Kesultanan Mamluk | |||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1250โ1517 | |||||||||||||||||||||||
Bendera Mamluk berdasarkan Atlas Catalonia.
| |||||||||||||||||||||||
Luas Kesultanan Mamluk di bawah Sultan An-Nashir Muhammad | |||||||||||||||||||||||
| Status | Kesultanan | ||||||||||||||||||||||
| Ibu kota | Kairo | ||||||||||||||||||||||
| Bahasa resmi | Arab | ||||||||||||||||||||||
| Bahasaย yang umum digunakan |
| ||||||||||||||||||||||
| Agama |
| ||||||||||||||||||||||
| Demonim | Mamluk | ||||||||||||||||||||||
| Pemerintahan | Monarki elektif stratokrasi semi-feodal[4][5] | ||||||||||||||||||||||
| Khalifah | ย | ||||||||||||||||||||||
โขย 1261 | Al-Mustansir (pertama) | ||||||||||||||||||||||
โขย 1262โ1302 | Al-Hakim I | ||||||||||||||||||||||
โขย 1406โ1414 | Abลซ al-Faแธl Al-Musta'in | ||||||||||||||||||||||
โขย 1508โ1516 | Al-Mutawakkil III (terakhir) | ||||||||||||||||||||||
| Sultan | ย | ||||||||||||||||||||||
โขย 1250 | Syajaruddur (pertama) | ||||||||||||||||||||||
โขย 1250โ1257 | Aybak | ||||||||||||||||||||||
โขย 1260โ1277 | Baybars | ||||||||||||||||||||||
โขย 1516โ1517 | Tuman Bay II (terakhir) | ||||||||||||||||||||||
| Sejarah | ย | ||||||||||||||||||||||
โขย Pembunuhan Turanshah | 2 Mei 1250 | ||||||||||||||||||||||
| November 1382 | |||||||||||||||||||||||
| 22 Januari 1517 | |||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||
Kesultanan Mamluk (bahasa Arab: ุณูุทูุฉ ุงูู ู ุงููู, translit.ย Salแนญanat al-Mamฤlฤซk), juga dikenal sebagai Mamluk Mesir atau Kekaisaran Mamluk, adalah sebuah negara yang memerintah Mesir, wilayah Suriah, dan Hijaz dari pertengahan abad ke-13 hingga awal abad ke-16, dengan Kairo sebagai ibu kotanya. Negara ini diperintah oleh kasta militer mamluk (tentara budak yang telah dibebaskan) yang dipimpin oleh seorang sultan. Kesultanan tersebut didirikan dengan penggulingan dinasti Ayyubiyah di Mesir pada tahun 1250 dan ditaklukkan oleh Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1517. Sejarah Mamluk umumnya dibagi menjadi periode Turkik atau Bahri (1250โ1382) dan periode Sirkasia atau Burji (1382โ1517), yang dinamai berdasarkan etnisitas dominan atau korps dari para mamluk yang berkuasa pada masing-masing masa tersebut.[6][7][8][9]
Para penguasa pertama kesultanan tersebut berasal dari resimen mamluk milik sultan Ayyubiyah, al-Salih Ayyub (memerintah 1240โ1249), yang merebut kekuasaan dari penerusnya pada tahun 1250. Para Mamluk di bawah Sultan Qutuz dan Baybars mengalahkan bangsa Mongol pada tahun 1260, menghentikan ekspansi mereka ke selatan. Mereka kemudian menaklukkan atau memperoleh kedaulatan atas kepangeranan Ayyubiyah di Suriah. Baybars juga menghidupkan kembali dinasti khalifah Abbasiyah di Kairo, meskipun peran mereka hanya bersifat seremonial. Pada akhir abad ke-13, melalui usaha para sultan Baybars, Qalawun (memerintah 1279โ1290), dan al-Ashraf Khalil (memerintah 1290โ1293), kaum Mamluk telah menaklukkan negara-negara Tentara Salib serta memperluas kekuasaan ke Makuria (Nubia), Kirenaika, Hijaz, dan Anatolia selatan. Kesultanan mengalami masa stabilitas dan kemakmuran yang panjang selama pemerintahan ketiga al-Nasir Muhammad (memerintah 1293โ1294, 1299โ1309), sebelum kemudian digantikan oleh perselisihan internal yang menandai suksesi putra-putranya, ketika kekuasaan sebenarnya dipegang oleh para emir senior.
Salah satu emir tersebut, Barquq, menggulingkan sultan pada tahun 1382 dan kembali melakukannya pada tahun 1390, sehingga memulai pemerintahan Burji. Kekuasaan Mamluk di seluruh kekaisaran melemah di bawah para penerusnya akibat invasi asing, pemberontakan suku, dan bencana alam, sehingga negara memasuki masa kesulitan keuangan yang panjang. Di bawah Sultan Barsbay, upaya besar dilakukan untuk mengisi kembali perbendaharaan negara, terutama melalui monopoli perdagangan dengan Eropa dan ekspedisi pemungutan pajak ke pedesaan. Ia juga berhasil menegakkan kembali otoritas Mamluk di luar negeri dengan memaksa Siprus tunduk pada tahun 1426. Setelah itu kesultanan mengalami stagnasi. Pemerintahan panjang dan cakap Sultan Qaitbay (memerintah 1468โ1496) memberikan stabilitas tertentu, meskipun ditandai oleh konflik dengan Kesultanan Utsmaniyah. Sultan efektif terakhir adalah Qansuh al-Ghuri (memerintah 1501โ1516), yang masa pemerintahannya dikenal karena kebijakan fiskal yang keras, upaya reformasi militer, dan konfrontasi dengan Portugis di Samudra Hindia. Pada tahun 1516 ia terbunuh dalam pertempuran melawan sultan Utsmaniyah Selim I, yang kemudian menaklukkan Mesir pada tahun 1517 dan mengakhiri pemerintahan Mamluk.
Di bawah pemerintahan Mamluk, Kairo mencapai puncak ukuran dan kekayaannya sebelum masa modern,[10] menjadi salah satu kota terbesar di dunia pada saat itu.[11] Perekonomian kesultanan terutama bersifat agraris, tetapi posisi geografisnya juga menempatkannya di pusat perdagangan antara Eropa dan Samudra Hindia. Para Mamluk sendiri mengandalkan sistem iqta' untuk menyediakan pendapatan. Mereka juga merupakan pelindung utama seni dan arsitektur: karya logam bertatah, kaca berlapis enamel, dan manuskrip Al-Qur'an beriluminasi termasuk di antara puncak pencapaian seni, sementara arsitektur Mamluk hingga kini masih membentuk sebagian besar lanskap Kairo bersejarah dan dapat ditemukan di seluruh bekas wilayah kekuasaan mereka.
Nama
sunting'Kesultanan Mamluk' adalah istilah historiografis modern.[12][13] Sumber-sumber Arab untuk masa Mamluk Bahri menyebut dinasti tersebut sebagai 'Negara Orang Turkik' (Dawlat al-Atrak atau Dawlat al-Turk) atau 'Negara Turki' (al-Dawla al-Turkiyya).[14][15][12] Selama masa pemerintahan Burji, negara itu juga disebut sebagai 'Negara Sirkasia' (Dawlat al-Jarakisa). Nama-nama ini menekankan asal etnis para penguasa, dan para penulis Mamluk tidak secara eksplisit menyoroti status mereka sebagai budak, kecuali pada kesempatan yang jarang terjadi selama periode Sirkasia.[12]
Sejarah
suntingAsal-usul
suntingMamluk adalah seorang budak yang telah dimerdekakan, berbeda dengan ghulam atau budak rumah tangga. Setelah menjalani pelatihan menyeluruh dalam seni bela diri, etiket istana, dan ilmu-ilmu Islam, para budak ini dibebaskan tetapi diharapkan tetap setia kepada tuannya dan melayani rumah tangganya.[16] Para mamluk telah menjadi bagian dari perangkat militer di Suriah dan Mesir setidaknya sejak abad ke-9, dan kemudian bangkit menjadi dinasti yang memerintah di Mesir dan Suriah seperti dinasti Tuluniyah dan Ikhshidiyah.[17]
Resimen mamluk menjadi tulang punggung militer Mesir di bawah pemerintahan Ayyubiyah pada akhir abad ke-12 dan awal abad ke-13, dimulai pada masa sultan Ayyubiyah pertama, Salahuddin Ayyubi (memerintah 1174โ1193), yang menggantikan infanteri Afrika hitam milik Kekhalifahan Fatimiyah dengan para mamluk.[18] Setiap sultan Ayyubiyah dan emir berpangkat tinggi memiliki korps mamluk pribadi.[19] Sebagian besar mamluk yang melayani Ayyubiyah adalah orang Turkik Kipchak dari Asia Tengah yang, setelah memasuki dinas, memeluk Islam Sunni dan diajarkan bahasa Arab. Para mamluk sangat setia kepada tuannya, yang sering mereka sebut sebagai 'ayah', dan sebagai balasannya mereka diperlakukan lebih seperti kerabat daripada budak.[18]
Setelah dibebaskan, para mamluk diberi jabatan dalam administrasi istana atau dalam angkatan bersenjata.[20] Para mamluk lebih disukai daripada tentara merdeka karena mereka dibesarkan dengan memandang tentara dan sultan penguasa sebagai keluarga mereka sendiri, sehingga dianggap lebih setia dibandingkan tentara merdeka yang pertama-tama setia kepada keluarga biologis mereka.[21]
Emir Ayyubiyah dan calon sultan, as-Salih Ayyub, memperoleh sekitar seribu mamluk (sebagian di antaranya orang merdeka) dari Suriah, Mesir, dan Arabia pada tahun 1229, ketika ia menjabat sebagai na'ib (wakil raja) Mesir selama ketidakhadiran ayahnya, Sultan al-Kamil (memerintah 1218โ1238). Para mamluk ini disebut 'Salihiyya' (tunggal 'Salihi') sesuai dengan nama tuan mereka.[22]

Al-Salih menjadi sultan Mesir pada tahun 1240 dan, setelah naik takhta, ia memerdekakan serta mengangkat sejumlah besar mamluknya, dengan menyediakan penghidupan bagi mereka melalui iqtaสฟat yang disita dari para emir pendahulunya (serupa dengan tanah feodal; tunggal iqtaสฟ). Ia membentuk sebuah aparat paramiliter yang setia di Mesir yang begitu dominan sehingga para penulis sezamannya memandang Mesir sebagai "dipenuhi oleh kaum Salihi", menurut sejarawan Winslow William Clifford.[24] Sementara itu, sejarawan Stephen Humphreys berpendapat bahwa dominasi Salihiyya yang semakin besar atas negara tidak secara pribadi mengancam al-Salih karena kesetiaan mereka kepadanya, Clifford menilai bahwa otonomi Salihiyya tidak sepenuhnya mencerminkan kesetiaan tersebut.[25]
Memperoleh kekuasaan
suntingKonflik dengan Ayyubiyah
suntingKetegangan antara as-Salih dan para mamluknya memuncak pada tahun 1249 ketika pasukan Louis IX dari Prancis merebut Damietta dalam upaya menaklukkan Mesir selama Perang Salib Ketujuh. As-Salih menentang evakuasi Damietta dan mengancam akan menghukum garnisun kota tersebut. Hal ini memicu pemberontakan oleh garnisunnya di al-Mansura, yang baru mereda setelah campur tangan atabeg al-askar (panglima militer), Fakhruddin bin Shaykh al-Shuyukh.[26] Ketika pasukan Tentara Salib terus maju, as-Salih meninggal dan digantikan oleh putranya yang bermarkas di Jazira (Mesopotamia Hulu), al-Mu'azzam Turanshah.[27] Meskipun kaum Salihiyya menyambut suksesi tersebut, Turanshah menantang dominasi mereka dalam aparat paramiliter dengan mengangkat pengikut Kurdi dari Jazira dan Suriah sebagai penyeimbang.[28]
Pada 11 Februari 1250, Bahriyya, sebuah resimen junior dari Salihiyya yang dipimpin oleh Baybars, mengalahkan pasukan Tentara Salib dalam Pertempuran al-Mansura. Pada 27 Februari, Turanshah tiba di al-Mansura untuk memimpin tentara Mesir. Pada 5 April 1250, pasukan Tentara Salib meninggalkan perkemahan mereka di seberang al-Mansura. Pasukan Mesir mengejar mereka hingga terjadi Pertempuran Fariskur, di mana pasukan Mesir menghancurkan Tentara Salib pada 6 April. Raja Louis IX dan beberapa bangsawan yang masih hidup ditawan, yang secara efektif mengakhiri Perang Salib Ketujuh.[29] Setelah itu, Turanshah menempatkan pengikut dan mamluknya sendiri, yang dikenal sebagai 'Mu'azzamiya',[27] dalam posisi kekuasaan dengan mengorbankan kaum Salihiyya. Pada 2 Mei 1250,[27] para emir Salihi yang tidak puas membunuh Turanshah di Fariskur.[30]

Sebuah dewan pemilihan yang didominasi oleh kaum Salihiyya kemudian berkumpul untuk memilih pengganti Turanshah dari kalangan para emir Ayyubiyah, dengan pendapat yang sebagian besar terpecah antara an-Nasir Yusuf dari Damaskus dan al-Mughith Umar dari al-Karak. Akhirnya tercapai kesepakatan pada janda as-Salih, Shajaruddur.[31] Ia memastikan dominasi Salihiyya dalam kalangan elit paramiliter serta membangun hubungan patronase dan kekerabatan dengan mereka. Secara khusus, ia menjalin hubungan erat dengan korps Jamdari (jamak Jamdariyya) dan Bahri (jamak Bahriyya), dengan membagikan kepada mereka iqtaสฟ dan berbagai hak istimewa lainnya.[32] Upaya tersebut dan kecenderungan militer Mesir untuk mempertahankan negara Ayyubiyah terlihat ketika mamluk Salihi sekaligus atabeg al-askar, Aybak, ditolak oleh tentara serta korps Bahriyya dan Jamdariyya dalam usahanya memonopoli kekuasaan, karena semuanya menegaskan bahwa otoritas kesultanan secara eksklusif milik dinasti Ayyubiyah.[33] Bahriyya kemudian memaksa Aybak untuk berbagi kekuasaan dengan al-Ashraf Musa, seorang cucu Sultan al-Kamil.[34]
Aybak merupakan penopang utama melawan para emir Bahri dan Jamdari, dan pengangkatannya sebagai atabeg al-askar memicu kerusuhan Bahri di Kairo, yang menjadi yang pertama dari banyak bentrokan di antara kaum Salihi mengenai kenaikannya. Bahriyya dan Jamdariyya diwakili oleh pelindung mereka, Farisuddin Aktay, salah satu pengatur utama pembunuhan Turanshah dan penerima sebagian besar tanah milik Fakhruddin yang diberikan oleh Shajaruddur; Shajaruddur memandang Aktay sebagai penyeimbang bagi Aybak.[35] Aybak kemudian bergerak melawan Bahriyya dengan menutup markas mereka di Roda pada tahun 1251 dan membunuh Aktay pada tahun 1254.[36]
Setelah itu, Aybak membersihkan pengikutnya sendiri dan kaum Salihiyya dari orang-orang yang dianggap pembangkang, yang menyebabkan eksodus sementara para mamluk Bahri, sebagian besar menetap di Gaza.[34][37] Pembersihan ini menyebabkan kekurangan perwira, sehingga Aktay merekrut pendukung baru dari kalangan tentara di Mesir serta mamluk Turkik Nasiri dan Azizi dari Suriah, yang telah membelot dari an-Nasir Yusuf dan berpindah ke Mesir pada tahun 1250.[37] Aybak merasa terancam oleh ambisi yang semakin besar dari para mamluk Suriah yang dipimpin oleh pelindung mereka yang berpengaruh, Jamaluddin Aydughdi. Setelah mengetahui rencana Aydughdi untuk menobatkan an-Nasir Yusuf sebagai sultanโyang akan menjadikan Aydughdi sebagai penguasa de facto MesirโAybak memenjarakan Aydughdi di Aleksandria pada tahun 1254 atau 1255.[38]
Aybak dibunuh pada 10 April 1257,[39] kemungkinan atas perintah Shajaruddur,[40] yang ia sendiri dibunuh seminggu kemudian. Kematian mereka meninggalkan kekosongan kekuasaan relatif di Mesir, dengan putra muda Aybak, al-Mansur Ali, sebagai ahli waris kesultanan dan pembantu dekat Aybak, Saifuddin Qutuz, sebagai tokoh kuat.[41] Bahriyya dan al-Mughith Umar melakukan dua upaya untuk menaklukkan Mesir pada November 1257 dan 1258, tetapi keduanya dikalahkan.[39] Mereka kemudian berbalik melawan an-Nasir Yusuf di Damaskus, yang mengalahkan mereka di Yerikho. An-Nasir Yusuf kemudian melanjutkan dengan mengepung al-Mughith dan Bahriyya di al-Karak, tetapi ancaman invasi Mongol yang semakin besar ke Suriah mendorong para emir Ayyubiyah untuk berdamai, sementara Baybars membelot kepada an-Nasir Yusuf.[42] Qutuz menggulingkan Ali pada tahun 1259 dan membersihkan atau menangkap kaum Mu'izziyya serta sisa mamluk Bahri di Mesir untuk menyingkirkan kemungkinan oposisi. Para mamluk Mu'izzi dan Bahri yang selamat pergi ke Gaza, tempat Baybars mendirikan sebuah negara bayangan yang menentang Qutuz.[43]
Sementara faksi-faksi mamluk saling bertempur untuk menguasai Mesir dan Suriah, bangsa Mongol di bawah Hulagu Khan menjarah Baghdad, pusat intelektual dan spiritual dunia Islam, pada tahun 1258, lalu bergerak ke barat dengan merebut Aleppo dan Damaskus.[44] Qutuz mengirim bala bantuan militer kepada musuh lamanya, an-Nasir Yusuf di Suriah, dan berdamai dengan kaum Bahriyya, termasuk Baybars, yang diizinkan kembali ke Mesir untuk menghadapi ancaman Mongol bersama-sama.[45]
Hulagu mengirim utusan kepada Qutuz di Kairo untuk menuntut penyerahan diri kepada kekuasaan Mongol, tetapi Qutuz memerintahkan agar mereka dibunuh, suatu tindakan yang oleh sejarawan Joseph Cummins disebut sebagai "penghinaan terburuk yang mungkin terhadap takhta Mongol".[44] Setelah mengetahui bahwa Hulagu menarik diri dari Suriah untuk menuntut takhta Mongol, Qutuz dan Baybars memobilisasi pasukan berkekuatan sekitar 120.000 orang untuk menaklukkan Suriah.[46]
Pasukan Mamluk memasuki Palestina dan menghadapi tentara Mongol yang ditinggalkan Hulagu di bawah pimpinan Kitbuqa di dataran selatan Nazaret dalam Pertempuran Ain Jalut pada September 1260.[46] Pertempuran tersebut berakhir dengan kekalahan besar pasukan Mongol serta penangkapan dan eksekusi Kitbuqa. Setelah itu, para Mamluk merebut kembali Damaskus dan kota-kota Suriah lainnya yang sebelumnya dikuasai Mongol.[47] Ketika Qutuz kembali ke Kairo dengan kemenangan, ia dibunuh dalam sebuah komplotan Bahri. Baybars kemudian mengambil alih kekuasaan pada Oktober 1260,[45] menandai dimulainya pemerintahan Bahri.[15]
Pemerintahan Bahri (1250โ1382)
suntingPemerintahan Baybars
sunting
Pada tahun 1263, Baybars menggulingkan al-Mughith atas tuduhan bekerja sama dengan Ilkhanat Mongol di Persia, sehingga ia berhasil mengukuhkan kekuasaannya atas Suriah Islam.[49] Pada masa awal pemerintahannya, Baybars memperluas kekuatan Mamluk dari sekitar 10.000 kavaleri menjadi 40.000, dengan pengawal kerajaan berkekuatan 4.000 orang sebagai inti pasukan. Pasukan baru ini didisiplinkan secara ketat dan dilatih secara intensif dalam berkuda, ilmu pedang, dan memanah.[50]
