Singkong
Ilustrasi botani dari daun dan bunga tanaman
Foto akar berbonggol cokelat memanjang, berlapis lilin
Akar penyimpanan (berlapis lilin)
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Rosidae
Ordo: Malpighiales
Famili: Euphorbiaceae
Genus: Manihot
Spesies:
M.ย esculenta
Nama binomial
Manihot esculenta
Sinonim[1]
  • Janipha aipi (Pohl) J.Presl
  • Janipha manihot (L.) Kunth
  • Jatropha aipi (Pohl) Gรถpp.
  • Jatropha diffusa (Pohl) Steud.
  • Jatropha digitiformis (Pohl) Steud.
  • Jatropha dulcis J.F.Gmel.
  • Jatropha flabellifolia (Pohl) Steud.
  • Jatropha loureiroi (Pohl) Steud.
  • Jatropha manihot L.
  • Jatropha mitis Rottb.
  • Jatropha paniculata Ruiz & Pav. ex Pax
  • Jatropha silvestris Vell.
  • Jatropha stipulata Vell.
  • Mandioca aipi (Pohl) Link
  • Mandioca dulcis (J.F.Gmel.) D.Parodi
  • Mandioca utilissima (Pohl) Link
  • Manihot aipi Pohl
  • Manihot aypi Spruce
  • Manihot cannabina Sweet
  • Manihot diffusa Pohl
  • Manihot digitiformis Pohl
  • Manihot dulcis (J.F.Gmel.) Baill.
  • Manihot edule A.Rich.
  • Manihot edulis A.Rich.
  • Manihot flabellifolia Pohl
  • Manihot flexuosa Pax & K.Hoffm.
  • Manihot loureiroi Pohl
  • Manihot melanobasis Mรผll. Arg.
  • Manihot sprucei Pax
  • Manihot utilissima Pohl

Manihot esculenta, umumnya dikenal sebagai singkong, ketela pohon, atau ubi kayu, adalah perdu berkayu dari keluarga Euphorbiaceae (suku getah-getahan) yang berasal dari Amerika Selatan, mulai dari Brasil, Paraguay, dan sebagian wilayah Andes. Meskipun merupakan tumbuhan menahun, singkong dibudidayakan secara luas di daerah tropis dan subtropis sebagai tanaman semusim untuk dipanen akar umbinya yang berpati dan dapat dimakan. Singkong sebagian besar dikonsumsi dalam bentuk rebus, tetapi dalam jumlah besar juga diproses untuk mengekstrak patinya, yang disebut tapioka, yang digunakan untuk makanan, pakan ternak, dan keperluan industri. Farofa dari Brasil, dan garri yang sejenis dari Afrika Barat, adalah tepung kasar yang dapat dimakan yang diperoleh dengan memarut umbi singkong, memeras air dari bubur parutan yang diperoleh, dan terakhir mengeringkan serta memanggangnya.

Singkong adalah sumber karbohidrat terbesar ketiga dalam makanan di daerah tropis, setelah beras dan jagung, menjadikannya makanan pokok yang penting; lebih dari 500 juta orang bergantung padanya. Tanaman ini menawarkan keuntungan karena sangat tahan terhadap kekeringan, dan mampu tumbuh secara produktif di tanah yang miskin hara. Produsen terbesarnya adalah Nigeria, sementara Thailand adalah pengekspor pati singkong terbesar.

Singkong ditanam dalam varietas manis dan pahit; keduanya mengandung racun, tetapi varietas pahit memilikinya dalam jumlah yang jauh lebih besar. Singkong harus disiapkan dengan hati-hati untuk dikonsumsi, karena bahan yang tidak disiapkan dengan benar dapat mengandung sianida yang cukup untuk menyebabkan keracunan. Varietas singkong yang lebih beracun telah digunakan di beberapa tempat sebagai makanan darurat selama masa rawan pangan. Petani mungkin juga memilih kultivar pahit untuk meminimalkan kerugian panen akibat hama.

Etimologi

sunting

Nama generik Manihot dan nama umum "manioc" keduanya berasal dari nama tumbuhan ini dalam bahasa Guarani (Tupi), yaitu mandioca atau manioca.[2][3] Nama spesifik esculenta adalah bahasa Latin untuk 'dapat dimakan'.[2] Nama umum "kasava" (atau "cassava") adalah kata dari abad ke-16 yang berasal dari bahasa Prancis atau Portugis cassave, yang pada gilirannya berasal dari bahasa Taรญno caรงabi.[4] Nama umum "yuca" atau "yucca" kemungkinan besar juga berasal dari bahasa Taรญno, melalui bahasa Spanyol yuca atau juca.[5]

Deskripsi

sunting

Singkong adalah spesies tumbuhan menahun yang biasanya dipanen dalam waktu satu tahun setelah tanam. Bagian yang dipanen adalah umbi akarnya, yang berbentuk panjang dan meruncing, dengan kulit kasar berwarna cokelat yang mudah dilepaskan. Daging umbinya yang berwarna putih atau kekuningan memiliki tekstur yang padat dan rata. Kultivar komersial dapat memiliki lebar 5 hingga 10 sentimeter (2 hingga 4ย in) di bagian atas, dan beberapa memiliki panjang 15 hingga 30ย cm (6 hingga 12ย in), dengan berkas pembuluh berkayu yang membentang di bagian tengahnya. Akar berumbi ini sebagian besar mengandung pati, dengan sejumlah kecil kalsium (16 miligram per 100 gram), fosfor (27 mg/100 g), dan vitamin C (20,6 mg/100 g).[6] Kandungan total karotenoid pro-vitamin A telah ditingkatkan melalui pemuliaan konvensional dari maksimum 10,3 menjadi 24,3 ฮผg/g berdasarkan berat basah.[7] Umbi singkong hanya mengandung sedikit protein, sedangkan daunnya kaya akan protein, meskipun rendah kandungan metionina, sebuah asam amino esensial.[8]

Singkong bersifat berumah satu (monoesis), dengan bunga jantan dan betina terpisah pada tanaman yang sama, tersusun dalam perbungaan. Bunga-bunga ini berkembang di ujung pucuk batang yang sedang tumbuh; tunas dapat bersemi untuk membentuk cabang-cabang baru di bawah perbungaan, memungkinkan pertumbuhan vegetatif yang berkelanjutan. Petani lebih menyukai tanaman yang tidak bercabang (tegak) karena lebih mudah dikumpulkan, diangkut, dan disimpan. Akan tetapi, bentuk yang tegak menyulitkan pemuliaan tanaman karena bunganya jarang atau tidak ada; para pemulia memanfaatkan perpanjangan fotoperiode, pemangkasan, dan zat pengatur tumbuh tanaman untuk merangsang pembungaan.[9][10][11][12]

Genom

sunting

Genom singkong Afrika (TME204) yang lengkap dan teresolusi haplotipenya telah direkonstruksi dan disediakan menggunakan teknologi Hi-C.[13] Genom tersebut menunjukkan banyak lokus gen baru dengan fungsionalitas yang diperkaya terkait dengan organisasi kromatin, perkembangan meristem, dan respons sel.[13] Transkrip yang diekspresikan secara diferensial dari asal haplotipe yang berbeda diperkaya untuk fungsionalitas yang berbeda selama perkembangan jaringan. Di setiap jaringan, 20โ€“30% transkrip menunjukkan perbedaan ekspresi spesifik alel dengan <2% pergeseran arah (direction-shifting). Meskipun terdapat sinteni gen yang tinggi, perakitan genom HiFi mengungkapkan penataan ulang kromosom yang ekstensif dan sekuens divergen intra-genomik serta inter-genomik yang melimpah, dengan variasi struktural signifikan yang sebagian besar terkait dengan retrotransposon ulangan terminal panjang (long terminal repeat).[13]

Meskipun petani kecil di satu sisi merupakan produsen yang tidak efisien secara ekonomi, mereka sangat vital bagi produktivitas pada waktu-waktu tertentu.[14] Petani singkong kecil pun tidak terkecuali.[14] Keanekaragaman genetik sangat penting ketika produktivitas menurun akibat hama dan penyakit, dan petani kecil cenderung mempertahankan kumpulan gen yang kurang produktif tetapi lebih beragam.[14]

Genetika molekuler dari perkembangan akar berumbi pada singkong telah dianalisis dan dibandingkan dengan tanaman akar dan umbi lainnya, termasuk kemungkinan peran (yang belum terbukti) dari ortolog Flowering Locus T (FT).[15]

Sejarah

sunting

Populasi liar M. esculenta subspesies flabellifolia, yang terbukti sebagai nenek moyang singkong yang didomestikasi, berpusat di wilayah tengah barat Brasil, tempat di mana tanaman ini kemungkinan besar pertama kali didomestikasi tidak lebih dari 10.000 tahun yang lalu.[16] Bentuk-bentuk dari spesies modern yang telah didomestikasi juga dapat ditemukan tumbuh liar di wilayah selatan Brasil. Pada tahun 4600 SM, serbuk sari singkong muncul di dataran rendah Teluk Meksiko, tepatnya di situs arkeologi San Andrรฉs.[17] Bukti langsung tertua mengenai budi daya singkong berasal dari situs Maya yang berusia 1.400 tahun, yaitu Joya de Cerรฉn, di El Salvador.[18] Tanaman ini menjadi makanan pokok bagi populasi penduduk asli di Amerika Selatan bagian utara, Mesoamerika bagian selatan, dan suku Taino di kepulauan Karibia, yang menanamnya dengan menggunakan sistem perladangan berpindah dengan hasil tinggi pada saat terjadinya kontak dengan bangsa Eropa pada tahun 1492.[19] Singkong merupakan makanan pokok bagi masyarakat pra-Columbus di benua Amerika dan sering digambarkan dalam karya seni penduduk asli. Orang-orang Moche sering kali menggambarkan singkong dalam keramik buatan mereka. [20]

