
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Dalam teks-teks tertua Buddhisme, jhāna (Pāli) atau dhyāna (Sanskerta: ध्यान) adalah komponen dari pengembangan batin (bhāvanā), yang umumnya diterjemahkan sebagai "penyerapan meditatif" atau "absorpsi meditatif," untuk menarik pikiran dari respons otomatis terhadap kesan-kesan indra dan "membakar habis" kotoran batin, yang mengarah pada "kondisi ketidakberpihakan-batin dan perhatian-penuh yang murni (upekkhā-sati-parisuddhi)."[1] Jhāna mungkin merupakan praktik inti dari Buddhisme prasektarian, dikombinasikan dengan beberapa praktik terkait yang secara bersama-sama mengarah pada perhatian-penuh (bahasa Pali: sati; bahasa Inggris: mindfulness) dan pelepasan yang murni.[2][3][4]
Dalam tradisi komentar yang muncul belakangan—yang masih bertahan dalam Theravāda kontemporer—jhāna pada konteks tertentu disamakan dengan "konsentrasi" (samādhi), yakni suatu kondisi penyerapan terpusat yang diiringi oleh penurunan penyadaran terhadap lingkungan sekitar. Dalam Gerakan Vipassanā kontemporer yang berbasis Theravāda, kondisi pikiran yang terserap ini dianggap tidak perlu dan bahkan tidak bermanfaat untuk tahap pencerahan pertama (sotāpanna), yang harus dicapai melalui perhatian-penuh pada tubuh dan vipassanā (pandangan-terang ke dalam ketidakkekalan). Sejak tahun 1980-an, para cendekiawan dan praktisi mulai mempertanyakan posisi-posisi ini, mengadvokasi pemahaman dan pendekatan yang lebih komprehensif dan terintegrasi, berdasarkan deskripsi tertua tentang jhāna di dalam sutta-sutta.[5][6][7][8]
Dalam tradisi Buddhis Chan dan Zen (yang penamaannya masing-masing merupakan pelafalan bahasa Tionghoa dan Jepang untuk dhyāna/jhāna), seperti halnya dalam Theravāda dan Tiantai, ānāpānasati (perhatian penuh pada pernapasan), yang diturunkan dalam tradisi Buddhis sebagai sarana untuk mengembangkan dhyāna, merupakan praktik sentral. Dalam tradisi Chan/Zen, praktik ini pada dasarnya berlandaskan pada teknik meditasi Sarvāstivāda yang diturunkan sejak awal Masehi.
Etimologi
suntingJhāna (Pali), dhyāna (Sanskerta), berasal dari akar bahasa Proto-Indo-Eropa *√dheie-, "melihat, memandang", "menunjukkan".[9][10] Berkembang menjadi akar kata Sanskerta √dhī dan n. dhī,[10] yang pada lapisan teks terawal dari Weda merujuk pada "visi imajinatif (penglihatan batiniah)" dan dikaitkan dengan dewi Saraswati dengan kekuatan pengetahuan, kebijaksanaan, dan kefasihan puitis.[11][12] Istilah ini berkembang menjadi varian √dhyā, "merenung, bermeditasi, berpikir",[13][10] yang darinya dhyāna diturunkan.[11]
Menurut Buddhaghosa (penafsir Theravāda abad ke-5 M), istilah jhāna (Skt. dhyāna) berasal dari kata kerja jhāyati, "berpikir atau bermeditasi", sementara kata kerja jhāpeti, "membakar habis", menjelaskan fungsinya, yaitu membakar keadaan-keadaan yang berlawanan, membakar atau menghancurkan "kotoran-kotoran batin yang mencegah [...] pengembangan ketenang-seimbangan (upekkhā) dan pandangan-terang (vipassanā)."[14][note 1]
Umumnya diterjemahkan sebagai penyerapan/absorpsi meditatif (atau "meditasi"), dan sering disamakan dengan "konsentrasi", meskipun meditasi dapat merujuk pada skala latihan yang lebih luas untuk bhāvanā, pengembangan batin. Jhāna juga bisa berarti "perhatian, pemikiran, refleksi".[17]
Zoroastrianisme di Persia, yang memiliki akar bahasa dan budaya Indo-Iran, mengembangkan praktik serupa yang disebut daena.
Tahap-tahap jhāna
sunting
Tripitaka Pali mendeskripsikan empat kondisi bertahap dari jhāna yang disebut rūpa jhāna ("jhāna bermateri"),[note 2] dan empat pencapaian meditatif tambahan yang disebut arūpa ("tanpa materi/tak berbentuk").
Rangkaian praktik terpadu
suntingMeditasi dan perenungan membentuk sebuah rangkaian praktik terpadu dengan beberapa praktik lainnya, yang direalisasikan sepenuhnya saat kemunculan jhāna.[2][4] Sebagaimana dideskripsikan dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan, pandangan benar mengarah pada peninggalan kehidupan berumah tangga dan menjadi seorang biksu pengembara. Sīla (moralitas) mencakup aturan-aturan untuk perilaku yang benar. Usaha benar, atau empat usaha benar, yang di dalamnya sudah mengandung elemen-elemen jhāna,[18][note 3] bertujuan untuk mencegah timbulnya kondisi-kondisi yang tidak bajik, dan untuk membangkitkan kondisi-kondisi yang bajik. Ini termasuk indriya saṃvara (pengendalian indra), mengendalikan respons terhadap persepsi indrawi, tidak menyerah pada nafsu dan kebencian melainkan sekadar memperhatikan objek persepsi sebagaimana mereka muncul.[20] Usaha benar dan perhatian-penuh ("mengingat untuk mengamati"[21]), terutama perhatian penuh pada pernapasan, menenangkan kompleks batin-jasmani, melepaskan kondisi-kondisi yang tidak bajik dan pola-pola kebiasaan, serta mendorong pengembangan kondisi-kondisi yang bajik dan respons non-otomatis.[7] Dengan mengikuti langkah-langkah dan praktik-praktik kumulatif ini, pikiran menjadi mantap, hampir secara alami, menuju keseimbangan batin dari jhāna,[22][7][note 4] memperkuat pengembangan kondisi-kondisi yang bajik, yang pada gilirannya semakin memperkuat keseimbangan batin dan perhatian penuh.[7][8]
Rūpa jhāna
sunting| Tabel: Faktor-faktor rūpa jhāna | ||||
| Faktor jhāna (jhānaṅga) | Jhāna pertama |
Jhāna kedua |
Jhāna ketiga |
Jhāna keempat |
|---|---|---|---|---|
| Vitakka (penempatan awal)
|
✓ (vivicceva kāmehi vivicca akusalehi dhammehi) |
✗ (diredakan) |
— | — |
| Vicāra (penempatan sinambung)
| ||||
| Pīti (kegembiraan)
|
✓ (vivekaja) |
✓ (samādhija; ajjhattaṁ sampasādana) |
✗ (dipudarkan) |
— |
| Sukha (kebahagiaan)
|
✓ (kāyena paṭisaṁvedeti) |
✗ (dilampaui; adukkhamasukhaṁ upekkhāsatipārisuddhi) | ||
| Ekaggatā (kemanunggalan,
keterpusatan) |
✓ | ✓ | ✓ | ✓ (satipārisuddhi cittekaggatā) |
| Referensi:
[23][24][25][26] | ||||
Dalam sutta-sutta, jhāna dimasuki ketika seseorang 'duduk bersila dan menegakkan perhatian penuh (sati)'. Menurut tradisi Buddhis, praktik ini dapat didukung oleh ānāpānasati, perhatian penuh pada pernapasan, sebuah praktik meditatif inti yang dapat ditemukan di hampir semua aliran agama Buddha. Kitab Suttapiṭaka dan Āgama mendeskripsikan empat tahap rūpa jhāna. Rūpa merujuk pada alam materi/jasmaniah, dalam pengertian netral, berbeda dengan alam kāma (nafsu, keinginan indrawi) dan alam arūpa (alam tanpa materi).[27] Meskipun ditafsirkan dalam tradisi Theravāda sebagai deskripsi mengenai konsentrasi dan keterpusatan pikiran yang semakin mendalam, pada asalnya jhāna tampaknya mendeskripsikan sebuah perkembangan mulai dari penyelidikan tubuh dan pikiran serta usaha meninggalkan kondisi-kondisi yang tidak bajik, menuju "keseimbangan batin dan perhatian-penuh yang murni,"[28] sebuah pemahaman yang juga dipertahankan dalam Zen dan Dzogchen.[7][28] Deskripsi standar dari jhāna, berikut interpretasi tradisional dan alternatifnya, adalah sebagai berikut:[28][note 5]
- Jhāna pertama:
- Terasing (vivicceva) dari keinginan terhadap kesenangan indrawi, terasing (vivicca) dari kondisi-kondisi yang tidak bajik [lainnya] (akusalehi dhammehi, dhamma yang tidak bajik[29]), seorang biku memasuki dan berdiam di dalam jhāna pertama, yang merupakan pīti ("kegiuran," "kegembiraan") [mental] dan sukha ("kebahagiaan"; juga: 'langgeng', berlawanan dengan 'sementara' (dukkha)) [jasmani] "yang lahir dari viveka" (secara tradisional diartikan "keterasingan"; secara alternatif, "pembedaan" (atas dhamma)[30][note 6]), disertai dengan vitakka-vicāra (secara tradisional, penempatan/penempelan awal dan sinambung/terus-menerus pikiran pada objek meditasi; secara alternatif, penyelidikan awal dan investigasi lanjutan[33][34][35] terhadap dhamma (kotoran batin[36] dan pikiran-pikiran yang bajik[37][note 7]); juga: "pemikiran diskursif"[note 8]).
- Jhāna kedua:
- Sekali lagi, dengan meredanya vitakka-vicāra, seorang biku memasuki dan berdiam dalam jhāna kedua, yang merupakan pīti [mental] dan sukha [jasmani] "yang lahir dari samādhi" (samādhi-ja; tradisional: lahir dari "konsentrasi"; alternatif: "penyadaran [...] yang mengetahui namun tanpa penalaran konseptual,"[45] "membawa latensi atau saṅkhāra yang terpendam ke pandangan yang jelas"[46][note 9]), dan memiliki sampasādana ("keheningan,"[48] "ketenteraman batin"[43][note 10]) serta ekaggatā (penyatuan/kemanunggalan pikiran,[48] kesadaran) tanpa vitakka-vicāra;
- Jhāna ketiga:
- Dengan memudarnya pīti, seorang biku berdiam dalam upekkhā (keseimbangan batin," "pelepasan afektif"[43][note 11]), sato (penuh-perhatian) dan [dengan] sampajañña ("memahami dengan jernih," mengetahui sepenuhnya,"[49] "penyadaran yang membedakan"[50]). [Masih] mengalami sukha pada jasmaninya, ia memasuki dan berdiam dalam jhāna ketiga, yang sehubungan dengan itu para mulia menyatakan, "berdiam dalam kebahagiaan [jasmani], seseorang bersikap seimbang dan penuh perhatian".
