Perubahan iklim di masa kini adalah perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca iklim dalam periode waktu yang sangat lama, yang mencakup peningkatan suhu rata-rata global yang terus berlanjut. Percepatan pemanasan global merupakan akibat dari meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer Bumi[1] yang disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak bumi, & gas alam) yang telah dimulai sejak Revolusi Industri.[2][3][4] Aktivitas manusia lainnya mencakup penggunaan bahan bakar fosil, deforestasi, serta beberapa kegiatan industri & pertanian yang melepaskan emisi gas rumah kaca.[5] Gas-gas ini menyerap panas yang dipancarkan oleh bumi sehabis menyerap panas dari sinar matahari, memanaskan atmosfer bagian bawah. Karbon dioksida yang terkandung didalam atmosfer Bumi saat ini lebih banyak 50% dari masa pra-Revolusi Industri.[6]

Bobcat Fire in Monrovia, CA, September 10, 2020
Bleached colony of Acropora coral
A dry lakebed in California, which is experiencing its worst megadrought in 1,200 years.[7]
Beberapa Contoh dari dampak perubahan iklim: Kebakaran hutan dan lahan yang diperparah oleh panas ekstrem dan kekeringan, Pemutihan karang yang terjadi lebih sering akibat pemanasan laut, dan kekeringan berkepanjangan yang mengancam pasokan air.

Dampak perubahan iklim mencakup peningkatan tinggi permukaan air laut, peningkatan keasaman air laut,[8] gelombang panas dan kebakaran hutan yang lebih sering terjadi,[9] serta meningkatnya intensitas serta frekuensi cuaca ekstrem seperti badai atau kekeringan.[10] Kenaikan suhu rata-rata global berdampak pada pergeseran rentang geografis (seperti desertifikasi)[11] dan kerusakan ekosistem di berbagai habitat seperti terumbu karang, pegunungan, dan Arktik, memaksa berbagai species untuk melakukan migrasi ke tempat yang lebih aman atau menghadapi ancaman kepunahan.[12] Pemanasan global berdampak jelas di Arktik, dengan efek yang menonjol seperti mencairnya ibun abadi dan penyusutan es di laut Arktik.[13]

Ancaman utama yang disebabkan oleh perubahan iklim terhadap manusia adalah suhu panas ekstrem, banjir, kelangkaan pangan dan air, penyakit (seperti malaria), kerugian ekonomi, migrasi, hingga konflik.[14][15] Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa perubahan iklim merupakan ancaman utama kepada kesehatan global pada abad ke-21.[16] Tanpa tindakan untuk membatasi pemanasan, lingkungan masyarakat dan ekosistem akan mengalami risiko yang lebih parah.[17] Kelompok masyarakat miskin berkontribusi emisi gas rumah kaca lebih kecil dari pada masyarakat lain, akan tetapi merupakan kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim.[18][19] Dampak dari perubahan iklim telah diamati paling awal satu dekade di abad ke-21, dengan suhu paling hangat sekitar +160 ยบC (290 ยบF) pada tahun 2024 sejak pencatatan dimulai pada tahun 1850.[20][21] Pemanasan ini akan memperparah dampak dari perubahan iklim serta memicu titik kritis, seperti melelehnya seluruh lapisan es Greenland.[22] Dibawah Persetujuan Paris tahun 2015, negara-negara bersepakat untuk menjaga pemanasan dibawah 2 ยบC, meskipun pemanasan global akan tetap mencapai sekitar 28 ยบC (50 ยบF) pada akhir abad ke-21.[23]

Di seluruh dunia, telah terjadi dukungan luas terhadap aksi iklim,[24][25] dan sebagian besar negara menargetkan untuk berhenti menghasilkan emisi gas karbon dioksia.[26] Subsidi energi fosil dihentikan dan digantikan ke sumber energi yang tidak memproduksi polusi karbon yang signifikan. Energi ini mencakup bayu, surya, air, dan nuklir.[27] Sumber energi listrik yang bersih sapat menggantikan sumber energi fosil untuk transportasi dan industri.[28] Karbon juga dapat dihilangkan dari atmosfer, seperti peningkatan luas dan proteksi hutan serta metode pertanian dengan menyimpan karbon didalam tanah.[29][30][31]

Istilah

sunting

Istilah ini bisa juga berarti perubahan keadaan cuaca rata-rata atau perubahan distribusi peristiwa cuaca rata-rata, contohnya, jumlah peristiwa cuaca ekstrem yang semakin banyak atau sedikit. Perubahan iklim terbatas hingga regional tertentu atau dapat terjadi di seluruh wilayah Bumi. Perubahan iklim juga disebut perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca

Dalam penggunaannya saat ini, khususnya pada kebijakan lingkungan, perubahan iklim merujuk pada perubahan iklim modern. Perubahan ini dapat dikelompokkan sebagai perubahan iklim antropogenik atau lebih umumnya dikenal sebagai pemanasan global atau pemanasan global antropogenik.

Perubahan iklim terjadi ketika perubahan dalam sistem iklim bumi menghasilkan pola cuaca baru yang bertahan selama setidaknya beberapa dekade, dan mungkin selama jutaan tahun. Sistem iklim terdiri dari lima bagian yang saling berinteraksi, atmosfer (udara), hidrosfer (air), kriosfer (es dan permafrost), biosfer (makhluk hidup), dan litosfer (kerak bumi dan mantel atas). Sistem iklim menerima hampir semua energinya dari matahari, dengan jumlah yang relatif kecil dari interior bumi. Sistem iklim juga memberikan energi ke luar angkasa. Keseimbangan energi yang masuk dan keluar, dan perjalanan energi melalui sistem iklim, menentukan anggaran energi Bumi. Ketika energi yang masuk lebih besar dari energi yang keluar, anggaran energi bumi positif dan sistem iklim memanas. Jika lebih banyak energi keluar, anggaran energi negatif dan bumi mengalami pendinginan.

Saat energi ini bergerak melalui sistem iklim Bumi, ia menciptakan cuaca Bumi dan rata-rata cuaca jangka panjang disebut "iklim". Perubahan rata-rata jangka panjang disebut "perubahan iklim". Perubahan seperti itu bisa merupakan hasil dari "variabilitas internal", ketika proses alami yang melekat pada berbagai bagian dari sistem iklim mengubah anggaran energi Bumi. Contohnya termasuk pola siklus laut seperti El Nino Southern Oscillation yang terkenal dan kurang dikenal osilasi decadal Pasifik dan osilasi multidecadal Atlantik. Perubahan iklim juga dapat dihasilkan dari "pemaksaan eksternal", ketika peristiwa di luar lima bagian sistem iklim tetap menghasilkan perubahan dalam sistem. Contohnya termasuk perubahan output matahari dan vulkanisme.

Bidang klimatologi menggabungkan banyak bidang penelitian yang berbeda. Untuk periode perubahan iklim kuno, para peneliti mengandalkan bukti yang disimpan dalam proksi iklim, seperti inti es. Cincin pohon purba, catatan geologis perubahan permukaan laut, dan geologi glasial. Bukti fisik dari perubahan iklim saat ini mencakup banyak bukti independen, beberapa di antaranya adalah catatan suhu, hilangnya es, dan peristiwa cuaca ekstrem.

