Sesar Semangko
Sesar besar Sumatra
LokasiSumatra
NegaraIndonesia
ProvinsiAceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Lampung
Karakteristik
Panjang~1650-1900km
Pergeseran15โ€“20ย mm (0,59โ€“0,79ย in)/tahun
Tektonika lempeng
LempengLempeng Australia, Lempeng Sunda
Gempa bumiGempa bumi Kerinci 1909 (M7.6)
Gempa bumi Padang Panjang 1926 (M6.4)
Gempa bumi Sumatra 1933 (M7.5)
Gempa bumi Alahan Panjang 1943 (M7.7)
Gempa bumi Aceh 1964 (M7.0)[1]
Gempa bumi Liwa 1994 (M7.0)
Gempa bumi Kerinci 1995 (M6.8)
Gempa bumi Sumatra Maret 2007 (M6.4)
Gempa bumi Pasaman Barat 2022 (M6.2)
JenisStrike-slip, Transform fault
Ngarai Sianok yang terbentuk akibat adanya patahan Semangko.

Sesar atau Patahan Semangko (bahasa Inggris: Great Sumatran Fault, "Sesar Besar Sumatra") adalah sebuah Patahan transform aktif yang membentang di Pulau Sumatra dari utara ke selatan, dimulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. Patahan inilah membentuk Pegunungan Barisan, suatu rangkaian dataran tinggi di sisi barat pulau ini. Patahan Semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok dan Lembah Anai di dekat Kota Bukittinggi. Patahan ini adalah patahan paling aktif secara seismik dan terpanjang di Indonesia dengan panjang 1.900 kilometer (1.200ย mi), membentang dari provinsi Aceh hingga Lampung. Patahan ini menjadi ancaman besar bagi penduduk Sumatra (terutama wilayah pesisir selatan), dengan ancaman gempa bumi yang sangat tinggi. Sesar Semangko menjadi salah satu patahan aktif yang paling berbahaya di Indonesia, bersamaan dengan Sesar Naik Flores, dan Sesar Palu-Koro.

Pulau Sumatra, Indonesia, terletak di area seismik yang tinggi di dunia. Selain adanya zona subduksi dan asosiasi busur sunda di bagian pantai barat pulau tersebut, Sumatra juga mempunyai sesar strike-slip yang besar, yang biasa disebut Sesar Sumatra besar (Great sumatran fault), yang menggerakkan sepanjang pulau. Zona sesar ini mengakomodir sebagian besar gerakan strike-slip yang berasosiasi dengan konvergen oblique antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Sesar tersebut berakhir di utara tepat dibawah kota Banda Aceh, yang pernah porak-poranda pada Gempa bumi samudra hindia pada tahun 2004 lalu. Semenjak gempa tersebut, tekanan pada Sesar Sumatra meningkat secara signifikan, terutama di wilayah utara. Patahan ini merupakan patahan geser, seperti patahan San Andreas di California.

Patahan Semangko terletak di antara Zona Semangko patahan Lampung. Bagian selatan dari blok Semangko terbagi menjadi bentang alam menjadi seperti pegunungan Semangko, Depresi Ulehbeluh dan Walima, Horst Ratai dan Depresi Teluk Belitung. Sedangkan bagian utara blok Semangko berbentuk seperti Dome (diameter +40 Km). Patahan Semangko adalah bentukan geologi yang membentang di pulau Sumatra dari selatan ke utara. Patahan inilah yang membentuk pegunungan Barisan, suatu rangkaian dataran tinggi di sisi barat pulau Sumatra. Patahan ini relatif lebih muda dan paling mudah terlihat di daerah ngarai Sianok dan Lembah Anai di dekat kota Padang Panjang.