Untuk meningkatkan komunikasi internal, Baybars membentuk barid (jaringan pos) yang membentang di seluruh Mesir dan Suriah, yang mendorong pembangunan besar-besaran jalan serta jembatan di sepanjang rute pos tersebut. Reformasi militer dan administratifnya memperkuat kekuasaan negara Mamluk.[49] Ia juga membuka saluran diplomatik dengan bangsa Mongol untuk menghambat kemungkinan aliansi mereka dengan kekuatan Kristen di Eropa, sekaligus menimbulkan perpecahan antara Ilkhanat Mongol dan Gerombolan Emas Mongol. Diplomasi tersebut juga dimaksudkan untuk mempertahankan arus kedatangan mamluk Turkik dari Asia Tengah yang berada di bawah kekuasaan Mongol.[49]
Dengan kekuasaannya di Mesir dan Suriah Islam telah terkonsolidasi pada tahun 1265, Baybars melancarkan ekspedisi melawan benteng-benteng Tentara Salib di seluruh Suriah, merebut Arsuf pada tahun 1265 serta Halba dan Arqa pada tahun 1266.[51] Baybars juga merebut dan menghancurkan benteng-benteng di sepanjang pantai Suriah untuk mencegah kemungkinan penggunaannya kembali oleh gelombang baru Tentara Salib.[52] Ia sering mendirikan kota-kota baru lebih jauh ke pedalaman, yang secara permanen mengubah pola permukiman di kawasan tersebut, seperti yang terjadi pada Ascalon, yang penduduknya dipindahkan ke Al-Majdal Asqalan.[53][54]
Pada Agustus 1266, kaum Mamluk melancarkan ekspedisi hukuman terhadap Kerajaan Armenia Kilikia karena aliansinya dengan bangsa Mongol, menghancurkan banyak desa Armenia dan secara signifikan melemahkan kerajaan tersebut. Sekitar waktu yang sama, Baybars merebut Safed dari Kesatria Templar, dan tidak lama kemudian juga merebut Ramla, kedua kota yang terletak di pedalaman Palestina. Berbeda dengan benteng-benteng pesisir, kaum Mamluk memperkuat dan memanfaatkan kota-kota pedalaman sebagai garnisun besar serta pusat administrasi.[55]
Pada tahun 1268, kaum Mamluk merebut Jaffa sebelum menaklukkan benteng kuat Tentara Salib di Antiokhia pada 18 Mei.[56] Pada tahun 1271, Baybars merebut benteng besar Krak des Chevaliers dari Tentara Salib County Tripoli.[57] Meskipun sempat bersekutu dengan kelompok Syiah Ismailiyah yang dikenal sebagai Assassin pada tahun 1272, pada Juli 1273 kaum Mamlukโyang saat itu memandang kemerdekaan Assassin sebagai masalahโmerebut kendali atas benteng-benteng mereka di pegunungan Jabal Ansariya, termasuk Masyaf.[58]
Pada tahun 1277, Baybars melancarkan ekspedisi melawan Ilkhanat, mengalahkan mereka di Elbistan di Anatolia. Namun, ia kemudian mundur untuk menghindari peregangan pasukan yang berlebihan dan risiko terputus dari Suriah oleh pasukan Ilkhanat yang lebih besar yang sedang bergerak mendekat.[58]
Di selatan Mesir, Baybars memulai kebijakan agresif terhadap kerajaan Nubia Kristen, Makuria. Pada tahun 1265, kaum Mamluk menyerbu Makuria bagian utara dan memaksa rajanya menjadi vasal mereka.[59] Sekitar waktu yang sama, kaum Mamluk telah menaklukkan wilayah Laut Merah di Suakin dan Kepulauan Dahlak, sambil berusaha memperluas kendali mereka ke Hijaz (Arabia barat), wilayah gurun di sebelah barat Sungai Nil, serta Barqa (Cyrenaica).[60]

Pada tahun 1268, raja Makuria, David I, menggulingkan penguasa vasal Mamluk dan pada tahun 1272 menyerang pelabuhan Laut Merah milik Mamluk di Aydhab.[62] Pada tahun 1276, kaum Mamluk mengalahkan Raja David dari Makuria dalam Pertempuran Dongola dan menempatkan sekutu mereka, Shakanda, sebagai raja. Hal ini membuat benteng Qasr Ibrim berada di bawah kedaulatan Mamluk. Penaklukan Nubia tidak bersifat permanen, dan proses penyerbuan wilayah tersebut serta penobatan raja-raja vasal terus berulang pada masa para penerus Baybars.[62] Meskipun demikian, penaklukan awal Baybars menyebabkan kaum Mamluk menuntut upeti tahunan dari bangsa Nubia hingga runtuhnya kerajaan Makuria pada pertengahan abad ke-14.[59] Selain itu, kaum Mamluk juga menerima penyerahan Raja Adur dari al-Abwab yang terletak lebih jauh ke selatan.[63]
Baybars berusaha menjadikan wangsa Zahiriyah miliknya sebagai dinasti penguasa negara dengan mengangkat putranya yang berusia empat tahun, al-Sa'id Baraka, sebagai wakil sultan pada tahun 1264. Langkah ini merupakan penyimpangan dari tradisi Mamluk yang biasanya memilih sultan berdasarkan kemampuan, bukan garis keturunan.[49] Pada Juli 1277, Baybars meninggal dalam perjalanan menuju Damaskus dan kemudian digantikan oleh Baraka.[64]
Periode Qalawuni Awal
sunting
Baraka digulingkan dalam perebutan kekuasaan yang berakhir dengan naiknya Qalawun, seorang wakil utama Baybars, sebagai sultan pada November 1279.[65][66] Ilkhanat kemudian melancarkan serangan besar terhadap Suriah pada tahun 1281. Pasukan Mamluk kalah jumlah menghadapi koalisi Ilkhanat-Armenia-Georgia-Seljuk yang berjumlah sekitar 80.000 orang, tetapi mereka berhasil mengalahkan koalisi tersebut dalam Pertempuran Homs, sehingga menegaskan dominasi Mamluk di Suriah.[65] Kekalahan Ilkhanat itu memungkinkan Qalawun melanjutkan serangan terhadap sisa-sisa kekuatan Tentara Salib di Suriah, dan pada Mei 1285 ia merebut serta menempatkan garnisun di benteng Marqab.[67]
Masa awal pemerintahan Qalawun ditandai oleh kebijakan yang bertujuan memperoleh dukungan dari kalangan pedagang, birokrasi Muslim, dan lembaga keagamaan. Ia menghapus pajak ilegal yang membebani para pedagang dan memerintahkan proyek pembangunan serta renovasi besar-besaran pada tempat-tempat suci Islam, seperti Masjid Nabawi di Madinah, Masjid al-Aqsa di Yerusalem, dan Masjid Ibrahimi di Hebron.[68] Kegiatan pembangunan ini kemudian beralih ke tujuan yang lebih sekuler dan pribadi, termasuk pembangunan kompleks rumah sakit besar miliknya di Kairo.[69]
Setelah tercapai masa ketegangan yang mereda dengan Ilkhanat, Qalawun menekan perbedaan pendapat internal dengan memenjarakan puluhan emir berpangkat tinggi di Mesir dan Suriah.[70] Ia juga mendiversifikasi jajaran mamluk yang sebelumnya didominasi oleh orang Turkik dengan membeli banyak mamluk non-Turkik, terutama Sirkasia, dan dari mereka dibentuk resimen Burjiyya.[71]
Qalawun merupakan sultan Salihi terakhir dan setelah kematiannya pada tahun 1290, putranya, al-Ashraf Khalil, memperoleh legitimasi dengan menekankan garis keturunannya dari Qalawun.[72] Seperti para pendahulunya, prioritas utama Khalil adalah mengatur perangkat negara, mengalahkan Tentara Salib dan Mongol, mengintegrasikan Suriah, serta mempertahankan aliran mamluk dan persenjataan baru ke dalam kekaisaran.[72] Baybars telah membeli sekitar 4.000 mamluk, Qalawun sekitar 6.000โ7.000, dan pada akhir masa pemerintahan Khalil diperkirakan terdapat sekitar 10.000 mamluk di kesultanan.[73] Pada tahun 1291, Khalil merebut Acre, benteng besar terakhir Tentara Salib di Palestina, sehingga kekuasaan Mamluk kemudian meluas ke seluruh Suriah.[74]

Kematian Khalil pada tahun 1293 memicu periode perebutan kekuasaan antarfaksi. Adiknya yang masih belum dewasa, al-Nasir Muhammad, digulingkan pada tahun berikutnya oleh seorang mamluk keturunan Mongol dari Qalawun, al-Adil Kitbugha, yang kemudian digantikan oleh seorang mamluk Yunani dari Qalawun, Husamuddin Lajin. Untuk mengukuhkan kendali, Lajin mendistribusikan kembali iqtaสฟ kepada para pendukungnya. Namun ia tidak mampu mempertahankan kekuasaan, dan al-Nasir Muhammad dipulihkan sebagai sultan pada tahun 1298, memerintah sebuah negeri yang terpecah hingga akhirnya ia digulingkan oleh Baybars II, seorang mamluk Sirkasia dari Qalawun yang lebih kaya, lebih saleh, dan lebih berbudaya dibandingkan para pendahulunya.[72]
Pada awal masa pemerintahan kedua al-Nasir Muhammad, Ilkhanatโyang dipimpin oleh Mahmud Ghazan, seorang mualaf Muslimโmenyerbu Suriah dan mengalahkan pasukan Mamluk di dekat Homs dalam Pertempuran Wadi al-Khaznadar pada tahun 1299. Ghazan sebagian besar menarik diri dari Suriah tidak lama kemudian karena kekurangan pakan bagi banyak kuda mereka, dan pasukan Ilkhanat yang tersisa mundur pada tahun 1300 ketika tentara Mamluk yang telah dibangun kembali mendekat.[75] Invasi Ilkhanat lainnya pada tahun 1303 berhasil dipukul mundur setelah kemenangan Mamluk dalam Pertempuran Marj al-Suffar di dataran selatan Damaskus.[76]
Masa pemerintahan ketiga al-Nasir Muhammad
sunting
Baybars II memerintah selama sekitar satu tahun sebelum al-Nasir Muhammad kembali menjadi sultan pada tahun 1310. Kali ini ia memerintah selama lebih dari tiga dekade dalam suatu masa yang sering dianggap oleh para sejarawan sebagai puncak kejayaan kekaisaran Mamluk.[83] Untuk menghindari pengalaman dari dua masa pemerintahannya sebelumnya, ketika mamluk-mamluk Qalawun dan Khalil memegang pengaruh besar dan secara berkala mengambil alih kekuasaan, al-Nasir Muhammad membentuk sebuah otokrasi terpusat.
Pada tahun 1310, ia memenjarakan, mengasingkan, atau membunuh para emir Mamluk yang mendukung orang-orang yang pernah menggulingkannya di masa lalu, termasuk para mamluk Burji. Ia membagikan iqta'at kepada lebih dari tiga puluh mamluk miliknya sendiri.[84] Pada awalnya ia membiarkan sebagian besar mamluk milik ayahnya tetap tidak diganggu, tetapi pada tahun 1311 dan 1316 ia memenjarakan serta mengeksekusi sebagian besar dari mereka, lalu kembali membagikan iqta'at kepada para mamluknya sendiri.[85] Pada tahun 1316, jumlah mamluk menurun menjadi sekitar 2.000 orang.[73]
Al-Nasir Muhammad semakin memperkuat kekuasaannya dengan menggantikan Khalifah al-Mustakfi (memerintah 1302โ1340) dengan orang yang ia tunjuk sendiri, al-Wathiq, serta memaksa qadi (hakim kepala) untuk mengeluarkan keputusan hukum yang mendukung kepentingannya.[86]
Di bawah pemerintahan al-Nasir Muhammad, kaum Mamluk berhasil memukul mundur invasi Ilkhanat ke Suriah pada tahun 1313 dan menyimpulkan perjanjian damai dengan Ilkhanat pada tahun 1322, yang mengakhiri perang MamlukโMongol yang telah berlangsung lama. Setelah itu, al-Nasir Muhammad memulai masa stabilitas dan kemakmuran melalui penerapan reformasi besar di bidang politik, ekonomi, dan militer yang pada akhirnya bertujuan menjamin kelangsungan kekuasaannya serta memperkuat rezim QalawuniโBahri. Bersamaan dengan masa pemerintahannya, Ilkhanat terpecah menjadi beberapa negara dinasti yang lebih kecil, sehingga kaum Mamluk berusaha menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan dengan negara-negara baru tersebut.[83] Dalam kondisi yang mengurangi arus masuk mamluk dari wilayah Mongol ke kesultanan, al-Nasir Muhammad mengimbanginya dengan menerapkan metode baru dalam pelatihan serta kemajuan militer dan keuangan yang memberikan tingkat kelonggaran yang lebih besar. Hal ini menghasilkan kondisi yang lebih longgar bagi mamluk baru dan mendorong para calon mamluk di luar kekaisaran untuk mengejar karier militer di Mesir.[87]
Berakhirnya rezim Bahri
suntingAl-Nasir Muhammad meninggal pada tahun 1341 dan pemerintahannya diikuti oleh suksesi para keturunannya dalam suatu periode yang ditandai oleh ketidakstabilan politik. Sebagian besar penerusnya, kecuali al-Nasir Hasan (memerintah 1347โ1351, 1354โ1361) dan al-Ashraf Sha'ban (memerintah 1363โ1367), hanyalah sultan dalam nama saja, sementara para pelindung dari faksi-faksi mamluk terkemuka memegang kekuasaan yang sebenarnya.[83]
Putra pertama al-Nasir Muhammad yang naik takhta adalah al-Mansur Abu Bakr, yang telah ditunjuk oleh al-Nasir Muhammad sebagai penerusnya. Pembantu utama al-Nasir Muhammad, Qawsun, memegang kekuasaan sebenarnya; ia memenjarakan dan mengeksekusi Abu Bakr lalu mengangkat putra al-Nasir Muhammad yang masih bayi, al-Ashraf Kujuk, sebagai sultan.[88] Pada Januari 1342, Qawsun dan Kujuk digulingkan, dan saudara seayah Kujuk, al-Nasir Ahmad dari al-Karak, dinyatakan sebagai sultan.[89]

Ahmad kemudian pindah ke al-Karak dan meninggalkan seorang wakil untuk memerintah di Kairo.[93] Pengaturan yang tidak lazim ini, bersama perilakunya yang tertutup dan sembrono serta eksekusinya terhadap para pendukung setianya, berakhir dengan penggulingannya dan penggantian oleh saudara tirinya, al-Salih Isma'il, pada Juni 1342.[94] Isma'il memerintah hingga meninggal pada Agustus 1345 dan digantikan oleh saudaranya, al-Kamil Sha'ban. Yang terakhir ini terbunuh dalam pemberontakan mamluk dan digantikan oleh saudaranya, al-Muzaffar Hajji, yang juga terbunuh dalam pemberontakan mamluk pada akhir tahun 1347.[95]
Setelah kematian Hajji, para emir senior dengan tergesa-gesa mengangkat putra lain al-Nasir Muhammad, yaitu al-Nasir Hasan yang berusia dua belas tahun.[96] Bertepatan dengan masa pemerintahan pertama Hasan,[97] pada tahun 1347โ1348 Wabah Pes tiba di Mesir dan wabah-wabah lain menyusul kemudian, menyebabkan kematian massal di negeri tersebut dan memicu perubahan sosial serta ekonomi yang besar di kawasan itu.[83]
Pada tahun 1351, para emir senior yang dipimpin oleh Emir Taz menggulingkan Hasan dan menggantikannya dengan saudaranya, al-Salih Salih. Para emir Shaykhu dan Sirghitmish kemudian menggulingkan Salih dan memulihkan Hasan sebagai sultan pada tahun 1355. Setelah itu Hasan secara bertahap membersihkan Taz, Shaykhu, dan Sirghitmish beserta para mamluk mereka dari pemerintahannya.[97] Hasan juga merekrut dan mengangkat awlad al-nas (keturunan mamluk yang tidak mengalami proses perbudakan dan pembebasan) dalam militer dan administrasi, suatu kebijakan yang berlangsung selama sisa periode Bahri.[97][98] Hal ini menimbulkan kemarahan di kalangan mamluk Hasan sendiri, yang dipimpin oleh Emir Yalbugha al-Umari, yang kemudian membunuh Hasan pada tahun 1361.[97][99]
Yalbugha menjadi wali bagi penerus Hasan, yaitu putra muda sultan Hajji yang telah meninggal, al-Mansur Muhammad. Pada saat itu, solidaritas dan kesetiaan mamluk kepada para emir telah melemah. Untuk memulihkan disiplin dan persatuan dalam negara serta militer Mamluk, Yalbugha menghidupkan kembali sistem pelatihan mamluk yang ketat seperti pada masa Baybars dan Qalawun.[100]
Pada tahun 1365, upaya Mamluk untuk mencaplok Armeniaโyang sejak itu menggantikan Acre sebagai pusat perdagangan Kristen di Asiaโdigagalkan oleh invasi Aleksandria oleh Peter I dari Siprus. Pada saat yang sama, posisi menguntungkan Mamluk dalam perdagangan internasional mulai memburuk dan perekonomian mengalami kemerosotan, yang semakin melemahkan rezim Bahri.[83] Sementara itu, kerasnya metode pendidikan Yalbugha serta penolakannya untuk mencabut reformasi disiplin memicu pemberontakan para mamluk. Yalbugha dibunuh oleh para mamluknya sendiri dalam sebuah pemberontakan pada tahun 1366.[100]
Para pemberontak didukung oleh Sultan al-Ashraf Sha'ban, yang sebelumnya diangkat oleh Yalbugha pada tahun 1363. Sha'ban kemudian memerintah sebagai penguasa yang sebenarnya dalam kesultanan hingga tahun 1377, ketika ia dibunuh oleh para penentang dari kalangan mamluk dalam perjalanannya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.[101]
Pemerintahan Burji (1382โ1517)
suntingPemerintahan Barquq
suntingSha'ban digantikan oleh putranya yang berusia tujuh tahun, al-Mansur Ali, meskipun oligarki para emir senior memegang kendali kekuasaan yang sebenarnya.[102] Di antara para emir senior yang menonjol pada masa Ali adalah Barquq dan Baraka, keduanya mamluk Sirkasia dari Yalbugha.[101][102][103] Barquq diangkat sebagai atabeg al-asakir pada tahun 1378, yang memberinya komando atas tentara Mamluk,[101] kekuasaan yang kemudian digunakannya untuk menggulingkan Baraka pada tahun 1380.[102]
Ali meninggal pada Mei 1381 dan digantikan oleh adiknya yang berusia sembilan tahun, al-Salih Hajji, sementara kekuasaan nyata dipegang oleh Barquq sebagai wali.[104] Pada tahun berikutnya, Barquq menggulingkan al-Salih Hajji dan mengambil alih takhta.[101][105]
Kenaikannya dimungkinkan oleh dukungan para mamluk Yalbugha, yang kebangkitan kekuasaannya juga membuat posisi Barquq menjadi rentan.[105] Pemerintahannya ditantang oleh pemberontakan di Suriah pada tahun 1389 oleh para gubernur Mamluk di Malatya dan Aleppo, yaitu Mintash dan Yalbugha al-Nasiri, yang terakhir juga merupakan mamluk Yalbugha.[105][106] Para pemberontak menguasai Suriah dan bergerak menuju Mesir, memaksa Barquq turun takhta dan mengembalikan kekuasaan kepada al-Salih Hajji.