- Jhāna keempat:
- Dengan ditinggalkannya [keinginan akan] sukha ("kebahagiaan") dan [penolakan terhadap] dukkha ("rasa sakit"[51][50]) serta dengan lenyapnya [pergerakan batin antara] somanassa ("sukacita batiniah,"[52]) dan domanassa ("dukacita batiniah"[52]) sebelumnya, seorang biku memasuki dan berdiam dalam jhāna keempat, yang bersifat adukkhaṃ asukhaṃ ("tidak menyakitkan juga tidak menyenangkan,"[51] "kebebasan dari rasa bahagia dan rasa sakit"[53]) dan memiliki upekkhā-sati-pārisuddhi (kemurnian sempurna dari keseimbangan-batin dan perhatian-penuh).[note 12]
Arūpa āyatana
suntingDikelompokkan ke dalam skema jhāna adalah empat kondisi meditatif yang dirujuk dalam teks-teks awal sebagai arūpa-āyatana.[55] Ini juga dirujuk dalam literatur komentar sebagai arūpa-jhāna (jhāna "tanpa materi", "nonmateri", atau "imateriel"), yang berkorespondensi dengan arūpa-loka (diterjemahkan sebagai "alam/loka tanpa materi" atau "dimensi tanpa materi"), untuk dibedakan dari empat jhāna pertama (rūpa jhāna). Dalam teks-teks kanonik Buddhis, kata "jhāna" tidak pernah secara eksplisit digunakan untuk menunjuk mereka; sebaliknya mereka disebut sebagai āyatana. Namun, mereka terkadang disebutkan secara berurutan setelah empat jhāna pertama (teks lain, misalnya Kakacūpama Sutta [MN 121], memperlakukan mereka sebagai serangkaian pencapaian tersendiri) dan karenanya oleh para penafsir di kemudian hari diperlakukan sebagai jhāna.[28]
Keempat arūpa-āyatana/arūpa-jhāna tersebut adalah:
- Jhāna kelima: ruang tak terbatas (Pāḷi: ākāsānañcāyatana; Skt.: ākāśānantyāyatana)
- Jhāna keenam: kesadaran tak terbatas (Pāḷi: viññāṇañcāyatana; Skt.: vijñānānantyāyatana)
- Jhāna ketujuh: kekosongan/ketiadaan (Pāḷi: ākiñcaññāyatana; Skt.: ākiṃcanyāyatana)
- Jhāna kedelapan: bukan persepsi juga bukan non-persepsi (Pāḷi: nevasaññānāsaññāyatana; Skt.: naivasaṃjñānāsaṃjñāyatana)
Nirodha-samāpatti
suntingMelampaui dimensi bukan persepsi juga bukan non-persepsi (nevasaññānāsaññāyatana), terdapat sebuah kondisi yang disebut nirodha samāpatti, yakni "lenyapnya persepsi, perasaan, dan kesadaran".[56] Dalam literatur komentar dan akademis kemudian, kondisi-kondisi ini terkadang disebut sebagai "jhāna kesembilan".[57][58] Nama lain untuk kondisi ini adalah saññāvedayitanirodha ("lenyapnya persepsi dan perasaan"). Menurut Visuddhimagga karya Buddhaghosa (XXIII, 18), kondisi ini ditandai dengan penekanan sementara atas kesadaran (viññāṇa atau citta) dan faktor-faktor mental (cetasika) yang menyertainya, sehingga meditator mencapai suatu keadaan tanpa kesadaran (acittaka) paling lama selama seminggu. Di dalam keadaan nirodha, meditator tersebut tidaklah mati: daya hidup (āyu) dan panas tubuh (usmā) tetap ada.[59] Para ahli saraf baru-baru ini mempelajari fenomena ini secara empiris dan mengusulkan sebuah model untuk substrat sarafnya.[60]
Praktik-praktik jhāna yang lebih luas
suntingWalaupun jhāna lazimnya merujuk pada empat jhāna/dhyāna, istilah ini juga merujuk pada serangkaian praktik yang tampaknya berakar pada tahap yang sangat awal dari tradisi Buddhis. Praktik-praktik ini adalah perenungan terhadap bagian-bagian tubuh dan kejijikan atau ketidakmenarikannya (paṭikūlamanasikāra); perenungan terhadap unsur-unsur yang menyusun tubuh; perenungan terhadap tahap-tahap pembusukan mayat; dan perhatian penuh pada pernapasan (ānāpānasati).[61] Praktik-praktik ini dideskripsikan di dalam Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10) dari Tripitaka Pali dan teks-teks paralelnya dari kitab Āgama berbahasa Tionghoa, yang berhubungan dengan faktor-faktor dari empat jhāna atau tujuh faktor pencerahan (bojjhaṅga). Rangkaian praktik ini juga diturunkan melalui Sutra-sutra Dhyāna, yang didasarkan pada tradisi Sarvāstivāda, yang kemudian membentuk dasar bagi tradisi Chan/Zen.[62]
Buddhisme awal
suntingTradisi Buddhis telah menggabungkan dua tradisi terkait penggunaan jhāna.[63] Terdapat sebuah tradisi yang menekankan pencapaian pandangan terang (vipassanā) sebagai sarana menuju pencerahan (bodhi, paññā, kenshō) dan pembebasan (vimutti, nibbāna).[note 13] Namun, tradisi Buddhis juga telah menggabungkan tradisi petapa Brahmanis, sebagaimana tecermin dalam penggunaan jhāna sebagai praktik konsentrasi (samādhi), yang—dalam beberapa penafsiran—ditolak dalam sutta-sutta lain sebagai sesuatu yang tidak menghasilkan hasil akhir berupa pembebasan. Salah satu solusi untuk kontradiksi ini adalah "penggunaan bersama" atau "berjalan beriringan" (yuganaddha) dari vipassanā dan samatha.[66][note 14]
Asal-usul tahap-tahap jhāna/dhyāna
suntingCatatan tekstual
suntingMahāsaccaka Sutta (MN 36), menceritakan kisah pencerahan Sang Buddha. Menurut kisah ini, Beliau mempelajari dua jenis meditasi dari dua orang guru, Uddaka Rāmaputta dan Āḷāra Kālāma. Bentuk-bentuk meditasi ini tidak mengarah pada pembebasan, dan Beliau kemudian menjalani praktik-praktik penyiksaan diri yang keras, yang dengannya pada akhirnya beliau juga menjadi kecewa. Sang Buddha kemudian mengingat suatu kondisi meditatif yang pernah ia masuki saat masih kanak-kanak:[68]
Aku berpikir: 'Aku ingat pernah suatu ketika, ketika ayahku yang orang Sakya itu sedang bekerja, dan aku sedang duduk di bawah keteduhan yang sejuk dari pohon jambu, lalu—sepenuhnya terasing dari sensualitas, terasing dari kualitas-kualitas mental yang tidak terampil—aku memasuki & berdiam dalam jhāna pertama: kegiuran (pīti) & kesukacitaan (sukha) yang lahir dari keterasingan, disertai dengan awal pikiran (vitakka) & kelangsungan pikiran (vicāra). Mungkinkah itu jalan menuju Pencerahan?' Lalu menyusul ingatan itu muncullah penyadaran: 'Itulah jalan menuju Pencerahan.'[69]
Pada awalnya, praktik jhāna itu sendiri mungkin merupakan praktik pembebasan inti dari Buddhisme awal karena dalam kondisi ini semua "sukha dan dukkha" telah memudar.[70] Menurut Vetter,
Kemungkinan kata "kebakaan, tanpa-kematian" (amata) digunakan oleh Sang Buddha untuk penafsiran pertama dari pengalaman ini, dan bukan istilah lenyapnya penderitaan yang merupakan bagian dari Empat Kebenaran Mulia [...] Sang Buddha tidak mencapai pengalaman penyelamatan dengan mencerna Empat Kebenaran Mulia dan/atau data lainnya. Namun, pengalamannya pasti memiliki sifat sedemikian rupa sehingga dapat memikul penafsiran "mencapai tanpa-kematian".[71]
Kemungkinan transformasi Buddhis atas praktik-praktik Brahmanis
suntingEra Sang Buddha ditandai dengan kebangkitan gerakan samana, yakni para praktisi pertapaan dengan sekumpulan ajaran dan praktik yang sama.[72][perlu rujukan lengkap] Pembatasan yang kaku dari gerakan-gerakan, yang kemudian membentuk Jainisme, Buddhisme, dan tradisi-tradisi Brahmanis/Upanisad-is, adalah sebuah perkembangan di kemudian hari.[72][perlu rujukan lengkap][note 15] Menurut Crangle, perkembangan praktik-praktik meditatif di India kuno adalah sebuah interaksi yang kompleks antara tradisi-tradisi Weda dan non-Weda.[76] Menurut Bronkhorst, keempat rūpa-jhāna mungkin merupakan kontribusi orisinal Sang Buddha terhadap praktik-praktik keagamaan di India kuno, yang membentuk alternatif bagi praktik-praktik asketis Jain dan tradisi samana serupa, sementara arūpa-āyatana diserap dari tradisi-tradisi pertapaan non-Buddhis.[77]
“Pakar meditasi (muni) itu menjadi bebas selamanya yang, dalam usahanya mencari Tujuan Tertinggi, mampu menarik diri dari fenomena eksternal dengan memusatkan pandangannya di dalam titik tengah alis mata dan dengan menetralkan arus genap prana dan apana [yang mengalir] di dalam lubang hidung dan paru-paru; dan untuk mengendalikan pikiran indrawi dan kecerdasannya; serta untuk membuang keinginan, ketakutan, dan kemarahan.”
—Bhagavad Gita V:27-28[78]
Kalupahana berpendapat bahwa Sang Buddha "kembali ke praktik-praktik meditatif" yang telah ia pelajari dari Āḷāra Kālāma dan Uddaka Rāmaputta, "yang diarahkan pada penenangan batin (samatha) ketimbang pengembangan pandangan terang (vipassanā)." Bergerak melampaui metode-metode awal tersebut, perenungan-Nya menghasilkan pemahaman mendalam tentang hukum sebab-akibat. Hal ini mengajarinya cara menenangkan watak dan kecenderungan mental bawaan sehingga Beliau tidak lagi dikuasai oleh hal-hal tersebut, tanpa harus memusnahkannya secara menyeluruh.[79]
Wynne berpendapat bahwa pencapaian penyerapan meditatif tanpa-materi diserap dari praktik-praktik Brahmanis, dan memiliki kosmogoni-kosmogoni Brahmanis sebagai latar belakang doktrinalnya.[80][note 16] Wynne oleh karena itu menyimpulkan bahwa praktik-praktik ini dipinjam dari sumber Brahmanis, yaitu Uddaka Rāmaputta dan Āḷāra Kālāma.[83] Akan tetapi, Sang Buddha menolak ajaran mereka karena tidak memberikan pembebasan, dan menemukan jalan-Nya sendiri menuju pencerahan,[80] yang "terdiri dari adaptasi teknik-teknik Brahmanis lama ke dalam praktik perhatian-penuh (satipaṭṭhāna) dan pencapaian pandangan-terang (vipassanā)." Dengan demikian, penerapan praktik-praktik Brahmanis yang "ditransformasikan secara radikal" dikonseptualisasikan di dalam skema empat jhāna.[80]
Menurut Bronkhorst, ajaran Sang Buddha berkembang terutama sebagai respons terhadap ajaran-ajaran Jain, bukan ajaran Brahmanis,[3] dan kisah Sang Buddha berlatih di bawah Uddaka Rāmaputta dan Āḷāra Kālāma sepenuhnya fiktif, dan dimaksudkan untuk melengkapi penyebutan nama-nama tersebut di dalam narasi pasca-pencerahan di Majjhimanikāya 36.[3][84] Vishvapani mencatat bahwa teks-teks Brahmanis yang dikutip oleh Wynne baru mencapai bentuk akhirnya jauh setelah masa kehidupan Sang Buddha, dengan Mokshadharma yang berasal dari masa setelah Beliau. Vishvapani lebih lanjut mencatat bahwa Uddaka Rāmaputta dan Āḷāra Kālāma sangat mungkin merupakan guru-guru samana-is, sebagaimana ditegaskan oleh tradisi Buddhis, dan bukan Brahmanis.[84]
Lima kemungkinan mengenai jhāna dan pembebasan
suntingSebuah frasa standar di dalam Kanon menyatakan bahwa seseorang mengembangkan empat rūpa-jhāna dan kemudian mencapai pandangan terang yang membebaskan. Meskipun teks-teks tersebut sering kali merujuk pada pemahaman akan Empat Kebenaran Mulia sebagai sesuatu yang membentuk "pandangan terang yang membebaskan" ini, Schmithausen mencatat bahwa Empat Kebenaran Mulia sebagai sesuatu yang membentuk "pandangan terang yang membebaskan" (di sini merujuk pada paññā[85]) adalah tambahan belakangan ke dalam teks-teks seperti Majjhimanikāya 36.[86][3][halaman dibutuhkan][2][halaman dibutuhkan]
Schmithausen mengidentifikasi tiga kemungkinan jalan menuju pembebasan sebagaimana dijelaskan di dalam sutta-sutta, yang padanya Vetter menambahkan kemungkinan keempat, sementara pencapaian nirodha-samāpatti mungkin merupakan kemungkinan kelima:[87]
- Menguasai empat jhāna, yang setelah itu "pandangan terang yang membebaskan" tercapai;
- Menguasai empat jhāna dan empat arūpa-āyatana, yang setelah itu "pandangan terang yang membebaskan" tercapai;
- Pandangan-terang yang-membebaskan itu sendiri sudah cukup;
- Keempat jhāna itu sendiri merupakan inti praktik pembebasan dari Buddhisme awal, c.q. Sang Buddha;[88]
- Pembebasan dicapai dalam nirodha-samāpatti.[89]
Rūpa-jhāna yang diikuti oleh pandangan terang yang membebaskan
suntingMenurut tradisi Theravāda, sang meditator menggunakan kondisi jhāna untuk membawa pikiran menjadi tenang, dan untuk memperkuat serta mempertajam pikiran, demi menyelidiki sifat alami yang sebenarnya dari fenomena (dhamma) dan untuk memperoleh pandangan terang ke dalam ketidakkekalan (anicca), penderitaan (dukkha), dan tanpa-diri (anattā). Menurut tradisi Theravāda, seorang arahat sadar bahwa jhāna pada hakikatnya tidak memuaskan, menyadari bahwa pencapaian-pencapaian meditatif tersebut juga tunduk pada anicca, ketidakkekalan.[90]
Dalam Mahāsaccaka Sutta (Majjhimanikāya 36), yang menceritakan kisah pencerahan Sang Buddha, jhāna diikuti oleh pandangan terang ke dalam Empat Kebenaran Mulia. Penyebutan Empat Kebenaran Mulia sebagai sesuatu yang membentuk "pandangan terang yang membebaskan" kemungkinan merupakan sebuah tambahan belakangan.[86][71][3][halaman dibutuhkan] Vetter mencatat bahwa pandangan terang semacam itu tidaklah mungkin terjadi di dalam kondisi jhāna, jika ditafsirkan sebagai konsentrasi, karena pemikiran diskursif dilenyapkan di dalam kondisi semacam itu.[91] Beliau juga mencatat bahwa penekanan pada "pandangan terang yang membebaskan" baru berkembang setelah empat kebenaran mulia diperkenalkan sebagai suatu ekspresi dari apa yang dibentuk oleh "pandangan terang yang membebaskan" ini.[92] Seiring berjalannya waktu, ungkapan-ungkapan lain mengambil alih fungsi ini, seperti paṭiccasamuppāda dan kekosongan sang diri.[93]