Terminologi

sunting

Definisi paling umum dari perubahan iklim adalah perubahan dalam sifat statistik (terutama rata-rata dan penyebaran)[32] dari sistem iklim ketika dipertimbangkan dalam jangka waktu yang lama, terlepas dari penyebabnya.[33] Karenanya, fluktuasi dalam periode yang lebih singkat dari beberapa dekade, seperti El Niรฑo, tidak mewakili perubahan iklim.

Istilah "perubahan iklim" sering digunakan untuk merujuk secara khusus pada perubahan iklim antropogenik (juga dikenal sebagai pemanasan global). Perubahan iklim antropogenik disebabkan oleh aktivitas manusia, berbeda dengan perubahan iklim yang mungkin dihasilkan sebagai bagian dari proses alami Bumi.[34] Dalam pengertian ini, terutama dalam konteks kebijakan lingkungan, istilah perubahan iklim telah menjadi identik dengan antropogenik pemanasan global. Dalam jurnal ilmiah, pemanasan global mengacu pada kenaikan suhu permukaan sementara perubahan iklim termasuk pemanasan global dan segala sesuatu yang memengaruhi peningkatan level gas rumah kaca.[35]

Istilah terkait, "perubahan iklim", diusulkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada tahun 1966 untuk mencakup semua bentuk variabilitas iklim pada skala waktu lebih dari 10 tahun, tetapi terlepas dari penyebabnya. Selama tahun 1970-an, istilah perubahan iklim menggantikan perubahan iklim untuk fokus pada penyebab antropogenik, karena menjadi jelas bahwa aktivitas manusia berpotensi mengubah iklim secara drastis.[36] Perubahan iklim dimasukkan dalam judul Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Perubahan iklim sekarang digunakan sebagai deskripsi teknis dari proses, serta kata benda yang digunakan untuk menggambarkan masalah.[36]

Peningkatan suhu global

sunting

Suhu global sebelum pemanasan global modern

sunting

Dalam beberapa juta tahun terakhir, iklim global mengalami berbagai siklus melalui zaman es. Salah satu zaman yang lebih hangat adalah masa Interglasial Terakhir, sekitar 125,000 tahun yang lalu. Temperatur mencapai antara 0.5ยบC dan 1.5ยบC lebih hangat sebelum permulaan pemanasan global.[37] Tingkatan air laut pada masa ini berketinggian 5 hingga 10 meter lebih tinggi dari sekarang. Glasial maksikum terakhirโ€”sekitar 20,000 tahun yang laluโ€”bersuhu sekitar 5-7 ยบC lebih dingin. Periode ini memiliki ketinggian air laut sekitar 125 meter lebih rendah dari sekarang.[38]

Temperatur menjadi lebih stabil saat periode interglasial, sekitar awal 11,700 tahun yang lalu.[39] Pertanian pertama kali muncul pada masa ini.[40]Temperatur mungkin saja bersuhu sama tingginya pada akhir abad ke-20 di beberapa wilayah.[41][42] Informasi pada masa ini diketahui melalui proksi iklim, seperti pohon atau inti es.[43][44]

Pemanasan sejak Revolusi Industri

sunting
Dalam beberapa dekade terakhir, rekor suhu tinggi baru telah secara substansial melampaui rekor suhu rendah baru di sebagian besar permukaan Bumi.[45]
Dalam beberapa dekade terakhir, kandungan panas laut meningkat dalam skala besar. Laut menyerap panas yang disebabkan oleh pemanasan global lebih dari 90%.[46]

Rekor termometer pertama kali dimulai pada tahun 1850 dengan tujuan memberikan cakupan global.[47] Antara abad ke-18 hingga tahun 1970 terdapat jejaring kecil pemanasan, karena emisi gas rumah kaca dipengaruhi oleh pendinginan dari emisi sulfur dioksida. Sulfur dioksida menyebabkan hujan asam, tetapi juga memproduksi aerosol sulfat di atmosfer yang memantulkan cahaya matahari bahkan menyebabkan peredupan global. Setelah tahun 1970, akumulasi antara emisi gas rumah kaca dan pengendalian polusi sulfur mengakibatkan kenaikan temperatur yang signifikan.[48][49][50]

Animasi dari NASA menggambarkan perubahan suhu muka bumi sejak tahun 1880. Warna biru menunjukkan suhu yang lebih dingin dan warna merah suhu yang lebih hangat. Rata-rata temperatur dalam referensi yang digunakan berentang waktu 1951 hingga 1980.

Perubahan yang berlanjut di iklim tidak memiliki preseden dalam beberapa ribu tahun.[51] Data menunjukkan kenaikan suhu muka Bumi,[52] dalam tarif sekitar 0.2 ยบC per dekade.[53] Dekade tahun 2014 dan tahun 2023 menghangat dalam rata-rata sekitar 1.19 ยบC (1.06โ€“1.30 ยบC) dibandingkan masa pra-industri (1850โ€“1900).[54] Tidak seluruh tahun lebih hangat dari sebelumnya. Proses variabilitas iklim dapat membuat suatu tahun lebih hangat atau dingin sekitar 0.2 ยบC dari rata-rata.[55] Dari tahun 1998 hingga 2013, fase negatif dari proses yang sama dari Oskilasi dekadal Pasifik[56] dan Oskilasi multidekadal Atlantik,[57] menyebabkan jeda pemanasan global.[58] Setelah jeda tersebut, pemanasan kembali terjadi, dan pada tahun 2024 dengan suhu +1.5 ยบC lebih hangat dari suhu rata-rata.[59] Perubahan suhu didefinisikan dalam kurun waktu rata-rata 20 tahun, mengurangi "kebisingan" tahun-tahun yang panas dan dingin dan pola dekadal iklim, dan mendeteksi efek jangka panjang.[60]:โ€Š5โ€Š[61]

A wide range of other observations reinforce the evidence of warming.[62][63] Atmosfer bagian atas lebih mendingin karena emisi gas rumah kaca terperangkan di atau didekat permukaan Bumi, pada akhirnya panas yang dilepas ke angkasa lebih rendah.[64] Pemanasan tersebut mengurangi jumlah tutupan salju dan melelehkan gletser es, penguapan, dan pengendapan jauh lebih intens.[65][66] Flora berbunga jauh lebih awal di musim semi, dan spesies hewan telah bermigrasi ke wilayah yang lebih dingin secara permanen.[67]

Perbedaan pola peningkatan suhu di seluruh dunia

sunting

Wilayah-wilayah di seluruh dunia mengalami pemanasan dalam tarif yang berbeda. Tarif ini tidak terikat dengan dimana gas rumah kaca tersebut diproduksi, karena gas tersebut bertahan cukup lama untuk menyebar ke seluruh Bumi. Sejak masa pra-Industri, rata-rata suhu di wilayah daratan meningkat dua kali lebih cepat dari peningkatan suhu global secara keseluruhan.[68] Ini karena lautan kehilangan lebih banyak panas karena proses evaporasi dan juga karena lautan mampu menyimpan lebih banyak panas.[69] Energi termal di sistem iklim global telah meningkat dengan satu-satunya jeda pendek pada tahun 1970, dan lebih dari 90% panas ini telah disimpan di dalam lautan.[70][71] Sisanya telah menghangatkan atmosfer, melelehkan es, dan menghangatkan benua-benua.[72]

