Gambar peringatan Romusha di papan peringatan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1985

Rลmusha (ๅŠดๅ‹™่€…) (bandingkan corvรฉe), adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti "pekerja wajib militer yang dibayar". Dalam bahasa Inggris, kata ini biasanya merujuk pada orang non-Jepang yang dipaksa bekerja untuk militer Jepang selama Perang Dunia II. Perpustakaan Kongres Amerika Serikat memperkirakan bahwa di Jawa, antara 4 hingga 10 juta rลmusha dipaksa bekerja oleh militer Jepang selama pendudukan Jepang di Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada masa Perang Dunia II,[1] dan banyak di antara mereka yang mengalami kondisi yang buruk dan meninggal atau terdampar jauh dari rumah. Namun, istilah ini tidak didefinisikan secara pasti oleh Jepang maupun Sekutu dan perkiraan jumlah total rลmusha terkadang mencakup pekerja yang tidak dibayar alias kinrลhลshi, serta pasukan pembantu pribumi, seperti pasukan tentara sukarelawan Pembela Tanah Air (PETA) yang disokong oleh Jepang, dan para transmigran sukarela ke pulau-pulau lain di Indonesia.[2]

Ikhtisar

sunting
Monumen untuk mengenang para Rลmusha yang meninggal di Banten.

Rลmusha adalah pekerja wajib militer yang tidak dibayar, yang dimobilisasi di Sumatra dan Indonesia bagian timur serta Jawa. Sekitar sepuluh persen di antaranya adalah perempuan.[3] Masa kerja mereka berkisar dari satu hari hingga waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek tertentu. Jenis pekerjaan yang dibutuhkan sangat beragam, mulai dari pekerjaan rumah tangga ringan hingga konstruksi berat. Pada umumnya, para rลmusha dimobilisasi di setiap kabupaten dan dapat berjalan kaki ke tempat kerja dari rumah. Namun, untuk proyek-proyek konstruksi yang sangat besar, para rลmusha dapat dikirim ke kabupaten lain. Ketika masa tugas mereka selesai, mereka dikembalikan ke rumah dan digantikan dengan pekerja baru.[4] Namun, banyak juga yang dikirim keluar dari Indonesia ke daerah-daerah yang dikuasai Jepang di Asia Tenggara.

Meskipun angka pastinya tidak diketahui, M. C. Ricklefs memperkirakan antara 200.000 hingga 500.000 buruh Jawa dikirim dari Jawa ke pulau-pulau di luar Jawa, bahkan sampai ke Burma dan Thailand. Dari mereka yang dibawa keluar Jawa, Ricklefs memperkirakan hanya 70.000 orang yang selamat dari perang.[5] Namun, Shigeru Satล memperkirakan sekitar 270.000 buruh Jawa dikirim ke luar Jawa, termasuk sekitar 60.000 ke Sumatra. Satล memperkirakan bahwa 135.000 orang dipulangkan ke Jawa setelah perang oleh Belanda dan Inggris (tidak termasuk mereka yang ditemukan di Sumatra). Selain yang dipulangkan, ada juga yang kembali dengan cara lain bahkan sebelum Jepang menyerah. Menurut Satล, proporsi pekerja rลmusha yang meninggal atau terdampar di luar negeri mencapai sekitar 15%.[6]

Sejarah

sunting

Praktik kerja rodi yang tidak dibayar sudah umum terjadi selama masa kolonial Hindia Belanda. Upah yang dibayarkan kepada para rลmusha tidak mampu mengimbangi inflasi, dan mereka sering dipaksa bekerja dalam kondisi yang berbahaya dengan makanan, tempat tinggal, dan perawatan medis yang tidak memadai. Perlakuan Jepang secara umum terhadap para pekerja sangat buruk. Para rลmusha dibantu oleh para pekerja yang tidak dibayar, kinrลhลshi, yang sebagian besar melakukan pekerjaan kasar. Kinrลhลshi direkrut untuk jangka waktu yang lebih singkat daripada rลmusha melalui asosiasi lingkungan yang dikenal sebagai tonarigumi, dan secara teoretis merupakan sukarelawan, meskipun paksaan sosial yang cukup besar diterapkan pada "sukarelawan" sebagai bentuk kesetiaan kepada tujuan Jepang. Pada tahun 1944, jumlah kinrลhลshi di Jawa berjumlah sekitar 200.000 orang.[7] Kebrutalan rลmusha dan sistem kerja paksa lainnya merupakan alasan utama tingginya angka kematian di kalangan masyarakat Indonesia selama pendudukan Jepang.[8] Sebuah laporan PBB kemudian menyatakan bahwa empat juta orang meninggal di Indonesia sebagai akibat dari pendudukan Jepang. Selain itu, sekitar 2,4 juta orang meninggal di Jawa akibat kelaparan selama tahun 1944-45.[9]

