

| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravฤda |
|---|
| Buddhisme |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Awal |
|---|
| Buddhisme |
Theravฤda (/หtษrษหvษหรฐษ/;[note 1] Pali, terj. har.โ'Ajaran Sesepuh'; KBBI: Therawada)[1][2] merupakan nama aliran tertua Buddhisme yang masih bertahan. Theravฤda merupakan aliran yang secara tradisi berhubungan paling dekat dengan Buddhisme pada masa awalnya.[3] Penganut aliran ini, disebut sebagai Theravฤdin (anglikisasi bahasa Pali theravฤdฤซ),[note 2][4][5] telah melestarikan ajaran Buddha Gotama (Dhamma) versi mereka dalam Tripitaka Pali selama lebih dari dua milenium.[1][2][6]
Tripitaka Pali adalah satu-satunya versi Tripitaka terlengkap yang masih ada dalam bahasa India klasik, Pฤli, yang berfungsi sebagai bahasa liturgis[2] dan basantara aliran ini.[7] Berbeda dengan aliran Mahฤyฤna dan Vajrayฤna, Theravฤda cenderung konservatif dalam hal pembelajaran kitab suci (pariyatti) dan disiplin monastik (vinaya).[8] Salah satu unsur konservatisme ini adalah kenyataan bahwa Theravฤda menolak keaslian kitab-kitab Mahฤyฤna (yang muncul sekitar abad ke-1 SM dan seterusnya).[9][10] Sebagai akibatnya, Theravฤda juga tidak mengenali keberadaan banyak sosok Buddha dan Bodhisatwa yang diyakini oleh aliran Mahฤyฤna, seperti Avalokiteลvara dan Amitฤbha, karena tidak ditemukan dalam kitab suci kanonis.[11] Theravฤda umumnya hanya menerima keabsahan kitab suci Tipiแนญaka Pฤli beserta sastra Pฤli lainnya, seperti kitab komentar (aแนญแนญhakathฤ), kitab subkomentar (แนญฤซkฤ), dan kitab ringkasan (misalnya Visuddhimagga dan Abhidhammatthasaแน gaha) sebagai dasar praktiknya.[12][13]
Theravฤda awalnya diturunkan dari aliran Sthaviravฤda India (suatu aliran Buddhis awal). Aliran ini kemudian berkembang secara signifikan di India dan Sri Lanka sejak abad ke-3 SM dan seterusnya, terutama dengan penyusunan Tripitaka Pali dalam bentuk tertulis dan pengembangan kitab-kitab komentarnya.[14][15][16] Dari India, sebagai asal historisnya, dan Sri Lanka, sebagai pusat utama perkembangannya, aliran Theravฤda kemudian menyebar ke Asia Tenggara.[17] Theravฤda merupakan agama resmi negara di Sri Lanka, Myanmar, dan Kamboja; dan aliran Buddhisme mayoritas di Laos dan Thailand. Theravฤda juga dianut oleh minoritas di India, Bangladesh, Tiongkok, Nepal, Vietnam, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Taiwan. Diaspora semua kelompok ini, serta mereka yang pindah agama menjadi Theravฤda di seluruh dunia, juga memeluk dan mempraktikkan Buddhisme Theravฤda.
Selama era modern, perkembangan baru telah mencakup Modernisme Buddhis, Gerakan Vipassanฤ yang menghidupkan kembali praktik meditasi Theravฤda,[6] pertumbuhan Tradisi Hutan Thailand yang menekankan kembali monastisisme hutan, dan penyebaran Theravฤda ke arah barat (tempat-tempat seperti India dan Nepal), bersama dengan imigran dan mereka yang berpindah agama di Uni Eropa dan Amerika Serikat.
Sejarah
suntingMasa pramodern
sunting

Aliran Theravฤda berasal dari Vibhajjavฤda, suatu divisi dalam Sthavira nikฤya, salah satu dari dua ordo utama yang muncul setelah perpecahan pertama dalam komunitas Buddhis India.[18][19] Meskipun demikian, secara tradisional, Theravฤda telah mengidentifikasi dirinya secara eksklusif dengan Sthavira nikฤya awal, yang diklaim tidak mengubah ajaran asli Sang Buddha sejak masa prasektarian hingga Sidang Buddhis Pertama dan Sidang Buddhis Kedua, karena kata thera dalam bahasa Pali setara dengan sthavira dalam bahasa Sanskerta, sekalipun Sthavira nikฤya sendiri juga sempat mengalami perpecahan (tidak hanya ada Vibhajjavฤda saja).[20] Sumber-sumber Theravฤda dapat ditelusuri hingga masa Sidang Buddhis Ketiga ketika sesepuh Moggaliputta-Tissa dikatakan telah menyusun kitab Kathฤvatthu, sebuah karya penting yang memaparkan posisi doktrinal Vibhajjavฤda.[21]
Dengan bantuan perlindungan raja-raja Maurya, seperti Asoka, aliran ini menyebar ke seluruh India dan mencapai Sri Lanka melalui upaya para biku misionaris, seperti Mahinda. Di Sri Lanka, aliran ini dikenal sebagai Tambapaแนแนiya (dan kemudian sebagai Mahฤvihฤravฤsin) yang berpusat di Wihara Besar (Mahฤvihฤra) di Anuradhapura (ibu kota Sri Lanka kuno).[22] Menurut sumber Theravฤda, salah satu misionaris Asoka lainnya juga dikirim ke Suvaแนแนabhลซmi ("Tanah Emas") yang mungkin merujuk pada Asia Tenggara.[23]
Pada abad pertama SM, Buddhisme Theravฤda telah mapan di pemukiman utama Kerajaan Anuradhapura.[24] Tripitaka Pali atau Kanon Pali, yang memuat kitab-kitab suci utama Theravฤda, ditulis pada abad pertama SM.[25] Sepanjang sejarah Sri Lanka kuno dan abad pertengahan, Theravฤda adalah agama utama masyarakat Sinhala dan wihara-wiharanya dilindungi oleh raja-raja Sri Lanka yang melihat diri mereka sebagai pelindung agama tersebut.[26]


Seiring berjalannya waktu, dua tradisi lain memisahkan diri dari tradisi Mahฤvihฤra, yaitu Abhayagiri dan Jetavana.[28] Sementara tradisi Abhayagiri dikenal karena studi sinkretis antara kitab-kitab Mahฤyฤna, Vajrฤyฤna, dan Kanon Theravฤda, tradisi Mahฤvihฤra tidak menerima kitab suci baru yang sinkretis ini.[29] Sebaliknya, para cendekiawan Mahฤvihฤra, seperti Buddhaghosa, berfokus pada penafsiran kitab suci Pali dan tradisi Abhidhamma. Subtradisi Buddhisme di Sri Lanka kuno ini sering kali berkonflik satu sama lain karena perlindungan kerajaan.[30] Pada masa pemerintahan Parฤkramabฤhu I (1153โ1186), terjadi reformasi besar-besaran terhadap sangha Sri Lanka setelah bertahun-tahun terjadi peperangan di pulau tersebut. Parฤkramabฤhu membentuk satu sangha tunggal yang kemudian didominasi oleh tradisi Mahฤvihฤra.[31][32]
Bukti epigrafis telah menetapkan bahwa Buddhisme Theravฤda menjadi agama dominan di kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, seperti Sri Ksetra dan Dwarawati, sejak sekitar abad ke-5 Masehi dan seterusnya.[33] Kitab Buddhis tertua yang masih ada dalam bahasa Pali adalah lempengan emas yang ditemukan di Sri Ksetra yang bertanggal sekitar abad ke-5 hingga ke-6.[34] Sebelum aliran Theravฤda menjadi agama dominan di Asia Tenggara, Mahฤyฤna, Vajrayana, dan Hinduisme juga menonjol.[35][36]
Dimulai sekitar abad ke-11, para biku Theravฤda Sinhala dan elit Asia Tenggara memimpin konversi agama yang meluas di sebagian besar daratan Asia Tenggara menjadi penganut aliran Theravฤda tradisi Mahฤvihฤra.[37] Perlindungan raja-raja, seperti raja Burma Anawrahta (Pali: Aniruddha, 1044โ1077) dan raja Thailand Ram Khamhaeng (sekitar akhir abad ke-13), berperan penting dalam bangkitnya Buddhisme Theravฤda sebagai agama dominan di Burma dan Thailand.[38][39][40]
Raja-raja Burma dan Thailand menganggap diri mereka sebagai Raja Dhamma dan pelindung aliran Theravฤda. Mereka mempromosikan pembangunan wihara-wihara baru, mendukung beasiswa, penahbisan wihara, dan pekerjaan misionaris serta berupaya untuk menghilangkan praktik-praktik nonbuddhis tertentu, seperti pengurbanan hewan.[41][42][43] Selama abad ke-15 dan ke-16, Theravฤda juga ditetapkan sebagai agama negara di Kamboja dan Laos. Di Kamboja, seiring masa perubahan agama, banyak bangunan keagamaan, seperti kuil Hindu dan wihara Mahฤyฤna, yang dialih fungsikan menjadi wihara beraliran Theravฤda. Beberapa bangunan yang terkenal adalah Angkor Wat dan Angkor Thom.[44][45]
Masa modern
sunting
Pada abad ke-19 dan ke-20, penganut Buddhisme Theravฤda bersentuhan langsung dengan ideologi, agama, dan sains modern Barat. Berbagai tanggapan terhadap pertemuan ini disebut "Modernisme Buddhis".[46] Selama masa kolonial Inggris di Ceylon (sekarang Sri Lanka) dan Burma (Myanmar), lembaga-lembaga buddhis kehilangan peran tradisional mereka sebagai penyedia utama pendidikan (peran yang sering diisi oleh sekolah-sekolah Kristen).[47] Sebagai tanggpan terhadap hal ini, organisasi-organisasi buddhis didirikan dengan tujuan untuk melestarikan beasiswa buddhis dan menyediakan pendidikan buddhis.[48] Anagarika Dhammapala, Migettuwatte Gunananda Thera, Hikkaduwe Sri Sumangala Thera, dan Henry Steel Olcott (salah satu orang Amerika pertama yang menganut Buddhisme) adalah beberapa tokoh utama kebangkitan Buddhisme di Sri Lanka.[49] Pada abad ke-19, dua ordo monastik Theravฤda baru, Amarapura Nikฤya dan Rฤmaรฑรฑa Nikฤya, dibentuk.[50]
Di Burma, tokoh modernis yang berpengaruh adalah raja Mindon Min (1808โ1878) yang dikenal karena dukungannya terhadap Sidang Buddhis Kelima (1871) dan prasasti Tipiแนญaka di Pagoda Kuthodaw (masih menjadi kitab dengan ukuran terbesar di dunia) dengan tujuan melestarikan Buddha Dhamma. Burma juga menyaksikan pertumbuhan "gerakan Vipassanฤ" yang berfokus pada menghidupkan kembali meditasi buddhis dan pembelajaran kitab suci. Ledi Sayadaw (1846โ1923) adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan ini.[51] Setelah masa kemerdekaan, Myanmar menyelenggarakan Sidang Buddhis Keenam (Waisak 1954 hingga Waisak 1956) untuk mengesahkan edisi baru Tripitaka Pali yang kemudian diterbitkan oleh pemerintah dalam 40 jilid. Gerakan Vipassanฤ terus berkembang setelah kemerdekaan, menjadi gerakan internasional dengan pusat-pusat di seluruh dunia. Guru-guru meditasi yang berpengaruh pada era pasca-kemerdekaan meliputi U Narada, Mahasi Sayadaw, Sayadaw U Pandita, Nyanaponika Thera, Webu Sayadaw, serta U Ba Khin dan muridnya, S.N. Goenka.
Sementara itu, di Thailand (satu-satunya negara Theravฤda yang mempertahankan kemerdekaannya sepanjang era kolonial), aliran Theravฤda menjadi jauh lebih tersentralisasi, terbirokratisasi, dan dikendalikan oleh negara setelah serangkaian reformasi yang dipromosikan oleh raja-raja Thailand dari dinasti Chakri. Raja Mongkut (memerintah 1851โ1868) dan penggantinya, Chulalongkorn (1868โ1910), secara khusus terlibat dalam pemusatan reformasi sangha. Di bawah raja-raja ini, sangha diorganisasikan ke dalam birokrasi hierarkis yang dipimpin oleh Dewan Sesepuh Sangha (Pali: Mahฤthera Samฤgama), berperan sebagai badan tertinggi sangha Thailand.[52] Mongkut juga memimpin pembentukan sebuah ordo monastik Theravฤda baru, Dhammayuttika Nikฤya, yang menerapkan disiplin monastik yang lebih ketat dibandingkan dengan sangha Thailand lainnya (termasuk tidak menggunakan uang, tidak menyimpan makanan, dan tidak minum susu di malam hari). Semua ordo di luar Dhammayuttika Nikฤya kemudian disebut sebagai Mahฤ Nikฤya.[53][54] Gerakan Dhammayuttika ditandai dengan penekanan pada Tripitaka Pali asli dan penolakan terhadap kepercayaan tradisional Thailand yang dianggap tidak rasional.[55] Di bawah kepemimpinan Pangeran Vajiraรฑฤแนavarorasa, sistem pendidikan dan ujian baru diperkenalkan untuk para biku Thailand.[56]

Abad ke-20 juga menyaksikan pertumbuhan "tradisi hutan" yang berfokus pada kehidupan di hutan dan disiplin sangha yang ketat. Gerakan hutan utama pada era ini adalah Tradisi Hutan Sri Lanka dan Tradisi Hutan Thailand ("Thai Forest Monk"), yang didirikan oleh Ajahn Mun (1870โ1949) dan murid-muridnya.[57]
Buddhisme Theravฤda di Kamboja dan Laos mengalami pengalaman serupa di era modern. Keduanya harus menanggung kolonialisme Prancis, perang saudara yang merusak, dan pemerintahan komunis yang menindas. Di bawah Pemerintahan Prancis, para indolog Prancis dari รcole franรงaise d'Extrรชme-Orient terlibat dalam reformasi Buddhisme dengan mendirikan lembaga untuk pelatihan biku Kamboja dan Laos, seperti Ecole de Pali yang didirikan di Phnom Penh pada tahun 1914.[58] Meskipun Khmer Merah secara efektif menghancurkan lembaga-lembaga buddhis di Kamboja, setelah berakhirnya rezim komunis, Sangha Kamboja didirikan kembali oleh para biku yang kembali dari pengasingan.[59] Sebaliknya, pemerintahan komunis di Laos tidak terlalu merusak karena Pathet Lao berusaha memanfaatkan sangha untuk tujuan politik dengan memaksakan kontrol negara secara langsung.[60] Selama akhir tahun 1980-an dan 1990-an, sikap resmi terhadap Buddhisme mulai meliberalisasi di Laos dan terjadi kebangkitan kembali aktivitas tradisional buddhis, seperti praktik pelimpahan jasa dan pembelajaran kitab suci.

Era modern juga menyaksikan penyebaran Buddhisme Theravฤda di seluruh dunia dan kebangkitan agama tersebut di tempat-tempat yang masih menjadi agama minoritas. Beberapa peristiwa besar penyebaran aliran Theravฤda modern meliputi:
- Gerakan Theravฤda Nepal abad ke-20 yang memperkenalkan Buddhisme Theravฤda ke Nepal dan dipimpin oleh tokoh-tokoh terkemuka, seperti Dharmaditya Dharmacharya, Mahapragya, Pragyananda, dan Dhammalok Mahasthavir.[61]
- Pendirian beberapa vihara Theravฤda pertama di dunia Barat, seperti:
- London Buddhist Vihara (1926),
- Das Buddhistische Haus di Berlin (1957), dan
- Washington Buddhist Vihara di Washington, DC (1965).
- Berdirinya Bengal Buddhist Association (1892) dan Dharmankur Vihar (1900) di Calcutta oleh biku Bengali Kripasaran Mahasthavir, merupakan peristiwa penting dalam kebangkitan Theravฤda Bengali.[62]
- Berdirinya Maha Bodhi Society pada tahun 1891 oleh Anagarika Dharmapala yang berfokus pada konservasi dan restorasi situs-situs penting buddhis di India, seperti Bodh Gaya dan Sarnath.[63][64]
- Pengenalan Theravฤda ke negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Salah satu upaya yang menonjol adalah upaya misionaris Yang Mulia K. Sri Dhammananda di antara komunitas Tionghoa yang berbahasa Inggris. Selain itu, didirikannya Saแน gha Theravฤda Indonesia pada tahun 1976 dan Theravฤda Buddhist Council of Malaysia pada tahun 2012 juga menjadi sinyal kebangkitan Theravฤda di kedua negara tersebut.[65][66]
- Kembalinya para biku Theravฤdin Barat yang dilatih dalam Tradisi Hutan Thailand ke negara-negara Barat dan pendirian wihara-wihara berikutnya yang dipimpin oleh para biku Barat, seperti:
- Abhayagiri Buddhist Monastery (California, Amerika Serikat),
- Chithurst Buddhist Monastery (Sussex Barat, Inggris),
- Mettฤ Forest Monastery (California, Amerika Serikat),
- Amaravati Buddhist Monastery (Chiltern Hills, Inggris Tenggara),
- Birken Forest Buddhist Monastery (Kamloops, British Columbia, Kanada),
- Bodhinyana Monastery (Perth, Australia Barat), dan
- Santacittฤrฤma Buddhist Monastery (Lazio, Rieti, Italia).
- Penyebaran Gerakan Vipassanฤ di seluruh dunia melalui upaya tokoh-tokoh seperti S. N. Goenka, Anagarika Munindra, Joseph Goldstein, Jack Kornfield, Sharon Salzberg, Dipa Ma, dan Ruth Denison.
- Gerakan Theravฤda Vietnam yang dipimpin oleh tokoh-tokoh seperti Yang Mulia Hแป-Tรดng (Vansarakkhita).[67]
Kitab suci
sunting| Bagian dari seri |
| Tipiแนญaka |
|---|
| Buddhisme Theravฤda |
Tipiแนญaka Pฤli
sunting

Menurut Kate Crosby, bagi Theravฤda, Tipiแนญaka Pฤli, juga dikenal sebagai Kanon Pฤli, adalah "otoritas tertinggi mengenai apa yang merupakan Dhamma (kebenaran atau ajaran Buddha) dan organisasi Sangha (komunitas biku dan bikuni)."[68]
Bahasa yang digunakan dalam penulisan Tipiแนญaka, bahasa Pฤli, termasuk dalam rumpun bahasa Indo-Arya Pertengahan (Middle Indo-Aryan languages, bukan Central Indo-Aryan languages) yang merupakan bahasa keagamaan dan akademis utama dalam Theravฤda. Bahasa ini mungkin berkembang dari berbagai dialek India, dan terkait dengan, tetapi tidak sama dengan, bahasa kuno Magadha.[69]
Bentuk awal Tipiแนญaka mungkin telah disebarkan ke Sri Lanka pada masa pemerintahan Asoka yang menyaksikan periode aktivitas misionaris Buddhisme. Setelah disebarkan secara lisan (seperti kebiasaan untuk kitab-kitab keagamaan pada masa itu) selama beberapa abad, kitab-kitab tersebut akhirnya ditulis pada abad ke-1 SM. Theravฤda adalah salah satu aliran Buddhisme pertama yang menuliskan Tipiแนญaka-nya.[70] Edisi Tipiแนญaka yang masih ada hingga saat ini berasal dari versi tradisi kuno Mahฤvihฤra Sri Lanka.[71]
Manuskrip Tipiแนญaka tertua dari Sri Lanka dan Asia Tenggara berasal dari abad ke-15, dan manuskrip tersebut tidak lengkap.[72] Manuskrip lengkap dari keempat nikฤya ("kumpulan"; merujuk pada Dฤซghanikฤya, Majjhimanikฤya, Saแนyuttanikฤya, dan Aแน guttaranikฤya) baru tersedia sejak abad ke-17 dan seterusnya.[73] Namun, fragmen Tipiแนญaka telah ditemukan dalam prasasti-prasasti di Asia Tenggara. Fragmen yang paling awal diperkirakan berasal dari abad ke-3 atau ke-4.[72][74] Menurut Alexander Wynne, "tulisan-tulisan tersebut hampir sama persis dengan manuskrip-manuskrip Pฤli yang telah ada sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa Tipiแนญaka Pฤli telah disebarkan dengan tingkat akurasi yang tinggi selama lebih dari 1.500 tahun."[74]
Ada banyak edisi Tipiแนญaka, beberapa edisi modern utamanya meliputi edisi Pali Text Society (diterbitkan dalam aksara Romawi), edisi Sidang Buddhis Keenam Burma (dalam aksara Burma, 1954โ56), dan Tipiแนญaka Thai yang disunting dan diterbitkan dalam aksara Thai setelah sidang-sidang yang diadakan pada masa pemerintahan Rama VII (1925โ35). Ada pula edisi Khmer, yang diterbitkan di Phnom Penh (1931โ69).[75][76][77]