Rūpa-jhāna dan arūpa-āyatana, diikuti oleh pandangan terang yang membebaskan
suntingSkema ini ditolak oleh sebagian cendekiawan[siapa?] sebagai sebuah perkembangan belakangan karena āyatana mirip dengan praktik-praktik non-Buddhis, dan ditolak di bagian lain di dalam Kanon.[dibutuhkan verifikasi sumber]
Pandangan terang saja sudah cukup
suntingPenekanan pada "pandangan terang yang membebaskan" semata tampaknya merupakan perkembangan belakangan, sebagai tanggapan atas perkembangan dalam pemikiran keagamaan India, yang memandang "pandangan terang yang membebaskan" sebagai sesuatu yang esensial bagi pembebasan.[94][95] Hal ini mungkin juga disebabkan oleh penafsiran yang terlalu harfiah oleh para skolastik di kemudian hari terhadap terminologi yang digunakan oleh Sang Buddha,[96] dan terhadap masalah-masalah yang terkait dengan praktik jhāna, serta perlunya untuk mengembangkan metode yang lebih mudah.[97]
Para cendekiawan kontemporer telah mengidentifikasi penerapan jhāna yang lebih luas di dalam praktik Buddhis historis. Alexander Wynne meringkas pandangan ini dengan menyatakan bahwa tujuan akhir dari jhāna adalah pencapaian pandangan terang,[98] dan penerapan kondisi meditatif pada praktik perhatian penuh.[98] Menurut Frauwallner, perhatian penuh merupakan sarana untuk mencegah munculnya kemelekatan (taṇhā), yang diakibatkan hanya dari kontak antara indra dengan objeknya, dan ini mungkin merupakan gagasan orisinal Sang Buddha.[99] Namun, menurut Wynne, tekanan pada perhatian penuh ini mungkin telah mengarah pada intelektualisme yang mengunggulkan pandangan terang di atas praktik jhāna.[100]
Jhāna itu sendiri membebaskan
suntingBaik Schmithausen maupun Bronkhorst mencatat bahwa pencapaian pandangan terang, yang merupakan sebuah aktivitas kognitif, tidaklah mungkin terjadi dalam kondisi ketiadaan total aktivitas kognitif.[3] Oleh karena itu, menurut Vetter, praktik (rūpa-)jhāna itu sendiri mungkin merupakan praktik inti Buddhisme awal, dengan praktik-praktik seperti sīla dan perhatian penuh yang membantu pengembangannya.[95] Ini adalah "jalan tengah" antara penyiksaan diri, yang dikaitkan oleh Bronkhorst pada Jainisme,[3] dan pemanjaan dalam kesenangan indrawi.[101] Vetter menekankan bahwa jhāna merupakan bentuk kebahagiaan non-indrawi.[102] Jalan berunsur delapan dapat dilihat sebagai jalur persiapan yang mengarah pada praktik samādhi.[103]
Pembebasan dalam nirodha-samāpatti
suntingMenurut beberapa teks, setelah maju melewati kedelapan jhāna dan tahapan nirodha-samāpatti, seseorang menjadi terbebaskan.[56] Menurut beberapa tradisi, seseorang yang mencapai kondisi nirodha-samāpatti adalah seorang anāgāmi atau seorang arahat.[89] Dalam Anupada Sutta (MN 111), Sang Buddha menceritakan bahwa Sāriputta menjadi seorang arahat setelah mencapainya.[104]
Dalam Theravāda
sunting| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravāda |
|---|
| Buddhisme |

Lima rintangan batin
suntingDi dalam tradisi komentar, pengembangan jhāna digambarkan sebagai pengembangan lima faktor mental (Pali: cetasika) yang melawan lima rintangan (nīvaraṇa):[note 17]
- vitakka ("penempelan awal", "penempatan awal", "pikiran awal", "pemeriksaan kasar") menangkal thīna-middha (kemalasan-kelambanan, kemalasan-kantuk)
- vicāra ("penempelan terus-menerus", "penempatan sinambung pikiran", "pikiran yang dipertahankan", "penyelidikan tepat") menangkal vicikicchā (keraguan)
- pīti (kegiuran, kegembiraan) menangkal vyāpāda (niat buruk, kedengkian)
- sukha (kebahagiaan non-indrawi) menangkal uddhacca-kukkucca (kegelisahan-kekhawatiran, kebingungan-penyesalan)
- ekaggatā (kemanunggalan, keterpusatan) menangkal kāmacchanda (keinginan indrawi, nafsu indrawi)
Jhāna sebagai konsentrasi
suntingVisuddhimagga karya Buddhaghosa menganggap jhāna sebagai latihan dalam meditasi konsentrasi. Penafsirannya, bersama dengan Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10), mengilhami perkembangan teknik-teknik meditasi baru yang memperoleh popularitas besar di kalangan awam pada paruh kedua abad ke-20 melalui Gerakan Vipassanā selama abad ke-19 dan ke-20.[105]
Samādhi
suntingMenurut Henepola Gunaratana, istilah "jhāna" berhubungan erat dengan "samādhi", yang secara umum diterjemahkan sebagai "konsentrasi". Kata "samādhi" hampir dapat dipertukarkan dengan kata "samatha", ketenangan.[14] Menurut Gunaratana, dalam arti yang paling luas, kata samādhi digunakan untuk praktik-praktik yang mengarah pada pengembangan ketenangan. Dalam pengertian ini, samādhi dan jhāna memiliki kedekatan makna.[note 18] Namun demikian, keduanya tidaklah persis identik, karena "perbedaan tertentu dalam makna yang tersirat dan kontekstual mencegah identifikasi tak bersyarat dari kedua istilah tersebut." Samādhi hanya menandakan satu faktor mental, yaitu keterpusatan/kemanunggalan pikiran, sementara kata "jhāna" mencakup seluruh keadaan kesadaran, "atau setidaknya seluruh kelompok faktor mental yang mengkhususkan kondisi meditatif tersebut sebagai sebuah jhāna."[14] Lebih lanjut, menurut Gunaratana, samādhi melibatkan "rentang rujukan yang lebih luas daripada jhāna", dan mencatat bahwa "tradisi penafsiran Pāli mengakui tiga tingkat samādhi: konsentrasi persiapan (parikammasamādhi) [...] konsentrasi akses/antara (upacārasamādhi) [...] dan konsentrasi penyerapan penuh (appanāsamādhi)."[14]
Pengembangan dan penerapan konsentrasi
suntingMenurut tradisi tafsir Theravāda, konsentrasi akses/antara (upacāra-samādhi) adalah tahap meditasi yang dicapai sang meditator sebelum memasuki jhāna. Teratasinya lima rintangan batin[note 19] menandai masuknya meditator ke dalam konsentrasi akses.[butuh rujukan] Konsentrasi akses tidak disebutkan di dalam khotbah-khotbah (sutta) Sang Buddha, tetapi memang terdapat beberapa sutta yang membahas tentang seseorang yang memperoleh pandangan-terang ke dalam Dhamma ketika sedang mendengarkan pengajaran dari Sang Buddha.[note 20][note 21]
Menurut Tse-fu Kuan, pada keadaan konsentrasi akses, beberapa meditator mungkin mengalami citraan mental (nimitta) yang jelas,[note 22] yang mirip dengan mimpi yang sangat jelas. Citraan tersebut sejelas seolah-olah dilihat oleh mata, tetapi dalam kasus ini sang meditator sadar sepenuhnya bahwa mereka sedang melihat citraan mental. Tse-fu Kuan mendasarkan pandangan ini pada teks-teks awal, dengan penjelasan lebih lanjut yang dapat ditemukan di dalam komentar-komentar Theravāda.[107]
Menurut Yang Mulia Sujivo, sewaktu konsentrasi menjadi lebih kuat, perasaan bernapas dan memiliki tubuh fisik akan hilang sepenuhnya, dan yang tersisa hanyalah penyadaran murni. Pada tahap ini meditator yang kurang berpengalaman mungkin menjadi takut, berpikir bahwa mereka akan mati jika melanjutkan konsentrasi, karena sensasi bernapas dan memiliki tubuh fisik telah sepenuhnya sirna. Sujivo menjelaskan bahwa ketakutan ini tidak beralasan dan sang praktisi sebaiknya terus melanjutkan konsentrasi, agar dapat mencapai "konsentrasi penuh" (jhāna).[108]
Seorang meditator harus terlebih dahulu menguasai jhāna yang lebih rendah, sebelum mereka dapat masuk ke dalam jhāna yang lebih tinggi. Menurut Nathan Katz, sutta-sutta awal menyatakan bahwa "petapa yang paling luar biasa" mampu mencapai jhāna manapun dan berdiam di dalamnya tanpa kesulitan.[90][note 23]
Dalam pendekatan yang disebarkan melalui Gerakan Vipassanā kontemporer, kondisi jhāna dengan sendirinya tidak dapat menuntun pada pencerahan karena ia hanya menekan kotoran batin. Para meditator harus menggunakan kondisi jhāna sebagai alat untuk mengembangkan kebijaksanaan dengan mengolah pandangan terang, dan menggunakannya untuk menembus sifat alami fenomena yang sebenarnya melalui kognisi langsung, yang akan bermuara pada pemotongan kotoran batin dan pencapaian Nibbāna.[butuh rujukan]
Menurut tradisi tafsir Theravāda yang lebih belakangan sebagaimana digariskan oleh Buddhaghosa di dalam Visuddhimagga; setelah keluar dari kondisi jhāna, sang meditator akan berada di dalam kondisi konsentrasi akses pasca-jhāna. Di dalam kondisi inilah penyelidikan dan analisis atas sifat alami fenomena (dhamma vicaya) dimulai, yang menuntun pada timbulnya pandangan terang ke dalam karakteristik ketidakkekalan (anicca), penderitaan (dukkha), dan tanpa-diri (anattā).[butuh rujukan]
Kritik kontemporer
suntingMeskipun jhāna sering dipahami sebagai kondisi konsentrasi yang semakin mendalam karena deskripsinya yang sedemikian rupa di dalam Abhidhamma Theravāda[110] dan Visuddhimagga;[43] sejak tahun 1980-an, sebagian akademisi dan umat Theravāda kontemporer mulai mempertanyakan pemahaman bahwa jhāna merupakan kondisi penyerapan yang dalam, dan juga gagasan bahwa jhāna tidak diperlukan untuk pencapaian pembebasan. Walaupun penelitian penting tentang topik ini telah dilakukan oleh Bareau, Schmithausen, Martin Stuart-Fox, Rod Bucknell, Vetter, Bronkhorst, dan Wynne, para praktisi Theravāda juga telah menelaah dan mengkritik pemisahan samatha-vipassanā.[111] Penilaian ulang terhadap deskripsi jhāna di dalam sutta menganggap jhāna dan vipassanā sebagai suatu praktik yang terpadu, mengarah pada "penyadaran yang tenteram dan seimbang atas apa pun yang muncul di dalam bidang pengalaman."[5][6][7][8]
Kritik akademis
suntingSementara tradisi komentar menganggap vitakka dan vicāra sebagai konsentrasi awal dan sinambung pada suatu objek meditasi,[dibutuhkan verifikasi sumber] Roderick S. Bucknell mencatat bahwa vitakka dan vicāra bisa jadi merujuk pada "kemungkinan tidak lain dari proses normal pemikiran diskursif, arus citraan mental dan verbalisasi yang akrab tetapi biasanya tak disadari." Bucknell lebih lanjut mencatat bahwa "[k]esimpulan ini bertentangan dengan konsepsi luas mengenai jhāna pertama sebagai kondisi konsentrasi yang dalam."[43]
Menurut Stuart-Fox, Abhidhamma Theravāda memisahkan vitakka dari vicāra, dan ekaggatā (keterpusatan) ditambahkan ke dalam deskripsi jhāna pertama untuk memberikan jumlah yang sama antara lima rintangan batin dan lima penawarnya.[112] Tradisi komentar memandang kualitas-kualitas dari jhāna pertama sebagai penawar bagi lima rintangan batin, dan ekaggatā mungkin telah ditambahkan ke jhāna pertama agar secara eksak memberikan lima penawar bagi lima rintangan tersebut.[113] Stuart-Fox selanjutnya mencatat bahwa vitakka, yang mana merupakan pemikiran diskursif, hanya akan memberi pengaruh yang sangat sedikit sebagai penawar bagi kemalasan dan kelambanan, yang mencerminkan inkonsistensi yang diperkenalkan oleh para akademisi.[113]
Upekkhā, keseimbangan batin, yang disempurnakan di dalam jhāna keempat, merupakan salah satu dari empat Brahmavihāra. Sementara tradisi komentar mengesampingkan pentingnya Brahmavihāra, Gombrich berpendapat bahwa penggunaan Buddhis terhadap istilah Brahmavihāra pada mulanya merujuk pada kondisi batin yang tercerahkan, dan sebuah sikap yang konkret terhadap makhluk lain yang setara dengan "hidup bersama Brahman" di sini dan saat ini. Tradisi yang muncul kemudian, dalam penafsiran ini, menangkap deskripsi tersebut secara terlalu harfiah, menghubungkannya ke kosmologi dan memahaminya sebagai "hidup bersama Brahman" melalui kelahiran kembali di alam brahmā.[114] Menurut Gombrich, "Sang Buddha mengajarkan bahwa cinta-kasih (mettā)—apa yang cenderung disebut sebagai kasih oleh orang Kristen—adalah sebuah jalan menuju keselamatan.[115]
Vetter, Gombrich, dan Wynne mencatat bahwa jhāna pertama dan kedua mewakili permulaan dari jhāna karena pelepasan/penarikan diri dan usaha benar c.q. empat usaha benar, yang diikuti oleh konsentrasi, sedangkan jhāna ketiga dan keempat menggabungkan konsentrasi dengan perhatian penuh (sati).[47][116] Polak, yang mengelaborasi pandangan Vetter, mencatat bahwa permulaan jhāna pertama digambarkan sebagai suatu proses yang cukup alami, berkat upaya sebelumnya untuk mengendalikan indra dan memelihara kondisi-kondisi bajik.[7][22] Mengenai samādhi sebagai langkah kedelapan dari Jalan Mulia Berunsur Delapan, Vetter mencatat bahwa samādhi terdiri dari empat tahap meditasi jhāna, namun
