| Terjemahan dari saแนyojana | |
|---|---|
| Indonesia | belenggu |
| Inggris | fetter |
| Pali | saแนyojana |
| Sanskerta | เคธเคเคฏเฅเคเคจ (IAST: saแนyojana) |
| Tionghoa | ็ต (Pinyin:ย jiรฉ) |
| Jepang | ็ต (rลmaji: yui) |
| Korea | ๊ฒฐ (RR: gyeol) |
| Bengali | เฆฌเฆจเงเฆงเฆจ |
| Myanmar | แแถแแฑแฌแแแบ (MLCTS: san yaw jain) |
| Thai | เธชเธฑเธเนเธขเธเธเน (IPA: sวล jรดหt) |
| Vietnam | kiแบฟt sแปญ |
| Lao | เบเบธเบเบธเบเบปเบ |
| Daftar Istilah Buddhis | |
| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme |
|---|
Dalam Buddhisme, sebuah belenggu batin, rantai batin, atau ikatan batin (Pali: saแนyojana, saรฑรฑojana; Sanskerta: เคธเคเคฏเฅเคเคจ, saแนyojana; KBBI: samyojana) mengikat mahkluk hidup pada samsara (lingkaran punarbawa yang disertai penderitaan). Dengan meyingkirkan seluruh belenggu secara bertahap, seseorang mencapai Nirwana melalui empat tingkat kemuliaan.
Belenggu, bersama-sama dengan rintangan dan berbagai faktor mental tidak baik lainnya, merupakan bagian dari pengotor batin (kilesa).[1]
Theravฤda
sunting| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Theravฤda |
|---|
| Buddhisme |
Belenggu penderitaan
suntingDalam Tripitaka Pali, kata "belenggu" digunakan untuk menjelaskan fenomena intrapsikis yang mengikat seseorang pada penderitaan. Sebagai contoh, dalam kitab Itivuttaka (Taแนhฤsaแนyojana Sutta, Iti 15)[2] yang merupakan bagian dari Khuddaka Nikฤya, Buddha menyatakan:
- "Para bhikkhu, saya tidak melihat satu pun belengguโbelenggu yang mengikat makhluk-makhluk yang tergabung untuk mengembara dan berpindah-pindah selama waktu yang sangat lamaโseperti belenggu taแนhฤ. Terbelenggu oleh belenggu taแนhฤ, makhluk-makhluk yang tergabung untuk mengembara dan berpindah-pindah selama waktu yang sangat lama."[3]
Di bagian kitab suci lainnya, penderitaan yang disebabkan oleh belenggu-belenggu dijelaskan secara tersirat dalam sebuah percakapan teknis antara Sฤriputta dan Kotthita dalam Koแนญแนญhita Sutta (SN 35.232):
- Kotthita:
- "... Apakah mata adalah belenggu bagi bentuk-bentuk atau apakah bentuk-bentuk adalah belenggu bagi mata?
- Apakah telinga adalah belenggu bagi suara-suara atau apakah suara-suara adalah belenggu bagi telinga?
- Apakah batin adalah belenggu bagi fenomena-fenomena batin atau apakah fenomena-fenomena batin adalah belenggu bagi batin?"
- Sฤriputta:
- "...Mata bukanlah belenggu bagi bentuk-bentuk juga bentuk-bentuk bukanlah belenggu bagi mata, melainkan hasrat-dan-nafsu (chandarฤga) yang muncul di sana dengan bergantung pada keduanya: itulah belenggu di sana.
- Telinga bukanlah belenggu bagi suara-suara juga suara-suara bukanlah belenggu bagi telinga, melainkan hasrat-dan-nafsu yang muncul di sana dengan bergantung pada keduanya: itulah belenggu di sana. ...
- Batin bukanlah belenggu bagi fenomena-fenomena batin juga fenomena-fenomena batin bukanlah belenggu bagi batin, melainkan hasrat-dan-nafsu yang muncul di sana dengan bergantung pada keduanya: itulah belenggu di sana. ..."[note 1][4]
Daftar belenggu
suntingBelenggu dijelaskan dan diurutkan dengan cara yang berbeda dalam daftar-daftar di Sutta Piแนญaka dan Abhidhamma Piแนญaka dalam Tripitaka Pali.