Tipiแนญaka Pฤli terdiri dari tiga bagian: Vinayapiแนญaka, Suttapiแนญaka, dan Abhidhammapiแนญaka. Dari ketiga bagian tersebut, Abhidhammapiแนญaka diyakini sebagai tambahan terbaru pada koleksi tersebut, yang komposisinya berasal dari sekitar abad ke-3 SM dan seterusnya.[78] Abhidhamma Pฤli tidak diakui di luar aliran Theravฤda. Ada pula beberapa kitab yang merupakan tambahan belakangan yang dimasukkan dalam nikฤya kelima, Khuddakanikฤya ('Kumpulan Kecil'), seperti Paแนญisambhidฤmagga (mungkin sekitar abad ke-3 hingga ke-1 SM) dan Buddhavaแนsa (sekitar abad ke-1 dan ke-2 SM).[79][80]
Bagian utama dari Suttapiแนญaka dan beberapa bagian dari Vinaya menunjukkan banyak kesamaan isi dengan kitab-kitab ฤgama dari Buddhisme Utara, kumpulan paralel yang digunakan oleh aliran non-Theravฤda di India yang dilestarikan dalam bahasa Tionghoa dan sebagian dalam bahasa Sanskerta, Prakerta, dan Tibet, serta berbagai Vinaya non-Theravฤda. Atas dasar ini, kitab-kitab Buddhis awal ini (yaitu kitab-kitab nikฤya dan bagian-bagian dari Vinaya) secara umum diyakini sebagai beberapa sumber tertua dan paling berwibawa terkait ajaran-ajaran Buddhisme prasektarian oleh para cendekiawan modern.[81][82]
Sebagian besar kitab-kitab dalam bagian awal tidak secara khusus merupakan ajaran "Theravฤdin", tetapi kumpulan ajaran yang dilestarikan oleh para penganut aliran ini dari kumpulan ajaran awal yang nonsektarian. Menurut Peter Harvey, meskipun para penganut Theravฤda mungkin telah menambahkan berbagai kitab ke dalam struktur Tipiแนญaka mereka (seperti kitab-kitab Abhidhamma dan sebagainya), mereka pada umumnya tidak mengubah isi kitab-kitab yang sudah ada sebelumnya.[83]
Bagian-bagian Tipiแนญaka yang secara historis dianggap hadir belakangan, terutama Abhidhammapiแนญaka dan beberapa bagian dari Vinayapiแนญaka, mengandung beberapa elemen dan ajaran khas yang unik aliran Theravฤda dan sering kali berbeda dari versi Abhidharma atau Vinaya milik aliran-aliran Buddhisme awal lainnya.[84] Misalnya, sementara Vinaya Theravฤda berisi total 227 aturan monastik untuk para biku, Vinaya Dharmaguptaka (masih digunakan oleh Buddhisme di Asia Timur) memiliki total 253 aturan untuk para biku (meskipun struktur keseluruhannya sama).[85] Perbedaan-perbedaan ini muncul akibat sistematisasi dan perkembangan historis ajaran dan monastisisme pada abad-abad setelah wafatnya Sang Buddha.[86]
Kitab-kitab dalam Abhidhammapiแนญaka berisi "pernyataan ulang ajaran Sang Buddha dalam bahasa yang diformalkan secara ketat." Kitab-kitabnya menyajikan metode baru, Metode Abhidhamma, yang berupaya membangun satu sistem filosofi yang konsisten (berbeda dengan pendekatan sutta, yang menyajikan berbagai ajaran yang diberikan oleh Sang Buddha kepada individu tertentu sesuai dengan kebutuhan mereka).[87] Oleh karena Abhidhamma berfokus pada analisis pengalaman hidup internal makhluk hidup dan struktur kesadaran berkehendak, ia sering dibandingkan dengan semacam psikologi fenomenologis ("psikologi buddhis") oleh banyak cendekiawan modern, seperti Nyanaponika, Bhikkhu Bodhi, dan Alexander Piatigorsky.[88]
Aliran Theravฤda secara tradisional memegang posisi doktrinal bahwa Abhidhammapiแนญaka yang kanonis sebenarnya diajarkan oleh Sang Buddha sendiri.[89] Sebaliknya, para cendekiawan modern pada umumnya berpendapat bahwa kitab-kitab Abhidhamma berasal dari abad ke-3 SM dan seterusnya.[90] Namun, beberapa cendekiawan, seperti Frauwallner, juga berpendapat bahwa kitab-kitab Abhidhamma awal berkembang dari karya eksegesis dan katekese yang menggunakan daftar doktrinal yang dapat ditemui dalam berbagai sutta, yang disebut sebagai sistem mฤtikฤ.[91][92]
Sastra Pali dan kitab komentar
suntingAda banyak karya Theravฤda yang penting bagi aliran tersebut meskipun tidak dianggap sebagai bagian kanonis dari Tipiแนญaka. Kitab-kitab terpenting selain Tipiแนญaka adalah kitab-kitab karya cendekiawan berpengaruh, Buddhaghosa (abad ke-4 hingga ke-5 M), yang dikenal karena berbagai kitab komentar berbahasa Pฤli-nya (yang didasarkan pada kitab-kitab komentar Sri Lanka yang lebih tua dari tradisi Mahฤvihฤra). Ia juga merupakan penulis kompendium ajaran Theravฤda yang sangat penting, Visuddhimagga.[93] Tokoh lain, seperti Dhammapฤla dan Buddhadatta, juga menulis kitab ulasan Theravฤda dan karya lain dalam bahasa Pali pada masa Buddhaghosa.[94] Meskipun kitab-kitab ini tidak memiliki otoritas kitab suci yang sama seperti Tipiแนญaka dalam Theravฤda, kitab-kitab tersebut tetap merupakan karya-karya yang paling berpengaruh untuk penafsiran Tipiแนญaka.
Gaya penulisan penting dari sastra Theravฤdin adalah kitab pegangan dan ringkasan yang lebih pendek, yang berfungsi sebagai pengantar dan panduan belajar untuk komentar yang lebih panjang. Dua ringkasan yang paling berpengaruh adalah Pฤlimuttakavinayavinicchayasaแน gaha karya Sฤriputta Thera, ringkasan komentar Vinaya karya Buddhaghosa, dan Abhidhammatthasaแน gaha ("Kitab Ringkasan Abhidhamma") karya ฤcariya Anuruddha.[93]
Gaya penulisan penting sastra Theravฤdin lainnya, baik dalam bahasa Pฤli maupun bahasa daerah, adalah kisah Jฤtaka, yaitu kisah-kisah tentang kehidupan masa lalu Sang Buddha. Kisah-kisah ini sangat populer di semua kalangan dan disajikan dalam berbagai format media, mulai dari kartun hingga sastra tingkat tinggi. Vessantara Jฤtaka adalah salah satu kisah dalam kitab Jฤtaka yang paling populer.[95]
Kitab aliran lain
suntingSebagian besar penganut Buddhisme Theravฤda umumnya menganggap kitab suci Buddhisme Mahฤyฤna (seperti dalam Tripitaka Tionghoa, Tripitaka Tibet, dan lain-lain) sebagai kitab suci yang diragukan keasliannya (apokrifa) dan tidak dianggap sebagai sabda asli Sang Buddha.[96] Sebagai akibatnya, Theravฤda tidak mengenali banyak sosok Buddha dan Bodhisatwa yang diyakini oleh aliran Mahฤyฤna, seperti Avalokiteลvara dan Amitฤbha, karena tidak ditemukan dalam kitab suci kanonis.[11] Kendati demikian, di negara-negara Theravฤda yang sebelumnya menganut Mahฤyฤna, umum ditemui tradisi pemujaan kepada Avalokiteลvara. Dia merupakan satu-satunya tokoh Mahฤyฤna yang masuk dalam pemujaan umat awam Theravฤda. Di Sri Lanka, ia dikenal sebagai Nฤtha-deva, dan oleh mayoritas orang dikira sebagai calon Buddha yang akan datang, Metteyya.[97] Dunia Theravฤda modern umumnya menafsirkan ulang pemaknaan sosok Avalokiteลvara sebagai sebatas personifikasi dari sifat cinta kasih dan belas kasih Sang Buddha, bukan seorang tokoh berbeda dengan ajaran yang khas.[98]
Ajaran (pariyatti)
sunting
Ajaran-ajaran utama
suntingInti dari ajaran Buddhisme Theravฤda terkandung dalam Tipiแนญaka Pฤli, satu-satunya koleksi lengkap Kitab Buddhis Awal yang masih ada dalam bahasa India klasik.[99] Beberapa ajaran dasar ini juga dianut oleh aliran-aliran Buddhisme awal lainnya, serta beberapa subaliran Mahฤyฤna. Ajaran-ajaran tersebut mencakup konsep-konsep utama sebagai berikut:[100]
- Ajaran tentang sebab-akibat perbuatan (karma), yang didasarkan pada kehendak/niat (cetanฤ) dan ajaran terkait kelahiran kembali (punarbawa) yang menyatakan bahwa setelah kematian, makhluk hidup yang belum sepenuhnya tercerahkan akan terlahir kembali sebagai wujud yang berbeda, mungkin di alam eksistensi lain. Jenis alam tempat seseorang akan terlahir kembali ditentukan oleh karma masa lalu makhluk tersebut. Alam semesta sebagai siklus yang dipenuhi dengan kelahiran dan kematian ini disebut samsara.
- Penolakan terhadap ajaran dan praktik lain yang ditemukan dalam Brahmanisme (pra-Hindu), termasuk gagasan bahwa kitab-kitab Weda adalah otoritas ilahi. Segala bentuk pengorbanan kepada para dewa (termasuk pengurbanan hewan) dan pemurnian ritual dengan mandi di berbagai sungai suci dianggap tidak berguna dan rusak secara spiritual.[101] Kitab-kitab Pali juga menolak gagasan bahwa kasta ditahbiskan secara ilahi.
- Seperangkat ajaran utama yang disebut bodhipakkhiyฤdhammฤ (faktor-faktor yang mendukung kecerahan).
- Uraian tentang berbagai praktik atau kondisi meditasi, yaitu empat jhฤna (penyerapan meditatif) dan landasan nonmateri atau tanpa bentuk (arupฤyatana).
- Pelatihan moral (sila) termasuk sepuluh jenis kebajikan dan Pancasila.
- Nirwana (Pali: nibbฤna), kebaikan tertinggi dan tujuan akhir dalam Buddhisme Theravฤda. Nirwana adalah akhir yang lengkap dan terakhir dari penderitaan sebagai suatu kondisi kesempurnaan. Nirwana juga merupakan akhir dari semua kelahiran kembali, tetapi bukan pemusnahan (uccheda).[102]
- Noda batin (ฤsava), seperti noda batin kenikmatan indrawi (kฤmฤsava), noda batin eksistensi (bhavฤsava), dan noda batin ketidaktahuan (avijjฤsava). Selain itu, ada juga daftar serupa yang disebut sebagai pengotor batin (kilesa).
- Ajaran tentang ketidakkekalan (anicca), yang menyatakan bahwa semua fenomena fisik dan mental bersifat sementara, tidak stabil, dan tidak kekal.[103]
- Ajaran tentang bukan-diri atau tanpa-atma (anatta), yang menyatakan bahwa semua gugusan pembentuk seseorang, yaitu lima gugusan (bentuk fisik, perasaan, persepsi, bentukan kehendak, dan kesadaran), kosong dari diri atau roh kekal (atta), karena mereka tidak kekal dan tidak selalu di bawah kendali kita. Oleh karena itu, tidak ada substansi yang tidak berubah, diri yang kekal, jiwa kekal, roh kekal, atau inti kekal.[104][105]
- Lima rintangan (paรฑca nฤซvaraแนฤni), yang merupakan rintangan saat praktik meditasi:
- nafsu kehausan indrawi,
- rasa benci,
- kemalasan dan kantuk,
- kebingungan/kegelisahan dan penyesalan/kekhawatiran, dan
- keraguan.
- Empat sifat luhur (brahmavihฤrฤ), juga dikenal sebagai empat sifat yang tak terukur (appamaรฑรฑฤ):
- cinta kasih (mettฤ),
- belas kasih (karuแนฤ),
- simpati (muditฤ), dan
- ketenangan (upekkhฤ).
- Empat Kebenaran Mulia, yang menyatakan, secara singkat:
- ada dukkha (penderitaan, kegelisahan);
- ada penyebab dukkha, terutama nafsu kehausan (taแนhฤ);
- penyingkiran nafsu kehausan mengarah pada akhir (nirodha) penderitaan, dan
- ada jalan (magga) yang harus diikuti untuk mewujudkannya.[106]
- Kemunculan Bersebab (paแนญiccasamuppฤda), yang menjelaskan bagaimana penderitaan timbul (dimulai dengan ketidaktahuan dan berakhir pada kelahiran, usia tua, dan kematian) dan bagaimana penderitaan dapat diakhiri.[107]
- Jalan Tengah, yang dipandang memiliki dua sisi utama. Pertama, Jalan Tengah antara asketisme ekstrem dan pemanjaan sensual. Kedua, Jalan Tengah juga dipandang sebagai pandangan yang menengahi gagasan bahwa makhluk-makhluk akan musnah pada saat kematian dengan gagasan bahwa ada diri yang kekal (Pali: atta).
- Jalan Mulia Berunsur Delapan, suatu garis besar utama terkait jalan buddhis yang mengarah pada kecerahan. Delapan faktor tersebut adalah:
- Pandangan/Pengertian Benar (sammฤ-diแนญแนญhi)
- Niat Benar (sammฤ-saแน kappa)
- Ucapan Benar (sammฤ-vฤcฤ)
- Perbuatan Benar (sammฤ-kammanta)
- Penghidupan/Pencaharian Benar (sammฤ-ฤjฤซva)
- Upaya/Usaha Benar (sammฤ-vฤyฤma)
- Perhatian Benar (sammฤ-sati)
- Konsentrasi/Keheningan Benar (sammฤ-samฤdhi)
- Praktik berlindung kepada Triratna:
- Tujuh faktor kecerahan (satta bojjhaแน
gฤ):
- perhatian penuh (sati),
- penyelidikan (dhamma vicaya),
- energi (viriya),
- kegembiraan (pฤซti),
- ketenteraman (passaddhi),
- samฤdhi, dan
- ketenangan atau keseimbangan batin (upekkhฤ).
- Enam landasan indra (saแธทฤyatana) dan teori yang sesuai tentang kontak indra (phassa) dan kesadaran (viรฑรฑฤแนa).[108]
- Berbagai kerangka kerja untuk praktik perhatian penuh (sati), terutama:
- 4 satipaแนญแนญhฤna (pembentukan perhatian penuh) dan
- 16 landasan ฤnฤpฤnasati (perhatian penuh pada pernapasan).
Perbedaan dengan aliran lain
sunting
Perbandingan sudut pandang ortodoks Theravฤda dengan aliran Buddhisme lainnya disajikan dalam kitab Kathฤvatthu ("Poin-poin Kontroversi"), juga dalam karya-karya lain oleh pengomentar masa selanjutnya, seperti Buddhaghosa.
Secara tradisional, Theravฤda mempertahankan posisi doktrinal utama berikut, meskipun tidak semua Theravฤdin setuju dengan sudut pandang tradisional:[109][110]
- Mengenai filosofi waktu, aliran Theravฤda mengikuti presentisme filosofis, pandangan bahwa hanya fenomena (dhamma) saat ini yang ada. Pandangan ini bertentangan dengan pandangan eternalis dari aliran Sarvฤstivฤda yang menyatakan bahwa dhamma ada di ketiga waktuโmasa lalu, masa kini, dan masa depan.
- Arahat tidak akan dapat bertahan menjadi umat awam karena mereka telah meninggalkan belenggu umat awam, termasuk kehidupan berumah tangga, penggunaan uang, dll.
- Kekuatan (bala) seorang Buddha bersifat unik dan tidak umum dimiliki oleh seluruh para pengikut (sฤvaka) atau Arahat.
- Abhidhamma Theravฤda berpendapat bahwa satu kesadaran (citta) tidak dapat bertahan selama sehari.
- Abhidhamma Theravฤda berpendapat bahwa kebijaksanaan atas Empat Kebenaran Mulia terjadi dalam satu momen per momen (khaแนa), bukan secara tahap per tahap (anupubba), seperti yang dipegang oleh aliran Sarvฤstivฤda. Pengotor batin (kilesa) juga ditinggalkan momen per momen.[butuh rujukan]
- Abhidhamma Theravฤda secara tradisional menolak pandangan yang menyatakan adanya alam kehidupan atau keadaan peralihan atau transisi (antarabhฤva) di antara kelahiran kembali. Mereka berpendapat bahwa kelahiran kembali terjadi langsung atau seketika (dalam satu momen pikiran).[111] Akan tetapi, sebagaimana telah dicatat oleh berbagai cendekiawan modern, seperti Bhikkhu Sujato, terdapat beberapa bagian kanonis yang mendukung penafsiran atas gagasan tentang keadaan peralihan (seperti Kutuhalasฤla Sutta).[112] Beberapa cendekiawan Theravฤda (seperti Balangoda Ananda Maitreya) telah membela gagasan tentang keadaan peralihan dan ini juga merupakan kepercayaan yang sangat umum di antara beberapa biku dan umat awam di dunia Theravฤda (keadaan demikian umumnya disebut sebagai gandhabba atau antarabhฤva).[113]
- Theravฤda juga tidak menerima gagasan Mahฤyฤna bahwa ada dua bentuk Nirwana, yaitu Nirwana "lokal" atau "abadi" (Sanskerta: pratiแนฃแนญhita) yang lebih rendah dan Nirwana yang tidak abadi (Sanskerta: apratiแนฃแนญhita). Teori Nirwana ganda seperti itu tidak ada dalam Tipiแนญaka.[114] Menurut kitab Kathฤvatthu, tidak ada garis pemisah yang memisahkan elemen yang tidak berkondisi dan tidak ada superioritas atau inferioritas dalam kesatuan Nirwana.[115]
- Kitab-kitab komentar dan kitab subkomentar (tafsir) Theravฤda menganggap Nirwana sebagai suatu realitas yang hakiki (Pali: paramattha), dan bukan hanya sekadar realitas konseptual atau nominal (paรฑรฑatti) yang mengacu pada sekadar penghancuran (khayamatta) pengotor-pengotor batin atau ketiadaan lima gugusan kehidupan, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang dalam aliran Sautrฤntika, misalnya.[116] Dalam tradisi akademis Theravฤda, Nirwana didefinisikan sebagai penghentian (nirodha) keberadaan; dan eksis secara terpisah dari sekadar penghancuran nafsu kehausan, kebencian, dan delusi.[117]
- Dalam kitab-kitab komentar Theravฤda, fenomena mental berlangsung dalam suatu momen atau saat yang sangat singkat (khaแนa), sedangkan fenomena fisik tidak.
- Theravฤda berpendapat bahwa Sang Buddha tinggal di alam manusia (manussa-loka). Pandangan ini menolak pandangan doketik yang ditemukan dalam Mahฤyฤna yang menyatakan bahwa tubuh fisik Sang Buddha hanyalah manifestasi, emanasi, atau ciptaan magis (Sanskerta: nirmฤแนa) dari makhluk transendental, dan dengan demikian, kelahiran dan kematian-Nya hanyalah pertunjukan belaka dan tidak nyata.[118] Selain itu, aliran Theravฤda menolak pandangan bahwa saat ini ada banyak Buddha di semua arah.
- Theravฤda berpendapat bahwa ada arus kesadaran dasar yang disebut bhavaแน ga, yang mengondisikan kesadaran kelahiran kembali.
- Theravฤda menolak ajaran aliran Puggalavฤda tentang pudgala (Sanskerta) atau puggala (Pฤli), yang berarti "orang" atau "entitas pribadi", karena entitas tersebut dianggap lebih dari sekadar sebutan konseptual atas lima gugusan kehidupan.[119][120]
- Theravฤda menolak pandangan aliran Lokottaravฤda yang menyatakan bahwa semua perbuatan yang dilakukan oleh Sang Buddha (termasuk semua ucapan, buang air besar, dan buang air kecil, dll.) berasal dari kesadaran adiduniawi (lokuttara-citta).[121] Menurut Theravฤda, perbuatan-perbuatan tersebut berasal dari kesadaran fungsional (kiriya-citta). Demikian pula, bagi Theravฤda, seorang Buddha tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan sesuatu yang telah muncul dari penghentian. Para Buddha tidak dapat menghentikan makhluk-makhluk apa pun dari menjadi tua, sakit, atau mati; dan mereka tidak dapat menciptakan sesuatu yang kekal (seperti bunga yang tidak mati).
- Theravฤda, secara tradisional, membela gagasan bahwa Sang Buddha sendiri mengajarkan kitab-kitab Abhidhammapiแนญaka.[122] Hal ini kini dipertanyakan oleh sejumlah penganut Theravฤda modern berdasarkan pembelajaran Buddhis modern.
- Dalam Theravฤda, Nirwana adalah satu-satunya fenomena yang tidak terkondisi (asaแน khata-dhamma, asaแน khatadhฤtu). Tidak seperti dalam aliran Sarvฤstivฤda, ruang (akasa) juga dipandang sebagai dhamma yang terkondisi (saแน khata) dalam Theravฤda. Bahkan, Empat Kebenaran Mulia juga bukanlah fenomena yang tidak terkondisi, begitu pula wilayah penghentian (nirodhasamapatti). "Keberadaan" (tathatฤ) juga merupakan fenomena yang terkondisi. Menurut kitab Dhammasaแน gaแนฤซ, Nirwana, sesuatu yang tidak terkondisi, adalah 'tanpa kondisi' (appaccaya) dan berbeda dari lima gugusan yang 'dengan kondisi' (sappaccaya).[123]
- Dalam Theravฤda, jalan Bodhisatwa (bodhisatta) hanya cocok untuk beberapa orang yang luar biasa (seperti Buddha Gotama dan Metteyya).[124] Theravฤda juga mendefinisikan seorang Bodhisatwa sebagai seseorang yang telah membuat tekad di hadapan seorang Buddha yang masih hidup.[125]
- Dalam Theravฤda, ada organ sensoris fisik (indriya) sebagai landasan yang mengondisikan kesadaran mental (manoviรฑรฑฤแนa) dan merupakan dukungan materi bagi kesadaran. Beberapa kitab Theravฤda belakangan, seperti Visuddhimagga, menempatkan landasan indrawi fisik bagi kesadaran ini di organ jantung (hadaya-vatthu), Tripitaka Pali sendiri tidak membahas masalah ini.[126][127] Beberapa cendekiawan Theravฤda modern mengusulkan gagasan alternatif. Misalnya, Suwanda H. J. Sugunasiri mengusulkan bahwa landasan indra bagi kesadaran adalah seluruh organisme fisik, yang ia kaitkan dengan konsep kanonis jฤซvitindriya atau kemampuan hidup.[126] Sementara itu, W. F. Jayasuriya berpendapat bahwa โhadayaโ tidak diartikan secara harfiah (bisa juga diartikan sebagai โesensiโ, โintiโ), tetapi merujuk pada keseluruhan sistem saraf (termasuk otak), yang bergantung pada jantung dan darah.[127]
- Umat Theravฤda pada umumnya menolak bahwa kitab-kitab Mahฤyฤna merupakan Buddhavacana (sabda Sang Buddha), dan tidak mempelajari atau melihat kitab-kitab ini (atau ajaran Mahฤyฤna) sebagai sumber yang dapat diandalkan. Mereka menolak pandangan bahwa Tipiแนญaka Pฤli tidak lengkap atau kurang bermutu (yaitu sebutan "Hฤซnayฤna" yang berarti "kendaraan hina, inferior, minor, atau kecil"; sebuah istilah yang digunakan oleh penganut Mahฤyฤna untuk merujuk pada Theravฤda dan aliran non-Mahฤyฤna lainnya). Theravฤdin juga menolak pandangan yang menyatakan bahwa kitab-kitab Mahฤyฤna, entah bagaimana, dianggap lebih maju secara spiritual.[126]
- Umat Theravฤda, secara tradisional, percaya bahwa seorang Arahat yang telah tercerahkan memiliki "sifat yang tidak dapat rusak" dan karenanya sempurna secara moral.[128] Mereka tidak memiliki ketidaktahuan atau keraguan. Menurut ajaran Theravฤda, para Arahat (serta tiga ariya yang lebih rendah lainnya: pemasuk arus, dsb.) tidak dapat mundur atau mengalami kemunduran dari keadaan mereka.[129]
Tradisi Abhidhamma
suntingPara akademisi Theravฤda mengembangkan eksposisi sistematis ajaran Buddha yang disebut tradisi Abhidhamma. Dalam nikฤya Pฤli, Sang Buddha mengajar melalui metode analitis yang menjelaskan pengalaman dengan berbagai pengelompokan konseptual dari proses fisik dan mental yang disebut sebagai "dhamma". Contoh daftar dhamma yang diajarkan oleh Buddha meliputi dua belas 'landasan' indra (ฤyatana), lima gugusan (khandha), dan delapan belas unsur (dhฤtu).[130] Tradisi Abhidhamma menjelaskan saแน khฤra, dhamma, dan hubungannya dengan gugusan (khandha) dalam skema:
| Kelompok | Paรฑcakkhandha (lima gugusan) |
Abhidhamma Theravฤda | |||
|---|---|---|---|---|---|
| Paramattha-sacca (realitas hakiki) | |||||
| nฤma (batin) |
viรฑรฑฤแนakkhandha (gugusanย kesadaran) |
89/121ย citta (kesadaran) |
81ย duniawi 8/40ย adiduniawi | ||
| vedanฤkkhandha (gugusanย perasaan) |
52 cetasika (faktor-mental) |
1ย vedanฤcetasika (cetasikaย perasaan) | |||
| saรฑรฑฤkkhandha (gugusanย persepsi) |
1ย saรฑรฑฤcetasika (cetasikaย persepsi) | ||||
| saแน
khฤrakkhandha (gugusanย formasi) |
50ย cetasikaย lainnya | ||||
| rลซpa (rupa) |
rลซpakkhandha (gugusanย rupa) |
28ย rลซpa (rupa) |
4ย unsurย pokok 24ย unsurย turunan | ||
-
|
Nibbฤna (Nirwana) | ||||
| Catatan: | |||||
Theravฤda, secara tradisional, mempromosikan dirinya sebagai "ajaran analisis" Vibhajjavฤda dan sebagai pewaris metode analisis Sang Buddha. Dengan mengembangkan model ini, tradisi akademis Abhidhamma Theravฤda memusatkan perhatiannya pada analisis "kebenaran hakiki" (paramattha-sacca) yang dipandangnya sebagai sesuatu yang tersusun dari semua dhamma yang mungkin dan hubungan-hubungannya. Teori utama Abhidhamma, dengan demikian, dikenal sebagai "teori penjelasan dhamma".[131][132] "Dhamma" telah diterjemahkan sebagai "faktor-faktor" (Collett Cox), "karakteristik psikis" (Bronkhorst), "peristiwa psiko-fisik" (Noa Ronkin), dan "fenomena" (Nyanaponika Thera).[7][133]