Bangsa Spanyol pada masa awal pendudukan mereka di kepulauan Karibia tidak mau memakan singkong atau jagung, yang mereka anggap tidak mengenyangkan, berbahaya, dan tidak bergizi. Mereka jauh lebih menyukai makanan yang berasal dari Spanyol, khususnya roti gandum, minyak zaitun, anggur merah, dan daging, serta menganggap jagung dan singkong berdampak buruk bagi orang Eropa.[21] Namun demikian, budi daya dan konsumsi singkong tetap berlanjut baik di Amerika jajahan Portugis maupun Spanyol. Produksi massal roti singkong menjadi industri Kuba pertama yang didirikan oleh bangsa Spanyol.[22] Kapal-kapal yang berangkat ke Eropa dari pelabuhan-pelabuhan Kuba seperti Havana, Santiago, Bayamo, dan Baracoa membawa barang dagangan ke Spanyol, tetapi para pelaut membutuhkan perbekalan untuk pelayaran tersebut.[23] Bangsa Spanyol juga perlu mengisi kembali persediaan kapal mereka dengan daging kering, air, buah-buahan, dan roti singkong dalam jumlah besar. Para pelaut mengeluhkan bahwa roti tersebut menyebabkan masalah pencernaan pada mereka.[24]

Para pedagang Portugis memperkenalkan singkong ke Afrika dari Brasil pada abad ke-16. Pada periode yang hampir bersamaan, tanaman ini diperkenalkan ke Asia melalui Pertukaran Columbus oleh para pedagang Portugis dan Spanyol, yang menanamnya di koloni-koloni mereka di Goa, Malaka, Indonesia Bagian Timur, Timor, dan Filipina.[25] Singkong juga telah menjadi tanaman pertanian yang penting di Asia. Meskipun menjadi makanan pokok yang berharga di beberapa wilayah Indonesia timur, tanaman ini utamanya dibudidayakan untuk ekstraksi pati dan produksi bahan bakar nabati di Thailand, Kamboja, dan Vietnam.[26] Singkong terkadang dijuluki sebagai "roti dari daerah tropis"[27] namun tidak boleh disamakan dengan pohon roti tropis dan ekuatorial (Encephalartos), sukun (Artocarpus altilis), atau sukun Afrika (Treculia africana). Julukan ini jelas berlaku di Afrika dan sebagian Amerika Selatan; namun di negara-negara Asia seperti Vietnam, singkong segar hampir tidak pernah muncul dalam menu makanan manusia.[28] Singkong diperkenalkan ke Afrika Timur sekitar tahun 1850 oleh para pemukim Arab dan Eropa, yang mempromosikan budi dayanya sebagai tanaman yang dapat diandalkan untuk memitigasi dampak kekeringan dan kelaparan.[29]

Terdapat sebuah legenda yang menyatakan bahwa singkong diperkenalkan pada tahun 1880โ€“1885 ke negara bagian Kerala di India Selatan oleh Raja Travancore, Vishakham Thirunal Maharaja, setelah bencana kelaparan hebat melanda kerajaan tersebut, sebagai pengganti beras.[30] Akan tetapi, singkong sebenarnya telah dibudidayakan di negara bagian tersebut sebelum masa itu.[31] Singkong disebut sebagai kappa atau maricheeni dalam bahasa Malayalam, dan tapioka dalam penggunaan bahasa Inggris India.[32]

Budi daya

sunting

Singkong diperbanyak dengan memotong batang menjadi beberapa bagian dengan panjang sekitar 15ย cm (5,9ย in), potongan-potongan batang ini ditanam sebelum musim hujan tiba.[33] Kondisi optimal untuk budi daya singkong adalah suhu rata-rata tahunan antara 20 dan 29ย ยฐC (68 dan 84ย ยฐF), tetapi tanaman ini dapat menoleransi suhu serendah 12ย ยฐC (54ย ยฐF) dan setinggi 40ย ยฐC (104ย ยฐF).[34], curah hujan tahunan yang optimal adalah antara 1.000 dan 2.500ย mm (39 dan 98ย in), dan periode pertumbuhan tahunan tidak kurang dari 240 hari.[35] Kondisi-kondisi ini ditemukan, antara lain, di bagian utara Dataran Pesisir Teluk di Meksiko.[35] Di wilayah Meksiko ini, jenis-jenis tanah berikut telah terbukti baik untuk budi daya singkong: phaeozem, regosol, arenosol, andosol, dan luvisol.[35]

Pemanenan

sunting

Sebelum panen, batang-batang yang berdaun disingkirkan. Hasil panen dikumpulkan dengan mencabut pangkal batang dan memotong akar-akar umbinya.[33]

Penanganan dan penyimpanan

sunting

Kualitas singkong menurun setelah panen, tepatnya saat akar umbi pertama kali dipotong. Mekanisme penyembuhannya menghasilkan asam kumarat, yang teroksidasi dan menghitamkan umbi, menjadikannya tidak dapat dimakan setelah beberapa hari. Penurunan kualitas ini terkait dengan akumulasi spesies oksigen reaktif yang dipicu oleh pelepasan sianida selama pemanenan mekanis. Umur simpan singkong dapat ditingkatkan hingga tiga minggu dengan mengekspresikan secara berlebih oksidase alternatif yang tidak sensitif terhadap sianida, yang menekan spesies oksigen reaktif hingga 10 kali lipat.[36] Kerusakan pascapanen merupakan kendala utama bagi ekspor singkong. Singkong segar dapat diawetkan seperti kentang, menggunakan tiabendazol atau pemutih sebagai fungisida, kemudian dibungkus plastik, dibekukan, atau dilapisi dengan lapisan lilin.[37]

Meskipun metode alternatif untuk mengendalikan kerusakan pascapanen telah diusulkan, seperti mencegah efek spesies oksigen reaktif dengan menggunakan kantong plastik selama penyimpanan dan transportasi, melapisi umbi dengan lilin, atau membekukan umbi, strategi-strategi semacam itu terbukti tidak praktis secara ekonomi maupun teknis, yang pada akhirnya mengarah pada pemuliaan varietas singkong dengan daya tahan yang lebih baik setelah panen, yang dicapai melalui berbagai mekanisme yang berbeda.[38][39] Salah satu pendekatan menggunakan sinar gama untuk mencoba membungkam gen yang terlibat dalam memicu kerusakan; strategi lainnya menyeleksi karotenoid yang melimpah, yakni antioksidan yang dapat membantu mengurangi oksidasi setelah panen.[39]

Hama dan penyakit

sunting
Seorang ahli agronomi memeriksa tanaman singkong yang terserang penyakit di Thailand.

Singkong rentan terhadap hama dari berbagai kelompok taksonomi, termasuk nematoda dan serangga, serta penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan fungi. Semuanya menyebabkan penurunan hasil panen, dan beberapa di antaranya memicu kerugian panen yang serius.[40]

Virus

sunting

Beberapa virus menyebabkan kerusakan yang cukup parah pada tanaman singkong sehingga berdampak secara ekonomi. Virus mosaik singkong Afrika menyebabkan daun tanaman singkong layu, sehingga membatasi pertumbuhan akarnya. Wabah virus tersebut di Afrika pada tahun 1920-an menyebabkan kelaparan besar.[41] Virus ini disebarkan oleh kutu kebul dan melalui pemindahan tanaman yang sakit ke ladang baru. Sekitar akhir 1980-an, sebuah mutasi terjadi di Uganda yang membuat virus tersebut menjadi lebih berbahaya, menyebabkan kerontokan daun secara total. Virus yang bermutasi ini menyebar dengan kecepatan 80 kilometer (50 mil) per tahun, dan pada tahun 2005 telah ditemukan di seluruh wilayah Uganda, Rwanda, Burundi, Republik Demokratik Kongo, dan Republik Kongo.[42] Virus merupakan pembatas produksi yang parah di daerah tropis. Hama ini menjadi alasan utama sama sekali tidak adanya peningkatan hasil panen dalam 25 tahun hingga tahun 2021.[43] Penyakit virus garis cokelat singkong merupakan ancaman besar bagi budi daya tanaman ini di seluruh dunia.[41] Virus mosaik singkong (CMV) tersebar luas di Afrika, menyebabkan penyakit mosaik singkong (CMD).[44] Bredeson et al. 2016 menemukan bahwa kultivar M. esculenta yang paling banyak digunakan di benua tersebut memiliki gen M. carthaginensis subsp. glaziovii, yang beberapa di antaranya tampaknya merupakan gen ketahanan terhadap CMD.[44] Meskipun pandemi CMD yang sedang berlangsung berdampak pada Afrika Timur dan Tengah, Legg et al. menemukan bahwa kedua wilayah ini memiliki dua subpopulasi vektor yang berbeda, yakni kutu kebul Bemisia tabaci.[45][46] Singkong hasil rekayasa genetika menawarkan peluang untuk peningkatan ketahanan terhadap virus, termasuk ketahanan terhadap CMV dan CBSD.[47]

Bakteri

sunting

Salah satu hama bakteri yang paling serius adalah Xanthomonas axonopodis pv. manihotis, yang menyebabkan hawar bakteri pada singkong. Penyakit ini berasal dari Amerika Selatan dan telah menyebar mengikuti singkong ke seluruh dunia.[48] Hawar bakteri telah menjadi penyebab kerugian yang hampir mencapai tingkat bencana dan kelaparan pada dekade-dekade sebelumnya, dan mitigasinya membutuhkan praktik pengelolaan yang aktif.[48] Beberapa bakteri lain juga menyerang singkong, termasuk kerabatnya Xanthomonas campestris pv. cassavae, yang menyebabkan penyakit bercak daun bersudut akibat bakteri.[49]

Fungi dan oomycetes

sunting

Beberapa fungi dan oomycetes memicu kerugian panen yang signifikan, salah satu yang paling serius adalah busuk akar singkong; patogen yang terlibat adalah spesies-spesies dari Phytophthora, genus yang menyebabkan hawar kentang. Busuk akar singkong dapat mengakibatkan kerugian hingga 80 persen dari hasil panen.[40] Hama utama lainnya adalah penyakit karat yang disebabkan oleh Uromyces manihotis.[50] Penyakit pemanjangan super (superelongation), yang disebabkan oleh Elsinoรซ brasiliensis, dapat menyebabkan kerugian lebih dari 80 persen pada tanaman singkong muda di Amerika Latin dan Karibia ketika suhu dan curah hujan tinggi.[40][51][52]