Sutta Piแนญaka: sepuluh jenis belenggu
suntingSutta Piแนญaka dalam Tripitaka Pali menjelaskan sepuluh "belenggu eksistensi atau keberadaan":[note 2]
- pandangan identitas atau jati diri (Pali: sakkฤya-diแนญแนญhi), percaya ada diri atau roh[note 3]
- keraguan (vicikicchฤ) atau ketidakpastian, terutama mengenai ajaran[note 4]
- kemelekatan pada ritual dan adat (sฤซlabbata-parฤmฤsa)[note 5]
- hasrat indrawi (kฤmacchanda)[note 6]
- rasa benci (vyฤpฤda atau byฤpฤda)[note 7]
- nafsu atas keberadaan materi (rลซparฤga), nafsu atas kelahiran kembali di dunia materi[note 8]
- nafsu atas keberadaan nonmateri (arลซparฤga), nafsu atas kelahiran kembali di dunia tanpa materi[note 9]
- kesombongan (mฤna)[note 10][note 11]
- kegelisahan (uddhacca)[note 12]
- ketidaktahuan (avijjฤ)[note 13]
| Bodhi | Punarbawa | Belenggu yang disingkirkan | |
|---|---|---|---|
| sotฤpanna | ยฑ tujuh kali; manusia atau dewa |
1.ย pandanganย salah terhadap jati diri (sakkฤya-diแนญแนญhi) 2.ย keraguan (vicikicchฤ) 3.ย kemelekatan padaย ritualย danย adat (sฤซlabbata-parฤmฤsa) |
belenggu rendah |
| sakadฤgฤmi | sekali lagi; manusia | ||
| anฤgฤmi | sekali lagi; suddhฤvฤsa |
4.ย hasratย indrawi (kฤmacchanda) 5.ย rasa benci (vyฤpฤda/byฤpฤda) | |
| arahat | tidak ada | 6.ย nafsuย punarbawa diย alamย materi (rลซparฤga) 7.ย nafsuย punarbawa diย alamย nonmateri (arลซparฤga) 8.ย kesombongan (mฤna) 9.ย kebingungan (uddhacca) 10.ย ketidaktahuan (avijjฤ) |
belenggu tinggi |
Sebagaimana ditampilkan pada tabel, di dalam Sutta Piแนญaka, lima belenggu pertama dirujuk sebagai "belenggu-belenggu rendah" (orambhฤgiyฤni saแนyojanฤni) dan disingkirkan segera setelah seseorang mencapai tingkat sotฤpanna; dan lima belenggu terakhir dirujuk sebagai "belenggu-belenggu tinggi" (uddhambhฤgiyฤni saแนyojanฤni), disingkirkan oleh seorang arahat.[note 14]
Sutta Piแนญaka: tiga jenis belenggu
suntingDalam Saแน gฤซti Sutta (DN 33) dan kitab Dhammasaแน gaแนฤซ (Dhs. 1002-1006), dijelaskan "tiga belenggu" yang sama seperti tiga belenggu pertama dalam daftar sepuluh jenis belenggu menurut Sutta Piแนญaka yang telah disebutkan di atas:
- percaya ada diri atau roh (Pali: sakkฤya-diแนญแนญhi)
- keraguan (vicikicchฤ) atau ketidakpastian, terutama mengenai ajaran
- kemelekatan pada ritual dan adat (sฤซlabbata-parฤmฤsa)[note 15]
Menurut Tripitaka Pali, tiga belenggu telah diberantas oleh para pemasuk-arus (sotฤpanna) dan kembali-sekali (sakadฤgฤmi).[note 16]
Abhidhamma Piแนญaka: sepuluh jenis belenggu
suntingKitab Dhammasaแน gaแนฤซ dalam Abhidhamma Piแนญaka (Dhs. 1113-34) menyediakan daftar lain mengenai sepuluh belenggu, daftar ini juga ditemukan dalam kitab Cuแธทaniddesa bagian Khuddaka Nikฤya (Nd2 656, 1463) dan pada kitab-kitab komentar. Daftarnya adalah:[note 17]
- nafsu indrawi (Pali: kฤma-rฤga)
- antipati/rasa benci (paแนญigha)
- kesombongan (mฤna)
- pandangan salah (diแนญแนญhi)
- keraguan (vicikicchฤ)
- kemelekatan pada ritual dan adat (sฤซlabbata-parฤmฤsa)
- nafsu atas keberadaan (bhava-rฤga)
- iri hati (issฤ)
- kekikiran (macchariya)
- ketidaktahuan (avijjฤ)
Kitab komentar menegaskan bahwa pandangan salah, keraguan, kemelekatan pada ritual, iri hati, dan kekikiran dapat dibasmi dengan pencapaian tingkat kesucian pertama (sotฤpatti); nafsu indrawi yang kotor dan antipati pada tingkat kedua (sakadฤgฤmitฤ); perwujudan halus dari belenggu serupa pada tingkatan ketiga (anฤgฤmitฤ); dan kesombongan, nafsu atas keberadaan, dan ketidaktahuan pada tahapan keempat atau terakhir (arahatta).
Belenggu perumah tangga
suntingSecara khusus, dalam Potaliya Sutta (MN 54), dijelaskan delapan belenggu (termasuk tiga poin dari Pancasila) yang "menuntun menuju terpotongnya urusan-urusan dalam Disiplin Yang Mulia (Jalan Mulia Berunsur Delapan)" (ariyassa vinaye vohฤrasamucchedฤya saแนvattanti) bagi seorang perumah tangga atau umat awam (upฤsaka-upฤsikฤ):
- pembunuhan makhluk hidup (pฤแนฤtipฤta)
- pencurian (adinnฤdฤna)
- kebohongan (musฤvฤda)
- fitnah (pisuแนฤ)
- perampasan dan keserakahan (giddhilobha)
- cacian dan kedengkian (nindฤroso)
- kemarahan dan kejengkelan (kodhลซpฤyฤsa)
- kesombongan (atimฤno)[note 18][5]
Belenggu individual
suntingBelenggu-belenggu berikut ini adalah tiga belenggu pertama yang disebutkan dalam daftar sepuluh belenggu Sutta Piแนญaka, dan juga dalam daftar โtiga belengguโ Saแน gฤซti Sutta (DN 33) dan Abhidhamma Piแนญaka (Dhs. 1002 ff.). Seperti yang ditunjukkan di bawah ini, tersingkirkannya ketiga belenggu ini adalah indikator kanonis bahwa seseorang telah berada di jalan menuju kecerahan.