Belahan Bumi Utara, termasuk Kutub Utara, telah mengalami pemanasan jauh lebih cepat dari Belahan Bumi Selatan dan Kutub Selatan. Belahan bumi utara memiliki lebih banyak daratan, tutupan salju musiman, dan es laut. Daratan-daratan ini memantulkan cahaya dalam jumlah besar hingga menghitam setelah es meleleh, lalumenyerap panas lebih banyak.[73] deposit karbon hitam pada salju dan es juga berkontribusi pada pemanasan Arktik.[74] Suhu permukaan Arktik meningkat antara 3 hingga 4 kali lebih cepat dari wilayah di belahan lain dunia.[75][76] Melelehnya lapisan es di kutub memperlemah lengan arus termohalin Atlantik dan Antartika, pada akhirnya mengubah distribusi panas dan pengendapan di seluruh Bumi.[77][78][79][80]

Suhu global pada masa depan

sunting
Proyeksi multi-model Proyek Perbandingan Model Gabungan untuk perubahan suku permukaan global pada tahun 2090 relatif terhadap rata-rata tahun 1850โ€“1900. Trajektori pemanasan pada akhir abad ini berada kira-kira di tengah-tengah antara kedua ekstrem tersebut.[23][81][82]

Organisasi Meteorologi Dunia memperkirakan hampir sekitar 50% dari 5 tahun rata-rata suhu global melebihi +1.5 ยบC diantara 2024 dan 2028.[83] Panel Antarpemerintah Perubahan Iklim memperkirakan bahwa rata-rata 20 tahun akan melebihi +1.5 ยบC pada awal tahun 2030.[36]

Laporan Asesmen IPCC pada tahun 2021 memproyeksian pada tahun 2100 sangat memungkinkan bahwa pemanasan global akan mencapai 1.0-1.8 ยบC dibawah skenario emisi gas rumah kaca yang rendah, 2.1โ€“3.5ย ยฐC dibawah skenario emisi intermediat, atau 3.3โ€“5.7ย ยฐC dibawah emisi gas rumah kaca yang tinggi.[84] Pemanasan ini akan terus berlanjut melampaui tahun 2100 di skenario emisi intermediet dan emisi tinggi,[85][86] dengan proyeksi masa depan tentang suhu permukaan global pada tahun 2300 serupa dengan jutaan tahun yang lalu.[87]

Anggaran karbon sisa yang berada dibawah kenaikan suhu tertentu ditentukan melalui siklus karbon dan sensitivitas iklim kepada gas rumah kaca.[88] Berdasarkan UNEP, pemanasan dapat dibatasi dibawah 2.0 ยบC dengan 50% kemungkinan jika emisi setelah 2023 tidak melebihi 900 gigaton CO2. Karbon ini berkorespondensi dengan 16 tahun emisi saat ini.[89]

Penyebab kenaikan suhu global sekarang

sunting
Pendorong fisik pemanasan global sejauh ini. Potensi pemanasan global di masa depan untuk pendorong berumur panjang seperti emisi karbon dioksida tidak direpresentasikan. Garis penunjuk pada setiap batang menunjukkan kisaran kesalahan yang mungkin terjadi."

Sistem iklim telah mengalami variasi siklus pada dirinya sendiri yang dapat yang bisa bertahan selama beberapa tahun, dekade, atau abad. Contohnya, fenomena-fenomena El Niรฑo memberikan dampak jangka pendek kenaikan suhu permukaan, sedangkan fenomena-fenomena La Niรฑa memberikan pendinginan jangka pendek. [90] Frekuensi relatif dapat memengaruhi tren suhu global pada skala waktu dekadal. [91] Perubahan lainnya disebabkan oleh ketidakseimbangan energi dari paksaan eksternal.[92] Contoh dari perubahan ini meliputi konsentrasi gas rumah kaca, luminositas matahari, erupsi vulkanik, volcanic eruptions, dan variasi orbit Bumi mengelilingi Matahari.[93]

Untuk menentukan pengaruh manusia pada perubahan iklim, "sidik jari" unik bagi seluruh penyebab potensial dikembangkan dan dibandingkan baik dengan pola yang teramati maupun variabilitas iklim internal yang diketahui.[94] Sebagai contoh, pemaksaan suryaโ€”yang jejaknya melibatkan pemanasan seluruh atmosferโ€”dikesampingkan karena hanya atmosfer bagian bawah yang memanas.[95] Aerosol atmosferik menghasilkan efek pendinginan yang lebih kecil. Faktor pendorong lainnya, seperti perubahan albedo, kurang berdampak.[96]

Gas rumah kaca

sunting
Konsentrasi CO2 dari 800,000 tahun yang lalu yang diukur melalui inti es (biru/hijau) dan secara langsung (hitam).

Gas rumah kaca bersifat transparan terhadap cahaya matahari, menyebabkannya untuk melewati atmosfer untuk memanaskan permukaan Bumi. Bumi memancarkannya kembali sebagai panas, dan gas rumah kaca menyerap sebagian darinya. Penyerapan ini memperlambat laju panas terlepas ke luar angkasa, memerangkap panas di dekat permukaan Bumi dan memanaskannya dari waktu ke waktu.[97]

Meskipun uap air (โ‰ˆ50%) dan awan (โ‰ˆ25%) merupakan kontributor terbesar pada efek gas rumah kaca, hal-hal ini utamanya berubah sebagai fungsi dari suhu dan oleh karena itu sebagian besar dianggap sebagai umpan balik yang mengubah sensitivitas iklim. Konsentrasi gas seperti CO2 (โ‰ˆ20%), ozon troposferik,[98] Klorofluorokarbon, dan dinitrogen monoksida ditambahkan atau dikurangi secara sendirinya oleh suhu, dan di pertambangkan sebagai paksaan eksternal yang mengubah suhu global.[99]

sebelum Revolusi Industri, Jumlah gas rumah kaca yang terjadi secara alami menyebabkan udara di dekat permukaan bumi sekitar 33 ยฐC lebih hangat dibandingkan jika gas-gas tersebut tidak ada.[100][101] Aktivitss manusia sejak Revolusi Industri, terutama mengekstrak dan membakar bahan bakar fosil (sepeerti batu bara, minyak bumi, dan gas alam),[102] telah meningkatkan jumlah gas rumah kaca. pada tahun 2022, konsentrasi CO2 dan metana telah meningkat sekitar 50% dan 164%, masing-masing, sejak 1750.[103] Tingkatan CO2 ini lebih tinggi dari tingkatan apapun 14 juta tahun yang lalu.[104] Konsentrasi metana di atmosfer jauh lebih tinggi dari kondisi 800,000 tahun yang lalu.[105]