...untuk mengatakannya dengan lebih akurat, jhāna pertama tampaknya menyuguhkan, setelah beberapa waktu, sebuah kondisi konsentrasi kuat, yang darinya tahap-tahap lainnya muncul; tahap kedua disebut samādhija"[117] [...] "yang lahir dari samādhi."[47]
Menurut Richard Gombrich, urutan keempat rūpa jhāna mendeskripsikan dua kondisi kognitif yang berbeda: "Saya tahu ini kontroversial, tetapi tampaknya bagi saya bahwa jhāna ketiga dan keempat sangat berbeda dari jhāna kedua."[118][note 24] Gombrich dan Wynne mencatat bahwa, walaupun jhāna kedua menunjukkan kondisi penyerapan, dalam interpretasi mereka terhadap jhāna ketiga dan keempat, seseorang keluar dari penyerapan ini, secara sadar penuh memperhatikan objek, tetapi tetap bersikap secara tidak melekat terhadapnya.[119][note 25] Menurut Gombrich, "tradisi di kemudian hari telah memalsukan jhāna dengan mengklasifikasikannya sebagai intisari dari jenis meditasi yang terkonsentrasi dan menenangkan, dan mengabaikan elemen lain—yang sesungguhnya lebih tinggi."[118] Menurut Lusthaus, "perhatian-penuh (sati) dalam [jhāna keempat] adalah sebuah penyadaran yang rileks dan awas yang terlepas dari pengondisian positif maupun negatif."[120]
Gethin, yang diikuti oleh Polak dan Arbel, mencatat lebih lanjut bahwa terdapat "afinitas yang pasti" antara keempat jhāna dan bojjhaṅga, tujuh faktor pencerahan.[121][122][123][8] Menurut Gethin, teks-teks Buddhis awal memiliki "sebuah visi yang secara garis besar konsisten" mengenai praktik meditasi. Beragam praktik menuntun pada pengembangan faktor-faktor pencerahan, yang bukan saja merupakan sarana menuju pada pencerahan, melainkan juga unsur-unsur yang membentuk pencerahan.[124] Menurut Gethin, satipaṭṭhāna dan ānāpānasati terkait erat dengan sebuah formula yang meringkas jalur Buddhis menuju pencerahan sebagai "meninggalkan rintangan, menegakkan [...] perhatian penuh, dan mengembangkan tujuh faktor pencerahan."[125] Ini bermuara pada suatu "penyadaran yang meningkat", "mengatasi perasaan yang mengganggu dan mendistraksi",[126] yang bukan merupakan elemen spesifik pada jalan pencerahan, melainkan perasaan umum yang mendistraksi dan mengganggu.[127] Gethin menyatakan lebih lanjut bahwa "literatur eksegesis (tafsir) pada dasarnya setia pada visi meditasi yang disajikan dalam kitab-kitab nikāya,"[128] dengan menerapkan "perhatian penuh (sati), ketidakberpihakan/ketenangan (upekkhā), dan pemahaman jernih yang sempurna (sampājana)" dari jhāna ke dalam perenungan terhadap "realitas", terhadap cara segala sesuatu yang sebenarnya,[129] sebagai sesuatu yang sementara dan senantiasa berubah.[128] Dalam pengertian inilah "kondisi jhāna memiliki kualitas pencerahan yang transenden dan mentransformasi."[130]
Alexander Wynne menyatakan bahwa skema jhāna masih kurang dipahami.[100] Menurut Wynne, kata-kata yang mengekspresikan penanaman penyadaran, seperti sati, sampajāno, dan upekkhā, telah salah diterjemahkan atau disalahpahami sebagai faktor-faktor khusus dari keadaan meditatif,[100] padahal kata-kata tersebut merujuk pada cara khusus dalam memersepsikan objek-objek indra:[100]
Dengan demikian, ekspresi sato sampajāno (perhatian-penuh dan pemahaman-jernih) pada jhāna ketiga mestilah menunjukkan suatu keadaan kesadaran yang berbeda dari penyerapan meditatif pada jhāna kedua (cetaso ekodibhāva). Hal ini menyiratkan bahwa subjek melakukan sesuatu yang berbeda dari sekadar tetap berada dalam keadaan meditatif, yaitu bahwa ia telah keluar dari penyerapannya dan sekarang kembali menyadari objek-objek. Hal yang sama juga berlaku pada kata upek(k)hā: ia tidak menunjukkan 'keseimbangan batin' abstrak, [tetapi] berarti sadar akan sesuatu dan tidak melekat padanya [...] jhāna ketiga dan keempat, sebagaimana tampak bagi saya, mendeskripsikan proses mengarahkan kondisi penyerapan meditatif ke arah kesadaran yang penuh perhatian terhadap objek-objek.[131]
Walaupun demikian, kritik terhadap penafsiran Theravāda tradisional ini pada gilirannya juga menuai kritik balasan. Sejumlah cendekiawan dan praktisi lain berpandangan bahwa jhāna yang lebih tinggi tidak mungkin melibatkan penyadaran diskursif (aktivitas pemikiran aktif),[132][133] atau—setidak-tidaknya—bahwa praktik jhāna yang "bergaya metode Abhidhamma" tetap merupakan penafsiran yang sahih atas materi yang ditemukan di dalam sutta-sutta Pāli, dan akan—sama halnya dengan praktik jhāna yang lebih "ringan" yang baru-baru ini dianjurkan oleh Wynne, dkk.—pada akhirnya mengarah pada pandangan-terang yang membebaskan.[134][135][136]
Penilaian ulang Theravāda kontemporer: "Perang Jhāna"
suntingMeskipun meditasi Theravāda diperkenalkan ke dunia Barat sebagai meditasi vipassanā, yang awalnya dianggap telah menolak kegunaan jhāna, terdapat minat yang semakin bertumbuh di kalangan praktisi vipassanā dunia Barat terhadap jhāna.[137][138] Sifat dan praktik jhāna menjadi topik perdebatan dan perselisihan di antara penganut baru Theravāda dan Theravāda tradisionalis di dunia Barat, hingga memicu polemik yang bahkan dijuluki sebagai "Perang Jhāna."[5][note 26]
Kritik terhadap Visudhimagga
suntingKitab Visuddhimagga, dan "karya pelopor yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman",[138][note 27] dianggap sangat berpengaruh pada munculnya kesalahpahaman mengenai jhāna sebagai wujud meditasi konsentrasi. Visuddhimagga berpusat pada meditasi kasiṇa, sebuah bentuk meditasi konsentrasi dengan memfokuskan pikiran pada sebuah objek (mental).[140] Menurut Thanissaro Bhikkhu, "Teks tersebut kemudian mencoba untuk memasukkan semua metode meditasi lain ke dalam cetakan praktik kasiṇa sehingga metode tersebut juga memunculkan tanda balasan (countersigns); tetapi, menurut pengakuannya sendiri, meditasi pernapasan tidak terlalu cocok dengan cetakan itu."[140] Thanissaro lebih jauh menyatakan bahwa "Visuddhimagga menggunakan sebuah paradigma konsentrasi yang sangat berbeda dari apa yang dapat Anda temukan di dalam Kanon."[141] Dalam penekanannya pada meditasi kasiṇa, Visuddhimagga dianggap menyimpang dari Kanon Pali, yang menganggap jhāna sebagai praktik meditatif sentral, dan ini mengindikasikan bahwa "apa arti jhāna di dalam kitab risalah adalah sesuatu yang sungguh berbeda dari apa artinya di dalam Kanon."[140]
Bhante Henepola Gunaratana menegaskan bahwa "apa yang dikatakan sutta tidaklah sama dengan apa yang dikatakan Visuddhimagga [...] keduanya sesungguhnya berbeda," yang bermuara pada perbedaan pendapat antara pemahaman akademis tradisional dengan kajian ulang modernis atas deskripsi yang ada di dalam sutta.[142] Gunaratana mencatat lebih jauh bahwa Buddhaghosa menciptakan beberapa istilah kunci meditasi yang tidak dapat ditemukan di dalam sutta, seperti "parikamma samādhi (konsentrasi persiapan), upacāra samādhi (konsentrasi akses), appanāsamādhi (konsentrasi penyerapan)."[143] Gunaratana juga mencatat bahwa penekanan Buddhaghosa pada meditasi kasiṇa tidak dapat dijumpai di dalam sutta karena jhāna selalu digabungkan dengan praktik perhatian-penuh (satipaṭṭhāna) dalam sutta.[144][note 28]
Menurut cendekiawan Tilman Vetter, jhāna sebagai persiapan bagi pandangan-terang yang membedakan pastilah berbeda dari praktik jhāna yang diperkenalkan oleh Sang Buddha, yang contohnya menggunakan latihan kasiṇa untuk menghasilkan "sebuah jhāna yang diproduksi secara lebih artifisial", yang bermuara pada berhentinya apersepsi dan perasaan.[145] Shankman mencatat bahwa latihan kasiṇa disebarluaskan di dalam Visuddhimagga karya Buddhaghosa, yang dipandang sebagai komentar otoritatif perihal praktik meditasi di dalam tradisi Theravāda, tetapi berbeda dari kanon Pāli dalam penjabarannya mengenai jhāna. Sementara sutta-sutta menghubungkan samādhi pada perhatian-penuh pada tubuh (kāyanussati), bagi Buddhaghosa jhāna adalah murni latihan mental, dengan konsentrasi terpusat yang mengarah pada penyempitan rentang atensi.[146]
Jhāna sebagai praktik terpadu
suntingSejumlah pengajar dunia Barat (Thanissaro Bhikkhu, Leigh Brasington, Richard Shankman) membedakan antara jhāna yang "berorientasi sutta" dan jhāna yang "berorientasi Visuddhimagga,"[137][147] yang dijuluki "minimalis" dan "maksimalis" oleh Kenneth Rose.[147]
Ṭhānissaro Bhikkhu, seorang guru dari dunia Barat dalam Tradisi Hutan Thai, telah berulang kali berargumen bahwa Kanon Pāli dan Visuddhimagga memberikan deskripsi yang berbeda atas jhāna, dan memandang deskripsi dari Visuddhimagga tidak tepat.[137] Oleh karenanya, beliau menyarankan agar tidak mengembangkan kondisi penyerapan yang mendalam (deep absorption).[137] Arbel mendeskripsikan jhāna keempat sebagai "penyadaran yang jernih dan tak-reaktif", bukan sebagai suatu kondisi konsentrasi mendalam.[8]
Menurut Richard Shankman, deskripsi dalam sutta tentang praktik jhāna menjelaskan bahwa sang meditator tidak keluar dari jhāna untuk mempraktikkan vipassanā, melainkan pengerjaan pandangan-terang dilakukan manakala berada di dalam jhāna itu sendiri. Secara khusus, meditator diinstruksikan untuk "masuk dan berdiam di dalam jhāna keempat" sebelum memulai pengerjaan pandangan-terang guna mencabut kotoran-kotoran batin.[148][note 29]
Keren Arbel telah melakukan penelitian ekstensif mengenai jhāna dan kritik kontemporer atas penafsiran versi komentar. Berdasarkan penelitian ini, serta pengalamannya sendiri sebagai guru meditasi senior, beliau memberikan penjelasan yang direkonstruksi atas makna orisinal dari jhāna. Beliau berargumen bahwa jhāna adalah praktik yang terpadu, yang mendeskripsikan jhāna keempat sebagai "penyadaran yang tak-reaktif dan jernih", bukannya suatu kondisi konsentrasi pekat.[8] Menurut Arbel, hal ini mengembangkan "pikiran yang tidak dikondisikan oleh pola reaksi kebiasaan antara suka dan tidak suka [...] relasi yang sangat bijak dengan pengalaman, tak dinodai oleh jenis persepsi keliru dan reaktivitas mental apa pun yang berakar pada kehausan (taṇhā)."[150]
Menurut Kenneth Rose, pendekatan "maksimalis" yang berorientasi pada Visuddhimagga adalah sebuah kembalinya menuju "praktik-praktik arus utama" India kuno. Praktik tersebut meyakini bahwa ketidakmampuan fisik dan mental untuk bergerak dianggap menuntun pada keseimbangan dan pembebasan dari samsara dan kelahiran kembali. Pendekatan ini ditolak oleh Sang Buddha, yang beralih pada pendekatan yang lebih lembut yang tetap menghasilkan upekkhā dan sati, yaitu penyadaran seimbang atas pengalaman.[5]
Dalam tradisi Mahāyāna
suntingBuddhisme Mahāyāna mencakup banyak aliran praktik. Masing-masing mengambil dari berbagai sūtra, risalah filosofis, dan komentar Buddhis, dan masing-masing memiliki penekanan, cara berekspresi, dan pandangan filosofisnya sendiri. Sesuai dengan itu, masing-masing aliran memiliki metode meditasinya sendiri untuk tujuan mengembangkan samādhi dan prajñā, dengan tujuan akhir mencapai pencerahan.[butuh rujukan]
Dhyāna sebagai penyadaran terbuka
suntingBaik Polak maupun Arbel menyarankan bahwa tradisi Dzogchen,[151][152] Mahamudra, dan Chan[151] memelihara atau menyerupai dhyāna sebagai wujud penyadaran terbuka atas tubuh dan pikiran, yang dengan demikian mentransendensikan dikotomi antara vipassanā dan samatha.[151][152][note 30]
Buddhisme Chan
suntingĀnāpānasati dan dhyāna adalah aspek sentral dari praktik Buddhis dalam Chan, yang diperlukan untuk kemajuan di jalur ini dan "masuk secara sejati ke dalam Dharma".[note 31]
Asal-usul
suntingDi Tiongkok, kata dhyāna awalnya ditransliterasikan dengan Hanzi: 禪那; Pinyin: chánnà dan disingkat menjadi hanya Pinyin: chán dalam penggunaan umum. Kata dan praktik meditasi Buddhis memasuki bahasa Tionghoa melalui terjemahan An Shigao (sekitar 148–180 M), dan Kumārajīva (334–413 M), yang menerjemahkan Sutra-sutra Dhyāna, yang merupakan teks meditasi awal yang berpengaruh, sebagian besar didasarkan pada ajaran meditasi Yogacara dari aliran Sarvāstivāda di Kashmir sekitar abad ke-1 hingga ke-4 Masehi.[159] Kata Chan menjadi sebutan untuk Buddhisme Chan (Seon Korea, Thiền Vietnam, Zen Jepang).