Menurut seorang cendekiawan Sri Lanka, Y. Karunadasa, dhamma ("prinsip" atau "unsur") adalah "items yang dihasilkan ketika proses analisis dibawa ke batas tertingginya".[131] Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa dhamma-dhamma mempunyai eksistensi yang independen, sebab dhamma-dhamma dipostulatkan "hanya untuk tujuan deskriptif".[134] Noa Ronkin mengartikan dhamma sebagai "unsur-unsur pengalaman indrawi; 'komponen' tak terpisahkan yang membentuk dunia seseorang, meskipun dhamma-dhamma bukan isi mental statis dan tentu saja bukan substansi."[135] Dengan demikian, dalam Abhidhamma Theravฤda, meskipun dhamma merupakan unsur utama pengalaman, dhamma tidak dilihat sebagai hakikat, esensi, atau hal-hal khusus yang berdiri sendiri, sebab dhamma itu kosong (suรฑรฑa) dari suatu diri atau roh (attฤ) dan terkondisi.[136] Hal ini dijabarkan dalam kitab Paแนญisambhidฤmagga yang menyatakan bahwa dhamma kosong dari keberadaan tersendiri atau sabhฤva (sabhฤvena suรฑรฑam).[137]
Menurut Ronkin, tradisi Abhidhamma Pฤli yang kanonis tetap pragmatis, psikologis, dan "tidak terlalu tertarik pada ontologi". Pendekatan ini kontras dengan tradisi Abhidharma dalam aliran Sarvฤstivฤda. Paul Williams juga mencatat bahwa Abhidhamma tetap berfokus pada kepraktisan meditasi vipassanฤ dan membiarkan ontologi "relatif belum dieksplorasi".[138] Namun, Ronkin mencatat bahwa kitab subkomentar Theravฤda (แนญฤซkฤ) yang lebih baru menunjukkan pergeseran doktrinal ke arah realisme ontologis dari fokus epistemik dan praktis sebelumnya.[139]
Di sisi lain, Y. Karunadasa berpendapat bahwa tradisi realisme bermula dari diskursus-diskursus (sutta) paling awal, dan bukan hanya berkembang pada kitab-kitab subkomentar Theravฤda yang muncul belakangan saja:
Jika kita mendasarkan diri pada kitab-kitab nikฤya Pali, maka kita harus dipaksa untuk menyimpulkan bahwa ajaran Buddha itu realistis. Tidak ada penolakan eksplisit di mana pun terhadap dunia eksternal. Tidak ada pula bukti positif yang menunjukkan bahwa dunia adalah ciptaan pikiran atau sekadar proyeksi pikiran subjektif. Bahwa ajaran Buddha mengakui keberadaan materi di luar pikiran dan dunia eksternal secara jelas ditunjukkan oleh kitab-kitab tersebut. Di seluruh diskursus, ajaran Buddha menggunakan bahasa realisme. Seluruh ajaran dan disiplin praktis Buddha, yang mengarah pada pencapaian Nirwana sebagai tujuan akhirnya, didasarkan pada pengakuan terhadap dunia materi dan makhluk hidup sadar yang hidup di dalamnya.[140]
| Bagian dari Abhidhamma Theravฤda |
| 52 faktor mental (cetasika) |
|---|
| Buddhisme Theravฤda |
Abhidhamma Theravฤda menyatakan bahwa secara total ada 82 jenis dhamma, 81 di antaranya berkondisi (saแน khata), sementara satu tidak berkondisi, yaitu Nirwana (Nibbฤna). Delapan puluh satu dhamma berkondisi dibagi menjadi tiga kategori besar: kesadaran (citta), faktor mental (cetasika), dan materi atau fenomena fisik (rลซpa).[141] Oleh karena tidak ada dhamma yang eksis secara mandiri, setiap dhamma kesadaran, yang dikenal sebagai citta, muncul secara terkait atau saling bergantung (sampayutta) dengan setidaknya tujuh faktor mental universal (sabbacittasฤdhฤraแนa cetasika).[142] Dalam Abhidhamma, semua peristiwa kesadaran dilihat sebagai sesuatu yang dicirikan oleh adanya kehendak dan tidak pernah terjadi secara terpisah.[141] Sebagian besar filosofi Abhidhamma membahas tentang pengategorian berbagai kesadaran dan faktor-faktor mental yang menyertainya serta hubungan-hubungan terkondisinya (paccaya).[142]
Kosmologi
sunting

Tipiแนญaka Pฤli menguraikan sistem kosmologi hierarkis dengan berbagai alam eksistensi (bhava, bhลซmi, atau loka) yang ke dalamnya makhluk hidup dapat terlahir kembali tergantung pada perbuatan masa lalu dan masa kini mereka. Perbuatan baik menuntun seseorang ke alam yang lebih tinggi, perbuatan buruk menuntun ke alam yang lebih rendah.[143][144] Namun, bahkan bagi para dewa (deva) di alam yang lebih tinggi, seperti Indra, masih ada kematian, kehilangan, dan penderitaan.[145]

Kategori utama dari alam eksistensi adalah:[143][144]
- Arลซpa-bhava, alam nonmateri/tak berupa. Alam-alam ini terkait dengan empat keadaan meditatif (jhฤna) nonmateri, yaitu: ruang tak terbatas, kesadaran tak terbatas, kehampaan tak terbatas, dan bukan persepsi maupun non-persepsi. Makhluk di alam ini hidup sangat lama (ribuan kappa).
- Rลซpa-bhava, alam rupa/materi. Alam-alam ini dikaitkan dengan empat keadaan penyerapan meditatif (jhฤna) dan mereka yang mencapai meditasi ini terlahir kembali di alam-alam ini.
- Kฤma-bhava, alam keinginan indrawi. Alam-alam ini mencakup berbagai alam eksistensi, seperti: berbagai neraka (niraya) yang tidak memiliki kebahagiaan, alam binatang (tiracchฤna), hantu kelaparan (peta), asura, alam manusia (manussa), dan berbagai alam surga (sagga) tempat tinggal para dewa (seperti Tavatiแนsa dan Tusita) di luar alam brahma yang termasuk dalam rลซpa-bhava.
Berbagai alam eksistensi ini dapat ditemukan dalam sistem dunia yang tak terhitung jumlahnya (loka-dhฤtu). Sistem dunia tersebut merupakan sesuatu yang terbentuk, berkembang, menyusut, dan hancur secara siklus dalam rentang waktu yang sangat luas (ukuran dalam kappa). Kosmologi ini mirip dengan sistem India kuno lainnya, seperti kosmologi Jain.[144] Seluruh siklus multisemesta kelahiran dan kematian yang konstan ini disebut samsara. Di luar sistem samsara ini, terdapat Nirwana (secara harfiah berarti "menghilang, padam"), suatu realitas transenden dan tanpa-kematian (amata) yang merupakan pembebasan total dan final (vimutti) dari semua penderitaan (dukkha) dan kelahiran kembali.[146]
Soteriologi dan Buddhologi
sunting| Bodhi | Punarbawa | Belenggu yang disingkirkan | |
|---|---|---|---|
| sotฤpanna | ยฑ tujuh kali; manusia atau dewa |
1.ย pandanganย salah terhadap jati diri (sakkฤya-diแนญแนญhi) 2.ย keraguan (vicikicchฤ) 3.ย kemelekatan padaย ritualย danย adat (sฤซlabbata-parฤmฤsa) |
belenggu rendah |
| sakadฤgฤmi | sekali lagi; manusia | ||
| anฤgฤmi | sekali lagi; suddhฤvฤsa |
4.ย hasratย indrawi (kฤmacchanda) 5.ย rasa benci (vyฤpฤda/byฤpฤda) | |
| arahat | tidak ada | 6.ย nafsuย punarbawa diย alamย materi (rลซparฤga) 7.ย nafsuย punarbawa diย alamย nonmateri (arลซparฤga) 8.ย kesombongan (mฤna) 9.ย kebingungan (uddhacca) 10.ย ketidaktahuan (avijjฤ) |
belenggu tinggi |
Menurut ajaran Theravฤda, pembebasan dari penderitaan (yaitu Nirwana) dicapai dalam empat tahap kecerahan (bodhi) atau empat tingkat kemuliaan:[147][148]
- Pemasuk arus (sotฤpanna): mereka yang telah menghancurkan tiga belenggu pertama (pandangan salah tentang diri atau roh, keraguan, dan kemelekatan terhadap ritual dan adat);[149][150]
- Yang kembali sekali lagi (anฤgฤmi): mereka yang telah menghancurkan tiga belenggu pertama dan telah melemahkan belenggu nafsu kehausan dan niat jahat;
- Yang tak kembali lagi (sakadฤgฤmi): mereka yang telah menghancurkan lima belenggu rendah, yang mengikat makhluk-makhluk di dunia indrawi;[151]
- Arahat (secara harfiah "terhormat" atau "berharga"): mereka yang telah menyadari Nirwana dan terbebas dari semua pengotor batin, termasuk seluruh belenggu. Mereka telah meninggalkan semua ketidaktahuan, nafsu kehausan atas eksistensi, kebingungan (uddhacca), dan kesombongan (mฤna).[151]
Dalam ajaran Buddhisme Theravฤda, seorang Sammฤsambuddha (biasanya dipersingkat sebagai "Buddha") adalah makhluk berakal yang telah menemukan jalan keluar dari samsara sendiri, telah mencapai Nirwana, dan kemudian menyediakan jalan tersebut bagi orang lain melalui ajarannya (dikenal sebagai "memutar roda Dhamma"). Seorang Buddha juga diyakini memiliki kekuatan dan kemampuan luar biasa (abhiรฑรฑฤ), seperti kemampuan membaca pikiran dan terbang di udara.[152]
Kitab-kitab Theravฤda menggambarkan Buddha Gotama sebagai Buddha terakhir sejauh ini dalam rangkaian daftar Buddha-Buddha sebelumnya yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Kitab ini juga menyebutkan kehadiran Buddha masa depan, bernama Metteyya.[153] Secara tradisional, aliran Theravฤda juga menolak gagasan bahwa ada banyak Buddha yang aktif di dunia pada saat yang sama.[154]

