Benteng de Kock
Peta
LokasiBukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia
Didirikan1825
Badanย pengelolaKementerian Pariwisata

Benteng de Kock (bahasa Belanda: Fort de Kock) adalah benteng peninggalan Belanda pada abad ke-19 yang didirikan di atas bukit di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Di sekitar benteng, permukiman baru tumbuh, yang akhirnya berkembang menjadi Kota Bukittinggi, kota terbesar kedua di Sumatera Barat. Meskipun sisa-sisa gundukan tanah dan beberapa meriam masih bisa dilihat, bangunan asli di atas benteng telah dihancurkan.[1][2][3][4]

Sejarah

sunting
Monumen batu Fort de Kock

Benteng Fort de Kock digunakan oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama sejak meletusnya Perang Paderi pada tahun 1821-1837 .Semasa pemerintahan Beยญlanยญda, Bukittinggi dijadikan sebagai salah satu pusat pemeยญrintahan, kota ini disebut sebagai Gemetelyk Resort pada tahun 1828. Sejak tahun 1825 pemerintah Kolonial Belanยญda telah mendirikan sebuah benteng di kota ini sebagai tempat pertahanan, yang hingga kini para wisatawan dapat melihat langsung benteng tersebut yaitu Fort de Kock. Selain itu, kota ini tak hanya dijadikan sebagai pusat pemeยญrintahan dan tempat pertahanan bagi pemerintah kolonial Belanda, tetapi juga dijadikan sebagai tempat peristirahatan para opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya.

Fort de Kock juga dibaยญngun sebagai lambang bahwa Kolonial Belanda telah berhasil menduduki daerah di Sumatera Barat. Benteng tersebut meruยญpakan tanda penjajahan dan perluasan kekuasaan Belanda terhadap wilayah Bukittinggi,Agam, dan Pasaman. Belanda memang cerdik untuk menduduki Suยญmaยญtera Barat, mereka memanยญfaatkan konflik intern saat itu, yaitu konflik yang terjadi antara kelompok adat dan kelompok agama. Bahkan Belanda sendiri ikut membantu kelompok adat, guna menekan kelompok agaยญma selama Perang Paderi yang berlangsung 1821 hingga tahun 1837.

Belanda yang membantu kaum adat melahirkan sebuah kesepakatan bahwa Belanda diperbolehkan membangun basis pertahan militer yang dibangun Kaptain Bauer di puncak Bukit Jirek Hill, yang kemudian diberi nama Fort de Kock.

Setelah membangun di Bukit Jirek, Pemerintah Koloยญnial Belanda pun melanjutkan rencananyamengambil alih beberapa bukit lagi seperti Bukit Sarang Gagak, Bukit Tambun Tulang, Bukit Cubadak Bungkuak, dan Bukit Malamยญbung. Di daerah tersebut juga dibangun gedung perkantoran, rumah dinas pemerintah, komยญpleks pemakaman, pasar, sarana transportasi, sekolah juga tempat rekreasi. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintahan Kolonial Belanda tersebut dalam istilah Minangkabau dikenal dengan โ€œtajua nagari ka Bulandoโ€ yang berarti Terjual negeri pada Belanda. Pada masa itu memang, Kolonial Belanda menguasai 75 persen wilayah dari lima desa yang dijadikan pusat perdagangan.

Keadaan sekarang

sunting
Benteng Fort de Kock saat ini

Sejak direnovasi pada tahun 2002 lalu oleh pemerintah daerah, Fort de Kock, kawasan benteng Fort de Kock kini berubah menjadi Taman Kota Bukittinggi (Bukittinggi City Park) dan Taman Burung Tropis (Tropical Bird Park). Hingga saat ini, Benteng Fort de Kock masih ada sebagai bangunan bercat putih-hijau setinggi 20 m. Benteng Fort de Kock dilengkapi dengan meriam kecil di keempat sudutnya. Kawasan sekitar benteng sudah dipugar oleh pemerintah daerah menjadi sebuah taman dengan banyak pepohonan rindang dan mainan anak-anak.

Benteng ini berada di lokasi yang sama dengan Kebun Binatang Bukittinggi dan Museum Rumah Adat Baanjuang. Kawasan benteng terletak di bukit sebelah kiri pintu masuk sedangkan kawasan kebun binatang dan museum berbentuk rumah gadang tersebut berada di bukit sebelah kanan. Keduanya dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh yang di bawahnya adalah jalan raya dalam kota Bukittinggi. Kawasan ini hanya terletak 1ย km dari pusat kota Bukittinggi di kawasan Jam Gadang, tepatnya di terusan jalan Tuanku nan Renceh.

Benteng ini adalah satu dari 2 benteng belanda yang ada di sumatera barat, yang satu lagi terletak di Batusangkar dengan nama benteng Fort Van der Capellen karena 2 kota inilah dahulu yang paling susah ditaklukan belanda saat Perang Paderi.

Catatan Kaki

sunting
  1. ^ "Menyisiri Sejarah di Benteng Fort de Kock". Ayo ke Sumbar (dalam bahasa Indonesian). 4 June 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 November 2016. Diakses tanggal 11 November 2016. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  2. ^ "Menyisiri Sejarah di Benteng Fort de Kock". 4 March 2012.
  3. ^ Sejarah sosial daerah Sumatera Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek-Proyek [i.e. Proyek Inventarisasi] dan Dokumentasi Sejarah Nasional. 1983. hlm.ย 55. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ https://www.delpher.nl/nl/tijdschriften/view?coll=dts&identifier=MMKB07:001491001:00386&objectsearch=Raaffplein+

Referensi

sunting
  • Amir B, 2000, โ€œSejarah Sumatera Barat. Fakultas Ilmu Sosialโ€, UNP, Padang,

Lihat pula

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Kota Bukittinggi

Sumatra Tengah. Kota ini pada zaman kolonial Belanda disebut dengan Fort de Kock dan mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatra. Bukittinggi dikenal

Benteng Stelsel

sebuah benteng yang dinamai Fort de Kock, didedikasikan pada Hendrik Merkus de Kock, pelopor Benteng Stelsel. Pendirian Fort de Kock ini berhasil mempersempit

Diponegoro

Jenderal De Kock bertemu dengan Pangeran Diponegoro. Jenderal De Kock didampingi Residen Kedu Valck, Letkol Roest (perwira De Kock), Mayor F.V.H.A de Stuers

Stasiun Bukittinggi

Stasiun Bukittinggi (BKT)โ€”dahulu dikenal sebagai Stasiun Fort de Kockโ€”adalah stasiun kereta api nonaktif kelas II yang terletak di Tarok Dipo, Guguk Panjang

Nawawi Soetan Makmoer

Ia merupakan guru yang terkenal pada Sekolah Raja (Kweekschool) di Fort de Kock (Bukittinggi). Nawawi bersama Charles Adriaan van Ophuijsen dan sejawat

Sineger-neger

agen bus Sibualbuali, melewati Siantar, Sipirok, Padang Panjang dan Fort de Kock. Motor Batang Gadis, Supir natua-tua, Laho tu Sipirok, Mamolus Aek Godang

Muhammad Djamil Djambek

โ€žAntara" meldt uit Fort de Kock, dat op 30 De-cember de heer Moh. Djamil Djambek overleden is, na een ziekte van een week. Hij was lid van de republikeinse

Stasiun Padang Luar

tepatnya Segmen 1 dari Padang Panjang menuju Fort de kock (Bukittinggi). Setelah jalur menuju Fort de Kock (Bukittinggi) selesai dibangun pada tanggal