Terjemahan dari
kantuk
Indonesiakantuk; kelambanan
Inggristorpor
sleep
drowsiness
Palimiddha
Sanskertaमिद्ध (middha)
Tionghoa睡眠 (T) / 睡眠 (S)
眠 (T) / 眠 (S)
Korea수면, 면
(RR: sumyeon, myeon)
Tibetགཉིད།
(Wylie: gnyid;
THL: nyi
)
Myanmarမိဒ္ဓ
Khmerមិទ្ឋៈ
(UNGEGN: mettheak)
Daftar Istilah Buddhis

Kantuk atau kelambanan (Pali: middha; Sanskerta: मिद्ध, middha) adalah suatu faktor mental dalam Buddhisme. Dalam aliran Theravāda, middha didefinisikan sebagai kondisi tidak sehat yang ditandai dengan ketidakmampuan, kurangnya energi (viriya), dan penolakan terhadap aktivitas yang baik.[1] Dalam aliran Mahayana, middha didefinisikan sebagai faktor mental yang menyebabkan batin tertarik ke dalam, kehilangan kemampuan membedakan antara aktivitas yang baik dan yang tidak baik, dan sama sekali tidak melakukan aktivitas.[2][3]

Kantuk diidentifikasi dalam konteks:

Definisi

sunting

Theravāda

sunting

Dalam terjemahannya atas Abhidhammatthasaṅgaha, Bhikkhu Bodhi menjelaskan:

Kelambanan/kantuk adalah kondisi batin yang tidak sehat. Karakteristiknya adalah [batin yang] tidak dapat dikendalikan. Fungsinya adalah untuk mencekik. Kelambanan/kantuk terwujud dalam bentuk terkulai, atau mengangguk dan mengantuk. Penyebab langsungnya sama dengan kemalasan (thīna).[1]

Kitab Aṭṭhasālinī (II, Kitab I, Bagian IX, Bab II, 255) menjelaskan tentang kemalasan dan kelambanan/kantuk: “Tidak adanya usaha, kesulitan karena ketidakmampuan, adalah maknanya.” Kemudian, kita membaca definisi kemalasan dan kelambanan/kantuk berikut:

Gabungan “kemalasan-kelambanan” (thīna-middha) adalah kemalasan ditambah kelambanan/kantuk; kemalasan memiliki ciri-ciri tidak adanya, atau pertentangan, terhadap energi/usaha (viriya), penghancuran energi/usaha sebagai fungsinya, tenggelamnya keadaan-keadaan yang terkait sebagai manifestasinya; kelambanan/kantuk memiliki ciri-ciri tidak terkendali, menutup pintu-pintu kesadaran sebagai fungsi, menyusut dalam menerima objek, atau kantuk sebagai manifestasi; dan keduanya memiliki pikiran yang tidak sistematis, dalam tidak membangkitkan diri dari ketidakpuasan dan kemalasan (atau pemanjaan), sebagai penyebab langsungnya.[4]

Nina van Gorkom menjelaskan:

Bila ada kemalasan dan kelambanan/kantuk, maka tidak ada energi/usaha/semangat (viriya), tidak ada usaha/semangat untuk melakukan dāna, untuk mengamalkan sīla, untuk mendengarkan Dhamma, untuk mempelajari Dhamma atau untuk mengembangkan ketenangan, tidak ada energi/usaha untuk memperhatikan kenyataan yang muncul saat ini.[4]

Mahāyāna

sunting

Kitab Abhidharma-samuccaya menyatakan:

Apa itu rasa kantuk (middha)? Dengan menjadikan penyebab kantuk sebagai titik tolaknya, batin menjadi selaras dengan hal-hal positif, negatif, acuh tak acuh, tepat waktu, tidak tepat waktu, tepat, dan tidak tepat. Rasa kantuk berhubungan dengan kebingungan yang keliru. Fungsinya adalah menjadi dasar untuk menjauh dari apa yang harus dilakukan.[2]

Mipham Rinpoche menyatakan:

[Middha] menyebabkan kesadaran dari kelima pintu indra ditarik ke dalam tanpa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak, mana yang tepat dan mana yang tidak. Ia termasuk dalam kategori delusi dan menjadi penyokong kegiatan yang merugikan.[3]

Alexander Berzin menyatakan:

Kantuk (middha; Tibet: gnyid) adalah bagian dari kenaifan/kebodohan batin (moha). Kantuk adalah penarikan diri dari kognisi sensoris, yang ditandai dengan perasaan fisik yang berat, lemah, lelah, dan kegelapan batin. Hal ini menyebabkan kita menghentikan aktivitas kita.[5]

Referensi

sunting
  1. ^ a b Bhikkhu Bodhi (2003), hlm. 84
  2. ^ a b Guenther (1975), Kindle Locations 1009-1011.
  3. ^ a b Kunsang (2004), hlm. 28.
  4. ^ a b Gorkom (2010), Definition of Sloth, Torpor, and Doubt
  5. ^ Berzin (2006)

Daftar pustaka

sunting
  • Berzin, Alexander (2006), Primary Minds and the 51 Mental Factors
  • Bhikkhu Bodhi (2003), A Comprehensive Manual of Abhidhamma, Pariyatti Publishing
  • Guenther, Herbert V. & Leslie S. Kawamura (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" Dharma Publishing. Kindle Edition.
  • Kunsang, Erik Pema (penerjemah) (2004). Gateway to Knowledge, Vol. 1. North Atlantic Books.
  • Nina van Gorkom (2010), Cetasikas, Zolag

📚 Artikel Terkait di Wikipedia

Pengotor batin

indrawi (kāmacchanda), rasa benci (byāpāda), kemalasan-kelambanan (thīna-middha), kebingungan-penyesalan (uddhacca-kukkucca), dan keraguan (vicikicchā)–sering

Sampajañña

fungsi utamanya adalah untuk mencatat terjadinya kemalasan-kelambanan (thīna-middha) dan kegelisahan (uddhacca) batin." Istilah ini sangat sering ditemukan

Rintangan (Buddhisme)

(Pali: thīna-middha; Sanskerta: styāna-middha): kemalasan batiniah (thīna) yang munculnya murni di batin dan kantuk/kelambanan jasmaniah (middha) yang bergantung

Cetasika

penyesalan, kekhawatiran Cetasika tidak baik lainnya: Thīna – kemalasan Middha – kantuk, kelambanan Vicikicchā – keraguan Bhikkhu Bodhi menyatakan: Kesadaran

Nafsu (Buddhisme)

kebencian (dosa): Dosa Issā Macchariya Kukkucca 3 yang terakhir: Thīna Middha Vicikicchā 25 indah (sobhana) 19 indah universal (sobhanasādhāraṇa): Saddhā

Abhidhamma Theravāda

Macchariya - kekikiran Kukkucca - penyesalan 3 yang terakhir: Thīna - kemalasan Middha - kantuk Vicikicchā - keraguan 25 indah (sobhana cetasika), disertai dengan

Kemalasan (Buddhisme)

dorong. Dalam aliran Theravāda, thīna dikatakan terjadi bersamaan dengan middha (kantuk), yang didefinisikan sebagai kondisi tidak sehat yang ditandai dengan

Karuna (Buddhisme)

kebencian (dosa): Dosa Issā Macchariya Kukkucca 3 yang terakhir: Thīna Middha Vicikicchā 25 indah (sobhana) 19 indah universal (sobhanasādhāraṇa): Saddhā