Pandangan jati diri (sakkฤya-diแนญแนญhi)
suntingSecara etimologi, kฤya berarti "tubuh", sakkฤya berarti "tubuh yang ada", dan diแนญแนญhi berarti "pandangan" (sering kali merujuk pada pandangan salah dalam Buddhisme, sebagaimana dicontohkan dalam tabel berikut).
| Pandangan enam guru sesat |
|---|
| Pandangan dari enam samaแนa dalam Tripitaka Pali, juga dikenal sebagai enam guru sesat, sesuai Sฤmaรฑรฑaphala Sutta (DN 2).[6] |
| Pลซraแนa Kassapa |
| Makkhali Gosฤla (ฤjฤซvika) |
| Ajita Kesakambalฤซ (Carwaka) |
| Pakudha Kaccฤyana |
| Nigaแนแนญha Nฤแนญaputta (Jainisme) |
| Saรฑjaya Belaแนญแนญhiputta (Ajรฑana) |
|
|
Secara umum, "percaya pada diri individu" atau, lebih ringkasnya, "pandangan diri" merujuk pada "kepercayaan bahwa dalam satu gugusan atau lainnya terdapat suatu entitas kekal, sebuah attฤ".[8]
Dalam Sabbasava Sutta (MN 2), Buddha juga menjelaskan "belenggu atas pandangan":
- "Ini adalah bagaimana ia memperhatikan dengan tidak bijaksana:
- 'Apakah aku ada pada masa lampau?
- Apakah aku tidak ada pada masa lampau?
- Apakah aku pada masa lampau?
- Bagaimanakah aku pada masa lampau?
- Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah aku pada masa lampau?
- Apakah aku akan ada pada masa depan?
- Apakah aku akan tidak ada pada masa depan?
- Akan menjadi apakah aku pada masa depan?
- Akan bagaimanakah aku pada masa depan?
- Setelah menjadi apa, kemudian menjadi apakah aku pada masa depan?โ
- Atau kalau tidak demikian, ia kebingungan sehubungan dengan masa sekarang sebagai berikut:
- โApakah aku ada?
- Apakah aku tidak ada?
- Apakah aku?
- Bagaimanakah aku?
- Dari manakah makhluk ini datang?
- Ke manakah makhluk ini akan pergi?โ
- โKetika ia memperhatikan dengan tidak bijaksana seperti ini, satu dari enam pandangan muncul dalam dirinya ...:
- โada diri [atau roh] bagikuโ ...
- โtidak ada diri [atau roh] bagikuโ ...
- โaku melihat diri [atau roh] dengan diri [atau roh]โ ...
- 'aku melihat bukan-diri [atau bukan-roh] dengan diri [atau roh]โ ...
- โaku melihat diri [atau roh] dengan bukan-diri [atau bukan-roh]โ ...
- โadalah diriku [atau rohku] ini yang berbicara dan merasakan dan mengalami di sana-sini akibat dari perbuatan baik dan buruk; tetapi diriku [atau rohku] ini adalah kekal, tetap ada, abadi, tidak tunduk pada perubahan, dan akan bertahan selamanya.โ ...
- Pandangan spekulatif ini, para bhikkhu, disebut rimba pandangan, belantara pandangan, pemutar-balikan pandangan, kebingungan pandangan, belenggu pandangan. [Oleh] karena terbelenggu oleh belenggu-belenggu pandangan, maka seorang biasa yang tidak terpelajar tidak terbebas dari kelahiran, penuaan, dan kematian, dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan keputus-asaan; ia tidak terbebas dari penderitaan, Aku katakan."[9][10]
Keraguan (vicikicchฤ)
suntingPada umumnya, "keraguan" merujuk pada keraguan mengenai ajaran Buddha, yaitu Dhamma. (Ajaran-ajaran serupa lainnya ditampilkan pada tabel "Pandangan enam guru sesat".)
Lebih jelasnya, dalam Tissa Sutta (SN 22.84),[11] Buddha dengan tegas memperingatkan tentang keraguan atas Jalan Mulia Berunsur Delapan, yang dijelaskan sebagai jalan yang benar menuju Nibbฤna dan memimpin seseorang melewati ketidaktahuan (avijjฤ), nafsu indrawi (kฤma), kemarahan (kodha), dan keputusasaan (upฤyฤsa).