Namun aliansi antara Yalbugha al-Nasiri dan Mintash segera runtuh dan pertempuran antarfaksi pun pecah di Kairo, dengan Mintash menggulingkan Yalbugha. Barquq kemudian ditangkap dan diasingkan ke al-Karak, tempat ia mengumpulkan dukungan. Di Kairo, para pendukung setia Barquq merebut benteng dan menangkap al-Salih Hajji. Hal ini membuka jalan bagi Barquq untuk merebut kembali kesultanan pada Februari 1390, yang secara tegas menegakkan rezim Burji.[105] Para mamluk yang berkuasa pada periode ini sebagian besar adalah orang Sirkasia yang berasal dari populasi Kristen di Kaukasus utara.[108][109][110][111]
Barquq mengukuhkan kekuasaannya pada tahun 1393 ketika pasukannya membunuh lawan utama pemerintahannya, Mintash, di Suriah.[105] Barquq mengawasi perekrutan besar-besaran orang Sirkasia (diperkirakan sekitar 5.000 rekrutan)[112] ke dalam barisan mamluk serta pemulihan otoritas negara di seluruh wilayah kekuasaannya menurut tradisi Baybars dan Qalawun. Sebuah inovasi penting dalam sistem ini adalah pembagian Mesir menjadi tiga niyabat (tunggal niyaba; provinsi), yang serupa dengan pembagian administratif di Suriah.[113]
Niyabat baru di Mesir tersebut adalah Alexandria, Damanhur, dan Asyut.[114] Barquq menerapkan kebijakan ini untuk mengendalikan pedesaan Mesir dengan lebih baik dari meningkatnya kekuatan suku-suku Badui. Ia juga memindahkan suku Berber Hawwara dari Delta Nil ke Mesir Hulu untuk menahan pengaruh suku Badui Arab.[115]
Pada masa pemerintahan Barquq, pada tahun 1387, kaum Mamluk memaksa entitas Anatolia di Sivas menjadi negara vasal Mamluk. Menjelang akhir abad ke-14, para penantang terhadap kekuasaan Mamluk mulai muncul di Anatolia, termasuk dinasti Utsmaniyah serta sekutu Turkmen dari Timur, yaitu suku Aq Qoyunlu dan Qara Qoyunlu di Anatolia selatan dan timur.[106]
Krisis dan pemulihan kekuasaan negara
suntingBarquq meninggal pada tahun 1399 dan digantikan oleh putranya yang berusia sebelas tahun, an-Nasir Faraj. Pada tahun yang sama, Timur menyerbu Suriah dan menjarah Aleppo serta Damaskus. Timur mengakhiri pendudukannya atas Suriah pada tahun 1402 untuk memerangi Utsmaniyah di Anatolia, yang ia anggap sebagai ancaman yang lebih berbahaya. Faraj berhasil mempertahankan kekuasaan selama masa yang penuh gejolak ini. Selain serangan-serangan menghancurkan dari Timur, periode tersebut juga ditandai oleh kebangkitan suku-suku Turkmen di Jazira, upaya para emir Barquq untuk menggulingkan Faraj, kelaparan di Mesir pada tahun 1403, wabah besar pada tahun 1405, serta pemberontakan Badui yang hampir mengakhiri kendali Mamluk atas Mesir Hulu antara tahun 1401 dan 1413. Otoritas Mamluk di seluruh kesultanan melemah secara signifikan, sementara ibu kota Kairo mengalami krisis ekonomi.[116]
Faraj digulingkan pada tahun 1412 oleh para emir yang berbasis di SuriahโTanam, Jakam, Nawruz, dan al-Mu'ayyad Shaykhโyang sebelumnya telah dihadapi Faraj melalui tujuh ekspedisi militer. Para emir tersebut tidak dapat merebut takhta untuk diri mereka sendiri dan kemudian mengangkat Khalifah al-Musta'in (memerintah 1406โ1413) sebagai sultan boneka; khalifah itu mendapat dukungan dari mamluk non-Sirkasia serta legitimasi di mata penduduk setempat. Enam bulan kemudian, Shaykh menggulingkan al-Musta'in setelah menyingkirkan pesaing utamanya, Nawruz, dan kemudian mengambil alih kesultanan.[116] Kebijakan utama Shaykh adalah memulihkan otoritas negara di dalam kekaisaran, yang kembali dilanda wabah pada tahun 1415โ1417 dan 1420. Shaykh mengisi kembali perbendaharaan negara melalui ekspedisi pemungutan pajak yang mirip dengan penyerbuan di seluruh wilayah kekaisaran untuk menutupi tunggakan pajak yang menumpuk pada masa Faraj. Shaykh juga memerintahkan dan memimpin kampanye militer melawan musuh-musuh Mamluk di Anatolia, sehingga menegaskan kembali pengaruh negara di kawasan tersebut.[117]
Pemerintahan Barsbay
suntingSebelum Shaykh meninggal pada tahun 1421, ia berusaha mengimbangi kekuatan orang-orang Sirkasia dengan mengimpor mamluk Turkik dan mengangkat seorang Turkik sebagai atabeg al-asakir untuk bertindak sebagai wali bagi putranya yang masih bayi, Ahmad. Setelah kematiannya, seorang emir Sirkasia bernama Tatar menikahi janda Shaykh, menggulingkan atabeg al-asakir tersebut dan mengambil alih kekuasaan. Tatar meninggal tiga bulan setelah masa pemerintahannya dimulai dan digantikan oleh Barsbay, seorang emir Sirkasia lain dari kalangan mamluk Barquq, pada tahun 1422.[117] Di bawah Barsbay, Kesultanan Mamluk mencapai perluasan wilayah terbesar dan menjadi kekuatan militer dominan di kawasan tersebut,[118] tetapi warisannya dinilai beragam oleh para pengamat sezamannya yang mengkritik metode fiskal serta kebijakan ekonominya.[119]
Barsbay menjalankan kebijakan ekonomi dengan membentuk monopoli negara atas perdagangan yang sangat menguntungkan dengan Eropa, terutama rempah-rempah, dengan mengorbankan para pedagang lokal.[120] Para pedagang Eropa dipaksa membeli rempah-rempah dari agen negara yang menetapkan harga untuk memaksimalkan pendapatan negara, bukan untuk mendorong persaingan. Monopoli ini menjadi preseden bagi para penerusnya, yang kemudian juga menetapkan monopoli atas barang-barang lain seperti gula dan tekstil.[121] Barsbay memaksa para pedagang Laut Merah untuk menurunkan barang mereka di pelabuhan Hijaz yang dikuasai Mamluk di Jeddah, bukan di pelabuhan Aden di Yaman, agar negara memperoleh keuntungan finansial terbesar dari jalur transit Laut Merah menuju Eropa.[120] Upaya monopoli dan perlindungan perdagangan yang dilakukan Barsbay dimaksudkan untuk menutup kerugian besar di sektor pertanian akibat wabah yang sering berulang dan sangat merugikan para petani.[122] Dalam jangka panjang, monopoli perdagangan rempah-rempah berdampak negatif terhadap perdagangan Mesir dan menjadi salah satu pendorong bagi para pedagang Eropa untuk mencari jalur alternatif menuju Timur dengan mengelilingi Afrika dan menyeberangi Samudra Atlantik.[121]

Barsbay juga melakukan upaya untuk melindungi jalur kafilah menuju Hijaz dari serangan suku Badui.[120] Ia mengurangi kemandirian para Syarif Mekah hingga tingkat minimum, mengirim pasukan untuk menduduki Hijaz dan mengendalikan suku-suku Badui, serta mengambil alih secara langsung sebagian besar administrasi wilayah tersebut.[124][125] Ia juga berupaya mengamankan pantai Mediterania Mesir dari pembajakan oleh bangsa Katalan dan Genoa. Dalam kaitannya dengan hal ini, ia melancarkan kampanye melawan Siprus pada tahun 1425โ1426, yang dalam peristiwa tersebut raja Lusignan di pulau itu, Janus, ditangkap karena diduga membantu para perompak. Tebusan besar yang dibayarkan orang-orang Siprus kepada Mamluk memungkinkan mereka mencetak kembali mata uang emas untuk pertama kalinya sejak abad ke-14.[120] Janus kemudian menjadi penguasa vasal Barsbay, dan pengaturan ini dipertahankan terhadap para penerusnya selama beberapa dekade.[126]
Sebagai tanggapan terhadap serangan suku Aq Qoyonlu di Jazira, kaum Mamluk melancarkan ekspedisi melawan mereka, menjarah Edessa dan membantai penduduk Muslimnya pada tahun 1429 serta menyerang ibu kota mereka, Amid, pada tahun 1433. Akibatnya, Aq Qoyonlu mengakui kedaulatan Mamluk.[120] Meskipun kaum Mamluk berhasil memaksa sebagian besar beylik di Anatolia untuk tunduk pada kekuasaan mereka, otoritas Mamluk di Mesir Hulu sebagian besar berada di tangan para emir dari suku Hawwara. Suku tersebut menjadi kaya dari perdagangan yang berkembang dengan Afrika Tengah dan memperoleh tingkat popularitas lokal tertentu karena kesalehan, pendidikan, serta perlakuan mereka yang umumnya baik terhadap penduduk setempat.[120]
Penerus Barsbay
suntingBarsbay meninggal pada 7 Juni 1438 dan, sesuai keinginannya, digantikan oleh putranya yang berusia empat belas tahun, al-Aziz Yusuf, dengan salah satu emir terkemuka Barsbay, Saifuddin Jaqmaq, ditunjuk sebagai wali. Perselisihan suksesi yang lazim kemudian terjadi dan setelah tiga bulan Jaqmaq menang serta menjadi sultan, sementara Yusuf diasingkan ke Aleksandria.[127] Jaqmaq mempertahankan hubungan persahabatan dengan Utsmaniyah. Upaya militer luar negeri terpentingnya adalah kampanye yang gagal untuk menaklukkan Rhodes dari Kesatria St. John, yang melibatkan tiga ekspedisi antara tahun 1440 dan 1444.[128] Di dalam negeri, Jaqmaq sebagian besar melanjutkan monopoli Barsbay, meskipun ia berjanji melakukan reformasi dan secara resmi mencabut beberapa tarif.[129] Jaqmaq meninggal pada Februari 1453. Putranya yang berusia delapan belas tahun, al-Mansur Utsman, ditempatkan di takhta, tetapi segera kehilangan semua dukungan ketika ia mencoba membeli kesetiaan para mamluk lain dengan koin yang nilainya telah diturunkan.[130]
Saifuddin Inal, yang sebelumnya diangkat Barsbay sebagai atabeg al-asakir, memperoleh cukup dukungan untuk dinyatakan sebagai sultan dua bulan setelah kematian Jaqmaq.[130] Ia memerintah ketika Mehmed II, sultan Utsmaniyah, menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 dan memerintahkan perayaan publik untuk memperingati peristiwa tersebut,[130] mirip dengan perayaan atas kemenangan Mamluk.[131] Tidak jelas apakah Inal dan kaum Mamluk memahami implikasi dari peristiwa itu.[130] Penaklukan tersebut menandai kebangkitan Utsmaniyah sebagai kekuatan besar, suatu status yang kemudian membawa mereka ke dalam konflik yang semakin meningkat dengan Kesultanan Mamluk yang semakin stagnan.[132] Pada masa itu negara berada di bawah tekanan keuangan yang berat, dengan pemerintah menjual properti iqta'at sehingga perbendaharaan kehilangan pemasukan pajaknya. Koin berbasis logam mulia hampir menghilang dari peredaran.[133]
Inal meninggal pada 26 Februari 1461. Putranya, al-Mu'ayyad Ahmad, memerintah hanya dalam waktu singkat di tengah tantangan dari para gubernur Damaskus dan Jeddah. Seorang kandidat yang kompromis, Khushqadam al-Mu'ayyadi yang berasal dari Yunani, kemudian dipilih dan akhirnya berhasil menyingkirkan para penentangnya. Masa pemerintahannya ditandai oleh kesulitan politik lebih lanjut, baik di luar negeri maupun di dalam negeri. Siprus tetap menjadi negara vasal, tetapi perwakilan Khushqadam terbunuh dalam pertempuran setelah menghina James II (yang sebelumnya diangkat oleh Inal). Di dalam negeri, suku-suku Badui menimbulkan kerusuhan dan upaya sultan untuk menekan suku Labid di Delta Nil serta suku Hawwara di Mesir Hulu tidak banyak berhasil.[134]
Pemerintahan Qaitbay
sunting
Khushqadam meninggal pada 9 Oktober 1467 dan para emir mamluk pada awalnya mengangkat Yalbay al-Mu'ayyadi sebagai penggantinya. Setelah dua bulan ia digantikan oleh Timurbugha al-Zahiri. Timurbugha kemudian digulingkan pada 31 Januari 1468, tetapi ia secara sukarela menyetujui naiknya wakil keduanya, Qaitbay, ke takhta.[136]
Masa pemerintahan Qaitbay selama 28 tahunโyang merupakan masa pemerintahan terpanjang kedua dalam sejarah Mamluk setelah al-Nasir Muhammad[137]โditandai oleh stabilitas dan kemakmuran relatif. Sumber-sumber sejarah menggambarkan seorang sultan yang karakternya sangat berbeda dari para penguasa Mamluk lainnya. Ia dikenal tidak menyukai keterlibatan dalam konspirasi, padahal praktik tersebut merupakan ciri khas politik Mamluk. Ia juga memiliki reputasi sebagai pemimpin yang adil dan memperlakukan rekan-rekan serta bawahannya secara wajar, yang terlihat dari sikap murah hatinya terhadap Timurbugha yang telah digulingkan.[138]
Sifat-sifat ini tampaknya berhasil menahan ketegangan internal dan berbagai konspirasi sepanjang masa pemerintahannya.[139] Walaupun praktik-praktik Mamluk seperti penyitaan, pemerasan, dan suap tetap berlangsung dalam urusan fiskal, pada masa Qaitbay praktik-praktik tersebut dijalankan secara lebih sistematis sehingga individu dan lembaga dapat berfungsi dalam lingkungan yang lebih dapat diprediksi. Hubungannya dengan birokrasi sipil dan para ulama tampaknya mencerminkan komitmen yang tulus terhadap hukum Islam Sunni.[140]
Qaitbay juga merupakan salah satu pelindung arsitektur paling produktif dalam sejarah Mamluk, hanya kalah dari al-Nasir Muhammad,[137] dan patronasenya terhadap pembangunan bangunan keagamaan serta sipil meluas hingga ke provinsi-provinsi di luar Kairo.[140] Namun demikian, Qaitbay memerintah dalam kondisi wabah yang berulang kali terjadi dan menyebabkan penurunan populasi secara umum. Pertanian mengalami kemunduran, perbendaharaan negara sering mengalami kekurangan dana, dan pada akhir masa pemerintahannya kondisi ekonomi tetap lemah.[141]
Tantangan terhadap dominasi Mamluk di luar negeri juga semakin meningkat, terutama di wilayah utara. Shah Suwar, pemimpin kepangeranan Dulkadirid di Anatolia, memperoleh keuntungan dari dukungan Utsmaniyah dan dikenal sebagai ahli taktik militer yang sangat cakap. Sementara itu, Qaitbay mendukung penguasa kepangeranan Karamanid, Ahmad.[139] Pada awalnya, kaum Mamluk mengalami kegagalan dalam serangkaian kampanye melawan Shah Suwar. Keadaan berubah pada tahun 1470โ1471 ketika tercapai kesepakatan antara Qaitbay dan Mehmed II, yang menetapkan bahwa Qaitbay menghentikan dukungannya kepada Karamanid dan pihak Utsmaniyah menghentikan dukungannya kepada Dulkadirid.[142][143]
Setelah kehilangan dukungan Utsmaniyah, Shah Suwar dikalahkan pada tahun 1471 oleh ekspedisi Mamluk yang dipimpin oleh panglima lapangan utama Qaitbay, Yashbak min Mahdi.[143] Shah Suwar bertahan di bentengnya dekat Zamantฤฑ sebelum akhirnya bersedia menyerahkan diri dengan syarat nyawanya diselamatkan dan ia tetap diizinkan memerintah sebagai penguasa vasal. Namun pada akhirnya Qaitbay tidak bersedia membiarkannya hidup; Shah Suwar dikhianati, dibawa ke Kairo, dan dieksekusi.[142][143] Shah Budaq kemudian diangkat sebagai penggantinya dan sebagai vasal Mamluk, meskipun persaingan antara Utsmaniyah dan Mamluk atas takhta Dulkadirid terus berlanjut.[142]
Tantangan berikutnya bagi Qaitbay adalah kebangkitan pemimpin Aq Qoyunlu, Uzun Hasan.[143] Ia memimpin ekspedisi ke wilayah Mamluk di sekitar Aleppo pada tahun 1472, tetapi dikalahkan oleh Yashbak.[144] Pada tahun berikutnya, Uzun Hasan mengalami kekalahan yang lebih besar dalam pertempuran melawan Mehmed II di dekat Erzurum.[145] Putra sekaligus penerusnya, Ya'qub, kemudian berusaha menarik Yashbak min Mahdi untuk ikut serta dalam kampanye melawan Edessa. Karena hal ini tidak menimbulkan ancaman terhadap otoritas Qaitbay, Yashbak menerima tawaran tersebut. Meskipun pada awalnya kampanye itu berhasil, Yashbak terbunuh selama pengepungan kota tersebut, sehingga Qaitbay kehilangan panglima lapangan terpentingnya.[143]

Pada tahun 1489, Republik Venesia menganeksasi Siprus.[147][148] Bangsa Venesia menjanjikan kepada Qaitbay bahwa pendudukan mereka juga akan menguntungkannya, karena armada besar mereka dapat menjaga keamanan di Mediterania timur dengan lebih baik dibandingkan orang-orang Siprus. Venesia juga setuju untuk melanjutkan pembayaran upeti tahunan Siprus sebesar 8.000 dukat kepada Kairo. Perjanjian yang ditandatangani antara kedua kekuatan pada tahun 1490 meresmikan pengaturan ini. Hal ini menjadi tanda bahwa kaum Mamluk kini sebagian bergantung pada Venesia untuk keamanan maritim.[147]
Setelah kematian Mehmed II pada tahun 1481 dan naiknya putranya, Bayezid II, ke takhta Utsmaniyah, ketegangan antara Utsmaniyah dan Mamluk meningkat.[143] Klaim Bayezid atas takhta ditantang oleh saudaranya, Jem. Jem kemudian melarikan diri ke pengasingan dan Qaitbay memberinya perlindungan di Kairo pada September 1481. Qaitbay akhirnya mengizinkannya kembali ke Anatolia untuk memimpin upaya baru melawan Bayezid. Usaha ini gagal dan Jem kembali melarikan diri ke pengasingan, kali ini ke wilayah Kristen di barat. Bayezid menafsirkan penerimaan Qaitbay terhadap Jem sebagai dukungan langsung terhadap klaimnya dan sangat murka.[149][143]
Qaitbay juga mendukung pemimpin Dulkadirid, Ala al-Dawla (yang menggantikan Shah Budaq), melawan pihak Utsmaniyah.[143] Namun, Ala al-Dawla terpaksa mengalihkan kesetiaannya kepada Bayezid sekitar tahun 1483 atau 1484, yang segera memicu dimulainya perang antara Utsmaniyah dan Mamluk selama enam tahun berikutnya.[150][151] Pada tahun 1491, kedua pihak telah kelelahan dan sebuah utusan Utsmaniyah tiba di Kairo pada musim semi. Sebuah kesepakatan pun dicapai dan keadaan kembali seperti sebelum perang.[152] Selama sisa masa pemerintahan Qaitbay, tidak terjadi lagi konflik eksternal.[143]
Pemerintahan Al-Ghuri
sunting
Kematian Qaitbay pada 8 Agustus 1496 membuka beberapa tahun ketidakstabilan.[154] Setelah beberapa pemerintahan singkat oleh kandidat lain, Qansuh al-Ghuri (atau al-Ghawri) akhirnya diangkat menjadi sultan pada tahun 1501.[155] Al-Ghuri mengamankan posisinya dalam beberapa bulan dan menunjuk tokoh-tokoh baru ke jabatan penting. Keponakannya, Tuman Bay, diangkat sebagai dawadar dan menjadi wakil utamanya.[156] Di Suriah, al-Ghuri mengangkat Sibayโseorang mantan rival yang pernah menentangnya pada tahun 1504โ1505โsebagai gubernur Damaskus pada tahun 1506. Tokoh ini tetap menjadi figur penting selama masa pemerintahannya, tetapi ia mengakui kedaulatan Kairo dan membantu menjaga stabilitas.[157]
Al-Ghuri sering dipandang secara negatif oleh para penulis sejarah, terutama Ibnu Iyas, karena kebijakan fiskalnya yang sangat keras.[157] Ia mewarisi negara yang dilanda masalah keuangan. Selain perubahan demografis dan ekonomi yang terjadi pada masa para pendahulunya, perubahan dalam organisasi militer Mamluk dari waktu ke waktu juga menyebabkan banyak tentara merasa terasing dan berulang kali mengancam akan memberontak kecuali jika diberi pembayaran tambahan, yang semakin menguras keuangan negara.[157]
Untuk menutupi kekurangan tersebut, al-Ghuri menerapkan pajak dan pemerasan yang luas serta keras guna mengisi kembali perbendaharaan negara, yang memicu protes yang terkadang berubah menjadi kekerasan. Dana yang diperoleh digunakan untuk memperbaiki benteng-benteng di seluruh wilayah, membiayai proyek pembangunan miliknya sendiri di Kairo, serta membeli sejumlah besar mamluk baru untuk memperkuat barisan militernya.[158]
Al-Ghuri juga berusaha melakukan reformasi militer Mamluk. Ia menyadari dampak teknologi mesiu yang telah digunakan oleh Utsmaniyah dan bangsa Eropa, tetapi selama ini dihindari oleh kaum Mamluk. Pada tahun 1507 ia mendirikan sebuah pabrik pengecoran untuk memproduksi meriam dan membentuk resimen baru yang dilatih untuk menggunakannya, yang dikenal sebagai 'Korps Kelima' (al-แนฌabaqa al-Khamisa). Barisan korps ini diisi oleh para rekrutan dari luar sistem mamluk tradisional, termasuk orang Turkmen, Persia, awlad al-nas, dan para pengrajin.[157] Namun, tentara mamluk tradisional memandang rendah senjata api dan menentang keras penggunaannya dalam peperangan Mamluk, sehingga al-Ghuri tidak dapat memanfaatkannya secara efektif hingga akhir masa pemerintahannya.[157][159]
Sementara itu, Shah Ismail I muncul pada tahun 1501 dan mendirikan Kekaisaran Safawi di Iran. Dinasti Safawi menampilkan diri sebagai pembela Syiah Dua Belas Imam, yang secara langsung bertentangan dengan Sunni yang dianut oleh kaum Mamluk dan Utsmaniyah.[160] Ketegangan di wilayah perbatasan ini mendorong al-Ghuri untuk semakin mengandalkan bantuan Utsmaniyah, suatu kebijakan yang pada akhirnya juga dianjurkan oleh Venesia untuk menghadapi musuh bersama mereka, yaitu Portugis.[147][161][162]
Ekspansi Portugis ke Samudra Hindia menjadi salah satu perhatian utama pada masa pemerintahan al-Ghuri.[157] Pada tahun 1498, navigator Portugis Vasco da Gama berhasil mengelilingi Afrika dan mencapai India, sehingga membuka jalur baru bagi perdagangan Eropa dengan Timur yang melewati Afrika dan tidak lagi melalui Timur Tengah. Hal ini menimbulkan ancaman serius bagi perdagangan Muslim yang sebelumnya dominan di kawasan tersebut, serta bagi kemakmuran Venesia yang bergantung pada perdagangan yang mengalir dari Samudra Hindia ke Laut Mediterania melalui wilayah Mamluk.[163]
Selama lebih dari satu dekade berikutnya, terjadi serangkaian konfrontasi antara pasukan Portugis di Samudra Hindia dan ekspedisi Muslim yang dikirim untuk melawan mereka. Pada tahun 1506, armada Mamluk yang terdiri dari lima puluh kapal berangkat dari Jeddah dengan bantuan pasukan dari Kesultanan Gujarat. Armada ini berhasil mengalahkan Portugis pada tahun 1507, tetapi kemudian mengalami kekalahan dalam Pertempuran Diu pada tahun 1509.[164] Pada tahun 1515, sebuah armada gabungan UtsmaniyahโMamluk berlayar di bawah kepemimpinan Salman Ra'is, namun pada akhirnya tidak mencapai hasil yang berarti.[165]
Jatuh ke tangan Utsmaniyah
sunting
Selim I, sultan Utsmaniyah yang baru, mengalahkan Safawi secara telak dalam Pertempuran Chaldiran pada tahun 1514. Tidak lama kemudian, ia menyerang dan mengalahkan Dulkadirid, yang merupakan negara vasal Mamluk, karena menolak membantu dirinya melawan Safawi.[160] Setelah merasa aman dari ancaman Ismail I, pada tahun 1516 ia menghimpun sebuah pasukan besar dengan tujuan menaklukkan Mesir. Namun, untuk menyamarkan rencananya, ia menyatakan bahwa mobilisasi pasukan tersebut merupakan bagian dari perang melawan Ismail I.
