Ekofeminisme adalah suatu paham tentang keterkaitan antara perempuan dan alam semesta terutama dalam ketidakberdayaan dan ketidakadilan perlakuan kepada keduanya.[1] Istilah ekofeminisme pertama kali diperkenalkan pada tahun 1974 oleh Franรงoise dโ€™Eaubonne.[2] Dalam penerapannya, ekofeminisme menerapkan etika kepedulian untuk mewujudkan keadilan sosial secara ekologis, mengutamakan nilai feminitas dan menentang budaya patriarki.[3]

Konsep

sunting

Pada tahun 1968, Paul Ehrlich menerbitkan bukunya yang berjudul The Population Bomb. Buku ini membahas mengenai kerusakan bumi akibat dari populasi manusia yang terlalu banyak. Solusi yang ditawarkan olehnya adalah menghentikan reproduksi seksual. Franรงoise dโ€™Eaubonne kemudian mengkritik buku tersebut dalam bukunya yang berjudul Le Fรฉminisme ou La Mort. Ia menjelaskan bahwa perempuan tidak diberi hak untuk mengatur reproduksinya dan sistem patriarki menginginkan agar reproduksi terus berlanjut. Dalam keterbatasannya, perempuan masih dapat meraih emansipasi dengan cara menentang sistem patriarki melalui tindakan aborsi dan kontrasepsi.[4] Buku Le Fรฉminisme ou La Mort yang ditulis pada 1974 ini kemudian memperkenalkan Istilah "ekofeminisme" untuk pertama kalinya. Setelahnya, buku ini membahas tentang pencegahan kerusakan bumi oleh gerakan-gerakan sosial yang dipimpin oleh perempuan.[5] Dalam hal ini, gerakan ekofeminisme menjadi pelestari bumi dengan membuatnya menjadi lebih baik dengan cara mengembalikan keadaannya seperti semula.[6]

Ekofeminisme menjadikan kenyataan sosial sebagai dampak dari adanya proses sosial dalam masyarakat. Masyarakat merupakan produk manusia dengan kenyataan yang unik bahwa manusia juga merupakan produk dari masyarakat. Interaksi sosial antar manusia dalam suatu masyarakat akan berkembang menjadi interaksi masyarakat dan lingkungan hidupnya.[7] Ekofeminisme menetapkan bahwa kerja sama, kepedulian, cinta dan toleransi merupakan cara untuk melestarikan alam yang di dalamnya manusia berada.[8] Hubungan ini kemudian membentuk etika manusia terhadap pengelolaaan lingkungan dan dan menciptakan kesetaraan gender manusia dalam kaitannya dengan alam semesta.[9]

Landasan

sunting

Landasan ontologi

sunting

Ekofeminisme secara ontologi memandang manusia dan alam semesta merupakan sesuatu yang ada dan saling berhubungan. Manusia adalah kesatuan yang tidak mungkin hidup terpisah dengan makhluk yang lain dan lingkungannya serta saling membutuhkan satu sama lain. Keberadaan manusia merupakan akibat dari keberadaan alam semesta dan sebaliknya. Hubungan keduanya digambarkan sebagai sebuah keluarga yang terdiri dari anggota yang tidak saling menindas, tetapi saling mendukung.[10]

Landasan epistemologi

sunting

Ekofeminisme menjadikan kekaguman sebagai aktivitas utama untuk memperoleh pengetahuan dengan cara feminis. Melalui rasa kagum, kenyataan sosial tentang alam semesta dapat diketahui. Pengetahuan yang dilandasi oleh kekaguman kemudian mengarahkan kepada pembangunan lingkungan hidup secara positif.[11]

Landasan aksiologi

sunting

Ekofeminisme menerapkan persahabatan manusia dengan alam sebagai landasan dalam pengambilan tindakan. Feminitas menjadi prinsip utama dalam setiap tindakan. Dalam pelaksanaannya, budaya matriarki lebih diutamakan sehingga tiap tindakan yang dilakukan selalu dilandasi oleh hubungan emosional.[12]

Pergerakan

sunting

Gerakan ekofeminisme berawal dari kritik terhadap gerakan feminisme liberalis dan feminisme sosialis, kritik ini pertama kali dilakukan oleh Susan Gordon dalam bukunya yang berjudul The Prisoner of Menโ€™s Dream. Ia menjelaskan bahwa feminisme telah menjadi perusak dunia dan menjadikan perempuan sebagai tiruan laki-laki dalam sistem patriarki. Susan dan para aktivis sosial lainnya memiliki gagasan bahwa perempuan dan laki-laki tidak harus disamakan, tetapi kualitas hidup keduanya harus sama. Kesamaan kualitas ini kemudian harus mengubah dunia menjadi lebih baik tanpa menyebabkan kerusakan.[13] Para aktivis ekofeminisme kemudian mulai mengkritik budaya patriarki dan kapitalisme. Selain itu, mereka juga mengkritik tentang budaya produksi dan reproduksi dalam kaitannya dengan bahaya dari perkembangan teknologi industri dan keamanan perempuan.[14]