Dalam Buddhisme Tiongkok, mengikuti peninggalan dari teks purba (Ur-text) Satipaṭṭhāna Sūtra dan sutra-sutra dhyāna, dhyāna merujuk pada berbagai jenis teknik meditasi dan praktik persiapannya, yang mana diperlukan untuk melatih dhyāna.[61] Lima jenis meditasi utama dalam sutra-sutra Dhyāna adalah praktik ānāpānasati (perhatian penuh pada pernapasan); meditasi paṭikūlamanasikāra, perhatian penuh pada ketidakmurnian tubuh; meditasi cinta kasih (maitrī); kontemplasi pada dua belas rantai pratītyasamutpāda; dan kontemplasi pada Tiga Puluh Dua Karakteristik Buddha.[160]
Dengan mengesampingkan perenungan terhadap tubuh[161] (tetapi mempertahankan penyadaran akan kematian yang sudah dekat), tradisi awal Chan mengembangkan konsep atau praktik wu nian ("tanpa pikiran, tanpa "fiksasi pada pikiran, seperti pandangan, pengalaman, dan pengetahuan seseorang")[162][163] dan fēi sīliàng (非思量, bahasa Jepang: hishiryō, "bukan pemikiran");[164] serta kanxin ("mengamati pikiran")[165] dan shou-i pu i (守一不移, "menjaga yang satu tanpa goyah")[166] mengalihkan perhatian dari objek-objek pengalaman, ke sifat alami pikiran, subjek yang mempersepsi itu sendiri, yang disamakan dengan Benih Kebuddhaan.[167]
Perhatian penuh
suntingMengamati napas
sunting
Selama meditasi duduk, praktisi biasanya mengambil posisi seperti posisi teratai, setengah-teratai, posisi Burma, atau postur yoga, menggunakan dhyāna mudrā. Untuk mengatur pikiran, penyadaran diarahkan pada menghitung atau mengamati napas atau dengan memusatkan penyadaran ke pusat energi di bawah pusar (lihat juga ānāpānasati).[168] Seringkali, bantalan persegi atau bundar yang ditempatkan di atas tikar empuk digunakan sebagai alas duduk; dalam beberapa kasus lain, kursi bisa saja digunakan. Praktik ini secara sederhana dapat disebut dhyāna duduk, yang merupakan zuòChan (坐禅) dalam bahasa Tionghoa, zazen (坐禅) di Jepang, jwaseon (坐禅) di Korea, dan tọa thiền dalam bahasa Vietnam.[butuh rujukan]
Mengamati pikiran
suntingDi aliran Zen Sōtō, meditasi tanpa objek, jangkar, atau konten, adalah bentuk praktik utama. Meditator berusaha menyadari aliran pemikiran, membiarkan mereka muncul dan berlalu tanpa dicampuri. Justifikasi tekstual, filosofis, dan fenomenologis yang substansial mengenai praktik ini dapat ditemukan di sepanjang karya Shōbōgenzō dari Dōgen, seperti misalnya dalam "Prinsip-Prinsip Zazen"[169] dan "Instruksi Anjuran Laku Zazen Secara Universal".[170] Dalam bahasa Jepang, praktik ini disebut sebagai Shikantaza.
Pandangan terang
suntingMenunjuk pada sifat alami pikiran
suntingMenurut Charles Luk, dalam tradisi awal Chan, tidak ada metode atau formula baku dalam mengajarkan meditasi, dan semua instruksi hanyalah sekadar metode heuristik, untuk menunjuk ke sifat alami yang sesungguhnya dari pikiran, yang juga dikenal sebagai Benih Kebuddhaan.[171] Menurut Luk, metode ini disebut sebagai "Dharma Pikiran", dan dicontohkan dalam kisah Buddha Śākyamuni yang mengangkat setangkai bunga dalam keheningan, dan Mahākāśyapa yang tersenyum saat ia mengerti maknanya.[note 32][171] Formula tradisional dari hal ini adalah, "Chan menunjuk langsung pada pikiran manusia, untuk memungkinkan orang melihat kodrat sejati mereka dan menjadi seorang Buddha."[172]
Praktik kōan
sunting
Pada permulaan Dinasti Song, praktik melalui metode kōan menjadi populer, sementara pihak lainnya mempraktikkan "iluminasi hening".[173] Ini kemudian menjadi sumber adanya perbedaan praktik antara aliran Línjì dan Cáodòng.
Sebuah kōan, secara harfiah berarti "kasus publik", merupakan sebuah cerita atau dialog, yang melukiskan interaksi antara seorang guru Zen dengan seorang murid. Anekdot-anekdot ini memberikan demonstrasi tentang pandangan terang si guru. Koan menekankan pandangan non-konsepsional yang menjadi arah bidikan dari ajaran-ajaran Buddhis. Koan dapat digunakan untuk memancing "keraguan besar", dan menguji perkembangan seorang murid dalam praktik Zen.
Inkuiri-Kōan dapat dipraktikkan saat zazen (meditasi duduk), kinhin (meditasi jalan), maupun sepanjang segala aktivitas keseharian. Praktik kōan utamanya ditekankan oleh aliran Rinzai Jepang, namun praktik ini juga ditemui di aliran-aliran atau cabang Zen yang lain bergantung pada garis keturunan pengajarannya.[174]
Penguasaan murid Zen terhadap sebuah kōan dipresentasikan ke hadapan sang guru di dalam sesi wawancara pribadi (dalam bahasa Jepang disebut sebagai dokusan (独参), daisan (代参), atau sanzen (参禅)). Meski tak ada satu jawaban unik belaka untuk kōan mana pun, para praktisi diwajibkan bisa mendemonstrasikan pemahaman mereka atas kōan tersebut dan tentang Zen dari respons mereka sendiri. Sang guru dapat mengafirmasi atau menolak jawaban itu lalu membimbing si murid mengarah ke jalan yang selayaknya. Interaksi bersama guru Zen merupakan titik sentral dari Zen, namun sekaligus menempatkan praktik Zen jadi rentan rawan disalahpahami maupun berpotensi eksploitatif.[175]
Vajrayāna
suntingB. Alan Wallace berpandangan bahwa Buddhisme Tibet modern kurang memberikan penekanan dalam hal pencapaian tingkat-tingkat konsentrasi yang lebih tinggi dari sekadar konsentrasi akses.[176][177] Menurut Wallace, salah satu kemungkinan penjelasan untuk hal ini adalah bahwa secara praktis semua meditator Buddhis Tibet berupaya mencapai pencerahan melalui penggunaan praktik-praktik tantra. Praktik-praktik ini mengharuskan hadirnya hasrat dan nafsu indrawi dalam kesadaran seseorang, tetapi dhyāna secara efektif justru menghambat fenomena-fenomena ini.[176]
Sementara itu, segelintir penganut Buddhis Tibet, entah itu yang menetap di dalam maupun di luar Tibet, membaktikan diri mereka bagi praktik konsentrasi. Literatur Buddhis Tibet menyuguhkan banyak sekali instruksi terperinci mengenai hal itu, dan para empu meditasi Tibet dari era lawas pun ikut menegaskan pentingnya praktik konsentrasi.[178]
Konsep terkait pada agama-agama India
suntingDhyāna merupakan suatu praktik kuno nan vital yang disebutkan baik di dalam kitab-kitab sastra Hinduisme, maupun teks-teks awal ajaran Jainisme.[179][180][181] Dhyāna dalam agama Buddha ikut memberikan sumbangsih pengaruh kepada praktik-praktik ini, dan sebaliknya, amat mungkin berpusar pada rentang titik asal-muasal lahirnya maupun jejak perkembangannya di kemudian hari.[179]
Paralel bersama sistem Ashtanga Yoga versi Patanjali
suntingKemiripan dapat ditemukan pada tahap keempat hingga kedelapan dalam skema Aṣṭāṅga Yoga rumusan Patañjali, sebagaimana tertuang dalam karya utamanya, Yoga Sūtra, yang disusun sekitar tahun 400 M dengan mengadopsi tradisi kuno yang telah ada.[182][183][184]
Patañjali menguraikan aspek bahiraṅga (eksternal) dari yoga, yakni yama, niyama, āsana, dan prāṇāyāma, sebelum berlanjut ke dimensi antaraṅga (internal). Setelah menguasai pratyāhāra (penarikan indra), seorang praktisi dapat memasuki tahapan saṃyama. Melalui pratyāhāra, penyadaran ditarik ke dalam sehingga objek-objek indrawi tidak lagi memengaruhi batin, membawa sang sādhaka (praktisi) pada tahap-tahap akhir Yoga: dhāraṇā (konsentrasi), dhyāna (meditasi perenungan), hingga samādhi (absorpsi/penyerapan mistis), yang merupakan puncak pencapaian meditasi Yoga.[185]
Sistem Delapan Cabang Yoga (Ashtanga) ini banyak menyerap elemen-elemen dari tradisi Buddhis.[186][187] Ulasan sekunder dalam naskah Yogabhāṣya yang dikaitkan dengan Vyāsa, serta sub-komentar dari Vācaspati Miśra, secara jelas menunjukkan bahwa kerangka dan teknik pencapaian samādhi secara lugas mengadopsi teknik dan kerangka dari sistem meditasi Buddhis yang berpusat pada jhāna, meskipun kemudian diberikan interpretasi teistik dan mistis oleh tradisi Hindu untuk menjelaskan proses penyerapan meditatif tersebut.[188][Verifikasi gagal] Selain itu, segmen keempat dari karya tersebut, yakni Kaivalya Pāda, memuat polemik yang secara khusus diarahkan untuk mengkritik pandangan filosofis Buddhis, khususnya aliran Vijñānavāda yang dirumuskan oleh Vasubandhu.[189]
Teks-teks awal Buddhis juga mencatat bahwa tokoh-tokoh sezaman Sang Buddha, seperti Nigaṇṭha Nātaputta (Mahāvīra) yang merupakan pendiri Jainisme, dilaporkan menolak kemungkinan pencapaian keadaan meditatif yang di dalamnya seluruh aktivitas berpikir dan fungsi mental diskursif dapat sepenuhnya terhenti.[190]
Lihat juga
suntingCatatan
sunting- ^ Bronkhorst dan Wynne, di antara yang lainnya, telah mendiskusikan pengaruh pemikiran dan praktik Weda dan Jain terhadap agama Buddha. "Membakar habis" kotoran batin melalui penyiksaan diri adalah praktik khas Jain, yang ditolak oleh sang Buddha.[15][16]
- ^ Meskipun rūpa juga dapat merujuk pada tubuh. Arbel (2017) merujuk pada jhāna sebagai pengalaman psiko-somatis.
- ^ Shankman 2008, hlm. 15 mengutip MN 117.14, Mahācattārīsakasutta:[19] “Dan apakah, para bhikkhu, kehendak benar yang mulia, tanpa noda, melampaui duniawi, yang merupakan faktor sang jalan? Berpikir, pemikiran, kehendak, penyerapan mental, fiksasi mental, pengerahan pikiran, formasi verbal pada seseorang yang pikirannya mulia, yang pikirannya tanpa noda, yang memiliki jalan mulia dan sedang mengembangkan jalan mulia: inilah kehendak benar yang mulia... sebuah faktor sang jalan."
- ^ Polak merujuk pada Vetter, yang mencatat bahwa dalam sutta-sutta usaha benar mengarah pada kondisi pikiran yang tenang. Ketika ketenangan dan pengendalian diri ini telah tercapai, Sang Buddha dideskripsikan duduk dan mencapai jhāna pertama, dengan cara yang hampir alami.[7]
- ^ Keren Arbel merujuk pada Majjhimanikāya 26, Ariyapariyesana Sutta, The Noble Search
Lihat pula:
* Majjhima Nikaya 111, Anupada Sutta
* AN 05.028, Samādhaṅga Sutta: The Factors of Concentration.
Lihat Johansson (1981), Pali Buddhist texts Explained to Beginners untuk terjemahan kata per kata. - ^ Arbel menjelaskan bahwa "viveka" biasanya diterjemahkan sebagai "pelepasan," "pemisahan," atau "keterasingan," tetapi makna utamanya adalah "pembedaan" (diskriminasi). Menurut Arbel, penggunaan vivicca/vivicceva dan viveka dalam deskripsi jhāna pertama "memainkan kedua makna kata kerja tersebut; yaitu, maknanya sebagai pembedaan (kearifan) dan konsekuensinya berupa 'keterasingan' serta pelepasan," sejalan dengan "pembedaan atas sifat pengalaman" yang dikembangkan oleh empat satipaṭṭhāna.[30] Bandingkan dengan Dōgen: "Terpisah dari segala gangguan dan berdiam sendirian di tempat yang tenang disebut "menikmati ketenteraman dan ketenangan.""[31]
Arbel berpendapat lebih lanjut bahwa viveka menyerupai dhamma vicaya, yang disebutkan di dalam bojjhaṅga, suatu deskripsi alternatif mengenai jhāna, tetapi merupakan satu-satunya istilah bojjhaṅga yang tidak disebutkan dalam deskripsi standar jhāna.[32] Bandingkan dengan Suttanipāta 5.14 Udayamāṇavapucchā (Pertanyaan Udaya): "Kemurnian keseimbangan batin dan perhatian penuh, yang didahului oleh penyelidikan prinsip-prinsip—ini, Aku nyatakan, adalah pembebasan oleh pencerahan, penghancuran kebodohan batin.” (Terjemahan: Sujato) - ^ Suttanipāta 5.13 Pertanyaan Udaya (terj. Thanissaro): "Dengan kesenangan dunia terbelenggu. Dengan awal pikiran hal itu diperiksa."
Chen 2017: "Samādhi dengan pemeriksaan umum dan penyelidikan mendalam secara spesifik berarti menyingkirkan dhamma yang tidak bajik, seperti nafsu serakah dan kebencian, untuk menetap dalam sukacita dan kebahagiaan yang disebabkan oleh ketiadaan pemunculan, dan untuk memasuki meditasi pertama dan sepenuhnya berdiam di dalamnya."