Proyeksi Karbon Global (Global Carbon Project) menunjukkan bahwa tambahan karbon dioksida telah disebabkan oleh berbagai sumber yang meningkat satu demi satu.[106]

Emisi gas rumah kaca global yang disebabkan oleh manusia pada tahun 2019 setara dengan 59 miliar ton CO2. Diantaranya, 75% adalah CO2, 18% adalah metana, 4% adalah dinitrogen monoksida dan 2% adalah gas berfluorinasi.[107] Emisi CO2 dihasilkan utama dari pembakaran bahan bakar fosil untuk transportasi, manufaktur, dan listrik.[5] Emisi CO2 dihasilkan dari deforestasi dan kegiatan industri, yang mencakup which include the CO2 dilepaskan dari reaksi kimia seperti membuat semen, baja, aluminium, and pupuk.[108][109][110][111] Emisi metana dihasilkan dari peternakan, manure, budidaya padi, tempat pembuangan sampah, limbah air, dan pertambangan, termasuk ekstraksi minyak dan gas bumi.[112][113] Emisi dinitrogen monoksida dihasilkan dari dekomposisi mikroorganisme pupuk.[114][115]

Walau metana bertahan di atmoser dalam waktu yang pendek (rata-rata 12 tahun),[116] CO2 bertahan lebih lama. Permukaan Bumi menyerap CO2 sebagai bagian dari siklus karbon. Meski tumbuhan pada tanaman di daratan dan di lautan menyerap kebanyakan emisi CO2 setiap tahun, CO2 tersebut kembali ke atmosfer ketika materi biologis dicerna, dibakar, dan membusuk. [117] Proses serapan karbon di permukaan lahan, seperti fiksasi karbon di dalam tanah dan fotosintesis, menghilangkan sekitar 29% dari emisi karbon dioksida secara tahunan.[118] Lautan sendiri telah menyerap sekitar 20 hingga 30% karbon dioksida yang dihasilkan pada 2 dekade terakhir.[119] CO2 hanya berpindah dari atmosfer ke dalam kerak Bumi secara jangka panjang, sebuah proses yang membutuhkan waktu jutaan tahun untuk selesai.[117]


Dampak

sunting

Degradasi habitat

sunting

Perubahan iklim merusak ekosistem penting, seperti terumbu karang yang hancur karena suhu laut yang lebih tinggi. Hutan hujan tropis juga terancam, dan banyak spesies mengalami perubahan dalam pola migrasi dan reproduksi mereka, yang mengganggu keseimbangan alam.

Peningkatan suhu Bumi

sunting
Alttext
Kebakaran hutan di Australia pada tahun 2020 diperparah oleh kenaikan suhu dan kekeringan.
Kekeringan bekerpanjangan berdampak kegagalan pada tanaman-tanaman agrikultural.

Peningkatan suhu Bumi terwujud dalam bentuk pemanasan global. Suhu bumi yang meningkat berdampak pada peningkatan konsumsi energi dan peningkatan bencana penyakit di dalam kehidupan manusia. Peningkatan penggunaan energi dan penurunan produksi tanaman atau gagal panen dapat menyebabkan meningkatnya ancaman kelaparan. Penguapan air yang berlebihan akibat peningkatan suhu menyebabkan ketersediaan air di permukaan Bumi sangat terbatas. Bersamaan dengan itu, peningkatan suhu Bumi menyebabkan terjadinya kebakaran hutan yang menimbulkan kabut asap. Peningkatan jumlah kabut asap berdampak pada peningkatan wabah penyakit malaria, demam berdarah, diare, dan gangguan pernapasan.[120]

Perubahan curah hujan

sunting
Siklon Senyar menyebabkan banjir dahsyat dan tanah longsor di daerah-daerah Sumatra bagian utara.

Perubahan curah hujan teramati dengan jenis musim yang tidak menentu. Pada musim hujan, curah hujan menjadi sangat tinggi sehingga menyebabkan terjadinya banjir dan longsor. Bencana alam ini kemudian mengurangi luas lahan pertanian, menyebabkan kekeringan dan penurunan ketersediaan air secara berkepanjangan. Kondisi ini kemudian memengaruhi pasokan air untuk wilayah perkotaan dan pertanian, serta meluasnya kebakaran hutan.[120]

Kenaikan suhu dan tinggi muka laut

sunting
Pemutihan karang disebabkan oleh kenaikan suhu permukaan air laut ekstrem.

Kenaikan suhu permukaan laut membuat terumbu karang rusak dan arah arus laut berubah. Kondisi ini kemudian mengubah pola migrasi ikan di laut dan berpengaruh terhadap penghasilan nelayan. Peningkatan suhu permukaan laut juga membuat genangan air laut meluas dan wilayah pesisir lebih sering mengalami abrasi dan meningkatkan intrusi air laut ke daratan sehingga mengancam kehidupan di wilayah pesisir.[120]

Perubahan iklim membuat siklon tropis terjadi lebih sering dan dahsyat dalam waktu yang sama.
Hurikan Melissa di Laut Karibia berubah dari badai tropis menjadi hurikan Kategori 4 dalam 18 jam, sebuah bukti nyata perubahan iklim.

Selain itu, penelitian membuktikan bahwa kenaikan suhu air laut ini membuat siklon tropis makin sering terjadi dengan angin dan intensitas hujan yang lebih kuat. Perubahan iklim dapat memengaruhi siklon tropis dalam berbagai cara: meningkatnya curah hujan dan kecepatan angin, menurunnya frekuensi keseluruhan, meningkatnya frekuensi badai yang sangat dahsyat, dan meluaskan jangkauan wilayah ke arah kutub tempat siklon mencapai intensitas maksimum merupakan beberapa kemungkinan konsekuensi dari perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

Pergeseran musim

sunting

Perubahan iklim mengakiatkan terjadinya pergeseran musim. Bencana kekeringan dan penggurunan terjadi larena musim kemarau akan berlangsung lebih lama dari waktu normalnya. Dampak lekeringan akan dirasakan terutama di Afrika, Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Sementara itu, tingkat curah hujan sangat tinggi pada saat musim hujan dengan waktu yang lebih singkat dari waktu normalnya. Peningkatan curah hujan ini menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor.[121]

Kesadaran pembangunan berkelanjutan

sunting

Perubahan iklim memberi peluang bagi terciptanya kesadaran akan pembangunan berkelanjutan di dalam pemikiran masyarakat global. Berbagai dampak negatif yang telah dialami secara langsung oleh masyarakat memberikan kemungkinan pemanfaatan perubahan iklim secara positif. Perubahan iklim meningkatkan daya cipta dan reka baru terhadap model bisnis dan model politik. Melalui pembangunan keberlanjutan, masyarakat meningkatkan penggunaan cara-cara mutakhir dalam mengelola alam berdasarkan kearifan lokal yang ada di lingkup negara atau global.[122]

