Mugiyanto
Wakil Menteri Hak Asasi Manusia Indonesia ke-1
Mulai menjabat
21 Oktober 2024
PresidenPrabowo Subianto
MenteriNatalius Pigai
Sebelum
Pendahulu
Eddy Hiariej
Pengganti
Petahana
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir2 November 1973 (umurย 52)
Jepara, Jawa Tengah
Suami/istriMutiara Taripar Pulo
AlmamaterUniversitas Gadjah Mada[1]
Sunting kotak info
Sunting kotak infoย โ€ข Lย โ€ข B
Bantuan penggunaan templat ini

Mugiyanto dipanggil juga dengan nama Mugi atau dikenal juga dengan nama lengkap Mugiyanto Sipin (lahir 2 November 1973) adalah aktivis reformasi 1998 dari SMID, yang diculik dan mengalami penyiksaan.[2] Ia kini aktif memperjuangkan hak asasi manusia dengan menjadi Senior Program Officer HAM dan Demokrasi INFID. Ia juga diangkat menjadi Tenaga Ahli Madya Kedeputian V, Kantor Staf Presiden.[3]

Kronologi penculikan

sunting

Sebelumnya ia bersama aktivis lain telah berusaha bersembunyi karena pengejaran aparat. Mugiyanto bersembunyi di Rusun Klender. Tanggal 13 Maret 1998, ia menghubungi Nezar Patria agar tidak membelikan lagi makanan karena sudah mendapat makanan dari acara yang diikuti sebelumnya, terkait solidaritas untuk Timor Leste. Di acara tersebut ia menyuarakan demokratisasi Indonesia dan sebelumnya juga menyuarakan desakan pembebasan Budiman Sudjatmiko dan Dita Indah Sari di markas Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro.[2]

Gelagat mencurigakan mulai dirasakan Mugiyanto saat sekelompok ibu-ibu menatap kedatangannya lalu buru-buru membubarkan diri. Ia mengetuk pintu kamar, mengira rekannya Aan dan Nezar Patria ada di dalam. Ia lalu membuka kunci dan menyaksikan kamarnya berantakan, laptop raib, dan berbagai buku sudah tidak ada. Gagang telepon juga tidak ditaruh sebagaimana mestinya. Mugiyanto kemudian mengintip keluar dan menyaksikan beberapa orang bertubuh tegap dan berambut cepak berjaga di bawah rusun. Ia berusaha melarikan diri., tetapi posisinya sudah terkepung. Ia kemudian ditangkap tanpa perlawanan berarti. [2]

Mugiyanto kemudian dibawa ke Komando Rayon Militer Duren Sawit. Di sana ia bertemu Jaka, yang ternyata Kapten Inf Jaka Budi Utama, anggota Tim Mawar Kopassus. Mereka dibawa ke Komando Distrik Militer Jakarta Timur, diangkut mobil Polisi Militer. Jaka kemudian menghilang, dan Mugiyanto menduga sedang terjadi saling rebut tahanan antara berbagai kesatuan di tubuh militer. Dari sana ia diambil lagi oleh dua perwira, matanya ditutupi, dan dibawa lagi ke markas Kopassus di Cijantung, Jakarta Timur. [2]

Selama dalam penculikan, Mugiyanto terus disiksa dan diinterogasi terkait aktivitas mereka yang berusaha menurunkan Soeharto, mencabut Dwifungsi ABRI, hingga membangun sistem multipartai. Interogator juga berusaha menyelidiki hubungan mereka dengan Megawati Sukarnoputri dan Abdurrahman Wahid. Keberadaan Andi Arief dan Widji Thukul juga ditanyakan. Ia langsung disiksa dengan pukulan bahkan setruman listrik jika jawabannya dianggap tidak memuaskan. Ia kemudian menyadari disiksa di ruang yang sama dengan Aan dan Nezar Patria. [2]

Tanggal 15 Maret 1998, ketiganya dinyatakan dijerat dengan Undang-Undang Anti Subversi. Akhir Maret ia diperbolehkan menerima kunjungan dari ayahnya. Selama masa ini, ia beberapa kali dipinjam oleh kesatuan lain untuk diperiksa. Pada 6 Juni 1998, setelah Soeharto turun dan UU Subversi ditiadakan, Mugi dan rekan-rekannya dibebaskan. Ia ditampung oleh Pejuang HAM, Munir dan diminta berkeliling mengkampanyekan perlawanan terhadap penghilangan orang di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Selanjutnya iamenjadi koresponden stasiun televisi Belanda, NOS, dan kerap meliput persoalan politik.[2]

Dampak psikologis

sunting

Setelah dilepaskan, ia mengalami trauma secara permanen. Bunyi handie talkie, suara radio membuatnya teringat kembali penculikan tersebut. Ia juga selalu merasa diawasi orang lain saat pergi ke mana pun. [4][5]

Referensi

sunting
  1. ^ Alumni, Kantor. "Kisah Inspiratif Mugiyanto, Alumnus FIB UGM yang Kini Menjadi Wakil Menteri HAM Kabinet Merah Putih โ€“ Portal Alumni Universitas Gadjah Mada". Diakses tanggal 18 Sep 2025.
  2. ^ a b c d e f Kisah Mencekam Mugiyanto, Korban Penculikan 1998 Dekati Maut. dari situs CNN Indonesia
  3. ^ KSP Moeldoko Ajak Tiga Deputi Tampung Kritik dan Masukan Masyarakat NTB. dari situs KSP
  4. ^ Kisah Mugiyanto Korban Penculikan 1998: Aku Dihajar, Disetrum, Diancam Dibunuh. dari situs kumparan
  5. ^ Mugiyanto mencari keadilan. dari situs berita BBC.com

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

International NGO Forum on Indonesian Development

International NGO Forum on Indonesian Development atau disingkat INFID adalah organisasi masyarakat sipil (civil society organization) yang bergerak dalam

Asmara Nababan

Indonesia untuk Demokrasi, International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Perkumpulan HAK di Dili, Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia

Bantuan langsung tunai

itu dibuktikan oleh International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) ketika melakukan penelusuran pada dokumen perjanjian hutang. Mereka juga

A. Patra M. Zen

Procurement Watch (IPW); International NGOs Forum on Indonesian Development (INFID), Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Konsorsium

Pakubuwana III

cakap dan pemberani dalam mengambil sikap politiknya. infid (2017-12-09). "Treaty of Giyanti". infid.be (dalam bahasa American English). Diakses tanggal

Tujuan Pembangunan Milenium

Menurut Direktur Eksekutif International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Don K Marut Pemerintah Indonesia perlu menggalang solidaritas negara-negara

Kelompok Antarpemerintah bagi Indonesia

Sumber: Bappenas, Direktorat Pembiayaan Asing Bilateral. 2003. Dikutip dalam INFID (International NGO Forum on Indonesian Development). Profiles of Indonesia's

Abdul Kholik

tahun 2002, Narasumber Lokakarya Advokasi Hutang Luar Negeri, Penyelenggara INFID tahun 2002, narasumber Diskusi Advokasi Kebijakan Publik, pada Temu Badan