James Hutton: Pemimin plutonisme

Plutonisme adalah pendapat dalam petrologi yang menyatakan bahwa semua batu-batuan adalah akibat dari kegiatan panas perut bumi, termasuk segala peristiwa penyusupan magma di antara lapisan-lapisan kulit bumi dan hal-hal yang mengenai intrusi serta prosesnya.[1] Hal ini berlawanan dengan neptunisme yang menyatakan bahwa batuan terbentuk melalui sedimentasi.[2] Plutonisme awalnya dikemukakan oleh Abbe Anton Moro (1687-1750) berdasarkan studi pulau vulkanik dan dikembangkan oleh James Hutton (ilmuwan Skotlandia dan pemimpin plutonisme).[3][4] Hutton memandang bumi sebagai tubuh yang dinamis yang berfungsi sebagai mesin pemanas.[4] Panas tersebut mengalir ke bawah benua dan meninggalkan sedimen di laut.[4] Panas menyebabkan bagian terluar dari bumi meluas dan mengangkat sedimen di laut untuk membentuk benua baru.[4]

Perbedaan plutonisme dengan neptunisme

sunting

Perbedaan paling signifikan antara plutonisme dan neptunisme adalah mengenai asumsi awal.[3] Abrahan Werner (neptunis) percaya pada pemahaman sejarah bumi dan gagasan proses transformasi bertahap serta uniformitarianisme.[3] Akan tetapi, ia tidak secara penuh menerima prinsip uniformitarianisme.[3] Bagi para neptunis, masa sekarang adalah kunci dari masa lalu.[3] Sementara itu, James Hutton (plutonis) menyatakan bahwa masa sekarang harus bisa menjelaskan semua proses pada masa lalu.[3]

Referensi

sunting
  1. ^ Ichtiar Baru Van Hoeve; Hassan Shadily. Ensiklopedia Indonesia, Jilid 7 (edisi khusus). Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  2. ^ "Plutonism". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-09-06. Diakses tanggal 25 Juni 2014.
  3. ^ a b c d e f "Section Two: The Early Development of Modern Geology". Diarsipkan dari asli tanggal 2008-07-01. Diakses tanggal 25 Juni 2014.
  4. ^ a b c d "Plutonism". Diakses tanggal 25 Juni 2014.

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Charles Darwin

Jameson, yang mencakup geologi – termasuk perdebatan antara neptunisme dan plutonisme. Ia mempelajari klasifikasi tumbuhan. Ia membantu pengerjaan koleksi Museum

Neptunisme

sebagai "neptunis") dan mereka yang mendukung sebuah teori rivalnya, yaitu plutonisme, yang memberi peran signifikan ke asal-usul vulkanik, yang dalam bentuk

Pluton

permulaan ilmu geologi di akhir abad ke-18 di mana terjadi perdebatan antara plutonisme (atau vulkanisme), dengan Neptunisme mengenai asal mula basal.[citation