Musik di Indonesia sangat beragam, karena suku-suku di Indonesia yang bermacam-macam, sehingga boleh dikatakan seluruh 17.508 pulaunya memiliki budaya dan seninya sendiri. Indonesia memiliki ribuan jenis musik, kadang-kadang diikuti dengan tarian dan pentas.[1]

Alat musik

sunting

Identitas musik Indonesia mulai terbentuk ketika budaya Zaman Perunggu bermigrasi ke Nusantara pada abad ketiga dan kedua Sebelum Masehi. Musik-musik suku tradisional Indonesia umumnya menggunakan alat musik perkusi, terutama gendang dan gong. Beberapa berkembang menjadi musik yang rumit dan berbeda-beda, seperti alat musik petik sasando dari Pulau Rote, angklung dari Jawa Barat, dan musik orkestra gamelan yang kompleks dari Jawa dan Bali

Gong

sunting
Gong kempul

Gong merupakan keluarga alat musik perkusi besi dalam beberapa bentuk yang asal Asia Tenggara, [2] dan merupakan alat musik tradisional bagian dari ensambel gamelan.[3][4]

Bonang dan talempong

sunting
Kelompok talempong

Bonang adalah alat musik gamelan dari keluarga gong,[5] merupakan alat musik yang terdiri atas sepuluh hingga empat belas gong kecil (pencon) yang disusun dua baris dan diletakkan telungkup di atas tali (pluntur) pada sebuah rancakan.[6][7][8][9]

Talempong adalah sebuah alat musik pukul tradisional khas suku Minangkabau terbuat dari logam, perunggu atau besi.[10][11] Bentuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan.[12]

Kacapi suling

sunting

Kacapi suling adalah sejenis musik instrumental yang bergantung pada improvisasi dan populer di provinsi sunda Jawa Barat yang menggunakan dua alat musik, kacapi dan suling.[13] Kacapi suling masih berhubungan dengan tembang Sunda.[14]

Angklung

sunting

Angklung adalah alat musikyang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat.[15][16] Angklung terbuat dari tabung bambu yang terhubung dengan rangka bambu. Angklung dimainkan dengan cara digoyangkan sehingga menghasilkan bunyi dalam susunan nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.[17][18]

Kolintang

sunting

Kolintang (atau kulintang) adalah alat musik perkusi yang terbuat dari kayu dan perunggu asal Indonesia bagian timur dan Filipina.[19][14] Di Indonesia kolintang dihubungkan dengan orang Minahasa dari Sulawesi Utara, tetapi kolintang juga terkenal di Maluku dan Timor.

Sasando

sunting

Sasandu atau sasando adalah alat musik petik yang berasal dari Pulau Rote di Nusa Tenggara Timur.[20][21] Bagian utama sasandu adalah tabung dari bambu dan ganjalan-ganjalan di mana senar direntangkan. Lalu tabung sasandu ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas.[22]

Aliran

sunting
Para sinden

Genre musik Indonesia yang beragam menghasilkan kreativitas musikal bagi orang Indonesia, dan juga pengaruh musik luar dari pertemuan dengan budaya musik luar yang masuk ke Nusantara. Selain bentuk-bentuk musik asli Indonesia (bagaikan karawitan dan dendang), beberapa aliran dapat ditelusuri asalnya dari pengaruh luar; seperti gambus dan kasidah dari musik Islam Timur Tengah, keroncong dari pengaruh Portugis, dan dangdut yang dipengaruhi musik India dan Arab.

Pada tahun 1950, musik latin Amerika masuk ke Indonesia oleh Xavier Cugat dan Edmundo Ros serta Perez Prado, termasuk Trio Los Panchos atau Los Paraguayos. Irama latin ini kemudian lekat dengan orang Indonesia. Kemudian berbagai lagu Minang juga muncul bersama Orkes Gumarang dan Zainal Combo.