Referensi

sunting
  1. ^ Hindarto, dkk. (2018). #pasarkarbon: Pengantar Pasar Karbon untuk Pengendalian Perubahan Iklim. Jakarta Pusat: PMR Indonesia. hlm.ย 8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ America's Climate Choices: Panel on Advancing the Science of Climate Change; National Research Council (2010). Advancing the Science of Climate Change. Washington, D.C.: The National Academies Press. ISBNย 0-309-14588-0. Diarsipkan dari asli tanggal 29 May 2014. (p1) ... there is a strong, credible body of evidence, based on multiple lines of research, documenting that climate is changing and that these changes are in large part caused by human activities. While much remains to be learned, the core phenomenon, scientific questions, and hypotheses have been examined thoroughly and have stood firm in the face of serious scientific debate and careful evaluation of alternative explanations. (pp. 21โ€“22) Some scientific conclusions or theories have been so thoroughly examined and tested, and supported by so many independent observations and results, that their likelihood of subsequently being found to be wrong is vanishingly small. Such conclusions and theories are then regarded as settled facts. This is the case for the conclusions that the Earth system is warming and that much of this warming is very likely due to human activities. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  3. ^ Forster et al. 2024, hlm.ย 2626: "The indicators show that, for the 2014โ€“2023 decade average, observed warming was 1.19 [1.06 to 1.30] ยฐC, of which 1.19 [1.0 to 1.4] ยฐC was human-induced."
  4. ^ Lynas, Mark; Houlton, Benjamin Z.; Perry, Simon (19 October 2021). "Greater than 99% consensus on human caused climate change in the peer-reviewed scientific literature". Environmental Research Letters. 16 (11): 114005. Bibcode:2021ERL....16k4005L. doi:10.1088/1748-9326/ac2966.
  5. ^ a b Our World in Data, 18 September 2020
  6. ^ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm.ย 67: "Concentrations of CO2, methane (Templat:CH4), and nitrous oxide (Templat:N2O) have increased to levels unprecedented in at least 800,000 years, and there is high confidence that current CO2 concentrations have not been experienced for at least 2 million years."
  7. ^ Ivanova, Irina (June 2, 2022). "California is rationing water amid its worst drought in 1,200 years". CBS News.
  8. ^ IPCC SR15 Ch1 2018, hlm.ย 64: "Sustained net zero anthropogenic emissions of CO2 and declining net anthropogenic non-CO2 radiative forcing over a multi-decade period would halt anthropogenic global warming over that period, although it would not halt sea level rise or many other aspects of climate system adjustment."
  9. ^
    • IPCC SRCCL 2019, hlm.ย 7: "Since the pre-industrial period, the land surface air temperature has risen nearly twice as much as the global average temperature (high confidence). Climate change... contributed to desertification and land degradation in many regions (high confidence)."
    • IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm.ย 9: "Observed increases in areas burned by wildfires have been attributed to human-induced climate change in some regions (medium to high confidence)"
  10. ^ IPCC AR6 WG1 Ch11 2021, hlm.ย 1517
  11. ^ *IPCC SRCCL 2019, hlm.ย 7: "Since the pre-industrial period, the land surface air temperature has risen nearly twice as much as the global average temperature (high confidence). Climate change... contributed to desertification and land degradation in many regions (high confidence)."
    • IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm.ย 9: "Observed increases in areas burned by wildfires have been attributed to human-induced climate change in some regions (medium to high confidence)"
  12. ^ EPA (19 January 2017). "Climate Impacts on Ecosystems". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 January 2018. Diakses tanggal 5 February 2019. Mountain and arctic ecosystems and species are particularly sensitive to climate change... As ocean temperatures warm and the acidity of the ocean increases, bleaching and coral die-offs are likely to become more frequent.
  13. ^ IPCC SROCC 2019, hlm.ย 16: "Over the last decades, global warming has led to widespread shrinking of the cryosphere, with mass loss from ice sheets and glaciers (very high confidence), reductions in snow cover (high confidence) and Arctic sea ice extent and thickness (very high confidence), and increased permafrost temperature (very high confidence)."
  14. ^ "Consequences of climate change". climate.ec.europa.eu (dalam bahasa Inggris). European Commission. Diakses tanggal 10 April 2025.
  15. ^
  16. ^ WHO, Nov 2023
  17. ^ IPCC AR6 WG2 SPM 2022, hlm.ย 19
  18. ^ Tietjen, Bethany (2 November 2022). "Loss and damage: Who is responsible when climate change harms the world's poorest countries?". The Conversation. Diakses tanggal 30 August 2023.
  19. ^ "Climate Change 2022: Impacts, Adaptation and Vulnerability". IPCC. 27 February 2022. Diakses tanggal 30 August 2023.
  20. ^ "2024 โ€“ a second record-breaking year, following the exceptional 2023". Copernicus Programme. 10 January 2025. Diakses tanggal 10 January 2025.
  21. ^ Carrington, Damian (10 January 2025). "Hottest year on record sent planet past 1.5C of heating for first time in 2024". The Guardian. Diakses tanggal 10 January 2025.
  22. ^ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm.ย 71
  23. ^ a b United Nations Environment Programme 2024, hlm.ย XVIII: "The full implementation and continuation of the level of mitigation effort implied by unconditional or conditional NDC scenarios lower these projections to 2.8ย ยฐC (range: 1.9โ€“3.7) and 2.6ย ยฐC (range: 1.9โ€“3.6), respectively. All with at least a 66 per cent chance."
  24. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Damian
  25. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Peter
  26. ^ United Nations Environment Programme 2024, hlm.ย XV: "As at 1 June 2024, 101 parties representing 107 countries and covering approximately 82 per cent of global GHG emissions had adopted net-zero pledges either in law (28 parties), in a policy document such as an NDC or a long-term strategy (56 parties), or in an announcement by a high-level government official (17 parties)."
  27. ^
  28. ^ IPCC AR6 WG3 Technical Summary 2022, hlm.ย 84: "Stringent emissions reductions at the level required for 2ยฐC or 1.5ยฐC are achieved through the increased electrification of buildings, transport, and industry, consequently all pathways entail increased electricity generation (high confidence)."
  29. ^
  30. ^ Duarte, C.M.; Delgado-Huertas, A.; etย al. (17 January 2025). "Carbon burial in sediments below seaweed farms matches that of Blue Carbon habitats". Nature Climate Change. 15 (2): 180โ€“187. Bibcode:2025NatCC..15..180D. doi:10.1038/s41558-024-02238-1.
  31. ^ Winfield, E.; Ostoja, S. (2020). "Climate-Smart Agriculture: Soil Health & Carbon Farming [Factsheet]". USDA California Climate Hub. Diakses tanggal 13 August 2025.
  32. ^ Solomon, S.; Qin, D.; Manning, M.; Chen, Z.; Marquis, M.; Averyt, K.B.; Tignor, M.; Miller, H.L., ed. (2007). "Understanding and Attributing Climate Change". Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).
  33. ^ "Glossaryย โ€“ Climate Change". Education Centerย โ€“ Arctic Climatology and Meteorology. NSIDC National Snow and Ice Data Center. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-01-18. Diakses tanggal 2019-03-09. ; Glossary Diarsipkan 2018-03-07 di Wayback Machine., in IPCC TAR WG1 2001.
  34. ^ "The United Nations Framework Convention on Climate Change". 21 March 1994. Climate change means a change of climate which is attributed directly or indirectly to human activity that alters the composition of the global atmosphere and which is in addition to natural climate variability observed over comparable time periods.
  35. ^ "What's in a Name? Global Warming vs. Climate Change". NASA. Diakses tanggal 23 July 2011.
  36. ^ a b c Hulme, Mike (2016). Concept of Climate Change, in: The International Encyclopedia of Geography. Wiley-Blackwell/Association of American Geographers (AAG). Diakses tanggal 16 May 2016. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama ":1" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  37. ^ IPCC AR6 WG1 Ch2 2021, hlm.ย 294, 296.