Ngarai Sianok di Bukittinggi, wujud dari Sesar Semangko

Terbentuknya Patahan Semangko bermula sejak jutaan tahun lampau saat Lempeng (Samudra) Hindia-Australia menabrak secara menyerong bagian barat Sumatra yang menjadi bagian dari Lempeng (Benua) Eurasia. Tabrakan menyerong ini memicu munculnya 2 komponen gaya. Komponen pertama bersifat tegak lurus, menyeret ujung Lempeng Hindia masuk ke bawah Lempeng Sumatra. Batas kedua lempeng ini sampai kedalaman 40 kilometer umumnya mempunyai sifat regas dan di beberapa tempat terekat erat. Suatu saat, tekanan yang terhimpun tidak sanggup lagi ditahan sehingga menghasilkan gempa bumi yang berpusat di sekitar zona penunjaman atau zona subduksi. Setelah itu, bidang kontak akan merekat lagi sampai suatu saat nanti kembali terjadi gempa bumi besar. Gempa di zona inilah yang sering memicu terjadinya tsunami, sebagaimana terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004. Adapun komponen kedua berupa gaya horizontal yang sejajar arah palung dan menyeret bagian barat pulau ini ke arah barat laut. Gaya inilah yang menciptakan retakan memanjang sejajar batas lempeng, yang kemudian dikenal sebagai Patahan Besar Sumatra. Geolog Katili dalam The Great Sumatran Fault (1967) menyebutkan, retakan ini terbentuk pada periode Miosen Tengah atau sekitar 13 juta tahun lalu. Lempeng Bumi di bagian barat Patahan Sumatra ini senantiasa bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan 10 milimeter per tahun sampai 30ย mm per tahun relatif terhadap bagian di timurnya. Sebagaimana di zona subduksi, bidang Patahan Sumatra ini sampai kedalaman 10 kilometer-20ย km terkunci erat sehingga terjadi akumulasi tekanan. Suatu saat, tekanan yang terkumpul sudah demikian besar sehingga bidang kontak di zona patahan tidak kuat lagi menahan dan kemudian pecah. Batuan di kanan-kirinya melenting tiba-tiba dengan kuat sehingga terjadilah gempa bumi besar. Setelah gempa, bidang patahan akan kembali merekat dan terkunci lagi dan mengumpulkan tekanan elastik sampai suatu hari nanti terjadi gempa bumi besar lagi. Pusat gempa di Patahan Sumatra pada umumnya dangkal dan dekat dengan permukiman. Dampak energi yang dilepas dirasakan sangat keras dan biasanya sangat merusak. Apalagi gempa bumi di zona patahan selalu disertai gerakan horizontal yang menyebabkan retaknya tanah yang akan merobohkan bangunan di atasnya. Topografi di sepanjang zona patahan yang dikepung Bukit Barisan juga bisa memicu tanah longsor. Adapun lapisan tanah yang dilapisi abu vulkanik semakin memperkuat efek guncangan gempa. Beberapa tempat di Patahan Semangko merupakan pula zona lemah yang ditembus magma dari dalam bumi. Getaran gempa bumi bisa menyebabkan air permukaan bersentuhan dengan magma. Karena itu, pada saat gempa bumi, kerap terjadi letupan uap (letupan freatik) yang dapat diikuti munculnya gas beracun, sebagaimana terjadi di Suoh, Lampung, pada 1933.

Signifikansi geologis

sunting

Sesar Besar Sumatera adalah bagian dari sistem dimana partisi regangan pertama kali dijelaskan dalam tektonik lempeng.[2] Konvergensi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Sunda tidak tegak lurus dengan batas lempeng di wilayah ini. Sebaliknya, kedua lempeng bergerak pada sudut miring. Sebagian besar regangan konvergen diakomodasi oleh gerakan dorong pada batas lempeng sesar "megathrust" yang mendefinisikan Palung Sunda. Namun gerak miring (bagian dari gerak lempeng yang sejajar dengan batas lempeng) diakomodasi oleh Sesar Besar Sumatera, yang membentang di sepanjang Busur Sunda vulkanik.

Daerah antara sesar dorong batas lempeng utama dan sesar Sumatera Besar membentuk โ€œlempeng sliverโ€ yang meliputi seluruh busur depan lepas pantai, pulau-pulau busur depan, dan sebagian Sumatera di sebelah barat Sesar Besar Sumatera. Pelat sliver ini bukan satu blok kaku, dan detail deformasi internalnya sedang diselidiki secara aktif.[3]

Daftar Segmen Sesar Sumatra (Sumatran Fault)

sunting

Sumber:

  • PuSGeN 2017
  • PuSGeN 2024 (Update)
  • Peta Sesar Aktif Indonesia[4]
  • Katalog Seismisitas BMKG (2008-2023)
Sesar Besar Sumatra