Sejak penghujung abad ke-20, dalam beberapa aliran musik populer berkembang lagu-lagu rohani Islam, pemain mereka menggunakan karyanya sebagai alat dakwah. Genre-genrenya utama ialah nasyid (Aa Gym), rock (Ahmad Dhani serta Dewa 19) dan gaya campuran (Cak Nun serta Kiai Kanjeng).[23]

Musik rakyat

sunting

Musik tradisional asli Nusantara ialah musik Rakyat (lagu daerah nenek moyang, musik ritual, tari dan lainnya) dari sejumlah suku bangsa.

Gamelan

sunting
Metalofon
Gong
Seorang pemain Gamelan

Salah satu bentuk musik yang paling dikenal adalah gamelan, musik ini dimainkan oleh beberapa orang bersama alat musik perkusi, seperti metalofon, gong dan rebab bersama dengan suling bambu. Pertunjukan seperti ini umum di negara seperti Indonesia dan Malaysia, tetapi gamelan berasal dari pulau Jawa, Bali dan Lombok.

Dendang

sunting

Dendang merupakan jenis musik vokal yang berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau sebagai tradisi menyanyi sekaligus bagian dari sastra lisan.[24] Dendang Minang juga termasuk dalam bentuk seni musik tradisional yang tergolong ke dalam musik karawitan vokal.[25]

Jaipongan

sunting

Tembang Sunda

sunting

Gambang keromong

sunting

Tanjidor

sunting

Kasidah

sunting

Kasidah masuk Nusantara sejak agama Islam dibawa para saudagar Arab tahun 635, kemudian juga saudagar Gujarat tahun 900–1200, saudagar Persia tahun 1300–1600. Nyanyian Qasidah biasanya berlangsung di masjid, pesantren dakwah agama Islam.

Gambus

sunting

Gambus adalah salah satu alat musik Arab seperti kecapi (mandolin),[26] namun mempunyai suara rendah. Diperkirakan alat musik gambus masuk ke nusantara bersama migrasi Marga Arab Hadramaut (sekarang Yaman) dan orang Mesir mulai tahun 1870 hingga setelah 1888, yaitu setelah Terusan Suez dibuka tahun 1870, pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara dibangun tahun 1877, dan Koninklijke Paketvaart Maatschappij berdiri tahun 1888. Para musisi Arab sering mendendangkan Musik Arab dengan iringan gambus.

Pada awal abad XX penduduk Arab-Indonesia senang mendengarkan lagu gambus, dan sekitar tahun 1930, Syech Albar (ayah dari Ahmad Albar) mendirikan orkes gambus di Surabaya. Ia juga membuat rekaman piringan hitam dengan Columbia tahun 1930-an, yang laku di pasaran Malaysia dan Singapura.

Nasyid

sunting

Di Indonesia, sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim, banyak penyanyi yang menampilkan nasyid tradisional dan kontemporary, salah satu genre musik vokal Islami, baik sebagai lagu utama maupun tambahan dalam repertoarnya.[23]

Keroncong

sunting

Salah satu aliran musik populer Keroncong terbentuk sejak orang Portugis memasuki Indonesia, yang juga membawa alat musik Eropa. Banyak macam aliran musik kedaerahan Portugis seperti saudade dan fado dimainkan dengan diiringi oleh gitar yang seterusnya berubah menjadi musik keroncong. Pada permulaan 1900-an, musik ini dianggap sebagai musik berkualitas rendah. Hal ini berubah pada 1930-an, ketika perfilman Indonesia mulai bergabung dengan musik keroncong, dan mulai berjaya pada dekade berikutnya, ketika musik ini terhubung dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Salah satu lagu keroncong paling terkenal adalah Bengawan Solo, yang ditulis pada tahun 1940 oleh Gesang Martohartono, seorang pemusik dari Solo. Lagu ini ditulis ketika Angkatan Darat Kekaisaran Jepang menguasai pulau Jawa pada Perang Dunia II, lagu tersebut (tentang sungai Bengawan Solo, sungai terpanjang dan terpenting di Jawa) menjadi populer di kalangan orang Jawa, dan terkenal di seluruh Indonesia ketika mulai didengarkan di radio. Lagu ini juga populer di kalangan tentara Jepang, sehingga ketika mereka kembali ke Jepang setelah perang, banyak penyanyi Jepang menyanyikan lagu tersebut dan membuatnya sebagai best-seller.