Mengenai pertanyaan tentang bagaimana makhluk hidup menjadi seorang Buddha, aliran Theravฤda juga mencakup penyajian jalan ini. Memang, menurut Buddhaghosa, ada tiga jalan soteriologis utama: Jalan para Buddha ([sammฤsam-]buddhayฤna); Jalan para Buddha Diam (paccekabuddhayฤna); dan Jalan para Pengikut [Buddha] (sฤvakayฤna).[155]
Akan tetapi, tidak seperti Buddhisme Mahฤyฤna, Theravฤda beranggapan bahwa "Jalan Buddha" (di sini merujuk pada Sammฤsambuddha, bukan Paccekabuddha maupun Sฤvakabuddha/Arahat) tidak diperuntukkan bagi semua orang; dan makhluk yang berada di Jalan Buddha (sebagai seorang Bodhisatwa) cukup langka.[156] Dalam Mahฤyฤna, Bodhisatwa merujuk pada makhluk yang telah mengembangkan tekad untuk menjadi seorang Buddha, sedangkan Theravฤda (seperti aliran Buddhis awal lainnya) mendefinisikan Bodhisatwa sebagai seseorang yang telah membuat tekad (abhinฤซhฤra) untuk menjadi Buddha di hadapan Buddha yang masih hidup, dan juga telah menerima konfirmasi dari Buddha tersebut bahwa mereka akan mencapai Kebuddhaan.[157] Kitab Cariyฤpiแนญaka (bagian Khuddakanikฤya) adalah kitab Theravฤda yang berfokus pada Jalan para Buddha. Selain itu, kitab Jฤtaka dan Buddhavaแนsa juga merupakan kitab-kitab Theravฤda yang membahas Jalan Buddha.[157]
Perkembangan modern
suntingEra modern menyaksikan perkembangan baru dalam penafsiran-penafsiran Theravฤda karena pengaruh pemikiran Barat. Seperti yang ditulis Donald K. Swearer:
Meskipun pendidikan monastik masih didasarkan pada studi kitab-kitab Buddhis, Dhamma, dan bahasa Pali, kurikulum perguruan tinggi dan universitas monastik juga mencerminkan materi pelajaran dan disiplin ilmu yang terkait dengan pendidikan Barat.[158]
Tren modernis buddhis dapat ditelusuri ke tokoh-tokoh, seperti Anagarika Dhammapala, Raja Mongkut, dan perdana menteri pertama Burma, U Nu.[159] Mereka mempromosikan bentuk Buddhisme yang sesuai dengan rasionalisme dan sains, serta menentang takhayul dan praktik-praktik kepercayaan tradisional tertentu. Buku karya Walpola Rahula, "What the Buddha Taught" ("Inilah Dhamma") dipandang oleh para cendekiawan sebagai pengantar pemikiran Buddhisme modernis dan buku tersebut terus digunakan secara luas di berbagai universitas.[158]
Fenomena modern lainnya adalah filsuf buddhis yang mengenyam pendidikan di Barat, seperti K. N. Jayatilleke (murid Wittgenstein di Cambridge) dan Hammalawa Saddhatissa (yang meraih gelar Ph. D. di Edinburgh), yang kemudian menulis karya-karya modern tentang filsafat Buddhis (Early Buddhist Theory of Knowledge, 1963, dan Buddhist Ethics, 1987). Henepola Gunaratana adalah cendekiawan Theravฤda modern lainnya yang mempelajari filsafat di Barat (di sebuah universitas di Amerika). Pertemuan modern dengan misionaris Kristen juga menghasilkan perdebatan baru (seperti perdebatan Panadura) dan karya doktrinal yang ditulis untuk membela Buddhisme atau menyerang gagasan-gagasan Kristen, seperti "A Buddhist Critique of the Christian Concept of God" (1988) karya Gunapala Dharmasiri.
Ada pula beberapa cendekiawan Theravฤda modern yang mengambil perspektif kritis historis terhadap sastra dan ajaran-ajaran Theravฤda, dengan mencoba memahami perkembangan historisnya. Beberapa tokoh ini, seperti David Kalupahana, Buddhadasa, dan Bhikkhu Sujato, telah mengkritik pengomentar Theravฤda tradisional, seperti Buddhaghosa, atas inovasi doktrinal mereka yang, dalam beberapa kesempatan, berbeda secara signifikan dari kitab-kitab Buddhis awal.[160][161][162]
Era modern juga menyaksikan karya-karya Buddhis baru tentang topik-topik yang dihindari oleh umat Buddha pra-modern, seperti Buddhisme yang terjun aktif dan ekonomi Buddhis. Para pemikir, seperti Buddhadasa, Sulak Sivaraksa, Prayudh Payutto, Neville Karunatilake, dan Padmasiri de Silva telah membahas topik-topik ini. Kajian modern dalam bahasa-bahasa Barat oleh para biku Barat, seperti Nyanatiloka, Nyanaponika, Nyanamoli, Bhikkhu Bodhi, dan Analayo merupakan perkembangan terkini lainnya dalam dunia Theravฤda.
Praktik (paแนญipatti)
sunting
Dasar kitab suci
suntingDalam Tripitaka Pali, jalan (magga) atau cara (pฤแนญipada) praktik Buddhisme dijelaskan dengan berbagai cara, salah satu kerangka yang paling banyak digunakan dalam Theravฤda adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan:
"Sang Bhagavฤ berkata, "Sekarang, para bhikkhu, apakah Jalan Mulia Berunsur Delapan itu? Pandangan benar, niat benar, ucapan benar, tindakan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar."[163]
Jalan Mulia Berunsur Delapan juga dapat diringkas sebagai Tiga Disiplin Mulia yaitu sฤซla (perilaku moral atau disiplin), samฤdhi (meditasi atau konsentrasi), dan paรฑรฑฤ (kebijaksanaan atau pemahaman).[164][165][166]
Ortodoksi Theravฤda mengambil tujuh tahap pemurnian sebagaimana diuraikan dalam kitab Visuddhimagga sebagai garis besar dasar jalan yang harus diikuti. Visuddhimagga, sebuah summa (rangkuman) doktrinal Theravฤda Sinhala yang ditulis pada abad kelima oleh Buddhaghosa, menjadi catatan ortodoks tentang jalan Theravฤda menuju pembebasan di Sri Lanka setelah abad ke-12 dan pengaruh ini menyebar ke negara-negara Theravฤda lainnya.[93] Kitab tersebut memberikan daftar tujuh pemurnian dalam tiga bagian:
- Bagian pertama (bagian 1) menjelaskan tentang aturan-aturan disiplin, dan metode untuk menemukan tempat yang tepat untuk berlatih, atau cara bertemu dengan guru yang baik.
- Bagian kedua (bagian 2) menjelaskan praktik meditasi samatha (menenangkan) dengan penjelasan objek demi objek (lihat Kammaแนญแนญhฤna untuk daftar empat puluh objek meditasi tradisional). Di bagian ini juga terdapat penjelasan berbagai tahap samฤdhi.
- Bagian ketiga (bagian 3โ7) adalah uraian tentang lima gugusan (khandha), landasan indra (ฤyatana), Empat Kebenaran Mulia, Kemunculan Bersebab, dan praktik meditasi vipassanฤ (pandangan-terang) melalui pengembangan kebijaksanaan. Bagian ini menekankan berbagai bentuk pengetahuan yang muncul karena praktik tersebut. Bagian ini menunjukkan upaya analisis hebat yang khusus dari filosofi Buddhis.
Kerangka dasar ini didasarkan pada tiga disiplin (sฤซla, samฤdhi, dan paรฑรฑฤ). Penekanannya adalah pada pemahaman terhadap trilaksana yang pada akhirnya mengarah ke lenyapnya ketidaktahuan. Pemahaman menghancurkan sepuluh belenggu dan menuntun ke Nirwana.
Theravฤdin percaya bahwa setiap individu bertanggung jawab secara pribadi untuk mencapai pencerahan dan pembebasan diri mereka sendiri, masing-masing bertanggung jawab atas karma dan buah karma (tindakan dan konsekuensi) mereka sendiri. Menerapkan pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman langsung dan realisasi pribadi lebih ditekankan oleh Sang Buddha.
Derma dan sila
suntingBederma (dฤna) merupakan kebajikan penting dalam ajaran Buddha. Komunitas biarawan dipandang sebagai ladang yang paling berjasa untuk menghasilkan buah karma baik.
Sฤซla, yang berarti sila atau perilaku moral, utamanya didefinisikan sebagai ucapan yang benar, tindakan yang benar, dan mata pencaharian yang benar. Hal ini terutama dipahami melalui ajaran tentang kamma. Dalam ajaran Theravฤda, perbuatan dengan kehendak atau niat sebelumnya sangat memengaruhi pengalaman seseorang saat ini. Perbuatan yang disengaja apa pun yang dilakukan akan memiliki konsekuensi di masa mendatang, baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan berikutnya.[167] Niat atau kehendak (cetanฤ) merupakan inti dari konsep kamma. Perbuatan yang dilakukan dengan niat baik, meskipun hasilnya buruk, tidak akan memiliki konsekuensi kamma negatif.
Beberapa daftar sila atau latihan moral (sikkhฤpada) mengarah pada tindakan yang benar. Setelah berlindung pada Triratna, umat Buddhisme Theravฤda awam secara tradisional mengambil niat pengamalan Pancasila (baik seumur hidup atau untuk waktu terbatas) di hadapan Sangha.[168] Umat awam juga terkadang mengambil niat pengamalan Astasila yang diperluas dan mencakup penjagaan kesucian selama hari-hari khusus, seperti uposatha.
Melakukan perbuatan baik merupakan ciri penting lain dari etika Buddhisme Theravฤda. Melakukan hal tersebut dikatakan menghasilkan "jasa kebajikan" (puรฑรฑa) yang berpotensi menghasilkan kelahiran kembali yang lebih baik. "Sepuluh jenis kebajikan" merupakan daftar umum perbuatan baik:[169]
- Bederma (dฤna): biasanya melibatkan penyediaan "empat kebutuhan pokok" bagi para biku; makanan, pakaian, tempat tinggal, dan obat-obatan; namun, memberi kepada orang yang membutuhkan dan beramal juga dianggap sebagai dฤna.
- Sila, moralitas, atau akhlak (sฤซla): menjaga Pancasila dan secara umum menahan diri dari melakukan hal-hal yang merugikan.
- Meditasi (bhฤvanฤ).
- Rasa hormat (apaciti): menghormati orang lain; menunjukkan rasa hormat yang pantas, khususnya kepada Buddha, Dhamma dan Sangha; dan kepada orang tua. Biasanya dilakukan dengan menyatukan kedua tangan (ber-aรฑjali) dan, terkadang, dengan namaskara.
- Pelayanan (veyyฤvacca): memberikan layanan kepada orang lain; merawat orang lain atau yang membutuhkan.
- Persembahan kebajikan atau pelimpahan jasa (pattฤnuppadฤna atau pattidฤna): melakukan perbuatan baik atas nama seseorang yang telah meninggal atau atas nama semua makhluk hidup.
- Ungkapan kebahagiaan (abbhanumodanฤ atau pattanumodanฤ): bersukacita atas jasa perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain; ini umum dalam kegiatan yang dilakukan bersama-sama.
- Pengajaran Dhamma (Dhammadesanฤ): berkhotbah atau berbagi Dhamma; pemberian Dhamma dipandang sebagai bentuk pemberian tertinggi (Dhammapada 354).
- Pendengaran Dhamma (Dhammasavana)
- Pelurusan pandangan (diแนญแนญhijukamma): memiliki pandangan benar (sammฤdiแนญแนญhi); terutama terkait Empat Kebenaran Mulia dan trilaksana.
Meditasi
sunting
Meditasi (bahasa Pali: bhฤvanฤ; secara harfiah berarti "menyebabkan menjadi" atau pengembangan) berarti pengembangan batin seseorang secara positif.
Jenis-jenis meditasi
suntingPraktik meditasi Buddhisme Theravฤda sangat bervariasi dalam teknik dan objeknya.[170] Saat ini, terdapat pula berbagai tradisi praktik meditasi Theravฤda, seperti Gerakan Vipassanฤ Burma, Tradisi Hutan Thailand, Borฤn Kammaแนญแนญhฤna ('praktik kuno') yang esoteris, tradisi Weikza Burma, tradisi Dhammakฤya, dan gerakan Insight Meditation Barat.
Praktik meditasi Buddhisme Theravฤda atau bhฤvanฤ (pengembangan batin atau meditasi) dikategorikan ke dalam dua kategori besar: samatha bhฤvanฤ (meditasi ketenangan) dan vipassanฤ bhฤvanฤ (meditasi pandangan terang, meditasi penyelidikan).[171] Awalnya, ini merujuk pada efek atau kualitas meditasi, tetapi setelah masa Buddhaghosa, istilah-istilah tersebut juga merujuk pada dua jenis atau jalan meditasi (yฤna) yang berbeda.[148][172][173]
Samatha ("ketenangan") terdiri dari teknik meditasi yang memfokuskan pikiran pada satu objek, pikiran, atau gฤthฤ, yang mengarah pada samฤdhi ("konsentrasi"). Dalam Theravฤda tradisional, teknik ini dianggap sebagai dasar untuk meditasi vipassanฤ ("pandangan terang"). Dalam tradisi Theravฤda, bahkan dalam nikฤya Pali, empat jhฤna dianggap sebagai praktik samatha. Langkah kedelapan dan terakhir dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, Samฤdhi Benar, sering didefinisikan sebagai empat jhฤna.[174] Dalam nikฤya, jhฤna digambarkan terjadi sebelum kecerahan Sang Buddha, yang mengubah statusnya menjadi makhluk yang tercerahkan.[175] Namun, penafsiran jhฤna sebagai konsentrasi dan ketenangan yang terpusat mungkin merupakan penafsiran ulang di kemudian hari yang menghilangkan pemaknaan tujuan asli jhฤna.[176]
Vipassanฤ ("kebijaksanaan", "penglihatan jernih") merujuk pada praktik yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman atau pengetahuan batin tentang hakikat fenomena (dhamma), terutama karakteristik dukkha, anatta, dan anicca yang dipandang berlaku secara universal pada semua fenomena yang terkondisi (saแน khata-dhamma). Vipassanฤ juga digambarkan sebagai kebijaksaaan terkait Kemunculan Bersebab, lima gugusan, landasan indra, dan Empat Kebenaran Mulia.[173][177] Meditasi jenis ini adalah fokus utama Gerakan Vipassanฤ Burma modern. Di negara-negara Barat, hal ini dilengkapi dengan pengembangan empat sifat luhur (brahmavihฤrฤ); dan pengembangan cinta kasih (loving-kindness) dan belas kasih (compassion).[178][179]
Latihan vipassanฤ dimulai dengan tahap persiapan, yaitu latihan sila atau moralitas dengan melepaskan pikiran dan keinginan duniawi.[180][181] Praktisi kemudian melakukan meditasi ฤnฤpฤnasati, yaitu perhatian penuh pada pernapasan yang dijelaskan dalam Satipaแนญแนญhฤna Sutta dengan "pergi ke hutan dan duduk di bawah pohon, lalu sekadar memperhatikan napas". Jika napas panjang, perhatikan bahwa napas itu panjang, jika napas pendek, perhatikan bahwa napas itu pendek.[182][183] Dalam โMetode Burma Baruโ praktisi memperhatikan setiap fenomena mental atau fisik yang muncul, terlibat dalam vitakka (penempelan awal pikiran) dengan mencatat atau menamai fenomena fisik dan mental (โbernapas, bernapasโ) tanpa melibatkan fenomena tersebut dengan pemikiran konseptual teoretis.[184][185] Dengan memperhatikan munculnya fenomena fisik dan mental, praktisi menjadi sadar bagaimana kesan indra muncul dari kontak antara indra dan fenomena fisik dan mental,[184] seperti yang dijelaskan dalam lima gugusan dan Kemunculan Bersebab (paแนญiccasamuppฤda). Praktisi juga menjadi sadar akan perubahan terus-menerus yang terjadi dalam pernapasan, dan timbul serta lenyapnya perhatian penuh.[186] Perhatian ini disertai dengan refleksi atas sebab-akibat dan ajaran Buddha lainnya yang mengarah pada kebijaksanaan mengenai dukkha, anatta, dan anicca.[186][187] Ketika ketiga ciri tersebut telah dipahami, maka refleksi pun mereda dan proses memperhatikan pun semakin cepat; memperhatikan fenomena secara umum tanpa harus menamai fenomena tersebut.[188][189][190]
Menurut Vajiraรฑฤแนa Mahฤthera, seorang biku yang menulis dari sudut pandang tradisional dan berbasis kitab, dalam Tripitaka Pฤli, apakah seseorang memulai praktik dengan cara samatha atau dengan cara vipassanฤ umumnya dilihat tergantung pada temperamen atau kecenderungan orang tersebut. Menurut Vajiraรฑฤแนa Mahathera, secara umum diyakini bahwa ada dua jenis individu. Mereka yang memiliki watak penuh gairah (atau mereka yang memasuki jalan buddhis dengan keyakinan) mencapai tingkat arahat melalui vipassanฤ yang didahului oleh samatha. Mereka yang memiliki watak skeptis (atau mereka yang memasuki jalan dengan kebijaksanaan atau intelek) mencapainya melalui samatha yang didahului oleh vipassanฤ.[173]
Tujuan meditasi
suntingSecara tradisional, tujuan akhir dari praktik ini adalah untuk mencapai kebijaksanaan duniawi dan adiduniawi. Kebijaksanaan duniawi adalah kebijaksanaan atas tiga tanda keberadaan.[148] Pengembangan kebijaksanaan ini mengarah pada empat jalan dan buah adiduniawi. Pengalaman ini terkait dengan pemahaman langsung Nirwana.[148] Kebijaksanaan adiduniawi (lokuttara) mengacu pada sesuatu yang melampaui samsara.[148]
Selain Nirwana, ada berbagai alasan mengapa ajaran Buddhisme Theravฤda tradisional menganjurkan meditasi, beberapa di antaranya termasuk kelahiran kembali yang baik, kekuatan supranormal, perlawanan terhadap rasa takut, dan pencegahan bahaya. Penganut Theravฤda modernis akhir-akhir ini cenderung berfokus pada manfaat psikologis dan kesejahteraan psikologis.[191]
Perkembangan sejarah dan sumbernya
suntingPraktik meditasi Theravฤda dapat ditelusuri kembali ke penafsir abad ke-5, Buddhaghosa, yang mensistematisasikan meditasi Theravฤda klasik, membaginya menjadi jenis samatha dan vipassanฤ, dan mencantumkan 40 objek berbeda (dikenal sebagai "kammaแนญแนญhฤna", "tempat kerja") dalam mahakaryanya, kitab Visuddhimagga.[192][193] Kitab ini tetap menjadi pusat pembelajaran dan praktik meditasi Theravฤda. Kitab komentar karya Buddhaghosa atas Satipaแนญแนญhฤna Sutta ("Diskursus tentang Landasan Perhatian Penuh"), serta kitab-kitab sumbernya sendiri, juga merupakan sumber penting lainnya untuk meditasi dalam tradisi ini.[194] Karya Buddhaghosa banyak bersumber dari Sutta Pali dan juga Abhidhamma Pali. Kate Crosby mencatat bahwa karya Buddhaghosa juga "secara eksplisit merujuk pada keberadaan panduan meditasi rahasia pada masa itu, tetapi tidak pada isinya."[194]
Mengenai meditasi Theravฤda pasca kitab Visuddhimagga, menurut Kate Crosby,
Dalam kurun waktu sejak munculnya Visuddhimagga hingga masa kini, telah terdapat banyak kitab yang membahas meditasi, baik panduan maupun risalah deskriptif. Banyak kitab yang ditemukan dalam koleksi manuskrip berhubungan dengan meditasi, beberapa pada satu subjek sederhana, seperti ingatan akan kualitas-kualitas Buddha, yang lainnya lebih kompleks. Sedikit penelitian telah dilakukan untuk menilai keragamannya. Salah satu kesulitannya adalah bahwa panduan meditasi seperti itu sering kali berupa campuran bahasa klasik, yaitu Pali, dan bahasa sehari-hari yang mungkin atau mungkin bukan bahasa yang digunakan saat ini. Selain itu, panduan yang sebenarnya sering kali berisi perintah pendek atau pengingat alih-alih penjelasan yang mendalam. Dalam beberapa tahun terakhir, telah ditemukan bahwa masih ada sejumlah besar panduan dan kitab terkait yang berkaitan dengan sistem meditasi yang disebutโantara lainโborฤn kammaแนญแนญhฤna atau yogฤvacara. Kitab sumbernya, Mลซla-kammaแนญแนญhฤna "praktik meditasi asli, fundamental atau dasar," beredar dengan sejumlah judul yang berbeda, atau tanpa judul, di seluruh dunia buddhis TaiโLaoโKhmer dan Sri Lanka. Beberapa versi kitab ini mencakup daftar kammaแนญแนญhฤna sederhana dan dari perspektif itu tampak sepenuhnya sesuai dengan kitab Visuddhimagga atau Abhidhamma Theravada. Versi lainnya berisi narasi-narasi tambahan, penjelasan tentang simbolisme, dan lokasi somatis yang terlibat dalam praktik meditasi. Narasi-narasi tersebut memperjelas bahwa kita berurusan dengan teknik-teknik praktik tambahan yang tidak dijelaskan dalam Tripitaka Pali atau Visuddhimagga.[194]
Menurut Crosby, tradisi meditasi borฤn kammaแนญแนญhฤna atau yogฤvacara yang esoteris merupakan bentuk meditasi yang dominan di dunia Theravฤda Esoteris kuno selama abad ke-18, dan mungkin sudah ada sejak abad ke-16. Crosby mencatat bahwa tradisi meditasi ini melibatkan kumpulan simbol, metode somatis, dan visualisasi yang kaya yang mencakup "internalisasi atau manifestasi fisik dari aspek-aspek jalan Theravฤda dengan [perhatian pada] titik-titik di tubuh antara lubang hidung dan pusar."[195] Meskipun ada unsur-unsur baru dalam tradisi meditasi ini, studi terkait kitab-kitab penjelasan borฤn kammaแนญแนญhฤna mengungkapkan bahwa teknik tersebut berhubungan erat dengan Abhidhamma Theravada dan karya-karya Buddhaghosa.[196] Reformasi modernis yang menekankan studi Tripitaka Pali, pergeseran dukungan negara terhadap tradisi lain, dan perang modern di Asia Tenggara Daratan menyebabkan kemunduran tradisi ini, dan kini hanya bertahan di beberapa wihara di Kamboja dan Thailand.[197]

