Aleksey Khomyakov, salah satu pengusung paham Slavofilisme, 1842

Slavofilisme adalah nama suatu aliran atau paham yang berkembang di Rusia mulai tahun ยฑ 1830 yang menolak segala macam pembaruan yang berasal dari Eropa Barat.[1] Aliran ini bertentangan dengan aliran Barat yang berpegang pada rasionalisme dan individualisme.[1] Menurut Slavofilisme, peradaban Barat akan membawa kekejaman dan kelaliman yang menghancurkan peradaban manusia. Terhadap rasionalisme, aliran ini berpegang pada kebenaran agama yang ortodoks.[1] Untuk menangkal bahaya individualisme, penganutnya berpegang pada ajaran tentang rasa persaudaraan yang dijarkan menurut tradisi Kristen atau Kristus.[1] Aliran ini akhirnya menimbulkan nasionalisme yang bercorak konservatif dan reaksioner.[1] Salah seorang penganutnya yang terkenal adalah Fyodor Dostoyevsky.[1] Ketika paham ini berkembang, Rusia sedang mengalami kebangkitan nilai-nilai agama, budaya, dan kemasyarakatan yang ingin mereka pertahankan, yaitu terkait dengan nilai harmonisasi dan kedekatan relasi antar manusia.[2] Mereka juga membandingkan dengan kondisi banga Barat yang menurut mereka mengalami "kebangkrutan nilai" dalam masyarakatnya.[2] Salah satunya ditujukkan dengan adanya peristiwa perang yang mengakibatkan penderitaan di Barat.[2] Paham ini diusung oleh tokoh-tokoh rusia yang mencita-citakan bentuk pemerintahan otokrasi.[2]

Rujukan

sunting
  1. ^ a b c d e f (Indonesia)Hassan Shadily & Redaksi Ensiklopedi Indonesia (Red & Peny)., Ensiklopedi Indonesia Jilid 6 (SHI-VAJ). Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve, hal. 3221
  2. ^ a b c d (Inggris) Encyclopedia Britannica: Slavophile

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Gereja Ortodoks Rusia

Ivan Kireevsky dan para teolog awam lainnya yang memiliki kecenderungan Slavofilisme menguraikan beberapa konsep kunci dari doktrin Ortodoks yang telah direnovasi

Maria Feodorovna (1847-1928)

mengadakan pelajaran renang untuk perempuan. Karena munculnya ideologi slavofilisme di Kekaisaran Rusia, Aleksandr II dari Rusia mencari pengantin wanita