Nematoda

sunting

Hama nematoda pada singkong diperkirakan menyebabkan kerugian mulai dari yang dapat diabaikan hingga kerusakan yang sangat parah,[53][54][55] sehingga pemilihan metode pengelolaannya menjadi sulit.[56] Berbagai macam nematoda parasit tumbuhan telah dilaporkan berasosiasi dengan singkong di seluruh dunia. Nematoda ini meliputi Pratylenchus brachyurus, Rotylenchulus reniformis, Helicotylenchus spp., Scutellonema spp., dan Meloidogyne spp., di mana Meloidogyne incognita dan Meloidogyne javanica adalah yang paling banyak dilaporkan dan paling penting secara ekonomi.[57] Aktivitas makan dari Meloidogyne spp. menghasilkan puru (bintil akar) yang merusak secara fisik dan berisi telur di dalamnya. Puru-puru ini kemudian menyatu saat nematoda betina tumbuh dan membesar, serta mengganggu pasokan air dan nutrisi tanaman.[55] Akar singkong menjadi keras seiring bertambahnya usia sehingga membatasi pergerakan nematoda muda dan pelepasan telurnya. Oleh karena itu, pembentukan puru yang ekstensif mungkin dapat diamati bahkan pada tingkat kepadatan nematoda yang rendah setelah terjadinya infeksi.[56] Hama dan penyakit lain dapat masuk melalui kerusakan fisik yang disebabkan oleh pembentukan puru, yang berujung pada pembusukan. Mereka belum terbukti menyebabkan kerusakan langsung pada akar umbi yang membesar, tetapi tinggi tanaman dapat berkurang jika sistem perakarannya menyusut.[58] Nematisida mengurangi jumlah puru pada setiap akar penyerap, diiringi dengan berkurangnya pembusukan pada akar umbi.[59] Nematisida organofosfat fenamifos tidak mengurangi pertumbuhan tanaman maupun hasil panen. Penggunaan nematisida pada singkong tidak meningkatkan hasil panen secara signifikan, tetapi tingkat infestasi yang lebih rendah saat panen dan berkurangnya penyusutan selama penyimpanan pada akhirnya akan memberikan hasil panen efektif yang lebih tinggi. Penggunaan kultivar yang toleran dan tahan penyakit merupakan metode pengelolaan yang paling praktis di sebagian besar wilayah.[60][56][61]

Serangga

sunting
Belalang, seperti yang terlihat pada tanaman singkong di Nigeria ini, merupakan hama sekunder pada singkong.[40]

Serangga-serangga seperti penggerek batang dan kumbang lainnya, ngengat termasuk Chilomima clarkei, kutu sisik, lalat buah, lalat pucuk, kepik tanah, belalang, wereng, lalat puru, semut pemotong daun, dan rayap turut berkontribusi terhadap kerugian panen singkong di ladang,[40] sementara beberapa di antaranya memicu kerugian yang serius, yakni antara 19% hingga 30%, pada singkong kering di tempat penyimpanan.[62] Di Afrika, masalah utama di masa lalu adalah kutu putih singkong (Phenacoccus manihoti) dan tungau hijau singkong (Mononychellus tanajoa). Hama-hama ini dapat menyebabkan hilangnya hasil panen hingga 80 persen, yang sangat merugikan kegiatan produksi para petani subsisten. Hama-hama ini sempat merajalela pada tahun 1970-an dan 1980-an tetapi berhasil dikendalikan setelah didirikannya Pusat Pengendalian Hayati untuk Afrika oleh Institut Internasional Pertanian Tropis (International Institute of Tropical Agriculture atau IITA) di bawah kepemimpinan Hans Rudolf Herren.[63] Pusat penelitian tersebut menyelidiki pengendalian hayati untuk hama-hama singkong; dua musuh alami dari Amerika Selatan, yaitu Anagyrus lopezi (sejenis tawon parasitoid) dan Typhlodromalus aripo (sejenis tungau predator), masing-masing ditemukan efektif dalam mengendalikan kutu putih singkong dan tungau hijau singkong.[64]

Produksi

sunting
Produksi singkong โ€“ 2022
Negara jutaan ton
ย Nigeria 60.8
ย Republik Demokratik Kongo 48.8
ย Thailand 34.1
ย Ghana 25.6
ย Kamboja 17.7
ย Brasil 17.6
Dunia 330
Sumber: FAOSTAT dari Perserikatan Bangsa-Bangsa[65]

Pada tahun 2022, produksi umbi singkong dunia mencapai 330 juta ton, yang dipimpin oleh Nigeria dengan menyumbang 18% dari total keseluruhan (lihat tabel). Produsen utama lainnya adalah Republik Demokratik Kongo dan Thailand.

Singkong adalah sumber karbohidrat terbesar ketiga dalam makanan di daerah tropis, setelah beras dan jagung.[66][67][43] menjadikannya bahan pangan pokok yang penting; lebih dari 500 juta orang bergantung pada tanaman ini.[68] Tanaman ini menawarkan keuntungan karena sangat tahan terhadap kekeringan, dan mampu tumbuh secara produktif di tanah yang miskin hara. Singkong tumbuh dengan baik di wilayah dalam rentang 30ยฐ dari khatulistiwa, di mana ia dapat berproduksi pada ketinggian hingga 2.000ย m (7.000ย ft) di atas permukaan laut, dan dengan curah hujan sebesar 50 hingga 5.000ย mm (2 hingga 200ย in) per tahun. Toleransinya terhadap kondisi lingkungan ini menjadikannya sangat cocok untuk tumbuh di sebagian besar Amerika Selatan dan Afrika.[69]

Singkong menghasilkan energi pangan dalam jumlah besar per satuan luas lahan setiap harinya โ€“ yakni sebesar 1.046,00ย kJ/ha (250,000ย kcal/ha), dibandingkan dengan 652,70ย kJ/ha (156,000ย kcal/ha) pada beras, 460,24ย kJ/ha (110,000ย kcal/ha) pada gandum, dan 836,80ย kJ/ha (200,000ย kcal/ha) pada jagung.[70]

Singkong, ubi (Dioscorea spp.), dan ubi jalar (Ipomoea batatas) adalah sumber makanan yang penting di daerah tropis. Tanaman singkong memberikan hasil karbohidrat tertinggi ketiga per area budi daya di antara tanaman pertanian lainnya, setelah tebu dan bit gula.[71] Singkong memainkan peran yang sangat penting dalam sektor pertanian di negara-negara berkembang, khususnya di Afrika Sub-Sahara, karena dapat tumbuh dengan baik di tanah yang miskin hara dan dengan curah hujan yang rendah, serta karena merupakan tanaman perenial yang dapat dipanen sesuai kebutuhan. Jendela panennya yang lebar memungkinkannya berfungsi sebagai cadangan di masa kelaparan dan sangat berharga dalam mengatur jadwal tenaga kerja. Tanaman ini menawarkan fleksibilitas bagi para petani yang kekurangan sumber daya karena dapat berfungsi baik sebagai tanaman pangan subsisten maupun tanaman komersial.[72] Di seluruh dunia, sekitar 800 juta orang bergantung pada singkong sebagai makanan pokok utama mereka.[73]

Produksi singkong
Hasil panen singkong

Toksisitas

sunting
Singkong mentah berbahaya untuk dimakan karena mengandung linamarin (diilustrasikan) dan glikosida sianogenik lainnya, yang terurai untuk melepaskan hidrogen sianida beracun.[74]

Akar umbi, kulit, dan daun singkong berbahaya jika dimakan mentah karena mengandung linamarin dan lotaustralin, yang merupakan glikosida sianogenik beracun. Senyawa-senyawa ini diuraikan oleh enzim singkong linamarase, melepaskan hidrogen sianida beracun.[74] Varietas singkong sering kali dikategorikan sebagai singkong pahit (tinggi glikosida sianogenik) atau singkong manis (rendah senyawa pahit tersebut). Kultivar manis dapat mengandung paling sedikit 20 miligram sianida per kilogram akar umbi segar, sedangkan kultivar pahit dapat mengandung hingga 1000 miligram per kilogram. Singkong yang ditanam selama masa kekeringan memiliki kandungan racun ini yang sangat tinggi.[75][76] Dosis 25ย mg glukosida sianogenik murni dari singkong, yang mengandung 2,5ย mg sianida, cukup untuk membunuh seekor tikus.[77] Residu sianida berlebih akibat persiapan yang tidak tepat menyebabkan gondok dan keracunan sianida akut, serta dikaitkan dengan ataksia (gangguan neurologis yang memengaruhi kemampuan berjalan, yang juga dikenal sebagai konzo).[78] Kondisi ini juga dikaitkan dengan pankreatitis fibroklasifik tropis pada manusia, yang mengarah pada pankreatitis kronis.[79][80]

Gejala keracunan sianida akut muncul empat jam atau lebih setelah mengonsumsi singkong mentah atau yang diproses dengan buruk: vertigo, muntah, gondok, ataksia, kelumpuhan parsial, pingsan, dan kematian.[81][82][83][84] Kondisi ini dapat diobati dengan mudah melalui suntikan tiosulfat (yang menyediakan sulfur bagi tubuh pasien untuk melakukan detoksifikasi dengan mengubah sianida beracun menjadi tiosianat).[78]

Paparan sianida kronis tingkat rendah dapat berkontribusi pada penyakit gondok dan neuropati ataksik tropis, yang juga disebut konzo, yang mana dapat berakibat fatal. Risiko tertinggi terjadi pada masa kelaparan, di mana sebanyak 3 persen populasi dapat terdampak.[85][86]

Seperti banyak tanaman akar dan umbi lainnya, varietas singkong pahit dan manis mengandung faktor antinutrisi dan racun; varietas pahit mengandung jumlah yang jauh lebih besar.[78] Varietas singkong yang lebih beracun telah digunakan di beberapa tempat sebagai makanan darurat selama masa rawan pangan.[81][78] Sebagai contoh, selama masa kelangkaan di Venezuela pada akhir 2010-an, puluhan kematian dilaporkan akibat warga Venezuela terpaksa memakan singkong pahit untuk mengatasi kelaparan.[87][88] Kasus keracunan singkong juga didokumentasikan selama masa kelaparan yang menyertai Lompatan Jauh ke Depan (1958โ€“1962) di Tiongkok.[89] Para petani mungkin memilih kultivar pahit untuk mengurangi kerugian panen.[90]