Kemelekatan pada ritual dan adat (sฤซlabbata-parฤmฤsa)
suntingSฤซla merujuk pada "perilaku moral", vata (atau bata) berarti "tugas keagamaan, ketaatan, tata cara, pelaksanaan, adat,"[12] dan parฤmฤsa berati "kemelekatan pada" atau "penularan" dan memiliki konotasi terkait "penyalahgunaan" Dhamma.[13] Secara keseluruhan, sฤซlabbata-parฤmฤsa diterjemahkan menjadi "kemelekatan pada peraturan dan ritual, kecanduan atas perilaku moral, khayalan bahwa hal tersebut cukup"[14] atau, lebih sederhananya, "jatuh kembali pada kemelekatan atas ritual dan adat."[15]
Sementara belenggu keraguan dapat dilihat sebagai upaya untuk menyinggung ajaran-ajaran yang berlawanan dari para petapa lain di zaman Sang Buddha, belenggu mengenai ritual dan adat sepertinya merujuk pada beberapa ritual dan adat dari para brahmana.[note 19]
Memangkas belenggu
sunting"Di sini, seorang bhikkhu memahami mata, ia memahami bentuk-bentuk, dan ... belenggu-belenggu yang muncul dengan bergantung pada keduanya; dan ... bagaimana munculnya belenggu yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan belenggu yang telah muncul, dan bagaimana ketidak-munculan pada masa depan dari belenggu yang telah ditinggalkan.
โIa memahami telinga, ia memahami suara-suara โฆ hidung, ... bau-bauan, โฆ lidah, ... rasa kecapan, โฆ badan, ... objek-objek sentuhan, โฆ batin, ... objek-objek batin, dan ... belenggu-belenggu yang muncul dengan bergantung pada keduanya; dan ... bagaimana munculnya belenggu yang belum muncul, dan bagaimana meninggalkan belenggu yang telah muncul, dan bagaimana agar belenggu-belenggu yang telah ditinggalkan itu tidak muncul pada masa depan. ..."
Dalam MN 64, "Khotbah Panjang kepada Mฤlunkyฤputta," Buddha menyatakan bahwa jalan untuk meninggalkan lima belenggu rendah (yang adalah, lima dari "sepuluh belenggu" pertama sebagaimana disebutkan sebelumnya) adalah melalui pencapaian jhฤna dan pengetahuan vipassanฤ secara bersamaan.[note 21] Dalam SN 35.54, "Meninggalkan Belenggu-belenggu," Buddha menyatakan bahwa seseorang dianggap meninggalkan belenggu-belenggu "ketika ia mengetahui dan melihat ... sebagai ketidakkekalan" (Pali: anicca) dua belas landasan indra (ฤyatana), hal-hal yang sehubungan dengan enam kesadaran-indra (viรฑรฑฤแนa), kontak indra (phassa), dan perasaan (vedanฤ).[note 22] Berkaitan dengan hal yang sama, dalam SN 35.55, "Mencabut Belenggu-belenggu," Buddha menyatakan bahwa seseorang mencabut belenggu "ketika ia mengetahui dan melihat ... sebagai tanpa atma" (anatta) landasan indra, kesadaran-indra, kontak indra, dan perasaan.[note 23]
Tripitaka Pali secara tradisional menjelaskan pemangkasan belenggu-belenggu ini dalam empat tingkatan:
- Ia yang memotong tiga belenggu pertama (Pali: tฤซแนi saแนyojanฤni) menjadi seorang "pemasuk-arus" (sotฤpanna);
- Ia yang memotong tiga belenggu pertama dan secara bertahap melemahkan dua belenggu berikutnya menjadi seorang yang "kembali-sekali-lagi" (sakadฤgฤmi);
- Ia yang memotong lima belenggu pertama (orambhฤgiyฤni samyojanฤni) menjadi seorang yang "tidak-kembali-lagi" (anฤgฤmi);
- Ia yang memotong keseluruhan sepuluh belenggu menjadi seorang arahat.[note 24]
Hubungan dengan konsep lain
suntingKonsep tentang belenggu serupa dengan konsep buddhis yang ditemukan di seluruh Tripitaka Pali, seperti lima rintangan batin (nฤซvaraแนa) dan sepuluh pengotor batin (kilesa). Sebagai perbandingan, dalam aliran Theravฤda, "belenggu" biasanya melintasi banyak kehidupan (masa lalu, saat ini, dan masa depan setelah kelahiran kembali) dan sulit dihilangkan, sedangkan rintangan merujuk pada hambatan sementara saat praktik meditasi. Pengotor batin (kilesa) mencakup seluruh pengotor batin, termasuk belenggu (saแนjoyana) dan rintangan (nฤซvaraแนa).[1]
Mahฤyฤna
sunting| Bagian dari seri tentang |
| Buddhisme Mahฤyฤna |
|---|
Sembilan jenis belenggu
suntingDalam Mahฤprajรฑฤpฤramitฤลฤstra (bab VI), dijelaskan bahwa โpara Arahat telah mematahkan belenggu (parikแนฃฤซแนabhava-saแนyojana) dari eksistensi ini.โ Belenggu-belenggu (saแนyojana) ini ada sembilan dalam daftar:[17]
- nafsu (anunaya),
- antipati (pratigha),
- kesombongan (mฤna),
- kebodohan (avidyฤ),
- keraguan (vicikitsฤ),
- pandangan salah (dแนแนฃแนญi),
- kemelekatan (parฤmarลa),
- kekikiran (mฤtsarya),
- iri hati (ฤซrแนฃya).
Saแนyojana ini meliputi seluruh eksistensi dan eksistensi ini meliputi semua saแนyojana. Oleh karena itu, muncul ungkapan "mematahkan belenggu" (parikแนฃฤซแนabhava-saแนyojana).[17]
Lihat pula
sunting- Anatta, konsep yang terkait dengan belenggu pertama (sakkฤya-diแนญแนญhi).