Langgam Jawa

sunting

Langgam Jawa adalah bentuk adaptasi musik keroncong ke dalam idiom musik Jawa tradisional, khususnya gamelan, yang memadukan alat musik keroncong dengan pola ritmis dan melodi khas gamelan serta syair berbahasa Jawa.

Dangdut

sunting
Penampilan Dangdut

Dangdut adalah salah satu bentuk musik populer yang muncul pada akhir tahun 1960-an. Penyanyi dangdut terkenal adalah Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih, begitu juga dengan Inul Daratista, Evie Tamala, Mansyur S., A. Rafiq, dan Fahmy Shahab.[27][28] Dangdut di Malaysia ialah terkenal juga sebagai simbol bangsa Melayu (namun bukan bagian kebudayaan Melayu).[27]

Campursari

sunting

Sebuah gaya musik perpaduan antara musik tradisional Jawa dan dangdut yang lazim di lingkungan budaya Jawa, terutama Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Mungkin seniman terhebatnya saat ini adalah Didi Kempot. Di Jawa bagian barat, Dangdut Sunda atau versi Campursari dari musik Sunda lahir dan berkembang dari musik Jaipong tradisional dengan tabuhan gendang yang khas.

Pop

sunting
JKT48 tampil di Jakarta–Japan Matsuri 2012

Musik pop Indonesia saat ini, yang dikenal sebagai I-pop atau Indo pop ("pop Indonesia") terkadang dipengaruhi oleh tren dan rekaman dari musik Barat. Meskipun pengaruh dari pop Amerika, pop Inggris, dan juga J-pop Asia terlihat jelas, fenomena pop Indonesia tidak sepenuhnya turunan; ia mengekspresikan sentimen dan gaya kehidupan Indonesia kontemporer.

Koes Bersaudara yang kemudian dibentuk sebagai Koes Plus dianggap sebagai salah satu pelopor musik pop dan rock and roll Indonesia pada tahun 1960-an dan 1970-an. Pengaruh musik Amerika dan Inggris terlihat jelas dalam musik Koes Bersaudara, The Beatles dikenal sebagai pengaruh utama band ini. Beberapa musisi Indonesia bertahan selama beberapa dekade dan menjadi legenda musik Indonesia, seperti penyanyi pop dan balada Iwan Fals dan Chrisye, serta maestro pop dan dangdut Rhoma Irama. Salah satu penyanyi Indonesia paling berpengaruh di kancah musik pop, terutama di awal tahun 2000-an, adalah Agnes Monica, yang kemudian dikenal sebagai Agnez Mo.

Pada akhir 90-an hingga 2000-an, band-band pop/poprock populer antara lain Slank, Dewa 19, Peterpan, Gigi, Sheila on 7, Jamrud, Padi, Ungu, Radja, Letto, D'Masiv, dan Nidji, yang semuanya rutin tur di Indonesia, Singapura, dan Malaysia, serta ditampilkan di MTV Asia.

Musik pop Indonesia dari tahun 1980-an hingga 90-an, yang dikenal sebagai Pop Kreatif, umumnya disebut sebagai "city pop Indonesia", karena dianggap mirip dengan genre Jepang. Genre city pop Jepang dan Pop Kreatif sendiri mendapatkan popularitas di kalangan anak muda dan musisi amatir pada akhir 2010-an melalui internet.