Masyarakat yang secara tradisional mengonsumsi singkong pada umumnya memahami bahwa pemrosesan (perendaman, pemasakan, fermentasi, dll.) diperlukan untuk menghindari penyakit. Perendaman singkat (empat jam) pada singkong tidaklah cukup, tetapi perendaman selama 18โ€“24 jam dapat menghilangkan hingga separuh tingkat sianidanya. Pengeringan mungkin juga tidak cukup.[78]

Di banyak wilayah Afrika Barat, khususnya Nigeria, akar umbi singkong pahit secara tradisional didetoksifikasi dalam proses yang panjang. Akar umbinya dikupas dan diparut. Bubur yang lembap direndam (atau "dibusukkan") di dalam air selama 48 hingga 72 jam untuk memicu fermentasi spontan. Selama periode ini, linamarase endogen bekerja pada linamarin dan lotaustralin; hidrogen sianida yang dihasilkan larut atau menguap, mengurangi potensi sianogenik sebesar 85 โ€“ 99ย %.[91][92][93] Setelah direndam, tumbukan tersebut diperas untuk membuang cairannya lalu direbus, dipanggang, atau disangrai untuk membuat makanan seperti gari, fufu, dan lafun, yang selanjutnya menurunkan residu sianida hingga berada dalam batas aman WHO yaitu 10 mg HCN kgโปยน.[94]Untuk beberapa varietas singkong manis berakar lebih kecil, memasak sudah cukup untuk menghilangkan semua toksisitasnya. Sianida akan terbawa pergi dalam air pemrosesan dan jumlah yang dihasilkan dari konsumsi rumah tangga terlalu kecil untuk menimbulkan dampak lingkungan.[74] Varietas singkong pahit yang berakar lebih besar dan digunakan untuk produksi tepung atau pati harus diproses untuk menghilangkan glukosida sianogeniknya. Akar umbi yang besar dikupas dan kemudian digiling menjadi tepung, yang lalu direndam di dalam air, diperas hingga kering beberapa kali, dan disangrai. Butiran pati yang mengalir bersama air selama proses perendaman juga digunakan dalam memasak.[95] Tepung tersebut digunakan di seluruh Amerika Selatan dan Karibia. Produksi industri tepung singkong, bahkan pada tingkat industri rumahan, dapat menghasilkan sianida dan glikosida sianogenik yang cukup banyak dalam limbah cairnya sehingga menimbulkan dampak lingkungan yang parah.[74]

Kegunaan

sunting

Makanan dan minuman

sunting

Terdapat banyak cara memasak singkong.[96] Singkong harus disiapkan dengan benar untuk menghilangkan toksisitasnya.[97] Akar umbi dari varietas manis memiliki rasa yang ringan, seperti kentang; Di Brasil, farofa, sebuah hidangan kering yang terbuat dari bubuk singkong yang dimasak, dipanggang dengan mentega, dimakan sebagai lauk, atau ditaburkan pada makanan lain.[98] Keluarga-keluarga Yahudi terkadang menggunakannya dalam cholent.[99] Singkong dapat dijadikan tepung yang digunakan untuk membuat roti, kue, dan kuki. Dalam budaya Taiwan, yang kemudian menyebar ke Amerika Serikat, "sari" singkong dikeringkan menjadi bubuk halus dan digunakan untuk membuat tapioka, pati populer yang digunakan untuk membuat gelembung (mutiara tapioka), pugasan (topping) kenyal dalam teh boba (bubble tea). [100]

Minuman beralkohol yang terbuat dari singkong meliputi cauim (Brasil),[101] kasiri (Venezuela, Guyana, Suriname),[102] parakari atau kari (Venezuela, Guyana, Suriname),[103] dan nihamanchi (Amerika Selatan),[104]

Persiapan singkong pahit

sunting

Metode leluhur yang digunakan oleh penduduk asli Karibia untuk mendetoksifikasi singkong adalah dengan mengupas, menggiling, dan menumbuk; menyaring tumbukan tersebut melalui tabung keranjang (sebucan atau tipiti) untuk menghilangkan hidrogen sianida; serta mengeringkan dan mengayak tumbukan tersebut menjadi tepung. Air saringan yang beracun kemudian direbus untuk melepaskan hidrogen sianidanya, dan digunakan sebagai kaldu dasar untuk semur.[105]

Metode pemrosesan yang aman yang dikenal sebagai "metode pembasahan" adalah dengan mencampur tepung singkong dengan air hingga menjadi pasta kental, meratakannya menjadi lapisan tipis di atas keranjang dan kemudian mendiamkannya selama lima jam pada suhu 30ย ยฐC di tempat teduh.[106] Dalam waktu tersebut, sekitar 83% glikosida sianogenik diuraikan oleh linamarase; hidrogen sianida yang dihasilkan kemudian menguap ke udara bebas, sehingga tepung tersebut aman untuk dikonsumsi pada malam harinya.[106]

Metode tradisional yang digunakan di Afrika Barat adalah dengan mengupas akar umbi dan merendamnya ke dalam air selama tiga hari agar berfermentasi. Akar umbi tersebut kemudian dikeringkan atau dimasak. Di Nigeria dan beberapa negara Afrika Barat lainnya, termasuk Ghana, Kamerun, Benin, Togo, Pantai Gading, dan Burkina Faso, singkong biasanya diparut dan digoreng perlahan dengan minyak sawit untuk mengawetkannya. Hasilnya adalah bahan makanan yang disebut garri. Fermentasi juga digunakan di tempat lain seperti Indonesia, contohnya dalam pembuatan tapai. Proses fermentasi juga mengurangi kadar antinutrisi, menjadikan singkong makanan yang lebih bergizi.[107] Ketergantungan pada singkong sebagai sumber makanan dan paparan efek goitrogenik dari tiosianat yang ditimbulkannya telah menjadi penyebab penyakit gondok endemik yang terlihat di wilayah Akoko di barat daya Nigeria.[108][109]

Rekayasa hayati telah diterapkan untuk menumbuhkan singkong dengan glikosida sianogenik yang lebih rendah dikombinasikan dengan fortifikasi vitamin A, zat besi, dan protein untuk meningkatkan gizi masyarakat di Afrika Sub-Sahara.[110][111]

Di Guyana, cassareep tradisional dibuat dari sari singkong pahit.[112] Sari tersebut direbus hingga menyusut setengahnya dari volume awal,[113] hingga mencapai kekentalan seperti molase (tetes tebu)[114] dan dibumbui dengan rempah-rempahโ€”termasuk cengkih, kayu manis, garam, gula, dan cabai rawit.[115] Secara tradisional, cassareep direbus dalam panci lunak, atau "panci lada" (pepper pot) yang sebenarnya, yang akan menyerap rasa dan juga memberikan rasa tersebut (bahkan saat kering) pada makanan seperti nasi dan ayam yang dimasak di dalamnya.[116] Hidrogen sianida yang beracun namun mudah menguap akan dihilangkan melalui pemanasan.[117] Meskipun demikian, singkong yang tidak dimasak dengan benar telah diklaim sebagai penyebab sejumlah kematian.[118] Suku Amerindian dari Guyana dilaporkan membuat penawar racun dengan merendam cabai di dalam rum.[114] Penduduk asli Guyana secara tradisional membawa produk ini ke kota dalam botol,[119] dan kini tersedia di pasar AS dalam bentuk botolan.[120]

Nutrisi

sunting
Singkong mentah
Nilai nutrisi per 100ย g (3,5ย oz)
Energi670ย kJ (160ย kcal)
38.1 g
Gula1.7 g
Serat pangan1.8 g
0.3 g
1.4 g
VitaminKuantitas
%AKGโ€ 
Tiamina (B1)
8%
0.087 mg
Riboflavin (B2)
4%
0.048 mg
Niasin (B3)
6%
0.854 mg
Vitamin B6
7%
0.088 mg
Folat (B9)
7%
27 ฮผg
Vitamin C
25%
20.6 mg
MineralKuantitas
%AKGโ€ 
Kalsium
2%
16 mg
Zat besi
2%
0.27 mg
Magnesium
6%
21 mg
Fosfor
4%
27 mg
Potasium
6%
271 mg
Sodium
1%
14 mg
Seng
4%
0.34 mg
Komponen lainnyaKuantitas
Air60 g

โ€ Persen AKG berdasarkan rekomendasi Amerika Serikat untuk orang dewasa.

Singkong mentah mengandung 60% air, 38% karbohidrat, 1% protein, dan jumlah lemak yang dapat diabaikan (lihat tabel).[121] Dalam takaran saji referensi 100-gram (3+1โ„2-ons), singkong mentah menyediakan 670 kilojoule (160 kilocalorie) energi makanan dan 23% dari Nilai Harian (DV) vitamin C, tetapi selain itu tidak memiliki kandungan mikronutrien yang signifikan (yaitu, di atas 10% dari DV yang relevan).[121]

Bahan bakar nabati

sunting

Singkong telah dipelajari sebagai bahan baku untuk memproduksi etanol sebagai bahan bakar nabati, termasuk untuk meningkatkan efisiensi konversi dari tepung singkong,[122] dan untuk mengonversi residu tanaman seperti batang dan daun serta akar umbi yang lebih mudah diproses.[123] Tiongkok telah membangun fasilitas untuk memproduksi bahan bakar etanol dalam jumlah besar dari akar umbi singkong.[124] Mutasi butiran kecil (small-granule) memfasilitasi hidrolisis pati dan telah dikaitkan dengan produksi bahan bakar nabati.[125][126]

Pakan ternak

sunting

Akar umbi dan jerami singkong digunakan di seluruh dunia sebagai pakan ternak. Jerami singkong muda dipanen pada usia tiga hingga empat bulan, ketika tingginya mencapai sekitar 30 hingga 45ย cm (12 hingga 18ย in) di atas permukaan tanah; jerami ini dijemur di bawah sinar matahari hingga kandungan bahan keringnya mendekati 85 persen. Jerami tersebut mengandung 20โ€“27 persen protein dan 1,5โ€“4 persen tanin. Jerami ini dihargai sebagai sumber pakan kasar (roughage) untuk hewan ruminansia seperti sapi.[127]