- Empat tingkat pencerahan, mengenai penghapusan belenggu-belenggu.
- Lima rintangan, juga termasuk belenggu keempat (kamacchanda), kelima (vyฤpฤda), kesembilan (uddhacca) dan kedua (vicikicchฤ).
- Upฤdฤna (kemelekatan), dengan empat jenis kelakatan awal: kemelekatan atas kesenangan indrawi (kฤmupฤdฤna atau kฤma-upadana), pandangan salah (diแนญแนญhupadฤnฤ), ritual dan adat (sฤซlabbata-upฤdฤna), dan ajaran tentang diri atau roh (attavฤda-upฤdฤna).
Catatan
sunting- ^ Bodhi (2000), hlm. 1230. Secara tangensial, dalam membahas penggunaan konsep "belenggu" dalam Satipaแนญแนญhฤna Sutta (mengenai perhatian-penuh terhadap enam landasan indra), Bodhi (2005) merujuk sutta ini (SN 35.232) sebagai penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan "belenggu," yaitu, "hasrat dan nafsu" (chanda-rฤga). (Ketika memberikan penjelasan ini, Bodhi, 2005, juga mengomentari bahwa kitab komentar Satipฤแนญแนญhana Sutta mengaitkan istilah "belenggu" dalam sutta itu dengan merujuk pada kesepuluh belenggu.)
- ^ Belenggu-belenggu ini diberi nomor, sebagai contoh, dalam SN 45.179 dan 45.180 (Bodhi, 2000, hlm. 1565-66). Artikel berbahasa Pali dan terjemahan bahasa Inggris untuk sepuluh belenggu ini didasari oleh Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 656, entri "Saแนyojana ". Diarsipkan 2012-07-07 di Archive.is (diakses 2008-04-09).
- ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 660-1, "Sakkฤya" entri. Diarsipkan 2012-07-07 di Archive.is (diakses 2008-04-09), menjelaskan sakkฤya-diแนญแนญhi sebagai "teori atas jiwa, bidaah individualitas, spekulasi atas keabadian atau hal lain mengenai individualitas seseorang."
Bodhi (2000), hlm. 1565, SN 45.179, menerjemahkannya sebagai "pandangan identitas";
Gethin (1998), hlm. 73, menggunakan "pandangan atas kepribadian";
Harvey (2007), hlm. 71, menggunakan "pandangan-pandangan dalam kelompok yang ada"; Thanissaro (2000) menggunakan "pandangan-pandangan identifikasi-diri"; dan,
Walshe (1995), hlm. 26, menggunakan "kepercayaan-pribadi." - ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 615, "Vicikicchฤ" entri. Diarsipkan 2012-07-07 di Archive.is (diakses 2008-04-09), menjelaskan vicikicchฤ sebagai "keraguan, kebingungan, ketidakpastian."
Bodhi (2000), hlm. 1565, SN 45.179, Gethin (1998), hlm. 73, dan Walshe (1995), hlm. 26, menerjemahkannya sebagai "keraguan."
Thanissaro (2000) menggunakan "ketidakpastian." Harvey provides, "kebimbangan atas tanggung-jawab kepada tiga perlindungan dan nilai kehidupan" (cf. M i.380 dan S ii.69-70). - ^ Sebagai contoh, lihat: Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 713, entri "Sฤซla". Diarsipkan 2012-07-18 di Archive.is (diakses 2008-04-09), mengenai konsep serupa atas sฤซlabbatupฤdฤna (= sฤซlabbata-upฤdฤna), "pencengkeraman atas pekerjaan dan ritual (grasping after works and rites)."
Bodhi (2000), hlm. 1565, SN 45.179, menerjemahkan istilah ini sebagai "pencengkeraman menyimpang atas peraturan dan sumpah (the distorted grasp of rules and vows)";
Gethin (1998), hlm. 73, menggunakan "pelekatan pada peraturan dan sumpah (clinging to precepts and vows)";
Harvey (2007), hlm. 71, menggunakan istilah "pencengkeraman atas peraturan dan sumpah (grasping at precepts and vows)";
Thanissaro (2000) menggunakan "pencengkeraman atas peraturan dan pelaksanaan (grasping at precepts & practices)"; dan,
Walshe (1995), hlm. 26, menggunakan "keterikatan atas ritus dan ritual (attachment to rites and rituals)." - ^ Untuk diskusi yang lebih luas mengenai istilah ini, lihat, contoh., Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 203-4, entri "Kฤma". Diarsipkan 2012-07-15 di Archive.is, dan hlm. 274, entri "Chanda". Diarsipkan 2012-07-09 di Archive.is (diakses 2008-04-09).
Bodhi (2000), hlm. 1565 (SN 45.179), Gethin (1998), hlm. 73, Harvey (2007), hlm. 71, Thanissaro (2000) , dan Walshe (1995), hlm. 26, menerjemahkan kฤmacchando sebagai "nafsu indrawi" ("sensual desire"). - ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 654, entri "Vyฤpฤda". Diarsipkan 2012-07-07 di Archive.is (diakses 2008-04-09), mendefinisikan vyฤpฤdo sebagai "berlaku buruk, berbuat jahat: keinginan untuk melukai, kedengkian, keinginan buruk."