Pengaruh asing terbaru pada musik pop Indonesia dipengaruhi oleh pop Jepang. Beberapa band seperti J-Rocks meniru budaya pop Jepang. Grup perempuan juga menyebar di antara grup laki-laki, seperti 7icons dan Cherrybelle, serta JKT48 yang merupakan cabang dari AKB48 Jepang

Rock

sunting

Layaknya musik pop, kancah musik rock Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan musik rock di Amerika. Band rock Indonesia yang paling berpengaruh kemungkinan besar adalah Panbers, God Bless, dan D'Lloyd yang populer pada tahun 1970-an dan 1980-an. Pada akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an, beberapa penyanyi rock wanita yang dikenal sebagai "Lady Rockers" terkenal di Indonesia, seperti Nicky Astria, Nike Ardilla, dan Anggun yang memulai kariernya sebagai penyanyi pop-rock di Indonesia sebelum pindah ke Prancis dan mengejar karier internasionalnya. Band hard rock dan pop-rock ternama lainnya antara lain Slank, Jamrud, Dewa 19,Gigi

Band-band metal juga ada, seperti band metalcore Killing Me Inside, band Death Metal/Grindcore Jasad, dan band Groove Metal/Metalcore Burgerkill. Musik punk juga meraih kesuksesan yang konsisten di ranah bawah tanah, dengan band-band seperti Netral yang menembus arus utama. Musisi ska yang terkenal adalah Tipe-X.

Reggae

sunting

Sejak dasawarsa 1970-an, reggae adalah salah satu aliran musik terpopuler, termasuk fuzinya dengan dangdut, pop daerah dan genre lainya. Beberapa nama musisi yang terkenal dalam dunia reggae dan sub-ragamnya Indonesia antara lain: Imanez, Tony Q Rastafara, Nonk'Q Nongkray, Mbah Surip, Dhyo Haw, Amtenar, dan grup Steven & Coconut Treez, Shaggydog, dan Souljah

Gospel

sunting

Musik gospel juga memiliki pengaruh besar di Indonesia. Musik gospel mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an ketika dibawa oleh tokoh-tokoh evangelis Amerika Serikat (Gerakan Evangelis). Musik gospel sendiri mengalami puncak popularitasnya di Indonesia pada tahun 1991-an, di mana Franky Sihombing banyak menciptakan lagu-lagu rohani Kristen. Masuknya musik gospel ke Indonesia memang tidak banyak diminati oleh para pencinta musik di Indonesia, tetapi membawa banyak perubahan pada musik gereja. Saat ini, banyak gereja di Indonesia menggunakan musik gospel sebagai sarana ibadah mereka. Selain itu, banyak juga musisi gospel ternama Indonesia yang merilis lagu-lagu untuk jemaat di Indonesia sebagai sarana penginjilan dan pemuridan. Selain itu, banyak juga musisi gospel ternama Indonesia seperti Joy Tobing, Sidney Mohede, Sari Simorangkir dan Franky Sihombing serta musisi tim pujian dan penyembahan gereja seperti JPCC Worship. Musik gospel di Indonesia kini telah berkembang menjadi genre musik religi Kristen yang utuh.

Dalam beberapa tahun terakhir, musik gospel juga semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya umat Kristen. Konser musik gospel yang diadakan di Indonesia selalu dipadati penggemar musik gospel dari berbagai kalangan, terutama pada acara kebaktian kebangunan rohani Kristen. Selain itu, musik gospel Indonesia juga populer di gereja-gereja di negara tetangga, seperti Malaysia, hal ini wajar karena bahasa Malaysia digunakan di negara tersebut sebagai bahasa resmi dan bahasa pengantar ibadah, yang memiliki kesamaan dengan bahasa Indonesia sehingga saling berkaitan erat dan sebagian dapat dipahami bersama.

Hip hop

sunting

Di Indonesia, musik hip-hop umumnya pertama kali diperkenalkan oleh Benyamin Sueb dan Farid Hardja. Kemudian, musisi hip-hop lain juga memperkenalkan musik hip-hop kepada publik, seperti Iwa-K dan musisi hip-hop lainnya.