Perang dimulai pada tahun 1516 dan akhirnya menyebabkan Mesir beserta wilayah-wilayah dependensinya dimasukkan ke dalam Kekaisaran Utsmaniyah. Dalam konflik ini, kavaleri Mamluk tidak mampu menandingi artileri Utsmaniyah dan pasukan janissari. Pada 24 Agustus 1516, dalam Pertempuran Marj Dabiq, pasukan Utsmaniyah meraih kemenangan atas tentara yang dipimpin langsung oleh al-Ghuri.[166] Khayr Bak, gubernur Aleppo, diam-diam telah bersekongkol dengan Selim dan mengkhianati al-Ghuri dengan menarik pasukannya di tengah pertempuran. Dalam kekacauan yang terjadi kemudian, al-Ghuri terbunuh.[167] Pasukan Mamluk yang selamat kembali ke Aleppo, tetapi mereka ditolak masuk ke kota dan akhirnya mundur kembali ke Mesir sambil terus diganggu sepanjang perjalanan.[168] Suriah pun jatuh ke tangan Utsmaniyah,[169] dan di banyak tempat kedatangan mereka disambut sebagai pembebasan dari kekuasaan Mamluk.[170][171][172]
Kesultanan Mamluk masih bertahan sebentar hingga tahun 1517. Tuman Bay, yang sebelumnya ditinggalkan al-Ghuri sebagai wakilnya di Kairo, dengan cepat dan secara bulat diproklamasikan sebagai sultan pada 10 Oktober 1516.[167][173] Para emir menolak rencananya untuk menghadang serangan Utsmaniyah berikutnya di Gaza, sehingga ia mempersiapkan pertahanan terakhir di al-Raydaniyya di sebelah utara Kairo.[167] Pada awal tahun 1517, Tuman Bay menerima kabar bahwa sebuah pasukan Mamluk telah dikalahkan di Gaza.[174] Serangan Utsmaniyah di al-Raydaniyya berhasil menghancurkan pertahanan pada 22 Januari 1517 dan mencapai Kairo.[168]
Selama beberapa hari berikutnya, pertempuran sengit terjadi antara pasukan Mamluk, penduduk setempat, dan tentara Utsmaniyah, yang menyebabkan kerusakan besar di kota serta tiga hari penjarahan. Selim kemudian mengumumkan amnesti pada 31 Januari, setelah itu banyak mamluk yang tersisa menyerah.[175] Tuman Bay melarikan diri ke Bahnasa di Mesir Tengah bersama sebagian pasukannya yang masih tersisa.[168]
Pada awalnya Selim menawarkan perdamaian kepada sultan Mamluk dengan status sebagai vasal Utsmaniyah, tetapi para utusannya dicegat dan dibunuh oleh pihak Mamluk.[176] Tuman Bay, dengan sekitar 4.000 kavaleri dan sekitar 8.000 infanteri, menghadapi pasukan Utsmaniyah dalam pertempuran terakhir yang berdarah di dekat Giza pada 2 April 1517. Ia dikalahkan dan ditangkap.[176][168] Selim pada awalnya berniat menyelamatkan nyawanya, tetapi Khayr Bak dan Janbirdi al-Ghazaliโmantan komandan Mamluk lainnyaโmeyakinkan sultan Utsmaniyah bahwa Tuman Bay terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup. Akhirnya, sultan Mamluk terakhir tersebut dihukum mati dengan cara digantung di Bab Zuwayla, salah satu gerbang Kairo, pada 13 April 1517.[177]
Sebagai imbalan atas pengkhianatannya di Marj Dabiq, Selim mengangkat Khayr Bak sebagai gubernur Utsmaniyah di Mesir.[168] Janbirdi al-Ghazali diangkat sebagai gubernur Damaskus.[178]
Mamluk di bawah kekuasaan Utsmaniyah
suntingMeskipun Kesultanan Mamluk berakhir dengan penaklukan Utsmaniyah dan perekrutan mamluk kerajaan dihentikan, para mamluk sebagai kelas militer-sosial tetap terus ada.[179][180] Mereka membentuk suatu โkelas pejuang yang mempertahankan keberadaannya sendiri dan sebagian besar berbahasa Turkiโ yang terus memengaruhi politik di bawah pemerintahan Utsmaniyah.[181]
Mereka tetap ada sebagai unit-unit militer yang berjalan sejajar dengan resimen Utsmaniyah yang lebih murni, seperti janissari dan azab. Perbedaan antara resimen Utsmaniyah tersebut dan resimen mamluk di Mesir semakin lama menjadi kabur, karena perkawinan campuran menjadi hal yang umum, sehingga terbentuk suatu kelas sosial yang lebih bercampur.[180]

Selama periode ini, sejumlah โrumah tanggaโ mamluk terbentuk, dengan komposisi yang kompleks yang mencakup baik mamluk sejati maupun awlad al-nas, yang juga dapat naik ke pangkat tinggi. Setiap rumah tangga dipimpin oleh seorang ustadh, yang bisa berupa perwira Utsmaniyah atau seorang sipil lokal. Jaringan patronase mereka juga meluas hingga mencakup para pengikut yang direkrut dari provinsi-provinsi lain dalam Kekaisaran Utsmaniyah serta sekutu dari kalangan penduduk kota dan suku-suku setempat.[179]
Hingga awal abad ke-17, sebagian besar mamluk di Mesir masih berasal dari kawasan Kaukasus atau keturunan Sirkasia. Pada akhir abad ke-17 dan abad ke-18, mamluk dari bagian lain Kekaisaran Utsmaniyah atau wilayah perbatasannyaโseperti Bosnia dan Georgiaโmulai muncul di Mesir.[182]
Sepanjang periode pemerintahan Utsmaniyah, rumah tangga dan faksi mamluk yang kuat saling bersaing untuk menguasai jabatan-jabatan politik penting serta pendapatan Mesir.[179] Antara tahun 1688 dan 1755, para bey mamluk, yang bersekutu dengan suku-suku Badui dan faksi-faksi dalam garnisun Utsmaniyah, menggulingkan sedikitnya tiga puluh empat gubernur.[183] Kaum mamluk tetap menjadi kekuatan dominan dalam politik Mesir hingga akhirnya mereka disingkirkan oleh Muhammad Ali pada tahun 1811.[184]
Pemerintahan
suntingMamluk tidak secara signifikan mengubah sistem administratif, hukum, dan ekonomi yang mereka warisi dari negara Ayyubiyah.[185] Mereka memerintah wilayah yang pada dasarnya sama dengan wilayah Ayyubiyah, yaitu Mesir, Suriah, dan Hijaz. Berbeda dengan kedaulatan kolektif Ayyubiyah, di mana wilayah dibagi di antara anggota keluarga kerajaan, negara Mamluk bersifat tunggal. Di bawah banyak sultan Ayyubiyah, Mesir memiliki kedudukan utama atas provinsi-provinsi Suriah, tetapi di bawah Mamluk, kedudukan utama Mesir bersifat konsisten dan mutlak.[186] Kairo tetap menjadi ibu kota kekaisaran sekaligus pusat sosial, ekonomi, dan administratifnya, dengan Benteng Kairo berfungsi sebagai markas besar sultan.[185]
Otoritas sultan
suntingSultan Mamluk adalah otoritas tertinggi dalam pemerintahan, meskipun ia mendelegasikan kekuasaan kepada gubernur provinsi yang dikenal sebagai nuwwab al-saltana (wakil sultan, tunggal: na'ib al-saltana). Wakil tertinggi di Mesir adalah na'ib Mesir, diikuti oleh na'ib Damaskus, kemudian Aleppo, lalu nuwwab al-Karak, Safed, Tripoli, Homs, dan Hama. Di Hama, Mamluk mengizinkan Ayyubiyah untuk tetap memerintah hingga 1341 (gubernur populer pada 1320, Abu'l Fida, diberikan gelar kehormatan sultan oleh al-Nasir Muhammad), tetapi di provinsi lainnya nuwwab biasanya adalah emir Mamluk.[186]
Proses kenaikan tahta berlangsung secara konsisten untuk setiap sultan baru. Biasanya melibatkan pemilihan oleh dewan emir dan mamluk (yang mengucapkan sumpah setia), pengangkatan sultan dengan gelar al-malik, prosesi negara yang dipimpin sultan di Kairo, dan pembacaan nama sultan dalam khutbah Jumat.[189] Proses ini tidak diformalkan, dan badan pemilih tidak pernah ditentukan secara resmi, tetapi biasanya terdiri dari emir dan mamluk dari faksi Mamluk yang berkuasa; perebutan tahta oleh faksi saingan cukup umum.[190] Meskipun sifatnya elektoral, suksesi dinasti tetap terjadi,[86] terutama pada periode Bahri, di mana putra Baybars, Baraka dan Solamish, naik tahta sebelum Qalawun merebut kekuasaan dan kemudian digantikan oleh empat generasi keturunan langsungnya, dengan beberapa interupsi.[190] Di periode Burji, pemerintahan turun-temurun lebih jarang, meski hampir semua sultan Burji terkait dengan pendiri rezim Barquq melalui darah atau afiliasi mamluk.[191] Pengangkatan kerabat darah sering merupakan keputusan atau ketidaktegasan emir terkemuka atau kehendak sultan sebelumnya.[86] Pada kasus sultan Baybars, Qalawun, putra Qalawun al-Nasir Muhammad, dan Barquq, mereka secara resmi mengatur agar satu atau lebih putra mereka menjadi penerus.[190] Lebih sering, putra sultan dipilih oleh emir senior untuk menjadi kepala boneka yang memimpin oligarki emir.[191]
Emir berpangkat lebih rendah memandang sultan sebagai rekan sejawat yang dipercayai dengan otoritas tertinggi sekaligus sebagai dermawan yang menjamin gaji dan monopoli militer mereka. Jika sultan dianggap gagal menjamin kepentingan mereka, kerusuhan, kudeta, atau penundaan pelaksanaan tugas menjadi kemungkinan.[192] Pembatasan praktis terhadap kekuasaan sultan sering muncul dari khushdashiyya,[193] yang menurut sejarawan Amalia Levanoni adalah โpembentukan ikatan bersama antara mamluk yang tergolong dalam rumah tangga seorang tuan dan kesetiaan mereka kepadanyaโ.[194] Dasar organisasi Mamluk dan kesatuan faksi bergantung pada prinsip khushdashiyya, yang menjadi komponen penting kekuasaan sultan.[194] Sultan juga memperoleh kekuatan dari emir lainnya, meski terjadi ketegangan konstan, terutama pada masa damai. Emir yang bukan bagian dari khushdashiyya sultan loyalitas utamanya pada ustadh-nya. Emir yang termasuk khushdashiyya sultan juga terkadang memberontak, khususnya nuwwab Suriah yang memiliki basis kekuasaan di provinsi mereka. Faksi yang paling setia biasanya adalah Mamluk Kerajaan, khususnya yang direkrut dan dimanumisi langsung oleh sultan, berbeda dengan qaranis yang direkrut oleh pendahulunya. Qaranis kadang menjadi faksi yang bermusuhan, seperti pada masa as-Salih Ayyub dan penerus Qalawuni dari al-Nasir Muhammad.[193]
Di antara tanggung jawab sultan adalah mengeluarkan dan menegakkan perintah hukum tertentu serta aturan umum, mengambil keputusan untuk memulai perang, memungut pajak untuk kampanye militer, memastikan distribusi makanan yang proporsional di seluruh kekaisaran, dan dalam beberapa kasus, mengawasi penyelidikan serta hukuman bagi tersangka kriminal. Sultan atau pejabat yang ditunjuknya memimpin kafilah Haji dari Kairo dan Damaskus ke Mekah sebagai amir al-hajj (komandan kafilah Haji).[195]
Mulai dari Qalawun, sultan memonopoli penyediaan Kiswah (jubah Ka'bah) yang diganti setiap tahun, selain memberikan patronase terhadap Kubah Batu di Yerusalem.[195] Salah satu hak prerogatif, setidaknya bagi sultan-sultan Bahri awal, adalah mengimpor sebanyak mungkin mamluk, idealnya dari wilayah Mongol. Musuh-musuh Mamluk, yakni negara-negara Mongol dan vasal Muslim mereka, orang Armenia, serta Tentara Salib, mengganggu arus mamluk ke kesultanan. Ketika kebutuhan militer akan mamluk baru tidak terpenuhi, para sultan sering terpaksa merekrut wafidiyya (pembelot Ilkhanid atau tawanan perang).[196]
Kekuasaan khalifah
suntingUntuk melegitimasi kekuasaan mereka, para Mamluk menampilkan diri sebagai pembela Islam, dan, mulai dari Baybars, mencari konfirmasi otoritas eksekutif mereka dari seorang khalifah. Ayyubiyah pernah memberikan kesetiaan mereka kepada Khalifah Abbasiyah, tetapi khalifah tersebut dihancurkan ketika Mongol menjarah ibu kota Abbasiyah, Baghdad, pada 1258 dan membunuh Khalifah al-Musta'sim. Tiga tahun kemudian, Baybars menghidupkan kembali institusi khalifah dengan menjadikan seorang anggota dinasti Abbasiyah, al-Mustansir, sebagai khalifah, yang kemudian menegaskan Baybars sebagai sultan.[197] Khalifah mengakui otoritas sultan atas Mesir, Suriah, Jazirah, Diyar Bakr, Hijaz dan Yaman serta wilayah yang ditaklukkan dari Tentara Salib atau Mongol.[198]
Pengganti al-Mustansir dari keluarga Abbasiyah tetap menjalankan tugas resmi sebagai khalifah, tetapi tidak memiliki kekuasaan nyata.[197] Masa pemerintahan Khalifah al-Musta'in yang kurang dari setahun sebagai sultan pada 1412 adalah sebuah pengecualian.[193] Sebagai bukti anekdotal atas kurangnya otoritas nyata khalifah, sekelompok mamluk pemberontak menanggapi penyampaian dekrit Khalifah al-Hakim oleh Lajin yang menegaskan kekuasaannya dengan komentar yang dicatat oleh Ibnu Taghribirdi: "Orang bodoh. Demi Tuhanโsiapa sekarang yang memperhatikan khalifah?"[193]
Kehadiran Abbasiyah tetap menjadi aset politik penting untuk legitimasi penguasa Mamluk dan memberikan prestise yang signifikan bagi mereka.[199] Khalifah sendiri tetap relevan sebagai simbol bahkan bagi penguasa Muslim lain hingga akhir abad ke-14; misalnya, para sultan Delhi, sultan Muzaffarid Muhammad, sultan Jalayirid Ahmad, dan sultan Utsmaniyah Bayezid I semua mencari diploma penobatan dari khalifah Abbasiyah atau menyatakan kesetiaan nominal kepada mereka.[200] Namun, selama abad ke-15, institusi khalifah menurun pentingnya dan para khalifah menjadi lebih banyak sebagai pejabat agama yang mengunjungi sultan pada kesempatan khusus.[201] Perubahan ini juga tercermin dari pergeseran peran seremonial khalifah saat pengangkatan sultan Mamluk: sementara Baybars secara formal memberikan bai'at (sumpah setia) kepada Khalifah Abbasiyah al-Mustansir pada 1261, beberapa atau sebagian besar khalifah kemudian justru melakukan bai'at kepada sultan Mamluk.[202]
Hierarki militer dan pemerintahan
sunting
Para sultan merupakan produk dari hierarki militer, masuk ke dalamnya secara praktis dibatasi bagi para mamluk. Awlad al-nas dapat masuk dan naik pangkat tinggi dalam hierarki,[203] tetapi umumnya tidak memasuki dinas militer. Sebagai gantinya, banyak dari mereka menekuni karier di bidang perdagangan, pendidikan, atau pekerjaan sipil lainnya.[204] Tentara yang diwarisi Baybars terdiri dari suku Kurdi dan Turkik, pengungsi dari pasukan Ayyubiyah di Suriah, serta pasukan lain dari tentara yang dibubarkan oleh Mongol. Setelah Pertempuran Ain Jalut, Baybars merestrukturisasi tentara menjadi tiga komponen: resimen Mamluk Kerajaan, pasukan para emir, dan halqa (pasukan non-mamluk). Resimen Mamluk Kerajaan berada langsung di bawah komando sultan dan merupakan badan tertinggi dalam tentara, dengan keanggotaan yang eksklusif.[205] Emir yang berpangkat lebih rendah memiliki korps sendiri,[203] mirip dengan tentara pribadi, yang juga dapat dimobilisasi oleh sultan sesuai kebutuhan.[205] Saat emir dipromosikan, jumlah tentara dalam korps mereka bertambah, dan ketika emir saingan menantang satu sama lain, mereka sering menggunakan pasukan ini, yang menyebabkan gangguan besar pada kehidupan sipil.[203] Pasukan halqa memiliki status lebih rendah daripada resimen mamluk, memiliki struktur administratif sendiri, dan berada di bawah komando langsung sultan. Resimen halqa mengalami kemunduran pada abad ke-14 ketika tentara profesional non-mamluk umumnya berhenti bergabung dengan pasukan ini.[206]
Salah satu reformasi awal Baybars adalah menciptakan hierarki yang jelas dan permanen, sistem yang sebelumnya tidak dimiliki oleh Ayyubiyah. Untuk itu, ia menetapkan sistem peringkat untuk para emir menjadi sepuluh, empat puluh, dan seratus, masing-masing menunjukkan jumlah mamluk yang ditempatkan di bawah komando seorang emir. Seorang emir seratus dapat ditugaskan hingga seribu pasukan berkuda dalam pertempuran.[207] Baybars menegakkan keseragaman dalam tentara dan mengakhiri sifat tentara Ayyubiyah yang bersifat improvisasi di Mesir dan Suriah.[208] Baybars dan Qalawun menstandarkan kebijakan Ayyubiyah yang sebelumnya tidak jelas tentang distribusi iqtaสฟat kepada para emir. Reformasi ini menciptakan hubungan yang jelas antara pangkat seorang emir dan besarnya iqtaสฟ yang dimilikinya.[209] Baybars memulai inspeksi pasukan setiap dua minggu untuk memastikan perintah sultan dijalankan, selain inspeksi berkala di mana ia membagikan senjata baru kepada pasukan. Mulai masa Qalawun, sultan dan administrasi militer mencatat semua emir di seluruh kerajaan dan menentukan peran mereka sebagai bagian dari sayap kanan atau kiri tentara saat perang.[208]
Secara bertahap, seiring dengan diisinya jabatan administratif dan kedudukan istana oleh para mamluk, inovasi Mamluk terhadap hierarki Ayyubiyah mulai berkembang. Jabatan ustadar (majordomo), hajib (bendahara negara), amir jandar (komandan gudang senjata) dan khazindar (bendahara harta), yang telah ada pada masa Ayyubiyah, tetap dipertahankan, tetapi Baybars menambahkan jabatan dawadar (sekretaris atau penasihat), amir akhur (komandan kandang kuda kerajaan), ru'us al-nawab (kepala korps mamluk) dan amir majlis (komandan audiensi). Jabatan tambahan ini sebagian besar bersifat seremonial dan terkait erat dengan hierarki militer.[210]
Ustadar (dari bahasa Arab ustadh al-dar, harfiah 'tuan rumah') adalah kepala staf sultan, bertanggung jawab untuk mengatur kegiatan harian istana kerajaan, mengelola anggaran pribadi sultan, dan mengawasi seluruh bangunan di Benteng Kairo beserta stafnya. Ustadar sering disebut sebagai ustadar al-aliya (kepala besar rumah) untuk membedakannya dari ustadar saghirs (majordomo bawahan) yang mengawasi aspek tertentu dari istana dan benteng, seperti kas sultan, harta pribadi, dan dapur benteng. Para emir memiliki ustadar masing-masing.[211] Jabatan ustadar al-aliya menjadi sangat berpengaruh pada akhir abad ke-14, terutama di bawah Barquq dan al-Nasir Faraj, yang memindahkan tanggung jawab biro khusus untuk mamluk mereka ke otoritas ustadar, menjadikan jabatan ini sebagai pejabat keuangan tertinggi negara.[211][212]
Ekonomi
sunting
Ekonomi Mamluk pada dasarnya terbagi menjadi dua bagian: ekonomi negara, yang diatur seperti rumah tangga kerajaan dan dikelola oleh pemerintah elit di bawah sultan, serta ekonomi pasar bebas, yang dikuasai oleh masyarakat biasa dan terkait dengan penduduk lokal, berbeda dari orang asing atau kelompok luar elit penguasa.[214] Mamluk memperkenalkan sentralisasi ekonomi yang lebih besar dengan mengorganisasi birokrasi negara di Kairo (Damaskus dan Aleppo sudah memiliki birokrasi yang terorganisasi), serta hierarki militer dan sistem iqtaสฟ yang terkait dengannya. Di Mesir, posisi strategis Sungai Nil memfasilitasi sentralisasi wilayah oleh Mamluk.[83] Mamluk menggunakan sistem mata uang yang sama seperti Ayyubiyah, terdiri dari dinar emas, dirham perak, dan fulus tembaga.[215] Sistem moneter selama periode Mamluk sangat tidak stabil karena perubahan moneter yang sering diberlakukan oleh para sultan. Peningkatan peredaran koin tembaga dan peningkatan penggunaan tembaga dalam dirham sering menyebabkan inflasi.[216]