Bodhi (2000), hlm. 1565, SN 45.179, Harvey (2007), hlm. 71, Thanissaro (2000), dan
Walshe (1995), hlm. 26, menerjemahkannya sebagai "keinginan buruk" ("ill will") Gethin (1998), hlm. 73, menggunakan "keengganan" ("aversion"). - ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 574-5, entri "Rลซpa". Diarsipkan 2012-07-12 di Archive.is (diakses 2008-04-09), mendefinisikan rลซparฤgo sebagai "nafsu setelah kelahiran kembali dalam rลซpa" ("lust after rebirth in rลซpa").
Bodhi (2000), hlm. 1565, SN 45.180, menerjemahkannya sebagai "nafsu atas bentuk" ("lust untuk form").
Gethin (1998), hlm. 73, menggunakan "keinginan atas bentuk" ("desire untuk form").
Thanissaro (2000) menggunakan "gairah atas bentuk" ("passion untuk form"). Walshe (1995), hlm. 27, menggunakan "pengidaman atas keberadaan dalam alam kehidupan materi" ("craving untuk existence in the Form World"). - ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 574-5, entri "Rลซpa". Diarsipkan 2012-07-12 di Archive.is (diakses 2008-04-09), menyarankan bahwa arลซparฤgo dapat dijelaskan sebagai "nafsu setelah kelahiran kembali dalam arลซpa" ("lust after rebirth in arลซpa").
Bodhi (2000), hlm. 1565, SN 45.180, menerjemahkannya sebagai "nafsu atas ketidakadaan bentuk" ("lust untuk the formless").
Gethin (1998), hlm. 73, menggunakan "keinginan untuk keadaan tanpa bentuk" ("desire untuk the formless").
Harvey (2007), hlm. 72, menggunakan "keterikatan atas bentuk murni atau alam-alam tanpa bentuk" ("attachment to the pure form or formless worlds").
Thanissaro (2000) menggunakan "keinginan untuk apa yang tidak berbentuk" ("passion untuk what is formless").
Walshe (1995), hlm. 27, menggunakan "pengidaman atas keberadaan di alam nonmateri" ("craving untuk existence in the Formless World"). - ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 528, entri "Mฤna". Diarsipkan 2012-07-11 di Archive.is (diakses 2008-04-09), mendefinisikan mฤna sebagai "kebanggaan, kesombongan, keangkuhan" ("pride, conceit, arrogance").
Bodhi (2000), hlm. 1565, SN 45.180, Thanissaro (2000) dan Walshe (1995), hlm. 27 menerjemahkannya sebagai "kesombongan" ("conceit").
Gethin (1998), hlm. 73, menggunakan "kebanggaan" ("pride").
Harvey (2007), hlm. 72, menggunakan "kesombongan 'ke-Aku-an'" ("the 'I am' conceit"). - ^ Untuk membedakan antara belenggu pertama, "pandangan tentang diri" dan belenggu ke delapan "kesombongan," lihat, contoh:, SN 22.89 (trans., Thanissaro, 2001).
- ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 136, entri "Uddhacca". Diarsipkan 2012-07-13 di Archive.is (diakses 2008-04-09), mendefinisikan uddhacca sebagai "melampaui-keseimbangan, pergolakan/agitasi, kegirangan, kebingungan, tergesa-gesa" ("over-balancing, agitation, excitement, distraction, flurry").
Bodhi (2000), hlm. 1565 (SN 45.180), Harvey (2007), hlm. 72, Thanissaro (2000) dan Walshe (1995), hlm. 27, menerjemahkannya sebagai "kegelisahan" ("restlessness").
Gethin (1998), hlm. 73, menggunakan istilah "pergolakan/agitasi (agitation)." - ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 85, entri "Avijjฤ". Diarsipkan 2012-07-07 di Archive.is (diakses 2008-04-09), mendefinisikan avijjฤ sebagai "kedunguan; akar buruk utama dan kelahiran kembali yang terus menerus" ("ignorance; the main root of evil and of continual rebirth").
Bodhi (2000), hlm. 1565 (SN 45.180), Gethin (1998), hlm. 73, Thanissaro (2000) dan Walshe (1995), hlm. 27, menerjemahkannya sebagai "ignorance."
Harvey (2007), hlm. 72, menggunakan "kedunguan spiritual" ("spiritual ignorance"). - ^ Untuk referensi sutta-tunggal, baik untuk "belenggu-belenggu tinggi" maupun "belenggu-belenggu rendah," lihat, DN 33 (bagian kelima) dan AN 1.13. Dalam hal lainnya, sebuah sutta mengenai belenggu-belenggu rendah diikuti dengan sebuah sutta mengenai belenggu-belenggu tinggi, seperti dalam: SN 45.179 dan 45.180; SN 46.129 dan 46.130; SN 46.183 dan 46.184; SN 47.103 dan 47.104; SN 48.123 dan 48.124; SN 49.53 dan 49.54; SN 50.53 dan 50.54; SN 51.85 dan 51.86; SN 53.53 dan 53.54; dan, AN 9.67 dan 9.70. Sebagai tambahan, lima 'belenggu rendah' sendiri (tanpa rujukan terkait 'belenggu-belenggu tinggi') didiskusikan, contoh, dalam MN 64.