Kanji pakaian

sunting

Singkong digunakan dalam produk penatu, khususnya sebagai kanji untuk melicinkan dan memberikan tekstur kaku pada kemeja serta pakaian lainnya.[128]

Cerita rakyat

sunting

Manรญ, sebuah mitos asal-usul dari Tupรญ, adalah nama seorang gadis pribumi berkulit sangat cerah. Legenda Amazon tentang Manรญ berkaitan dengan kultus Manioc (singkong), makanan pokok asli yang tumbuh dari makamnya.[129][130][131] Beberapa waktu kemudian, sebuah celah terbuka di tanah dan orang-orang dari suku tersebut menemukan buah yang menyerupai warna kulit putih dari tubuh anak yang telah meninggal itu. Mereka memungut buah itu dari tanah, mengupas dan memasaknya, dan secara mengejutkan rasanya sangat lezat. Buah itu bahkan memulihkan kekuatan mereka. Mereka juga membuat minuman yang dengan mudah dapat membuat seseorang tertidur. Maka, sejak hari itu, mereka mulai menggunakan akar umbi tersebut sebagai makanan pokok mereka dan menyebutnya "mandioca", yang dalam bahasa Tupy berarti "rumah (oca, dalam Tupiโ€“Guarani) dari Mandi = Manรญ".[132]

Di Jawa, sebuah mitos mengisahkan bahwa makanan berasal dari tubuh Dewi Teknowati, yang bunuh diri daripada menerima rayuan dewa Batara Guru. Ia dikuburkan, dan tungkai bawahnya tumbuh menjadi tanaman singkong.[133] Di Trinidad, cerita rakyat mengisahkan tentang saapina atau wanita ular; kata ini berkaitan dengan sabada, yang berarti menumbuk, karena secara tradisional menumbuk singkong adalah pekerjaan perempuan.[134]