Dari tahun 1944, PETA juga menggunakan ribuan rลmusha untuk pembangunan fasilitas militer, dan untuk proyek-proyek ekonomi untuk membantu membuat Jawa lebih mandiri karena blokade Sekutu.[10]

Militer Jepang memanfaatkan tenaga kerja paksa tersebut secara ekstensif untuk pembangunan Jalur Kereta Api Burma-Thailand selama tahun 1942-43, dan Jalur Kereta Api Sumatra pada tahun 1943-45.[11] Tingkat kematian di antara para rลmusha akibat kekejaman, kelaparan, dan penyakit jauh lebih besar daripada tingkat kematian di antara tawanan perang Sekutu.

Dalam budaya populer

sunting
  • Rลmusha adalah nama untuk sebuah film tahun 1973 arahan Sjumandjaya tentang masa penjajahan Jepang, tetapi tidak jadi diputar karena dilarang pemerintah Indonesia.[12]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Library of Congress, 1992, "Indonesia: World War II and the Struggle For Independence, 1942-50; The Japanese Occupation, 1942-45" Access date: February 9, 2007
  2. ^ Post, The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War , pages 505, 578-579;
  3. ^ Post, The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War , pages 505, 578-579;
  4. ^ Post, The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War , pages 505, 578-579;
  5. ^ Ricklefs, Merle Calvin (2008). A History of Modern Indonesia Since c. 1200 (Edisi 4th). Palgrave Macmillan. hlm.ย 337. ISBNย 978-1-137-14918-3.
  6. ^ Satล, Shigeru (1994). War, Nationalism, and Peasants: Java Under the Japanese Occupation, 1942-1945 (dalam bahasa English). Armonk, NY: M. E. Sharpe Incorporated. hlm.ย 159โ€“160. ISBNย 9781317452355. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  7. ^ Post, The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War , pages 505, 578-579;
  8. ^ Cited in: Dower, John W. War Without Mercy: Race and Power in the Pacific War (1986; Pantheon; ISBN 0-394-75172-8).
  9. ^ Van der Eng, Pierre (2008) 'Food Supply in Java during War and Decolonisation, 1940โ€“1950.' MPRA Paper No. 8852. pp.ย 35โ€“38. http://mpra.ub.uni-muenchen.de/8852/
  10. ^ Post, The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War , pages 505, 578-579;
  11. ^ Hovinga, Henk (2010). The Sumatra Railroad: Final Destination Pakan Baroe 1943โ€“45. Leiden: KITLV Press. ISBNย 9789067183284.
  12. ^ http://www.waseda-coe-cas.jp/paper/20030709_gotou_eng.pdf[pranala nonaktif permanen]

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Hamengkubuwana IX

berhasil mengurangi jumlah romusa yang diambil kolonial, Romo Tirun mengungkapkan bahwa tetap ada penduduk yang diambil menjadi romusa, tetapi jika dibandingkan

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

Belanda pada 5 Maret 1942. Di tengah banyaknya pengambilan penduduk menjadi romusa, banyak catatan mengatakan bahwa Sultan mampu mencegahnya dengan memanipulasi

Riau

Tanjungpinang Pos, 14 September 2013. Diakses 17 Oktober 2013. "Menyusuri Jejak Romusa Jepang Pembangunan Rel Kereta Api di Kuansing-Pekanbaru: Jejak Rel Sudah

Sejarah Kota Medan

yang selama ini mereka lakukan untuk merekrut massa pemuda seperti Heiho, Romusa, Gyu Gun dan Talapeta mereka bubarkan atau kembali kepada masyarakat. Secara

Kementerian Keuangan Republik Indonesia

kekayaan alam dan hasil bumi, dan menjadikan para tenaga produktif sebagai romusa. Hiperinflasi yang terjadi pada masa ini menyebabkan pengeluaran bertambah

Chuo Sangi-In

Keibondan, Suisintai, Hizbullah, dan prajurit propaganda lainnya. Untuk masalah romusa, setiap pekerja harus diberikan makanan yang cukup dan sewaktu-waktu juga

Heiho

karier militer untuk meningkatkan strata sosial dan menghindari sistem romusa. Pasukan ini dibentuk berdasarkan instruksi Markas Besar Kekaisaran Jepang

Jalur kereta api Surabayaโ€“Bangilโ€“Kalisat

jalur ganda baru. Jalur ganda tersebut dibongkar pada 1940-an oleh pekerja romusa dan ruas tersebut dikembalikan menjadi jalur tunggal. Lintas Surabaya Solo