Pada era 80-an, ketika anak muda masih menggemari musik rock, Iwa-K mulai tertarik dengan musik rap, sebuah genre musik yang lebih menekankan teknik berceloteh daripada penggunaan alat musik.

Funkot

sunting

Funkot adalah sebuah genre musik dansa elektronik asal Indonesia yang lahir pada tahun 1990-an.

Jaz

sunting

Beberapa musisi dan band Indonesia mengeksplorasi musik jazz. Musisi jazz Indonesia ternama antara lain Jack Lesmana, Benny Likumahuwa, Benny Mustafa, Maryono, Bubi Chen Maliq & D'Essentials. Berbagai grup lain memadukan musik jazz fusion kontemporer ala Barat dengan tradisi musik etnik tradisional dari kampung halaman mereka. Krakatau dan Samba Sunda, band-band asal Jawa Barat, menampilkan kacapi suling dan orkes gamelan tradisional Sunda, diiringi drum set, keyboard, dan gitar. Jakarta International Java Jazz Festival diselenggarakan setiap tahun. Perkembangan terkini musik jazz di Indonesia tecermin dengan banyaknya Festival Jazz yang diselenggarakan setiap tahun.

Klasik

sunting

Masih pada zaman Hindia Belanda, buat musik klasik Barat pernah mendirikan Bataviasche Philharmonic Orchestra. Setelah kemerdekaan Indonesia, muncul Djakarta Radio Orchestra di bawah pimpinan Henkie Strake, The Jakarta Symphony, Jakarta Chamber Orchestra, Nusantara Symphony Orchestra, dan Twilite Orchestra yang dipimpin oleh Addie M.S.

Di antara tokoh asal Indonesia yang menggarap genre musik klasik, yaitu komponis Ananda Sukarlan serta Sinta Wullur (en); para pianis: Hendry Wijaya, Eduardus Halim (en), Esther Budiardjo (en), Victoria Audrey Sarasvathi (en); pemusik seruling Embong Rahardjo; para penyanyi sopran Pranawengrum Katamsi, Aning Katamsi, dan Isyana Sarasvati.

Komponis Indonesia yang dianggap paling menonjol dan terkenal di seluruh dunia dalam musik klasik/kontemporer adalah Ananda Sukarlan, dengan banyak karya orkestra, kamar, dan instrumental. Karya-karyanya yang paling terkenal adalah serangkaian Rapsodia Nusantara yang virtuoso untuk piano solo, dengan motif musikal berdasarkan lagu-lagu daerah Indonesia. Selain itu ia juga komponis Indonesia yang paling banyak mencipta Tembang Puitik (Art Song), yaitu karya musik berdasarkan puisi / sastra. Saat ini ia telah mencipta lebih dari 500 tembang puitik. Karya-karyanya banyak ditampilkan di seluruh dunia.