Struktur Sesar Nama Segmen Panjang (km) Laju Pergeseran (mm/tahun) Gerak Sesar Mmax(Mw) Sejarah Gempa(Mw)
Sumatran Fault Nikobar 164 18 Geser Menganan 7.1
Seulimeum Utara 222 18 Geser Menganan 7.4 1964 = 7.0
Seulimeum Selatan 38 6 Geser Menganan 6.8
Aceh-Utara 65 14 Geser Menganan 7.1
Aceh-Tengah 142 14 Geser Menganan 7.6
Aceh-Selatan 27 14 Geser Menganan 6.6
Batee-A 45 6 Geser Menganan 6.7
Batee-B 50 0,5 Geser Menganan 6.2
Batee-C 37 0,1 Geser Menganan 7.0
Tripa-1 33 16 Naik 6.8
Tripa-2 105 8 Geser Menganan 7.4 1935 = 7.0
Tripa-3 69 16 Geser Menganan 7.3 1936 = 7.1
Tripa-4 55 8 Geser Menganan 7.0
Tripa-5 21 8 Geser Menganan 6.5
Renun 195 14 Geser Menganan 7.8 1921 = 6.7
Samosir 32 5 Geser Menganan 7.0
Toru-1 75 14 Geser Menganan 7.2 1874 = 6.4
Toru-2 29 9,3 Geser Menganan 6.6
Angkola-Main 130 10 Geser 7.5 1892 = 7.5
Angkola-Selatan A 47 10 Geser Menganan 7.0
Angkola-Selatan B 30 5 Geser 6.6
Barumun 123 14 Geser Menganan 7.5
Talamau 29 29 Geser Menganan 6.1 2022 = 6.2
Sumpur 48 14 Geser Menganan 6.7
Sianok 94 14 Geser Menganan 7.3 1926 = 6.4, 2007 = 6.3
Sumani 67 14 Geser Menganan 7.1 1926 = 6.7, 2007 = 6.4
Suliti 101 14 Geser Menganan 7.4 1943 = 7.7
Siulak 92 14 Geser Menganan 7.3 1909 = 7.6, 1995 = 6.8
Dikit 67 12 Geser Menganan 7.1 2009 = 6.6
Ketaun 103 13 Geser Menganan 7.3 1943 = 7.4
Musi 86 12 Geser Menganan 7.2 1900 = 7.0
Manna 82 12 Geser Menganan 7.3 1893 = 7.0
Kumering Utara 113 11 Geser Menganan 7.6 1933 = 7.5
Kumering Selatan 63 11 Geser Menganan 7.6 1933 = 7.5, 1994 = 6.8
Semangko Barat-A 21 8 Geser Menganan 7.3
Semangko Barat-B 113 8 Geser Menganan 7.3 1908 = 7.0
Semangko Timur-A 94 3 Geser Menganan 6.1
Semangko Timur-B 85 3 Geser Menganan 7.5
Selat Sunda Graben 84 3 Turun 7.3
Ujung Kulon A 79 10 Geser Menganan 7.2
Ujung Kulon B 152 10 Geser Menganan 7.2

Catatan gempa bumi

sunting
Kerusakan akibat Gempa bumi Padang Panjang 1926

Patahan Semangko beberapa kali mengalami gempa bumi besar sejak tahun 1900, beberapa peristiwa besar diantaranya;

Nama Magnitudo Korban Catatan Ref.
Gempa bumi Kerinci 1909 7.6 Mw 190โ€“230 tewas Patahan strike-slip dangkal di wilayah Kerinci. Antara 190โ€“230 orang tewas, dan ribuan bangunan rusak atau hancur total.
Gempa bumi Padang Panjang 1926 6.4 Mw 354 tewas Gempa berpusat dekat Kota Padangpanjang di wilayah Sumatera Barat, setidaknya 354 orang meninggal
Gempa bumi Sumatra 1933 7.5 Mw 788 tewas Episentrum dekat kota Liwa, Lampung. Kerusakan berat terjadi di seluruh provinsi, hingga sejauh Bengkulu, Banten, dan Jakarta, 76 orang dilaporkan tewas [5]
Gempa bumi Sumatera Utara 1936 7.2 Mw Tidak diketahui Episentrum dekat perbatasan antara provinsi Aceh dan Sumatera Utara. [6]
Gempa bumi Alahan Panjang 1943 7.7 Mw & 7.3 Mw Tidak diketahui Gempa ini adalah serangkaian gempa besar di Sumatera Barat, korban dan kerusakan tidak ketahui
Gempa bumi Banda Aceh 1964 7.0 Mw Tidak diketahui Episentrum berpusat 5 km dari kota Banda Aceh, kerusakan dan korban tidak diketahui. [7]
Gempa bumi Liwa 1994 7.0 Mw 207 tewas, 2.000 luka-luka Gempa berpusat di Liwa, Kabupaten Lampung Barat, kerusakan berat terjadi di Liwa, 207 orang dilaporkan tewas.
Gempa bumi Kerinci 1995 6.8 Mw 84โ€“100 tewas, 2.200 luka-luka Episentrum berada di Kabupaten Kerinci, Jambi, sedikitnya 84 hingga 100 orang meninggal.
Gempa bumi Sumatra Maret 2007 6.4 Mw 68 tewas, 460 luka-luka Gempa ini adalah serangkaian gempa kuat di wilayah Sumatera Barat, 68 orang dilaporkan tewas.
Gempa bumi Pasaman Barat 2022 6.2 Mw 27 tewas, 457 luka-luka Episentrum berada di Kabupaten Pasaman Barat, sekitar 27 orang meninggal dan banyak yang terluka.

