Tari Boda adalah tarian tradisional yang berasal dari Kepulauan Selayar di Sulawesi Selatan. Selayar merupakan sebuah pulau. Pulau ini memanjang dari utara ke selatan. Bagian utara berbatasan dengan selat Selayar, sedangkan bagian timur, barat, dan selatannya berbatasan dengan laut Flores. Konon ceritanya, penamaan Selayar berasal dari kata "Salah layar", yang diberikan saat Sultan Ternate berlayar dan kapalnya terdampar di suatu pulau karang. Ketika terdampar itulah, ia selalu menyebutkan "Salah layar". Dan akhirnya pulau ini diberi nama "Salah Layar" dan kemudian penyebutannya menjadi Selayar.[1]

Tarian tradisional ini merupakan sebuah bentuk sukacita dalam menyambut bulan purnama. Hingga kini pementasan Tari Boda masih tetap ada pada acara-acara tertentu. Filosofi dari tarian ini adalah ekspresi kegembiraan menyambut datangnya bulan purnama. Tarian ini bisa juga untuk menggambarkan luapan kegembiraan atas kedatangan tamu yang berkunjung di kampung tersebut. Pada zaman dahulu, tarian ini di mainkan oleh sejumlah anak kecil dengan nyanyian berbahasa Selayar. Bahasa Selayar berbeda dari Bahasa Makassar dan Bugis. Meskipun beberapa kosakata dalam bahasa Selayar sama dengan bahasa Makassar dan bahasa Bugis, tetapi pengucapan (nada) dan intonasinya sangat berbeda. Bahasa Selayar diketahui memiliki hubungan dengan bahasa Konjo Pesisir yang dipakai di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.[1] Tari Boda biasanya di mainkan di halaman rumah atau di tanah lapang saat sinar bulan purnama. Tarian ini menggunakan Boda (bambu) yang dipukul berirama untuk mengiringi tiap langkah dan gerak penari yang biasanya dimainkan oleh anak laki-laki.

Pakaian yang di gunakan oleh anak-anak yang memainkan Tari Boda memakai celana sebatas lutut, baju dengan potongan hingga ke pangkal lengan, menggunakan ikat kepala dan melilitkan sarung di pinggangnya masing-masing. Tarian ini diiringi lagu yang mengungkapan rasa senang dengan kehadiran bulan purnama. Dahulu, pada saat bulan purnama biasanya menjadi kesempatan untuk bermain di malam hari atau melakukan ritual adat tertentu.[2] Beberapa penggiat seni dan budaya Kepulauan Selayar mengklaim bahwa Tari Boda merupakan salah satu kesenian yang lahir dari tradisi leluhur masyarakat kepulauan selayar di masa lalu, tanpa ada pengaruh dari budaya luar.[3]

Tarian ini bisa dimainkan lebih dari 20 anak-anak. Tari boda pernah dibawakan dalam Festival Budaya Maritim "Kelapaku Budayaku Lautku Kehidupanku" yang dilaksanakan dalam rangka menyambut kedatangan Pelayaran KRI Dewaruci sekaligus memeriahkan hari Jadi Selayar ke 418 di Lapangan Pemuda Benteng.[4]

Referensi

sunting
  1. ^ a b Itsnaini, Faqihah Muharroroh. "Asal Usul dan Nilai Kebudayaan Suku Selayar dari Provinsi Sulawesi Selatan". detikedu. Diakses tanggal 2025-06-16.
  2. ^ Gunawan, Iwan (2022-08-19). "Tari Boda, Seni Tradisional Kepulauan Selayar yang Unik untuk Sambut Purnama". Turisian.com. Diakses tanggal 2025-06-16.
  3. ^ "Tari Bodaย : Suka Cita Sambut Purnama". Selayar. 2014-02-04. Diakses tanggal 2025-06-16.
  4. ^ kepulauanselayarkab.go.id. "Festival Budaya Maritim Selayar Dibuka Dengan Berbagai Atraksi Seni Budaya". mail.kepulauanselayarkab.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-16.

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Filipina

2023. Diakses tanggal 29 April 2023. Ring, Trudy; Salkin, Robert M. & La Boda, Sharon (1996). International Dictionary of Historic Places: Asia and Oceania

Kuching

2015-02-05. Diakses tanggal 19 Juli 2013. Trudy Ring; Robert M. Salkin; Sharon La Boda (Januari 1996). International Dictionary of Historic Places: Asia and Oceania

Zhou Enlai

hal ini ditentang oleh Mao dan juga Lin Biao, Kang Sheng serta Chen Boda. Chen Boda bahkan mengatakan bahwa Zhou sendiri mungkin dianggap "kontra-revolusioner"

Gadis Sampul 2007

direncanakan tidak terlaksana). Puncak kemeriahan terjadi di SMA BOPKRI 2 (BODA), di mana berbagai aktivitas interaktif diselenggarakan: Pertandingan Basket

Bodhisena

catatan sejarah resmi yang bernama Shoku Nihongi, dimana ia disebut sebagai Bodai-Senna. Bodhisena mendapatkan pengajaran dari Manjusri Bodhisattva. Ia awalnya