disebut Maulud.[1]

Penggunaan

sunting

Pembacaan Berzanji pada umumnya dilakukan di berbagai kesempatan, sebagai sebuah pengharapan untuk pencapaian sesuatu yang lebih baik. Misalnya pada saat kelahiran bayi, mencukur rambut bayi (akikah), acara khitanan, pernikahan, dan upacara lainnya.[2] Di masjid-masjid perkampungan, biasanya orang-orang duduk bersimpuh melingkar. Lalu seseorang membacakan Berzanji, yang pada bagian tertentu disahuti oleh jemaah lainnya secara bersamaan. Di tengah lingkaran terdapat nasi tumpeng dan makanan kecil lainnya yang dibuat warga setempat secara gotong-royong. Terdapat adat sebagian masyarakat, di mana pembacaan Berzanji juga dilakukan bersamaan dengan dipindah-pindahkannya bayi yang baru dicukur selama satu putaran dalam lingkaran. Sementara baju atau kain orang-orang yang sudah memegang bayi tersebut, kemudian diberi semprotan atau tetesan minyak wangi atau olesan bedak.

Pada saat ini, perayaan maulid dengan Berzanji seperti itu sudah berkurang, dan umumnya lebih terfokus di pesantren-pesantren kalangan Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) dan kelompok Sufi. Buku Berzanji tidaklah sukar didapatkan, bahkan sekarang ini sudah banyak beredar dengan terjemahannya.

Barzanji dalam Budaya Minangkabau

sunting

Barzanji termasuk seni vokal Minangkabau bernuansa Islam, sejenis dengan dikia rabano atau salawat dulang. Namun, nilai ritualnya lebih menonjol sehingga dipandang sebagai ibadah tambahan, bukan sekadar kesenian.[3]

Penyajian barzanji dipimpin oleh urang siak, dikenal juga dengan sebutan labai, pakiah, atau maโ€™in, yaitu tokoh agama yang berperan sebagai imam dan pemimpin doa. Masyarakat percaya semakin banyak urang siak yang hadir, semakin baik pula pelaksanaan barzanji. Durasi penyajian biasanya sekitar satu setengah jam, dilakukan bergantian dalam kelompok berisi lima hingga enam orang, dengan nada vokal tinggi sesuai ciri khasnya.[3]

Tahapan barzanji diawali dengan pembakaran kemenyan sambil urang siak membacakan niat dan doa, lalu peserta saling bermaafan. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan lagu-lagu barzanji yang dimulai dengan Assalamualaikum, dibawakan sambil duduk kecuali pada bagian marhaban yang dilakukan sambil berdiri. Berikutnya dibacakan menamat sebagai doa tambahan, kemudian zikir bersama dengan lafadh Lailahaillallah. Acara ditutup dengan doa sesuai hajat penyelenggara, lalu jamuan makan dan minum, serta pemberian wakaf kepada penyaji sebagai bentuk penghargaan.[3]

Referensi

sunting
  • Al Barzanjie, Syaikh Ja'far. Terjemah Al Barzanjie. Penerjemah: Achmad Najieh. Pustaka Amani, Nishfu Sya'ban 1418 H, Jakarta.
  • Amir, Adriyeti dkk (2006). Pemetaan Sastra Lisan Minangkabau. Padang: Andalas Universiti Press. hlm.ย 78. ISBNย 979-1097-08-9.

Pranala luar

sunting
  1. ^ a b Deskripsi Seni Kepulauan Riau (PDF). Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman. 2014. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ Lathief, Halilintar; HL, Niniek Sumiani (2000). Tari Daerah Bugis (PDF). Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b c Rony, Aswil; Imelda, Vera; SY, Arnida (2005). Alat Musik Bernafas Islam di Minangkabau (PDF). Padang: UPTD Museum Nagari. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Barzanji Lingga

Barzanji Lingga adalah tradisi melantunkan kitab Maulid Al-Barzanji sebagai kegiatan keagamaan dan budaya di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau

Maulid Nabi Muhammad

perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan selawat nabi, pembacaan syair Maulid Barzanji, Maulid Ad Diba'i, Maulid Simtuddurar, atau Syair Burdah, serta pengajian

Nawawi al-Bantani

al-Hadรฎts Madรขrij al-Shuโ€™รปd syarah Maulid al-Barzanji Targhรฎb al-Mustรขqรฎn syarah Mandhรปmah Maulid al-Barzanjรฎ Fath al-Shamad al โ€˜ร‚lam syarah Maulid Syarif

W.S. Rendra

Kasidah Barzanji (dimainkan 2 kali) Lingkaran Kapur Putih Panembahan Reso (1986) Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali) Shalawat Barzanji Sobrat

Burdah (Busiri)

Maulid Nabi Muhammad, bersama dengan syair-syair pujian lain, seperti al-Barzanji. Bait-bait dalam syair ini juga digunakan sebagai kaligrafi penghias di

Kholil al-Bangkalani

dan taqrir) 11. Maulid Hubbi lis Sayyidina Muhammad (makna) 12. Maulid Barzanji (makna) 13. Al-Awamil (nahwu/makna) 14. Terjemah al-Qur'an al-Karim (makna

Sekaten

berdaulat atau berhubungan erat dengan Islam. Bentuk Acara: Pembacaan Barzanji dan Marhaban. Musik tradisi Islami (rebana, hadrah). Jamuan rakyat besar-besaran

Kabupaten Banyumas

pertunjukan kesenian ini menyajikan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanji. bongkel, yakni peralatan musik tradisional sejenis angklung, tetapi terdiri