Arbel 2016, hlm. 73: "Oleh karena itu, saran saya adalah bahwa kita harus menafsirkan eksistensi vitakka dan vicāra di dalam jhāna pertama sebagai 'residu' yang bajik dari perkembangan pikiran bajik sebelumnya. Mereka menandakan 'gema' dari pikiran-pikiran bajik tersebut, yang bergema pada seseorang yang memasuki jhāna pertama sebagai sikap-sikap bajik terhadap apa yang sedang dialaminya." - ^ Dalam Tripitaka Pali, Vitakka-vicāra membentuk satu ungkapan, yang merujuk pada pengarahan pikiran atau perhatian seseorang pada suatu objek (vitakka) dan penyelidikannya (vicāra).[35][38][39][40][41] Menurut Dan Lusthaus, vitakka-vicāra adalah penelitian analitis, sebuah bentuk paññā. Ia "melibatkan pemfokusan pada [sesuatu] dan kemudian memecahnya menjadi komponen-komponen fungsionalnya" untuk memahaminya, "membedakan sejumlah faktor pengkondisi yang terlibat dalam suatu peristiwa fenomenal."[42] Tradisi komentar Theravāda, sebagaimana diwakili oleh Visuddhimagga karya Buddhaghosa, menafsirkan vitakka dan vicāra sebagai penerapan perhatian awal dan kelangsungannya pada suatu objek meditasi, yang berpuncak pada penenteraman pikiran ketika beralih ke jhāna kedua.[43][44] Menurut Martin Stuart-Fox dan Rod Bucknell, hal ini mungkin juga merujuk pada "proses normal pemikiran diskursif," yang didiamkan melalui penyerapan di dalam jhāna kedua.[44][43]
- ^ Terjemahan standar untuk samādhi adalah "konsentrasi"; tetapi, terjemahan/penafsiran ini didasarkan pada penafsiran komentar, sebagaimana dijelaskan oleh sejumlah penulis kontemporer.[28] Tilmann Vetter mencatat bahwa samādhi memiliki cakupan makna yang luas, dan "konsentrasi" hanyalah salah satunya. Vetter berpendapat bahwa jhāna kedua, ketiga, dan keempat adalah sammā-samādhi, "samādhi benar," yang dibangun di atas "penyadaran spontan" (sati) dan keseimbangan batin yang disempurnakan di dalam jhāna keempat.[47]
- ^ Terjemahan umum, yang didasarkan pada penafsiran komentar atas jhāna sebagai kondisi penyerapan yang meluas, menerjemahkan sampasādana sebagai "keyakinan internal." Namun, seperti yang dijelaskan Bucknell, kata tersebut juga berarti "menenteramkan," yang lebih tepat dalam konteks ini.[43] Lihat juga Passaddhi (ketenteraman).
- ^ Upekkhā adalah salah satu dari Brahmavihara.
- ^ Bersama dengan jhāna keempat datanglah pencapaian pengetahuan yang lebih tinggi (abhiññā), yaitu pemadaman baik semua kekotoran mental (āsava) maupun kekuatan batin.[54] Sebagai contoh dalam AN 5.28, Sang Buddha menyatakan (Thanissaro, 1997.):
"Ketika seorang biku telah mengembangkan dan mempraktikkan konsentrasi benar yang mulia dengan lima faktor dengan cara ini, maka pada salah satu dari enam pengetahuan yang lebih tinggi mana pun ia mengarahkan pikirannya untuk diketahui dan direalisasikan, ia dapat menyaksikannya sendiri kapan pun ada celah...."
"Jika ia menginginkannya, ia menggunakan berbagai kekuatan supranormal (iddhi). Setelah menjadi satu ia menjadi banyak; setelah menjadi banyak ia menjadi satu. Ia muncul. Ia lenyap. Ia pergi tanpa halangan menembus dinding, benteng, dan gunung seolah-olah menembus ruang angkasa. Ia menyelam ke dalam dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air. Ia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah di atas tanah kering. Duduk bersila ia terbang di udara seperti burung bersayap. Dengan tangannya ia menyentuh dan membelai bahkan matahari dan bulan, yang begitu perkasa dan kuat. Ia menggunakan pengaruh dengan tubuhnya bahkan sampai ke alam Brahma. Ia dapat menyaksikannya sendiri kapan pun ada celah ..." - ^ Menurut tradisi Theravāda, jhāna harus dikombinasikan dengan vipassanā,[64] yang memberikan pandangan terang ke dalam tiga corak kehidupan dan mengarah pada pelepasan dan "manifestasi sang jalan".[65]
- ^ Dalam Buddhisme Zen, masalah ini telah muncul selama berabad-abad dalam perselisihan mengenai pencerahan seketika versus pencerahan bertahap.[67][halaman dibutuhkan]
- ^ Thomas William Rhys Davids dan Maurice Walshe sepakat bahwa istilah samādhi tidak ditemukan dalam teks pra-Buddhis mana pun, melainkan pertama kali disebutkan dalam Tipiṭaka. Istilah ini kemudian digabungkan ke dalam teks-teks yang muncul belakangan seperti Upanishad Maitrayaniya.[73] Namun menurut Matsumoto, "istilah dhyāna dan samahita (memasuki samādhi) sudah muncul dalam teks-teks Upanishad yang mendahului asal-usul agama Buddha".[74] Perhatikan bahwa dari sekitar 200 Upanishad, hanya 10 atau 12 yang pertama yang dianggap sebagai Upanishad tertua dan utama. Di antara 10 atau 12 Upanishad utama ini, Taittiriya, Aitareya, dan Kausitaki menunjukkan pengaruh Buddhis.[75] Upanishad Brihadaranyaka, Jaiminiya-Upanishad-Brahmana, dan Chandogya disusun pada era pra-Buddhis, sementara sisa dari 12 Upanishad tertua ini bertarikh pada beberapa abad terakhir SM.
- ^ Wynne mengklaim bahwa bagian-bagian Brahmanis tentang meditasi menunjukkan bahwa presuposisi paling dasar dari yoga Brahmanis awal adalah bahwa penciptaan dunia harus dibalikkan, melalui serangkaian kondisi meditatif, oleh sang yogin yang mencari realisasi dari Atman.[81] Kondisi-kondisi ini diberi latar belakang doktrinal dalam kosmogoni-kosmogoni Brahmanis awal, yang mengklasifikasikan dunia secara berturut-turut ke dalam strata yang lebih kasar. Salah satu stratifikasi tersebut ditemukan di TU II.1 dan Mbh XII.195, dan berlangsung sebagai berikut: Atman, ruang, angin, api, air, bumi. Mbh XII.224 secara alternatif memberikan: Brahman, pikiran, ruang, angin, api, air, bumi.[82]
- ^ Lihat, misalnya, Samādhaṅga Sutta (alias, Pañcaṅgikasamādhi Sutta, AN 5.28) (Thanissaro, 1997b).
- ^ Gunarathana merujuk pada Buddhaghosa, yang menjelaskan samadhi secara etimologis sebagai "pemusatan kesadaran dan faktor-faktor yang menyertai kesadaran secara merata dan benar pada satu objek tunggal [...] keadaan di mana kesadaran dan faktor-faktor yang menyertainya tetap merata dan benar pada satu objek tunggal, tidak terganggu dan tidak tersebar (Vism.84–85; PP.85)."[14]
- ^ Keinginan indrawi, niat buruk, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan dan kekhawatiran, serta keragu-raguan
- ^ Menurut Peter Harvey, konsentrasi akses dideskripsikan pada Digha Nikaya I, 110, di antara tempat-tempat lainnya: "Situasi pada D I, 110, dengan demikian, dapat dilihat sebagai salah satu di mana pendengar wacana memasuki suatu kondisi yang, meskipun bukan jhāna aktual, bisa jadi berada di ambang batasnya. Karena bebas dari rintangan, ia dapat dilihat sebagai konsentrasi 'akses' dengan derajat kebijaksanaan tertentu." Peter Harvey, Consciousness Mysticism in the Discourses of the Buddha. Dalam Karel Werner, ed., The Yogi and the Mystic. Curzon Press 1989, halaman 95. Lihat juga: Peter Harvey, The Selfless Mind, halaman 170.
- ^ Padanan dari upacāra-samādhi yang digunakan dalam komentar Tibet adalah nyer-bsdogs.[106]
- ^ Pāli: nimitta
- ^ Menurut Sujiva, ada lima aspek penguasaan jhāna:[109]
- Penguasaan dalam mengarahkan: kemampuan untuk mengarahkan[butuh klarifikasi] pada faktor-faktor jhāna satu per satu setelah keluar dari jhāna, di mana pun diinginkan, kapan pun diinginkan, dan selama yang diinginkan.
- Penguasaan dalam mencapai: kemampuan untuk memasuki jhāna dengan cepat.
- Penguasaan dalam menetapkan: kemampuan untuk berdiam di dalam jhāna sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan sebelumnya secara persis.
- Penguasaan dalam keluar: kemampuan untuk keluar dari jhāna dengan cepat tanpa kesulitan.
- Penguasaan dalam meninjau: kemampuan untuk meninjau jhāna beserta faktor-faktornya dengan pengetahuan retrospektif segera setelah mengarahkan pikiran padanya.
- ^ Publikasi asli: Gombrich, Richard (2007), Religious Experience in Early Buddhism, OCHS Library
- ^ Publikasi asli: Gombrich, Richard (2007), Religious Experience in Early Buddhism, OCHS Library
- ^ Lihat pula:
* Leigh Brasington, Interpretations of the Jhanas
* Simple|Sutta, Jhana Wars!
* Dhamma Wheel, The great Jhana debate[139] - ^ Lihat The Varieties of Meditative Experience karya Golman, yang diterbitkan pada awal 1970-an, yang memuji Visuddhimagga sebagai panduan utama untuk praktik meditasi.
- ^ Lihat juga Bronkhorst (1993), Two Traditions of Meditation in ancient India; Wynne (2007), The Origin of Buddhist Meditation; dan Polak (2011), Reexaming Jhana.
- ^ Sāmaññaphala Sutta: "Dengan meninggalkan kesenangan dan rasa sakit — seperti dengan lenyapnya kegembiraan dan penderitaan sebelumnya — ia memasuki dan berdiam dalam jhāna keempat: kemurnian keseimbangan batin dan perhatian penuh, bukan kesenangan maupun rasa sakit... Dengan pikirannya yang demikian terkonsentrasi, murni, dan cemerlang, tanpa noda, terbebas dari kecacatan, lentur, mudah dibentuk, stabil, dan mencapai keadaan tak tergoyahkan, bhikkhu tersebut mengarahkan dan mencondongkannya pada pengetahuan akan berakhirnya fermentasi-fermentasi mental (āsava). Ia mencerap, sebagaimana adanya, bahwa 'Ini adalah penderitaan... Ini adalah asal mula penderitaan... Ini adalah lenyapnya penderitaan... Ini adalah jalan yang mengarah pada lenyapnya penderitaan... Ini adalah fermentasi-fermentasi mental... Ini adalah asal mula fermentasi... Ini adalah lenyapnya fermentasi... Ini adalah jalan yang mengarah pada lenyapnya fermentasi."[149]
- ^ Arbel merujuk pada Bodhi (2011) What Does Minfulness really Mean? A Canonical perspective. Contemporary Buddhism 12, no.1, p.25: "...sebuah laku pengamatan atau keawasan terhadap pengalaman seseorang sendiri. Orang bahkan mungkin menyebut ini sebagai sebuah sikap sati, 'membelokkan kembali' pendaran kesadaran ke arah subjek yang mengalami di dalam dimensi fisik, indrawi, dan psikologisnya."[153]
"'Membelokkan kembali' pendaran cahaya" menyerupai "membalikkan kembali pancaran" dari Chinul, di mana cahaya kesadaran diputar kembali untuk menangkap sumber keawasan; dan dalam Fukan Zazen-gi karya Dōgen, "Merekomendasikan Zazen bagi Semua Orang: "Ambil langkah mundur dan putar cahaya ke dalam. Tubuh-pikiran Anda dengan sendirinya akan terlepas dan wajah asli Anda akan muncul."[154] Ini berakar kembali pada Xinxin Ming, "Keyakinan dalam Pikiran," yang dikaitkan dengan patriark Zen ketiga Sengcan, yang menyatakan "Memutar cahaya sejenak / mengusir ke-menjadi-an, keberdiaman, dan keusangan,"[155] dan diekspresikan dalam praktik Chan Tiongkok yakni Mengamati pikiran.[156] - ^ Dhyāna adalah aspek sentral dari praktik Buddhis di Chan:
* Nan Huai-Chin: "Penalaran intelektual hanyalah putaran lain dari kesadaran keenam, sedangkan praktik meditasi adalah jalan masuk yang sejati ke dalam Dharma."[157]
* Menurut Sheng Yen, konsentrasi meditatif sangatlah diperlukan, dan menyebut samādhi sebagai salah satu faktor prasyarat untuk kemajuan di jalur menuju pencerahan.[158] - ^ Lihat Khotbah Bunga
Referensi
sunting- ^ Vetter 1988, hlm. 5.
- ^ a b c Vetter 1988.
- ^ a b c d e f g Bronkhorst 1993.
- ^ a b Gethin 1992.
- ^ a b c d Rose 2016, hlm. 60.
- ^ a b Shankman 2008.
- ^ a b c d e f g h Polak 2011.
- ^ a b c d e f Arbel 2017.
- ^ Online Etymology Dictionary, Zen (n.)