Selama abad ke-19 dan ke-20, dunia Theravฤda menyaksikan kebangkitan modernis dan penemuan kembali praktik meditasi, seperti yang dicontohkan oleh Gerakan Vipassanฤ Burma.[198][199] Menurut Buswell, vipassanฤ "tampaknya sudah tidak dipraktikkan lagi" pada abad ke-10 karena adanya kepercayaan bahwa Buddhisme telah merosot, dan bahwa pembebasan tidak dapat dicapai lagi sampai kedatangan Metteyya.[200] Praktik ini dihidupkan kembali di Myanmar (Burma) pada abad ke-18 oleh Medawi (1728โ1816) dan oleh tokoh-tokoh berikutnya, seperti Ledi Sayadaw dan Mahฤsฤซ Sayadaw, selama abad ke-19 dan ke-20. Tokoh-tokoh Burma ini menemukan kembali meditasi vipassanฤ dan mengembangkan teknik meditasi yang disederhanakan berdasarkan Satipaแนญแนญhฤna Sutta, Visuddhimagga, dan kitab-kitab lainnya, yang menekankan satipaแนญแนญhฤna dan vipassanฤ murni.[198][199] Teknik ini dipopulerkan secara global oleh gerakan Vipassanฤ pada paruh kedua abad ke-20.
Gerakan kebangkitan serupa berkembang di Thailand, seperti Tradisi Hutan Thailand dan meditasi Dhammakaya. Tradisi-tradisi ini dipengaruhi oleh bentuk-bentuk borฤn kammaแนญแนญhฤna yang lebih kuno.[201] Thailand dan Kamboja juga melihat upaya untuk melestarikan dan menghidupkan kembali tradisi meditasi kuno โborฤn kammaแนญแนญhฤnaโ.[202] Di Sri Lanka, tradisi buddhis baru dari Amarapura dan Rฤmaรฑรฑa Nikฤya mengembangkan bentuk meditasi mereka sendiri berdasarkan Sutta Pali, Visuddhimagga, dan panduan lainnya, sementara borฤn kammaแนญแนญhฤna sebagian besar telah menghilang pada akhir abad ke-19.[203]
Meskipun gerakan Vipassanฤ telah memopulerkan meditasi, baik di negara-negara Theravฤda tradisional di kalangan awam, maupun di negara-negara barat, "meditasi memainkan peran yang kecil, jika tidak dikatakan sepele, dalam kehidupan mayoritas biku Theravฤda [saat itu]."[204] Meditasi sangat populer di kalangan umat awam,[205] terutama pada hari besar keagamaan tertentu atau di usia tua, ketika mereka mempunyai lebih banyak waktu luang untuk dihabiskan di wihara.[204] Penganut Buddhisme modernis cenderung menyajikan ajaran Buddha sebagai ajaran yang rasional dan ilmiah, dan hal ini juga memengaruhi cara meditasi vipassanฤ diajarkan dan disajikan. Hal ini menyebabkan diremehkannya elemen-elemen Theravฤda kuno yang dianggap nonempiris dan dikaitkan dengan 'takhayul' oleh beberapa kalangan.[206] Aliran meditasi Theravฤda tradisional yang lebih tua yang dikenal sebagai "borฤn kammaแนญแนญhฤna" masih ada, tetapi tradisi ini sebagian besar telah disingkirkan oleh gerakan meditasi modernis Buddhis.[197]
Praktik lainnya
sunting
Upasaka-upasika dan para biku juga melakukan berbagai jenis praktik keagamaan setiap hari atau selama hari raya Buddhisme. Salah satunya adalah mendirikan tempat pemujaan (altar) Sang Buddha dengan gambar atau rupang Buddha untuk praktik bakti di rumah, yang menyerupai tempat pemujaan yang lebih besar di wihara.[207] Biasanya, di altar-altar tersebut dipersembahkan lilin, dupa, bunga, dan benda-benda lainnya.[207] Gerakan penghormatan juga dilakukan di depan rupang dan tempat pemujaan Buddha, terutama salam hormat dengan tangan (aรฑjalikamma), dan sujud lima anggota tubuh (paรฑc'anga-vandana).[207]
Bentuk-bentuk lantunan (chanting) buddhis juga banyak dipraktikkan oleh para biku dan umat awam, yang mungkin melafalkan frasa-frasa terkenal, seperti kalimat perlindungan, Mettฤ Sutta, dan Maแน gala Sutta di depan wihara. Lantunan juga dapat menjadi bagian dari praktik perenungan (anussati), yang mengacu pada perenungan berbagai topik, seperti kualitas-kualitas luhur Buddha, Dhamma, dan Sangha; atau lima pokok bahasan untuk perenungan harian (kewajaran usia tua, penyakit, kematian, terpisah dari yang disukai, dan bertemu yang tidak disukai).[207] Hal ini dapat dilakukan sebagai bagian dari ritual puja harian.
Praktik keagamaan penting lainnya adalah perayaan hari raya keagamaan khusus yang dikenal sebagai uposatha yang didasarkan pada kalender lunar. Umat awam biasanya mengambil Astasila saat mengunjungi wihara dan berkomitmen untuk fokus pada praktik-praktik buddhis pada hari itu.[207]
Mempelajari (ganthadhura atau pariyatti) kitab-kitab suci dan mendengarkan ceramah Dhamma oleh para biku atau guru juga merupakan suatu praktik penting.
Kehidupan awam dan monastik
suntingPerbedaan antara kehidupan awam dan monastik
suntingSecara tradisional, Buddhisme Theravฤda telah mengamati perbedaan antara praktik-praktik yang cocok untuk umat awam dan praktik yang dilakukan oleh para biku yang telah ditahbis (di zaman kuno, ada lembaga praktik yang terpisah untuk para bikuni). Meskipun kemungkinan pencapaian signifikan oleh umat awam tidak sepenuhnya diabaikan oleh Theravฤda, umumnya umat awam menempati posisi yang kurang menonjol dibandingkan dengan umat awam pada aliran Mahฤyฤna dan Vajrayฤna, dengan kehidupan monastik yang dipuji sebagai suatu metode unggul untuk mencapai Nirwana.[208] Pandangan bahwa Theravฤda, tidak seperti aliran Buddhisme lainnya, hanya fokus pada tradisi monastik, bagaimanapun, telah diperdebatkan.[209]
Beberapa cendekiawan Barat secara keliru mencoba mengklaim bahwa Mahฤyฤna pada dasarnya adalah agama untuk kaum awam dan Theravฤda pada dasarnya adalah agama monastik. Baik Mahฤyฤna maupun Theravฤda memiliki komunitas monastik yang kuat sebagai fondasinya, yang hampir identik dalam peraturannya. Aliran-aliran Buddhisme Mahฤyฤna tanpa komunitas monastik yang terdiri dari biku dan bikuni yang ditahbiskan sepenuhnya merupakan perkembangan yang relatif baru dan tidak lazim, biasanya didasarkan pada pertimbangan budaya dan sejarah daripada perbedaan dalam ajaran fundamental. Baik Mahฤyฤna maupun Theravฤda juga menyediakan tempat yang jelas dan penting bagi para umat awam.
โโRon Epstein, "Clearing Up Some Misconceptions about Buddhism"[210]
Perbedaan antara biku yang ditahbiskan dan umat awamโdan juga perbedaan antara praktik yang dianjurkan oleh Tripitaka Pali, dan unsur-unsur kepercayaan tradisional yang dianut oleh beberapa bikuโtelah memotivasi beberapa cendekiawan untuk menganggap Buddhisme Theravฤda terdiri dari beberapa tradisi yang terpisah dan saling tumpang tindih, tetapi tetap berbeda. Salah satu yang paling menonjol, antropolog Melford Spiro, dalam karyanya Buddhism and Society, membagi Theravฤda Burma menjadi tiga kelompok:
- Buddhisme Apotropaik (berkaitan dengan pemberian perlindungan dari makhluk jahat),
- Buddhisme Kammatik (berkaitan dengan pemberian pahala untuk kelahiran di masa mendatang), dan
- Buddhisme Nibbanik (berkaitan dengan pencapaian pembebasan Nirwana, seperti yang dijelaskan dalam Tipiแนญaka).
Ia menekankan bahwa ketiganya berakar kuat dalam Tripitaka Pali. Kategori-kategori ini tidak diterima oleh semua cendekiawan, dan biasanya pembagian tersebut dianggap tidak eksklusif secara kelompok.[butuh rujukan]

Peran umat awam, secara tradisional, utamanya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang secara umum disebut sebagai pembuatan kebajikan (termasuk dalam kategori Buddhisme Kammatik menurut Spiro). Kegiatan pembuatan kebajikan (merit-making) meliputi pemberian makanan (pindapata) dan kebutuhan pokok lainnya kepada para biku, memberikan sumbangan ke wihara, membakar dupa atau menyalakan lilin di hadapan rupang Buddha, melantunkan syair-syair pelindung atau syair-syair suci dari Tripitaka Pali, membangun jalan dan jembatan, beramal kepada yang membutuhkan, dan menyediakan air minum bagi orang asing di sepanjang pinggir jalan. Beberapa umat awam selalu memilih untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam urusan keagamaan, sambil tetap mempertahankan status "awam" mereka. Umat awam pria dan wanita yang berdedikasi terkadang bertindak sebagai wali amanat atau penjaga wihara mereka, mengambil bagian dalam perencanaan keuangan dan pengelolaan wihara. Umat awam yang lain mungkin menyumbangkan waktu yang signifikan untuk memenuhi kebutuhan duniawi para biku setempat (dengan memasak, membersihkan, memelihara fasilitas wihara, dll.). Di Thailand, pembelajaran kitab suci Pฤli dan praktik meditasi kurang umum di kalangan umat awam di masa lalu, tetapi pada abad ke-20, bidang tersebut telah menjadi lebih populer bagi umat awam.