  38. ^ IPCC AR6 WG1 Ch2 2021, hlm.ย 366.
  39. ^ Marcott, S. A.; Shakun, J. D.; Clark, P. U.; Mix, A. C. (2013). "A reconstruction of regional and global temperature for the past 11,300 years". Science. 339 (6124): 1198โ€“1201. Bibcode:2013Sci...339.1198M. doi:10.1126/science.1228026. PMIDย 23471405.
  40. ^ IPCC AR6 WG1 Ch2 2021, hlm.ย 296.
  41. ^ IPCC AR5 WG1 Ch5 2013, hlm.ย 386
  42. ^ Neukom et al. 2019a
  43. ^ IPCC SR15 Ch1 2018, hlm.ย 57: "This report adopts the 51-year reference period, 1850โ€“1900 inclusive, assessed as an approximation of pre-industrial levels in AR5ย ... Temperatures rose by 0.0ย ยฐCโ€“0.2ย ยฐC from 1720โ€“1800 to 1850โ€“1900"
  44. ^ Hawkins et al. 2017, hlm.ย 1844
  45. ^ "Mean Monthly Temperature Records Across the Globe / Timeseries of Global Land and Ocean Areas at Record Levels for September from 1951โ€“2023". NCEI.NOAA.gov. National Centers for Environmental Information (NCEI) of the National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). September 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 October 2023. (change "202309" in URL to see years other than 2023, and months other than 09=September)
  46. ^ Top 700 meters: Lindsey, Rebecca; Dahlman, Luann (6 September 2023). "Climate Change: Ocean Heat Content". climate.gov. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). Diarsipkan dari asli tanggal 29 October 2023. โ— Top 2000 meters: "Ocean Warming / Latest Measurement: December 2022 / 345 (ยฑ 2) zettajoules since 1955". NASA.gov. National Aeronautics and Space Administration. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 October 2023.
  47. ^ IPCC AR5 WG1 Summary for Policymakers 2013, hlm.ย 4โ€“5: "Global-scale observations from the instrumental era began in the mid-19th century for temperature and other variablesย ... the period 1880 to 2012ย ... multiple independently produced datasets exist."
  48. ^ Mooney, Chris; Osaka, Shannon (26 December 2023). "Is climate change speeding up? Here's what the science says". The Washington Post. Diakses tanggal 18 January 2024.
  49. ^ "Global 'Sunscreen' Has Likely Thinned, Report NASA Scientists". NASA. 15 March 2007.
  50. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Quaas2022
  51. ^ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm.ย 43
  52. ^ EPA 2016: "The U.S. Global Change Research Program, the National Academy of Sciences, and the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) have each independently concluded that warming of the climate system in recent decades is "unequivocal". This conclusion is not drawn from any one source of data but is based on multiple lines of evidence, including three worldwide temperature datasets showing nearly identical warming trends as well as numerous other independent indicators of global warming (e.g. rising sea levels, shrinking Arctic sea ice)."
  53. ^ IPCC SR15 Ch1 2018, hlm.ย 81.
  54. ^ Forster et al. 2024, hlm.ย 2626
  55. ^ Samset, B. H.; Fuglestvedt, J. S.; Lund, M. T. (7 July 2020). "Delayed emergence of a global temperature response after emission mitigation". Nature Communications. 11 (1): 3261. Bibcode:2020NatCo..11.3261S. doi:10.1038/s41467-020-17001-1. hdl:11250/2771093. PMCย 7341748. PMIDย 32636367. At the time of writing, that translated into 2035โ€“2045, where the delay was mostly due to the impacts of the around 0.2โ€‰ยฐC of natural, interannual variability of global mean surface air temperature
  56. ^ Seip, Knut L.; Grรธn, รธ.; Wang, H. (31 August 2023). "Global lead-lag changes between climate variability series coincide with major phase shifts in the Pacific decadal oscillation". Theoretical and Applied Climatology (dalam bahasa Inggris). 154 (3โ€“4): 1137โ€“1149. Bibcode:2023ThApC.154.1137S. doi:10.1007/s00704-023-04617-8. hdl:11250/3088837.
  57. ^ Yao, Shuai-Lei; Huang, Gang; Wu, Ren-Guang; Qu, Xia (January 2016). "The global warming hiatusโ€”a natural product of interactions of a secular warming trend and a multi-decadal oscillation". Theoretical and Applied Climatology (dalam bahasa Inggris). 123 (1โ€“2): 349โ€“360. Bibcode:2016ThApC.123..349Y. doi:10.1007/s00704-014-1358-x.
  58. ^ Xie, Shang-Ping; Kosaka, Yu (June 2017). "What Caused the Global Surface Warming Hiatus of 1998โ€“2013?". Current Climate Change Reports (dalam bahasa Inggris). 3 (2): 128โ€“140. Bibcode:2017CCCR....3..128X. doi:10.1007/s40641-017-0063-0.
  59. ^ Tollefson, Jeff (10 January 2025). "Earth breaches 1.5 ยฐC climate limit for the first time: what does it mean?". Nature. 637 (8047): 769โ€“770. Bibcode:2025Natur.637..769T. doi:10.1038/d41586-025-00010-9. PMIDย 39794429.
  60. ^ "Summary for Policymakers". Climate Change 2021 โ€“ the Physical Science Basis. 2023. hlm.ย 3โ€“32. doi:10.1017/9781009157896.001. ISBNย 978-1-009-15789-6.
  61. ^ McGrath, Matt (17 May 2023). "Global warming set to break key 1.5C limit for first time". BBC News. Diakses tanggal 31 January 2024. The researchers stress that temperatures would have to stay at or above 1.5C for 20 years to be able to say the Paris agreement threshold had been passed.
  62. ^ Kennedy et al. 2010, hlm.ย S26. Figure 2.5.
  63. ^ Loeb et al. 2021.
  64. ^ "Global Warming". NASA JPL. 3 June 2010. Diakses tanggal 11 September 2020. Satellite measurements show warming in the troposphere but cooling in the stratosphere. This vertical pattern is consistent with global warming due to increasing greenhouse gases but inconsistent with warming from natural causes.
  65. ^ Kennedy et al. 2010, hlm.ย S26, S59โ€“S60
  66. ^ USGCRP Chapter 1 2017, hlm.ย 35
  67. ^ IPCC AR6 WG2 2022, hlm.ย 257โ€“260
  68. ^ IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm.ย 7
  69. ^ Sutton, Dong & Gregory 2007.
  70. ^ "Climate Change: Ocean Heat Content". Noaa Climate.gov. NOAA. 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 12 February 2019. Diakses tanggal 20 February 2019.
  71. ^ IPCC AR5 WG1 Ch3 2013, hlm.ย 257: "Ocean warming dominates the global energy change inventory. Warming of the ocean accounts for about 93% of the increase in the Earth's energy inventory between 1971 and 2010 (high confidence), with warming of the upper (0 to 700 m) ocean accounting for about 64% of the total.
  72. ^ von Schuckman, K.; Cheng, L.; Palmer, M. D.; Hansen, J.; etย al. (7 September 2020). "Heat stored in the Earth system: where does the energy go?". Earth System Science Data. 12 (3): 2013โ€“2041. Bibcode:2020ESSD...12.2013V. doi:10.5194/essd-12-2013-2020. hdl:20.500.11850/443809.
  73. ^ NOAA, 10 July 2011.
  74. ^ United States Environmental Protection Agency 2016, hlm.ย 5: "Black carbon that is deposited on snow and ice darkens those surfaces and decreases their reflectivity (albedo). This is known as the snow/ice albedo effect. This effect results in the increased absorption of radiation that accelerates melting."
  75. ^ "Arctic warming three times faster than the planet, report warns". Phys.org (dalam bahasa Inggris). 20 May 2021. Diakses tanggal 6 October 2022.
  76. ^ Rantanen, Mika; Karpechko, Alexey Yu; Lipponen, Antti; Nordling, Kalle; Hyvรคrinen, Otto; Ruosteenoja, Kimmo; Vihma, Timo; Laaksonen, Ari (11 August 2022). "The Arctic has warmed nearly four times faster than the globe since 1979". Communications Earth & Environment. 3 (1): 168. Bibcode:2022ComEE...3..168R. doi:10.1038/s43247-022-00498-3. hdl:11250/3115996.
  77. ^ Liu, Wei; Fedorov, Alexey V.; Xie, Shang-Ping; Hu, Shineng (26 June 2020). "Climate impacts of a weakened Atlantic Meridional Overturning Circulation in a warming climate". Science Advances. 6 (26) eaaz4876. Bibcode:2020SciA....6.4876L. doi:10.1126/sciadv.aaz4876. PMCย 7319730. PMIDย 32637596.
  78. ^ Pearce, Fred (18 April 2023). "New Research Sparks Concerns That Ocean Circulation Will Collapse" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 February 2024.
  79. ^ Lee, Sang-Ki; Lumpkin, Rick; Gomez, Fabian; Yeager, Stephen; Lopez, Hosmay; Takglis, Filippos; Dong, Shenfu; Aguiar, Wilton; Kim, Dongmin; Baringer, Molly (13 March 2023). "Human-induced changes in the global meridional overturning circulation are emerging from the Southern Ocean". Communications Earth & Environment. 4 (1): 69. Bibcode:2023ComEE...4...69L. doi:10.1038/s43247-023-00727-3.
  80. ^ "NOAA Scientists Detect a Reshaping of the Meridional Overturning Circulation in the Southern Ocean". NOAA. 29 March 2023.