- ^ a b c Jayarava, Nāmapada: a guide to names in the Triratna Buddhist Order
- ^ a b William Mahony (1997), The Artful Universe: An Introduction to the Vedic Religious Imagination, State University of New York Press, ISBN 978-0791435809, halaman 171-177, 222
- ^ Jan Gonda (1963), The Vision of Vedic Poets, Walter de Gruyter, ISBN 978-3110153156, halaman 289-301
- ^ George Feuerstein, Yoga and Meditation (Dhyana)
- ^ a b c d e Henepola Gunaratana, The Jhanas in Theravada Buddhist Meditation
- ^ Bronkhorst 1993, hlm. 62.
- ^ Wynne 2007.
- ^ Sanskrit Dictionary for Spoken Sanskrit, dhyana
- ^ Shankman 2008, hlm. 16.
- ^ Mahācattārīsakasutta
- ^ Analayo, Early Buddhist Meditation Studies, p.69-70, 80
- ^ Vimalaramsi 2015, hlm. 4.
- ^ a b Vetter 1988, hlm. XXV.
- ^ Bodhi, Bhikkhu (2005). In the Buddha's Words. Somerville: Wisdom Publications. hlm. 296–8 (SN 28:1-9). ISBN 978-0-86171-491-9.
- ^ Sujato, Bhikkhu. "Majjhima Nikāya 111: Anupada Sutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2026-03-16.
- ^ "Suttantapiṭake Aṅguttaranikāyo § 5.1.3.8". MettaNet-Lanka (dalam bahasa Pali). Diarsipkan dari asli tanggal 2007-11-05. Diakses tanggal 2007-06-06.
- ^ Bhikkhu, Thanissaro (1997). "Samadhanga Sutta: The Factors of Concentration (AN 5.28)". Access to Insight. Diakses tanggal 2007-06-06.
- ^ Fuller-Sasaki (2008).
- ^ a b c d e Arbel 2016.
- ^ Johansson 1981, hlm. 83.
- ^ a b Arbel 2016, hlm. 50-51.
- ^ Maezumi & Cook (2007), hlm. 63.
- ^ Arbel 2016, hlm. 106.
- ^ Wayman 1997, hlm. 48.
- ^ Sangpo & Dhammajoti 2012, hlm. 2413.
- ^ a b Lusthaus 2002, hlm. 89.
- ^ Chen 2017, hlm. "samadhi: A calm, stable and concentrative state of mind".
- ^ Arbel 2016, hlm. 73.
- ^ Rhys-Davids & Stede 1921–25.
- ^ Guenther & Kawamura 1975, hlm. Kindle Locations 1030-1033.
- ^ Kunsang 2004, hlm. 30.
- ^ Berzin 2006.
- ^ Lusthaus 2002, hlm. 116.
- ^ a b c d e f g Bucknell 1993, hlm. 375-376.
- ^ a b Stuart-Fox 1989, hlm. 82.
- ^ Arbel 2016, hlm. 94.
- ^ Lusthaus 2002, hlm. 113.
- ^ a b c Vetter 1988, hlm. XXVI, note 9.
- ^ a b Arbel 2016, hlm. 86.
- ^ Arbel 2016, hlm. 115.
- ^ a b Lusthaus 2002, hlm. 90.
- ^ a b Arbel 2016, hlm. 124.
- ^ a b Arbel 2016, hlm. 125.
- ^ Johansson 1981, hlm. 98.
- ^ Sarbacker 2021, hlm. entry: "abhijñā".
- ^ Gokhale (2020), hlm. 203.
- ^ a b Majjhima Nikāya 111, Anuppada Sutta
- ^ Steven Sutcliffe, Religion: Empirical Studies. Ashgate Publishing, Ltd., 2004, halaman 135.
- ^ Chandima Wijebandara, Early Buddhism, Its Religious and Intellectual Milieu. Postgraduate Institute of Pali and Buddhist Studies, University of Kelaniya, 1993, halaman 22.
- ^ "MN 43 Mahāvedallasutta tra.by Bhikkhu Sujato". SuttaCentral. Diakses tanggal 2025-04-24.
Ketika seorang petapa telah mencapai lenyapnya persepsi dan perasaan, proses fisik, verbal, dan mentalnya telah berhenti dan menjadi hening. Tetapi vitalitasnya belum habis; kehangatannya belum lenyap; dan indranya sangat jernih. ... āyu na parikkhīṇo, usmā avūpasantā,
- ^ Laukkonen, Ruben E.; Sacchet, Matthew D.; Barendregt, Henk; Devaney, Kathryn J.; Chowdhury, Avijit; Slagter, Heleen A. (2023), "Cessations of consciousness in meditation: Advancing a scientific understanding of nirodha samāpatti", Progress in Brain Research, Elsevier, hlm. 61–87, doi:10.1016/bs.pbr.2022.12.007, hdl:1871.1/03597246-2830-4abe-b2fb-9845c1a9110b, ISBN 978-0-443-23613-6, PMID 37714573, diakses tanggal 2024-06-04
- ^ a b Fischer-Schreiber, Ehrhard & Diener 2008, hlm. 103.
- ^ Deleanu, Florin (1992); Mindfulness of Breathing in the Dhyāna Sūtras Diarsipkan 19 May 2015 di Wayback Machine.. Transactions of the International Conference of Orientalists in Japan (TICOJ) 37, 42–57.
- ^ Bronkhorst 1993, hlm. 1-25.
- ^ Wynne 2007, hlm. 73.
- ^ King 1992, hlm. 90.
- ^ Thanissaro Bhikkhu, One Tool Among Many. The Place of Vipassana in Buddhist Practice
- ^ Gregory 1991.
- ^ Bronkhorst 1993, hlm. 23.
- ^ Nanamoli 1995.
- ^ Vetter 1988, hlm. 6-7.
- ^ a b Vetter 1988, hlm. 5–6.
- ^ a b Samuel 2008.
- ^ Walshe, Maurice (trans.) (1995). The Long Discourses of the Buddha: A Translation of the Digha Nikaya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-103-3.
- ^ Matsumoto 1997, hlm. 242.
- ^ King 1995, hlm. 52.
- ^ Crangle 1994, hlm. 267-274.
- ^ Bronkhorst 1993, hlm. 95;122–123.
- ^ Paramahansa Yogananda, Autobiography of a Yogi
- ^ Kalupahana 1994, hlm. 24-25.
- ^ a b c Wynne 2007, hlm. 94.
- ^ Wynne 2007, hlm. 41, 56.
- ^ Wynne 2007, hlm. 49.
- ^ Wynne 2007, hlm. 44, lihat juga 45–49.
- ^ a b Vishvapani (rev.) (1997). Review: Origin of Buddhist Meditation. Retrieved 2011-2-17 from "Western Buddhist Review" at http://www.westernbuddhistreview.com/vol5/the-origin-of-buddhist-meditation.html Diarsipkan 2011-02-20 di Wayback Machine..
- ^ Polak, Grzegorz (2016-05-01). "How Was Liberating Insight Related to the Development of the Four Jhānas in Early Buddhism? A New Perspective through an Interdisciplinary Approach".
- ^ a b Schmithausen 1981.
- ^ Vetter 1988, hlm. xxi–xxii.
- ^ Vetter 1988, hlm. xxi-xxxvii.
- ^ a b Peter Harvey, An Introduction to Buddhism. Cambridge University Press, 1990, halaman 252.
- ^ a b Nathan Katz, Buddhist Images of Human Perfection: The Arahant of the Sutta Piṭaka Compared with the Bodhisattva and the Mahāsiddha. Motilal Banarsidass, 1990, halaman 78.
- ^ Vetter 1988, hlm. xxvii.
- ^ Vetter 1988, hlm. xxxi.
- ^ Bronkhorst 1993, hlm. 100–101.
- ^ Bronkhorst 1993, hlm. 131.
- ^ a b Vetter 1988, hlm. xxi–xxxvii.
- ^ Gombrich 1997, hlm. 96-134.
- ^ Vetter 1988, hlm. xxxv.
- ^ a b Wynne 2007, hlm. 105.
- ^ Williams 2000, hlm. 45.
- ^ a b c d Wynne 2007, hlm. 106.
- ^ Vetter 1988, hlm. xxviii.
- ^ Vetter 1988, hlm. xxix.
- ^ Vetter 1988, hlm. xxx.
- ^ Thanissaro Bhikkhu's commentary on the Anuppada Sutta, MN#111
- ^ Rose 2016, hlm. 60-61.
- ^ B. Alan Wallace, The bridge of quiescence: experiencing Tibetan Buddhist meditation. Carus Publishing Company, 1998, halaman 92. Wallace menerjemahkan keduanya sebagai "stabilisasi meditatif terdekat pertama".
- ^ Tse-fu Kuan, Mindfulness in Early Buddhism: New Approaches Through Psychology and Textual Analysis of Pali, Chinese and Sanskrit Sources. Routledge, 2008, halaman 65–67.
- ^ Yang Mulia Sujivo, Access and Fixed Concentration. Vipassana Tribune, Vol 4 No 2, Juli 1996, Buddhist Wisdom Centre, Malaysia. Tersedia di sini Diarsipkan 2010-12-21 di Wayback Machine..
- ^ Sujiva, Mastering an Absorption , Buddhanet
- ^ Stuart-Fox 1989, hlm. 83-87.
- ^ Buddhadasa; Bhikkhu Thanissaro; Arbel 2017
- ^ Stuart-Fox 1989, hlm. 85-87.
- ^ a b Stuart-Fox 1989.
- ^ Gombrich 1997, hlm. 84-85.
- ^ Gombrich 1997, hlm. 62.
- ^ Wynne 2007, hlm. 106; 140, note 58.
- ^ Vetter 1988, hlm. 13.
- ^ a b Wynne 2007, hlm. 140, note 58.
- ^ Wynne 2007, hlm. 106-107; 140, note 58.
- ^ Lusthaus 2002, hlm. 91.
- ^ Gethin 1992, hlm. 162-182.
- ^ Gethin 2004, hlm. 217, note 26.
- ^ Polak 2011, hlm. 25.
- ^ Gethin 2004, hlm. 217-218.
- ^ Gethin 2004, hlm. 203-204.
- ^ Gethin 2004, hlm. 204.
- ^ Gethin 2004, hlm. 208.
- ^ a b Gethin 2004, hlm. 216.
- ^ Gethin 2004, hlm. 215.
- ^ Gethin 2004, hlm. 217.
- ^ Wynne 2007, hlm. 106-107.
- ^ Brahmali, Ajahn (2024-03-27). "What Ven. Anālayo gets wrong about samādhi: a review of "A Brief History of Buddhist Absorption"". Discuss & Discover (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2024-08-21. Diakses tanggal 2024-08-21.
- ^ Sujato, Ven. Bhante (2012-12-06). "Why vitakka doesn't mean 'thinking' in jhana". Sujato’s Blog (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-10. Diakses tanggal 2024-08-21.
- ^ Brasington, Leigh (2015-09-02). Right Concentration: A Practical Guide to the Jhanas. Shambhala. ISBN 9781611802696.
- ^ Sparby, Terje; Sacchet, Matthew D. (2024-06-01). "Toward a Unified Account of Advanced Concentrative Absorption Meditation: A Systematic Definition and Classification of Jhāna". Mindfulness (dalam bahasa Inggris). 15 (6): 1375–1394. doi:10.1007/s12671-024-02367-w. ISSN 1868-8535.
- ^ Brahm 2006.
- ^ a b c d Quli 2008.
- ^ a b Rose 2016, hlm. 61.
- ^ The great Jhana debate
- ^ a b c Bhikkhu Thanissaro, Concentration and Discernment
- ^ Shankman 2008, hlm. 117.
- ^ Shankman 2008, hlm. 136.
- ^ Shankman 2008, hlm. 137.
- ^ Shankman 2008, hlm. 137-138.
- ^ Vetter 1988, hlm. xxxvi.
- ^ Shankman 2008, hlm. 80.
- ^ a b Rose 2016, hlm. 59.
- ^ Richard Shankman, The Experience of Samadhi – an in depth Exploration of Buddhist Meditation, Shambala publications 2008
- ^ "Sāmaññaphala Sutta".
- ^ Arbel 2017, hlm. 16.
- ^ a b c Polak 2011, hlm. 208.
- ^ a b Arbel 2016, hlm. 171, n.65.
- ^ Arbel 2016, hlm. 141.
- ^ Dogen 1999, hlm. 32.
- ^ Baker 2008, hlm. 235, note 136.
- ^ Sharf 2014.
- ^ Nan, Huai-Chin. To Realize Enlightenment: Practice of the Cultivation Path. 1994. p. 1
- ^ Sheng Yen. Orthodox Chinese Buddhism. North Atlantic Books. 2007. p. 122
- ^ Deleanu, Florin (1992); Mindfulness of Breathing in the Dhyāna Sūtras. Transactions of the International Conference of Orientalists in Japan (TICOJ) 37, 42–57.
- ^ Ven. Dr. Yuanci, A Study of the Meditation Methods in the DESM and Other Early Chinese Texts Diarsipkan 2013-05-08 di Wayback Machine., The Buddhist Academy of China.
- ^ Sharf 2015, hlm. 475.
- ^ Yu 2021, hlm. 157.
- ^ Lai & Cheng 2008, hlm. 351.
- ^ Suzuki 2014, hlm. 112.
- ^ Schaik 2018, hlm. 70, 93.
- ^ McRae 1986, hlm. 143.
- ^ Sharf 2014, hlm. 939.
- ^ Sheng, Yen. "Fundamentals of Meditation".
- ^ Sōtō Zen Text Project. "Zazengi translation". Stanford University. Diarsipkan dari asli tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 15 November 2015.
- ^ Sōtō Zen Text Project. "Fukan Zazengi". Stanford University. Diarsipkan dari asli tanggal 2008-04-29. Diakses tanggal 2008-03-26.
- ^ a b Luk, Charles. The Secrets of Chinese Meditation. 1964. p. 44
- ^ Nan, Huai-Chin. Basic Buddhism: Exploring Buddhism and Zen. 1997. p. 92
- ^ Blyth 1966.