Sejumlah biku senior dalam Tradisi Hutan Thailand, termasuk Ajahn Buddhadasa, Ajahn Maha Bua, Ajahn Plien Panyapatipo, Ajahn Pasanno, dan Ajahn Jayasaro, telah mulai mengajar retret meditasi di luar wihara bagi para umat awam. Ajahn Sumedho, seorang murid Ajahn Chah, mendirikan Amaravati Buddhist Monastery di Hertfordshire, yang memiliki pusat retret khusus untuk umat awam. Sumedho memperluas wiharanya ke Harnham di Northumberland dengan pendirian Aruna Ratanagiri di bawah bimbingan Ajahn Munindo, murid Ajahn Chah lainnya.[butuh rujukan]
Umat awam
sunting
Dalam bahasa Pali, istilah untuk umat awam laki-laki adalah upฤsaka, dan upฤsikฤ adalah istilah untuk umat awam perempuan. Salah satu tugas umat awam, sebagaimana diajarkan oleh Sang Buddha, adalah mengurus kebutuhan para biku atau bikuni. Mereka harus memastikan bahwa para biku atau bikuni tidak kekurangan empat kebutuhan pokok: makanan, pakaian, tempat tinggal, dan obat-obatan. Oleh karena baik biku maupun bikuni tidak diperbolehkan memiliki pekerjaan, mereka bergantung sepenuhnya pada umat awam untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Sebagai imbalan atas amal ini, para biku-bikuni diharapkan untuk menjalani kehidupan yang patut diteladani.
Di Myanmar dan Thailand, wihara, baik dulu maupun sekarang, masih dianggap sebagai tempat belajar. Wihara Theravฤdin telah menyediakan pendidikan gratis bagi banyak anak sejak zaman dahulu. Bahkan, saat ini, sekitar setengah dari sekolah dasar di Thailand berlokasi di wihara. Ritual dan upacara keagamaan yang diadakan di wihara selalu disertai dengan kegiatan sosial. Di masa krisis, kepada para biku-lah para umat awam menyampaikan masalah mereka untuk dimintai nasihat dan para biku sering kali mengambil peran sebagai mediator dalam sebagian besar perselisihan. Secara tradisional, seorang biku berpangkat tinggi akan menyampaikan khotbah empat kali sebulan: saat bulan purnama, bulan baru, bulan separuh awal, dan bulan separuh akhir. Umat awam juga memiliki kesempatan untuk belajar meditasi dari para biku selama waktu-waktu ini.
Seorang umat awam juga dapat mencapai kecerahan. Seperti yang disampaikan oleh Bhikkhu Bodhi, "Sutta dan kitab komentar memang mencatat beberapa kasus umat awam yang mencapai tujuan akhir, Nirwana. Akan tetapi, murid-murid tersebut mencapai tingkat Arahat di ambang kematian atau memasuki tatanan monastik segera setelah pencapaian mereka. Mereka tidak terus tinggal di rumah sebagai perumah tangga Arahat karena tinggal di rumah tidak sesuai dengan keadaan seseorang yang telah memutuskan semua nafsu kehausan."[211]
Di era modern, kini sudah menjadi hal yang umum bagi para pengikut awam untuk berlatih meditasi, menghadiri pusat meditasi awam, dan bahkan bertujuan untuk mencapai kecerahan. Dorongan atas tren ini dimulai di Myanmar dan didukung oleh Perdana Menteri U Nu yang mendirikan Pusat Meditasi Internasional (International Meditation Center atau IMC) di Yangon.[212] Guru awam modern, seperti U Ba Khin (yang juga merupakan Akuntan Jenderal Union of Burma), mempromosikan meditasi sebagai bagian dari rutinitas harian umat awam.[212] Menurut Donald K Swearer, perkembangan lain dalam Theravฤda modern adalah "pembentukan asosiasi Buddhis awam yang sebagian telah mengambil alih tanggung jawab pelayanan sosial yang sebelumnya diasosiasikan dengan wihara".[212] Perkembangan ini termasuk organisasi layanan sosial dan aktivis, seperti Young Men's Buddhist Association of Colombo, All Ceylon Buddhist Congress, Sarvodaya Shramadana milik A. T. Ariyaratne, dan lembaga swadaya masyarakat yang didirikan oleh Sulak Sivaraksa, seperti Santi Pracha.[213]
Kejuruan monastik
sunting
Sumber-sumber Theravฤda yang berasal dari Sri Lanka abad pertengahan (abad ke-2 SM hingga abad ke-10 M), seperti Mahawangsa, menunjukkan bahwa peran monastik dalam aliran ini sering kali dilihat berada dalam polaritas antara biku perkotaan (Sinhala: khaamawaasii; Pฤli: gฤmavasฤซ) di satu sisi dan biku hutan pedesaan (Sinhala: aranyawaasii; Pali: araรฑรฑavasi, nagaravasi; juga dikenal sebagai Tapassin) di sisi lain.[214] Para biku yang berfokus pada pertapaan dikenal dengan nama paแนsukลซlika (pemakai jubah kain) dan araรฑรฑika (penghuni hutan).[215]
Babad Mahawangsa juga menceritakan tentang para biku hutan yang terkait dengan Mahฤvihฤra. Kitab komentar Pฤli atas Dhammapada menyebutkan pemisahan lain berdasarkan "tugas belajar" dan "tugas merenungkan".[216] Pembagian ini, secara tradisional, dipandang sesuai dengan pemisahan kota dan hutan, dengan para biku kota berfokus pada panggilan membaca buku (ganthadhura) atau belajar (pariyatti) sementara para biku hutan lebih condong pada meditasi (vipassanฤdhura) dan praktik (paแนญipatti).[22] Namun, pertentangan ini tidak konsisten, dan wihara-wihara perkotaan sering mempromosikan praktik meditasi sementara kepada para umat awam. Komunitas biku hutan juga telah menghasilkan cendekiawan-cendekiawan yang unggul, seperti Island Hermitage oleh Nyanatiloka.[22]
Para biku terpelajar umumnya menempuh jalur mempelajari dan melestarikan sastra Pali Theravฤda.[217] Para biku hutan cenderung menjadi minoritas di antara para sangha Theravฤda dan juga cenderung fokus pada asketisme (dhutaแน ga) dan praktik meditasi.[218] Mereka memandang diri mereka sendiri sebagai orang yang hidup lebih dekat dengan cita-cita yang ditetapkan oleh Sang Buddha, dan sering dianggap demikian oleh umat awam, meskipun, pada saat yang sama, sering berada di pinggiran lembaga-lembaga buddhis dan di pinggiran tatanan sosial.[219]
Walaupun perpecahan ini tampaknya telah ada sejak lama di aliran Theravฤda, baru pada abad ke-10 terdapat sebuah biara biku hutan khusus yang disebut "tapavana" yang disebutkan berada di dekat Anuradhapura.[220] Pembagian ini kemudian berlanjut ke seluruh Asia Tenggara seiring dengan penyebaran Theravฤda.
Saat ini, terdapat tradisi berbasis hutan di sebagian besar negara Theravฤda, termasuk Tradisi Hutan Sri Lanka, Tradisi Hutan Thailand, serta tradisi berbasis hutan yang kurang dikenal di Burma dan Laos, seperti wihara berbasis hutan Burma (taw"yar) Pa Auk Tawya yang diinisiasi oleh Pa Auk Sayadaw.[221] Di Thailand, biku hutan dikenal sebagai phra thudong (biku pertapa pengembara) atau phra thudong kammathan (biku pertapa pengembara praktisi meditasi).[222]
Penahbisan
sunting
Usia minimum untuk ditahbiskan sebagai biku Theravฤda adalah 20 tahun. Usia tersebut dihitung sejak masa pembuahan seseorang. Mereka yang berusia di bawah ini dapat melakukan upacara tradisional, seperti shinbyu, di Myanmar, untuk ditahbiskan sebagai samanera (sฤmaแนera). Samanera mencukur kepala mereka, mengenakan jubah kuning, dan menjalankan Sepuluh Sila. Meskipun tidak ada usia minimum yang ditetapkan secara eksplisit untuk samanera dalam kitab suci, secara tradisional, diterima bahwa anak laki-laki berusia tujuh tahun dapat diterima untuk ditahbiskan. Tradisi ini didasarkan pada kisah putra Sang Buddha, Rฤhula, yang diizinkan menjadi samanera pada usia tujuh tahun. Baik biku maupun bikuni diharapkan untuk mematuhi aturan disiplin tertentu. Biku mengikuti 227 aturan dan bikuni mengikuti 311 aturan.
Di sebagian besar negara dengan mayoritas penganut Theravฤda, merupakan praktik umum bagi para pemuda untuk ditahbiskan sebagai biku untuk jangka waktu tertentu. Di Thailand dan Myanmar, para pemuda biasanya ditahbiskan untuk retret selama vassa, masa musim hujan selama tiga bulan, meskipun periode penahbisan yang lebih pendek atau lebih panjang juga tidak jarang terjadi. Secara tradisional, penahbisan sementara bahkan lebih fleksibel di kalangan orang Laos. Setelah mereka menjalani penahbisan awal mereka sebagai pemuda, para pria Laos diizinkan untuk ditahbiskan sementara lagi kapan saja, meskipun para pria yang sudah menikah diharapkan untuk meminta izin dari istri mereka. Di seluruh Asia Tenggara, hanya ada sedikit stigma yang melekat pada mereka yang meninggalkan kehidupan wihara. Para biku, secara teratur, meninggalkan jubah setelah memperoleh pendidikan tertentu, dipaksa oleh kewajiban keluarga, atau memiliki kesehatan yang buruk.
Ditahbiskan sebagai biku, bahkan untuk waktu yang singkat, dipandang mengandung banyak kebajikan. Dalam banyak budaya Asia Tenggara, penahbisan tersebut dipandang sebagai sarana bagi seorang pemuda untuk "membalas rasa terima kasihnya" kepada orang tuanya atas pekerjaan dan upaya mereka dalam membesarkannya karena jasa dari penahbisannya didedikasikan untuk kesejahteraan mereka. Pria Thailand yang telah ditahbiskan sebagai biku mungkin dianggap sebagai suami yang lebih matang dan cocok oleh wanita Thailand, yang merujuk pada pria yang telah bertugas sebagai biku dengan istilah sehari-hari yang berarti "matang" untuk menunjukkan bahwa mereka lebih matang dan siap menikah. Khususnya di daerah pedesaan, penahbisan sementara anak laki-laki dan pemuda secara tradisional menawarkan kesempatan kepada anak laki-laki petani untuk menerima pendidikan gratis di sekolah wihara dengan sponsor dan akomodasi.
Di Sri Lanka, penahbisan sementara tidak dipraktikkan, dan seorang biku yang meninggalkan ordo tidak disukai tetapi juga tidak dikutuk. Pengaruh sistem kasta yang berkelanjutan di Sri Lanka berperan dalam tabu terhadap penahbisan sementara atau permanen sebagai biku di beberapa ordo. Meskipun ordo Sri Lanka sering kali diorganisasikan berdasarkan garis kasta, pria yang ditahbiskan sebagai biku untuk sementara waktu keluar dari sistem kasta konvensional, dan, karenanya, selama menjadi biku dapat bertindak (atau diperlakukan) dengan cara yang tidak sejalan dengan tugas dan hak istimewa yang diharapkan dari kasta mereka.[butuh rujukan]
Bagi mereka yang lahir di negara-negara Barat yang ingin menjadi biku atau bikuni Theravฤda, adalah mungkin dengan menjalani kehidupan monastik di negara asal mereka, di antara para biku lainnya di negara-negara Barat, atau dengan bepergian dan bermukim di sebuah wihara di negara-negara Asia, seperti Sri Lanka atau Thailand. Di negara-negara dengan akar Buddhisme Theravฤda yang kuat, sering kali terasa lebih mudah dalam mematuhi gaya hidup seorang biku atau bikuni karena dibutuhkan disiplin yang cukup besar untuk berhasil hidup sesuai dengan aturan dan peraturan nonsekuler yang menjadi ciri khas praktik Buddhisme Theravฤda. Misalnya, para biku Theravฤda biasanya diharuskan untuk menjauhkan diri dari kegiatan-kegiatan, seperti bekerja, mengelola uang, mendengarkan musik hiburan, dan memasak. Kewajiban-kewajiban tersebut dapat menjadi tantangan, khususnya di masyarakat dengan mayoritas nonbuddhis.[butuh rujukan]
Beberapa biku Theravฤdin yang terkenal adalah Ajahn Mun, Ajahn Chah, Ledi Sayadaw, Webu Sayadaw, Narada Mahathera, Ajahn Plien Panyapatipo, Buddhadasa, Mahasi Sayadaw, Nyanatiloka, Nyanaponika, Preah Maha Ghosananda, U Pandita, Ajahn Sumedho, Ajahn Khemadhammo, Ajahn Brahm, Bhikkhu Bodhi , Ajahn Amaro, Ajahn Sucitto, Ajahn Jayasaro, Bhikkhu Thanissaro, Walpola Rahula, Henepola Gunaratana, Bhaddanta ฤciแนแนa, Bhante Yogavacara Rahula, Luang Pu Sodh Candasaro, K. Sri Dhammananda, Sayadaw U Tejaniya, dan Bhikkhu Analayo.
Praktik monastik
sunting
Praktiknya biasanya bervariasi di berbagai subaliran (ordo) dan wihara dalam Theravฤda. Namun, di wihara hutan yang paling ortodoks, para biku biasanya meniru praktik dan gaya hidupnya Sang Buddha dan generasi pertama murid-murid-Nya dengan hidup dekat dengan alam di hutan, gunung, dan gua. Wihara hutan masih menjaga tradisi kuno dengan mengikuti tata tertib wihara buddhis secara rinci dan mengembangkan meditasi di hutan terpencil.
Dalam rutinitas harian yang biasa dipraktikkan di wihara selama periode vassa 3 bulan, para biku akan bangun sebelum fajar dan memulai hari dengan lantunan (chanting) dan meditasi berkelompok. Saat fajar, para biku akan pergi ke desa-desa sekitar tanpa alas kaki untuk ber-piแนแธapฤta dan akan makan di hari itu sebelum tengah hari dengan makanan yang diterima dengan menggunakan tangan. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk belajar Dhamma dan meditasi. Terkadang, kepala wihara atau biku senior akan memberikan ceramah Dhamma kepada para pengunjung. Umat awam yang tinggal di wihara harus mematuhi delapan sila (Astasila) tradisional.
Kehidupan biku atau bikuni di sebuah komunitas jauh lebih kompleks daripada kehidupan biku hutan. Dalam masyarakat Theravฤda di Sri Lanka, sebagian besar biku menghabiskan waktu setiap hari untuk mengurus kebutuhan umat awam, seperti berkhotbah bana,[223] menerima sedekah, memimpin upacara pemakaman, mengajarkan Dhamma kepada orang dewasa dan anak-anak, hingga menyediakan layanan sosial kepada masyarakat.
Setelah masa vassa berakhir, banyak biku akan pergi jauh dari wihara untuk mencari tempat terpencil (biasanya di hutan) tempat mereka dapat menggantung tenda payung sebagai tempat yang cocok untuk pengembangan diri. Ketika mereka pergi mengembara, mereka berjalan tanpa alas kaki dan pergi ke mana pun sesuai keinginannya. Hanya perlengkapan yang diperlukan yang akan dibawa. Perlengkapan ini biasanya terdiri dari mangkuk, tiga jubah, kain mandi, tenda payung, kelambu, ketel air, penyaring air, pisau cukur, sandal, beberapa lilin kecil, dan lentera lilin.
Para biku tidak menentukan waktu untuk meditasi berjalan dan duduk karena begitu mereka bebas, mereka langsung melakukannya; mereka juga tidak menentukan berapa lama mereka akan bermeditasi. Beberapa dari mereka terkadang berjalan dari senja hingga fajar, sementara di waktu lain mereka mungkin berjalan antara dua dan tujuh jam. Beberapa mungkin memutuskan untuk berpuasa selama berhari-hari atau tinggal di tempat-tempat berbahaya yang menjadi tempat tinggal binatang buas untuk membantu meditasi mereka.
Para biku yang telah mampu mencapai tingkat pencapaian yang lebih tinggi akan mampu membimbing biku-biku muda dan umat awam menuju empat tingkat pencapaian spiritual.
Penahbisan bikuni
sunting
Beberapa tahun setelah kedatangan Mahinda, bikuni Saแน ghamittฤ, yang juga diyakini sebagai putri Asoka, datang ke Sri Lanka. Ia menahbiskan bikuni pertama di Sri Lanka. Pada tahun 429, atas permintaan kaisar Tiongkok, bikuni dari Anuradhapura dikirim ke Tiongkok untuk mendirikan ordo di sana, yang kemudian menyebar ke seluruh Asia Timur. Prฤtimokแนฃa (aturan monastik) dari ordo bikuni dalam Buddhisme Asia Timur adalah Dharmaguptaka, yang berbeda dari prฤtimokแนฃa dari aliran Theravฤda saat ini; penahbisan khusus Sangha awal di Sri Lanka tidak diketahui, meskipun aliran Dharmaguptaka juga berasal dari Sthฤvirฤซya.
Ordo bikuni tersebut kemudian punah di Sri Lanka pada abad ke-11 dan di Burma pada abad ke-13. Ordo tersebut telah punah sekitar abad ke-10 di wilayah Theravฤdin lainnya. Penahbisan samaneri juga telah menghilang di negara-negara tersebut. Oleh karena itu, wanita yang ingin hidup sebagai pertapa di negara-negara tersebut harus melakukannya dengan mengambil delapan atau sepuluh sila. Baik wanita awam maupun yang ditahbiskan secara resmi, wanita-wanita ini tidak menerima pengakuan, pendidikan, dukungan finansial, atau status sebagaimana dinikmati oleh pria buddhis di negara mereka. "Pemegang sila" (suatu sebutan untuk wanita yang bukan umat awam, tetapi juga bukan seorang samaneri atau bikuni) ini tinggal di Myanmar, Kamboja, Laos, Nepal, dan Thailand. Secara khusus, dewan pengurus Buddhisme Burma telah memutuskan bahwa tidak boleh ada penahbisan wanita yang sah di zaman modern, meskipun beberapa biku Burma tidak setuju. Jepang adalah kasus khusus karena, meskipun tidak memiliki bikuni maupun penahbisan samaneri, biarawati pemegang sila yang tinggal di sana menikmati status yang lebih tinggi dan pendidikan yang lebih baik daripada saudara perempuan pemegang sila di tempat lain. Bahkan, mereka yang menetap di Jepang dapat menjadi bikuni dalam aliran Zen.[224] Di Tibet, saat ini tidak ada penahbisan bikuni, tetapi Dalai Lama telah mengizinkan penganut aliran-aliran Tibet untuk ditahbiskan sebagai bikuni dalam tradisi yang memiliki penahbisan semacam itu.
Pada tahun 1996, sebelas wanita Sri Lanka terpilih ditahbiskan penuh sebagai bikuni Theravฤda oleh tim biku Theravฤda yang bekerja sama dengan tim bikuni Korea di India. Ada ketidaksepakatan di antara otoritas vinaya Theravฤda mengenai apakah penahbisan tersebut sah. Cabang Dambulla dari ordo Siam Nikฤya di Sri Lanka juga melaksanakan penahbisan bikuni pada saat ini, secara khusus menyatakan proses penahbisan mereka adalah proses Theravฤdin yang sah, sedangkan sesi penahbisan lainnya tidak.[225] Cabang ini telah melaksanakan upacara penahbisan untuk ratusan bikuni sejak saat itu.[butuh rujukan] Hal ini telah dikritik oleh tokoh-tokoh terkemuka di Siam Nikฤya dan Amarapura Nikฤya, dan dewan pemerintahan Buddhisme di Myanmar telah menyatakan bahwa tidak ada penahbisan bikuni yang sah di zaman modern, meskipun beberapa biku Burma tidak setuju dengan ini.[226]
Pada tahun 1997, Vihara Dhamma Cetiya di Boston didirikan oleh Yang Mulia Gotami dari Thailand, yang saat itu adalah seorang biarawati dengan 10 sila (bukan seorang bikuni); ketika ia menerima penahbisan penuh pada tahun 2000, tempat tinggalnya menjadi wihara bikuni Buddhisme Theravฤda pertama di Amerika.
Seorang biarawati maechee berjubah putih dengan 8 sila asal Thailand yang berusia 55 tahun, Varanggana Vanavichayen menjadi wanita pertama yang menerima upacara pelepasan seorang samaneri (dan jubah emas) di Thailand, pada tahun 2002.[227] Pada tanggal 28 Februari 2003, Dhammananda Bhikkhuni, yang sebelumnya dikenal sebagai Chatsumarn Kabilsingh, menjadi wanita Thailand pertama yang menerima penahbisan bikuni sebagai bikuni Theravฤda setelah masa kepunahannya.[228] Dhammananda Bhikkhuni ditahbiskan di Sri Lanka.[229] Senat Thailand telah meninjau dan mencabut undang-undang sekuler yang disahkan pada tahun 1928 yang melarang penahbisan penuh bagi perempuan dalam Buddhisme Theravฤda karena dianggap tidak konstitusional dan bertentangan dengan undang-undang yang melindungi kebebasan beragama. Akan tetapi, dua ordo Buddhisme Theravฤda utama di Thailand, Mahฤ Nikฤya dan Dhammayuttika Nikฤya, belum secara resmi menerima perempuan yang telah ditahbiskan penuh ke dalam jajaran mereka.
Pada tahun 2009, di Australia, empat perempuan menerima penahbisan bikuni sebagai bikuni Theravฤda, pertama kalinya penahbisan semacam itu terjadi di Australia.[230] Penahbisan tersebut dilakukan di Perth, Australia, pada tanggal 22 Oktober 2009 di Wihara Bodhinyana. Kepala wihara, Vayama, bersama dengan Yang Mulia Nirodha, Seri, dan Hasapanna ditahbiskan sebagai bikuni dengan metode penahbisan ganda Sangha yang terdiri dari para biku dan bikuni sesuai dengan Vinaya Pali.[231]
Pada tahun 2010, di Amerika Serikat, empat samaneri diberi penahbisan penuh bikuni secara aliran Theravฤda Thailand, yang mencakup upacara penahbisan ganda. Henepola Gunaratana dan biku serta bikuni lainnya hadir dalam upacara tersebut. Penahbisan tersebut adalah penahbisan bikuni pertama di belahan bumi Barat.[232]
Penahbisan bikuni pertama di Jerman, penahbisan Samaneri Dhira (wanita Jerman), terjadi pada tanggal 21 Juni 2015 di Wihara Anenja.[233]
Di Indonesia, penahbisan bikuni Theravฤda pertama setelah lebih dari seribu tahun terjadi pada tahun 2015 di Wisma Kusalayani di Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat.[234] Mereka yang ditahbiskan antara lain:
- Bhikkhuni Vajiradevi Sadhika dari Indonesia,
- Bhikkhuni Medha dari Sri Lanka,
- Bhikkhuni Anula dari Jepang,
- Bhikkhuni Santasukha Santamana dari Vietnam,
- Bhikkhuni Sukhi dari Malaysia,
- Bhikkhuni Sumangala dari Malaysia, dan
- Bhikkhuni Jenti dari Australia.[234]
Ordo monastik
sunting
"Ordo" berasal dari kata nikฤya yang terkadang diterjemahkan sebagai "sekte" (bedakan dari penggunaannya untuk kitab-kitab nikฤya dalam Suttapiแนญaka). Akan tetapi, Michael Mendelson dan Ajahn Jayasฤro berpendapat bahwa istilah "sekte" tersebut cenderung memberi kesan perselisihan ajaran yang menyesatkan. Faktanya, berbagai nikฤya (ordo) tidak berbeda dalam hal kepercayaan atau penafsiran ajaran, melainkan dalam penerapan praktis Vinaya (aturan monastik).[235][236]
Para biku (dan bikuni) Theravฤda secara khusus merupakan bagian dari nikฤya tertentu, secara beragam dirujuk sebagai ordo atau persaudaraan monastik. Ordo-ordo yang berbeda ini tidak mengembangkan ajaran-ajaran yang terpisah, tetapi mungkin berbeda dalam pengamalan aturan-aturan monastik. Ordo monastik ini menunjukkan garis keturunan penahbisan, biasanya menelusuri asal-usul mereka ke kelompok biku tertentu yang mendirikan tradisi penahbisan baru di dalam suatu negara atau wilayah geografis tertentu.
Di Sri Lanka, kasta memainkan peran utama dalam pembagian nikฤya. Beberapa negara Theravฤda menunjuk atau memilih seorang Saแน gharฤja (raja sangha), atau Patriark Tertinggi dari Sangha, sebagai biku dengan peringkat tertinggi atau paling senior di daerah tertentu, atau dari nikฤya tertentu. Runtuhnya monarki telah mengakibatkan penangguhan jabatan-jabatan ini di beberapa negara, tetapi Patriark terus ditentukan di Thailand. Burma dan Kamboja mengakhiri praktik penentuan Saแน gharฤja untuk beberapa waktu, tetapi posisi tersebut kemudian dikembalikan, meskipun di Kamboja menghilang kembali.
Berikut ini merupakan daftar dari beberapa ordo Theravฤda yang tercatat:
Beberapa negara dengan mayoritas penganut aliran Theravฤda menerapkan aturan ketat terkait pembagian ordo. Di Myanmar, pendirian ordo baru selain sembilan ordo yang diakui pemerintah merupakan suatu tindakan ilegal yang melanggar hukum.[236][237][238]
Dampak terhadap masyarakat modern
suntingPenekanan Buddhisme Theravฤda pada praktik perhatian penuh (mindfulness) dan meditasi telah memengaruhi masyarakat modern dengan mempromosikan kesejahteraan mental dan teknik pengurangan stres yang mengarah pada integrasi mindfulness dalam berbagai program terapi dan pengembangan diri. Selain itu, ajaran Buddhisme tentang perilaku etis dan belas kasih (compassion) terus menginspirasi berbagai individu dan organisasi untuk memprioritaskan nilai-nilai moral dan tanggung jawab sosial dalam tindakan dan pengambilan keputusan mereka.[239] Penekanan pada perilaku etis dalam ajaran Buddhisme Theravฤda mendorong individu-individu untuk menjalani kehidupan yang berbudi luhur. Perilaku tersebut termasuk menghindari tindakan yang merugikan orang lain, seperti berbohong, mencuri, dan merugikan makhluk hidup. Prinsip-prinsip ini mendorong integritas dan kejujuran pribadi dalam masyarakat modern. Buddhisme Theravฤda mendorong pengembangan belas kasih (compassion) dan cinta kasih (loving-kindness) terhadap semua makhluk hidup. Dalam masyarakat kontemporer, ajaran-ajaran ini menginspirasi individu dan organisasi untuk memprioritaskan tanggung jawab sosial, kegiatan amal, dan upaya kemanusiaan yang bertujuan untuk mengurangi penderitaan dan meningkatkan kesejahteraan orang lain.[240] Buddhisme Theravฤda sangat menekankan pada perhatian penuh atas diri (self-awareness) dan transformasi diri. Para praktisi didorong untuk mengeksplorasi hakikat diri (anatta), ketidakkekalan (anicca), dan hakikat penderitaan (dukkha). Ajaran-ajaran ini telah mengilhami individu-individu dalam masyarakat modern untuk memulai perjalanan menemukan jati diri, meningkatkan kualitas diri, dan mengembangkan diri. Ajaran-ajaran tentang perhatian penuh (mindfulness) dan ketidakkekalan hidup telah menyediakan alat-alat yang efektif bagi individu untuk mengatasi stres dan tantangan hidup. Dalam dunia yang serba cepat dan sering kali penuh tekanan saat ini, ajaran-ajaran ini menawarkan strategi-strategi yang berharga untuk menjaga keseimbangan dan kestabilan emosi.[241] Perjalanan mindfulness dan kesehatan mental ini diperkuat oleh lembaga-lembaga terkemuka yang mendorong gagasan mindfulness dan dampaknya terhadap manusia. Kelas/kursus/program mindfulness yang disediakan oleh banyak universitas dan lembaga terkemuka, seperti Yale, Stanford, dan lain-lain, kepada para mahasiswa, staf, dan masyarakat umum telah memberi manfaat bagi mereka.[242]
Demografi
sunting| Peringkat | Negara | Populasi | % Buddhis | Total Buddhis | % Kepentingan agama |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 66.720.153[243] | 95%[244] | 63.117.265 | 97%[245] | |
| 2 | 56.280.000[246] | 89%[247] | 50.649.200 | 96%[245] | |
| 3 | 20.277.597 | 70% | 17.222.844 | 100%[245] | |
| 4 | 14.701.717[248] | 98%[248] | 14.172.455 | 95%[245] | |
| 5 | 6.477.211[249] | 67%[249] | 4.339.731 | 98%[245] |