Identitas Macushi di Guyana sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan dan pemrosesan singkong dalam gaya hidup subsisten tebas bakar mereka. Sebuah cerita mengisahkan bahwa roh agung Makunaima memanjat sebuah pohon, memotong bagian-bagian pohon itu dengan kapaknya; ketika jatuh ke tanah, setiap potongan berubah menjadi sejenis hewan. Oposum membawa orang-orang tersebut ke pohon itu, tempat mereka menemukan berbagai jenis makanan, termasuk singkong pahit. Seekor burung memberi tahu orang-orang itu bagaimana cara menyiapkan singkong dengan aman.[135]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ a b "Manihot esculenta Crantz, Rei Herb. 1: 167 (1766)". Plants of the World Online. Royal Botanic Gardens, Kew. 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2022. Diakses tanggal 11 November 2022.
  2. ^ a b "Manihot esculenta Crantz". Singapore National Parks. Diakses tanggal 7 July 2024. Genus Manihot is from the Tupi-Guarani name "manioca" which means cassava. Species esculenta means edible by humans.
  3. ^ "manioc (n.)". Online Etymology Dictionary. Diakses tanggal 7 July 2024.
  4. ^ "cassava (n.)". Online Etymology Dictionary. Diakses tanggal 7 July 2024.
  5. ^ "yucca (n.)". Online Etymology Dictionary. Diakses tanggal 7 July 2024.
  6. ^ "Basic Report: 11134, Cassava, raw". National Nutrient Database for Standard Reference Release 28. Agricultural Research Service, US Department of Agriculture. May 2016. Diarsipkan dari asli tanggal 12 July 2017. Diakses tanggal 7 December 2016.
  7. ^ Ceballos, Hernan (November 1, 2013). "Rapid Cycling Recurrent Selection for Increased Carotenoids Content in Cassava Roots". Crop Science. 53 (6): 2342โ€“2351. Bibcode:2013CrSci..53.2342C. doi:10.2135/cropsci2013.02.0123. hdl:10568/51431. Diakses tanggal January 7, 2026.
  8. ^ Ravindran, Velmerugu (1992). "Preparation of cassava leaf products and their use as animal feeds" (PDF). FAO Animal Production and Health Paper (95): 111โ€“125. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 15 January 2012. Diakses tanggal 13 August 2010.
  9. ^ Pineda, Marcela (2020). "Induction of Earlier Flowering in Cassava through Extended Photoperiod". Agronomy. 10 (1273): 1273. Bibcode:2020Agron..10.1273P. doi:10.3390/agronomy10091273.
  10. ^ Pineda, Marcela (2020). "Effect of Pruning Young Branches on Fruit and Seed Set in Cassava". Frontiers in Plant Science. 11 (1107) 1107. Bibcode:2020FrPS...11.1107P. doi:10.3389/fpls.2020.01107. PMCย 7390943. PMIDย 32793264.
  11. ^ Hyde, Peter (2024). "Development of Methods for Improving Flowering and Seed Set of Diverse Germplasm in Cassava Breeding". Plants. 13 (382): 382. Bibcode:2024Plnts..13..382H. doi:10.3390/plants13030382.
  12. ^ Damasceno Santos, Alexandra (2023). "Flowering induction in cassava using photoperiod extension premature pruning and plant growth regulators". PLOS One. 18 (10) e0292385. Bibcode:2023PLoSO..1892385S. doi:10.1371/journal.pone.0292385.
  13. ^ a b c Qi, W.; Lim, Y.; Patrignani, A.; Schlรคpfer, P.; Bratus-Neuenschwander, A.; etย al. (2022). "The haplotype-resolved chromosome pairs of a heterozygous diploid African cassava cultivar reveal novel pan-genome and allele-specific transcriptome features". GigaScience. 11 giac028. doi:10.1093/gigascience/giac028. PMCย 8952263. PMIDย 35333302.
  14. ^ a b c McGregor, Andrew; Manley, M.; Tubuna, S.; Deo, R.; Bourke, Mike (2020). "Pacific Island food security: situation, challenges and opportunities". Pacific Economic Bulletin. hdl:1885/39234.
  15. ^ Zierer, Wolfgang; Rรผscher, David; Sonnewald, Uwe; Sonnewald, Sophia (2021). "Tuber and Tuberous Root Development". Annual Review of Plant Biology. 72 (1): 551โ€“580. Bibcode:2021AnRPB..72..551Z. doi:10.1146/annurev-arplant-080720-084456. PMIDย 33788583.
  16. ^ Olsen, K. M.; Schaal, B. A. (1999). "Evidence on the origin of cassava: phylogeography of Manihot esculenta". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 96 (10): 5586โ€“5591. Bibcode:1999PNAS...96.5586O. doi:10.1073/pnas.96.10.5586. PMCย 21904. PMIDย 10318928.
  17. ^ Pope, Kevin O.; Pohl, Mary E. D.; Jones, John G.; Lentz, David L.; von Nagy, Christopher; Vega, Francisco J.; Quitmyer, Irvy R. (2001). "Origin and Environmental Setting of Ancient Agriculture in the Lowlands of Mesoamerica". Science. 292 (5520): 1370โ€“1373. Bibcode:2001Sci...292.1370P. doi:10.1126/science.292.5520.1370. PMIDย 11359011.
  18. ^ Carroll, Rory (23 August 2007). "CU team discovers Mayan crop system". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 July 2019. Diakses tanggal 31 July 2019.
  19. ^ "Taino: History & Culture". Encyclopedia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2020-09-01. Diakses tanggal 2020-09-24.
  20. ^ Berrin, Katherine & Larco Museum. The Spirit of Ancient Peru:Treasures from the Museo Arqueolรณgico Rafael Larco Herrera. New York: Thames & Hudson, 1997.
  21. ^ Earle, Rebecca (2012) The Body of the Conquistador: Food, Race, and the Colonial Experience in Spanish America, 1492โ€“1700. New York: Cambridge University Press. pp. 54โ€“57, 151. ISBN 978-1107693296.
  22. ^ Long, Janet (2003). Conquest and food: consequences of the encounter of two worlds; page 75. UNAM. ISBNย 978-970-32-0852-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 April 2023. Diakses tanggal 24 August 2020.
  23. ^ Watkins, Thayer (2006). "The Economic History of Havana, Cuba: A City So Beautiful and Important It Was Once Worth More Than All of Florida". San Josรฉ State University, Department of Economics. Diarsipkan dari asli tanggal 2 May 2016. Diakses tanggal 20 August 2015.
  24. ^ Super, John C. (1984). "Spanish Diet in the Atlantic Crossing". Terrae Incognitae. 16: 60โ€“63. doi:10.1179/008228884791016718.
  25. ^ Nweke, Felix I. (2005). "The cassava transformation in Africa". A review of cassava in Africa with country case studies on Nigeria, Ghana, the United Republic of Tanzania, Uganda and Benin. Proceedings of the Validation Forum on the Global Cassava Development Strategy. Vol.ย 2. Rome: The Food and Agriculture Organization of the United Nations. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 February 2019. Diakses tanggal 1 January 2011.
  26. ^ Hershey, Clair; etย al. (April 2000). "Cassava in Asia. Expanding the Competitive Edge in Diversified Markets". A review of cassava in Asia with country case studies on Thailand and Viet Nam. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 November 2017. Diakses tanggal 28 January 2018.
  27. ^ Adams, C.; Murrieta, R.; Siqueira, A.; Neves, W.; Sanches, R. (2009). "Bread of the Land: The Invisibility of Manioc in the Amazon". Amazon Peasant Societies in a Changing Environment. hlm.ย 281โ€“305. doi:10.1007/978-1-4020-9283-1_13. ISBNย 978-1-4020-9282-4.
  28. ^ Mota-Guttierez, Jatziri; O'Brien, Gerard Michael (September 2019). "Cassava consumption and the occurrence of cyanide in cassava in Vietnam, Indonesia and Philippines". Public Health Nutrition. 23 (13): 2410โ€“2423. doi:10.1017/S136898001900524X. PMCย 11374567. PMIDย 32438936.
  29. ^ Ofcansky, Thomas P.; Yeager, Rodger; Kurtz, Laura S. (1997). Historical dictionary of Tanzania. African historical dictionaries (Edisi 2nd). Lanham, Md: Scarecrow Press. hlm.ย 134. ISBNย 978-0-8108-3244-2.
  30. ^ Nagarajan, Saraswathy (June 27, 2019). "How tapioca came to Travancore". The Hindu. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 July 2020.
  31. ^ Ainslie, Whitelaw; Halford, Henry (1813). Materia medica of Hindoostan, and artisan's and agriculturalist's nomenclature. Madras State: Government Press.
  32. ^ "Kappa for all seasons - many avatars of the magic starch root..." Onmanorama. Kerala, India. 1 February 2018. Diakses tanggal 11 May 2024.
  33. ^ a b Howeler, Reinhardt H. (2007). "Production techniques for sustainable cassava production in Asia" (PDF). Centro Internacional de Agricultura Tropical, Bangkok. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 5 October 2016. Diakses tanggal 3 May 2016.
  34. ^ Verheye, Willy H., ed. (2010). "Tropical Root and Tuber Crops". Soils, Plant Growth and Crop Production Volume II. EOLSS Publishers. hlm.ย 273. ISBNย 978-1-84826-368-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 May 2021. Diakses tanggal 29 December 2020.
  35. ^ a b c Del-Rosario-Arellano, Josรฉ Luis; Aguilar-Rivera, Noe; Leyva-Ovalle, Otto Raรบl; Andres-Meza, Pablo; Meneses-Marquez, Isaac; Bolio-Lรณpez, Gloria Ivette (2022). "Zonificaciรณn edafoclimรกtica de la yuca (Manihot esculenta Crantz) para la producciรณn sostenible de bioproductos" [Edaphoclimatic zoning of cassava (manihot esculenta crantz) for sustainable production of bioproducts]. Norte Grande Geography Journal (dalam bahasa Spanyol) (81): 361โ€“383. doi:10.4067/S0718-34022022000100361. eISSNย 0718-3402. S2CIDย 249657496.
  36. ^ Zidenga, T.; etย al. (2012). "Extending cassava root shelf life via reduction of reactive oxygen species production". Plant Physiology. 159 (4): 1396โ€“1407. Bibcode:2012PlanP.159.1396Z. doi:10.1104/pp.112.200345. PMCย 3425186. PMIDย 22711743.
  37. ^ "Storage and processing of roots and tubers in the tropics". U.N. Food and Agriculture Organization. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 April 2016. Diakses tanggal 4 May 2016.
  38. ^ Venturini, M.T.; Santos, L.R.; Vildoso, C. I; Santos, V. S; Oliveira, E.J. (2016). "Variation in cassava germplasm for tolerance to post-harvest physiological deterioration". Genetics and Molecular Research. 15 (2). doi:10.4238/gmr.15027818 (tidak aktif 1 July 2025). PMIDย 27173317. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
  39. ^ a b Morante, N.; Sรกnchez, T.; Ceballos, H.; etย al. (2010). "Tolerance to Postharvest Physiological Deterioration in Cassava Roots". Crop Science. 50 (4): 1333โ€“1338. Bibcode:2010CrSci..50.1333M. doi:10.2135/cropsci2009.11.0666.
  40. ^ a b c d e Alvarez, Elizabeth; Llano, Germรกn Alberto; Mejรญa, Juan Fernando (2012). "Cassava diseases in Latin America, Africa and Asia". The Cassava Handbook (PDF). hlm.ย 258.[pranala nonaktif permanen]
  41. ^ a b "Virus ravages cassava plants in Africa". The New York Times. 31 May 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 March 2017. Diakses tanggal 24 February 2017.
  42. ^ "Hungry African nations balk at biotech cassava". St. Louis Post-Dispatch. 31 August 2005. Diarsipkan dari asli tanggal 3 March 2012. Diakses tanggal 11 August 2008.
  43. ^ a b Afedraru, Lominda (2019-01-31). "Uganda to launch innovative gene-edited cassava research". Alliance for Science. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 August 2021. Diakses tanggal 2021-08-15.
  44. ^ a b Lebot, Vincent (2020). Tropical Root and Tuber Crops: Cassava, Sweet Potato, Yams And Aroids. Wallingford, Oxfordshire, UK; Boston, USA: CABI (Centre for Agriculture and Bioscience International). hlm.ย 541. ISBNย 978-1-78924-336-9. OCLCย 1110672215.
  45. ^ Legg, James P.; Kumar, P. Lava; Makeshkumar, T.; etย al. (2015). "Cassava Virus Diseases: Biology, Epidemiology, and Management". Dalam Loebenstein, Gad; Katis, Nikolaos I. (ed.). Advances in Virus Research. Control of Plant Virus Diseases: Vegetatively-Propagated Crops. Vol.ย 91. Academic Press. hlm.ย 85โ€“142. doi:10.1016/bs.aivir.2014.10.001. ISBNย 978-0-12-802762-2. ISSNย 0065-3527. PMIDย 25591878.
  46. ^ Legg, James P.; Sseruwagi, Peter; Boniface, Simon; etย al. (2014). "Spatio-temporal patterns of genetic change amongst populations of cassava Bemisia tabaci whiteflies driving virus pandemics in East and Central Africa". Virus Research. 186: 61โ€“75. doi:10.1016/j.virusres.2013.11.018. PMIDย 24291251.
  47. ^ Rey, Chrissie; Vanderschuren, Hervรฉ (2017). "Cassava Mosaic and Brown Streak Diseases: Current Perspectives and Beyond". Annual Review of Virology. 4 (1): 429โ€“452. doi:10.1146/annurev-virology-101416-041913. ISSNย 2327-056X. PMIDย 28645239. S2CIDย 25767024.
  48. ^ a b Lozano, J. Carlos (September 1986). "Cassava bacterial blight: a manageable disease" (PDF). Plant Disease. 70 (12): 1089โ€“1093. Bibcode:1986PlDis..70.1089L. doi:10.1094/PD-70-1089. hdl:10568/43244. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 14 January 2023. Diakses tanggal 14 January 2023.
  49. ^ Zรกrate-Chaves, Carlos A.; Gรณmez de la Cruz, Diana; Verdier, Valรฉrie; Lรณpez, Camilo E.; Bernal, Adriana; Szurek, Boris (2021). "Cassava diseases caused by Xanthomonas phaseoli pv. manihotis and Xanthomonas cassavae". Molecular Plant Pathology. 22 (12): 1520โ€“1537. Bibcode:2021MolPP..22.1520Z. doi:10.1111/mpp.13094. ISSNย 1464-6722. PMCย 8578842. PMIDย 34227737.
  50. ^ "Uromyces manihotis (rust of cassava)". Invasive Species Compendium. CABI (Centre for Agriculture and Bioscience International). 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 November 2022. Diakses tanggal 27 October 2022.
  51. ^ Alleyne, A.T.; Gilkes, J.M.; Briggs, G. (1 January 2015). "Early detection of Super-elongation disease in Manihot esculenta Crantz (cassava) using molecular markers for gibberellic acid biosynthesis". European Journal of Plant Pathology. 141 (1): 27โ€“34. Bibcode:2015EJPP..141...27A. doi:10.1007/s10658-014-0517-3.
  52. ^ Alleyne, Angela; Mason, Shanice; Vallรจs, Yvonne (2023). "Characterization of the Cassava Mycobiome in Symptomatic Leaf Tissues Displaying Cassava Superelongation Disease". Journal of Fungi. 9 (12): 1130. doi:10.3390/jof9121130. PMCย 10743849. PMIDย 38132731.
  53. ^ Coyne, D. L.; Talwana, L. A. H. (2000). "Reaction of cassava cultivars to root-knot nematode (Meloidogyne spp.) in pot experiments and farmer-managed field trials in Uganda". International Journal of Nematology. 10: 153โ€“158. S2CIDย 83213308. Diakses tanggal 22 September 2018.
  54. ^ Makumbi-Kidza, N. N.; Speijer, P. R.; Sikora, R. A. (2000). "Effects of Meloidogyne incognita on growth and storage-root formation of cassava (Manihot esculenta)". Journal of Nematology. 32 (4S): 475โ€“477. PMCย 2620481. PMIDย 19270997.
  55. ^ a b Gapasin, R. M. (1980). "Reaction of golden yellow cassava to Meloidogyne spp. Inoculation". Annals of Tropical Research. 2: 49โ€“53.
  56. ^ a b c Coyne, D. L. (1994). "Nematode pests of cassava". African Crop Science Journal. 2 (4): 355โ€“359. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 September 2018. Diakses tanggal 22 September 2018.
  57. ^ McSorley, R.; Ohair, S. K.; Parrado, J. L. (1983). "Nematodes of Cassava, Manihot esculenta Crantz". Nematropica. 13: 261โ€“287. Diarsipkan dari asli tanggal 3 June 2016. Diakses tanggal 4 May 2016.
  58. ^ Caveness, F. E. (1982). "Root-knot nematodes as parasites of cassava". IITA Research Briefs. 3 (2): 2โ€“3.
  59. ^ Coyne, D. L.; Kagoda, F.; Wambugu, E.; Ragama, P. (2006). "Response of cassava to nematicide application and plant-parasitic nematode infection in East Africa, with emphasis on root-knot nematode". International Journal of Pest Management. 52 (3): 215โ€“223. doi:10.1080/09670870600722959. S2CIDย 84771539.
  60. ^ Coyne, Danny L.; Cortada, Laura; Dalzell, Johnathan J.; Claudius-Cole, Abiodun O.; Haukeland, Solveig; Luambano, Nessie; Talwana, Herbert (2018-08-25). "Plant-Parasitic Nematodes and Food Security in Sub-Saharan Africa". Annual Review of Phytopathology. 56 (1): 381โ€“403. Bibcode:2018AnRvP..56..381C. doi:10.1146/annurev-phyto-080417-045833. ISSNย 0066-4286. PMCย 7340484. PMIDย 29958072. S2CIDย 49615468.
  61. ^ Uchechukwumgemezu, Chidinma (2020-12-21). "Nigeria to introduce new cassava varieties". Todayng. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 December 2020. Diakses tanggal 21 December 2020.
  62. ^ Osipitan, A. A.; Sangowusi, V. T.; Lawal, O. I.; Popoola, K. O. (2015). "Correlation of Chemical Compositions of Cassava Varieties to Their Resistance to Prostephanus truncatus Horn (Coleoptera: Bostrichidae)". Journal of Insect Science. 15 (1): 13. doi:10.1093/jisesa/ieu173. PMCย 4535132. PMIDย 25700536.