- ^ Loori 2006.
- ^ Lachs 2006.
- ^ a b B. Alan Wallace, The Bridge of Quiescence: Experiencing Tibetan Buddhist Meditation. Carus Publishing Company, 1998, halaman 215–216.
- ^ Study and Practice of Meditation: Tibetan Interpretations of the Concentrations and Formless Absorptions oleh Leah Zahler. Snow Lion Publications: 2009 hal 264-5
- ^ B. Alan Wallace, The Attention Revolution: Unlocking the Power of the Focused Mind. Wisdom Publications, 2006, halaman xii.
- ^ a b Johannes Bronkhorst (1993). The Two Traditions of Meditation in Ancient India. Motilal Banarsidass. hlm. 45–49, 68–70, 78–81, 96–98, 112–119. ISBN 978-81-208-1114-0.
- ^ Constance Jones; James D. Ryan (2006). Encyclopedia of Hinduism. Infobase. hlm. 283–284. ISBN 978-0-8160-7564-5.
- ^ James G. Lochtefeld, Ph.D. (2001). The Illustrated Encyclopedia of Hinduism, Volume 1. The Rosen Publishing Group, Inc. hlm. 196. ISBN 978-0-8239-3179-8.
- ^ Wujastyk 2011, hlm. 33.
- ^ Feuerstein 1978, hlm. 108.
- ^ Tola, Dragonetti & Prithipaul 1987, hlm. x.
- ^ Moving Inward: The Journey from Asana to Pratyahara Diarsipkan July 19, 2011, di Wayback Machine. Himalayan Institute of Yoga Science and Philosophy.
- ^ Karel Werner, The Yogi and the Mystic. Routledge 1994, halaman 27.
- ^ Robert Thurman, The Central Philosophy of Tibet. Princeton University Press, 1984, halaman 34.
- ^ Woods, James Haughton, trans. (1914). The Yoga System of Patanjali with commentary Yogabhashya attributed to Veda Vyasa and Tattva Vaicharadi by Vacaspati Misra. Cambridge: Harvard University Press. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)[halaman dibutuhkan]
- ^ An Outline of the Religious Literature of India, By John Nicol Farquhar p.132
- ^ Bodhi, Bhikkhu (trans.) (2000). The Connected Discourses of the Buddha: A New Translation of the Samyutta Nikaya. Boston: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-331-1.[halaman dibutuhkan]
Daftar pustaka
sunting- Arbel, Keren (2016), Early Buddhist Meditation: The Four Jhanas as the Actualization of Insight, Routledge, doi:10.4324/9781315676043, ISBN 9781317383994
- Arbel, Keren (2017). Early Buddhist meditation : the four jhânas as the actualization of insight. London: Routledge. ISBN 978-1-317-38399-4.
- Baker, Kenneth (2008), The Lightning Field, Hol Art Books
- Berzin, Alexander (2006), Primary Minds and the 51 Mental Factors
- Blyth, R. H. (1966), Zen and Zen Classics, Volume 4, Tokyo: Hokuseido Press
- Brahm, Ajahn (2006), Mindfulness, Bliss, and Beyond: A Meditator's Handbook, Wisdom Publications
- Brahm, Ajahn (2007), Simply This Moment
- Bronkhorst, Johannes (1993), The Two Traditions Of Meditation In Ancient India, Motilal Banarsidass Publ.
- Bucknell, Robert S. (1993), "Reinterpreting the Jhanas", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 16 (2)
- Chen, Naichen (2017), The Great Prajna Paramita Sutra, Volume 1, Wheatmark
- Cousins, L. S. (1996), "The origins of insight meditation" (PDF), dalam Skorupski, T. (ed.), The Buddhist Forum IV, seminar papers 1994–1996 (pp. 35–58), London, UK: School of Oriental and African Studies, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-12-30, diakses tanggal 2020-04-19
- Crangle, Edward Fitzpatrick (1994), The Origin and Development of Early Indian Contemplative Practices, Harrassowitz Verlag
- Dogen, Kazuaki (1999), Tanahashi (ed.), Enlightenment Unfolds. The Essential Teachings of Zen Master Dogen, Shambhala
- Dumoulin, Heinrich (2005), Zen Buddhism: A History. Volume 1: India and China, World Wisdom Books, ISBN 978-0-941532-89-1
- Feuerstein, George (1978), Handboek voor Yoga (Dutch translation; English title "Textbook of Yoga"), Ankh-Hermes
- Fischer-Schreiber, Ingrid; Ehrhard, Franz-Karl; Diener, Michael S. (2008), Lexicon Boeddhisme. Wijsbegeerte, religie, psychologie, mystiek, cultuur en literatuur, Asoka
- Fuller-Sasaki, Ruth (2008), The Record of Lin-Ji, University of Hawaii Press
- Gethin, Rupert (1992), The Buddhist Path to Awakening, OneWorld Publications
- Gethin, Rupert (2004), "On the Practice of Buddhist Meditation According to the Pali Nikayas and Exegetical Sources", Buddhismus in Geschichte und Gegenwart, 9: 201–21
- Gokhale, Pradeep P. (2020). The Yogasūtra of Patañjali: A New Introduction to the Buddhist Roots of the Yoga System. Taylor & Francis.
- Gombrich, Richard F. (1997), How Buddhism Began, Munshiram Manoharlal
- Gregory, Peter N. (1991), Sudden and Gradual. Approaches to Enlightenment in Chinese Thought, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited
- Guenther, Herbert V.; Kawamura, Leslie S. (1975), Mind in Buddhist Psychology: A Translation of Ye-shes rgyal-mtshan's "The Necklace of Clear Understanding" (Edisi Kindle), Dharma Publishing
- Johansson, Rune Edvin Anders (1981), Pali Buddhist Texts: Explained to the Beginner, Psychology Press
- Kalupahana, David J. (1992), The Principles of Buddhist Psychology, Delhi: ri Satguru Publications
- Kalupahana, David J. (1994), A history of Buddhist philosophy, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited
- King, Richard (1995), Early Advaita Vedānta and Buddhism: The Mahāyāna Context of the Gauḍapādīya-kārikā, SUNY Press
- King, Winston L. (1992), Theravada Meditation. The Buddhist Transformation of Yoga, Delhi: Motilal Banarsidass
- Kunsang, Erik Pema (2004), Gateway to Knowledge, Vol. 1, North Atlantic Books
- Lachs, Stuart (2006), The Zen Master in America: Dressing the Donkey with Bells and Scarves
- Lai , Whalen; Cheng, Yu-yin (2008), "Chinese Buddhist Philosophy from Han through Tang", dalam Mou, Bo (ed.), ?, Routledge
- Loori, John Daido (2006), Sitting with Koans: Essential Writings on Zen Koan Introspection, Wisdom Publications, ISBN 0-86171-369-9
- Lusthaus, Dan (2002), Buddhist Phenomenology: A Philosophical Investigation of Yogacara Buddhism and the Ch'eng Wei-shih Lun, Routledge
- Maezumi, Taizan; Cook, Francis Dojun (2007), "The Eight Awarenesses of the Enlightened Person": Dogen Zenji's Hachidainingaku", dalam Maezumi, Taizan; Glassman, Bernie (ed.), The Hazy Moon of Enlightenment, Wisdom Publications
- Matsumoto, Shirõ (1997) (1997), The Meaning of "Zen". In Jamie Hubbard (ed.), Pruning the Bodhi Tree: The Storm Over Critical Buddhism (PDF), Honolulu: University of Hawaiʻi Press, hlm. 242–250, ISBN 082481908X Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- McRae, John (1986), The Northern School and the Formation of Early Chʻan Buddhism, University of Hawaii Press
- Nanamoli, Bhikkhu (trans.) (1995), The Middle Length Discourses of the Buddha: A New Translation of the Majjhima Nikaya, Wisdom Publications, ISBN 0-86171-072-X
- Polak, Grzegorz (2011), Reexamining Jhana: Towards a Critical Reconstruction of Early Buddhist Soteriology, UMCS
- Quli, Natalie (2008), "Multiple Buddhist Modernisms: Jhana in Convert Theravada" (PDF), Pacific World, 10: 225–249
- Rhys-Davids, T.W.; Stede, William, ed. (1921–25), The Pali Text Society's Pali–English dictionary, Pali Text Society), diarsipkan dari asli tanggal July 8, 2012
- Rose, Kenneth (2016), Yoga, Meditation, and Mysticism: Contemplative Universals and Meditative Landmarks, Bloomsbury
- Samuel, Geoffrey (2008). The Origins of Yoga and Tantra: Indic Religions to the Thirteenth Century. Cambridge University Press. ISBN 978-1-139-47021-6.
- Sangpo, Gelong Lodro; Dhammajoti, Bhikkhu K.L. (2012), Abhidharmakosa-Bhasya of Vasubandhu: Volume 3, Motilal Banarsidass
- Sarbacker, Stuart Ray (2021), Tracing the Path of Yoga: The History and Philosophy of Indian Mind-Body Discipline, State University of New York Press
- Schmithausen, Lambert (1981), On some Aspects of Descriptions or Theories of 'Liberating Insight' and 'Enlightenment' in Early Buddhism". In: Studien zum Jainismus und Buddhismus (Gedenkschrift für Ludwig Alsdorf), hrsg. von Klaus Bruhn und Albrecht Wezler, Wiesbaden 1981, 199–250
- Schaik, Sam van (2018), The spirit of Zen, Yale University Press
- Shankman, Richard (2008), The Experience of Samadhi: An In-depth Exploration of Buddhist Meditation, Shambhala
- Sharf, Robert (2014), "Mindfullness and Mindlessness in Early Chan" (PDF), Philosophy East & West, 64 (4): 933–964, doi:10.1353/pew.2014.0074, S2CID 144208166[pranala nonaktif permanen]
- Sharf, Robert H. (2015), "Is mindfulness Buddhist? (and why it matters)", Transcultural Psychiatry, 52 (4): 470–484, doi:10.1177/1363461514557561, PMID 25361692, S2CID 18518975
- Stuart-Fox, Martin (1989), "Jhana and Buddhist Scholasticism", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 12 (2)
- Suzuki, D.T. (2014), Selected Works of D.T. Suzuki, Volume I: Zen, University of California Press
- Tola, Fernando ; Dragonetti, Carmen; Prithipaul, K. Dad (1987), The Yogasūtras of Patañjali on concentration of mind, Motilal Banarsidass
- Vetter, Tilmann (1988), The Ideas and Meditative Practices of Early Buddhism, BRILL
- Vimalaramsi, Bhante (2015), A Guide to Tranquil Wisdom Insight Meditation, Dhamma Sukha Publishing
- Wayman, Alex (1997), "Introduction", Calming the Mind and Discerning the Real: Buddhist Meditation and the Middle View, from the Lam Rim Chen Mo Tson-kha-pa, Motilal Banarsidass Publishers
- Williams, Paul (2000), Buddhist Thought. A complete introduction to the Indian tradition, Routledge
- Wujastyk, Dominik (2011), The Path to Liberation through Yogic Mindfulness in Early Ayurveda. In: David Gordon White (ed.), "Yoga in practice", Princeton University Press
- Wynne, Alexander (2007), The Origin of Buddhist Meditation, Routledge
- Yu, Jimmy (2021), Reimagining Chan Buddhism: Sheng Yen and the Creation of the Dharma Drum Lineage of Chan, Routledge
- Zhu, Rui (2005), "Distinguishing Sōtō and Rinzai Zen: Manas and the Mental Mechanics of Meditation" (PDF), East and West, 55 (3): 426–446, diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2018-12-14, diakses tanggal 2018-12-14
Bacaan lanjutan
sunting- Kajian akademik (filologis/historis)
- Analayo (2017), Early Buddhist Meditation Studies (membela posisi Theravada tradisional)
- Bronkhorst, Johannes (1993), The Two Traditions Of Meditation In Ancient India, Motilal Banarsidass Publ.
- Bucknell, Robert S. (1993), "Reinterpreting the Jhanas", Journal of the International Association of Buddhist Studies, 16 (2)
- Polak (2011), Reexamining Jhana
- Wynne, Alexander (2007), The Origin of Buddhist Meditation, Routledge
- Kajian ulang tentang jhāna di dalam tradisi Theravāda
- Quli, Natalie (2008), "Multiple Buddhist Modernisms: Jhana in Convert Theravada" (PDF), Pacific World, 10: 225–249
- Shankman, Richard (2008), The Experience of Samadhi
Pranala luar
sunting- Dari Suttapiṭaka
- "Jhana" (2005) Diarsipkan 2008-11-23 di Wayback Machine., deskripsi dan perumpamaan dari Aṅguttaranikāya dan Dhammapada di dalam Tripitaka Pali, oleh John T. Bullitt.
- Sudut pandang Buddhis Theravāda
- Henepola Gunaratana, Jhanas in Theravada Buddhist Meditation
- Ajahn Brahmavamso, Travelogue to the four Jhanas
- Ajahn Brahmavamso, The Jhanas
- Thanissaro Bhikkhu, Jhana not by the numbers
- Bhante Vimalaramsi Mahāthera, MN 111 One by One as They Occurred – Anupada Sutta. Ceramah Dhamma mengenai Anupada-Sutta. Ceramah ini menyajikan laporan yang sangat rinci tentang progresi (perjalanan maju) menembus jhāna.
- Sutta-style jhanas: a western phenomenon?, Dhamma Wheel
- Sudut pandang Buddhis Mahāyāna
- Nagarjuna, Commentary in the Four Dhyanas
- Lain-lain
- Leigh Breighton, Interpretations of the Jhanas
- Jhana Wars!, Simple|Suttas
- O'Brien, Barbara. "Jhanas or Dhyanas: A Progression of Buddhist Meditation." Learn Religions, 28 Sept. 2018.