Buddhisme Theravฤda dipraktikkan di negara-negara berikut dan oleh orang-orang di seluruh dunia:
- Asia Timur:
- Asia Selatan:
- Bangladesh (oleh 2% dari populasi; terutama di Chittagong Hill Tracts dan Kuwakata, Barishal)
- India (Theravฤda tradisional; terutama di India Timur Laut)
- Nepal
- Sri Lanka (oleh 70% dari populasi)
- Asia Tenggara:
- Kamboja (oleh 97% dari populasi)
- Indonesia
- Laos (oleh 66% dari populasi)
- Malaysia (di semenanjung Malaysia terutama bagian barat laut Malaysia; terutama oleh orang Siam Malaysia dan Sinhala Malaysia)
- Myanmar (oleh 89% dari populasi)
- Singapura
- Thailand (oleh 90% dari populasi; 94% dari populasi yang menganut agama)
- Vietnam (oleh Khmer Krom di bagian selatan dan tengah Vietnam; dan Tai Dam di bagian utara Vietnam)
- Theravฤda juga baru-baru ini memperoleh popularitas di dunia Barat.
Saat ini, jumlah penganut Theravฤda lebih dari 150 juta di seluruh dunia, dan selama beberapa dekade terakhir ajaran Buddhisme Theravฤda mulai menanamkan akarnya di Barat[250][note 3] dan kebangkitan Buddhisme di India.[251]
Lihat pula
suntingCatatan
sunting- ^ bahasa Sinhala: เถฎเทเถปเทเทเถฏเถบ; bahasa Burma: แแฑแแแซแ; bahasa Thai: เนเธเธฃเธงเธฒเธ; bahasa Khmer: แแแแแถแ, UNGEGN: Thรฉrรดvรฉat [tสฐeหreaสสiษt]; bahasa Lao: เปเบเบฃเบฐเบงเบฒเบ; Munhwaล Korean: ํ ๋ผ๋ฐ๋ค; Pali: ๐ฃ๐๐ญ๐ฏ๐ธ๐ค
- ^ Beberapa penulis juga menyebutnya sebagai Theravฤdan, seperti di sini.
- ^ John Bullit: "Namun, pada abad terakhir, dunia Barat mulai memperhatikan warisan spiritual dan ajaran Kecerahan/Pencerahan yang unik dari Theravฤda. Dalam beberapa dekade terakhir, minat ini meningkat, dengan Sangha monastik dari aliran-aliran dalam Theravฤda mendirikan puluhan wihara di seluruh Eropa dan Amerika Utara.
(In the last century, however, the West has begun to take notice of Theravฤda's unique spiritual legacy and teachings of Awakening. In recent decades, this interest has swelled, with the monastic Sangha from the schools within Theravฤda, establishing dozens of monasteries across Europe and North America.)"
Referensi
sunting- ^ a b Gyatso, Tenzin (2005), Bodhi, Bhikkhu (ed.), In the Buddha's Words: An Anthology of Discourses from the Pali Canon, Somerville, Massachusetts: Wisdom Publications, hlm.ย ix, ISBNย 978-0-86171-491-9.
- ^ a b c Reynolds, Frank E.; Kitagawa, Joseph M.; Nakamura, Hajime; Lopez, Donald S.; Tucci, Giuseppe (2018), "Theravada", britannica.com, Encyclopaedia Britannica,
Theravada (Pali: "Way of the Elders"; Sanskrit, Sthaviravada) emerged as one of the Hinayana (Sanskrit: "Lesser Vehicle") schools, traditionally numbered at 18, of early Buddhism. The Theravadins trace their lineage to the Sthaviravฤda school, one of the two major schools (the Mahasanghika was the other) that supposedly formed in the wake of the Council of Vaishali (now in Bihar state) held some 100 years after the Buddha's death. Employing Pali as their sacred language, the Theravadins preserved their version of the Buddha's teaching in the Tipitaka ("Three Baskets").
- ^ (Inggris) Gethin, Foundations, hlm. 1.
- ^ "Theravฤdin, Theravฤdan, Theravฤdist". Discuss & Discover (dalam bahasa Inggris). 2018-03-07. Diakses tanggal 2024-08-30.
- ^ "Pali word for "Theravada Buddhist" - Dhamma Wheel Buddhist Forum". www.dhammawheel.com. Diakses tanggal 2024-08-30.
- ^ a b Erik Braun (2014), Meditation en masse. How colonialism sparked the global Vipassana movement. Diarsipkan 31 Oktober 2018 di Wayback Machine.
- ^ a b Crosby, Kate (2013), Theravada Buddhism: Continuity, Diversity, and Identity, hlm. 2.
- ^ Gombrich, Richard (2006), Theravada Buddhism: A Social History from Ancient Benares to Modern Colombo, Routledge; 2nd edition, hlm. 37.
- ^ Hay, Jeff (2009). "World Religions" hlm. 189. Greenhaven Publishing LLC.
- ^ Buswell, Robert E (2004). Macmillan Encyclopedia of Buddhism (2004), hlm. 293.
- ^ a b Williams, Paul, Mahayana Buddhism: The Doctrinal Foundations, Routledge, 2008, hlm. 21.
- ^ Access to Insight (2005). "The Paracanonical Pali Texts". Access to Insight. Diakses tanggal 2023-12-10.
- ^ Access to Insight (2005). "Beyond the Tipitaka: A Field Guide to Post-canonical Pali Literature". Access to Insight. Diakses tanggal 2023-10-12.
- ^ Sujato, Bhikkhu (2012). Sects & Sectarianism: The origins of Buddhist schools (PDF). Perth: Santipada. hlm.ย 101. ISBNย 9781921842085. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Keown, Damien (2004). A Dictionary of Buddhism. Oxford: Oxford University Press. ISBNย 9780198605607. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Access to Insight (2005). "What is Theravada Buddhism?". Access to Insight. Diakses tanggal 2023-12-10.
- ^ Prebish, Charles S. (1975), Buddhism โ a modern perspective, University Park: Pennsylvania State University Press, ISBNย 0271011858, OCLCย 1103133
- ^ Skilton, Andrew (2004). A Concise History of Buddhism, hlm. 49, 64.
- ^ Cousins, Lance (2001). "On the Vibhajjavฤdins". Diarsipkan 11 April 2019 di Wayback Machine. Buddhist Studies Review 18 (2), 131โ182.
- ^ Skilton, Andrew (2004), A Concise History of Buddhism, Windhorse Publications, ISBN 978-0904766929, hlm. 66-67.
- ^ Berkwitz, Stephen C. (2012). South Asian Buddhism: A Survey, Routledge, hlm. 44-45.
- ^ a b c Tambiah, Stanley Jeyaraja, The Buddhist Saints of the Forest and the Cult of Amulets (Cambridge Studies in Social and Cultural Anthropology), 1984, hlm. 53, 58.
- ^ Mahavamsa: The great chronicle of Ceylon tr. Wilhelm Geiger. Pali Text Society, 1912, hlm. 82, 86.
- ^ De Silva, K. M. (2005), hlm. 9-12.
- ^ Gombrich, Richard (2006), Theravada Buddhism, a social history from Ancient Benares to Modern Colombo, hlm. 152. Routledge.
- ^ Bandaranayake, S.D. Sinhalese Monastic Architecture: The Vihรกras of Anurรกdhapura, hlm. 25.
- ^ Stadtner, Donald M. (2011). Sacred Sites of Burma: Myth and Folklore in an Evolving Spiritual Realm, hlm. 216. Bangkok: 2011. ISBN 978-974-9863-60-2.
- ^ Warder, A.K. Indian Buddhism. 2000. hlm. 280.
- ^ Hirakawa, Akira; Groner, Paul (translator) (2007). A History of Indian Buddhism: From ลฤkyamuni to Early Mahฤyฤna. hlm. 121-124.
- ^ De Silva, K. M. (2005), hlm. 63.
- ^ De Silva, K. M. (1981), hlm. 73.
- ^ Hirakawa, Akira; Groner, Paul (1993), A History of Indian Buddhism: From ลฤkyamuni to Early Mahฤyฤna, Motilal Banarsidass, hlm.ย 126, ISBNย 978-81-208-0955-0
- ^ Skilling, Peter. The Advent of Theravada Buddhism to Mainland South-east Asia, Journal of the International Association of Buddhist Studies. Volume 20, Number 1, Summer 1997.
- ^ Professor Janice Stargardt, Historical Geography of Burma: Creation of enduring patterns in the Pyu period, IIAS Newsletter Online, No 25, Theme Burmese Heritage.
- ^ Frasch, Tilman. "The Theravaada Buddhist Ecumene in the Fifteenth Century: Intellectual Foundations and Material Representations" in Buddhism Across Asia, Networks of Material, Intellectual and Cultural Exchange, Volume 1 โ Institute of Southeast Asian Studies (2014), hlm. 347.
- ^ Sujato, Bhante (2012), Sects & Sectarianism: The Origins of Buddhist Schools, Santipada, hlm.ย 72, ISBNย 978-1921842085
- ^ Gombrich (2006), hlm. 3.
- ^ Lieberman, Victor B (2003). Strange Parallels: Southeast Asia in Global Context, c. 800โ1830, Volume 1: Integration on the Mainland. Cambridge University Press. hlm. 115โ116. ISBN 978-0-521-80496-7.
- ^ Patit Paban Mishra (2010). The History of Thailand, hlm. 37-38. Greenwood History of Modern Nations Series.
- ^ Yoneo Ishii (1986). Sangha, State, and Society: Thai Buddhism in History, hlm. 60. University of Hawaii Press.
- ^ Harvey (1925), hlm. 172โ173.
- ^ Leider, Jacques P. Text, Lineage and Tradition in Burma. The Struggle for Norms and Religious Legitimacy Under King Bodawphaya (1782-1819). The Journal of Burma Studies Volume 9, 2004, hlm. 95-99.
- ^ Jermsawatdi, Promsak (1979). Thai Art with Indian Influences, hlm. 33. Abhinav Publications.
- ^ Evans, Grant (2002). A Short History of Laos: The Land in Between, hlm. 15-16. Allen & Unwin.
- ^ Harris, Ian (2008). Cambodian Buddhism: History and Practice, hlm. 35-36. University of Hawaii Press.
- ^ David L. McMahan (2008). The Making of Buddhist Modernism. Oxford University Press. hlm. 5โ7, 32โ33, 43โ52. ISBN 978-0-19-988478-0.
- ^ Stanley Jeyaraja Tambiah, Buddhism Betrayed? The University of Chicago Press, 1992, hlm. 35โ36.
- ^ Stanley Jeyaraja Tambiah, Buddhism Betrayed? The University of Chicago Press, 1992, hlm. 63โ64.
- ^ Kemper, Steven (2015) Rescued from the Nation: Anagarika Dharmapala and the Buddhist World, hlm. 6. University of Chicago Press.
- ^ De Silva, K. M. (1981), hlm. 341.
- ^ Braun, Erik, The Many Lives of Insight: The Abhidhamma and transformations in Theravada meditation, Harvard Divinity School, diakses tanggal 1 April 2023.
- ^ Yoneo Ishii (1986). Sangha, State, and Society: Thai Buddhism in History, hlm. 69. University of Hawaii Press.
- ^ Patit Paban Mishra (2010). The History of Thailand, hlm. 77. Greenwood History of Modern Nations Series.
- ^ Jermsawatdi, Promsak (1979). Thai Art with Indian Influences, hlm. 38-39. Abhinav Publications.
- ^ Yoneo Ishii (1986). Sangha, State, and Society: Thai Buddhism in History, hlm. 156. University of Hawaii Press.
- ^ Yoneo Ishii (1986). Sangha, State, and Society: Thai Buddhism in History, hlm. 76. University of Hawaii Press.
- ^ Tambiah, Stanley Jeyaraja (1984). The Buddhist Saints of the Forest and the Cult of Amulets, hlm. 84-88. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-27787-7.
- ^ Ladwig, Patrice (2017). Contemporary Lao Buddhism. Ruptured histories. In: Jerryson, Michael (ed.). The Oxford Encyclopedia of Contemporary Buddhism, New York: Oxford University Press. hlm. 274-296.
- ^ Harris, Ian (August 2001), "Sangha Groupings in Cambodia", Buddhist Studies Review, UK Association for Buddhist Studies, 18 (I): 73โ106.
- ^ Morev, L. (1998). "Religion, state and society in contemporary Laos" in "Religion, State and Society" 26:1, hlm. 31โ38.
- ^ LeVine, Sarah; Gellner, David N. (2009). Rebuilding Buddhism: The Theravada Movement in Twentieth-Century Nepal, hlm. 37, 48, 50. Harvard University Press.
- ^ Ven. BD Dipananda (2013). The Revival of Buddhism in Indo-Bangla Territory: A New Perspective. Diarsipkan 17 Januari 2021 di Wayback Machine. Buddhistdoor International.
- ^ Jerryson, Michael K. (ed.) The Oxford Handbook of Contemporary Buddhism, hlm. 41.
- ^ Ahir, D.C. (1991), Buddhism in Modern India, Satguru, ISBNย 81-7030-254-4
- ^ Wowor, Cornelis. "Awal Sangha Theravada Indonesia". Samaggi Phala. Diakses tanggal 2024-02-18.
- ^ "TBCM". Theravada Buddhist Council of Malaysia (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2024-09-13.
- ^ Huynh Kim Lan (2015). Theravฤda Buddhism in Vietnam. Diarsipkan 24 September 2021 di Wayback Machine. Proceedings of 10th National Conference on Buddhist Studies of Faculty of Humanities and Social Sciences, University of Sri Jayewardenepura, Nugegoda, 73.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 1.
- ^ Norman, Kenneth Roy (1983). Pali Literature. Wiesbaden: Otto Harrassowitz. hlm. 2โ3. ISBN 3-447-02285-X.
- ^ Harvey, Introduction to Buddhism, Cambridge University Press, 1990, hlm. 3.
- ^ Collins, Steven. "What Is Literature in Pali?" Literary Cultures in History: Reconstructions from South Asia, edited by Sheldon Pollock, University of California Press, 2003, hlm. 649โ688. JSTOR, www.jstor.org/stable/10.1525/j.ctt1ppqxk.19. Diakses 6 Mei 2020.
- ^ a b Skilling, Peter. "Reflections on the Pali Literature of Siam". From Birch Bark to Digital Data: Recent Advances in Buddhist Manuscript Research: Papers Presented at the Conference Indic Buddhist Manuscripts: The State of the Field. Stanford, 15โ19 Juni 2009, disunting oleh Paul Harrison and Jens-Uwe Hartmann, 1st ed., Austrian Academy of Sciences Press, Wien, 2014, hlm. 347โ366. JSTOR, https://www.jstor.org/stable/j.ctt1vw0q4q.25. Diakses 7 Mei 2020.
- ^ Anฤlayo. "The Historical Value of the Pฤli Discourses". Indo-Iranian Journal, vol. 55, no. 3, 2012, hlm. 223โ253. JSTOR, https://www.jstor.org/stable/24665100. Diakses 7 Mei 2020.
- ^ a b Wynne, Alexander. Did the Buddha exist? JOCBS. 2019(16): 98โ148.
- ^ Warder, A. K. (2001), Introduction to Pali (Third Edition), hlm. 382. Pali Text Society.
- ^ Jermsawatdi, Promsak (1979). Thai Art with Indian Influences, hlm. 40. Abhinav Publications.
- ^ Marston, John (2004). History, Buddhism, and New Religious Movements in Cambodia, hlm. 77. University of Hawaii Press.
- ^ Damien Keown (2004). A Dictionary of Buddhism. Oxford University Press. hlm. 2. ISBN 978-0-19-157917-2.
- ^ Ronkin, Noa (2005). Early Buddhist Metaphysics. New York: Routledge. hlm. 91-2. ISBN 0-415-34519-7.
- ^ Abeynayake, Oliver (1984). A textual and Historical Analysis of the Khuddaka Nikaya, Colombo, hlm. 113.
- ^ Tse-Fu Kuan. Mindfulness in similes in Early Buddhist literature dalam Edo Shonin, William Van Gordon, Nirbhay N. Singh. Buddhist Foundations of Mindfulness, hlm. 267.
- ^ Rupert Gethin (1998), The Foundations of Buddhism, OUP Oxford, hlm. 42-43.
- ^ Peter Harvey, The Selfless Mind. Curzon Press, 1995, hlm. 9.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 175.
- ^ Buswell Jr., Robert E.; Lopez Jr., Donald S. (2013). The Princeton Dictionary of Buddhism. hlm. 667. Princeton University Press.
- ^ Warder 2000, hlm.ย 217.
- ^ Warder 2000, hlm.ย 288.
- ^ Ronkin, Noa, Early Buddhist Metaphysics: The Making of a Philosophical Tradition (Routledge curzon Critical Studies in Buddhism) 2011, hlm. 5.
- ^ James P. McDermott, Encyclopedia of Indian Philosophies, Volume VII: Abhidharma Buddhism to 150 A.D. hlm. 80.
- ^ "Abhidhamma Pitaka." Encyclopรฆdia Britannica. Ultimate Reference Suite. Chicago: Encyclopรฆdia Britannica, 2008.
- ^ Ronkin, Noa, Early Buddhist Metaphysics: The Making of a Philosophical Tradition (Routledge curzon Critical Studies in Buddhism) 2011, hlm. 27โ30.
- ^ Frauwallner, Erich. Kidd, Sophie Francis (translator). Steinkellner, Ernst (editor). Studies in Abhidharma Literature and the Origins of Buddhist Philosophical Systems. SUNY Press. hlm. 18, 100.
- ^ a b c Crosby, Kate (2013), hlm. 86.
- ^ Gombrich, Theravada Buddhism, a social history from Ancient Benares to Modern Colombo, Routledge; 2 edition (2006), hlm. 154.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 109.
- ^ Macmillan Encyclopedia of Buddhism, 2004 (Volume Two), hlm. 756.
- ^ Baruah, Bibhuti. Buddhist Sects and Sectarianism. 2008. p. 137
- ^ "How do monks navigate the peculiar relationship Avalokiteลvara has to Theravada Buddhism?". Dhamma Wheel. Diakses tanggal 2025-02-03.
- ^ Bodhi, In the Buddha's words, hlm. 13.
- ^ See, for example, the content of introductory texts from Theravada authors such as Rahula, Walpola (1974). What the Buddha Taught, and Bodhi, Bhikkhu (2005). In the Buddha's Words: An Anthology of Discourses from the Pali Canon.
- ^ Tola, Fernando. Dragonetti, Carmen (2009). "Brahamanism and Buddhism: Two Antithetic Conceptions of Society in Ancient India." hlm. 26.
- ^ Jayatilleke, K.N. (2000). The Message of the Buddha. hlm. 117-122. Buddhist Publication Society.
- ^ Thomas William Rhys Davids; William Stede (1921), Pali-English Dictionary, Motilal Banarsidass, hlm.ย 355, Artikel tentang Nicca, ISBNย 978-81-208-1144-7 .
- ^ Richard Gombrich (2006), Theravada Buddhism, Routledge, hlm.ย 47, ISBNย 978-1-134-90352-8, Mengutip: "All phenomenal existence [in Buddhism] is said to have three interlocking characteristics: impermanence, suffering and lack of soul or essence."
- ^ Siderits, Mark, "Buddha", The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Spring 2015 Edition), Edward N. Zalta (ed.), [1] Diarsipkan 13 Maret 2021 di Wayback Machine.
- ^ Rahula, Walpola (1974). What the Buddha Taught, hlm. 16-29.
- ^ Gombrich, Richard F. (2006). Theravada Buddhism: A Social History from Ancient Benares to Modern Colombo, hlm. 63. Routledge.
- ^ รฤแนamoli, Bhikkhu (trans.) & Bodhi, Bhikkhu (ed.) (2001). The Middle-Length Discourses of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikฤya, hlm. 1129โ36 Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-072-X.
- ^ James P. McDermott. Encyclopedia of Indian Philosophies, Volume VII: Abhidharma Buddhism to 150 A.D, lihat entri tentang kitab Kathavatthu.
- ^ Andre Bareau, Les sectes bouddhiques du Petit Vรฉhicule (Ecole Fransaise d'Extreme-Orient, 1955), Chapitre I 'Les Mahasanghika', hlm. 212-240.
- ^ Wayman, Alex (1984). Buddhist Insight: Essays, hlm. 252, Motilal Banarsidass Publ.
- ^ Bhikkhu Sujato (2008). Rebirth and the in-between state in early Buddhism. Diarsipkan 8 November 2020 di Wayback Machine.
- ^ Langer, Rita (2007). Buddhist Rituals of Death and Rebirth: Contemporary Sri Lankan Practice and Its Origins, hlm. 83-84. Routledge.
- ^ Thรญch Thiแปn Chรขu (1984), The Literature of the Personalists, hlm. 201-202.
- ^ Hwang, Soonil (2006), Metaphor and Literalism in Buddhism: The Doctrinal History of Nirvana, hlm. 68. Routledge.
- ^ Hwang, Soonil (2006), Metaphor and Literalism in Buddhism: The Doctrinal History of Nirvana, hlm. 62, 75, 105. Routledge.