  63. ^ "1995: Herren". The World Food Prize Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 11 July 2015. Diakses tanggal 29 May 2015.
  64. ^ "1995: Herren". The World Food Prize Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 11 July 2015. Diakses tanggal 29 May 2015.
  65. ^ "Cassava production in 2022, Crops/World Regions/Production Quantity/Year from pick lists". UN Food and Agriculture Organization Corporate Statistical Database (FAOSTAT). 2024. Diakses tanggal 29 May 2024.
  66. ^ "Cassava". Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). Diarsipkan dari asli tanggal 18 November 2016. Diakses tanggal 24 November 2011.
  67. ^ Fauquet Claude; Fargette Denis (1990). "African Cassava Mosaic Virus: Etiology, Epidemiology, and Control" (PDF). Plant Disease. 74 (6): 404โ€“411. Bibcode:1990PlDis..74..404F. doi:10.1094/pd-74-0404. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 August 2017. Diakses tanggal 10 January 2011.
  68. ^ "Dimensions of Need: An atlas of food and agriculture". United Nations Food and Agriculture Organization (FAO). 1995. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 November 2016. Diakses tanggal 23 November 2011.
  69. ^ Cock, James H. (September 1980). "Cassava". The Crop Productivity Symposium, IRRI, los Banos, Philippines: 1โ€“33. reprinted as a chapter in Crop physiology case histories for major crops. Academic Press, 2021, pages 588-633.
  70. ^ El-Sharkawy, Mabrouk A. (1 August 1993). "Drought-tolerant Cassava for Africa, Asia, and Latin America". BioScience (dalam bahasa Inggris). 43 (7): 441โ€“451. Bibcode:1993BiSci..43..441E. doi:10.2307/1311903. ISSNย 1525-3244. JSTORย 1311903. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 January 2022. Diakses tanggal 19 April 2020.
  71. ^ "Nutrition per Hectare for Staple Crops". GardeningPlaces.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 June 2016.
  72. ^ Stone, G. D. (2002). "Both Sides Now". Current Anthropology. 43 (4): 611โ€“630. doi:10.1086/341532. S2CIDย 18867515.
  73. ^ Save and Grow: Cassava (PDF). Rome: Food and Agriculture Organization. 2013. hlm.ย iii. ISBNย 978-92-5-107641-5. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 23 November 2016. Diakses tanggal 27 October 2016.
  74. ^ a b c d Cereda, M. P.; Mattos, M. C. Y. (1996). "Linamarin: the Toxic Compound of Cassava". Journal of Venomous Animals and Toxins. 2: 6โ€“12. doi:10.1590/S0104-79301996000100002. hdl:11449/64711.
  75. ^ Aregheore E. M.; Agunbiade O. O. (1991). "The toxic effects of cassava (Manihot esculenta Crantz) diets on humans: a review". Veterinary and Human Toxicology. 33 (3): 274โ€“275. PMIDย 1650055.
  76. ^ White W. L. B.; Arias-Garzon D. I.; McMahon J. M.; Sayre R. T. (1998). "Cyanogenesis in Cassava, The Role of Hydroxynitrile Lyase in Root Cyanide Production". Plant Physiol. 116 (4): 1219โ€“1225. doi:10.1104/pp.116.4.1219. PMCย 35028. PMIDย 9536038.
  77. ^ "Opinion of the Scientific Panel on Food Additives, Flavourings, Processing Aids and Materials in Contact with Food (AFC) on hydrocyanic acid in flavourings and other food ingredients with flavouring properties". EFSA Journal. 105: 1โ€“28. 2004. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 September 2015. Diakses tanggal 6 April 2013.
  78. ^ a b c d e "Ch. 7 Toxic substances and antinutritional factors". Roots, tubers, plantains and bananas in human nutrition. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). 1990. ISBNย 978-92-5-102862-9.
  79. ^ Bhatia E (2002). "Tropical calcific pancreatitis: strong association with SPINK1 trypsin inhibitor mutations". Gastroenterology. 123 (4): 1020โ€“1025. doi:10.1053/gast.2002.36028. PMIDย 12360463.
  80. ^ Harford, Tim (September 4, 2019). "How do people learn to cook a poisonous plant safely?". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 September 2019. Diakses tanggal 4 September 2019.
  81. ^ a b "CASSAVA POISONING โ€“ VENEZUELA". ProMED-mail. 29 January 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 2 February 2017. Diakses tanggal 29 January 2017.
  82. ^ "Cassava poisoning was integral to Episode 177 of Series 17 of the BBC drama 'Doctors'". BBC. 5 February 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 February 2016. Diakses tanggal 13 February 2018.
  83. ^ Soto-Blanco, Benito; Gรณrniak, Silvana Lima (2010-07-01). "Toxic effects of prolonged administration of leaves of cassava (Manihot esculenta Crantz) to goats". Experimental and Toxicologic Pathology (dalam bahasa Inggris). 62 (4): 361โ€“366. Bibcode:2010EToxP..62..361S. doi:10.1016/j.etp.2009.05.011. ISSNย 0940-2993. PMIDย 19559583.
  84. ^ Suharti, Sri; Oktafiani, Hafni; Sudarman, Asep; Baik, Myunggi; Wiryawan, Komang Gede (2021-12-01). "Effect of cyanide-degrading bacteria inoculation on performance, rumen fermentation characteristics of sheep fed bitter cassava (Manihot esculenta Crantz) leaf meal". Annals of Agricultural Sciences (dalam bahasa Inggris). 66 (2): 131โ€“136. doi:10.1016/j.aoas.2021.09.001. ISSNย 0570-1783. S2CIDย 244191058.
  85. ^ Wagner, Holly. "Cassava's cyanide-producing abilities can cause neuropathy". cidpusa.org. Diarsipkan dari asli tanggal 24 September 2010. Diakses tanggal 21 June 2010.
  86. ^ Siritunga D; Sayre RT (Septemberโ€“October 2007). "Transgenic approaches for cyanogen reduction in cassava". J AOAC Int. 90 (5): 1450โ€“1455. doi:10.1093/jaoac/90.5.1450. PMIDย 17955993.
  87. ^ Castro, Maolis (6 March 2017). "La yuca amarga alimenta la muerte en Venezuela". El Paรญs (dalam bahasa Spanyol). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 February 2018. Diakses tanggal 25 February 2018.
  88. ^ "Estragos de la crisis: Ocho niรฑos han muerto en Aragua por consumir yuca amarga". La Patilla (dalam bahasa Spanyol (Eropa)). 22 February 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 February 2018. Diakses tanggal 25 February 2018.
  89. ^ Zhou Xun (2012). "Ch. 3 Seasons of death". The Great Famine in China, 1958-1962: A Documentary History. Yale University Press.
  90. ^ Chiwona-Karltun, Linley; Katundu, Chrissie; Ngoma, James; Chipungu, Felistus; Mkumbira, Jonathan; Simukoko, Sidney; Jiggins, Janice (2002). "Bitter cassava and women: an intriguing response to food security". LEISA Magazine. Vol.ย 18, no.ย 4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 September 2018. Diakses tanggal 22 September 2018.
  91. ^ "Cyanide in Cassava: A Review". Journal of Food Research: 15โ€“29. 2024.
  92. ^ "When knowledge is not enough: barriers to recommended cassava processing". BMC Public Health: 1โ€“13. 2023.
  93. ^ "Processing techniques to reduce toxicity and antinutrients of cassava". Comprehensive Review of Food Science and Food Safety: 17โ€“27. 2008.
  94. ^ "Cyanides reduction and pasting properties of cassava flours fermented 72 h". Food Science and Nutrition: 332โ€“340. 2017.
  95. ^ Padmaja, G.; Steinkraus, K. H. (1995). "Cyanide detoxification in cassava for food and feed uses". Critical Reviews in Food Science and Nutrition. 35 (4): 299โ€“339. doi:10.1080/10408399509527703. PMIDย 7576161.
  96. ^ Opie, Frederick Douglass (2008). Hog and Hominy: Soul Food from Africa to America. Columbia University Press. chapters 1โ€“2.
  97. ^ "Cassava: Benefits, toxicity, and how to prepare". www.medicalnewstoday.com. 2021-02-09. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 March 2022. Diakses tanggal 2022-03-30.
  98. ^ Zeldes, Leah A. (February 3, 2010). "Eat this! Hearty Brazilian feijoada, just in time for Carnival!". Dining Chicago. Chicago's Restaurant & Entertainment Guide. Diarsipkan dari asli tanggal February 12, 2010. Diakses tanggal February 5, 2010.
  99. ^ "Manioc Root - Cargo Handbook - the world's largest cargo transport guidelines website". cargohandbook.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 May 2022. Diakses tanggal 2022-03-30.
  100. ^ Sweenie, Jennifer (2023-04-18). "What Is Tapioca And How Do You Cook It?". Tasting Table (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-10-12.
  101. ^ Schwan, Rosane F.; Almeida, Euziclei G.; Souza-dias, Maria Aparecida G.; Jespersen, Lene (September 2007). "Yeast diversity in rice-cassava fermentations produced by the indigenous Tapirapรฉ people of Brazil". FEMS Yeast Research. 7 (6): 966โ€“972. doi:10.1111/j.1567-1364.2007.00241.x. PMIDย 17697080.
  102. ^ van Vark, Manon (28 August 1999). "Tribal cures for modern ailments, Surinam". BBC News. Their staple food is cassava, from which they make cassava bread and brew kasiri, 'cassava beer'.
  103. ^ Henkel, Terry W. (2005-03-01). "Parakari, an indigenous fermented beverage using amylolytic Rhizopus in Guyana". Mycologia. 97 (1): 1โ€“11. doi:10.1080/15572536.2006.11832833. PMIDย 16389951. S2CIDย 218588548.
  104. ^ Howell, Edward (1995). Enzyme Nutrition: The Food Enzyme Concept. Avery Publishing Group. hlm.ย 49. ISBNย 978-0-89529-221-6.
  105. ^ Keegan, William; Carlson, Lisbeth (2008). Talking Taino: Caribbean Natural History from a Native Perspective (Caribbean Archaeology and Ethnohistory). Fire Ant Books. hlm.ย 74. ISBNย 978-0-8173-5508-1.
  106. ^ a b Bradbury, J.H. (2006). "Simple wetting method to reduce cyanogen content of cassava flour" (PDF). Journal of Food Composition and Analysis. 19 (4): 388โ€“393. Bibcode:2006JFCA...19..388B. doi:10.1016/j.jfca.2005.04.012. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 February 2015. Diakses tanggal 23 March 2018.
  107. ^ Oboh, G.; Oladunmoye, M.K. (2007). "Biochemical Changes in Micro-Fungi Fermented Cassava Flour Produced from Low- and Medium-Cyanide Variety of Cassava Tubers". Nutrition and Health. 18 (4): 355โ€“367. doi:10.1177/026010600701800405. ISSNย 0260-1060. PMIDย 18087867.
  108. ^ Akindahunsi, A. A.; Grissom, F. E.; Adewusi, S. R.; Afolabi, O. A.; Torimiro, S. E.; Oke, O. L. (1998). "Parameters of thyroid function in the endemic goitre of Akungba and Oke-Agbe villages of Akoko area of southwestern Nigeria". African Journal of Medicine and Medical Sciences. 27 (3โ€“4): 239โ€“242. ISSNย 0309-3913. PMIDย 10497657.
  109. ^ Bumoko, G.M.-M.; Sadiki, N.H.; Rwatambuga, A.; Kayembe, K.P.; Okitundu, D.L.; Mumba Ngoyi, D.; Muyembe, J.-J.T.; Banea, J.-P.; Boivin, M.J.; Tshala-Katumbay, D. (2015). "Lower serum levels of selenium, copper, and zinc are related to neuromotor impairments in children with konzo". Journal of the Neurological Sciences. 349 (1โ€“2): 149โ€“153. doi:10.1016/j.jns.2015.01.007. PMCย 4323625. PMIDย 25592410.
  110. ^ Sayre, R.; Beeching, J. R.; Cahoon, E. B.; Egesi, C.; Fauquet, C.; Fellman, J.; Fregene, M.; Gruissem, W.; Mallowa, S.; Manary, M.; Maziya-Dixon, B.; Mbanaso, A.; Schachtman, D. P.; Siritunga, D.; Taylor, N.; Vanderschuren, H.; Zhang, P. (2011). "The BioCassava Plus Program: Biofortification of Cassava for Sub-Saharan Africa". Annual Review of Plant Biology. 62 (1): 251โ€“272. Bibcode:2011AnRPB..62..251S. doi:10.1146/annurev-arplant-042110-103751. PMIDย 21526968.
  111. ^ "BioCassava Plus". St. Louis, Missouri, USA: Donald Danforth Plant Science Center. 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 27 March 2016. Diakses tanggal 23 March 2018.
  112. ^ Aregheore, E. M.; Agunbiade, O. O. (1991). "The toxic effects of cassava (manihot esculenta grantz) diets on humans: a review". Vet. Hum. Toxicol. 33 (3): 274โ€“275. PMIDย 1650055.
  113. ^ Jackson, J. R. (1872). "New Edibles". Food Journal. 2: 372-378 [375].
  114. ^ a b Nicholls, Henry Alfred Alford (1906). A text-book of tropical agriculture. Macmillan. hlm.ย 278.
  115. ^ Harris, Dunstan A. (2003). Island Cooking: Recipes from the Caribbean. Ten Speed Press. hlm.ย 138. ISBNย 978-1-58008-501-4.
  116. ^ Wood, John George (1886). Man and his handiwork. Society for promoting Christian knowledge. hlm.ย 455โ€“456.
  117. ^ Meehans' monthly: a magazine of horticulture, botany and kindred subjects, Volumes 11-12. Thomas Meehan & Sons. 1901. hlm.ย 108.
  118. ^ White, W. L. B.; Arias-Garzon, D. I.; McMahon, J. M.; Sayre R. T. (1998). "Cyanogenesis in Cassava: The Role of Hydroxynitrile Lyase in Root Cyanide Production". Plant Physiology. 116 (4): 1219โ€“1225. doi:10.1104/pp.116.4.1219. PMCย 35028. PMIDย 9536038.
  119. ^ Dalton, Henry G. (2005). The History of British Guiana: Comprising a General Description of the Colony (1855). Adamant Media Corporation (reprint). hlm.ย 185. ISBNย 978-1-4021-8865-7.
  120. ^ Herbst, Sharon Tyler (2001). The new food lover's companion: comprehensive definitions of nearly 6,000 food, drink, and culinary terms. Barron's Educational Series. hlm.ย 105. ISBNย 978-0-7641-1258-4.
  121. ^ a b Tewe, Olumide O. (2004). "The Global Cassava Development Strategy". U.N. Food and Agriculture Organization. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 January 2012. Diakses tanggal 24 November 2011.
  122. ^ Bakky, Aa; Hoque, Mr; Islam, Ms (11 February 2021). "Production of Biofuel from Cassava". Journal of Environmental Science and Natural Resources. 12 (1โ€“2): 171โ€“174. doi:10.3329/jesnr.v12i1-2.52032. ISSNย 2408-8633.
  123. ^ Sivamani, Selvaraju; Chandrasekaran, Arun Pandian; Balajii, Muthusamy; Shanmugaprakash, Muthusamy; Hosseini-Bandegharaei, Ahmad; Baskar, Rajoo (2018). "Evaluation of the potential of cassava-based residues for biofuels production". Reviews in Environmental Science and Bio/Technology. 17 (3): 553โ€“570. Bibcode:2018RESBT..17..553S. doi:10.1007/s11157-018-9475-0. ISSNย 1569-1705.
  124. ^ Anderson-Sprecher, Andrew; Ji, James. "China Biofuel Industry Faces Uncertain Future" (PDF). USDA Foreign Agriculture Service. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 27 July 2020. Diakses tanggal 8 November 2019.
  125. ^ Ceballos, Hernan (26 July 2008). "Induction and Identification of a Small-Granule, High-Amylose Mutant in Cassava (Manihot esculenta Crantz)". J. Agric. Food Chem. 56 (16): 7215โ€“7222. doi:10.1021/jf800603p. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link)
  126. ^ Moreno Alzate, Jhon Larry (2024). "Physicochemical characterization of special cassava starches and their application for bio-ethanol production through no-cook technology at very high gravity". Industrial Crops & Products. 219 (119095). doi:10.1016/j.indcrop.2024.119095.
  127. ^ R. Lunsin; M. Wanapat; P. Rowlinson (October 2012). "Effect of cassava hay and rice bran oil supplementation on rumen fermentation, milk yield and milk composition in lactating dairy cows". Asian-Australasian Journal of Animal Sciences. 25 (10): 1364โ€“1373. doi:10.5713/ajas.2012.12051. PMCย 4093022. PMIDย 25049491.
  128. ^ "Tapioca or Cassava". www.botanischetuinen.nl. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 April 2023. Diakses tanggal 2022-03-30.
  129. ^ Livia de Almeida, Ana Portella, Margaret Read MacDonald, Brazilian folktales, g. xi, Libraries Unlimited (2006), ISBN 1-56308-930-0
  130. ^ Yara Roberts, Richard Roberts, The Brazilian Table, p. 40, Gibbs M. Smith Inc (2009), ISBN 1-4236-0315-X
  131. ^ Hartley Burr Alexander, Latin-American [Mythology], p. 186, General Books (2009), ISBN 1-150-14877-2
  132. ^ Merrian Webster Dictionary. "Definition of Manioc". First Known Use: circa 1554. mw4.m-w.com. Diarsipkan dari asli tanggal 14 July 2011. Diakses tanggal 13 September 2010.
  133. ^ Sudardi, Bani; Widyastuti, Hesti (2016). "The Folklore about Food Sustainability according Javanese Culture" (PDF). Journal of Education and Social Science (3): 8โ€“11.
  134. ^ Provost, M. C. L. (2011). "Where Asian Indian folklore meets Arawak and Kalinago folklore, 'Sound' Symmetry and Asymmetry can make you jump!". Lokoratna Journal of Folklore. 6.
  135. ^ Schacht, Ryan N. (2013). "Cassava and the Makushi: a shared history of resiliency and transformation". Food and Identity in the Caribbean: 15โ€“29. doi:10.5040/9781350042162.ch-001. ISBNย 978-1-350-04216-2.