  81. ^ Schuur, Edward A. G.; Abbott, Benjamin W.; Commane, Roisin; Ernakovich, Jessica; Euskirchen, Eugenie; Hugelius, Gustaf; Grosse, Guido; Jones, Miriam; Koven, Charlie; Leshyk, Victor; Lawrence, David; Loranty, Michael M.; Mauritz, Marguerite; Olefeldt, David; Natali, Susan; Rodenhizer, Heidi; Salmon, Verity; Schรคdel, Christina; Strauss, Jens; Treat, Claire; Turetsky, Merritt (2022). "Permafrost and Climate Change: Carbon Cycle Feedbacks From the Warming Arctic". Annual Review of Environment and Resources. 47: 343โ€“371. Bibcode:2022ARER...47..343S. doi:10.1146/annurev-environ-012220-011847. Medium-range estimates of Arctic carbon emissions could result from moderate climate emission mitigation policies that keep global warming below 3ย ยฐC (e.g., RCP4.5). This global warming level most closely matches country emissions reduction pledges made for the Paris Climate Agreement...
  82. ^ Phiddian, Ellen (5 April 2022). "Explainer: IPCC Scenarios". Cosmos. Diakses tanggal 30 September 2023. "The IPCC doesn't make projections about which of these scenarios is more likely, but other researchers and modellers can. The Australian Academy of Science, for instance, released a report last year stating that our current emissions trajectory had us headed for a 3ย ยฐC warmer world, roughly in line with the middle scenario. Climate Action Tracker predicts 2.5 to 2.9ย ยฐC of warming based on current policies and action, with pledges and government agreements taking this to 2.1ย ยฐC.
  83. ^ WMO 2024b, hlm.ย 2.
  84. ^ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, hlm.ย SPM-17
  85. ^ Meinshausen, Malte; Smith, S. J.; Calvin, K.; Daniel, J. S.; Kainuma, M. L. T.; Lamarque, J-F.; Matsumoto, K.; Montzka, S. A.; Raper, S. C. B.; Riahi, K.; Thomson, A.; Velders, G. J. M.; van Vuuren, D.P. P. (2011). "The RCP greenhouse gas concentrations and their extensions from 1765 to 2300". Climatic Change (dalam bahasa Inggris). 109 (1โ€“2): 213โ€“241. Bibcode:2011ClCh..109..213M. doi:10.1007/s10584-011-0156-z.
  86. ^ Lyon, Christopher; Saupe, Erin E.; Smith, Christopher J.; Hill, Daniel J.; Beckerman, Andrew P.; Stringer, Lindsay C.; Marchant, Robert; McKay, James; Burke, Ariane; O'Higgins, Paul; Dunhill, Alexander M.; Allen, Bethany J.; Riel-Salvatore, Julien; Aze, Tracy (2021). "Climate change research and action must look beyond 2100". Global Change Biology (dalam bahasa Inggris). 28 (2): 349โ€“361. doi:10.1111/gcb.15871. hdl:20.500.11850/521222. PMIDย 34558764.
  87. ^ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm.ย 43โ€“44
  88. ^ Rogelj et al. 2019
  89. ^ United Nations Environment Programme 2024, hlm.ย XI, XVII.
  90. ^ Brown, Patrick T.; Li, Wenhong; Xie, Shang-Ping (27 January 2015). "Regions of significant influence on unforced global mean surface air temperature variability in climate models: Origin of global temperature variability". Journal of Geophysical Research: Atmospheres. 120 (2): 480โ€“494. doi:10.1002/2014JD022576. hdl:10161/9564.
  91. ^ Trenberth, Kevin E.; Fasullo, John T. (December 2013). "An apparent hiatus in global warming?". Earth's Future. 1 (1): 19โ€“32. Bibcode:2013EaFut...1...19T. doi:10.1002/2013EF000165.
  92. ^ National Research Council 2012, hlm.ย 9
  93. ^ IPCC AR5 WG1 Ch10 2013, hlm.ย 916.
  94. ^ Knutson 2017, hlm.ย 443; IPCC AR5 WG1 Ch10 2013, hlm.ย 875โ€“876
  95. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama USGCRP-2009
  96. ^ IPCC AR6 WG1 Summary for Policymakers 2021, hlm.ย 7
  97. ^ NASA. "The Causes of Climate Change". Climate Change: Vital Signs of the Planet. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 May 2019. Diakses tanggal 8 May 2019.
  98. ^ Ozone acts as a greenhouse gas in the lowest layer of the atmosphere, the troposphere (as opposed to the stratospheric ozone layer). Wang, Shugart & Lerdau 2017
  99. ^ Schmidt et al. 2010; USGCRP Climate Science Supplement 2014, hlm.ย 742
  100. ^ IPCC AR4 WG1 Ch1 2007, FAQ1.1: "To emit 240 W mโˆ’2, a surface would have to have a temperature of around โˆ’19ย ยฐC. This is much colder than the conditions that actually exist at the Earth's surface (the global mean surface temperature is about 14ย ยฐC).
  101. ^ ACS. "What Is the Greenhouse Effect?". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 May 2019. Diakses tanggal 26 May 2019.
  102. ^ The Guardian, 19 February 2020.
  103. ^ WMO 2024a, hlm.ย 2.
  104. ^ The Cenozoic CO2 Proxy Integration Project (CenCOPIP) Consortium 2023.
  105. ^ IPCC AR6 WG1 Technical Summary 2021, hlm.ย TS-35.
  106. ^ References for Global Carbon Budget chart updated through 2024:
    • For carbon entries: "Home โ€บThe Data Hub 2025 โ€บThe Latest GCB Data (2025)". Global Carbon Budget. Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Click "Global Carbon Budget v2025" to download Excel xlsx file. Multiply these carbon entries by 3.664 to arrive at carbon dioxide figures. Contains land use data only since 1959; see OWID references for complete data:
    • For carbon dioxide entries for other industry, flaring, cement, gas, oil, and coal: "COโ‚‚ emissions by fuel". Our World in Data (OWID). Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Download data from chosen chart, "COโ‚‚ emissions by fuel or industry type, World".
    • For carbon dioxide entries for land use: "Annual COโ‚‚ emissions from land-use change". Our World in Data (OWID). Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Select "Line", choose "Download", select "Data", click "Download displayed data".
  107. ^ IPCC AR6 WG3 Summary for Policymakers 2022, Figure SPM.1.
  108. ^ Olivier & Peters 2019, hlm.ย 17
  109. ^ Our World in Data, 18 September 2020; EPA 2020: "Greenhouse gas emissions from industry primarily come from burning fossil fuels for energy, as well as greenhouse gas emissions from certain chemical reactions necessary to produce goods from raw materials."
  110. ^ "Redox, extraction of iron and transition metals". Hot air (oxygen) reacts with the coke (carbon) to produce carbon dioxide and heat energy to heat up the furnace. Removing impurities: The calcium carbonate in the limestone thermally decomposes to form calcium oxide. calcium carbonate โ†’ calcium oxide + carbon dioxide
  111. ^ Kvande 2014: "Carbon dioxide gas is formed at the anode, as the carbon anode is consumed upon reaction of carbon with the oxygen ions from the alumina (Al2O3). Formation of carbon dioxide is unavoidable as long as carbon anodes are used, and it is of great concern because CO2 is a greenhouse gas."
  112. ^ EPA 2020
  113. ^ Global Methane Initiative 2020: "Estimated Global Anthropogenic Methane Emissions by Source, 2020: Enteric fermentation (27%), Manure Management (3%), Coal Mining (9%), Municipal Solid Waste (11%), Oil & Gas (24%), Wastewater (7%), Rice Cultivation (7%)."
  114. ^ EPA 2019: "Agricultural activities, such as fertilizer use, are the primary source of Templat:N2O emissions."
  115. ^ Davidson 2009: "2.0% of manure nitrogen and 2.5% of fertilizer nitrogen was converted to nitrous oxide between 1860 and 2005; these percentage contributions explain the entire pattern of increasing nitrous oxide concentrations over this period."
  116. ^ "Understanding methane emissions". International Energy Agency.
  117. ^ a b Riebeek, Holli (16 June 2011). "The Carbon Cycle". Earth Observatory. NASA. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 March 2016. Diakses tanggal 5 April 2018.
  118. ^ IPCC SRCCL Summary for Policymakers 2019, hlm.ย 10
  119. ^ IPCC SROCC Ch5 2019, hlm.ย 450.
  120. ^ a b c Hairiah, dkk. (2016). Perubahan Iklim: Sebab dan Dampaknya terhadap Kehidupan. Bogor: World Agroforestry Centre. hlm.ย 15. ISBNย 978-979-3198-84-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  121. ^ Meiviana, dkk. (2004). Bumi Makin Panas: Ancaman Perubahan Iklim di Indonesia. Jakarta: Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia dan Yayasan Pelangi Indonesia. hlm.ย 4โ€“5. ISBNย 979-98399-0-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)[pranala nonaktif permanen]
  122. ^ UNESCO (2019). Menyampaikan Pesan: Meliput Perubahan Iklim dan Pembangunan Berkelanjutan di Asia dan Pasifik: Buku Panduan untuk Jurnalis (PDF). Jakarta: United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. hlm.ย 10. ISBNย 978-92-3-0000806. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Daftar pustaka