- ^ Hwang, Soonil (2006), Metaphor and Literalism in Buddhism: The Doctrinal History of Nirvana, hlm. 72. Routledge.
- ^ James P. McDermott, Encyclopedia of Indian Philosophies, Volume VII: Abhidharma Buddhism to 150 A.D. hlm. 95.
- ^ James McDermott (1980), Wendy Doniger (ed.), Karma and Rebirth in Classical Indian Traditions, University of California Press, hlm.ย 168โ170, ISBNย 978-0-520-03923-0
- ^ Bruce Mathews (1986), Ronald Wesley Neufeldt (ed.), Karma and Rebirth: Post Classical Developments, State University of New York Press, hlm.ย 123โ126, ISBNย 978-0-87395-990-2
- ^ James P. McDermott, Kathavatthu: Encyclopedia of Indian Philosophies, Volume VII: Abhidharma Buddhism to 150 A.D.
- ^ Skilling, Peter. "Scriptural Authenticity and the ลrฤvaka Schools: An Essay towards an Indian Perspective." The Eastern Buddhist, vol. 41, no. 2, 2010, hlm. 1โ47. JSTOR, https://www.jstor.org/stable/44362554. Diakses 25 Februari 2020.
- ^ Hwang, Soonil (2006), Metaphor and Literalism in Buddhism: The Doctrinal History of Nirvana, hlm. 67. Routledge.
- ^ Samuels, Jeffrey (Juli 1997), "The Bodhisattva Ideal in Theravฤda Buddhist Theory and Practice: A Reevaluation of the Bodhisattva-ลrฤvaka Opposition", Philosophy East and West, 47 (3), University of Hawai'i Press: 399โ415, doi:10.2307/1399912, JSTORย 1399912.
- ^ Drewes, David, Mahฤyฤna Sลซtras and Opening of the Bodhisattva Path, Paper presented at the XVIII the IABS Congress, Toronto 2017, Updated 2019.
- ^ a b c Suwanda H. J. Sugunasiri. The Whole Body, Not Heart, as 'Seat of Consciousness': The Buddha's View. Vol. 45, No. 3 (Jul. 1995), hlm. 409-430.
- ^ a b Jayasuriya, W. F. (1963) The Psychology and Philosophy of Buddhism. (Colombo, YMBA Press), Appendix A, hlm. 288-292.
- ^ Warder 2000, hlm.ย 283.
- ^ Berkwitz, Stephen C. (2010). South Asian Buddhism: A Survey, hlm. 58. Routledge.
- ^ Ronkin, Noa (2005). Early Buddhist Metaphysics: The Making of a Philosophical Tradition, hlm. 42. Taylor & Francis.
- ^ a b Y. Karunadasa (1996), The Dhamma Theory Philosophical Cornerstone of the Abhidhamma. Diarsipkan 25 Februari 2021 di Wayback Machine. Buddhist Publication Society Kandy, Sri Lanka.
- ^ Ronkin, Noa, Early Buddhist Metaphysics: The Making of a Philosophical Tradition (Routledge curzon Critical Studies in Buddhism) 2011, hlm. 2.
- ^ Potter, Buswell, Jaini; Encyclopedia of Indian Philosophies Volume VII Abhidharma Buddhism to 150 AD, hlm. 121.
- ^ Karunadasa, Y (2015). Buddhist Analysis of Matter, hlm. 14.
- ^ Ronkin, Noa (2005). Early Buddhist Metaphysics: The Making of a Philosophical Tradition, hlm. 41. Taylor & Francis.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 182.
- ^ Ronkin, Noa; Early Buddhist Metaphysics, hlm. 92.
- ^ Ronkin, Noa; Early Buddhist Metaphysics, hlm. 77.
- ^ Ronkin, Noa (2005). Early Buddhist Metaphysics: The Making of a Philosophical Tradition, hlm. 118. Taylor & Francis.
- ^ Karunadasa, Y. Buddhist Analysis of Matter, hlm. 14, 172
- ^ a b Ronkin, Noa; Early Buddhist Metaphysics, hlm. 47.
- ^ a b Crosby, Kate (2013), hlm. 187.
- ^ a b Sunthorn Na-Rangsi (2011). The Four Planes of Existence in Theravada Buddhism. Diarsipkan 6 Juli 2021 di Wayback Machine. The Wheel Publication No. 462. Buddhist Publication Society.
- ^ a b c Gethin, Rupert. Cosmology and Meditation: From the Aggaรฑรฑa-Sutta to the Mahฤyฤna, in "History of Religions" Vol. 36, No. 3 (Feb. 1997), hlm. 183-217. The University of Chicago.
- ^ Crosby (2013), hlm. 15-16.
- ^ Buswell Jr., Robert E.; Lopez Jr., Donald S. (2013), The Princeton Dictionary of Buddhism, hlm. 589-590. Princeton University, ISBN 978-1-4008-4805-8
- ^ Lohicca Sutta, Access to Insight, diakses tanggal 27 Maret 2009
- ^ a b c d e Henepola Gunaratana, The Jhanas in Theravฤda Buddhist Meditation. Diarsipkan 9 Juli 2018 di Wayback Machine.
- ^ S Thanissaro Bhikkhu, Into the Stream A Study Guide on the First Stage of Awakening. Diarsipkan 24 Maret 2019 di Wayback Machine.
- ^ "Opening the Dhamma Eye", www.ajahnchah.org.
- ^ a b Shaw, Sarah, Buddhist Meditation Practices in the West (PDF), Department of Continuing Education, Oxford University, hlm.ย 8, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 4 Juli 2011, diakses tanggal 27 Maret 2009
- ^ Crosby (2013), hlm. 16.
- ^ Crosby (2013), hlm. 22-23.
- ^ Crosby (2013), hlm. 23.
- ^ Crosby (2013), hlm. 34-35.
- ^ Crosby (2013), hlm. 35.
- ^ a b Drewes, David, Mahฤyฤna Sลซtras and Opening of the Bodhisattva Path. Diarsipkan 5 Maret 2021 di Wayback Machine. Tulisan dipresentasikan di the XVIII the IABS Congress, Toronto 2017, Diperbarui 2019.
- ^ a b Swearer, Donald K. The Buddhist World of Southeast Asia: Second Edition, hlm. 164.
- ^ McMahan, David L. 2008. The Making of Buddhist Modernism. Oxford: Oxford University Press. hlm. 91โ97.
- ^ S. Payulpitack (1991), Buddhadasa and His Interpretation of Buddhism.
- ^ Kalupahana, David J. (1994), A history of Buddhist philosophy, hlm. 206-216. Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited.
- ^ Sujato, Bhante (2012), A History of Mindfulness, Santipada, hlm. 332, ISBN 9781921842108
- ^ "Magga-vibhanga Sutta: An Analysis of the Path", www.accesstoinsight.org
- ^ Sฤซla di The Pali Text Society's Pali-English dictionary, Dsal.uchicago.edu, diarsipkan dari asli tanggal 8 Juli 2012, diakses tanggal 17 Agustus 2012
- ^ Samฤdhi di The Pali Text Society's Pali-English dictionary, Dsal.uchicago.edu, diarsipkan dari asli tanggal 9 Juli 2012, diakses tanggal 17 Agustus 2012
- ^ Paรฑรฑฤ di The Pali Text Society's Pali-English dictionary, Dsal.uchicago.edu, diarsipkan dari asli tanggal 8 Juli 2012, diakses tanggal 17 August 2012
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 113.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 116.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 118โ119.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 138.
- ^ The Pali Text Society's Pali-English dictionary, Dsal.uchicago.edu, diarsipkan dari asli tanggal 11 Juli 2012, diakses tanggal 17 Agustus 2012
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 139โ140.
- ^ a b c Vajiranฤแนa Mahathera (author), Allan R. Bomhard (editor) (20100, Buddhist Meditation in Theory and Practice, hlm. 270.
- ^ Henepola Gunaratana, The Jhanas in Theravada Buddhist Meditation, 1995.
- ^ A Sketch of the Buddha's Life, Access to Insight, diakses tanggal 26 Maret 2009.
- ^ Polak 2011.
- ^ Nyanaponika, The Heart of Buddhist meditation, Buddhist publication Society, 2005, hlm. 40.
- ^ Fronsdal 1998.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 149.
- ^ Wilson 2014, hlm.ย 54โ55.
- ^ Mahฤsi Sayฤdaw, Manual of Insight, Chapter 5.
- ^ Majjhima Nikaya, Sutta No. 118, Bagian No. 2, diterjemahkan dari bahasa Pali.
- ^ Satipaแนญแนญhฤna Sutta.
- ^ a b Mahasi Sayadaw, Practical Vipassana Instructions.
- ^ Bhante Bodhidhamma, Vipassana as taught by The Mahasi Sayadaw of Burma. Diarsipkan 24 Maret 2019 di Wayback Machine.
- ^ a b The Art of Living: Vipassana Meditation, Dhamma.org, diakses tanggal 30 Mei 2013
- ^ Mahasi Sayadaw, Practical Vipassana Instructions, hlm. 22โ27.
- ^ PVI, hlm. 28.
- ^ Nyanaponika 1998.
- ^ Gombrich 1997, hlm.ย 133.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 156.
- ^ Buddhaghosa & Nanamoli (1999), hlm. 90โ91 (II, 27โ28, "Development in Brief"), 110ff. (dimulai dengan III, 104, "enumeration"). Hal ini juga dapat ditemukan ditaburkan sebelumnya dalam teks ini seperti pada hlm. 18 (I, 39, v. 2) and hlm. 39 (I, 107). Sepanjang Nanamoli menerjemahkan istilah ini sebagai "meditation subject."
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 141.
- ^ a b c Crosby, Kate (2013), hlm. 145.
- ^ Crosby et al. The Sutta on Understanding Death in the Transmission of Bora ฬn Meditation From Siam to the Kandyan Court. J Indian Philos (2012) 40:177โ198 DOI:10.1007/s10781-011-9151-y
- ^ Andrew Skilton; Phibul ChoomPolPaisal. The Ancient Theravฤda Meditation System, Borฤn Kammaแนญแนญhฤna: ฤnฤpฤnasati or 'Mindfulness of The Breath' in Kammatthan Majjima Baeb Lamdub. Buddhist Studies Review 0256-2897.
- ^ a b Crosby, Kate (2013), Theravada Buddhism: Continuity, Diversity, and Identity, John Wiley & Sons, hlm. 157.
- ^ a b Buswell 2004, hlm.ย 890.
- ^ a b McMahan 2008, hlm.ย 189.
- ^ Buswell 2004, hlm.ย 889.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 160, 166.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 146.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 164.
- ^ a b Crosby 2013, hlm.ย 147.
- ^ Sharf 1995.
- ^ Crosby, Kate (2013), hlm. 142.
- ^ a b c d e Bhikkhu Khantipalo, Lay Buddhist Practice The Shrine Room, Uposatha Day, Rains Residence. Diarsipkan 15 Mei 2019 di Wayback Machine.
- ^ "Glossary of Buddhism". Buddhist Art and the Trade Routes. Asia Society. 2003.
- ^ Epstein, Ron (1999โ02). "Clearing Up Some Misconceptions about Buddhism". Vajra Bodhi Sea: A Monthly Journal of Orthodox Buddhism (Dharma Realm Buddhist Association): 41โ43.
- ^ Epstein, Ron (1999), "Clearing Up Some Misconceptions about Buddhism", Vajra Bodhi Sea: A Monthly Journal of Orthodox Buddhism: 41โ43
- ^ Bhikkhu Bodhi, In the Buddha's Words, Wisdom Publications 2005; halaman 376
- ^ a b c Swearer, Donald K. The Buddhist World of Southeast Asia: Second Edition, hlm. 178.
- ^ Swearer, Donald K. The Buddhist World of Southeast Asia: Second Edition, hlm. 187.
- ^ Taylor, J.L. Forest Monks and the Nation-state: An Anthropological and Historical Study, hlm. 12, 15.
- ^ Tambiah, Stanley Jeyaraja, The Buddhist Saints of the Forest and the Cult of Amulets (Cambridge Studies in Social and Cultural Anthropology), 1984, hlm. 55.
- ^ Taylor, J.L. Forest Monks and the Nation-state: An Anthropological and Historical Study, hlm. 12.
- ^ Prapod Assavavirulhakarn, The Ascendency of Theravada Buddhism in Southeast Asia 1990, hlm. 258.
- ^ Taylor, J.L. Forest Monks and the Nation-state: An Anthropological and Historical Study, hlm. 9.
- ^ Taylor, J.L. Forest Monks and the Nation-state: An Anthropological and Historical Study, hlm. 9โ13.
- ^ Taylor, J.L. Forest Monks and the Nation-state: An Anthropological and Historical Study, hlm. 15.
- ^ "About Us", Pa-Auk Tawya.
- ^ Tiyavanich, Kamala, Forest Recollections: Wandering Monks in Twentieth-Century Thailand, hlm. 1.
- ^ Mahinda Deegalle, Popularizing Buddhism: Preaching as Performance in Sri Lanka, State University of New York Press, Albany, 2006.
- ^ Resources on Women's Ordination, Lhamo.tripod.com, diakses tanggal 19 November 2010
- ^ Salgado 2013, hlm.ย 166โ169.
- ^ Kawanami, Hiroko (2007), "The bhikkhunฤซ ordination debate: global aspirations, local concerns, with special emphasis on the views of the monastic community in Myanmar. Kawanami, H. 11/2007 In", Buddhist Studies Review, 24 (2): 226โ244, doi:10.1558/bsrv.v24i2.226
- ^ Sommer, PhD, Jeanne Matthew, Socially Engaged Buddhism in Thailand: Ordination of Thai Women Monks, Warren Wilson College, diarsipkan dari asli tanggal 4 Desember 2008, diakses tanggal 6 Desember 2011.
- ^ Ordained at Last, Thebuddhadharma.com, 28 Februari 2003, diarsipkan dari asli tanggal 6 Februari 2004, diakses tanggal 19 November 2010.
- ^ Rita C. Larivee, SSA (14 Mei 2003), Bhikkhunis: Ordaining Buddhist Women, Nationalcatholicreporter.org, diakses tanggal 19 November 2010
- ^ Thai monks oppose West Australian ordination of Buddhist nuns, Wa.buddhistcouncil.org.au, diarsipkan dari asli tanggal 6 Oktober 2018, diakses tanggal 19 November 2010
- ^ Bhikkhuni Ordination, Dhammasara.org.au, 22 Oktober 2009, diarsipkan dari asli tanggal 19 Februari 2011, diakses tanggal 19 November 2010
- ^ Boorstein, Sylvia (25 Mei 2011), "Ordination of Bhikkhunis in the Theravada Tradition", Huffington Post
- ^ Bhikkhuni Happenings โ Alliance for Bhikkhunis. Diarsipkan 29 Juni 2015 di Wayback Machine. Bhikkhuni.net. Diakses 28 Juni 2015.
- ^ a b "First Theravada Ordination of Bhikkhunis in Indonesia After a Thousand Years" (PDF). www.bhikkhuni.net. Diakses tanggal 30 September 2023.
- ^ Jayasฤro, Ajahn (2022-09-13). "The Mahฤnikฤya and Dhammayut Nikฤya". Abhyagiri. Diakses tanggal 2024-02-18.
- ^ a b Gutter, Peter; B.K., Sen; Sarkin, Jeremy; Htoo, Aung; Maung Win, Khin; Maung, Win (2001). ""Legal Issues on Burma Journal" No. 8". "LawKa Pala - Legal Journal on Burma" (English). 8: 39.
- ^ Burma Library, author. "Law Relating to the Sangha Organization: State LORC Law No. 20/90 of Oct. 31, 1990" (pdf). Burma Library.
- ^ Maung, Sd./ Saw. "The State Law and Order Restoration Council Law No.20/90, The Law Relation to the Sangha Organization". Myanmar Law Information System. Diarsipkan dari asli tanggal 07-02-2024. Diakses tanggal 2024-02-07.
- ^ Schober, Juliane (2009). "The Theravฤda Buddhist Engagement with Modernity in Southeast Asia: Whither the Social Paradigm of the Galactic Polity?". Journal of Southeast Asian Studies (dalam bahasa Inggris). 26 (2): 307โ325. doi:10.1017/S0022463400007128. ISSNย 1474-0680. S2CIDย 146408897 โ via Cambridge Core.
- ^ Love, Thomas T. (1965). "Theravฤda Buddhism: Ethical Theory and Practice". Journal of Bible and Religion. 33 (4): 303โ313. ISSNย 0885-2758. JSTORย 1459491.
- ^ Malalasekera, G. P. (1964). "The Status of the Individual in Theravฤda Buddhism". Philosophy East and West. 14 (2): 145โ156. doi:10.2307/1396982. ISSNย 0031-8221. JSTORย 1396982.
- ^ Dhiman, Satinder K. (2020-09-08). The Routledge Companion to Mindfulness at Work (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBNย 978-0-429-53486-7.
- ^ Salinan arsip (PDF), diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 16 Juli 2011, diakses tanggal 16 Juli 2011
- ^ The World Factbook, Cia.gov, diakses tanggal 17 August 2012
- ^ a b c d e Gallup WorldView Diarsipkan 7 April 2020 di Wayback Machine. Diakses 7 September 2012.
- ^ Diakses 8 Juli 2010. (PDF), diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 24 Oktober 2007
- ^ The World Factbook, Cia.gov, diakses tanggal 17 Agustus 2012
- ^ a b CIA โ The World Factbook, Cia.gov, diakses tanggal 17 Agustus 2012
- ^ a b CIA โ The World Factbook, Cia.gov, diakses tanggal 17 Agustus 2012
- ^ Bullitt, John, "What is Theravฤda Buddhism?", BuddhaNet, diakses tanggal 15 Agustus 2010
- ^ Adherents.com โ Lihat sitasi-sitasi dengan 'Theravฤda Buddhism โ World'.
Daftar pustaka
sunting- Braun, Eric (2018), The Insight Revolution, Lion's Roar
- Buswell, Robert, ed. (2004), Encyclopedia of Buddhism, MacMillan
- Crosby, Kate (2013), Theravada Buddhism: Continuity, Diversity, and Identity, Wiley-Blackwell
- Dutt, Nalinaksha (1998), Buddhist Sects in India, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited
- Fronsdal, Gil (1998), Insight Meditation in the United States: Life, Liberty, and the Pursuit of Happiness, diakses tanggal 8 Januari 2017
- Gombrich, Richard F. (1996), Theravฤda Buddhism. A Social History from Ancient Benares to Modern Colombo, London and New York: Routledge
- Gombrich, Richard F. (1997), How Buddhism Began. The Conditioned Genesis of the Early Teachings, New Delhi: Munshiram Manoharlal Publishers Pvt. Ltd.
- Gomez, Luis O. (1991), Purifying Gold: The Metaphor of Effort and Intuition in Buddhist Thought and Practice. In: Peter N. Gregory (editor)(1991), Sudden and Gradual. Approaches to Enlightenment in Chinese Thought, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited
- Gunaratana, Henepola (1994), The Path of Serenity and Insight, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited
- Kalupahana, David J. (1994), A history of Buddhist philosophy, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited
- McMahan, David L. (2008), The Making of Buddhist Modernism, Oxford University Press, ISBNย 9780195183276
- Nyanaponika (1998), Het hart van boeddhistische meditatie (The heart of Buddhist Meditation), Asoka
- Polak, Grzegorz (2011), Reexamining Jhana: Towards a Critical Reconstruction of Early Buddhist Soteriology, UMCS
- Salgado, Nirmala S. (November 2013), Buddhist Nuns and Gendered Practice: In Search of the Female Renunciant, OUP, ISBNย 978-0-19-976001-5
- Sharf, Robert H. (Oktober 1995), "Buddhist Modernism and the Rhetoric of Meditative Experience" (PDF), Numen, 42 (3), Leiden: Brill Publishers: 228โ283, doi:10.1163/1568527952598549, hdl:2027.42/43810, ISSNย 0029-5973, diakses tanggal 20 Januari 2016 โ via University of California, Berkeley (dari penulis situs web Dept. of Buddhist Studies, UC Berkeley)
- Tiyavanich, K. (1997), Forest Recollections: Wandering Monks in Twentieth-Century Thailand, University of Hawaii Press
- Tuchrello, William P. (n.d.), The Society and Its Environment. (Religion: Historical Background section), Federal Research Division, Library of Congress Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
- Warder, A.K. (2000), Indian Buddhism, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers
- Wilson, Jeff (2014), Mindful America: The Mutual Transformation of Buddhist Meditation and American Culture, Oxford University Press
Pranala luar
sunting- Access to Insight โ Bacaan tentang Theravฤda Buddhism
- The Bodhisattva Ideal in Theravฤda Theory and Practice oleh Jeffrey Samuels
- What are the teachings of Theravada Buddhism? dalam Seri Buddhism for Beginners Tricycle