Mamluk membentuk badan administratif yang disebut hisba untuk mengawasi pasar, dengan seorang muhtasib (inspektur jenderal) sebagai penanggung jawab. Ada empat muhtasib yang ditempatkan di Kairo, Aleksandria, al-Fustat, dan Mesir Hulu. Muhtasib di Kairo adalah yang paling penting dan posisinya setara dengan menteri keuangan. Muhtasib memeriksa timbangan dan ukuran serta kualitas barang, menjaga perdagangan legal, dan mendeteksi praktik harga berlebihan.[215] Posisi ini diisi oleh seorang qadi atau ulama Muslim, tetapi pada abad ke-15, emir Mamluk mulai diangkat sebagai muhtasib untuk memberikan kompensasi selama kekurangan kas atau sebagai akibat dari pergeseran bertahap peran muhtasib dari ranah hukum ke penegakan.[217]
Sistem iqtaสฟ
suntingSistem iqtaสฟ diwarisi dari Ayyubiyah dan kemudian diatur lebih lanjut oleh Mamluk agar sesuai dengan kebutuhan militer mereka. Iqtaสฟat menjadi komponen penting dalam struktur kekuasaan Mamluk.[218] Iqtaสฟ bagi Muslim berbeda dengan konsep feodal Eropa karena iqtaสฟ memberi hak untuk mengumpulkan pendapatan dari wilayah tertentu dan diberikan kepada seorang pejabat (emir) sebagai penghasilan sekaligus sumber dana untuk memelihara pasukannya. Sebelum bangkitnya Mamluk, para pemegang iqtaสฟ cenderung memperlakukan iqtaสฟ mereka sebagai properti pribadi yang dapat diwariskan. Mamluk secara efektif mengakhiri praktik ini, kecuali di beberapa wilayah, terutama di Pegunungan Lebanon, di mana pemegang iqtaสฟ Druze jangka panjang (lihat Buhturids), yang menjadi bagian dari halqa, berhasil menolak penghapusan iqtaสฟ mereka yang diwariskan.[219] Pada era Mamluk, iqtaสฟ menjadi sumber penghasilan utama seorang emir,[220] dan mulai tahun 1337,[221] pemegang iqtaสฟ kadang-kadang menyewakan atau menjual hak atas iqtaสฟ mereka kepada non-Mamluk untuk mendapatkan keuntungan lebih.[220] Pada tahun 1343, praktik ini sudah umum, dan pada 1347, penjualan iqtaสฟ mulai dikenai pajak.[221] Iqtaสฟ menjadi sumber pendapatan yang lebih stabil dibandingkan metode lain yang digunakan Mamluk, seperti kenaikan pajak, penjualan jabatan administrasi, dan pemerasan terhadap penduduk.[220] Menurut sejarawan Jo van Steenbergen,
Sistem iqtaสฟ sangat penting untuk menjamin akses yang sah, terkontrol, dan terjamin terhadap sumber daya wilayah Suriah-Mesir bagi lapisan atas masyarakat Mamluk yang terutama berbentuk dan terorganisasi secara militer. Dengan demikian, sistem ini menjadi ciri utama masyarakat Mamluk: di satu sisi, sistem ini membentuk hierarki militer yang kemudian berkembang menjadi hierarki ekonomi yang lebih kompleks dengan kepentingan ekonomi yang signifikan dalam masyarakat secara luas; di sisi lain, sistem ini sangat memengaruhi perkembangan ekonomi dan sosial wilayah tersebut, terutama dalam hal pertanian, perdagangan gandum, dan demografi pedesaan.[222]
Sistem ini terdiri dari pemberian tanah oleh negara sebagai imbalan atas layanan militer. Tanah dinilai melalui rawk berkala (survei kadaster), yang mencakup pemetaan petak-petak tanah (diukur dalam satuan feddan), penilaian kualitas tanah, perkiraan pendapatan pajak tahunan dari petak tersebut, serta klasifikasi status hukumnya sebagai wakaf atau iqtaสฟ.[223] Rawk mengatur sistem iqtaสฟ, dan yang pertama dilakukan pada 1298 di bawah pemerintahan Lajin. Rawk kedua dan terakhir diselesaikan pada 1315 di bawah al-Nasir Muhammad dan memengaruhi perkembangan politik serta ekonomi Kesultanan Mamluk hingga kejatuhannya pada awal abad ke-16.[224]
Secara bertahap, sistem iqtaสฟ diperluas, dan semakin banyak wilayah kharaj (tanah kena pajak) dialokasikan sebagai tanah iqtaสฟ untuk memenuhi kebutuhan fiskal militer, terutama pembayaran kepada para emir dan bawahan mereka. Negara memutuskan untuk meningkatkan alokasi dengan menyebarkan iqtaสฟ seorang emir ke beberapa provinsi dan untuk jangka waktu pendek. Hal ini menyebabkan pemegang iqtaสฟ mengabaikan pengawasan administrasi, pemeliharaan, dan infrastruktur tanah mereka, dan hanya fokus pada pemungutan pajak, sehingga produktivitas menjadi menurun.[220]
Pertanian
suntingPertanian merupakan sumber utama pendapatan dalam ekonomi Mamluk.[214][225] Produk pertanian menjadi ekspor utama Mamluk di Mesir, Suriah, dan Palestina. Selain itu, industri besar seperti produksi gula dan tekstil sangat bergantung pada tanaman tebu dan kapas.[214] Setiap komoditas pertanian dikenai pajak oleh negara, dengan kas sultan menerima bagian terbesar dari pendapatan; kemudian diikuti oleh para emir dan pedagang swasta utama. Sumber penghasilan utama seorang emir berasal dari produk pertanian di iqtaสฟ miliknya.[226]
Di Mesir, sentralisasi produksi pertanian oleh Mamluk lebih menyeluruh dibandingkan di Suriah dan Palestina. Seluruh pertanian di Mesir bergantung pada satu sumber irigasi, yaitu Sungai Nil, dan ukuran serta hak irigasi ditentukan oleh banjir sungai. Sementara di Suriah dan Palestina, terdapat beberapa sumber irigasi yang sebagian besar bergantung pada hujan, dan ukuran serta hak ditentukan secara lokal. Sentralisasi di Suriah dan Palestina lebih rumit dibanding Mesir karena keragaman geografis wilayah tersebut dan seringnya terjadi invasi.[227] Peran negara dalam pertanian Suriah-Palestina terbatas pada administrasi fiskal serta jaringan irigasi dan infrastruktur pedesaan lainnya.[228] Meskipun tingkat sentralisasi tidak setinggi di Mesir, Mamluk tetap memberlakukan kontrol yang cukup atas ekonomi Suriah untuk memperoleh pendapatan yang signifikan. Pemeliharaan tentara Mamluk di Suriah bergantung pada kontrol negara atas pendapatan pertanian Suriah.[229]
Di antara tanggung jawab seorang gubernur provinsi atau distrik Mamluk adalah menempati kembali daerah-daerah yang ditinggalkan untuk mendorong produksi pertanian, melindungi tanah dari serangan Badui, meningkatkan produktivitas tanah tandus (kemungkinan melalui pemeliharaan dan perluasan jaringan irigasi yang ada), dan memberikan perhatian khusus pada pengolahan lahan dataran rendah yang lebih subur.[230] Untuk memastikan kehidupan pedesaan tidak terganggu oleh serangan Badui, yang dapat mengganggu pekerjaan pertanian atau merusak tanaman serta infrastruktur agraria sehingga menurunkan pendapatan, Mamluk berupaya mencegah persenjataan Badui dan menyita senjata yang sudah ada dari mereka.[231]
Perdagangan dan industri
sunting
Mesir dan Suriah memainkan peran sentral sebagai jalur transit dalam perdagangan internasional pada Abad Pertengahan.[232] Sejak awal masa pemerintahannya, Mamluk memperluas peran kekaisaran dalam perdagangan luar negeri, dengan Baybars menandatangani perjanjian dagang dengan Genoa dan Qalawun menandatangani kesepakatan serupa dengan Ceylon.[233] Pada abad ke-15, pergolakan internal akibat perebutan kekuasaan Mamluk, berkurangnya pendapatan iqtaสฟ akibat wabah, dan masuknya tanah pertanian yang ditinggalkan oleh suku Badui menyebabkan krisis keuangan di kesultanan.[234] Untuk mengatasi kerugian ini, Mamluk menerapkan pendekatan tiga jalur: mengenakan pajak pada kelas menengah perkotaan, meningkatkan produksi dan penjualan kapas serta gula ke Eropa, dan memanfaatkan posisi transit mereka dalam perdagangan antara Eropa dan Timur Jauh. Pendekatan terakhir merupakan kebijakan paling menguntungkan bagi Mamluk, dicapai melalui pembinaan hubungan dagang dengan Venesia, Genoa, dan Barcelona, serta peningkatan tarif atas komoditas.[235] Pada masa ini, perdagangan lama antara Eropa dan dunia Islam mulai menyumbang bagian signifikan dari pendapatan negara karena Mamluk memungut pajak dari para pedagang yang beroperasi atau melewati pelabuhan kekaisaran.[236]
Mesir Mamluk menjadi produsen utama tekstil dan pemasok bahan baku bagi Eropa Barat.[237] Wabah Pes Hitam yang sering terjadi menyebabkan penurunan produksi tekstil, produk sutra, gula, kaca, sabun, dan kertas, yang bertepatan dengan meningkatnya produksi barang-barang tersebut di Eropa. Perdagangan tetap berlangsung meskipun ada larangan paus terhadap perdagangan dengan Muslim selama Perang Salib. Perdagangan di Laut Tengah didominasi oleh rempah-rempah, seperti lada, buah pala dan bunga, cengkeh, dan kayu manis, serta obat-obatan dan nila. Barang-barang ini berasal dari Persia, India, dan Asia Tenggara dan sampai ke Eropa melalui pelabuhan Mamluk di Suriah dan Mesir. Pelabuhan ini sering dikunjungi pedagang Eropa yang menjual emas dan perak ducat dan bullion, kain sutra, wol dan linen, bulu binatang, lilin, madu, dan keju.[238]
Di bawah Barsbay, monopoli negara diberlakukan atas barang mewah, terutama rempah-rempah, dengan negara menetapkan harga dan memungut persentase keuntungan.[236] Pada 1387, Barsbay mengambil kendali langsung atas Aleksandria, pelabuhan komersial utama Mesir, memindahkan pendapatan pajaknya ke kas pribadinya (diwan al-khass) alih-alih ke kas kekaisaran, yang terkait dengan sistem iqtaสฟ militer. Pada 1429, ia memerintahkan agar perdagangan rempah ke Eropa dilakukan melalui Kairo sebelum barang sampai di Aleksandria untuk mengakhiri pengiriman langsung rempah dari Laut Merah ke Aleksandria.[239] Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, ekspansi Portugis ke Afrika dan Asia secara signifikan mengurangi pendapatan monopoli MamlukโVenesia dalam perdagangan lintas Mediterania, yang turut berkontribusi dan bertepatan dengan kejatuhan kesultanan.[240]
Sosial
suntingBahasa
suntingPada saat kaum Mamluk mengambil alih kekuasaan, bahasa Arab telah lama mapan sebagai bahasa agama, budaya, dan birokrasi di Mesir, serta juga digunakan secara luas di kalangan komunitas non-Muslim. Penggunaan bahasa Arab yang luas di antara masyarakat Muslim maupun non-Muslim kemungkinan didorong oleh keinginan mereka untuk mempelajari bahasa para penguasa dan kalangan ulama.[6]
Faktor lain yang turut berkontribusi adalah gelombang migrasi suku-suku Arab ke Mesir serta perkawinan antara orang Arab dan penduduk asli. Kaum Mamluk juga berperan dalam memperluas penggunaan bahasa Arab di Mesir melalui kemenangan mereka atas Mongol dan Tentara Salib, serta melalui pembentukan Mesir dan Suriah sebagai tempat perlindungan bagi kaum Muslim berbahasa Arab yang datang dari wilayah Muslim lain yang telah ditaklukkan.[6]
Invasi yang terus berlanjut oleh pasukan Mongol ke Suriah juga menyebabkan gelombang migrasi lebih lanjut dari penduduk Suriahโtermasuk para ulama dan pengrajinโke Mesir.[6]
Meskipun bahasa Arab digunakan sebagai bahasa administrasi kesultanan, berbagai bentuk bahasa Turkik Kipchakโyang dikenal sebagai bahasa Mamluk-Kipchakโmenjadi bahasa lisan di kalangan elit penguasa Mamluk.[241] Menurut Petry, kaum Mamluk menganggap bahasa Turkik sebagai sarana komunikasi kelas mereka, meskipun mereka sendiri sebenarnya berbicara dalam dialek Asia Tengah seperti Qipchak atau dalam bahasa Sirkasia, yaitu bahasa dari rumpun Kaukasia.[242]
Menurut sejarawan Michael Winter, identitas Turkik menjadi ciri khas utama elit penguasa Mamluk, karena hanya mereka yang dapat berbicara bahasa Turkik dan memiliki nama-nama Turkik.[243] Meskipun elit Mamluk secara etnis sangat beragam, mereka yang bukan berasal dari etnis Turkik pada akhirnya juga mengalami proses turkifikasi.[244] Dengan demikian, para mamluk Sirkasia yang memperoleh pengaruh besar setelah munculnya rezim Burji dan kemudian menjadi unsur etnis dominan dalam pemerintahan tetap dididik dalam bahasa Turkik dan dianggap sebagai orang Turkik oleh penduduk berbahasa Arab.[241][243]
Bahasa Turkik Kipchak juga digunakan dalam penulisan, meskipun jauh lebih sedikit dibandingkan bahasa Arab dan terutama ditujukan untuk kalangan mamluk sendiri. Seiring waktu, peran ini kemudian digantikan oleh bahasa Turkik Oghuz karena semakin besarnya pengaruh Anatolia Turki.[3][245][1]
Elit militer penguasa kesultanan hampir sepenuhnya terbatas pada mereka yang memiliki latar belakang mamluk, dengan hanya sedikit pengecualian.[246] Etnisitas menjadi faktor utama yang memisahkan elit Mamlukโyang sebagian besar berasal dari Turkik atau telah mengalami turkifikasiโdari rakyat mereka yang berbahasa Arab.[243] Asal etnis merupakan komponen penting dari identitas seorang mamluk dan tercermin dalam nama pribadi, cara berpakaian, akses terhadap jabatan administratif, serta dalam nisbah yang disandang seorang sultan.[247]
Putra-putra para mamluk, yang dikenal sebagai awlad al-nas, umumnya tidak memegang posisi dalam elit militer. Sebaliknya, mereka lebih sering terlibat dalam administrasi sipil atau dalam lembaga keagamaan Islam.[244] Di kalangan para sultan dan emir Bahri, terdapat kebanggaan tertentu terhadap asal-usul Turkik Kipchak mereka, dan para penguasa yang bukan berasal dari Kipchakโseperti sultan Kitbuqa, Baybars II, dan Lajinโsering dianggap kurang sah dalam sumber-sumber era Bahri karena asal-usul mereka yang bukan Kipchak. Sementara itu, elit Mamluk pada periode Burji juga tampaknya memiliki kebanggaan terhadap asal-usul Sirkasia mereka.[248]
Agama
suntingKomunitas Muslim
suntingBeragam bentuk ekspresi keagamaan Islam terdapat di Mesir pada awal era Mamluk, yaitu Islam Sunni dengan berbagai mazhab utamanya serta berbagai tarekat sufi, di samping komunitas kecil Muslim Syiah Isma'ili, terutama di Mesir Hulu. Selain itu, masih terdapat minoritas besar umat Kristen Koptik. Pada masa Salahuddin, Dinasti Ayyubiyah memulai program untuk menghidupkan kembali dan memperkuat Islam Sunni di Mesir guna menandingi pengaruh Kekristenan, yang sempat berkembang di bawah pemerintahan Fatimiyah yang relatif toleran secara keagamaan, serta Ismailiyah yang merupakan cabang Islam yang dianut oleh negara Fatimiyah. Di bawah para sultan Bahri, promosi terhadap Islam Sunni dijalankan dengan lebih kuat dibandingkan pada masa Ayyubiyah.[249]
Kaum Mamluk didorong oleh kesalehan pribadi maupun pertimbangan politik, karena Islam menjadi faktor penyatu dan sarana asimilasi antara mereka dan mayoritas rakyatnya. Para mamluk awal dibesarkan sebagai Muslim Sunni, dan agama Islam merupakan satu-satunya aspek kehidupan yang sama antara elit penguasa Mamluk dan rakyatnya. Meskipun kebijakan yang diterapkan Ayyubiyah sangat memengaruhi penerimaan negara Mamluk terhadap Islam Sunni, situasi di Timur Tengah setelah invasi Tentara Salib dan Mongol juga menjadikan Mesir Mamluk sebagai kekuatan Islam besar terakhir yang mampu menghadapi kedua ancaman tersebut. Oleh karena itu, dukungan awal Mamluk terhadap Islam Sunni juga didorong oleh upaya membangun kesatuan moral di dalam wilayah kekuasaannya berdasarkan keyakinan mayoritas penduduk.[250]
Kaum Mamluk membina dan memanfaatkan para pemimpin Muslim untuk menyalurkan perasaan keagamaan rakyat Muslim mereka dengan cara yang tidak mengganggu otoritas kesultanan.[6] Seperti para pendahulu mereka dari Ayyubiyah, para sultan Bahri lebih menyukai mazhab Syafi'i, tetapi juga mendorong mazhab Sunni besar lainnya, yaitu Maliki, Hanbali, dan Hanafi. Baybars mengakhiri tradisi Ayyubiyah dan awal Mamluk yang memilih seorang ulama Syafi'i sebagai qadi al-qudah (hakim agung), dan sebagai gantinya menunjuk seorang qadi al-qudah dari masing-masing empat mazhab tersebut. Kebijakan ini sebagian didorong oleh kebutuhan untuk mengakomodasi populasi Muslim yang semakin beragam, termasuk para imigran dari wilayah-wilayah yang menganut mazhab berbeda. Penyebaran jabatan qadi al-qudah juga memungkinkan para sultan Mamluk memberikan patronase kepada setiap mazhab sekaligus meningkatkan pengaruh mereka terhadapnya. Meskipun demikian, para ulama Syafi'i tetap mempertahankan sejumlah keistimewaan dibandingkan dengan ulama dari mazhab lain.[228]
Kaum Mamluk juga menerima dan mendukung berbagai tarekat sufi di wilayah kekuasaan mereka.[251] Sufisme telah menyebar luas di Mesir sejak abad ke-13, dan tarekat Syadziliyah menjadi yang paling populer. Tarekat ini tidak memiliki struktur kelembagaan yang kaku dan memiliki pemikiran keagamaan yang fleksibel, sehingga mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat. Ajarannya menggabungkan kesalehan Islam Sunni yang berlandaskan Al-Qur'an dan hadits dengan mistisisme sufi serta unsur-unsur keagamaan populer seperti pemujaan terhadap para wali, ziarah ke makam tokoh suci atau religius, dan dzikir. Tarekat lain yang juga memiliki banyak pengikut adalah Rifa'iyyah dan Badawiyyah.[252]
Sementara kaum Mamluk memberikan patronase kepada para ulama Sunni melalui pengangkatan mereka ke jabatan pemerintahan, mereka juga mendukung para sufi dengan mendanai zawiya (pondok sufi).[6] Di sisi lain spektrum ekspresi keagamaan Sunni terdapat ajaran ulama Hanbali Ibnu Taimiyah, yang menekankan ketegasan moral berdasarkan penafsiran literal terhadap Al-Qur'an dan Sunnah, serta menunjukkan permusuhan yang kuat terhadap unsur-unsur mistisisme dan inovasi keagamaan populer yang dipromosikan oleh kaum sufi. Meskipun Ibnu Taimiyah bukan representasi umum dari ortodoksi Sunni di kesultanan tersebut, ia merupakan ulama Muslim paling menonjol pada era Mamluk dan beberapa kali dipenjara oleh pihak Mamluk karena ajaran keagamaannya, yang tetap berpengaruh hingga dunia Muslim modern.[252] Doktrin Ibnu Taimiyah bahkan dianggap sesat oleh kalangan ulama Sunni yang mendapat patronase dari pemerintah Mamluk.[6]
Komunitas Kristen dan Yahudi
