
Floriografi (bahasa bunga) adalah bentuk komunikasi tersandi melalui penggunaan atau pengaturan bunga. Pemberian makna pada bunga telah dikenal selama ribuan tahun, dan berbagai bentuk floriografi telah dipraktikkan dalam kebudayaan tradisional di Eropa, Asia, serta Afrika.
Sejarah
suntingBagian ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. |

Menurut Jayne Alcock, pengawas taman dan kebun di Walled Gardens of Cannington, kebangkitan minat masyarakat era Victoria terhadap bahasa bunga berakar dari tradisi Kekaisaran Utsmaniyah, khususnya di istana Konstantinopel[1], yang kala itu diliputi oleh kegemaran besar terhadap bunga tulip pada paruh pertama abad ke-18. Jauh sebelumnya, pada abad ke-14, tradisi Turki bernama sรฉlam telah memberi pengaruh terhadap konsep bahasa bunga. Sรฉlam merupakan permainan saling memberi bunga dan benda kecil sebagai pesan simbolik, di mana makna pesan tersebut diungkapkan melalui sajak atau rima.[2]
Pada era Victoria, penggunaan bunga sebagai sarana komunikasi rahasia berkembang seiring meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap botani. Gelombang floriografi ini diperkenalkan ke Eropa oleh seorang wanita Inggris, Mary Wortley Montagu (1689โ1762), yang membawa gagasan tersebut ke Inggris pada tahun 1717, dan oleh Aubry de La Mottraye (1674โ1743), yang memperkenalkannya ke istana Swedia pada tahun 1727. Karya Joseph Hammer-Purgstall berjudul Dictionnaire du langage des fleurs (1809) tampaknya merupakan daftar pertama yang mengaitkan bunga dengan makna simbolis, sedangkan kamus floriografi pertama diterbitkan pada tahun 1819 melalui karya Louise Cortambert, yang menulis dengan nama pena Madame Charlotte de la Tour, berjudul Le langage des Fleurs.
Referensi
sunting- ^ "The Language of Flowers". Bridgwater College. 12 Februari 2016. Diakses tanggal 29 Maret 2016.
- ^ "Decoding Love: The Language of Flowers". Tonya Mitchell (dalam bahasa Inggris). 18 Mei 2020. Diakses tanggal 6 Maret 2024.