- ^ Untuk daftar dalam Saแน gฤซti Sutta mengenai tiga belenggu-belenggu, lihat, contoh, Walshe (1995), hlm. 484. Untuk daftar tiga belenggu dalam Dhammasaแน gaแนi, lihat: Rhys Davids (1900), hlm. 256-61. Lihat pula, Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 656, entri untuk "Saแนyojana". Diarsipkan 2012-07-07 di Archive.is (diakses 2008-04-09), mengenai tฤซแนi saแนyojanฤni. (C.A.F. Rhys Davids (1900), hlm. 257, menerjemahkan ketiga istilah ini sebagai "teori kepribadian, kebingungan, dan penularan atas hal-hal yang semata-mata merupakan peraturan dan ritual" ("the theory of individuality, perplexity, and the contagion of mere rule and ritual.")
- ^ Lihat, misalnya, MN 6 dan MN 22.
- ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 656, entri "Saแนyojana". Diarsipkan 2012-07-07 di Archive.is merujuk kitab Cลซแธทa-niddesa 657, 1463, dan Dhammasaแน
gaแนฤซ 1113.
Pada faktanya, keseluruhan bagian dari kitab Dhammasaแน gaแนฤซ merujuk pada belenggu-belenggu (buku III, ch. V, Dhs. 1113-34).
Lihat pula Rhys Davids (1900), hlm. 297-303. (Rhys Davids, 1900 hlm. 297, menyediakan terjemahan dalam bahasa Inggris mengenai istilah-istilah berbahasa Pali: "sensualitas, penolakan, kesombongan, pendapat spekulatif, kebingungan, penularan aturan dan ritual semata, gairah untuk eksistensi baru, iri hati, kekejaman, kebodohan.") (""sensuality, repulsion, conceit, speculative opinion, perplexity, the contagion of mere rule and ritual, the passion for renewed existence, envy, meanness, ignorance.")
Pada kepustakaan Pali pascakanonis, daftar ini juga dapat ditemukan dalam komentar Buddhaghosa (dalam Papaรฑcasudani) pada bagian Satipaแนญแนญhฤna Sutta mengenai enam dasar indra dan belenggu-belenggu (Soma, 1998). - ^ Untuk terjemahan dalam bahasa Inggris, lihat: รฤแนamoli & Bodhi (2001), hlm. 467-469, dan Upalavanna (tanpa tanggal). Untuk romanisasi transliterasi bahasa Pali, SLTP (tanpa tanggal).
- ^ Sebagai perbandingan, lihat: Gethin (1998), hlm. 10-13, untuk sebuah diskusi yang dilakukan Buddha mengenai tradisi sramanik dan brahmanik.
- ^ Soma, 1998, bagian "The Six Internal and the Six External Sense-bases." Perlu digaris bawahi bahwa hanya belenggu yang diabaikan, bukan organ indra atau objek indra.
- ^ รฤแนamoli & Bodhi (2001), hlm. 537-41.
- ^ Bodhi (2000), hlm. 1148.
- ^ Bodhi (2000), hlm. 1148. Perhatikan bahwa Sutta-Sutta yang menjadi rujukan (MN 64, SN 35.54 dan SN 35.55) dapat dilihat saling melengkapi dan konsisten jika, sebagai contoh, menyimpulkan bahwa seseorang perlu menggunakan pencapaian jhฤna-is dan pengetahuan vipassanฤ guna "mengetahui dan melihat" ketidakkekalan dan tanpa-diri dari landasan indra, kesadaran, kontak, dan perasaan. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai ketidakkekalan dan tanpa-diri, lihat Trilaksana atau pranala terkait.
- ^ Lihat, misalnya, introduction Bhikkhu Bodhi dalam รฤแนamoli & Bodhi (2001), hlm. 41-43. Bodhi, pada gilirannya mengutip, misalnya, MN 6 dan MN 22.
Referensi
sunting- ^ a b Gunaratana (2003), sebuah dhamma-talk berjudul "Dhamma [Satipaแนญแนญhฤna] - Ten Fetters."
- ^ Sujato, Bhikkhu. "Iti 15: Taแนhฤsaแนyojanasutta". SuttaCentral (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-09-12.
- ^ Thanissaro (2001).
- ^ Anggara, Indra. "SN 35.232: Koแนญแนญhitasutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2024-09-12.
- ^ Anggara, Indra. "MN 54: Potaliyasutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2024-09-12.
- ^ "DN 2 Sฤmaรฑรฑaphala Sutta; The Fruits of the Contemplative Life". dhammatalks.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 Juli 2024.
- ^ Bhikkhu รฤแนamoli; Bhikkhu Bodhi (9 November 1995). The Middle Length Discourses of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikaya (dalam bahasa Inggris) (Edisi 4). Simon and Schuster. hlm.ย 1258โ59. ISBNย 978-0-86171-072-0. Diakses tanggal 10 Juli 2024.
- ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 660-1, entri "Sakkฤya". Diarsipkan 2012-07-07 di Archive.is (diakses 2008-04-09). Lihat pula, anatta.
- ^ Thanissaro (1997a).
- ^ Anggara, Indra. "MN 2: Sabbฤsavasutta". SuttaCentral. Diakses tanggal 2024-09-12.