Pranala luar

sunting


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Dried Cassava

Dried Cassava merupakan grup musik asal Indonesia yang dibentuk pada 2005 terdiri dari Bana Drestanta, Baskoro Adhi Juwono, Kago Mahardono, Nandie Daniel

Tepung singkong termodifikasi

Tepung singkong termodifikasi,Tepung mocaf atau (Modified cassava flour) atau disingkat mocaf adalah tepung ubi kayu (Manihot esculenta crantz) yang dimodifikasi

Jessica Bunga

Kemudian pada 24 April 2021, Jebung merilis singel perdananya yang berjudul "Cassava". Dilanjutkan singel kedua berjudul "20" bergenre pop balada pada 17 September

Virus mosaik ubi kayu

genus Begomovirus. African cassava mosaic virus (ACMV), East African cassava mosaic virus (EACMV), dan South African cassava mosaic virus (SACMV) adalah

Tapai

Barat biasa disebut ulen atau uli. (Inggris)Gandjar, I. 2003. Tapai from cassava and cereals. Dalam: First International Symposium and Workshop on Insight

Gereja Keluarga Kudus, Cassava River

Gereja Keluarga Kudus adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Cassava River, Jamaika. Gereja ini didedikasikan kepada Keluarga Kudus. Gereja

Daun ubi tumbuk

mangkuk Pepy Nasution. "Gulai Daun Ubi Tumbuk Recipe (Mandailing Crushed Cassava Leaves Curry)". Indonesia Eats. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-04

Garudafood Putra Putri Jaya

tanggal 2023-06-19. Diakses tanggal 21 Maret 2022. Djuwardi, Anton (2009). Cassava. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) "Kisah hidup dan bisnis Sudhamek AWS"