Lihat juga

sunting

Rujukan

sunting
  1. ^ "Indonesia - Geography". countrystudies.us (dalam bahasa Inggris).
  2. ^ "Gong | Asian origin, percussion, metal | Britannica". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-01-15.
  3. ^ parto.id. "Gong Ruwukan". Gong Ruwukan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-18.
  4. ^ Dewi, Ni Luh Putu Chandra; Estudiantin, Nusi Lisabilla; Yogaswara, Wawan; Yulita, Ita; Moerdianti, Retno (2008). Informasi Koleksi Musik Tradisional Indonesia (PDF). Jakarta: Museum Nasional. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ^ Nurwanti, Y. H., & Munawaroh, S. (2019). Dhangglung Lumajang: Pertunjukan dan pelestarian (Ed. 1). BPNB D.I. Yogyakarta. hlm. 59
  6. ^ Soedjiono, S. (1995). Album alat musik tradisional. hlm.5 Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
  7. ^ "Mengenal Alat Musik Tradisional Bonang, Jenis-Jenis, dan Cara Memainkannya". kumparan. Diakses tanggal 2026-01-21.
  8. ^ Bouvier, Hélène (2002). Lèbur: seni musik dan pertunjukan dalam masyarakat Madura. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 64. ISBN 978-979-461-420-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ^ Bentuk-bentuk peralatan hiburan dan kesenian tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya. 1990. hlm. 101–102. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ^ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 55
  11. ^ dkk, R. Toto Sugiarto (2021-05-01). Ensiklopedi Alat Musik Tradisional: Sulawesi Tenggara hingga Sumatera Utara. Hikam Pustaka. hlm. 6–7. ISBN 978-623-311-198-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. ^ Prosiding Seminar Nasional Ekspresi Seni Suku Bangsa di Garis Margin NKRI Wilayah Batas Hutan dan Laut, ISI Surakarta, 24 November 2011. ISI Press Surakarta untuk Program Pascasarjana ISI Surakarta. 2011. hlm. 83. ISBN 978-602-8755-49-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ^ Restian, Arina; Regina, Belinda Dewi; Wijoyanto, Danang (2022-03-08). Seni Budaya Jawa dan Karawitan. UMMPress. hlm. 15. ISBN 978-979-796-704-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ^ a b Miller, Terry E.; Williams, Sean (2017-09-25). The Garland Encyclopedia of World Music: Volume 4: Southeast Asia (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-351-54420-7.
  15. ^ Bahij, Azmi Al. 2013. Sejarah 34 Provinsi Indonesia. Edisi pertama. Jakarta: Dunia Cerdas. hlm.167
  16. ^ Melalatoa, M. J. (2012). Ensiklopedia suku, seni dan budaya nasional: Abal sampai Berangas (Jilid 1, ed. revisi). Ensiklopedia Nasional Indonesia. hlm. 49
  17. ^ Paluseri, Dais Dharmawan; Murdiartono, Dwi; Syahdenal, Lintang Maraya (2013). Warisan budaya takbenda Indonesia: penetapan tahun 2013. Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 66. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  18. ^ Sjamsuddin, Helius; Winitasasmita, Hidayat (1986-01-01). Daeng Soetigna: Bapak Angklung Indonesia. Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 34. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  19. ^ Wenas, Jessy (2007). Sejarah dan kebudayaan Minahasa. Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. hlm. 109–110. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  20. ^ dkk, R. Toto Sugiarto (2021-05-01). Ensiklopedi Alat Musik Tradisional: Nusa Tenggara Timur hingga Sulawesi Tengah. Hikam Pustaka. hlm. 3. ISBN 978-623-311-197-3. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  21. ^ Liliweri, Prof Dr Alo (2021-05-01). Makna Seni dan Kesenian: Seri Pengantar Studi Kebudayaan. Nusamedia. hlm. 15. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  22. ^ "Sasando, Alat Musik Berdawai Khas Pulau Rote". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2026-01-21.
  23. ^ a b Knauth, Dorcinda Celiena (2010), Performing Islam Through Indonesian Pipular Music, 2002–2007 (PhD thesis) (dalam bahasa Inggris), University of Pittsburgh Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  24. ^ Suryadi (1993). Dendang Pauah: cerita orang Lubuk Sikaping. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-159-3.
  25. ^ Kasman, Selvi; Pratiwi, Endah Yusma; Febrianty, Syielvi Dwi; Yusnelli, Yusnelli; Nofridayati, Nofridayati; Adiani, Ningroom; Syafniati, Syafniati; Murniati, Murniati (2023-10-11). Universalisme Kesenian. CV. Gita Lentera. hlm. 94. ISBN 978-623-09-5818-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  26. ^ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm.47
  27. ^ a b Campbell, Debe (18 April 1998), "Dangdut Thrives in SE Asia. Music Rules Indonesia", Billboard (dalam bahasa Inggris), vol. 110, no. 16, hlm. 1, 75, ISSN 0006-2510
  28. ^ Browne, Susan J. (2000). The gender implications of dangdut kampungan: Indonesian "low class" popular music (dalam bahasa Inggris). Monash Asia Institute. ISBN 0-7326-1190-3.