suntingOrang Kristen dan Yahudi di dalam kekaisaran berada di bawah otoritas ganda, yaitu lembaga keagamaan mereka masing-masing dan sultan. Otoritas lembaga keagamaan tersebut mencakup banyak aspek kehidupan sehari-hari umat Kristen dan Yahudi, tidak hanya terbatas pada praktik keagamaan kedua komunitas itu. Pemerintah Mamluk, yang sering merujuk secara resmi pada Pakta Umar yang memberikan status dzimmi (kelompok yang dilindungi) kepada umat Kristen dan Yahudi, menentukan pajak yang harus mereka bayar, termasuk jizyah (pajak kepala bagi non-Muslim), izin untuk membangun rumah ibadah, serta aturan mengenai penampilan publik umat Kristen dan Yahudi.[253]
Secara umum, orang Yahudi berada dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan orang Kristen, dan yang terakhir menghadapi lebih banyak kesulitan di bawah pemerintahan Mamluk dibandingkan pada masa penguasa Muslim sebelumnya.[253][6] Keterkaitan orang Kristen dengan bangsa Mongolโkarena penggunaan pasukan bantuan Kristen Armenia dan Georgia oleh Mongol, upaya aliansi antara Mongol dan kekuatan Tentara Salib, serta pembantaian terhadap komunitas Muslim dan penyelamatan komunitas Kristen di kota-kota yang direbut Mongolโmenyebabkan meningkatnya sentimen anti-Kristen pada masa Mamluk. Bentuk-bentuk permusuhan terhadap orang Kristen umumnya dipimpin oleh kalangan masyarakat biasa, bukan oleh para sultan Mamluk. Sumber utama permusuhan rakyat adalah rasa tidak puas terhadap posisi istimewa yang dimiliki banyak orang Kristen dalam birokrasi Mamluk.[6]
Kemunduran komunitas Koptik di Mesir terjadi pada masa para sultan Bahri dan semakin cepat pada masa dinasti Burji.[254] Beberapa kali terjadi protes dari Muslim Mesir terhadap kekayaan kaum Koptik serta keterlibatan mereka dalam administrasi negara. Dalam bentrokan antar komunitas, baik perusuh Muslim maupun Kristen pernah membakar rumah ibadah satu sama lain.[6] Akibat tekanan masyarakat, orang Koptik kehilangan pekerjaan mereka dalam birokrasi setidaknya sembilan kali antara akhir abad ke-13 hingga pertengahan abad ke-15. Pada satu kesempatan pada tahun 1301, pemerintah bahkan memerintahkan penutupan seluruh gereja.[6]
Namun, para birokrat Koptik sering dipulihkan kembali ke jabatan mereka setelah ketegangan mereda. Banyak orang Koptik dipaksa memeluk Islam atau setidaknya menampilkan tanda-tanda lahiriah keimanan Muslim untuk melindungi pekerjaan mereka dan menghindari kewajiban jizya serta tindakan resmi lainnya terhadap mereka.[255] Gelombang besar konversi orang Koptik ke Islam terjadi pada abad ke-14 sebagai akibat dari penganiayaan,[255] penghancuran gereja,[6] dan untuk mempertahankan pekerjaan.[255] Pada akhir periode Mamluk, perbandingan jumlah Muslim terhadap Kristen di Mesir diperkirakan mencapai sekitar 10 banding 1.[6]
Di Suriah, kaum Mamluk memindahkan komunitas Kristen Maronit dan Ortodoks Yunani dari wilayah pesisir untuk mencegah hubungan mereka dengan kekuatan Eropa. Gereja Maronit secara khusus dicurigai bekerja sama dengan orang Eropa karena hubungan dekatnya dengan kepausan di Roma dan dengan kekuatan Kristen Eropa, terutama Siprus. Gereja Ortodoks Yunani juga mengalami kemunduran setelah pusat spiritualnya di Antiokhia dihancurkan oleh Mamluk, serta akibat kehancuran Aleppo dan Damaskus oleh pasukan Timur pada tahun 1400.[256]
Komunitas Kristen Siria juga mengalami penurunan besar di Suriah akibat perselisihan internal mengenai suksesi patriark serta penghancuran gereja oleh pasukan Timur atau oleh suku-suku Kurdi setempat.[257] Kaum Mamluk juga memulai kemunduran serupa terhadap Gereja Ortodoks Armenia setelah penaklukan wilayah Kilikia pada tahun 1374, selain serangan pasukan Timur pada tahun 1386 serta konflik antara Timuriyah dengan konfederasi suku Aq Qoyunlu dan Kara Qoyunlu di wilayah Kilikia.[258]
Hubungan dengan Badui
suntingSuku Badui berperan sebagai pasukan cadangan dalam militer Mamluk. Selama masa pemerintahan ketiga al-Nasir Muhammad, suku-suku Badui, terutama di Suriah seperti Al Fadl, diperkuat dan diintegrasikan ke dalam ekonomi.[259] Mereka juga menjadi pemasok utama kuda Arab bagi kavaleri Mamluk. Qalawun membeli kuda dari Badui di Barqa, yang harganya murah namun berkualitas tinggi, sementara al-Nasir Muhammad menghabiskan biaya besar untuk kuda dari suku Badui di Barqa, Suriah, Irak, dan Bahrayn (Arab timur).[260]
Baybars dan Qalawun, serta wakil-wakil Suriah al-Nasir Muhammad pada dua pemerintahan pertamanya, emirs Salar dan Baybars II, enggan memberikan iqtaสฟat kepada para kepala suku Badui, dan ketika diberikan, kualitas iqtaสฟat tersebut rendah. Pada pemerintahan ketiga al-Nasir Muhammad, Al Fadl diberikan iqtaสฟat berkualitas tinggi dalam jumlah besar, menjadikan suku ini yang terkuat di antara Badui Gurun Suriah. Selain karena kekagumannya terhadap Badui, al-Nasir Muhammad mendistribusikan iqtaสฟat kepada Al Fadl untuk mencegah mereka berpaling ke Ilkhanat, yang sebelumnya kerap terjadi pada abad ke-14 awal.[261] Persaingan atas iqtaสฟat dan jabatan amir al-สฟarab (komandan utama Badui) di Suriah memicu konflik dan pemberontakan antar-suku, menimbulkan banyak korban jiwa setelah wafatnya al-Nasir Muhammad. Kepemimpinan Mamluk di Suriah, yang melemah akibat dampak Wabah Hitam, tidak mampu menundukkan Badui melalui ekspedisi militer, sehingga mereka memilih untuk membunuh para kepala suku. Al Fadl akhirnya kehilangan pengaruh, memberi keuntungan kepada suku-suku Badui di sekitar al-Karak di bawah sultan Bahri berikutnya.[262]
Di Mesir, pada masa pemerintahan ketiga al-Nasir Muhammad, hubungan serupa dengan Badui juga terjadi. Suku Isa Ibnu Hasan al-Hajjan menjadi kuat setelah diberikan iqtaสฟat besar. Suku ini tetap berpengaruh setelah wafatnya al-Nasir Muhammad, tetapi sering memberontak terhadap sultan Bahri berikutnya. Mereka dipulihkan kembali setelah setiap pemberontakan, hingga akhirnya kepala suku dieksekusi pada tahun 1353. Di Sharqiya, Mesir Bawah, suku Tha'laba dipercayakan mengawasi rute pos, tetapi sering tidak dapat diandalkan dan bergabung dengan suku Al A'id saat melakukan serangan.[263] Perang suku Badui sering mengganggu perdagangan dan perjalanan di Mesir Hulu serta merusak lahan pertanian dan pabrik pengolahan gula. Pada pertengahan abad ke-14, suku Arak dan Banu Hilal yang bersaing di Mesir Hulu menjadi penguasa de facto wilayah tersebut, memaksa Mamluk bergantung pada mereka untuk pemungutan pajak.[264] Suku Badui kemudian dibersihkan dari Mesir Hulu dan Bawah oleh kampanye Shaykhu pada tahun 1353.[265]
Budaya
suntingSeni
suntingSeni dekoratif Mamlukโterutama kaca berlapis enamel dan berlapis emas, kerajinan logam inlay, kayu, dan tekstilโsangat dihargai di seluruh Mediterania maupun di Eropa, di mana karya-karya ini berdampak besar pada produksi lokal. Kaca Mamluk bahkan memengaruhi industri kaca Venesia.[266] Perdagangan dengan Iran, India, dan Cina lebih luas lagi, menjadikan kota-kota Mamluk sebagai pusat perdagangan sekaligus konsumsi. Barang-barang mewah yang diimpor dari Timur kadang memengaruhi kosakata artistik lokal, misalnya melalui penggabungan motif Cina ke dalam benda dan arsitektur. Para Mamluk sendiri, sebagai mantan budak yang naik pangkat melalui usaha mereka sendiri, adalah pelindung seni yang sadar status dan memesan barang-barang mewah yang diberi tanda kepemilikan mereka. Arsitektur menjadi bentuk patronase paling signifikan, dan banyak objek seni dipesan untuk melengkapi bangunan keagamaan Mamluk, seperti lampu kaca, manuskrip Al-Qur'an, tempat lilin kuningan, dan mimbar kayu. Motif dekoratif pada satu bentuk seni sering diterapkan pada bentuk seni lain, termasuk arsitektur.[267]
Dukungan seni bervariasi seiring waktu, namun dua puncaknya terjadi pada masa pemerintahan al-Nasir Muhammad dan Qaitbay.[267] Beberapa bentuk seni juga berubah pentingnya dari waktu ke waktu. Misalnya, kaca berlapis enamel menjadi industri unggulan pada paruh pertama periode Mamluk tetapi mengalami penurunan signifikan pada abad ke-15. Sebaliknya, sebagian besar contoh karpet yang masih ada berasal dari akhir periode Mamluk. Produksi keramik relatif kurang penting secara keseluruhan, sebagian karena porselen Cina tersedia secara luas.[268]
Dalam seni dekorasi manuskrip, Al-Qur'an menjadi kitab yang paling sering diproduksi dengan tingkat keindahan artistik yang tinggi.[268] Kairo, Damaskus, dan Aleppo merupakan pusat utama produksi manuskrip. Al-Qur'an pada masa Mamluk dihiasi dengan iluminasi yang kaya dan menunjukkan kesamaan gaya dengan manuskrip yang diproduksi pada masa Ilkhanid di Iran. Produksi kertas berkualitas tinggi pada masa ini memungkinkan ukuran halaman lebih besar, yang mendorong para seniman untuk mengembangkan motif dan desain baru untuk mengisi format yang lebih luas. Beberapa manuskrip bahkan berskala monumental; misalnya, sebuah manuskrip Al-Qur'an yang dibuat untuk al-Ashraf Sha'ban memiliki tinggi antara 75 hingga 105 sentimeter. Salah satu ciri gaya yang membedakan dekorasi manuskrip Mamluk adalah adanya sulur dedaunan berlapis emas di atas latar berwarna pastel yang ditempatkan dalam margin lebar. Halaman depan manuskrip sering dihiasi dengan motif geometris berbentuk bintang atau segi enam.[269]
Kerajinan logam, baik berupa kendi, baskom, maupun tempat lilin, banyak digunakan dalam berbagai konteks dan banyak contohnya yang masih bertahan hingga kini. Barang-barang ini dibuat dari kuningan atau perunggu dengan hiasan inlay, meskipun pada periode akhir hiasan lebih sering diukir daripada ditempatkan tatahan. Kualitas dan jumlah kerajinan logam umumnya lebih tinggi pada periode awal.[267] Salah satu contoh terbaik dari periode ini adalah yang dikenal sebagai Baptistรจre of Saint-Louis (disimpan di Louvre saat ini), sebuah baskom besar dari kuningan dengan hiasan arabesque dan adegan horizontal hewan, pemburu, serta penunggang yang bermain polo.[268] Contoh dari periode kemudian adalah serangkaian tempat lilin yang dipesan oleh Qaitbay untuk makam Muhammad di Masjid Nabawi di Madinah. Tempat lilin ini dibuat dari kuningan yang diukir, dengan bagian permukaan diisi bitumen hitam untuk menciptakan kontras dengan motif pada kuningan yang dipoles. Dekorasinya hampir seluruhnya berupa kaligrafi Arab, dengan penggunaan menonjol huruf thuluth.[270]
Lampu kaca merupakan puncak lain dari seni Mamluk, khususnya lampu yang dipesan untuk masjid. Mesir dan Suriah sudah memiliki tradisi pembuatan kaca yang kaya sebelum periode ini, dan Damaskus menjadi pusat produksi terpenting pada masa Mamluk. Kaca berwarna sudah umum pada periode Ayyubiyah sebelumnya, tetapi pada periode Mamluk, teknik enamel dan pelapisan emas menjadi metode utama dekorasi kaca. Lampu masjid memiliki badan membulat dengan leher lebar yang mengerucut di bagian atas. Lampu-lampu ini diproduksi dalam jumlah ribuan dan digantung di langit-langit menggunakan rantai.[271]
Arsitektur
suntingArsitektur Mamluk ditandai sebagian oleh pembangunan bangunan serbaguna yang denahnya menjadi semakin kreatif dan kompleks karena keterbatasan ruang di kota serta keinginan untuk membuat monumen tampak dominan secara visual di lingkungan perkotaan.[272][273][274] Meskipun Kairo menjadi pusat utama patronase, arsitektur Mamluk juga terlihat di Damaskus, Yerusalem, Aleppo, dan Madinah.[275] Para dermawan, termasuk sultan dan emir tingkat tinggi, biasanya membangun makam untuk diri mereka sendiri, namun menambahkan bangunan amal seperti madrasah, zawiya, sabil (air mancur umum), atau masjid. Pendapatan dan pengeluaran kompleks amal ini diatur oleh perjanjian wakaf yang tidak dapat diubah, yang juga berfungsi untuk memastikan bentuk penghasilan atau properti bagi keturunan para dermawan.[274][272]
Denah lantai berbentuk salib atau empat-iwan diterapkan pada madrasah dan menjadi lebih umum untuk kompleks monumental baru dibandingkan dengan masjid hipostil tradisional, meskipun iwan berkubah pada periode awal kemudian digantikan oleh iwan dengan atap datar pada periode kemudian.[276][277] Dekorasi monumen juga menjadi lebih rumit seiring waktu, dengan ukiran batu, panel marmer berwarna, dan mozaik (termasuk ablaq) menggantikan plester sebagai hiasan arsitektur utama. Pintu masuk monumen yang dihias secara monumental menjadi umum dibandingkan periode sebelumnya, sering diukir dengan muqarnas. Pengaruh dari Suriah, Iran Ilkhanid, dan kemungkinan juga Venesia terlihat dalam tren ini.[278][279]
Menara masjid, yang juga rumit, biasanya terdiri dari tiga tingkat yang dipisahkan oleh balkon, dengan setiap tingkat memiliki desain yang berbeda. Menara Mamluk akhir, misalnya, umumnya memiliki poros oktagonal pada tingkat pertama, poros bulat pada tingkat kedua, dan struktur lentera dengan puncak hias pada tingkat ketiga.[280][281] Kubah juga bertransisi dari struktur kayu atau bata, kadang berbentuk bulbous, menjadi kubah batu runcing dengan motif geometris atau arabesque yang kompleks di permukaan luarnya.[282] Puncak arsitektur kubah batu dicapai pada masa Qaitbay di akhir abad ke-15.[283]
Setelah penaklukan Utsmaniyah pada 1517, bangunan bergaya Utsmaniyah mulai diperkenalkan, namun gaya Mamluk tetap dipertahankan atau digabungkan dengan elemen Utsmaniyah pada banyak monumen berikutnya. Beberapa jenis bangunan yang pertama muncul pada akhir periode Mamluk, seperti sabil-kuttab (gabungan sabil dan kuttab) dan karavanserai bertingkat (wikalas atau khan), justru meningkat jumlahnya pada periode Utsmaniyah.[284] Pada zaman modern, sejak akhir abad ke-19, muncul juga gaya neo-Mamluk, sebagian sebagai respons nasionalis terhadap gaya Utsmaniyah dan Eropa, dalam upaya mempromosikan gaya lokal โMesirโ.[285][286][287]
Lambang dan blazon
suntingSultan dan emir Mamluk memiliki lambang pribadi (blazon), yang menjadi simbol penting status mereka dan merupakan ciri khas budaya kelas penguasa Mamluk.[288][289][290] Kecuali mungkin pada tahun-tahun awal rezim, para Mamluk memilih lambang mereka sendiri.[289] Pilihan ini dilakukan ketika mereka masih menjabat sebagai emir, dan lambang tersebut biasanya melambangkan jabatan atau posisi yang mereka pegang pada saat itu.[291][289] Lambang ini muncul pada panji-panji mereka dan tetap dipertahankan bahkan setelah mereka menjadi sultan.[291] Lambang pribadi ini merupakan bagian penting dari budaya visual Mamluk dan ditemukan pada berbagai objek yang dibuat untuk para patron Mamluk.[289][290] Lambang ini juga hadir dalam arsitektur Mamluk, meskipun penggunaannya lebih tidak konsisten.[288] Praktik heraldik ini unik di dunia Muslim abad pertengahan.[290]

Berbeda dengan heraldik Eropa, lambang Mamluk menggunakan set gambar dan simbol yang jauh lebih terbatas, hanya sekitar empat puluh lima simbol yang digunakan. Lambang Mamluk awal sederhana, biasanya menampilkan satu simbol, seperti cangkir, pedang, atau hewan. Beberapa panji hanya dibedakan oleh pola kain dan pembagian geometris sederhana.[289] Lambang Baybars adalah macan tutul, singa, atau leopard,[288][292] sementara lambang Qalawun, menurut satu penulis, adalah fleur-de-lis.[288] Dari akhir abad ke-13 hingga pertengahan abad ke-14, bulan sabit muncul pada keramik Mamluk dan beberapa koin Mamluk, baik sendiri maupun bersama simbol lain, meskipun jarang digunakan sebagai lambang pribadi.[293] Mulai masa al-Nasir Muhammad, lambang epigrafis (dengan kaligrafi Arab) menjadi bagian dari repertoar heraldik.[294]
Dari akhir abad ke-14 hingga pertengahan abad ke-15, lambang menjadi lebih kompleks dan perisainya biasanya dibagi menjadi tiga bagian, dengan simbol utama ditempatkan dalam setiap bagian, kadang-kadang berpasangan. Setelah itu, lambang Mamluk akhir menjadi lebih rumit tetapi lebih homogen dalam gaya. Lambang-lambang ini diisi dengan detail, termasuk hingga lima atau enam simbol berbeda. Pada titik ini, lambang mungkin tidak lagi digunakan sebagai lambang pribadi individual, tetapi lebih sebagai tanda umum kelas sosial mereka.[289]
Para sultan Mamluk juga mengikuti Ayyubiyah dalam penggunaan warna kuning sebagai warna resmi yang terkait dengan sultan dan digunakan pada panji-panji sultan.[291] Baybars dikatakan mencatat warna kuning pada panji-panji miliknya sebagai perlawanan terhadap panji merah Bohemund VI.[295] Setelah Selim II menaklukkan Damaskus pada 1516, seorang penulis sezaman, Ibnu Tulun, mencatat bahwa panji sutra kuning Mamluk yang kaya digantikan oleh panji merah polos Utsmaniyah.[296] Panji merah juga diketahui digunakan oleh Mamluk, seperti dicatat sejarawan Ibnu Taghribirdi bahwa Sultan al-Mu'ayyad menghadiahkan panji merah kepada salah satu vasalnya di Anatolia.[291]
Berbagai simbol juga digunakan untuk mewakili wilayah Mamluk dalam sumber-sumber Eropa. Buku Pengetahuan Semua Kerajaan (Book of Knowledge of All Kingdoms), yang ditulis oleh seorang penulis Eropa anonim setelah 1360, menempatkan bendera putih dengan bulan sabit biru untuk Kairo.[297] Dalam Atlas Catalan tahun 1375, yang dibuat oleh seorang kartografer dari Majorca (kemungkinan Abraham Cresques), kekaisaran Mamluk digambarkan dengan seorang penguasa Muslim yang memegang burung beo hijau di lengannya, burung ini kemungkinan menjadi simbol kebangsawanan.[298][297] Di samping itu, sebuah ikon yang melambangkan Babilon (bersama Kairo) ditandai dengan bendera kuning berbulan sabit, di mana bulan sabit mewakili kekuasaan Muslim. Dekat situ, kota Aleksandria ditandai dengan bendera yang memuat simbol macan tutul milik Sultan Baybars sebelumnya, yang reputasinya dikenal sejak Perang Salib.[297]
Daftar sultan
suntingReferensi
sunting- ^ a b Rabbat 2001, hlm.ย 69.