Lihat juga

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "M 7.0 - 5 km NE of Banda Aceh, Indonesia". USGS Earthquake Hazards Program. Diakses tanggal 1 February 2022.
  2. ^ Fitch, Thomas (1972). "Plate Convergence, Transcurrent Faults, and Internal Deformation Adjacent to Southeast Asia and the Western Pacific". Journal of Geophysical Research. 77 (23): 4432โ€“4460. Bibcode:1972JGR....77.4432F. doi:10.1029/jb077i023p04432. hdl:2060/19720023718.
  3. ^ Bradley, Kyle (2016). "Implications of the diffuse deformation of the Indian Ocean lithosphere for slip partitioning of oblique plate convergence in Sumatra". Journal of Geophysical Research. 121: 572โ€“591. Bibcode:2017JGRB..122..572B. doi:10.1002/2016JB013549.
  4. ^ "Peta Sesar Aktif Indonesia". @gempa.dunia. Diakses tanggal 01 September 2024.
  5. ^ "M 7.5 - 54 km SW of Kotabumi, Indonesia". USGS Earthquake Hazards Program. Diakses tanggal 1 February 2022.
  6. ^ "M 7.2 - 90 km WSW of Pangkalan Brandan, Indonesia". USGS Earthquake Hazards Program. Diakses tanggal 1 February 2022.
  7. ^ "M 7.0 - 5 km NE of Banda Aceh, Indonesia". USGS Earthquake Hazards Program. Diakses tanggal 1 February 2022.

Pranala luar

sunting

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Patahan transform

California, A.S Patahan Anatolia Utara - Turki Patahan Semangko - Indonesia Patahan Palu-Koro - Indonesia Patahan Alpen - Selandia Baru Sesar Ubahan Bentuk

Patahan (geologi)

Beberapa contoh Patahan mendatar atau strike-slip fault adalah; Patahan Lembang di Jawa Barat, Patahan Semangko di Sumatra, dan Patahan San Andreas di

Daftar sesar aktif di Indonesia

banyaknya patahan yang masih aktif dan rawan terjadinya gempa bumi. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 401 patahan aktif, tetapi banyak patahan aktif lainnya

Gempa bumi Sumatra 1933

pergeseran Sesar Semangko. Pada 16 Februari 1994, sekitar 61 tahun kemudian, gempa besar serupa kekuatan 6,9 Mw akibat sistem patahan yang sama menghantam

Gempa bumi Sumatra Barat 2009

Gempa pertama terjadi pada daerah patahan Mentawai (di bawah laut) sementara gempa kedua terjadi pada patahan Semangko di daratan. Getaran gempa pertama

Sesar San Andreas

(bahasa Inggris: San Andreas Faultcode: en is deprecated ) atau Patahan San Andreas adalah Patahan transform aktif besar yang membentang dari negara bagian California

Sumatera Barat

Indonesia. Hal ini disebabkan karena letaknya yang berada pada jalur patahan Semangko, tepat di antara pertemuan dua lempeng benua besar, yaitu Eurasia dan

Gunung Besar

Marga Bayur terletak di sepanjang sisi utara-selatan-barat (sistem patahan Semangko). Gunung ini pertama kali diidentifikasikan oleh Neumann van Padang