Bacaan lanjutan

sunting
  • Music of Indonesia [Series]. Ed. by Philip Yampolsky. Washington, DC: Smithsonian/Folkways, 1990–1999. 20 Compact Discs with Liner Notes. Bibliography.
    • Vol. 1: Songs Before Dawn: Gandrung Banyuwangi.
    • Vol. 2: Indonesian Popular Music: Kroncong, Dangdut, & Langgam Jawa.
    • Vol. 3: Music from the Outskirts of Jakarta: Gambang Kromong.
    • Vol. 4: Music of Nias & North Sumatra: Hoho, Gendang Karo, Gondang Toba.
    • Vol. 5: Betawi and Sundanese Music of the North Coast of Java.
    • Vol. 6: Night Music of West Sumatra.
    • Vol. 7: Music from the Forests of Riau and Mentawai.
    • Vol. 8: Vocal and Instrumental Music from East and Central Flores.
    • Vol. 9: Vocal Music from Central and West Flores.
    • Vol. 10: Music of Biak, Irian Jaya.
    • Vol. 11: Melayu Music of Sumatra and the Riau Islands.
    • Vol. 12: Gongs and Vocal Music from Sumatra.
    • Vol. 13: Kalimantan Strings.
    • Vol. 14: Lombok, Kalimantan, Banyumas: Little-known Forms of Gamelan and Wayang.
    • Vol. 15: South Sulawesi Strings.
    • Vol. 16: Music from the Southeast: Sumbawa, Sumba, Timor.
    • Vol. 17: Kalimantan: Daya Ritual and Festival Music.
    • Vol. 18: Sulawesi: Festivals, Funerals, and Work.
    • Vol. 19: Music of Maluku: Halmahera, Buru, Kei.
    • Vol. 20: Indonesian Guitars.
  • Sakrie, Denny (2015). 100 Tahun Musik Indonesia. Editor ahli David Tarigan. Jakarta: GagasMedia. ISBN 979-780-785-1.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Seventeen (grup musik Indonesia)

Seventeen merupakan sebuah grup musik pop rock asal Yogyakarta, Indonesia yang aktif antara 17 Januari 1999 hingga 24 Desember 2018. Pada 22 Desember

Anugerah Musik Indonesia

Anugerah Musik Indonesia (sering disebut dan disingkat sebagai AMI Awards; dahulu BASF Awards dan HDX Awards) adalah sebuah penghargaan yang diberikan

Daftar grup musik Indonesia

Ini adalah daftar grup musik Indonesia. Daftar isi:  !$@ 0–9 A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Anugerah Musik Indonesia 2025

Anugerah Musik Indonesia 2025 merupakan gelaran penghargaan musik Anugerah Musik Indonesia ke-28. AMI Awards merupakan penghargaan tertinggi untuk Musik Indonesia

Indonesia

Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak ragam dari pelbagai daerah di Indonesia, tetapi banyak pula alat musik tradisional

Element (grup musik Indonesia)

Element adalah grup musik yang berdiri tanggal 14 Februari 1999. Saat ini, anggota grup tersebut adalah Didi Riyadi (drummer), Ferdy Tahier (vokalis)

Museum Musik Indonesia

Museum Musik Indonesia (MMI) merupakan satu-satunya museum seni musik di Indonesia, berada di Kota Malang, Jawa Timur. Tiap-tiap aspek kehidupan memiliki

Smash (grup musik Indonesia)

Smash dirilis pada tahun yang sama di Indonesia dan negara-negara tetangga. Smash membuat industri musik Indonesia berubah sepanjang tahun 2011, yang awalnya