- ^ Thanissaro (2005)
- ^ Rhys Davids & Stede (1921-25), hlm. 597, entri "Vata (2)". Diarsipkan 2012-07-07 di Archive.is (diakses 2008-04-09).
- ^ Ibid., hlm. 421, entri "Parฤmฤsa". Diarsipkan 2012-08-01 di Archive.is (diakses 2008-04-09).
- ^ Ibid., hlm. 713, entri "Sฤซla" tentang sufiks "bbata". Diarsipkan 2012-07-18 di Archive.is (diakses 2008-04-09).
- ^ Thanissaro (1997b).
- ^ Anggara, Indra. "SuttaCentral". MN 10: Mahฤsatipaแนญแนญhฤnasutta. Diakses tanggal 2024-09-13.
- ^ a b "Samyojana, Sanyojana, Saแนyojana: 20 definitions". Wisdom Library (dalam bahasa Inggris). 2008-06-29. Diakses tanggal 2024-10-03.
Daftar pustaka
sunting- Bodhi, Bhikkhu (2000). The Connected Discourses of the Buddha: A Translation of the Samyutta Nikaya. Somerville, MA: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-331-1.
- Bodhi, Bhikkhu (18 Jan 2005). MN 10: Satipaแนญแนญhฤna Sutta (continued) [Dhamma-talk tentang Satipฤแนญแนญhana Sutta bagian ke-9 (berkas audio MP3)]. Tersedia daring di http://www.bodhimonastery.net/MP3/M0060_MN-010.mp3[pranala nonaktif permanen].
- Gethin, Rupert (1998). The Foundations of Buddhism. Oxford: Oxford University Press. ISBN 0-19-289223-1.
- Gunaratana, Henepola (2003). Satipaแนญแนญhฤna Sutta [Dharma talks (MP3 on CD)]. High View, WV: Bhavana Society. Dapat dipesan secara daring di http://www.bhavanasociety.org/resource/satipatthana_sutta_cd/. Diarsipkan 2007-02-05 di Wayback Machine.
- Harvey, Peter (1990/2007). An introduction to Buddhism: Teachings, history and practices. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-31333-3.
- รฤแนamoli, Bhikkhu & Bhikkhu Bodhi (2001). The Middle Length Discourse of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikฤya. Somerville, MA: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-072-X.
- Nyanaponika Thera (trans.) (1974). Alagaddupama Sutta: The Snake Simile (MN 22). Kandy: Buddhist Publication Society. Retrieved 15 Aug. 2010 from "Access to Insight" (2006) at http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.022.nypo.html .
- Rhys Davids, C.A.F. ([1900], 2003). Buddhist Manual of Psychological Ethics, of the Fourth Century B.C., Being a Translation, now made for the First Time, from the Original Pฤli, of the First Book of the Abhidhamma-Piแนญaka, entitled Dhamma-Sangaแนi (Compendium of States or Phenomena). Kessinger Publishing. ISBN 0-7661-4702-9.
- Rhys Davids, T.W. & William Stede (eds.) (1921-5). The Pali Text Societyโs PaliโEnglish dictionary. Chipstead: Pali Text Society. Mesin pencari daring umum untuk PED tersedia di http://dsal.uchicago.edu/dictionaries/pali/.
- Soma Thera (1998) (6th rev. ed.). The Way of Mindfulness: The Satipaแนญแนญhฤna Sutta and Its Commentary. Tersedia daring di http://www.accesstoinsight.org/lib/authors/soma/wayof.html.
- Sri Lanka Buddha Jayanti Tipitaka Series [SLTP] (tanpa tanggal). Potaliya suttaแน [dalam bahasa Pali] (MN 54). Tersedia daring di http://www.metta.lk/tipitaka/2Sutta-Pitaka/2Majjhima-Nikaya/Majjhima2/054-potaliya-p.html.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1997a). Sabbasava Sutta: All the Fermentations (MN 2). Tersedia daring di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.002.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (1997). Samaรฑรฑaphala Sutta: The Fruits of the Contemplative Life (DN 2). Tersedia daring di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/dn/dn.02.0.than.html.
- Thanissaro, Bhikkhu (trans.) (1997b). Sona Sutta: About Sona (AN 6.55). Tersedia daring di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an06/an06.055.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (2000). Sanyojana Sutta: Fetters (AN 10.13). http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an10/an10.013.than.html.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (2001). The Group of Ones ยง 15 (Iti. 1.15). Tersedia daring di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/kn/iti/iti.1.001-027.than.html#iti-015.
- Thanissaro Bhikkhu (trans.) (2005). Tissa Sutta: Tissa (SN 22.84). Tersedia daring di http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn22/sn22.084.than.html.
- Upalavanna, Sister (trans.) (tanpa tanggal). To The Householder Potaliya (MN 54). Tersedia daring di http://www.metta.lk/tipitaka/2Sutta-Pitaka/2Majjhima-Nikaya/Majjhima2/054-potaliya-e1.html.
- Walshe, Maurice O'Connell (trans.) (1995). The Long Discourses of the Buddha: A Translation of the Dฤซgha Nikฤya. Somerville: Wisdom Publications. ISBN 0-86171-103-3.