sunting

Pranala luar

sunting


๐Ÿ“š Artikel Terkait di Wikipedia

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (dalam bahasa Inggris Intergovernmental Panel on Climate Change; IPCC) adalah suatu organisasi antarpemerintah

Perubahan iklim di Indonesia

semuanya dapat terkena dampak dari perubahan suhu, curah hujan dan perubahan klimatik lainnya. Dampak perubahan iklim yang dapat dirasakan di sebagian wilayah

Iklim

lintangnya, iklim di permukaan Bumi dapat dibedakan menjadi iklim kutub, iklim sedang, iklim subtropis, iklim tropis, dan iklim khatulistiwa. Iklim juga dapat

Perubahan iklim dan spesies invasif

Perubahan iklim diprediksi dapat memengaruhi keanekaragaman hayati secara subtansial; menyebabkan perubahan fenologi, komposisi genetik, dan sebaran spesies;

Politik perubahan iklim

Politik perubahan iklim merupakan hasil dari berbagai pandangan tentang cara masyarakat menanggapi perubahan iklim. Perubahan iklim (spesifiknya pemanasan

Dampak perubahan iklim pada lautan

Templat:SHORTDESC: Ada banyak dampak perubahan iklim pada lautan. Salah satu yang paling penting adalah peningkatan suhu laut. Gelombang panas laut yang

Wanita dan perubahan iklim

Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada kondisi alam, tetapi berpengaruh pula pada kondisi sosial antara masyarakat, termasuk masalah gender. Dampak

Pendidikan perubahan iklim

Pendidikan perubahan iklim (PKK) adalah pendidikan yang bertujuan untuk mengatasi dan mengembangkan respons yang efektif terhadap perubahan iklim. Pendidikan