Peranan

sunting

Ekofeminisme dilandasi oleh etika kepedulian yang hadir karena sifat alami perempuan.[15] Ekofeminisme menerangkan tentang ketidakberdayaan perempuan dan kerusakan lingkungan hidup secara global dalam pandangan struktur sosial dan budaya. Paham ini mengaitkan dominasi antar manusia dan hubungannya terhadap lingkungan yang mengakibatkan penderitaan bagi manusia dalam bentuk kerusakan lingkungan hidup. Pengetahuan ini kemudian membuat kesadaran akan pelestarian lingkungan hidup menjadi meningkat serta menjelaskan pentingnya kesetaraan gender bagi manusia.[16] Ekofeminisme kemudian diterapkan menjadi kesetaraan akses, peningkatan kualitas dan penjagaan hak setiap makhluk hidup.[17]

Referensi

sunting
  1. ^ Fahimah 2017, hlm.ย 8.
  2. ^ Fahimah 2017, hlm.ย 10.
  3. ^ Suliantoro 2011, hlm.ย 118.
  4. ^ Asmarani 2018, hlm.ย 131.
  5. ^ Asmarani 2018, hlm.ย 129.
  6. ^ Asmarani 2018, hlm.ย 130.
  7. ^ Sari, Yunus, dan Suparman 2019, hlm.ย 164.
  8. ^ Sari, Yunus, dan Suparman 2019, hlm.ย 169โ€“170.
  9. ^ Sari, Yunus, dan Suparman 2019, hlm.ย 163.
  10. ^ Suliantoro 2011, hlm.ย 113.
  11. ^ Suliantoro 2011, hlm.ย 114.
  12. ^ Suliantoro 2011, hlm.ย 115.
  13. ^ Fahimah 2017, hlm.ย 9.
  14. ^ Fahimah 2017, hlm.ย 12.
  15. ^ Asmarani 2018, hlm.ย 136.
  16. ^ Fahimah 2017, hlm.ย 12โ€“13.
  17. ^ Fahimah 2017, hlm.ย 13.

Daftar Pustaka

sunting

Asmarani, Ni Nyoman Oktaria (2018). "Ekofeminisme dalam Antroposen: Relevankah? Kritik terhadap Gagasan Ekofeminisme". Balairung. 1 (1): 128โ€“143. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Fahimah, Siti (2017). "Ekofeminisme: Teori dan Gerakan". Alamtara: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam. 1 (1): 6โ€“19. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Sari, N., Yunus, R., dan Suparman (Oktober 2019). "Ekofeminisme: Konstruksi Sosial Budaya Perilaku Perempuan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup". Palita. 4 (2): 161โ€“168. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Suliantoro, Bernadus Wibowo (2011). "Rekonstruksi Pemikiran Etika Lingkungan Ekofemnisme sebagai Fondasi Pengelolaan Hutan Lestari". Jurnal Bumi Lestari. 11 (1): 111โ€“119. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Ekofeminisme vegetarian

Ekofeminisme vegetarian adalah cabang dalam bidang ekofeminisme yang menelaah hubungan antara penindasan perempuan dan penindasan terhadap alam. Ekofeminisme

Franรงoise d'Eaubonne

Agustus 2005) adalah seorang feminis Prancis, yang mengenalkan istilah ekofeminisme (รฉcologie-fรฉminisme, รฉco-fรฉminisme atau รฉcofรฉminisme) pada 1974. Ayahnya

Kalis Mardiasih

Kalis (2014-11-04). "Perempuan di Titik Nol: Kapitalisasi Perempuan dan Ekofeminisme". Perempuan di Titik Nol. Diakses tanggal 2023-03-15. "Buku Kalis Mardiasih

Etika lingkungan

etika biosentrisme, ekosentrisme, teori mengenai hak asasi alam, dan ekofeminisme, manusia sebagai anggota masyarakat harus berpartisipasi menentukan kebijakan

Rachel Carson

lingkungan berbasis masyarakat. Buku ini juga berpengaruh dalam perkembangan ekofeminisme serta memberikan inspirasi bagi banyak ilmuwan perempuan. Meskipun Carson

Teori feminis

dianggap sebagai memikul beban ganda, laki-laki penjajah dan pribumi, dan ekofeminisme, yaitu dengan memperhatikan keterjalinan semua bentuk penindasan. Feminisme

Ekonomika ekologis

Perlambatan (ekonomi) Ekonomi Bumi (pusat pemikir kebijakan) Ekososialisme Ekofeminisme Model kompetisi ekologis Nilai ekologis bakau Sintesis emergi Akuntansi

Pelestarian alam

etika konservasi berfokus pada individu-individu yang berakal seperti ekofeminisme dan konservasi welas asih. Di Amerika Serikat, pada tahun 1864 terjadi