- ^ Fischel 1967, hlm.ย 72.
- ^ a b Turan, Fikret (2007). "The Mamluks and Their Acceptance of Oghuz Turkish as Literary Language: Political Maneuver or Cultural Aspiration?". Turcologica (dalam bahasa English). 69: 37โ47. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ Poliak, A. N. (January 1937). "Some Notes on the Feudal System of the Mamlลซks". Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain & Ireland (dalam bahasa Inggris). 69 (1): 97โ107. doi:10.1017/S0035869X00096179. ISSNย 0035-869X.
- ^ Ayubi, Nazih N. (1996). Over-stating the Arab State: Politics and Society in the Middle East. Bloomsbury Publishing. hlm.ย 67. ISBNย 9780857715494.
- ^ a b c d e f g h i j k l m Holt et al. 2025.
- ^ Setton, Kenneth M. (1969). The Later Crusades, 1189โ1311. Wisconsin, USA: Univ of Wisconsin Press. hlm.ย 757. ISBNย 978-0-299-04844-0.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 17.
- ^ Hillenbrand, Carole (2007). Turkish Myth and Muslim Symbol: The Battle of Manzikert. Edinburg: Edinburgh University Press. hlm.ย 164โ165. ISBNย 978-0-7486-2572-7.
- ^ Raymond 1993, hlm.ย 122-124, 140-142.
- ^ Johnson, Amy J. (2005). "Cairo". Dalam Shillington, Kevin (ed.). Encyclopedia of African History 3-Volume Set (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm.ย 199. ISBNย 978-1-135-45670-2.
- ^ a b c Yosef 2013, hlm.ย 8.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 53.
- ^ Nicolle 2014, hlm.ย 4.
- ^ a b Northrup 1998b, hlm.ย 250.
- ^ Rodenbeck 1999, hlm.ย 57.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 65.
- ^ a b Cummins 2011, hlm.ย 94.
- ^ Ayalon 1960, hlm.ย 944.
- ^ Barker 2021, hlm.ย 342.
- ^ Conermann 2021, hlm.ย 383-384.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 67.
- ^ "Frontispiece, folio from a manuscript of The Prescription for Pleasure (Sulwan al-Muta' fi 'Udwan al-Atba') of Ibn Zafar al-Siqili, AKM12, The Aga Khan Museum". Aga Khan Museum (dalam bahasa Inggris).
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 67โ68.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 68โ69.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 69.
- ^ a b c Irwin 1986, hlm.ย 19โ21.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 70.
- ^ Joinville 1807.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 71.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 72.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 73.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 72โ73.
- ^ a b Northrup 1998a, hlm.ย 69.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 75โ76.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 77.
- ^ a b Clifford 2013, hlm.ย 78.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 79โ80.
- ^ a b Northrup 1998a, hlm.ย 70.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 73โ74.
- ^ Northrup 1998a, hlm.ย 70โ71.
- ^ Northrup 1998a, hlm.ย 71.
- ^ Clifford 2013, hlm.ย 80.
- ^ a b Cummins 2011, hlm.ย 89.
- ^ a b Northrup 1998a, hlm.ย 72.
- ^ a b Cummins 2011, hlm.ย 90.
- ^ Cummins 2011, hlm.ย 91.
- ^ Fuess, Albrecht (2018). "Sultans with Horns: The Political Significance of Headgear in the Mamluk Empire (MSR XII.2, 2008)" (PDF). Mamlลซk Studies Review. 12 (2): 76, 84, Fig. 5. doi:10.6082/M100007Z.
- ^ a b c d Asbridge 2010, hlm.ย 92โ93.
- ^ Asbridge 2010, hlm.ย 95.
- ^ Northrup 1998a, hlm.ย 73.
- ^ Asbridge 2010, hlm.ย 97.
- ^ Sharon 1995, hlm.ย 73.
- ^ Marom, Roy; Taxel, Itamar (2023-10-01). "แธคamฤma: The historical geography of settlement continuity and change in Majdal 'Asqalan's hinterland, 1270โ1750 CE". Journal of Historical Geography. 82: 49โ65. doi:10.1016/j.jhg.2023.08.003. ISSNย 0305-7488.
- ^ Asbridge 2010, hlm.ย 98.
- ^ Asbridge 2010, hlm.ย 99โ100.
- ^ Asbridge 2010, hlm.ย 103โ104.
- ^ a b Asbridge 2010, hlm.ย 106.
- ^ a b Behrens-Abouseif 2014.
- ^ Nicolle 2014, hlm.ย 52.
- ^ Fuess, Albrecht (2018). "Sultans with Horns: The Political Significance of Headgear in the Mamluk Empire (MSR XII.2, 2008)" (PDF). Mamlลซk Studies Review. 12 (2): Fig. 6. doi:10.6082/M100007Z.
- ^ a b Holt & Daly 1961, hlm.ย 17โ18.
- ^ Welsby 2002, hlm.ย 254.
- ^ Asbridge 2010, hlm.ย 107.
- ^ a b Asbridge 2010, hlm.ย 108.
- ^ Northrup 1998a, hlm.ย 84.
- ^ Asbridge 2010, hlm.ย 109โ110.
- ^ Northrup 1998a, hlm.ย 84โ85.
- ^ Northrup 1998a, hlm.ย 119โ120.
- ^ Northrup 1998a, hlm.ย 115โ116.
- ^ Rabbat 1995, hlm.ย 139.
- ^ a b c Northrup 1998b, hlm.ย 252.
- ^ a b Levanoni 1995, hlm.ย 32.
- ^ Asbridge 2010, hlm.ย 114.
- ^ Amitai 2006, hlm.ย 34.
- ^ Amitai 2006, hlm.ย 38.
- ^ "Al-Hariri, Maqamat ('Assemblies') โ Discover Islamic Art โ Virtual Museum". islamicart.museumwnf.org.
The sultan who possibly commissioned the manuscript and who may be the one depicted on the dedicatory title page is An-Nasir Muhammad b. Qala'un, who was in power for the third time from 709 AH / 1309โ10 AD to 741 AH / 1340โ41 AD.
- ^ Yedida Kalfon Stillman, Norman A. Stillman (2003). Arab Dress: A Short Historyย : from the Dawn of Islam to Modern Times. Leiden, Netherlands: Brill. hlm.ย Fig. 22. ISBNย 9789004113732.
Fig. 22. Halaman depan adegan istana dari manuskrip Maqamat, kemungkinan dari Mesir, bertanggal 1334. Pangeran yang bertahta mengenakan qabli' maftulJ berbrokat dengan ban lengan Tiraz bertuliskan di atas qabli' turki yang diikat di pinggang dengan hiyasa berupa lingkaran emas (bawlikir). Kedua musisi di kanan bawah mengenakan mantel Turki dan topi berbulu, salah satunya memiliki pinggiran yang melengkung ke atas. Bulu-bulu tersebut dipasang pada pelat logam depan ('amud) (Nationalbibliothek, Wina, ms A. F. 9, fol. 1).
- ^ Ettinghausen, Richard (1977). Arab painting. New Yorkย : Rizzoli. hlm.ย 148. ISBNย 978-0-8478-0081-0. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
- ^ Ettinghausen, Richard (1977). Arab painting. New Yorkย : Rizzoli. hlm.ย 162. ISBNย 978-0-8478-0081-0. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
- ^ Stillman, Yedida K. (2003). Arab dress: a short history; from the dawn of Islam to modern times (Edisi Rev. 2.). Brill. hlm.ย 67, Plate 22. ISBNย 978-90-04-11373-2.
- ^ Vermeulen, Urbain; Smet, Daniel De (1995). Egypt and Syria in the Fatimid, Ayyubid and Mamluk Eras (dalam bahasa Inggris). Peeters Publishers. hlm.ย 313โ314. ISBNย 978-90-6831-683-4.
- ^ a b c d e f Northrup 1998b, hlm.ย 253.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 28.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 29.
- ^ a b c Levanoni 1995, hlm.ย 30.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 31โ33.
- ^ Drory 2006, hlm.ย 21.
- ^ Drory 2006, hlm.ย 24.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm.ย 201โ203.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm.ย 82.
- ^ Petersen, Andrew (2002). Dictionary of Islamic Architecture (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm.ย 269. ISBNย 978-1-134-61366-3.
- ^ Drory 2006, hlm.ย 27.
- ^ Drory 2006, hlm.ย 28โ29.
- ^ Holt 1986, hlm.ย 122โ123.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 119.
- ^ a b c d Al-Harithy 1996, hlm.ย 70.
- ^ Haarmann 1998, hlm.ย 68.
- ^ Petry 1998, hlm.ย 637.
- ^ a b Levanoni 1995, hlm.ย 88โ89.
- ^ a b c d Northrup 1998b, hlm.ย 288.
- ^ a b c Holt 1986, hlm.ย 127.
- ^ Fischel 1967, hlm.ย 75.
- ^ Holt 1986, hlm.ย 127โ128.
- ^ a b c d e Holt 1986, hlm.ย 128.
- ^ a b Garcin 1998, hlm.ย 291.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm.ย 225.
- ^ Bosworth 1996, hlm.ย 76โ80.
- ^ McGregor 2006, hlm.ย 15.
- ^ Isichei 1997, hlm.ย 194.
- ^ Heng 2018, hlm.ย 147.
- ^ Garcin 1998, hlm.ย 300.
- ^ Garcin 1998, hlm.ย 290.
- ^ Garcin 1998, hlm.ย 314.
- ^ Garcin 1998, hlm.ย 290โ291.
- ^ a b Garcin 1998, hlm.ย 291โ292.
- ^ a b Garcin 1998, hlm.ย 293.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 195.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 39.
- ^ a b c d e f Garcin 1998, hlm.ย 294.
- ^ a b Petry 2022, hlm.ย 38โ39.
- ^ Garcin 1998, hlm.ย 293โ294.
- ^ Williams 2018, hlm.ย 284โ286.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 193โ195.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 38.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 36, 42.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 39โ40.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 40.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 40โ41.
- ^ a b c d Petry 2022, hlm.ย 41.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 209.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 41โ42.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 42โ43.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 43.
- ^ Rรถnesans'ta Osmanlฤฑ esintisi (PDF). 2004. Diakses tanggal 2024-01-22.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 43โ44.
- ^ a b Williams 2018, hlm.ย 289.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 44.
- ^ a b Petry 2022, hlm.ย 45โ46.
- ^ a b Petry 2022, hlm.ย 46.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 46โ47.
- ^ a b c Muslu 2014, hlm.ย 128โ129.
- ^ a b c d e f g h i Petry 2022, hlm.ย 45.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 217.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 218.
- ^ "Shirt of Mail and Plate of Al-Ashraf Sayf ad-Din Qaitbay (ca. 1416/18โ1496), 18th Burji Mamluk Sultan of Egypt | probably Egyptian". The Metropolitan Museum of Art (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-05-12.
- ^ a b c Fuess 2022, hlm.ย 145โ147.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 42.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 226โ228.
- ^ Petry 1993, hlm.ย 92โ93.
- ^ Muslu 2014, hlm.ย 138.
- ^ Petry 1993, hlm.ย 99โ100.
- ^ Ritratti et elogii di capitanii illustri. The portraits engraved by Pompilio Totti; the letterpress by J. Roscius, A. Mascardi, F. Leonida, O. Tronsarelli, and others (dalam bahasa Italia). 1646. hlm.ย 218.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 47.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 47โ48.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 48โ49.
- ^ a b c d e f Petry 2022, hlm.ย 49.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 232โ234.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 235โ236.
- ^ a b Petry 2022, hlm.ย 50.
- ^ Brummett 1994, hlm.ย 42โ44.
- ^ Paine 2015, hlm.ย 415.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 236โ237.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 239.
- ^ Streusand 2018, hlm.ย 44โ45.
- ^ Ibn Iyas, Muแธฅammad ibn Aแธฅmad (1955). Wiet, Gaston (trans.) (ed.). Journal d'un Bourgeois du Caire, vol. II. Paris. hlm.ย 67. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
- ^ a b c Petry 2022, hlm.ย 50โ52.
- ^ a b c d e Petry 2022, hlm.ย 52.
- ^ Jenkins, Everett Jr. (2015-05-07). The Muslim Diaspora (Volume 2, 1500โ1799): A Comprehensive Chronology of the Spread of Islam in Asia, Africa, Europe and the Americas (dalam bahasa Inggris). McFarland. ISBNย 978-1-4766-0889-1. Diakses tanggal 22 August 2016.
- ^ McCarthy 2014, hlm.ย 85.
- ^ Brummett 1994, hlm.ย 82.
- ^ Grainger 2016.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 251.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 253.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 254.
- ^ a b Clot 2009, hlm.ย 256.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 258.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 263.
- ^ a b c Holt 1991, hlm.ย 325.
- ^ a b Clot 2009, hlm.ย 410.
- ^ Rodenbeck 1999, hlm.ย 113.
- ^ Hathaway 2019, hlm.ย 126โ127.
- ^ Rodenbeck 1999, hlm.ย 114.
- ^ Clot 2009, hlm.ย 421โ422.
- ^ a b Stilt 2011, hlm.ย 14.
- ^ a b Holt 2005, hlm.ย 237.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm.ย 113.
- ^ James 1983, hlm.ย 26.
- ^ Holt 2005, hlm.ย 238.
- ^ a b c Holt 2005, hlm.ย 239.
- ^ a b Holt 2005, hlm.ย 240.
- ^ Petry 1998, hlm.ย 468.
- ^ a b c d Holt 2005, hlm.ย 248.
- ^ a b Levanoni 1995, hlm.ย 14.
- ^ a b Stilt 2011, hlm.ย 31.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 31โ32.
- ^ a b Stilt 2011, hlm.ย 30โ31.
- ^ Holt 2005, hlm.ย 243.
- ^ Bosworth 1996, hlm.ย 6โ10; El-Hibri 2021, hlm.ย 272.
- ^ El-Hibri 2021, hlm.ย 273โ275.
- ^ El-Hibri 2021, hlm.ย 275.
- ^ Holt 1984, hlm.ย 504.
- ^ a b c Stilt 2011, hlm.ย 22โ23.
- ^ Stilt 2011, hlm.ย 20.
- ^ a b Levanoni 1995, hlm.ย 8.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 8โ9.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 11.
- ^ a b Levanoni 1995, hlm.ย 9.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 10.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 11โ12.
- ^ a b Popper 1955, hlm.ย 93.
- ^ Binbaล 2014, hlm.ย 158.
- ^ "A Blood-Measuring Device, folio from a manuscript of The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices (Kitab al-hiyal al-nafisa), AKM11, The Aga Khan Museum". Aga Khan Museum (dalam bahasa Inggris).
- ^ a b c Northrup 1998b, hlm.ย 254.
- ^ a b Islahi 1988, hlm.ย 42.
- ^ Islahi 1988, hlm.ย 43.
- ^ Elbendary 2015, hlm.ย 38โ39.
- ^ Elbendary 2015, hlm.ย 37.
- ^ Salibi 1967, hlm.ย 146โ147.
- ^ a b c d Elbendary 2015, hlm.ย 37โ38.
- ^ a b Levanoni 1995, hlm.ย 171.
- ^ van Steenbergen 2005, hlm.ย 475.
- ^ van Steenbergen 2005, hlm.ย 476.
- ^ van Steenbergen 2005, hlm.ย 477.
- ^ Stilt 2011, hlm.ย 23.
- ^ Stilt 2011, p. 24.
- ^ Northrup 1998b, hlm.ย 270.
- ^ a b Northrup 1998b, hlm.ย 269.
- ^ Northrup 1998b, hlm.ย 277.
- ^ Northrup 1998b, hlm.ย 269, 271.
- ^ Northrup 1998b, hlm.ย 261.
- ^ Islahi 1988, hlm.ย 39.
- ^ Islahi 1988, hlm.ย 40.
- ^ Christ 2012, hlm.ย 32.
- ^ Christ 2012, hlm.ย 33.
- ^ a b Stilt 2011, hlm.ย 24.
- ^ Petry 1981, hlm.ย 244.
- ^ Christ 2012, hlm.ย 19โ20.
- ^ Christ 2012, hlm.ย 33โ34.
- ^ Varlik 2015, hlm.ย 163.
- ^ a b Winter 1998, hlm.ย 96.
- ^ Petry 1981, hlm.ย 70.
- ^ a b c Powell 2012, hlm.ย 21.
- ^ a b Rabbat 2001, hlm.ย 60.
- ^ Flemming, Barbara (2017). Essays on Turkish Literature and History (dalam bahasa Inggris). Brill. hlm.ย 107. ISBNย 978-90-04-35576-7.
- ^ Rabbat 2001, hlm.ย 60โ61.
- ^ Yosef 2012, hlm.ย 394.
- ^ Yosef 2012, hlm.ย 394โ395.
- ^ Northrup 1998b, hlm.ย 265โ266.
- ^ Northrup 1998b, hlm.ย 268โ269.
- ^ Northrup 1998b, hlm.ย 268.
- ^ a b Northrup 1998b, hlm.ย 267.
- ^ a b Stilt 2011, hlm.ย 109.
- ^ Teule 2013, hlm.ย 10.
- ^ a b c Stilt 2011, hlm.ย 120.
- ^ Teule 2013, hlm.ย 11.
- ^ Teule 2013, hlm.ย 12.
- ^ Teule 2013, hlm.ย 13.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 173.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 175.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 176โ177.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 178โ179.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 182.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 182โ183.
- ^ Levanoni 1995, hlm.ย 1183.
- ^ Yalman, Suzan (October 2001). "The Art of the Mamluk Period (1250โ1517)". The Met's Heilbrunn Timeline of Art History. The Metropolitan Museum of Art.
- ^ a b c Blair & Bloom 1995, hlm.ย 97.
- ^ a b c Blair & Bloom 1995, hlm.ย 99.
- ^ Farhad & Rettig 2016, hlm.ย 104โ105.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm.ย 109.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm.ย 107.
- ^ a b Behrens-Abouseif 2007.
- ^ Williams 2018.
- ^ a b Blair & Bloom 1995, hlm.ย 70.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm.ย 70, 85โ87, 92โ93.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm.ย 73โ77.
- ^ Williams 2018, hlm.ย 30.
- ^ Williams 2018, hlm.ย 30โ31.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm.ย 83โ84.
- ^ Williams 2018, hlm.ย 31.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm.ย 79.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm.ย 80โ84.
- ^ Williams 2018, hlm.ย 34.
- ^ Williams 2018, hlm.ย 17.
- ^ Sanders 2008, hlm.ย 39โ41.
- ^ Avcฤฑoฤlu & Volait 2017, hlm.ย 1140โ1142.
- ^ "Neo-Mamluk Style Beyond Egypt". Rawi Magazine. Diakses tanggal 2021-06-10.
- ^ a b c d Behrens-Abouseif 2007, hlm.ย 94.
- ^ a b c d e f Nickel 1972, hlm.ย 213.
- ^ a b c Behrens-Abouseif 2014, hlm.ย 178.
- ^ a b c d Hathaway 2012, hlm.ย 97.
- ^ Petry 2022, hlm.ย 13.
- ^ Templat:Encyclopaedia of Islam, Second Edition
- ^ Behrens-Abouseif 2009, hlm.ย 149โ159.
- ^ Bloom & Blair 2009, hlm.ย 76.
- ^ Behrens-Abouseif 2012, hlm.ย 309.
- ^ a b c Warner, Nicholas (2006). The True Description of Cairo: A Sixteenth-century Venetian View (dalam bahasa Inggris). Arcadian Library; Oxford University Press. hlm.ย 20โ22 (see also footnotes on p. 22). ISBNย 978-0-19-714406-0.
- ^ Massing, Jean Michel (1991). "Observations and beliefs: the World of the Catalan Atlas". Dalam Levenson, Jay A. (ed.). Circa 1492: Art in the Age of Exploration (PDF) (dalam bahasa Inggris). Yale University Press. hlm.ย 27. ISBNย 978-0-300-05167-4.
Bibliografi
sunting- Amitai, Reuven (2006). "The Logistics of the Mamluk-Mongol War, with Special Reference to the Battle of Wadi'l-Khaznadar, 1299 C.E.". Dalam Pryor, John H. (ed.). Logistics of Warfare in the Age of the Crusades. Ashgate Publishing. ISBNย 978-0-7546-5197-0.
- Asbridge, Thomas (2010). The Crusades: The War for the Holy Land. Simon and Schuster. ISBNย 978-1-84983-770-5.
- Avcฤฑoฤlu, Nebahat; Volait, Mercedes (2017). ""Jeux de miroir": Architecture of Istanbul and Cairo from Empire to Modernism". Dalam Necipoฤlu, Gรผlru; Barry Flood, Finbarr (ed.). A Companion to Islamic Art and Architecture. Wiley Blackwell. ISBNย 978-1-119-06857-0.
- Ayalon, David (1960). "Al-Baแธฅriyya". Dalam Gibb, H. A. R.; Kramers, J. H.; Lรฉvi-Provenรงal, E.; Schacht, J.; Lewis, B. & Pellat, Ch. (ed.). Encyclopaedia of Islam. Volume I: AโB (Edisi 2). Leiden: E. J. Brill. hlm.ย 944โ945. OCLCย 495469456.
- Ayalon, David (1979). The Mamluk Military Society. London: Variorum Reprints.
- Barker, Hannah (2021). "What Caused the 14th-Century TatarโCircassian Shift?". Slavery in the Black Sea Region, C.900โ1900: Forms of Unfreedom at the Intersection Between Christianity and Islam. Leiden: Brill. hlm.ย 339โ363. ISBNย 978-90-04-47071-2.
- Behrens-Abouseif, Doris (2007). Cairo of the Mamluks: A History of Architecture and its Culture. Cairo: American University in Cairo Press. ISBNย 978-977-416-077-6.
- Behrens-Abouseif, Doris (2009). "The Jalayirid Connection in Mamluk Metalware". Muqarnas. 26 (1): 149โ159. doi:10.1163/22118993-90000147. ISSNย 0732-2992. JSTORย 27811138.
- Behrens-Abouseif, Doris (2012). The Arts of the Mamluks in Egypt and Syria: Evolution and Impact. V&R unipress GmbH. ISBNย 978-3-89971-915-4.
- Behrens-Abouseif, Doris (2014). "Africa". Practising Diplomacy in the Mamluk Sultanate: Gifts and Material Culture in the Medieval Islamic World. I. B. Tauris. ISBNย 978-0-85773-541-6.
- Binbaล, ฤฐlker Evrim (2014). "A Damascene Eyewitness to the Battle of Nicopolis". Dalam Chrissis, Nikolaos G.; Carr, Mike (ed.). Contact and Conflict in Frankish Greece and the Aegean, 1204โ1453: Crusade, Religion and Trade between Latins, Greeks and Turks. Ashgate Publishing. ISBNย 978-1-4094-3926-4.
- Blair, Sheila S.; Bloom, Jonathan M. (1995). The Art and Architecture of Islam, 1250โ1800. Yale University Press. ISBNย 978-0-300-05888-8.
- Bloom, Jonathan; Blair, Sheila (2009). "Flags". Grove Encyclopedia of Islamic Art & Architecture. Vol.ย 2. Oxford University Press. hlm.ย 75โ76. ISBNย 978-0-19-530991-1.
- Bosworth, C. E. (1996). New Islamic Dynasties: A Chronological and Genealogical Manual. Edinburgh University Press. ISBNย 978-1-4744-6462-8.
- Brummett, Palmira Johnson (1994). Ottoman Seapower and Levantine Diplomacy in the Age of Discovery. Albany: State University of New York Press. ISBNย 978-0-7914-1701-0.
- Christ, Georg (2012). Trading Conflicts: Venetian Merchants and Mamluk Officials in Late Medieval Alexandria. Brill. ISBNย 978-90-04-22199-4.
- Clifford, Winslow William (2013). Conermann, Stephan (ed.). State Formation and the Structure of Politics in Mamluk Syro-Egypt, 648โ741 A.H./1250โ1340 C.E. Bonn University Press. ISBNย 978-3-8471-0091-1.
- Clot, Andrรฉ (2009) [1996]. L'รgypte des Mamelouks: L'empire des esclaves, 1250โ1517 (dalam bahasa Prancis). Perrin. ISBNย 978-2-262-03045-2.
- Conermann, Stephan (2021). "Slavery in the Mamluk Sultanate". The Cambridge World History of Slavery: Volume 2, AD 500-AD 1420. Storbritannien: Cambridge University Press. hlm.ย 383โ405.
- Cummins, Joseph (2011). History's Greatest Wars: The Epic Conflicts that Shaped the Modern World. Fair Winds Press. ISBNย 978-1-61058-055-7.
- AlSayyad, Nezar (2013). Cairo: Histories of a City. Harvard University Press. ISBNย 978-0-674-07245-9.
- Drory, Joseph (2006). "The Prince who Favored the Desert: Fragmentary Biography of al-Nasir Ahmad (d. 745/1344)". Dalam Wasserstein, David J.; Ayalon, Ami (ed.). Mamluks and Ottomans: Studies in Honour of Michael Winter. Routledge. ISBNย 9-78-0-415-37278-7.
- Elbendary, Amina (2015). Crowds and Sultans: Urban Protest in Late Medieval Egypt and Syria. American University in Cairo Press. ISBNย 978-977-416-717-1.
- Farhad, Massumeh; Rettig, Simon (2016). The Art of the Qu'ran: Treasures from the Museum of Turkish and Islamic Arts. Washington, DC: Smithsonian Institution. ISBNย 978-1-58834-578-3.
- Fischel, Walter Joseph (1967). Ibn Khaldลซn in Egypt: His Public Functions and His Historical Research, 1382โ1406, a Study in Islamic Historiography. University of California Press.
- Fuess, Albrecht (2022). "Why Domenico Had to Die and Black Slaves Wore Red Uniforms: Military Technology and Its Decisive Role in the 1517 Ottoman Conquest of Egypt". Dalam Conermann, Stephan; ลen, Gรผl (ed.). The Mamluk-Ottoman Transition: Continuity and Change in Egypt and Bilฤd al-Shฤm in the Sixteenth Century, 2. Bonn University Press. ISBNย 978-3-8470-1152-1.
- Garcin, Jean-Claude (1998). "The Regime of the Circassian Mamluks". Dalam Petry, Carl F. (ed.). The Cambridge History of Egypt, Volume 1. Cambridge University Press. ISBNย 978-0-521-06885-7.
- Grainger, John D. (2016). Syria: An Outline History. Pen and Sword. ISBNย 978-1-4738-6083-4.
- Haarmann, Ulrich (1998). "Joseph's Law โ The Careers and Activities of Mamluk Descendants before the Ottoman Conquest of Egypt". Dalam Philipp, Thomas; Haarmann, Ulrich (ed.). The Mamluks in Egyptian Politics and Society. Cambridge University Press. ISBNย 978-0-5215-9115-7.
- Al-Harithy, Howyda N. (1996). "The Complex of Sultan Hasan in Cairo: Reading Between the Lines". Dalam Necฤฑpoฤlu, Gรผlru (ed.). Muqarnas: An Annual on the Visual Culture of the Islamic World, Volume 13. Leiden: Brill. hlm.ย 68โ79. ISBNย 90-04-10633-2.
- Hathaway, Jane (2012). A Tale of Two Factions: Myth, Memory, and Identity in Ottoman Egypt and Yemen. State University of New York Press. ISBNย 978-0-7914-8610-8.
- Hathaway, Jane (2019). "Mamlลซks, Ottoman period". Dalam Fleet, Kate; Krรคmer, Gudrun; Matringe, Denis; Nawas, John; Rowson, Everett (ed.). Encyclopaedia of Islam, Three. Brill. hlm.ย 124โ129. ISBNย 978-90-04-16165-8.
- Heng, Geraldine (2018). The Invention of Race in the European Middle Ages. Cambridge University Press. ISBNย 978-1-108-42278-9.
- Herzog, Thomas (2014). "Social Milieus and Worldviews in Mamluk Adab-Encyclopedias: The Example of Poverty and Wealth". Dalam Conermann, Stephan (ed.). History and Society During the Mamluk Period (1250โ1517): Studies of the Annemarie Schimmel Research College. Bonn University Press. ISBNย 978-3-8471-0228-1.
- El-Hibri, Tayeb (2021). The Abbasid Caliphate: A History (dalam bahasa Inggris). Cambridge History Press. ISBNย 9781316634394.
- Holt, Peter Malcolm; Daly, M. W. (1961). A History of the Sudan: From the Coming of Islam to the Present Day. Weidenfeld and Nicolson. ISBNย 978-1-317-86366-3.
- Holt, Peter Malcolm (1984). "Some Observations on the 'Abbฤsid Caliphate of Cairo". Bulletin of the School of Oriental and African Studies. 47 (3): 501โ507. doi:10.1017/s0041977x00113710. S2CIDย 161092185.
- Holt, Peter Malcolm (1986). The Age of the Crusades: The Near East from the Eleventh Century to 1517. Addison Wesley Longman. ISBNย 978-1-317-87152-1.
- Holt, Peter Malcolm (1991). "Mamlลซks". Dalam Bosworth, C. E.; van Donzel, E. & Pellat, Ch. (ed.). Encyclopaedia of Islam. Volume VI: MahkโMid (Edisi 2). Leiden: E. J. Brill. hlm.ย 321โ330. ISBNย 978-90-04-08112-3.
- Holt, Peter Malcolm (2005). "The Position and Power of the Mamluk Sultan". Dalam Hawting, G.R. (ed.). Muslims, Mongols and Crusaders: An Anthology of Articles Published in the Bulletin of the School of Oriental and African Studies. Routledge. ISBNย 978-0-415-45096-6.
- Holt, Peter M.; Baker, Raymond William; Smith, Charles Gordon; Hopwood, Derek; Little, Donald P.; Goldschmidt, Arthur Eduard (2025). "Egypt: History: The Mamluk and Ottoman periods (1250โ1800)". Encyclopedia Britannica.
- Irwin, Robert (1986). The Middle East in the Middle Ages: The Early Mamluk Sultanate, 1250โ1382. Carbondale, Illinois: Southern Illinois University Press. ISBNย 0-8093-1286-7.
- Isichei, Elizabeth (1997). A History of African Societies to 1870. Cambridge University Press. ISBNย 978-0-521-45599-2.
- Islahi, Abdul Azim (1988). Economic Concepts of Ibn Taimiyah. The Islamic Foundation. ISBNย 978-0-86037-665-1.
- James, David (1983). The Arab Book. Chester Beatty Library.
- Joinville, Jean (1807). Memoirs of John lord de Joinville. Gyan Books.
- King, David A. (1999). World-Maps for Finding the Direction and Distance to Mecca. Brill. ISBNย 978-90-04-11367-1.
- Levanoni, Amalia (1995). A Turning Point in Mamluk History: The Third Reign of Al-Nฤแนฃir Muแธฅammad Ibn Qalฤwลซn (1310โ1341). Brill. ISBNย 978-90-04-10182-1.
- McCarthy, Justin (2014). The Ottoman Turks: An Introductory History to 1923. Routledge. ISBNย 978-1-317-89048-5.
- McGregor, Andrew James (2006). A Military History of Modern Egypt: From the Ottoman Conquest to the Ramadan War. Greenwood Publishing Group. ISBNย 978-0-2759-8601-8.
- Muslu, Cihan Yรผksel (2014). The Ottomans and the Mamluks: Imperial Diplomacy and Warfare in the Islamic World. I.B. Tauris. ISBNย 978-0-85773-580-5.
- Nickel, Helmut (1972). "A Mamluk Axe". Dalam Ettinghausen, Richard (ed.). Islamic Art in the Metropolitan Museum of Art. Metropolitan Museum of Art. hlm.ย 213โ226. ISBNย 978-0-87099-111-0.
- Nicolle, David (2014). Mamluk 'Askari 1250โ1517. Osprey Publishing. ISBNย 978-1-78200-929-0.
- Northrup, Linda (1998a). From Slave to Sultan: The Career of Al-Manแนฃลซr Qalฤwลซn and the Consolidation of Mamluk Rule in Egypt and Syria (678โ689 A.H./1279โ1290 A.D.). Franz Steiner. ISBNย 978-3-515-06861-1.
- Northrup, Linda S. (1998b). "The Bahri Mamluk Sultanate". Dalam Petry, Carl F. (ed.). The Cambridge History of Egypt, Vol. 1: Islamic Egypt 640โ1517. Cambridge University Press. ISBNย 978-0-521-06885-7.
- Paine, Lincoln (2015). The Sea and Civilization: A Maritime History of the World. Knopf Doubleday Publishing. ISBNย 978-1-101-97035-5.
- Petry, Carl F. (1981). The Civilian Elite of Cairo in the Later Middle Ages. Princeton University Press. ISBNย 978-1-4008-5641-1.
- Petry, Carl F. (1993). Twilight of Majesty: The Reigns of the Mamlลซk Sultans Al-Ashrฤf Qฤytbฤy and Qanแนฃลซh Al-Ghawrฤซ in Egypt. University of Washington Press. ISBNย 978-0-295-97307-4.
- Petry, Carl F. (1998). "The Military Institution and Innovation in the Late Mamluk Period". Dalam Petry, Carl F. (ed.). The Cambridge History of Egypt, Vol. 1: Islamic Egypt, 640โ1517. Cambridge University Press. ISBNย 978-0-521-06885-7.
- Petry, Carl F. (2022). The Mamluk Sultanate: A History. Cambridge University Press. ISBNย 978-1-108-47104-6.
- Petry, Carl F. (2014). The Civilian Elite of Cairo in the Later Middle Ages. Princeton University Press. ISBNย 978-1-4008-5641-1.
- Popper, William (1955). Egypt and Syria Under the Circassian Sultans, 1382โ1468 A.D.: Systematic Notes to Ibn Taghrรฎ Birdรฎ's Chronicles of Egypt, Volume 1. University of California Press.
- Powell, Eve M. Trout (2012). Tell This in My Memory: Stories of Enslavement from Egypt, Sudan, and the Ottoman Empire. Stanford University Press. ISBNย 978-0-8047-8375-0.
- Rabbat, Nasser (2001). "Representing the Mamluks in Mamluk Historical Writing". Dalam Kennedy, Hugh N. (ed.). The Historiography of Islamic Egypt: (c. 950โ1800). Brill. ISBNย 978-90-04-11794-5.
- Rabbat, Nasser O. (1995). The Citadel of Cairo: A New Interpretation of Royal Mameluk Architecture. Brill. ISBNย 978-90-04-10124-1.
- Raymond, Andrรฉ (1993). Le Caire (dalam bahasa Prancis). Fayard. ISBNย 978-2-213-02983-2.
- Rodenbeck, Max (1999). Cairo: The City Victorious. Cairo: American University in Cairo Press. ISBNย 0-679-44651-6.
- Salibi, Kamal (1967). "Northern Lebanon Under the Dominance of ฤ azฤซr (1517โ1591)". Arabica. 14 (2): 144โ166. doi:10.1163/157005867X00029. JSTORย 4055631.
- Sanders, Paula (2008). Creating Medieval Cairo: Empire, Religion, and Architectural Preservation in Nineteenth-century Egypt. American University in Cairo Press. ISBNย 978-977-416-095-0.
- Sharon, M. (1995). "A New Fรขแนญimid Inscription from Ascalon and Its Historical Setting". 'Atiqot. 26: 61โ86. JSTORย 23457057.
- Shayyal, Jamal (1967). Tarikh Misr al-Islamiyah (History of Islamic Egypt). Cairo: Dar al-Maref. ISBNย 978-977-02-5975-7.[pranala nonaktif]
- van Steenbergen, Jo (2005). "Identifying a Late Medieval Cadastral Survey of Egypt". Dalam Vermeulen, Urbain; van Steenbergen, Jo (ed.). Egypt and Syria in the Fatimid, Ayyubid and Mamluk Eras IV. Peeters Publishers. ISBNย 978-90-429-1524-4.
- Stilt, Kristen (2011). Islamic Law in Action: Authority, Discretion, and Everyday Experiences in Mamluk Egypt. Oxford University Press. ISBNย 978-0-19-960243-8.
- Streusand, Douglas E. (2018). Islamic Gunpowder Empires: Ottomans, Safavids, and Mughals. Routledge. ISBNย 978-0-429-96813-6.
- Teule, Herman G. B. (2013). "Introduction: Constantinople and Granada, Christian-Muslim Interaction 1350โ1516". Dalam Thomas, David; Mallett, Alex (ed.). Christian-Muslim Relations. A Bibliographical History, Volume 5 (1350โ1500). Brill. ISBNย 978-90-04-25278-3.
- Varlik, Nรผkhet (2015). Plague and Empire in the Early Modern Mediterranean World: The Ottoman Experience, 1347โ1600. Cambridge University Press. ISBNย 978-1-316-35182-6.
- Welsby, Derek (2002). The Medieval Kingdoms of Nubia: Pagans, Christians and Muslims Along the Middle Nile. British Museum. ISBNย 978-0-7141-1947-2.
- Williams, Caroline (2018). Islamic Monuments in Cairo: The Practical Guide (Edisi 7th). American University in Cairo Press. ISBNย 978-977-416-855-0.
- Winter, Michael (1998). "The Re-Emergence of the Mamluks Following the Ottoman Conquest". Dalam Philipp, Thomas; Haarmann, Ulrich (ed.). The Mamluks in Egyptian Politics and Society. Cambridge University Press. ISBNย 978-0-521-59115-7.
- Yosef, Koby (2012). "Dawlat al-atrฤk or dawlat al-mamฤlฤซk? Ethnic Origin or Slave Origin as the Defining Characteristic of the Ruling รlite in the Mamlลซk Sultanate". Jerusalem Studies in Arabic and Islam. 39. Hebrew University of Jerusalem: 387โ410.
- Yosef, Koby (2013). "The Term Mamlลซk and Slave Status during the Mamluk Sultanate". Al-Qanแนญara. 34 (1). Consejo Superior de Investigaciones Cientรญficas: 7โ34. doi:10.3989/alqantara.2013.001.
Sumber utama
sunting- Abu al-Fida, The Concise History of Humanity
- Al-Maqrizi, Al Selouk Leme'refatt Dewall al-Melouk, Dar al-kotob, 1997.
- Idem in English: Bohn, Henry G., The Road to Knowledge of the Return of Kings, Chronicles of the Crusades, AMS Press, 1969.
- Al-Maqrizi, al-Mawaiz wa al-'i'tibar bi dhikr al-khitat wa al-'athar, Matabat aladab, Cairo 1996, ISBN 978-977-241-175-7
- Idem in French: Bouriant, Urbain, Description topographique et historique de l'Egypte, Paris 1895.
- Ibn Taghribirdi, al-Nujum al-Zahirah Fi Milook Misr wa al-Qahirah, al-Hay'ah al-Misreyah 1968
- Idem in English: History of Egypt, by Yusef. William Popper, translator Abu L-Mahasin ibn Taghri Birdi, University of California Press 1954.
- Ibn Iyas, and Gaston Wiet, translator, Journal d'un Bourgeois du Caire. Paris: 1955.
Bacaan tambahan
sunting- Petry, Carl Forbes (2012). "Circassians, Mamlลซk". Dalam Fleet, Kate; Krรคmer, Gudrun; Matringe, Denis; Nawas, John; Rowson, Everett (ed.). Encyclopaedia of Islam, THREE. Brill Online. ISSNย 1873-9830.
- Winter, Michael; Levanoni, Amalia, ed. (2004). The Mamluks in Egyptian and Syrian Politics and Society. Brill. ISBNย 978-90-04-13286-3.










